cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
JURNAL KARYA TEKNIK SIPIL
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 27 Documents
Search results for , issue "Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017" : 27 Documents clear
PENELITIAN KUAT LENTUR BALOK SUSUN DARI KAYU GLUGU DAN KAYU SENGON Davied Hamonangan P; Faldy Faisal Jatnika; Parang Sabdono; Sukanta Sukanta
Jurnal Karya Teknik Sipil Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017
Publisher : Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1155.516 KB)

Abstract

Kayu adalah bahan bangunan yang sering digunakan pada bangunan. Kayu keruing adalah salah satu jenis kayu yang banyak digunakan, namun harganya relatif mahal. Kayu glugu dan kayu sengon dapat menjadi bahan bangunan alternatif untuk menggantikan penggunaaan kayu keruing karena populasinya yang tinggi. Pengembangan teknologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah balok kayu tersusun, dimana beberapa kayu dengan dimensi penampang tersendiri digabungkan menjadi satu penampang baru dengan cara direkatkan. Pada penelitian ini pengujian yang dilakukan adalah pengujian lentur full scale one point load. Hasilnya adalah kuat balok susun dapat melebihi kayu keruing sehingga dapat menggantikan kayu keruing yang digunakan sebagai elemen lentur. Benda uji berupa balok susun yang terdiri dari kayu glugu dan sengon berbentuk I (BS 1), balok susun dari kayu glugu dan sengon berbentuk persegi panjang (BS 2), balok susun 2 dari kayu glugu (G), balok susun 4 dari kayu sengon (S) dan balok dari kayu keruing (K). Balok susun kayu memiliki  rasio luasan mendekati rasio luasan balok kayu keruing dengan ukuran 8 cm x 12 cm dan bentang bersih sepanjang 2 meter untuk kemudian dibandingkan kuat lenturnya. Pengeleman balok susun menggunakan lem bertipe Polivynyl Asetat (PVAc) yang relatif mudah didapat dengan merk FOX. Hasil pengujian pada benda uji balok susun kayu terbaik didapatkan dari benda uji balok susun 2 dari kayu glugu sebesar 24,674 KN  yaitu lebih besar 7,605% dari beban maksimal rata-rata kayu keruing yaitu 22,93 KN. Biaya pembuatan benda uji glugu hanya sebesar 72,6% dari biaya kayu keruing pasaran di kota Semarang.
PENGUKURAN KINERJA KONSULTAN MANAJEMEN KONSTRUKSI PADA TAHAP IMPLEMENTASI PROYEK KONSTRUKSI M.Syihabul Umam; Dhani Syafitri; Arif Hidayat; Frida Kistiani
Jurnal Karya Teknik Sipil Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017
Publisher : Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1210.581 KB)

Abstract

Industri konstruksi merupakan industri yang memiliki tingkat kompleksitas yang sangat tinggi. Tercermin dari banyaknya tahapan dalam suatu siklus hidup proyek atau Life Cycle Project. Dari semua tahapan tersebut, tahapan implementasi (construction) merupakan tahap yang perlu mendapat perhatian yang serius, karena pada tahap ini harus tercapai tepat waktu, tepat biaya, dan tepat mutu atau yang sering disebut sebagai triangle project constraint. Untuk itu diperlukan sistem manajemen proyek yang baik seperti ditawarkan oleh Konsultan Manajemen Konstruksi (KMK). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan membuat instrument pengukuran kinerja  KMK pada tahap implementasi. 5 indikator kinerja yang dikembangkan menjadi 22 variabel digunakan untuk mengukur kinerja KMK pada proyek pemerintah dan pada proyek swasta. Selanjutnya dilakukan analisis dengan tiga metode yaitu metode analisis kesenjangan (GAP), Importance Performance Analysis (IPA), dan Customer Satisfaction Index (CSI). Dari hasil analisis dan perhitungan pengukuran kinerja KMK yang diukur dengan  metode analisis GAP dan IPA secara garis besar menunjukan bahwa kinerja KMK pada proyek swasta memiliki kinerja yang lebih baik dibandingkan kinerja pada proyek pemerintah, didapatkan pula nilai CSI untuk kinerja KMK pada proyek pemerintah sebesar 52,51% (cukup puas) dan CSI untuk kinerja KMK pada proyek swasta 85,88% (sangat puas).
PERENCANAAN SIMPANG EXIT TOL SALATIGA Ahmad, Fachreza; Sudrajat, Ricky; Indriastuti, Amelia Kusuma
Jurnal Karya Teknik Sipil Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017
Publisher : Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (796.022 KB)

