cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Teknik PWK
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 514 Documents
Arahan Pengendalian Parkir Badan Jalan Pada Kawasan Komersial Di Jalan Kolonel Abundjani Kota Jambi Rahma Dwi Cahyani; Mardwi Rahdriawan
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 6, No 4 (2017): November 2017
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (891.282 KB)

Abstract

The excessive number of activities on Jalan Kolonel Abundjani Corridor makes parking activity’s arrangement urgently needed to improve the existing paring performance. If not, eventually it will cause irregular vehicle circulatory and traffic congestion, moreover the increasing number of people using private vehicle. This study aims to formulate the proposal improvement in parking arrangement based on need. The research methid in this study are secondary data collected from theories and study of literature in finding the research variables, while the primary data collected from field observation and interview. Parking space for four-wheeled vehicle needs to add as many as 16.762 or 9.58%. the needs for parking space for the next 5 (five) years by the year 2022 for four-wheeled vehicle. So that using calculation of parking space area needed on Jalan Kolonel Abundjani which are 74.338 m2 for two-wheeled vehicle and 82.975 m2 for four-wheeled vehicle. The proposal parking improvement based on sufficient road width on the west side and est side of Jalan Kolonel Abundjani which is 6 meters allows on-street parking with 00 angles if the existing parking space is packed, but doesn’t allow double parking because the effective road width has been reduced. Parking location that considered feasible located in two places. The first located in region A precisely at location point A2 with walking distance ±320 meters in each point. The second location is region B precisely at location point B3 with walking distance ±310 meters in each point.
ANALISIS KINERJA PELAYANAN BUS RAPID TRANSIT (BRT) KORIDOR II TERBOYO-SISEMUT (Studi Kasus: Rute Terboyo – Sisemut Kota Semarang) Aprisia Esty Dwiryanti; Anita Ratnasari Rakhmatulloh
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 3 (2013): Agustus 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1067.892 KB)

Abstract

Kota Semarang sebagai salah satu kota besar yang mengalami peningkatan jumlah kendaraan pribadi. Sehingga mengakibatkan kemacetan diruas-ruas jalan Kota Semarang.  Pertumbuhan kendaraan pribadi baik mobil atau sepeda motor mengakibatkan tidak nyamannya lingkungan meningkat, kemacetan dan kapasitas jalan yang sudah tidak mampu lagi menampung kendaraan-kendaraan di masa mendatang. Oleh karena itu pemerintah Kota Semarang mengembangkan transportasi missal yaitu Bus Rapid Transit. Namun masyarakat kurang minat untuk menggunakan angkutan umum karena merasa pelayanan yang tidak baik. Studi ini bertujuan untuk merumuskan kinerja pelayanan BRT Koridor II di Kota Semarang secara berkelanjutan dengan pengoptimalisasi penggunaan BRT rute Terboyo-Sisemut Semarang. Sehingga dapat menemuken faktor – faktor permasalahan yang mempengaruhinya sehingga dapat dirumuskan langkah – langkah perbaikan dan peningkatan mutu pelayanannya, dan rekomendasi perbaikan kualitas pelayanan kepada operator. Studi ini dengan menerapkannya sustainable transportation atau transportasi berkelanjutan. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa kinerja pelayanan berdasarkan persepsi menunjukkan cukup memuaskan. Namun ada beberapa persepsi yang merasa kurang yaitu pelayanan operator, perpindahan moda, ketetapan waktu dan waktu tunggu. Sedangkan berdasarkan penelitian dengan standar Departemen Perhubungan menunjukkan baik. Terdapat tiga kriteria yang kurang baik yaitu headway, frekuensi, awal dan akhir pelayanan..Dari hasil kedua tersebut dibandingkan sehingga faktor-faktor yang kurang yaitu kenyamanan, kemudahan pencapaian dan efisiensi.
Kajian Kualitas dan Tingkat Pelayanan Jalur Pedestrian di Koridor Jalan Khatib Sulaiman Kota Padang Humaira Miftahur Rahmi; Parfi Khadiyanta
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 7, No 4 (2018): November 2018
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (910.479 KB)

