cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Teknik PWK
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 514 Documents
Pengaruh Desa Wisata Candriejo Terhadap Fungsi Lahan, Ekonomi dan Pelestarian Budaya Ferry Oloan Nadeak; Muhammad Muktiali
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 6, No 3 (2017): Agustus 2017
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (923.341 KB)

Abstract

Trends and travel has experienced a shift from the conventional nature of particular interest one rural tourism. Rural tourism pattern forming an emotional connection between the tourists with the place and the people who visit. Rural tourism offers activities that were able to spend leisure travelers with the activities of natural and condensed with the culture of the people. One form of rural tourism development, namely the Tourism Village. Candirejo Tourism Village is one of the tourist village located in the district of Magelang located around the Borobudur Temple. Tourist village offers a natural tourist attraction with packaging Javanese cultural nuances are very typical. The daily activities of the villagers, planting paddy fields, cooking in the kitchen, became gamelan and traditional arts as a dancer trian will provide a special experience for every tourist who comes. The existence of the Tourism Village Candirejo certainly an impact on the physical and non-physical. The physical aspects such as land use change and non-physical aspects such as economy and culture in the community. This study aims to determine the effect of the Tourism Village Candirejo land use, economic and cultural preservation.
PENGARUH PERUBAHAN GUNA LAHAN TERHADAP PELAYANAN DRAINASE DI KAWASAN SEKITAR KAMPUS UNDIP TEMBALANG Yulistiani Yulistiani; Widjanarko Widjanarko
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 3 (2013): Agustus 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (609.791 KB)

Abstract

Pengembangan kampus Universitas Diponegoro Tembalang membawa dampak yang besar terhadap aktivitas di kawasan sekitarnya terutama di Kecamatan Tembalang dan Kecamatan Banyumanik berupa perubahan guna lahan menjadi lahan terbangun. Pesatnya perubahan guna lahan menjadi lahan terbangun yang terjadi di kawasan sekitar  Kampus UNDIP Tembalang ini tidak memperhatikan fungsi lahan sebagai resapan air sehingga debit limpasan air pada saluran drainase mayor berupa Sungai Krengseng menjadi meningkat. Sementara itu, kondisi sungai telah mengalami perubahan akibat sedimentasi. Akibatnya, kapasitas Sungai Krengseng berubah  dan tidak mampu menampung limpasan air sehingga menyebabkan genangan dan banjir lokal dan juga banjir kiriman ke Semarang Bawah. Untuk itulah penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh perubahan guna lahan terhadap pelayanan drainase di kawasan sekitar Kampus UNDIP Tembalang. Dari analisis yang dilakukan, dari tahun 2001-2011, penggunaan lahan di kawasan sekitar kampus UNDIP Tembalang yang termasuk dalam daerah hulu dan daerah hilir DAS Krengseng cenderung mengalami perubahan. Perubahan yang terjadi berupa perubahan lahan sawah, lahan tegal/kebun dan lahan lainnya menjadi lahan permukiman. Perubahan pada tiap jenis guna lahan di daerah  hulu dan hilir kawasan sekitar Kampus UNDIP Tembalang memberikan pengaruh yang signifikan terhadap tingkat pelayanan drainase. Jenis guna lahan yang memberikan pengaruh besar adalah lahan permukiman. Adanya peningkatan luas lahan permukiman menjadikan koefisien limpasan air di daerah hulu maupun hilir meningkat. Akibatnya, debit limpasan air yang masuk ke Sungai Krengseng juga mengalami peningkatan. Pada saat debit limpasan mencapai puncak dan melebihi kapasitas tampungan, maka terjadi luapan yang menyebabkan banjir dan genangan di beberapa kawasan terutama di Kelurahan Srondol Wetan, Pedalangan, Bulusan dan Meteseh. 
KINERJA PELAYANAN ALUN-ALUN KOTA PURWOREJO SEBAGAI RUANG PUBLIK Septi Rachma Sari; Hadi Wahyono
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 4, No 1 (2015): Februari 2015
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (306.383 KB)

