cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Diponegoro
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 25408844     DOI : -
Core Subject : Health,
JKD : JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO ( ISSN : 2540-8844 ) adalah jurnal yang berisi tentang artikel bidang kedokteran dan kesehatan karya civitas akademika dari Program Studi Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro Semarang dan peneliti dari luar yang membutuhkan publikasi . JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO terbit empat kali per tahun. JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO diterbitkan oleh Program Studi Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro Semarang.
Arjuna Subject : -
Articles 1,040 Documents
PERBEDAAN NILAI TOTAL LUNG CAPACITY, PEAK EXPIRATORY FLOW DAN EXPIRATORY RESERVE VOLUME ANTAR CABANG OLAHRAGA PADA ATLET USIA 6-12 TAHUN Radyoko Heru Rahbanu; Yuswo Supatmo; Endang Kumaidah
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 2 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.796 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v5i2.11600

Abstract

Background: The development of a person's lungs are the most rapidly while still a child. Activity plays an important role in lung development. Research shows that exercise a positive impact on the development of lung and cardiovascular function. Each type of sport has a different energy system depends on the type of trainingObjective: To prove the difference in value of TLC, PEF and ERV among sports in athletes aged 6-12 years.Methods: This study used a descriptive analytic study is not paired with the cross-sectional design. Samples were 20 male athletes  6-12 years in the sport Volleyball, Soccer, Swimming and Taekwondo. Data retrieval characteristics such as age, height, weight, chest circumference and BMI. TLC values, PEF and ERV is measured by using a spirometer Spirolab II. Statistical test using Kruskal Wallis test.Results: The mean value of the group TLC Volleyball athletes was 2.21 L, athletes Football is 3.4 L, athletes Pool was 3.68 L and Taekwondo athletes was 3.19 L. The mean value of PEF group of athletes Volleyball is 4, 45 L / min, athletes Football is 3.8 L / min, athletes Pool was 4.44 L / min and Taekwondo athletes was 4.09 L / min. The mean value of ERV group of athletes was 0.75 L Volleyball, athletes Football is 0.53 L, 0.54 L Swimming athletes and athletes Taekwondo 0.49 L.Conclusion: In this study, there were significant differences between the average value of TLC sport athletes 6-12 years of age. Meanwhile, there was no significant difference in the average value of PEF and ERV sports athletes aged between 6-12 years. 
DOMINASI ASUPAN PROTEIN NABATI SEBAGAI FAKTOR RISIKO STUNTING ANAK USIA 2-4 TAHUN Dedes Swarinastiti; Galuh Hardaningsih; Rina Pratiwi
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 7, No 2 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (357.217 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v7i2.21465

Abstract

Latar Belakang: Stunting telah menjadi prioritas masalah kesehatan global akibat morbiditas dan mortalitas yang besar. Indonesia termasuk negara dengan prevalensi kejadian stunting yang tinggi sekitar 37,2 % berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar 2013. Defisiensi protein berperan menyebabkan stunting. Dominasi asupan protein nabati dapat menjadi salah satu faktor risiko kejadian stunting akibat kandungan asam amino esensialnya yang tidak lengkap.Tujuan: Menganalisis dominasi asupan protein nabati sebagai faktor risiko kejadian stunting pada anak usia 2-4 tahun.Metode: Rancangan penelitian bersifat analitik observasional dengan desain kasus-kontrol, dilakukan di Semarang periode Mei-Agustus 2017 dengan subyek penelitian adalah anak usia 2-4 tahun. Analisis data bivariat menggunakan uji Chi-Square dan Fisher’s Exact, sedangkan uji multivariat dengan uji Regresi Logistik.Hasil: Responden 114 anak, yang terbagi menjadi 2 kelompok kasus dengan 57 anak stunting dan kelompok kontrol dengan 57 anak berperawakan normal. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan signifikan untuk asupan jenis protein nabati kedelai (p=0,047; OR = 4,49) dan tingkat pendapatan keluarga (p=0,032; OR = 2,35) sebagai faktor risiko kejadian stunting pada anak usia 2-4. Hubungan tidak signifikan ditemukan pada kejadian stunting dengan faktor lain seperti : dominasi asupan protein nabati, tingkat pendidikan ibu, riwayat pemberian ASI, serta faktor demografi. Hasil uji multivariat didapatkan tidak ada variabel yang berpengaruh terhadap variabel terikat, stunting (p>0,05).Simpulan: Dominasi asupan protein nabati tidak merupakan faktor risiko kejadian stunting pada anak usia 2-4 tahun
PENGARUH BRAIN TRAINING TERHADAP TINGKAT INTELIGENSIA PADA KELOMPOK USIA DEWASA MUDA Clarin Hayes; Hardian Hardian; Tanjung Ayu Sumekar
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (470.06 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v6i2.18556

