cover
Contact Name
LPPM STP REINHA LARANTUKA
Contact Email
lppmstpreinhalarantuka@gmail.com
Phone
+6238322166
Journal Mail Official
stprenya2018@gmail.com
Editorial Address
Jl. K. H. Dewantara Kompleks Biara CIJ Ratu Damai Waibalun Larantuka
Location
Kab. flores timur,
Nusa tenggara timur
INDONESIA
Jurnal Reinha
Published by STP Reinha Larantuka
ISSN : 20893159     EISSN : 28072669     DOI : https://doi.org/10.56358/ejr.v17i1
Core Subject :
Jurnal Reinha adalah jurnal cetak dan online Sekolah Tinggi Pastoral Reinha Larantuka yang telah memiliki Nomor SK ISSN : 0005.28072669/K.4/SK.ISSN/2021.08. Jurnal ini terbit setiap bulan Desember dan Juni. Artikel yang dimuat adalah adalah artikel yang bertemakan Pendidikan dan Pengajaran Agama Katolik, Budaya, Sosiologi, Pastoral, Ekopastoral, Katekese, Kitab Suci, Perkawinan Gereja Katolik, Teologi Katolik, dan juga isu-isu kependidikan secara umum dan merupakan hasil penelitian atau studi pustaka, terutama dari para dosen, alumni dan mahasiswa baik dari lingkungan kampus maupun dari luar kampus STP Reinha.
Arjuna Subject : -
Articles 68 Documents
ESENSI DAN EKSISTENSI HIDUP SELIBAT DALAM PEMIKIRAN METAFISIKA THOMAS AQUINAS Sergius Hendi
Jurnal Reinha Vol 15 No 2 (2024)
Publisher : STP Reinha Larantuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56358/ejr.v15i2.359

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menggali pandangan Thomas Aquinas mengenai hidup selibat dalam perspektif metafisika dengan fokus pada hubungan antara eksistensi dan esensi dalam hidup selibat. Hidup selibat dalam tradisi Katolik dipandang sebagai panggilan ilahi yang mendalam, namun sering kali dianggap sebagai bentuk pengorbanan atau pengekangan yang tidak realistis. Masyarakat cenderung melihat hidup selibat sebagai pilihan hidup yang bertentangan dengan kodrat manusia, sehingga pemahaman yang mendalam mengenai esensi dan eksistensinya sering terabaikan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan studi pustaka dan deskriptif. Data diperoleh dari kajian literatur terkait filsafat metafisika Thomas Aquinas dan kajian hidup selibat dengan fokus pada karya-karya Thomas Aquinas yang relevan dengan topik yang dibahas. Hasil kajian menunjukkan bahwa esensi hidup selibat menurut Thomas Aquinas terlihat dari penyerahan dirinya secara total demi Kerajaan Allah sementara eksistensi hidup selibat terlihat dari kehidupan sehari-hari seperti berdoa, pelayanan dan pengudusan dengan tujuan akhir yaitu, bersatu dengan Tuhan. Kajian ini mengungkap bahwa hidup selibat memiliki nilai lebih tinggi dalam mencapai kebahagiaan abadi dibandingkan dengan pernikahan. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam pemahaman teologi moral Katolik, serta relevansi dan implikasi hidup selibat dalam kehidupan rohani masa kini, dengan menekankan sinergi antara eksistensi dan esensi dalam kehidupan spiritual.
KRISIS HARMONI ANTARA MANUSIA DAN ALAM: PENDEKATAN FILOSOFIS TERHADAP TANTANGAN EKOLOGI MODERNITAS Viktor; Fransiskus Xaverius Eko Armada Riyanto; Mathias Jebaru Adon
Jurnal Reinha Vol 15 No 2 (2024)
Publisher : STP Reinha Larantuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56358/ejr.v15i2.361