Abstract

Kinerja pelayanan suatu ruang publik dapat dikatakan baik apabila memiliki aspek responsibilitas, demokratis, dan bermakna yang seimbang. Kenyataannya banyak ruang publik yang terlalu bersifat demokratis disebabkan oleh kemudahan pengunjung bergerak bebas dalam melakukan aktivitasnya di sekitar kawasan tersebut. Keadaan tersebut menarik untuk diteliti, dengan pertanyaan penelitian: Apakah Alun-alun Kota Purworejo sebagai ruang publik sudah sesuai dengan tingkat kinerja yang seharusnya? Hal ini penting dalam menjaga kualitas ruang publik yang mampu memenuhi kebutuhan aktivitas pengunjungnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur kinerja pelayanan Alun-alun Kota Purworejo sebagai ruang publik berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif deskriptif dan data dikumpulkan melalui observasi lapangan dan kuesioner dengan informan yang dipilih melalui teknik pemilihan sampel nonprobability sampling dengan jenis sampling insidental untuk pengunjung alun-alun. Hasil akhir dari penelitian ini bahwa faktor demokratis di Alun-alun Kota Purworejo sangat tinggi sehingga untuk menyeimbangkan kinerja pelayanan di alun-alun tersebut dengan cara meningkatkan kualitas faktor image di kawasan sekitarnya.
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KONVERSI LAHAN BERDASARKAN PENDAPAT MASYARAKAT DI KAWASAN WISATA DESA BANDENGAN, KABUPATEN JEPARA (“Factor Influencing Land Conversion Based on People Opinion At Bandengan Village Tourism Area, Jepara Regency”) Syaiful Achmad Raharjo; Hadi Wahyono
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 4 (2013): November 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1457.329 KB)

Abstract

Salah satu kawasan pesisir yang berkembang cukup pesat di Kab. Jepara adalah Desa Bandengan, Kecamatan jepara. Desa Bandengan memiliki potensi pariwisata yang terus berkembang tiap tahunnya dan menjadi sektor basis (andalan) dalam meningkatkan perekonomian daerah. Desa Bandengan selanjutnya dimasukkan ke dalam WPP (Wilayah Pengembangan Pariwisata) I di Kab. Jepara, dengan obyek wisatanya berupa Pantai Tirto Samudro. Dalam kurun waktu 12 tahun (tahun 2001 sampai tahun 2012) Desa Bandengan mengalami perkembangan kawasan,  terlihat dari dari perubahan lingkungan fisik khususnya pada perubahan penggunaan  lahan atau konversi lahan yang ada di kawasan wisata Desa Bandengan. Konversi lahan di Desa Bandengan diakibatkan oleh berbagai faktor. Permasalahan ini menarik sebagai obyek penelitian dikarenakan faktor yang mempengaruhi konversi lahan tidak hanya dari aspek pariwisata saja, melainkan ada banyak aspek yang ikut mempengaruhi konversi lahan tersebut. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah mengkaji faktor yang mempengaruhi konversi lahan berdasarkan pendapat masyarakat di kawasan wisata Desa Bandengan, Kabupaten Jepara. Metode yang digunakan adalah dengan membandingkan citra satelit tahun 2001 dengan tahun 2012. Kemudian dilanjutkan analisis menggunakan alat analisis faktor pada software SPSS, berdasarkan data kuesioner lapangan. Teknik sampling dengan purposive sampling dengan responden 58 orang. Hasil analisis diketahui bahwa lahan yang mengalami perkembangan konversi lahan cukup pesat adalah lahan untuk perdagangan dan jasa serta pariwisata. sebelumdi rotasi pada analisis faktor, terdapat 1 variabel yang nilainya kurang dari 0,5 yaitu proses mendirikan bangunan atau IMB. Hasil akhir faktor yang mempengaruhinya adalah faktor 1 dengan nilai 30,58 % yaitu faktor kondisi lingkungan fisik dan sosial yang meliputi kondisi jalan, kondisi listrik, kesesuian lahan, kerawanan bencana, kemanan kawasan dan kondisi sosial berupa kerukunan warga. Faktor pariwisata kurang begitu berpengaruh dalam konversi lahan di kawasan wisata Desa Bandengan tersebut.    
KAJIAN PERENCANAAN TATA RUANG PARTISIPATIF UNTUK MENUNJANG KEGIATAN NON-PERTANIAN DI KECAMATAN WONOSALAM DEMAK Rizka Fadhilah Adnin; agung sugiri
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 4, No 2 (2015): Mei 2015
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1061.721 KB)