Abstract

Latar Belakang: Brain training sebagai latihan otak menjadi industri yang sangat menjanjikan di era ini untuk menghasilkan jutaan dolar tanpa suatu bukti konkret bahwa brain training dapat meningkatkan kemampuan kognitif dan inteligensia seseorang. Banyak peneliti yang masih meragukan efektivitas transfer dari brain training ke dalam peningkatan inteligensia di kehidupan sehari-hari.Tujuan: Membuktikan manfaat brain training terhadap tingkat inteligensia.Metode: Penelitian ini bersifat kuasi eksperimen dengan menggunakan rancangan pre dan post test pada satu kelompok yang dilaksanakan di Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Semarang. Sampel penelitian adalah mahasiswa FK Undip (n=26) yang diberikan pretes, lalu diberi brain training, kemudian diberikan postes. Inteligensia subjek sebelum dan sesudah brain training dianalisis menggunakan uji Wilcoxon.Hasil: Dari 26 subjek penelitian, rerata hasil tes inteligensia setelah brain training menunjukkan adanya peningkatan pada semua area inteligensia yang diteskan yaitu problem solving, logic reasoning, dan visuospatial intelligence. Uji Wilcoxon diperoleh hasil bermakna yaitu pada problem solving p=0,000 dan visuospatial intelligence p=0,000, sedangkan hasil tidak bermakna pada logic reasoning p=0,008. Kesimpulan: Terdapat peningkatan yang bermakna pada problem solving dan visuospatial intelligence dan peningkatan yang tidak bermakna pada logic reasoning pada kelompok usia dewasa muda sesudah melakukan brain training dengan aplikasi NeuronationTM selama 30 menit setiap hari, 5 hari dalam 1 minggu selama 4 minggu.
PERBANDINGAN KEBERHASILAN TERAPI TRABEKULEKTOMI PADA GLAUKOMA PRIMER SUDUT TERBUKA DAN GLAUKOMA PRIMER SUDUT TERTUTUP Azhar Wirayudha; Fifin Luthfia Rahmi; Riski Prihatningtias; Maharani Maharani
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 8, No 4 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (293.922 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v8i4.25322

Abstract

Latar Belakang: Glaukoma primer sudut terbuka merupakan bentuk glaukoma yang sering ditemukan yang disebabkan sumbatan pada trabecular meshwork. Sedangkan glaukoma primer sudut tertutup disebabkan karena tersumbatnya saluran drainase. Trabekulektomi merupakan salah satu terapi untuk glaukoma yang bertujuan untuk menurunkan tekanan intra okular dengan membuat saluran humor akuos baru. Tujuan: Mengetahui perbandingan keberhasilan terapi trabekulektomi pada glaukoma primer sudut terbuka dan glaukoma primer sudut tertutup. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain cross-sectional, yaitu mengambil data sekunder dari rekam medik dan hasil pemeriksaan setelah intervensi. Intervensi adalah trabekulektomi. Sampel adalah 50 pasien yang menderita glaukoma primer, dibagi menjadi 25 pasien glaukoma primer sudut terbuka dan 15 pasien glaukoma primer sudut tertutup yang menjalani operasi trabekulektomi yang sesuai dengan kriteria tertentu dan melakukan follow up selama minimal 3 bulan. Uji statistik menggunakan uji Chi-square. Hasil: Keberhasilan trabekulektomi pasca 3 bulan operasi pada glaukoma primer sudut terbuka 52% Complete Success, 44% Qualified Success, 4% Failure. Pada glaukoma primer sudut tertutup 16% Complete Success, 48% Qualified Success, 36% Failure. Kesimpulan: Terdapat perbedaan tingkat keberhasilan trabekulektomi pada glaukoma primer sudut terbuka dan glaukoma primer sudut tertutup.Kata Kunci: Trabekulektomi, Glaukoma Primer Sudut Terbuka, Glaukoma Primer Sudut Tertutup
PENGARUH OLAHRAGA TERHADAP KETERATURAN SIKLUS MENSTRUASI PADA MAHASISWI FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG TAHUN 2016 Aldo Febriananto Kurniawan; Yuli Trisetiyono; Dodik Pramono
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.722 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v5i4.14215