Abstract

Simpang Exit Tol Salatiga menjadi penghubung antara Jalan Tol Bawen – Solo dengan Jalan Arteri Semarang – Solo melalui Jalan Tingkir – Barukan. Pengoperasian simpang tersebut memungkinkan terjadinya konflik arus lalu lintas, sehingga diperlukan perencanaan simpang yang matang. Untuk dapat merencanakan simpang yang dapat melayani seluruh pergerakan selama tahun rencana, perlu diprediksi volume lalu lintas yang akan melewati simpang ini. Prediksi volume jam puncak dilakukan dengan Metode Gravity, yang mempertimbangkan biaya perjalanan sebagai faktor hambatan. Biaya perjalanan dianalisis berdasarkan BOK (Biaya Operasional Kendaraan). Hasil analisis memperlihatkan volume lalu lintas pada tahun 2035 sebesar 1.986,08 smp/jam (lengan barat), 1.410,75 smp/jam (lengan timur), dan 901,71 smp/jam (lengan timur). Jenis simpang yang digunakan adalah 312 L.  Simpang ini menggunakan 3 fase dengan waktu hijau (gi) sebesar 12 detik (lengan barat), 19 detik (lengan utara) dan 10 detik (lengan timur) dan waktu hilang total (LTI) 9 detik. Kapasitas simpang sebesar 551,31 smp/jam (lengan barat), 1.019, 001 smp/jam (lengan utara) dan 411,398 smp/jam (lengan timur). Tundaan simpang rata-rata 18,38 detik. Derajat kejenuhan pada lengan barat 0,57 ; lengan utara 0,38 ; dan lengan timur 0,49. Panjang antrian pada lengan barat 29,161 m ; lengan utara 19 m ; dan lengan timur 13,18 m. 
PERENCANAAN SISTEM POLDER WILAYAH SEMARANG TIMUR Royna Kristian Yudi; Agung Mukti Nugroho; Suseno Darsono; Dyah Ari Wulandari
Jurnal Karya Teknik Sipil Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017
Publisher : Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1609.993 KB)

Abstract

Semarang Timur merupakan wilayah Kota Semarang bagian timur. Sub sistem drainase yang ada di wilayah ini adalah Sub Sistem Banjir Kanal Timur, Kedung Mundu, Sungai Tenggang, Sungai Sringin dan Sungai Babon. Permasalahan banjir dan rob sering terjadi di wilayah ini, terutama pada Sub Sistem Sungai Tenggang dan Sub Sistem Sungai Sringin, hal ini mengakibatkan kerugian ekonomi, sosial dan lingkungan. Wilayah ini mempunyai karakteristik topografi yang landai dan mengalami penurunan tanah yang tinggi pada setiap tahunnya sehingga pembuatan sistem polder pada daerah aliran sungai Tenggang dan Sringin dapat menjadi alternatif penanganan masalah yang tepat untuk wilayah tersebut.Perencanaan sistem polder ini meliputi perencanaan kolam retensi, stasiun pompa, perbaikan sungai dan tanggul laut. Perhitungan debit banjir menggunakan pemodelan HEC-HMS 4.0. Perencanaan perbaikan sungai menggunakan model HEC-RAS 5.0.1. Tanggul laut direncanakan dengan mempertimbangkan pasang tertinggi, pembangkitan angin dan gelombang, kenaikan muka air laut dan penurunan tanah di lokasi tanggul. Kolam retensi memiliki luas 126 hektar dengan kedalaman kolam 3,4 meter dan debit banjir rencana 10 tahunan untuk kolam adalah 126,6 m3/s. Jumlah pompa 4 buah dengan kapasitas setiap pompa sebesar 15 m3/s. Debit untuk masing-masing sungai sebesar 82,3 m3/s untuk Sungai Tenggang dan 49,6 m3/s untuk Sungai Sringin. Tinggi tanggul pada elevasi +2,7 meter di atas permukaan laut  dan dibangun dari Banjir Kanal Timur hingga Sungai Babon sepanjang 1,73 kilometer.
PERBANDINGAN EVALUASI KINERJA SIMPANG BERSINYAL BERDASARKAN NILAI EKIVAEN MOBIL PENUMPANG (EMP) TERKOREKSI DAN MKJI 1997 (STUDI KASUS: SIMPANG DON BOSCO, KALIWIRU, SEMARANG, JAWA TENGAH) Nindita Sekar Pertiwi; Pratiwi Hayuningtyas; EPF.Eko Yulipriyono; Djoko purwanto
Jurnal Karya Teknik Sipil Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017
Publisher : Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (313.634 KB)