Abstract

Kemiskinan dapat dipandang sebagai bagian dari masalah pembangunan. Keberadaannya ditandai dengan pengangguran dan ketidakmampuan yang akan meningkatkan kesenjangan sosial. Sektor non-pertanian di pedesaan dapat membantu orang miskin pedesaan untuk mengurangi kemiskinan mereka dengan industri skala mikronya. Kegiatan ini sering beroperasi di sektor informal, namun pengembangannya sering kurang didukung oleh kebijakan tata ruang terkait. Sementara itu, pendekatan partisipatif merupakan komponen penting dalam perencanaan tata ruang di Indonesia, sesuai dengan amanat UU Penataan Ruang. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki perencanaan tata ruang partisipatif untuk mendukung pengembangan kegiatan non-pertanian di Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Demak. Pendekatannya adalah kualitatif dengan analisis isi sebagai metode analisis utamanya. Hasil studi menunjukkan bahwa kebijakan tata ruang yang diterapkan di daerah penelitian agak menghambat, bukannya mendorong kegiatan non-pertanian. Meskipun rencana tersebut telah mempertimbangkan hubungan spasial dalam beberapa hal, itu belum cukup tepat dalam perencanaan struktur tata ruang untuk mendukung kegiatan non-pertanian. Alasan utama di balik ini yang paling mungkin adalah karena pendekatan top-down yang diterapkan dalam perencanaan tata ruang. Seandainya penduduk lokal dengan keterlibatan di sektor non-pertanian telah diberikan porsi partisipatif yang tepat dalam proses perencanaannya, situasi akan telah jauh lebih baik. Oleh karena itu, di antara rekomendasi penting studi ini adalah untuk menerapkan pendekatan partisipatif dalam setiap tahap proses perencanaan tata ruang.
PERKEMBANGAN SOSIAL EKONOMI KOTA KECIL DI JAWA TENGAH Julio Utama Landra; Jawoto Sih Setyono
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 1, No 1 (2012): November 2012
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1262.015 KB)

Abstract

Urbanisasi merupakan salah satu isu global kependudukan yang mempunyai dampak positif berupa pertumbuhan ekonomi dan negatif berupa penurunan kualitas lingkungan. Urbanisasi terjadi di negara berkembang seperti Indonesia pada umumnya dan Jawa Tengah pada khusunya. Jawa Tengah telah memiliki berbagai jenis kota yang mengalami perkembangan, baik secara spasial maupun secara sosial ekonomi, salah satunya adalah kota kecil. Kota kecil adalah adalah tempat hidup bagi penduduk perkotaan, karena separuh dari penduduk perkotaan di seluruh dunia bertempat tinggal di kota-kota kecil ini (Taccoli (ed.), 2006). Tujuan studi ini adalah untuk mengetahui variasi aspek sosial ekonomi yang mempengaruhi perkembangan kota kecil di Jawa Tengah. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif yang didalamnya terdapat analisis deskriptif, analisis komparatif dan analisis overlay peta. Untuk menganalisis perkembangan sosial ekonomi penduduk digunakan metode kuantitatif. Pertama, mengidentifikasi kota yang berada di Jawa Tengah, selanjutnya menganalisis kota-kota yang termasuk kota kecil, dan menganalisis perkembangan sosial ekonomi di kota kecil. Terakhir adalah menganalisis tipologi kota kecil berdasarkan aspek sosial ekonomi dengan metode analisis SIG. Temuan studi menunjukkan bahwa berdasarkan pola tipologi spasialnya, kota-kota kecil berkembang bermula di sepanjang jalur pantai utara Jawa, pantai selatan dan sekitar Kota Solo serta kota kecil bagian tengah Jawa Tengah. Selanjutnya mulai terjadi aglomerasi antara pantai utara dan selatan pada tahun 2006 dan semakin berkembang di tahun 2008 karena infrastruktur dan fasilitas yang semakin lengkap dan menyebar. Perkembangan kota masih memiliki ketergantungan terhadap kesamaan geografis, yaitu berada di sepanjang pantai utara dan selatan Pulau Jawa. Ada pula kota kecil yang tumbuh cepat walaupun lokasinya tidak berada di sepanjang pantai. Hal ini dikarenakan kota tersebut berkembang secara alami. Jadi, perkembangan kota tidak hanya dipengaruhi oleh urbanisasi, tetapi ada faktor lain seperti sifat alamiah (kesamaan topografi, SDA, budaya) maupun buatan (jaringan infrastruktur).
Keberlanjutan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu di Desa Tawangsari, Kabupaten Boyolali Anindya Ayu Puspa Nugraheni; Widjonarko Widjonarko
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 8, No 4 (2019): November 2019
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (759.831 KB)