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menggali nilai-nilai filosofis dalam perspektif Armada Riyanto mengenai harmoni alam dan manusia. Fokus utama penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi bagaimana pandangan filosofis Armada Riyanto dapat mengatasi krisis harmoni antara Manusia dan Alam. Dengan menggunakan metode kualitatif melalui studi pustaka, penelitian ini memperkenalkan kebaruannya dengan pendekatan fenomenologis dalam menganalisis konsep alam sebagai “dinamis dan metaforis” yang diusung oleh Armada Riyanto. Konsep ini membawa perspektif baru dalam memahami hubungan manusia dan alam, yang tidak hanya terbatas pada dimensi fisik, tetapi juga melibatkan aspek emosional dan spiritual. Kontribusi utama dari penelitian ini adalah menyoroti pentingnya pendekatan holistik dalam memahami relasi antara manusia dan alam, yang mencakup dimensi fisik, emosional, dan spiritual. Penelitian ini juga memberikan kontribusi terhadap diskursus filosofi alam dengan memperkenalkan cara pandang yang lebih inklusif dan integratif. Implikasi teoretis dari penelitian ini adalah pengembangan filosofi alam yang lebih mendalam, sedangkan implikasi praktisnya dapat digunakan untuk memperbaiki hubungan manusia dengan alam melalui pemahaman yang lebih holistik terhadap keberadaan alam itu sendiri.
PERAN KATEKESE DALAM MEMBENTUK NILAI MORAL KAUM MUDA BERDASARKAN DOKUMEN EVANGELII GAUDIUM Susana Soi Leton; Yosep Belen Keban
Jurnal Reinha Vol 15 No 2 (2024)
Publisher : STP Reinha Larantuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56358/ejr.v15i2.363

Abstract

Kemajuan pesat dalam teknologi dan informasi telah mengubah perilaku manusia. Meski perkembangan teknologi membawa dampak positif, seperti memperluas wawasan dan pengetahuan kaum muda melalui akses mudah ke berbagai informasi dan media sosial, namun hal ini juga menimbulkan dampak negatif, terutama dalam pembentukan nilai moral pada kaum muda. Penelitian ini bertujuan menjawab permasalahan tersebut berdasarkan seruan dokumen Evangelii Gaudium. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi pustaka, menggunakan berbagai sumber sebagai bahan kajian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam era digital yang penuh tantangan, seruan dokumen Evangelii Gaudium melalui katekese dapat memberikan pemahaman dan pengetahuan iman yang mendalam. Katekese membantu kaum muda memahami dan mengevaluasi informasi yang mereka terima dari berbagai sumber digital. Selain itu, katekese juga memberikan panduan untuk menjalani kehidupan sesuai pola Kristus, mendukung kedewasaan hidup Kristiani, dan membentuk nilai-nilai moral yang baik.Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa seruan dokumen Evangelii Gaudium berperan penting dalam pembentukan nilai-nilai moral kaum muda di era digital melalui katekese. Rekomendasi yang diajukan adalah melibatkan kaum muda secara aktif dalam proses katekese, baik dalam pengambilan keputusan maupun pelaksanaannya.
KEPEKAAN SOSIAL MAHASISWA LELAK DALAM IMPLEMENTASI CARITAS BAGI KAUM MISKIN Damianus Suryo Pranoto
Jurnal Reinha Vol 15 No 2 (2024)
Publisher : STP Reinha Larantuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56358/ejr.v15i2.365

Abstract

Kepekaan sosial adalah suatu nilai fundamental dalam kehidupan bermasyarakat, khususnya dalam menghadapi tantangan sosial seperti kemiskinan. Fokus tulisan ini akan membahas tentang implementasi caritas oleh mahasiswa Lelak terhadap keluarga miskin melalui tindakan konkret, seperti membantu biaya operasi seorang bayi dengan kondisi kesehatan kritis. Tulisan ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi melalui wawancara mendalam dengan tiga mahasiswa yang aktif dalam penggalangan dana tersebut. Hal ini akan menunjukkan kepekaan sosial mahasiswa yang dipengaruhi oleh pengalaman pribadi, nilai-nilai agama, dan dorongan kesadaran kolektif. Maka, dalam konsep Emile Durkheim tentang kesadaran kolektif amat relevan dalam memahami motivasi mereka untuk bertindak secara kolektif demi menciptakan kesejahteraan bersama. Tindakan mahasiswa juga mencerminkan ajaran caritas sebagai cinta tanpa pamrih, sebagaimana digambarkan dalam dokumen Caritas in Veritate. Tulisan ini menegaskan bahwa kepekaan sosial tidak hanya sebagai respons terhadap kebutuhan material, tetapi juga wujud cinta aktif yang memperkuat solidaritas dan harmoni sosial. Oleh karena itu, kepekaan sosial adalah fondasi penting dalam membangun masyarakat yang lebih adil dan berperikemanusiaan, sekaligus menjadi bentuk pengamalan iman yang nyata. Dengan kata lain, tulisan ini memberikan motivasi untuk mengintegrasikan nilai-nilai kepekaan dalam kehidupan sehari-hari, terutama di lingkungan akademik sebagai wadah pembentukan karakter dan moralitas mahasiswa.
REFLEKSI FILOSOFIS TRANSFORMASI MENUJU MASYARAKAT TERBUKA: WAWASAN LIBERALISME INDONESIA PERSPEKTIF FRANCIS FUKUYAMA Marianus Elki Semit; Pius Pandor
Jurnal Reinha Vol 15 No 2 (2024)
Publisher : STP Reinha Larantuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56358/ejr.v15i2.366

