cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Diponegoro
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 25408844     DOI : -
Core Subject : Health,
JKD : JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO ( ISSN : 2540-8844 ) adalah jurnal yang berisi tentang artikel bidang kedokteran dan kesehatan karya civitas akademika dari Program Studi Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro Semarang dan peneliti dari luar yang membutuhkan publikasi . JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO terbit empat kali per tahun. JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO diterbitkan oleh Program Studi Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro Semarang.
Arjuna Subject : -
Articles 1,040 Documents
RELATIONSHIP BETWEEN THE INTENSITY OF SOCIAL MEDIA USAGE WITH SLEEP QUALITY Rizki Alfarizi; Titis Hadiati; Hang G. Asikin; Widodo Sarjana
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 9, No 1 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro )
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (444.927 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v9i1.26573

Abstract

Background: Social media has become a part of human daily life, including students. The high intensity of social media usage can affect various aspects of life, one of which is the quality of sleep. The high intensity of social media usage is thought to be related with poor sleep quality. This study analyzes the relationship between the intensity of social media usage and sleep quality. Objective: To know the relationship between the intensity of social media usage with sleep quality in dental students. Method: This research was an observational analytic study with a cross-sectional design. The sample was students of the Dentistry Study Program at Faculty of Medicine, University of Diponegoro (n = 79). The intensity of social media usage was measured using the Social Network Time Use Scale and sleep quality was measured using the Pittsburgh Sleep Quality Index. Measurement of dependent and independent variables was done once at a time. Result: Among respondents, 34,2% were reported using social media with low intensity, 58,2% with average intensity, and 7,6% with high intensity; and 34,2% of respondents had good sleep quality and 65,8% had poor sleep quality. There was a significant relationship between SONTUS scores and PSQI global scores on respondents with the result of p = 0.02 (p <0.05) which indicates that there was a significant linear relationship. Likewise, the relationship between SONTUS scores and gender with the result of p = 0.03 (p <0.05) which also indicates a significant relationship between the two. Conclusion: The intensity of social media usage has a relationship with sleep quality and gender.Keywords: The Intensity of Social Media Usage, Sleep Quality, Social Networking Time Use Scale, Pittsburgh Sleep Quaity Index
PENGARUH INDEKS KOIL TALI PUSAT TERHADAP INDEKS PONDERAL BAYI BARU LAHIR KEHAMILAN ATERM Edo Sun De Putra; M. Besari Adi Pramono
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (416.997 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v5i4.14338

Abstract

Latar belakang : Tali pusat merupakan jaringan ikat yang menghubungkan antara plasenta dan janin yang memiliki peranan penting dalam interaksi antara ibu dan janin selama masa kehamilan. Gangguan sirkulasi tali pusat dapat menyebabkan asfiksia terhadap organ dan metabolisme janin baik akut maupun kronis, sehingga pada akhirnya akan mempengaruhi luaran bayi lahir.Tujuan : Mengetahui pengaruh indeks koil tali pusat terhadap indeks ponderal bayi baru lahir kehamilan atermMetode : Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional observasional. Sampel merupakan Ibu hamil dengan bayi kelahiran aterm (37 – 42 minggu) yang dirawat di Bagian Kebidanan dan Penyakit Kandungan RSUP Dr. Kariadi Semarang, RSIA Bunda Semarang, Puskesmas Halmahera Semarang dan Puskesmas Ngesrep Semarang. Data yang dikumpulkan adalah data sekunder berupa skala rasio yang ditentukan dari hasil pengukuran indeks ponderal bayi baru lahir dan data primer yang merupakan data ordinal yang didapatkan dari hasil pengukuran indeks koil tali pusat. Uji statistik menggunakan uji normalitas data Saphiro Wilk dan dilanjutkan dengan uji non parametric Spearman Rank Correlation Test.Hasil : Dari 50 sampel penelitian didapatkan Rerata indeks koil tali pusat sebesar 0,35 ± 0,09. Rerata skor indeks ponderal sebesar 2,64 ± 0,24. Terdapat hubungan negatif yang signifikan antara indeks koil tali pusat dan indeks ponderalpada bayi baru lahir dengan koefisien korelasi sebesar -0,627 (p < 0,01).Kesimpulan : Terdapat hubungan negatif yang signifikan antara indeks koil tali pusat dengan indeks ponderal bayi baru lahir. Hal ini menunjukan semakin tinggi indeks koil tali pusat atau hypercoiling maka semakin rendah indeks ponderal pada bayi baru lahir.
PENGARUH KEMORADIASI KANKER KEPALA LEHER TERHADAP KADAR UREUM DAN KREATININ SERUM Iqhbal, Rahmadonal Muhammad; Ningrum, Farah Hendara; Prihharsanti, CH Nawangsih
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 7, No 2 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (326.82 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v7i2.20742