Abstract

Tawangsari Village is one of the locations that has conducted integrated solid waste at the integrated solid waste treatment facility. At the end of 2014, the Village Government, assisted by the Provincial Government through the Satker PPLP Cipta Karya PU, manage built integrated solid waste treatment facility (including buildings and infrastructure for waste management) and officially operated it in early 2015. The Tawangsari integrated solid waste treatment facility is the first large solid waste treatment facility and is still considered to be operating. Even though this is considered so, it is still feared that the integrated solid waste treatment facility will not be able to run properly (sustainably) in the future. This concern can be explained by the discovery of initial problems such as service coverage that does not meet minimum PU standards (less than 200 households), the operation was halted for quite a long time in 2017, weak community participation and economically indicated to still depend on operational funding assistance from the Village Government. This study aims to determine the sustainability of integrated solid waste treatment facility in Tawangsari Village. The results of the analysis show that Tawangsari integrated solid waste treatment facility has less chance of sustainability due to the low volume of waste managed, the existence of financial problems, not all workers can be relied on to ensure that technical activities run regularly, the community has not been maximally involved in supporting integrated solid waste treatment facility and the ability to reduce waste is still in small quantities.
ANALISIS LOKASI TRANSIT PERGERAKAN KAWASAN SEMARANG BARAT DALAM KONSEP PENERAPAN TOD (TRANSIT ORIENTED DEVELOPMENT) KOTA SEMARANG Handari Probo Siwi; Anita Ratnasari Rakhmatulloh
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 1 (2014): Februari 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1750.252 KB)

Abstract

Kawasan Semarang Barat memiliki pergerakan yang tinggi setiap harinya sehingga terjadi beberapa permasalahan transportasi. Dari fenomena tersebut, maka terinspirasi untuk menerapkan TOD yang merupakan tata guna lahan yang terintegrasi dengan kemudahan transportasi yang mudah diakses. Lokasi transit merupakan unsur penting dalam TOD untuk memfasilitasi pergerakan dari satu tempat ke tempat lainnya. Untuk menentukan lokasi transit maka dilakukan beberapa sasaran diantaranya adalah identifikasi tata guna lahan, sarana dan prasarana transportasi, dan struktur ruang Kota Semarang. Metode penelitian yang dilakukan dengan menggunakan metode kuantitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan dua teknik yaitu dengan  teknik primer pengumpulan data melalui kuisioner, observasi dan dokumentasi dan teknik sekunder dilakukan dengan pengumpulan data dari instansi dan literatur terkait. Metode penentuan sampel dengan metode random sampling/probability sampling dengan syarat home based. Analisis yang dilakukan diantaranya adalah identifikasi tata guna lahan, identifikasi sarana dan prasarana transportasi kawasan serta analisis lokasi transit kawasan.Lokasi transit yang terpilih diantaranya adalah Pertigaan Jerakah, Taman Lele (Halte Tambak Aji), RSUD Tugurejo dan Pasar Mangkang. Dengan ditemukannya lokasi transit ini maka diharapkan dapat melayani pergerakan penduduk kawasan Semarang Barat dan pemerintah dapat memfasilitasi perkembangan yang terjadi di sekitar lokasi transit.
HUBUNGAN TINGKAT URBANISASI DAN TINGKAT KETIMPANGAN WILAYAH DI DAERAH PANTURA JAWA TENGAH Hendra Saputra; Sri Rahayu
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 4, No 4 (2015): November 2015
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1214.857 KB)