Abstract

Fokus tulisan ini membahas transformasi menuju masyarakat terbuka di Indonesia melalui perspektif liberalisme menurut Francis Fukuyama. Kajian ini bertujuan untuk mengeksplorasi sejauh mana pemikiran Fukuyama dapat menjadi landasan teoretis bagi perubahan masyarakat Indonesia. Perihal gagasan Fukuyama diharapkan memberikan pandangan kritis terhadap relevansi dan kontribusinya terhadap proses transformasi tersebut. Implementasi liberalisme di Indonesia menghadapi tantangan signifikan, termasuk kekuasaan pemerintah yang cenderung otoriter dan membatasi kebebasan masyarakat. Kondisi ini memperlambat pergerakan menuju kesejahteraan individu maupun kolektif. Fukuyama menawarkan potensi dampak positif bagi Indonesia, meski harus melalui proses panjang dan menghadapi berbagai hambatan. Transformasi ini menuntut tindakan nyata untuk membangun negara yang lebih terbuka dan menjunjung tinggi nilai-nilai deliberatif.  Tulisan ini  menggunakan metode tinjauan kepustakaan untuk menganalisis relevansi dan implikasi gagasan Fukuyama dalam konteks Indonesia. Pemetaan analisis transformasi menuju masyarakat terbuka serta memberikan rekomendasi untuk mengoptimalkan potensi perubahan tersebut demi masa depan Indonesia yang lebih baik.
MENJADI PRIBADI OTENTIK UNTUK MERAIH KEBAHAGIAAN BERDASARKAN PERSPEKTIF ARMADA RIYANTO Stefanus Afryaldi Saputra Resi; Fransiskus Xaverius Eko Armada Riyanto; Mathias Jebaru Adon
Jurnal Reinha Vol 16 No 1 (2025)
Publisher : STP Reinha Larantuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56358/ejr.v16i1.374

Abstract

Penulisan karya ilmiah ini berfokus pada keotentikan pribadi manusia. Sejak lahir, setiap individu memiliki keotentikannya sendiri, namun sering kali keotentikan ini sulit untuk diterima atau diakui oleh lingkungan sekitar. Oleh karena itu, artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi konsep menjadi pribadi yang otentik, dengan mengacu pada perspektif Armada Riyanto. Penulis menggunakan metode kepustakaan, memanfaatkan dua jenis sumber, yaitu sumber primer dan sekunder. Sumber primer berasal dari buku Armada Riyanto berjudul Menjadi Mencintai Berfilsafat Teologi Sehari-hari, khususnya subtema kebijaksanaan mengenal diri. Sumber sekunder berupa artikel, jurnal, dan buku-buku lain yang relevan dengan topik ini. Melalui kajian kepustakaan tersebut, penulis menemukan beberapa hal penting, seperti pemahaman tentang keaslian diri, cara mengatasi tantangan untuk menjadi otentik, peran pengembangan diri, serta pentingnya membangun koneksi dengan orang lain. Selain itu, keotentikan diri juga terbukti menjadi faktor yang membantu seseorang mencapai tujuan hidup. Kebijaksanaan mengenal diri membawa manusia pada kesadaran akan kebahagiaan, yang tercapai ketika seseorang menerima dan bangga dengan keotentikan dirinya. Dengan demikian, kesadaran ini dapat menciptakan relevansi baru, yakni kepercayaan diri untuk hidup otentik, yang pada akhirnya membawa pada kebahagiaan sejati.
EKSISTENSI MORI KRAENG PADA MASYARAKAT MANGGARAI DALAM PERSPEKTIF TRANSENDENSI KARL JASPERS Fransiskus Bala Kleden; Silfanus Jemadin; Yohanes Baptista Angelino Galus; Bernardus Subang Hayong
Jurnal Reinha Vol 15 No 2 (2024)
Publisher : STP Reinha Larantuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56358/ejr.v15i2.376