Abstract

Condition of pedestrian way at Jalan Khatib Sulaiman is generally not good and many problems, that is suffered a lot of damage, the occurrence of the transfer function, and narrowing space pedestrian path. Based on the formulation of the problem then the question of this research is How is the Quality and Level of Service of Pedestrian in Khatib Sulaiman Street Corridor Padang City? The purpose of this research is to know the quality and pedestrian level of service on Khatib Sulaiman Street corridor. Pedestrian ways quality analysis was conducted using PEQI approach, while level of service analysis used Level Of Service (LOS) analysis with High Capacity Manual (HCM 2000) method. The method used in this research is quantitative method with descriptive analysis and evaluative analysis. Based on the analysis known that the personal characteristics of pedestrians are 18-50 years old with the type of student. The activity that dominates on the pedestrian track is important activity. Types of land use around the pedestrian lanes are residential areas, trade & services, offices, schools/campuses, and the mosque of Kota Padang as a tourist attraction and landmark. Based on the land use, the pattern of pedestrian movement is dominantly moving from the settlement area to the commercial area. The results of pedestrian path quality analysis showed the quality of the intersections are in category III (basic category) and the quality of the path in category IV (bad category). The result of level of service analysis shows that is service level based on current or based on entrance space at service level D (bad service level). The results of quality analysis and pedestrian level of service can be used as a basic reference for the government as a provider of pedestrian ways.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMBEDAKAN BENTUK MITIGASI ROB MASYARAKAT DI KAWASAN PESISIR SEMARANG Subadi Subadi; Imam Buchori
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 4 (2013): November 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1097.996 KB)

Abstract

Kawasan pesisir kota semarang dalam perkembangannya telah mengalami beberapa perubahan kualitas lingkungan terkait dengan adanya bencana rob yang terjadi. Hal ini memaksa Setiap individu, komunitas maupun unit sosial yang lebih besar mengembangkan kapasitas sistem penyesuaian dalam merespon ancaman dengan melakukan mitigasi secara mandiri  yaitu secara struktural diantaranya Self helping dan perbaikan prasarana maupun secara non-struktural meliputi flood proofing, mengganti kerusakan, perubahan mata pencaharian, dan melakukan perubahan aktivitas sosial masyarakat. Pada umumnya tingkat kesiapan masyarakat menghadapi rob di kawasan pesisir kota Semarang berbeda-beda, hal ini terjadi akibat rerata kemampuan ekonomi masyarakat sangat rendah dan penduduk sudah terbiasa dengan genangan rob. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang membedakan terhadap bentuk tindakan mitigasi yang dilakukan oleh masyarakat pesisir terkait dengan adanya rob yang melanda di kawasan pesisir semarang dimana bencana rob  yang terjadi telah menimbulkan kerugian yang besar berupa rusaknya daerah pemukiman, pertambakan, dan prasarana dasar kawasan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode analisis kuantitatif, dengan teknik analisi diskriminan untuk mencari hubungan antara bentuk mitigasi sebagai dependent method dengan independent method yang meliputi karakteristik masyarakat, karakteristik lingkungan kawasan permukiman dan  juga karakteristik genangan akan rob itu sendiri sehingga dapat diketahui faktor-faktor yang dominan terhadap perbedaan bentuk mitigasi tersebut. Dari hasil analisis diskriminan yang dilakukan diketahui tingkat signifikan dari masing-masing variabel yaitu; tingkat pendapatan(X1) sebesar 0,176, lokasi mata pencaharian(X2) sebesar 0,025, status kepemilikan rumah(X3) sebesar 0,082, ketersediaan sarana dan prasarana(X4) sebesar 1,000. ketinggian genangan(X5) sebesar 0,013 dan dampak genangan(X6) sebesar 0,146. Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa dua variabel yang membedakan bentuk analisis masyarakat tersebut dengan nilai signifikan kurang dari 0,05 yaitu lokasi mata pencaharian dan ketinggian genangan rob yakni masing-masing sebesar 0,025 dan 0,013. Sehingga diketahui bahwa ada perbedaan antara kelompok responden yang mengambil keputusan melakukan mitigasi secara struktur dan kelompok yang mengambil keputusan melakukan mitigasi secara non struktur, yang dipengaruhi oleh lokasi pekerjaan, dan tinggi genangan.
DAMPAK PEMBANGUNAN PERUMAHAN TERHADAP KONDISI LINGKUNGAN, SOSIAL DAN EKONOMI MASYARAKAT SEKITAR DI KELURAHAN SAMBIROTO, KECAMATAN TEMBALANG Kukuh Dwi Indarto; Sri Rahayu
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 4, No 3 (2015): Agustus 2015
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (741.193 KB)