Abstract

Urbanisasi dan ketimpangan wilayah merupakan dua hal penting yang sedang dihadapi oleh negara berkembang. Urbanisasi yang dialami Amerika selama 90 tahun, dialami oleh Korea selama 20 tahun dan Brazil selama 30 tahun. Sekitar 70% dari negara yang mengalami urbanisasi mempunyai pendapatan perkapita yang berbeda-beda.Hal tersebut juga terindikasi pada daerah Pantura Jawa Tengah.Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Jawa Tengah tahun 2011, sebesar 11,53% penduduk di daerah Pantura Jawa Tengah berada di Kota Semarang dan pendapatan perkapita daerah Pantura Jawa Tengah sangat mencolok pada Kabupaten Kudus (Rp. 42.941.164,-) dan Kota Semarang (Rp. 30.566.980,-) dibandingkan dengan wilayah lain yang mempunyai proporsi dibawah Rp. 15.000.000,- terhadap pendapatan perkapita daerah Pantura Jawa Tengah.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan tingkat urbanisasi dan tingkat ketimpangan wilayah di daerah Pantura Jawa Tengah dengan pendekatan kuantitatif menggunakan data Badan Pusat Statistik tahun 2006 dan 2011. Analisis metode nilai entropi digunakan untuk menghitung tingkat urbanisasi, sedangkan tingkat ketimpangan wilayah menggunakan koefisien Theil. Tingkat urbanisasi di daerah Pantura Jawa Tengah mengalami peningkatan sedangkan tingkat ketimpangan wilayahnya mengalami penurunan pada tahun 2011 dibandingkan tahun 2006. Hubungan antara tingkat urbanisasi dan tingkat ketimpangan wilayah di daerah Pantura Jawa Tengah berbanding lurus yang dapat dilihat pada Kota Semarang dan Kabupaten Rembang. Hal ini berarti jika tingkat urbanisasi tinggi maka tingkat ketimpangan wilayah juga akan tinggi dan begitu juga sebaliknya.
KAJIAN EKSISTENSI PASAR TRADISIONAL KOTA SURAKARTA Maritfa Nika Andriani; Mohammad Mukti Ali
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 2 (2013): Mei 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (791.417 KB)