Abstract

Artikel ini bertujuan membahas eksistensi Mori Kraeng dalam perspektif filsafat Karl Jaspers.  Dalam tradisi dan kepercayaan masyarakat Manggarai, Mori Kraeng dianggap sebagai entitas transenden, wujud tertinggi dan pengatur kehidupan. Tujuan dari penulisan artikel ini ialah menjelaskan eksistensi Mori Kraeng dengan mengacu pada pemikiran Jasppers tentang Transendensi. Untuk mencapai tujuan ini, penelitian kualitatif dengan metode studi kepustakaan digunakan untuk menelusuri buku-buku dan artikel-artikel jurnal sebagai sumber primer dan sumber sekunder. Hasil yang ditemukan dalam penulisan artikel ini ialah pemikiran Jaspers tentang Transendensi, yang menyatakan bahwa pengalaman Transendensi terjadi dalam situasi batas dan tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh akal, sejalan dengan cara masyarakat Manggarai berhubungan dengan Mori Kraeng. Dalam pandangan ini, kepercayaan terhadap Mori Kraeng bukan hanya menyentuh aspek budaya, melainkan juga berkenaan dengan sebuah pencarian eksistensial yang memberi makna dan arah hidup, terutama dalam menghadapi keterbatasan hidup, seperti penderitaan dan kematian. Simbolisme adat, seperti ritual syukur dan persembahan, menjadi jembatan untuk menghubungkan manusia dengan Mori Kraeng, yang merupakan realitas yang melampaui dunia imanen.
PANGGILAN SELIBAT DALAM REFLEKSI FILSAFAT FONDASI INTERPRETASI SPIRITUALITAS REMAH DAN DAUN KERING Fransesco Agnes Ranubaya; Valentino Lafdy; FX. Eko Armada Riyanto
Jurnal Reinha Vol 15 No 2 (2024)
Publisher : STP Reinha Larantuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56358/ejr.v15i2.379

Abstract

Fokus penelitian ini adalah mengulas secara kristis dan mendalam mengenai panggilan selibat yang menggunakan pisau bedah filsafat Fondasi Interpretasi menurut spiritualitas Remah dan Daun Kering. Filsafat Fondasi Interpretasi merupakan pemikiran mendalam yang berkaitan erat dengan relasi antara Aku, Teks, Liyan dan Fenomen. Spiritualitas Remah dan Daun kering menjadi fondasi dasar untuk mengungkapkan secara kritis pemaknaan panggilan selibat bagi seorang calon imam dan identitasnya sebagai makhluk relasional. Tujuan dari penulisan karya ilmiah ini adalah untuk memaknai lebih dalam kehidupan selibat yang dipersonifikasikan dalam spiritualitas Remah dan Daun Kering. Selain itu, karya ilmiah ini juga menjadi refleksi kritis bagi para calon imam untuk menjalani panggilan selibat dengan penuh semangat dan tanggung jawab sebagai relasinya yang amat dekat dengan Tuhan dan sesama. Melalui pengetahuan metafisika, panggilan untuk menjadi seorang selibat ada dalam karya ilmiah ini. Metode yang digunakan dalam karya ilmiah ini adalah analisis kritis melalui pendekatan studi pustaka yang direfleksikan dalam tinjauan kritis. Karya ilmiah ini sangat relevan dengan keadaan para calon imam yang hendak menjalani hidup selibat dan berjuang untuk menghidupi hidup selibat itu dengan kesadaran penuh yang muncul dari dalam bukan dipengaruhi oleh hal-hal lain yang ada di luar dirinya. Melalui karya ilmiah ini, penulis berharap agar setiap calon imam memiliki prinsip yang ideal dan kokoh untuk menjalani hidup selibat melalui spiritualitas Remah dan Daun Kering yang sangat menginspirasi.
BUDAYA POO TULUNGI: GOTONG ROYONG YANG MENYATUKAN MASYARAKAT SUKU BALANTAK DI SULAWESI TENGAH Marianus Muharli Mua
Jurnal Reinha Vol 16 No 1 (2025)
Publisher : STP Reinha Larantuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56358/ejr.v16i1.382