Abstract

Latar Belakang : Olahraga berlebihan dapat menyebabkan terjadinya gangguan siklus menstruasi. Jumlah wanita yang mengikuti kegiatan olahraga dan aktivitas fisik terus meningkat. Walaupun olahraga memiliki banyak keuntungan, tetapi olahraga juga dapat menyebabkan beberapa gangguan. Latihan fisik yang berat dapat menimbulkan gangguan pada fisiologi siklus menstruasi.Tujuan : Mengetahui pengaruh olahraga terhadap keteraturan siklus menstruasi mahasiswi Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang Tahun 2016.Metode : Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan cross sectional. Sebanyak 80 mahasiswi FIK UNNES yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi selama Februari 2016 sampai Maret 2016 telah mengisi kuesioner. Data jenis olahraga, frekuensi, durasi serta siklus haid diperoleh melalui wawancara dengan kuesioner yang dibuat khusus untuk penelitian ini. Data dideskripsikan dalam bentuk tabel dan gambar, dilakukan uji Mann Whitney, analisis data menggunakan program komputerHasil : Sebanyak 62 sampel (77.5%) dari 80 sampel mahasiswi pernah mengalami ketidakteraturan siklus menstruasi. Pada penelitian ini didapatkan nilai p<0.05 atau bermakna pada variabel frekuensi dan durasi latihan terhadap siklus menstruasi pada mahasiswi FIK UNNES. Perbedaan distribusi kejadian haid tidak teratur berdasarkan jenis olahraga adalah tidak bermakna (p=0,1).Simpulan : Terdapat hubungan yang bermakna antara frekuensi dan lama latihan dengan siklus menstruasi pada mahasiswi FIK UNNES.
PENGARUH SENAM SEHAT ANAK INDONESIA TERHADAP KINERJA FUNGSI EKSEKUTIF PADA ANAK DENGAN UNDERWEIGHT Riyan Riyan; Erna Setiawati; Meita Hendrianingtyas
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 7, No 1 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (384.843 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v7i1.19391

Abstract

Latar Belakang: Prevalensi underweight anak di Indonesia tergolong tinggi dan menjadi masalah serius. Status nutrisi yang rendah pada underweight menyebabkan retardasi pertumbuhan, pengurangan sinaps otak, serta mengurangi metabolisme energi pada otak yang berdampak pada penurunan fungsi kognitif dan terjadi penurunan kinerja fungsi eksekutif. Penurunan kinerja fungsi eksekutif berdampak pada penurunan konsentrasi dan kemampuan belajar sehingga terjadi penurunan pada prestasi akademik anak. Kinerja fungsi eksekutif dapat ditingkatkan dengan cara melakukan latihan fisik, dimana Senam Sehat Anak Indonesia merupakan salah satu bentuk latihan fisik aerobik yang telah dievaluasi oleh Pusat Penelitian Olahraga Nasional Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia layak untuk diterapkan sebagai materi senam untuk siswa SD dan SMP.Tujuan: Membuktikan Senam Sehat Anak Indonesia dapat meningkatkan kinerja fungsi eksekutif pada anak dengan underweight.Metode: Penelitian eksperimental one group pre and post design di SDN Tembalang, Semarang pada 12 anak underweight berusia 9 tahun di SDN Tembalang. Kinerja fungsi eksekutif diukur dengan Symbol Digit Modality Test. Uji hipotesis yang digunakan adalah Uji T-berpasangan.Hasil: Rerata kinerja fungsi eksekutif sebelum dan sesudah dilakukan perlakuan Senam Sehat Anak Indonesia adalah sebesar 34,25 ± 7,30 dan 39,75 ± 10,39. Terdapat perbedaan bermakna pada rerata sebelum dan sesudah perlakuan dengan p = 0,02.Simpulan: Perlakuan Senam Sehat Anak Indonesia selama 6 minggu atau 12 kali dengan frekuensi 2 kali per minggu memberikan perbedaan yang bermakna antara sebelum dan sesudah dilakukan perlakuan, dimana kinerja fungsi eksekutif setelah diberikan perlakuan lebih tinggi.
FAKTOR RISIKO KEJADIAN HIPERTENSI PADA PASIEN YANG BEROBAT DI POLIKLINIK RSUD RAA SOEWONDO PATI Reza Rachman; Shofa Chasani; Setyo Gundi Pramudo
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (330.295 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v5i4.15825