Abstract

Keterbatasan luas lahan yang ada di Kota Semarang menyebabkan kota ini mengalami perkembangan ke daerah pinggiran kota, seperti di Kelurahan Sambiroto, Kecamatan Tembalang. Perkembangan di Kelurahan Sambirotoini berupa pembangunan perumahan. Hal tersebut memicu dampak pada kondisi sosial, ekonomi dan lingkungan dengan adanya pembangunan perumahan. Keadaan tersebut menarik untuk diteliti, dengan pertanyaan penelitian: apa dampak sosial, ekonomi dan lingkungan dengan adanya pembangunan perumahan di Kelurahan Sambiroto?Hal ini penting untuk mengetahui dampak sebelum dan sesudah adanya pembangunan perumahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dampak yang muncul setelah adanya pembangunan perumahan terhadap sosial, ekonomi dan lingkungan di Kelurahan Sambiroto.Metode yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif. Teknik penggumpulan data yang dilakukan dengan menggunakan kuesioner dibantu hasil wawancara dan hasil observasi lapangan. Hasil akhir penelitiandampak setelah adanya pembangunan perumahan terdiri dari 3 dampak yakni sosial, ekonomi dan lingkungan.. Dampak sosial berupa menurunya partisipasi masyarakat dalam kegiatan sosial, meningkatnya aktifitas masyarakat, perubahan gaya hidup masyarakat yang lebih konsumtif dan menurunya tingkat kriminalitas. Dampak terhadap ekonomiberupa meningkatnya pendapatan masyarakat, penambahan fungsi rumah membuka lapangan usaha masyarakat, dan meningkatnya harga lahan.Dampak terhadap lingkungan berupa adanya perubahan alih fungsi lahan, terjadinya penurunan kualitas air sumur, peningkatan jaringan drainase dan jaringan jalan.
MODEL SPASIAL KERENTANAN SOSIAL EKONOMI DAN KELEMBAGAAN TERHADAP BENCANA GUNUNG MERAPI Marbruno Habibi; Imam Buchori
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 1 (2013): Februari 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1299.983 KB)

Abstract

Gunung Merapi merupakan salah gunung yang masih aktif yang ada di Indonesia dan terletak diantara empat Kabupaten yang ada di Provinsi Jawa Tengah dan DIY. Gunung merapi tergolong gunung yang berbahaya karena mengalami erupsi dalam jangka waktu yang relatif pendek dan disekitarnya terdapat kawasan pemukiman sehingga dapat mengancam keselamatan penduduk. Letusan gunung merapi banyak memakan korban jiwa dan harta benda, salah satu penyebabnya adalah kerentanan sosial, ekonomi dan kelembagaan masyarakat pada kawasan rawan bencana gunung merapi. Penelitian dengan judul “Model Spasial Kerentanan Sosial Ekonomi dan Kelembagaan Terhadap Bencana Gunung Merapi” ini diangkat dari latar belakang kondisi sosial, ekonomi dan kelembagaan masyarakat yang rentan terhadap bencana gunung merapi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kerentanan sosial dan ekonomi masyarakat serta kelembagaan yang dimodelkan secara spasial untuk mengetahui tingkat kerentanan masyarakat dengan bantuan alat sistem informasi geografis. Penelitian ini dilakukan pada Kawasan Rawan Bencana III Gunung Merapi Kecamatan Dukun dan Srumbung Kabupaten Magelang yang terdiri dari 16 Desa dan 124 Dusun. Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis kuantitatif dengan metode analisis data berupa scoring analysis, deskriptif kuantitatif dan analisis spasial. Scoring analysis dilakukan dengan pemberian skor pada setiap variabel yang digunakan dalam penelitian, analisis deskriptif kuantitatif menggambarkan deskripsi penjelasan dan gambaran mengenai data kuantitatif yang digunakan dalam analisis dan analisis spasial yang dilakukan dalam penelitian ini adalah untuk pemetaan variabel dan overlay variabel. Kerentanan sosial yang merupakan kajian dalam penelitian ini diukur dengan kepadatan penduduk, penduduk usia tua dan balita, penduduk wanita dan pemahaman masyarakat terhadap bencana. Sedangkan kerentanan ekonomi diukur dari persentase tingkat kemiskinan penduduk dan kerentanan kelembagaan diukur dari keberadaan lembaga penanggulangan bencana dan forum pengurangan risiko bencana. Output dari penelitian ini adalah kerentanan sosial, ekonomi dan kelembagaan masyarakat terhadap bencana gunung merapi yang dimodelkan secara spasial dengan menggunakan bantuan alat sistem informasi geografis dengan hasil akhir berupa peta kerentanan sosial, ekonomi dan kelembagaan. Hasil analisis kerentanan sosial, ekonomi dan kelembagaan menunjukkan bahwa dari 124 dusun yang ada di KRB III Kecamatan Dukun dan Srumbung, 37 dusun diantaranya merupakan kerentanan rendah. Sedangkan 81 dusun dengan kerentanan sedang dan 6 dusun dengan kerentanan tinggi.
FAKTOR-FAKTOR PENENTU NILAI VERTIKAL RUANG BANGUNAN PADA RUMAH SUSUN SEWA KRANGGAN KECAMATAN AMBARAWA Rizky Syaiful Ramadhan; Broto Sunaryo
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 2 (2014): Mei 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.557 KB)