Abstract

Surakarta city covers five districts inhabited by about 588,110 people and as a center of growth by population more than 500 thousand people in the hinterland region so that be the target of the modern market as it has tremendous market share. The development of modern markets was increasing in Surakarta both located in the city center and located in rural areas and the border with the surrounding area. It makes traditional markets become marginalized. In fact, hundreds to thousands of lives traders rely on traditional markets. Traditional markets are spearheading of community economy so that it needs to get serious attention in order to remain in existence or even can increase their existence so as to support the welfare of trader. Therefore, it appears research question “How does the existence of the traditional market town of Surakarta?” The research objects are Legi market and Mojosongo market of Surakarta city. While the limits of the existence that referred to in this study is the existence of traditional market that have an survive element which recognized by others as the sustainability activities of the traditional market itself that experiencing growth, stagnation, or even decline depends on the ability to actualize its potential. The purpose of this study was to determine the existence condition of Legi Markets and Mojosongo Market, what it is experiencing growth, stagnation or decline? What the attempt can be done to maintain the existence of both the traditional markets? In assessing the existence of the traditional market of Surakarta city are analyzed three targets included: analysis of traditional markets existences, determine the condition of traditional markets existences based on the characteristics of market, traders and visitors perceptions of market to traditional market existences. After knowing the condition of their existence then next analysis is what the attempt can be done to maintain the existence of traditional markets through two analyzes include analysis of government policies related to traditional markets and analysis of social capital as an effort of traders to maintain the existence of the traditional market. Research approach with mixed method is a method that combines quantitative methods and qualitative methods by using qualitative methods is more dominant than quantitative methods. The techniques of primary data collection were performed by field observations, questionnaires to traders and visitors of the market, and interview the parties involved. Secondary data was obtained from a literature review and survey the agencies. From the stages of the analysis carried out can be concluded that the existence of Mojosongo market is in a stagnation existence condition, while the existence of Legi market is in decline existence conditions. The efforts to maintain the existence of both the traditional markets are with regulatory policy and development of market infrastructure as well as maintain the social capital consists of norms, beliefs, and bargaining as an effort of traders to maintain the existence of traditional markets. One of the recommendations given is to provide and improve facilities and infrastructure of markets both located in the market and in the market Legi Mojosongo so that visitors feel comfortable when shopping and are reluctant to switch to other markets which the market infrastructure is better than that found in both the traditional markets, and in order to maintain the social capital consists of the norms, beliefs, and bargaining where social capital can maintain a relationship of buyers trust and increase loyalty buyers to keep coming back to shop at traditional markets.

Filter by Year

2012 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 3 (2024): Agustus 2024 Vol 13, No 2 (2024): Mei 2024 Vol 13, No 1 (2024): Februari 2024 Vol 12, No 4 (2023): November 2023 Vol 12, No 3 (2023): Agustus 2023 Vol 12, No 2 (2023): Mei 2023 Vol 12, No 1 (2023): Februari 2023 Vol 11, No 4 (2022): November 2022 Vol 11, No 3 (2022): Agustus 2022 Vol 11, No 2 (2022): Mei 2022 Vol 11, No 1 (2022): Februari 2022 Vol 10, No 4 (2021): November 2021 Vol 10, No 3 (2021): Agustus 2021 Vol 10, No 2 (2021): Mei 2021 Vol 10, No 1 (2021): Februari 2021 Vol 9, No 4 (2020): November 2020 Vol 9, No 3 (2020): Agustus 2020 Vol 9, No 2 (2020): Mei 2020 Vol 9, No 1 (2020): Februari 2020 Vol 8, No 4 (2019): November 2019 Vol 8, No 3 (2019): Agustus 2019 Vol 8, No 2 (2019): Mei 2019 Vol 8, No 1 (2019): Februari 2019 Vol 7, No 4 (2018): November 2018 Vol 7, No 3 (2018): Agustus 2018 Vol 7, No 2 (2018): Mei 2018 Vol 7, No 1 (2018): Februari 2018 Vol 6, No 4 (2017): November 2017 Vol 6, No 3 (2017): Agustus 2017 Vol 6, No 2 (2017): Mei 2017 Vol 6, No 1 (2017): Februari 2017 Vol 5, No 4 (2016): November 2016 Vol 5, No 3 (2016): Agustus 2016 Vol 5, No 2 (2016): Mei 2016 Vol 5, No 1 (2016): Januari 2016 Vol 4, No 4 (2015): November 2015 Vol 4, No 3 (2015): Agustus 2015 Vol 4, No 2 (2015): Mei 2015 Vol 4, No 1 (2015): Februari 2015 Vol 3, No 4 (2014): November 2014 Vol 3, No 3 (2014): Agustus 2014 Vol 3, No 2 (2014): Mei 2014 Vol 3, No 1 (2014): Februari 2014 Vol 2, No 4 (2013): November 2013 Vol 2, No 3 (2013): Agustus 2013 Vol 2, No 2 (2013): Mei 2013 Vol 2, No 1 (2013): Februari 2013 Vol 1, No 1 (2012): November 2012 More Issue