Abstract

Latar Belakang : Hipertensi bukanlah penyakit yang dapat dipandang sebelah mata saja, sebab kondisi faktual menyatakan bahwa hipertensi dapat meningkatkan timbulnya beberapa komplikasi yaitu penyakit serebrovaskular, infark miokard, gagal jantung kongestif, dan insufisiensi renal. Hal tersebut akan menyebabkan disabilitas, membatasi aktivitas sehari-hari, fungsi sosial, dan status psikologis.Tujuan : Mengetahui hubungan faktor risiko hipertensi terhadap kejadian hipertensi stage 1 dan stage 2 pada pasien yang berobat di poliklinik RSUD RAA Soewondo Pati.Metode : Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Subyek dalam penelitian ini berjumlah 75 responden, yang menderita hipertensi. Penelitian dilakukan di poliklinik RSUD RAA Soewondo Pati pada bulan Maret 2016. Sampel diambil secara consequtive sampling. Data diperoleh melalui kuesioner dan wawancara langsung serta pemeriksaan fisik berupa pengukuran tekanan darah, tinggi badan, dan berat badan. Analisis data dilakukan secara bertahap meliputi analisis univariat, analisis bivariat menggunakan uji Chi-square, dan analisis multivariat menggunakan uji regresi logistik berganda metode Backward Stepwise (Likelihood Ratio) pada program SPSS.Hasil : Hasil uji statistik dengan regresi logistik berganda tidak menunjukkan adanya perbedaan antara  faktor risiko hipertensi stage 1 dan hipertensi stage 2 pada pasien yang berobat di poliklinik RSUD RAA Soewondo Pati yaitu usia (p = 0,83), riwayat keluarga (p = 0,615), merokok (p = 0,222),  obesitas (p = 0,25), jenis kelamin (p = 0,713), konsumsi natrium ( p = 0,653), konsumsi lemak (p = 1), aktivitas (p = 0,673) dan alkohol (p = 0,606).Simpulan : Faktor risiko hipertensi usia, riwayat keluarga, merokok, obesitas, jenis kelamin, konsumsi natrium, konsumsi lemak, aktivitas dan konsumsi alkohol tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna terhadap kejadian hipertensi stage 1 dan stage 2.
HUBUNGAN ANTARA FRAKSI EJEKSI VENTRIKEL KIRI DENGAN KEJADIAN GAGAL GINJAL AKUT POST OPERASI KATUP JANTUNG Arum Citra Melati; Sefri Noventi Sofia
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 8, No 1 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (358.225 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v8i1.23297

Abstract

Latar Belakang : Penyakit jantung katup didefinisikan sebagai kelainan struktural atau fungsional katup jantung. Kelainan pada katup jantung dapat mengganggu aliran darah ke seluruh tubuh. Operasi katup jantung menjadi pilihan terapi untuk mencegah komplikasi terjadi lebih berat pada jantung. Terdapat beberapa komplikasi terkait operasi, salah satunya adalah gagal ginjal akut. Rendahnya cardiac output diduga sebagai penyebab primer penurunan fungsi ginjal post operasi jantung. Penurunan cardiac output post operasi dapat dipengaruhi oleh fraksi ejeksi ventrikel kiri, durasi penggunaan cardiopulmonary bypass, dan lainnya. Tujuan : Mengetahui hubungan fraksi ejeksi ventrikel kiri pre operasi dengan kejadian gagal ginjal akut post operasi katup jantung di RSUP Dr Kariadi Semarang Metode : Jenis penelitian ini adalah observasional analitik korelasi dengan desain cross sectional. Subyek sebanyak 25 pasien jantung rematik yang melakukan operasi ganti katup jantung mitral dan/atau aorta di RSUP Dr Kariadi Semarang yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dengan metode consecutive sampling. Nilai fraksi ejeksi ventrikel kiri didapatkan dari hasil ekokardiografi dan nilai kreatinin didapatkan dari hasil pemeriksaan laboratorium darah. Hasil Penelitian : Hasil uji korelasi antara LVEF dengan delta kreatinin menunjukkan kekuatan korelasi yang lemah dan berbanding terbalik (r=-0,026; p=0,322), yang artinya semakin rendah LVEF maka semakin tinggi delta kreatinin yang menunjukkan adanya penurunan fungsi ginjal, namun hal ini tidak signifikan secara statistik. Kesimpulan : Terdapat hubungan yang tidak signifikan antara fraksi ejeksi ventrikel kiri dengan kejadian gagal ginjal akut post operasi katup jantung mitral dan/atau aorta.Kata Kunci Penyakit jantung katup, operasi katup jantung, LVEF, gagal ginjal akut
PERBANDINGAN FIVE YEAR SURVIVAL RATE PENDERITA KARSINOMA NASOFARING PADA MODALITAS KEMOTERAPI DAN KEMORADIASI Kevin Ravido Widiono; Willy Yusmawan; Zulfikar Naftali
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (370.872 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v6i2.18588