Abstract

MKJI 1997 merupakan pedoman rekayasa lalu lintas yang berkaitan dengan analisis, perencanaan, perancangan, operasi fasilitas dan model manajemen lalu lintas. MKJI 1997 merupakan hasil penelitian secara empiris yang dilaksanakan pada tahun 1991 sampai dengan tahun 1996. Indonesia telah jauh berkembang dalam rentang waktu antara saat ini dengan studi empiris MKJI 1997, sehingga besar kemungkinan beberapa parameter analisis dalam formulasi MKJI 1997 sebagai faktor pembentuk kinerja lalu lintas sudah tidak sesuai dengan karakteristik lalu lintas dan kondisi saat ini. Salah satu faktor tersebut adalah nilai emp (Ekuivalen Mobil Penumpang). Emp merupakan faktor konversi berbagai jenis kendaraan bila dibandingkan dengan mobil penumpang atau kendaraan ringan lainnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis nilai emp pada suatu simpang di Semarang dan melihat apakah nilai tersebut masih relevan dengan ketetapan MKJI 1997, serta mengevaluasi kinerja simpang bersinyal  berdasarkan nilai emp terkoreksi dan MKJI 1997, lalu membandingkannya dengan kondisi langsung di lapangan. Penelitian ini diterapkan pada Simpang Don Bosco, Kaliwiru, Semarang, Jawa Tengah. Hasil analisis menunjukan tidak ada perbedaan yang signifikan antara hasil evaluasi kinerja simpang berdasarkan MKJI 1997 dengan emp terkoreksi dilihat dari panjang antrian dan rasio kendaraan henti, namun hasil kedua evaluasi tersebut berbeda dengan kondisi langsung di lapangan. Dalam meminimalkan perbedaan, rumus umum untuk Panjang Antrian Terkoreksi = Panjang Antrian Hitungan * (1- Faktor Koreksi), faktor koreksi untuk panjang antrian yaitu, untuk DS < 0,4 adalah y = 49067x4  – 63429x3  + 30347x2  – 6362,7x + 492,42 dan untuk DS > 0,4 adalah y = 30,88x4 – 105,49x3 + 128,27x2  – 64,292x + 11,422. Sedangkan rumus umum koreksi Rasio Kendaraan Henti Terkoreksi = Rasio Kendaraan Henti Hitungan * (1- Faktor Koreksi), faktor koreksi  untuk rasio kendaraan henti adalah sebagai berikut, untuk DS < 0,75 untuk DS > 0,75 adalah y = 1. Berdasarkan hasil penelitian perlu adanya evaluasi geomerti simpang untuk kinerja simpang yang lebih baik, seperti menggunakan median pada masing-masing pendekat, agar menghasilkan nilai emp simpang yang lebih sesuai dengan karakteristik simpang. Kemudian, perlu adanya pengelompokan nilai emp simpang berdasarkan masing-masing karakeristik simpang, agar hasil kinerja simpang menjadi lebih sesuai dengan kondisi lapangan.
ANALISIS DAMPAK MANUVER KENDARAAN ANGKUTAN BARANG PADA KINERJA SIMPANG DAN PUTARAN BALIK MENGGUNAKAN SIMULASI JEJAK KENDARAAN (STUDI KASUS SIMPANG KAWASAN INDUSTRI CANDI, SIMPANG ARTERI LINGKAR UTARA DAN PUTARAN BALIK KAWASAN INDUSTRI TERBOYO - SEMARANG) Christian Andhika Haryanto; Gandhi Alif; Kami Hari Basuki; Djoko purwanto
Jurnal Karya Teknik Sipil Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017
Publisher : Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1029.597 KB)