Abstract

Budaya Poo Tulungi merupakan nilai gotong royong yang mendalam dalam kehidupan masyarakat Suku Balantak di Sulawesi Tengah. Poo Tulungi, yang berarti saling membantu, tidak hanya berfungsi sebagai tindakan fisik, tetapi juga memperkuat hubungan sosial dan solidaritas antar individu dalam komunitas. Dalam penelitian ini, penulis menggali peran budaya ini dalam menjaga keharmonisan sosial meskipun terpengaruh oleh perubahan zaman dan modernitas. Masyarakat Balantak tetap mempertahankan semangat gotong royong dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari kerja bakti hingga perayaan adat. Penelitian ini juga mengeksplorasi bagaimana budaya Poo Tulungi dapat bertahan dan relevan, serta beradaptasi dengan tantangan zaman, terutama melalui peran generasi muda yang mengintegrasikan nilai-nilai tradisional dalam kehidupan mereka. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Analisis data dilakukan dengan pendekatan analisis tematik, di mana data yang diperoleh dari wawancara dan observasi dikelompokkan menjadi tema-tema yang relevan dengan nilai gotong royong, solidaritas, dan keberlanjutan budaya Poo Tulungi. Selain itu, peneliti juga menggunakan teknik triangulasi untuk memastikan validitas data dengan memadukan berbagai sumber informasi yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Poo Tulungi tetap menjadi kekuatan pengikat yang menguatkan solidaritas sosial di masyarakat Balantak, serta berperan penting dalam menjaga keharmonisan sosial di tengah perkembangan modern.
HUKUM ADAT DAYAK BANUA SIMPAKNG MENURUT TEORI FUNGSIONALISME STRUKTURAL TALCOTT PARSONS Fransesco Agnes Ranubaya; Sirilus Anantha Deva Hexanno; Yohanes Endi
Jurnal Reinha Vol 16 No 1 (2025)
Publisher : STP Reinha Larantuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56358/ejr.v16i1.388

Abstract

Hukum Adat merupakan aturan hidup yang dimiliki oleh masyarakat Dayak, khususnya Banua Simpakng, dalam mengatur kehidupan warga masyarakat. Dengan kata lain, siapapun yang menjadi warga masyarakat Dayak Banua Simpakng harus menaati aturan hidup tersebut demi kebaikan bersama. Hukum Adat tersebut bertujuan untuk mengatur harmonisasi kehidupan di antara warga masyarakat Suku Dayak Banua Simpakng sehingga tercipta keselarasan dan keadilan terhadap hak dan kewajiban setiap anggota masyarakat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif melalui pendekatan fungsionalisme struktural Talcott Parsons yang terdapat pada Hukum Adat Dayak Banua Simpakng dalam mengatur aspek-aspek perilaku sosial. Teknik pengumpulan data menggunakan studi kepustakaan dengan sumber data primer buku Hukum Adat Banua Simpakng dan diperkuat dengan data sekunder dari artikel-artikel yang terkait. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah peran Hukum Adat dalam kehidupan sosial bagi suku Dayak Banua Simpakng serta relevansi dan tantangan Hukum Adat Dayak Banua Simpakng di masa kini. Pelaksanaan Hukum Adat tentunya memberikan dampak positif sehingga tetap dijalankan oleh masyarakat Dayak Banua Simpakng hingga saat ini. Masyarakat Dayak Banua Simpakng tidak hanya menjadikan Hukum Adat sebagai aturan belaka, tetapi juga falsafah hidup yang mengatur harmonisasi kehidupan antara manusia dengan alam.