Abstract

Pembangunan di kota-kota besar semakin maju pesat, akibatnya perkembangan kota bergerak menuju daya sentrifugal dan memicu pemekaran ke wilayah hinterlandnya. Kabupaten Semarang merupakan penyangga dari Kota Semarang yang pertumbuhan penduduknya semakin tinggi. Proses pertumbuhan yang cepat di Kabupaten Semarang disebabkan oleh tarikan kegiatan dan fungsi kota sebagai pusat pemerintahan, pusat perdagangan, pusat industri dan  fungsi-fungsi lainnya. Pembangunan rumah susun menjadi salah satu bagian dari program pembangunan perumahan massal (mass housing) yang dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat berpenghasilan menengah kebawah,. Rumah susun di Kecamatan Ambarawa Kabupaten Semarang tepatnya di Kelurahan Kranggan merupakan rumah susun sederhana sewa (rusunawa) berlantai 4 yang diperuntukan untuk pekerja pabrik dan lain sebagainya yang bermunculan di Kabupaten Semarang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi Nilai Vertikal Ruang Bangunan (NVRB) serta kontribusinya dalam mempengaruhi NVRB. Berdasarkan Grand Theory Bergel, karena faktor aksesibilitas, dimana semakin tinggi letak ruang nya semakin kecil nilai vertikal ruangnya. Dilihat berdasarkan Teori Bergel, mengenai “Height Building Theory” nilai vertikal ruang terdapat pada jumlah lantai atau ketinggian bangunan. Pendekatan penelitian ini menggunakan pendekatan positivistik dan rasionalistik, yang dianalisis melalui metode kuantitatif dengan teknik R Factor Analysis. Data yg digunakan adalah data primer dan data sekunder dengan pengumpulan data melalui pengamatan, kuesioner,literatur, wawancara dan mencari dokumen dari instansi terkait. Penelitian ini menggunakan teknik sensus dimana batasan populasi yang dipilih di rusunawa kranggan adalah 98 orang. Hasil dari penelitian ini adalah faktor-faktor penentu NVRB Rusunawa Kranggan berdasarkan Lin I dibagi menjadi dua variabel penentu yaitu Variabel ekonomi yaitu variabel ekonomi dengan parameter aksesibilitas, pendapatan dan resiko kebakaran, serta untuk variabel ekonomi parameternya yaitu lingkungan dengan komponen keamanan lingkungan, gangguan binatang kecil, kualitas lingkungan, harga sewa, pemandangan dan parameter kenyamanan komponennya yaitu kenyamanan dan kebisingan. Kedua variabel tersebut mempunyai kontribusi sebesar 62,93% untuk variabel ekonomi dan 37,07% untuk variabel psikologi. Setelah diverifikasi penelitian ini terhadap Grand Theory Bergel menjelaskan bahwa penelitian ini selaras dan searah. Kemudian penelitian yang dilakukan Broto Sunaryo terlihat perbedaan yang jelas antara apartemen dengan rumah susun sederhana sewa, namun untuk penelitian Tegrasia di Rusunawa Kaligawe dan Chika di Rusunawa Bandaharjo terlihat adanya kesamaan dengan adanya kesamaan beberapa variabel penentu NVRB.
Kajian Pemenuhan Kebutuhan Air Bersih Melalui Pemanfaatan Air Tanah Individual Pada Rumah-Rumah Kos Di Kawasan Pendidikan Tinggi Tembalang Clara Aprilia Sinurat; Mardwi Rahdriawan
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 5, No 2 (2016): Mei 2016
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (909.247 KB)