Abstract

Simpang-simpang dan putaran balik di Kota Semarang seringkali belum dapat melayani pergerakan arus lalu lintas secara maksimal, terlebih dalam melayani kendaraan angkutan barang. Hal ini ditunjukkan antara lain dengan seringnya terjadi tundaan, baik yang disebabkan oleh pengaturan lalu lintas yang kurang efisien maupun karena geometrik yang kurang memadai. Untuk itu perlu dilakukan analisis kinerja dan simulasi manuver kendaraan khususnya kendaraan angkutan barang menggunakan simulasi jejak kendaraan untuk mengevaluasi kondisi simpang dan putaran balik dengan mengambil contoh studi kasus pada Simpang Arteri Utara, Simpang Kawasan Industri Candi dan Putaran Balik Kawasan Industri Terboyo.Tahapan yang dilakukan adalah menganalisis kinerja simpang eksisting menggunakan Manual Kapasitas Jalan Indonesia 1997 dan mensimulasikan manuver kendaraan rencana pada simpang dan putaran balik eksisting menggunakan simulasi jejak kendaraan. Analisis kinerja simpang akan menghasilkan keluaran berupa nilai derajat kejenuhan yang selanjutnya akan menjadi tolak ukur apakah simpang dapat melayani arus eksisting atau tidak, sedangkan simulasi manuver kendaraan menghasilkan keluaran berupa jejak kendaraan yang menentukan apakah geometrik simpang dan putaran balik mampu melayani manuver kendaraan angkutan barang dengan efisien atau tidak. Setelah dilakukan analisis terhadap kondisi eksisting, dilanjutkan dengan optimasi jika diperlukan, baik dengan melakukan pengaturan ulang fase sinyal lalu lintas maupun dengan perubahan geometrik.Pada hasil analisis kinerja Simpang Arteri Utara, didapat kinerja pendekat selatan 0,94. Geometrik simpang dinilai masih dapat dioptimasi untuk meningkatkan kinerja simpang dalam melayani kendaraan angkutan barang. Optimasi Simpang Arteri Utara dilakukan dengan pengaturan ulang waktu sinyal lalu lintas dan pelebaran jembatan. Pada Simpang Kawasan Industri Candi, didapat DS semua pendekat >0,85. Optimasi yang dapat dilakukan untuk Simpang Kawasan Industri Candi adalah dengan melakukan pelebaran pendekat, penyesuaian median dan mengatur ulang waktu sinyal lalu lintas serta diadakannya larangan belok kanan untuk pendekat timur. Pada Putaran Balik Kawasan Industri Terboyo, putaran balik dinilai tidak mampu melayani kedatangan kendaraan yang diakibatkan oleh geometrik putaran balik tidak dapat melayani manuver kendaraan angkutan barang dengan efisien. Optimasi Putaran Balik Kawasan Industri Terboyo adalah dengan menggunakan jenis putaran balik bundaran dengan diameter bundaran 20 meter dan panjang lajur khusus putaran balik 60 meter. Dengan studi ini, diharapkan adanya studi
KAJIAN SUSUT BETON PADA STRUKTUR BETON BERTULANG YANG CEPAT BONGKAR PERANCAH STUDI KASUS GEDUNG ICT CENTER UNIVERSITAS DIPONEGORO Gardha Satria Fadillah; Rizki Amalia Putri; Sri Tudjono; Yulita Arni Priastiwi
Jurnal Karya Teknik Sipil Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017
Publisher : Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1439.386 KB)