Abstract

Latar belakang: Karsinoma nasofaring (KNF) merupakan karsinoma yang banyak diderita di wilayah Asia Timur dan Asia Tenggara. Penanggulangan KNF saat ini masih merupakan suatu problem, hal ini dikarenakan oleh gejala dini yang tidak khas, serta letak nasofaring yang tersembunyi, sehingga diagnosis sering terlambat. Adapun, angka ketahanan hidup 5 tahun penderita KNF dalam beberapa penelitian cukup bervariasi.Tujuan: Mengetahui  tingkat harapan hidup 5 tahun penderita karsinoma nasofaring pada modalitas kemoterapi dan kemoradiasi.Metode: Penelitian dilakukan dengan mengambil data rekam medik 50 penderita karsinoma nasofaring yang pernah diberikan terapi di RSUP Dr. Kariadi Semarang dalam kurun waktu 2011-2014. Metode penelitian yang digunakan adalah  historical cohort study untuk menilai harapan hidup 5 tahun. Data diolah dan disajikan dalam tabel distribusi frekuensi, kemudian dilakukan analisis data menggunakan uji Kaplan-Meier.Hasil: Tidak terdapat perbedaan bermakna angka harapan hidup 5 tahun antara penderita yang diberi kemoradioterapi dengan penderita yang diberi kemoterapi (p=0,148). Angka ketahanan hidup 5 tahun penderita KNF yang mendapat kemoradioterapi sebesar 44% sedangkan angka ketahanan hidup 5 tahun penderita KNF yang mendapat kemoterapi sebesar 28%. Stadium KNF merupakan faktor yang mempengaruhi angka harapan hidup 5 tahun penderita KNF (p=0,036).Kesimpulan: Angka harapan hidup 5 tahun penderita KNF dengan kemoradiasi lebih tinggi daripada kemoterapi. Stadium klinis KNF merupakan faktor yang berpengaruh terhadap harapan hidup 5 tahun penderita KNF
THE DIFFERENCE OF SLEEP QUALITY BEFORE AND AFTER SKIPPING EXERCISE IN MEDICAL STUDENTS OF DIPONEGORO UNIVERSITY Julsyawiah Novthalia; Buwono Puruhito; Dodik Pramono; Endang Kumaidah
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 9, No 1 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro )
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.285 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v9i1.26563

Abstract

Background : The many tasks that put upon the medical students require them to have a good sleep quality. Medical students generally have poor sleep quality. One way to improve sleep quality is to perform effective aerobic physical activities such as skipping. Aim : To explore the difference in sleep quality before and after skipping exercise in Medical Student of Diponegoro University. Methods : This study was a quasi-experimental with pre-test and post-test non-equivalent group. The samples were students of Faculty of Medicine, Diponegoro University (n = 48) aged 18-22 years who met the inclusion criteria. The sample was divided into 2 groups: control and treatment groups, each consisting of 24 students. Sleep quality score was measured using the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). The normality test was performed using the Shapiro-Wilk test. Hypothesis testing of sleep quality score before and after skipping exercise in the control group was performed using the Wilcoxon test, while in the treatment group using the paired t-test. The difference in sleep quality score between control and treatment groups was performed using the Mann-Whitney test. Results : The pre-test PSQI score in the control group is 6.88 ± 1.872 while in the treatment group is 7.63 ± 1.996. The results of the statistical test showed that the difference is not significant (p>0.05). The post-test PSQI score in the control group was 7.92 ± 2.888 while in the treatment group was 4.58 ± 1.886. The results of the statistical test showed that the difference is significant (p<0.05). In the control group, there is a slight increase in PSQI score which is not significant (p>0.05), while in the treatment group there is a significant decrease in PSQI score (p<0.05). Conclusion : There is a significant difference in the sleep quality score between control and treatment groups; the sleep quality of the treatment group is better than the control group.Key Words : Sleep quality, Skipping exercise, Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI)

Page 34 of 104 | Total Record : 1040


Filter by Year

2016 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 15, No 1 (2026): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 6 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 5 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 4 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 3 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 2 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 1 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 6 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 5 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 4 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 3 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 2 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 1 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 6 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 5 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 4 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 3 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 2 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 1 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 6 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 5 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 4 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 3 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 2 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 1 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 6 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 5 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 4 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 3 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 2 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 1 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 9, No 6 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (Jurnal Kedokteran Diponegoro) Vol 9, No 4 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro ) Vol 9, No 3 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro ) Vol 9, No 2 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro ) Vol 9, No 1 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro ) Vol 8, No 4 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 8, No 3 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 8, No 2 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 8, No 1 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 7, No 4 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 7, No 2 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 7, No 1 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 4 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 3 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 1 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 3 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 2 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 1 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO More Issue