Abstract

University region in Tembalang has scale services up to a national scale sothat attract many students from various regions. Thus occurred the temporary migrationprocesses that affecting the development of the activity of living or residing, and the landuse. The increasing number of people/students and the high needs of boarding houseseffect on the improvement of infrastructure needs, especially clean water. Provision ofclean water in settlements around the University region in Tembalang still not fulfilledoptimally. PDAM only able to meet the needs of houses as much as 30% and reach islimited to the downtown area. That makes the boarding houses in the University regionin Tembalang choose to seek clean water through the utilization of ground water. Thepurpose of this study is to investigate the characteristics of the water that produced fromgroundwater utilization individually by the boarding houses in meeting their needs andthe role of stakeholders in response to a such activity. The method used in this research isa combination method/mix method with Sequential Explanatory Design models that usequantitative and qualitative methods which combined sequentially. Most of the boardinghouses that use ground water, water needs can be met in terms of quantity and quality.So it is necessary the action of stakeholders with the goal of supply the clean water andcontrolling the rate of utilization of ground water and increase groundwater infiltrationto stay balanced.
KAPASITAS LEMBAGA MASYARAKAT DALAM KEGIATAN PENATAAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN BERBASIS MASYARAKAT DI JAWA TENGAH Anggun Aprinasari Fultanegara; Asnawi Asnawi
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 3 (2013): Agustus 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (402.766 KB)

Abstract

Fenomena kemiskinan merupakan fenomena kompleks yang seolah-olah menjadi momok yang susah untuk dicari solusinya. Fenomena ini menjadi perhatian khusus bagi pemerintah, salah satunya Provinsi Jawa Tengah dengan tingkat kemiskinan sebesar 16,56% yang masih berada di atas tingkat kemiskinan nasional 13,33% (BPS, 2010). Upaya pemerintah dalam mempercepat penanggulangan kemiskinan salah satunya adalah kegiatan Penataan Lingkungan Permukiman Berbasis Masyarakat melalui pengokohan kelembagaan. Akan tetapi, kinerja dari lembaga tersebut bervariatif ada yang berhasil dan ada yang kurang berhasil dalam menjalankan kegiatan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji kapasitas kelembagaan dalam kegiatan Penataan Lingkungan Permukiman Berbasis Masyarakat. Penelitian ini mencoba mengkomparasikan dua BKM, yaitu BKM Sejahtera Mandiri Kabupaten Kendal dan BKM Podosugih Kota Pekalongan. Kapasitas kelembagaan diukur dengan dari tiga indikator, yakni aspek individu, kelompok, dan lembaga. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif serta menggunakan teknik analisis skoring dan pengumpulan data kuesioner. Dari hasil analisis skoring menunjukkan menunjukkan kapasitas BKM Podosugih dengan skoring 945 pada kelas I yaitu sangat baik, sedangkan BKM Sejahtera Mandiri dengan skoring 897 pada kelas II yaitu baik dalam menjalankan kegiatan. Dengan melihat kapasitas kelembagaan ldi Kelurahan Kebondalem dan Podosugih, diperlukan penguatan kapasitas kelembagaan agar dapat berlangsung efektif dalam upaya penataan kawasan lingkungan.
ANALISIS KESELAMATAN BERLALU LINTAS DI LINGKUNGAN KAMPUS UNDIP Waskito Ady; Bambang Susantono
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 4 (2014): November 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (731.149 KB)