Abstract

Pembongkaran bekisting biasanya dilakukan setelah beton berumur 14 hingga 28 hari, namun pada Gedung ICT Center Universitas Diponegoro bekisting sudah dibongkar pada saat beton berumur 7 hari. Pada saat pembongkaran tidak terjadi keretakan, tetapi setelah beberapa waktu balok tersebut mengalami keretakan. Keretakan terjadi ketika hanya ada berat sendiri dan beban hidup belum bekerja. Belum diketahui penyebab keretakan yang terjadi sehingga dilakukan kajian apakah rangkak atau susut yang menjadi faktor penyebab timbulnya retakan yang terjadi. Kajian susut beton bertulang ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah penyebab keretakan pada balok beton diakibatkan oleh susut beton atau faktor penyebab keretakan lainnya.Metode kajian dilakukan dengan menganalisis keadaan serta kondisi balok dan pelat pada gedung ICT Center dengan pembebanan berupa beban mati yang bekerja seperti beton cair yang belum mengeras, bekisting, dan perancah yang dimodelkan dalam 2 kondisi. Analisis dengan menggunakan program SAP2000 digunakan untuk menghitung regangan tarik akibat momen dan regangan susut yang tidak memperhitungkan pengaruh pengekangan tulangan akibat bongkar perancah pada usia beton baru mencapai 7 hari. Beton yang ditinjau adalah beton yang berumur 7, 14, 21, dan 28 hari pada daerah balok induk, balok anak, dan pelat lantai.Hasil analisis menunjukkan bahwa regangan saat bekisting dilepas yaitu umur 7 hari sampai dengan 28 hari, nilai dari regangan tarik di tepi semakin mengecil untuk umur beton yang bertambah. Hasil perhitungan regangan akibat susut menunjukan bahwa beton mengalami regangan susut pada saat 1 hingga 3 minggu setelah bekisting dilepas dan nilai regangan susut semakin kecil pada saat ditinjau terhadap beton umur 28 hari. Penjumlahan aljabar regangan tarik akibat momen dengan regangan akibat susut yang menghasilkan regangan total dibandingkan dengan batas crack. Didapatkan bahwa regangan total dari balok induk, balok anak 1, balok anak 2, dan pelat yang ditinjau pada kondisi 1 maupun kondisi 2 bernilai kurang dari batas crack, sehingga dapat disimpulkan bahwa beton tidak mengalami keretakan yang disebabkan oleh faktor susut pada beton
EVALUASI KINERJA LALU LINTAS SIMPANG DI JALAN LAYANG DAN BUNDARAN KALIBANTENG, SEMARANG DENGAN NILAI EKUIVALENSI MOBIL PENUMPANG SIMPANG BERSINYAL TERKOREKSI Nur Fairuz Khairunnisa; Ari Yanti; EPF.Eko Yuli Priyono; Supriyono Supriyono
Jurnal Karya Teknik Sipil Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017
Publisher : Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1902.045 KB)

Abstract

Pintu masuk utama Kota Semarang dari arah Barat melalui jalur non tol melewati Simpang Kalibanteng yang memiliki 6 (enam) pendekat utama. Tingginya aktivitas masyarakat yang melewati simpang ini mengakibatkan kemacetan terutama pada jam sibuk. Arus lalu lintas pada ruas jalan terdiri dari berbagai tipe kendaraan dengan karakteristik berbeda. Arus lalu lintas ini dinyatakan dalam satuan mobil penumpang (smp) dengan nilai konversi yang disebut nilai ekivalensi mobil penumpang (emp). Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi kinerja jalan layang dan simpang bersinyal dengan nilai emp yang disesuaikan dengan kondisi lapangan. Penelitian ini menggunakan metode regresi linier berganda dengan pendekatan lalu lintas dengan metode kapasitas. Hasil analisis nilai emp untuk simpang bersinyal Kalibanteng pada Jalan Siliwangi untuk HV= 1,33 dan MC= 0,54, Jalan Bandara Ahmad Yani untuk HV= 0,77 dan MC= 0,63, Jalan Yos Sudarso untuk HV= 1,84 dan MC= 0,46, Jalan Jendral Sudirman untuk HV= 2,24 dan MC= 0,09, Jalan Pamularsih untuk HV= 1,99 dan MC= 0,19, Jalan Abdul Rahman Saleh untuk HV= 0,56 dan MC= 0,52. Hasil analisis derajat kejenuh simpang bersinyal pada kondisi eksisting terbesar yaitu pada jalan Siliwangi sebesar 0,99. Solusi perbaikan kinerja yang dilakukan yaitu optimasi waktu siklus dan fase sinyal, dan perubahan arah arus di fly over. Berdasarkan hasil analisis dengan perubahan arah arus tersebut, menghasilkan derajat kejenuhan terbesar yaitu 0,78 pada Jalan Siliwangi, Jalan Jendral Sudirman dan Jalan Yos Sudarso. Disimpulkan bahwa perubahan arah arus menghasilkan kinerja simpang yang lebih baik dari kondisi eksisting.
KAJIAN SISTEM DRAINASE PATUKANGAN-PEGULON KABUPATEN KENDAL Josua Italiano; Bustan Fadhilsyah Rasyid; Dwi Kurniani; Sugiyanto Sugiyanto
Jurnal Karya Teknik Sipil Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017
Publisher : Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (786.686 KB)