Abstract

Kampus sebagai suatu institusi pendidikan tinggi dengan beragam aktivitas, memegang peranan penting dalam memberikan contoh nyata bagi upaya mewujudkan transportasi yang mengutamakan keselamatan berlalu lintas. Universitas Diponegoro menjadi salah satu institusi pendidikan tinggi yang tengah gencar menyuarakan Green Campus. Sebagai Green Campus, Undip harus memiliki transportasi yang mengutamakan keselamatan berlalu lintas. Faktanya saat ini kondisi transportasi di Undip belum mencerminkan keselamatan berlalu lintas. Banyaknya on street parking yang mengganggu arus lalu lintas, banyaknya persimpangan rawan konflik dan kecelakaan, rendahnya kesadaran memakai helm pada pengendara motor, perilaku melanggar aturan lalu lintas, hingga rendahnya budayabersepeda dan berjalan kaki merupakan masalah transportasi Undip yang dapat mengganggu keselamatan berlalu lintas. Penelitian ini bertujuan menganalisis keselamatan berlalu lintas di lingkungan Kampus Undip berdasarkan komponen perilaku berkendara dan kondisi prasarana jalan. Hasil analisis menunjukkan terdapat ruas jalan di Undip yang belum mendukung keselamatan berlalu lintas. Terdapat pula ketidaksesuaian antara pemahaman keselamatan dengan perilaku berkendara sehari-hari pada mahasiswa. Melalui penelitian ini, diharapkan dapat memberi gambaran mengenai kondisi transportasi di Kampus Undip dalam mendukung keselamatan berlalu lintas, sehingga pada akhirnya dapat menjadi bahan masukkan bagi terwujudnya Undip sebagai Green Campus dengan transportasi yang mengutamakan keselamatan.

Filter by Year

2012 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 3 (2024): Agustus 2024 Vol 13, No 2 (2024): Mei 2024 Vol 13, No 1 (2024): Februari 2024 Vol 12, No 4 (2023): November 2023 Vol 12, No 3 (2023): Agustus 2023 Vol 12, No 2 (2023): Mei 2023 Vol 12, No 1 (2023): Februari 2023 Vol 11, No 4 (2022): November 2022 Vol 11, No 3 (2022): Agustus 2022 Vol 11, No 2 (2022): Mei 2022 Vol 11, No 1 (2022): Februari 2022 Vol 10, No 4 (2021): November 2021 Vol 10, No 3 (2021): Agustus 2021 Vol 10, No 2 (2021): Mei 2021 Vol 10, No 1 (2021): Februari 2021 Vol 9, No 4 (2020): November 2020 Vol 9, No 3 (2020): Agustus 2020 Vol 9, No 2 (2020): Mei 2020 Vol 9, No 1 (2020): Februari 2020 Vol 8, No 4 (2019): November 2019 Vol 8, No 3 (2019): Agustus 2019 Vol 8, No 2 (2019): Mei 2019 Vol 8, No 1 (2019): Februari 2019 Vol 7, No 4 (2018): November 2018 Vol 7, No 3 (2018): Agustus 2018 Vol 7, No 2 (2018): Mei 2018 Vol 7, No 1 (2018): Februari 2018 Vol 6, No 4 (2017): November 2017 Vol 6, No 3 (2017): Agustus 2017 Vol 6, No 2 (2017): Mei 2017 Vol 6, No 1 (2017): Februari 2017 Vol 5, No 4 (2016): November 2016 Vol 5, No 3 (2016): Agustus 2016 Vol 5, No 2 (2016): Mei 2016 Vol 5, No 1 (2016): Januari 2016 Vol 4, No 4 (2015): November 2015 Vol 4, No 3 (2015): Agustus 2015 Vol 4, No 2 (2015): Mei 2015 Vol 4, No 1 (2015): Februari 2015 Vol 3, No 4 (2014): November 2014 Vol 3, No 3 (2014): Agustus 2014 Vol 3, No 2 (2014): Mei 2014 Vol 3, No 1 (2014): Februari 2014 Vol 2, No 4 (2013): November 2013 Vol 2, No 3 (2013): Agustus 2013 Vol 2, No 2 (2013): Mei 2013 Vol 2, No 1 (2013): Februari 2013 Vol 1, No 1 (2012): November 2012 More Issue