Abstract

Kecamatan Patukangan – Pegulon adalah kawasan indsutri dan perumahan yang berada di pusat Kota Kendal. Permasalahan banjir menyebabkan potensi ekonomi, sosial, dan lingkungan tidak dapat berkembang. Sistem draianse yang tepat adalah salah satu alternatif untuk menanggulangi permasalahan banjir di wilayah Kecamatan Patukangan – Pegulon. Kajian sistem drainase meliputi perencanaan ulang dimensi saluran, pintu air, dan sistem pipa – pompa.Data curah hujan yang digunakan untuk Sungai Kendal adalah data curah hujan dari tahun 2000 sampai 2015 dengan menggunakan stasiun hujan Sedayu, Karangtengah, dan Kedugsari. Analisis debit banjir di Sungai Kendal menggunakan metode HSS Nakayasu dengan periode ulang 20 tahun dan diperoleh debit banjir sebesar 68,19 m3/s.. Analisis pengaruh backwater dari Laut Jawa menggunakan metode tahapan langsung. Pengaruh backwater hanya sampai pada jarak 5543,88  meter dari muara sungai. Jarak outlet saluran drainase dari muara sungai adalah 6096 meter, sehingga titik outlet tidak terpengaruh backwater.Debit banjir rencana pada saluran drainase didapatkan dengan rumus Mononobe dengan periode ulang 5 tahun dan diperoleh debit banjir rencana sebesar 4,8 m3/s. Berdasar debit banjir rencana ini, dimensi saluran drainase yang baru adalah : 1,0 x 1,0 m ; 0,9 x 0,7 m ; 0,7 x 0,7 m ; 0,8 x 0,7 m ; 1,6 x 1,5 m ; 1,0 x 0,7 m ; dan 1,3 x 1,0 m. Pintu air direncanakan pada titik outlet saluran karena elevasi muka air Sungai Kendal lebih tinggi dibandingkan elevasi muka air di saluran drainase, dengan elevasi muka air Sungai Kendal + 5,9 m dan elevasi muka air saluran drainase adalah + 4,63 m. Dimensi pintu air yang direncanakan adalah 1,6 x 1,5 m. Sistem pipa - pompa direncanakan berjumlah 3 buah dengan kapasitas tiap pompa adalah 2,0 m3/s dan diameter pipa adalah 0,5 m.
ANALISIS PENURUNAN BANGUNAN PONDASI TIANG PANCANG DAN RAKIT PADA PROYEK PEMBANGUNAN APARTEMEN SURABAYA CENTRAL BUSINESS DISTRICT Fachridia Luthfiani; Ilham Nurhuda; Indrastono Dwi Atmanto
Jurnal Karya Teknik Sipil Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017
Publisher : Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1445.279 KB)

Abstract

Perencanaan pondasi membutuhkan ketelitian yang berhubungan dengan sifat dan karakteristik tanah. Pondasi harus mampu memikul beban sampai batas aman yang telah ditentukan, hingga batas beban maksimum yang mungkin terjadi. Tujuan analisa ini untuk menghitung secara manual daya dukung dan penurunan bangunan dengan sistem pondasi tiang kelompok, memberikan alternatif desain perbaikan pondasi, menghitung dengan bantuan software SAP2000 daya dukung dan penurunan yang terjadi pada bangunan dengan sistem pondasi rakit, serta membandingkan kedua nilai penurunan bangunan pada Proyek Apartemen Surabaya Central Business District. Analisa kapasitas daya dukung tiang pancang dihitung berdasarkan data SPT dengan menggunakan metode Meyerhof (1976) dan Vesic (1977) untuk daya dukung ujung tiang serta metode λ, α dan β untuk daya dukung friksi tiang. Sedangkan kapasitas daya dukung rakit menggunakan rumus Braja M. Das. Penurunan bangunan dengan pondasi sistem tiang kelompok dihitung secara manual dan menggunakan software SAP2000, sedangkan penurunan pada bangunan sistem pondasi rakit dihitung menggunakan bantuan software SAP2000. Hasil penurunan bangunan dengan sistem pondasi tiang pancang menunjukkan hasil yang sangat besar sehingga perlu dilakukan desain ulang menggunakan pondasi rakit yang menurut hasil analisa menunjukkan angka penurunan yang berada pada interval batas aman.

Page 1 of 3 | Total Record : 27