Abstract

Latar belakang : Salah satu modalitas kemoterapi pada kanker kepala leher adalah kombinasi kemoterapi dan radioterapi. Pemberian kemoterapi neoadjuvant menjadi pilihan terapi. Penggunaan regimen kemoterapi dan tindakan radioterapi tidak hanya membunuh sel-sel kanker, akan tetapi dapat menimbulkan toksisitas pada tubuh penderita. Cisplatin merupakan golongan obat kemoterapi berbasis platinum yang memiliki efek samping penurunan fungsi ginjal.Tujuan : Mengetahui pengaruh kemoradiasi kanker kepala leher terhadap fungsi ginjal pada kadar ureum dan kreatinin dalam darah.Metode : Penelitian observasional cross sectional (non-komparatif) yang dikaji menggunakan data rekam medik di RSUP Dr Kariadi Semarang tahun 2012-2016. Sampel merupakan pasien dengan kanker kepala leher yang mendapat kemoterapi neoadjuvant yang dipilih berdasarkan consecutive sampling. Penilaian fungsi ginjal diambil dari hasil laboratorium kadar ureum dan kreatinin sebelum dan sesudah kemoradiasi. Uji statistik dilakukan menggunakan Uji Wilcoxon.Hasil: Didapatkan 21 sampel yang merupakan pasien karsinoma nasofaring yang telah menjalani kemoterapi neoadjuvant yang terbagi dalam pemberian sebanyak IV siklus, V siklus, VI siklus dengan 33x radioterapi.Data yang diperoleh dalam persentase yaitu kadar ureum meningkat 90,5% dan kadar kreatinin meningkat 90,5%. Hasil analisis data menunjukkan terdapat pengaruh yang bermakna pada kadar ureum dan kreatinin sebelum dan sesudah pemberian kemoterapi neoadjuvant p<0,05 (p=0,01).Kesimpulan :  Ditemukan peningkatan antara kadar ureum dan kreatinin sebelum dan sesudah kemoradiasi kanker kepala leher
FAKTOR RISIKO KOLONISASI Staphylococcus aureus PADA PETUGAS KESEHATAN DI RUMAH SAKIT NASIONAL DIPONEGORO SEMARANG Anggi Danupratama; Winarto Winarto; Endang Sri Lestari
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 6, No 1 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.528 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v6i1.16059

Abstract

Latar Belakang : Kolonisasi S. aureus banyak ditemukan di hidung bagian depan (nares anterior). Kolonisasi memegang peranan penting dalam terjadinya infeksi dan dapat dipengaruhi berbagai hal salah satunya faktor risiko yang ada. Faktor risiko yang dapat mempengaruhi terjadinya kolonisasi S. aureus dapat berasal dari faktor usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan, lama kerja, kebiasaan mencuci tangan, alat pelindung diri dan hand hygiene agent.Tujuan : Mengetahui faktor risiko yang mempengaruhi kolonisasi S. aureus pada petugas kesehatan di Rumah Sakit Nasional Diponegoro (RSND) Semarang.Metode : Penelitian menggunakan studi cross sectional. Subyek penelitian 76 responden dari petugas kesehatan baik medis dan non medis di RSND Semarang. Prosedur penelitian meliputi pengambilan nasal swab dan wawancara dengan alat bantu kuisioner. Identifikasi kolonisasi dilakukan pemeriksaan laboratorium sesuai standar mikrobiologi. Analisis data menggunakan analisa bivariat (uji chi-square / fischer exact) dan analisa multivariat (regresi logistik).Hasil : Dari 78 responden terdapat 28,2% (22/78) dengan kolonisasi S. aureus positif. Analisa bivariat diperoleh jenis kelamin laki-laki (p = 0,037), tingkat pendidikan non perguruan tinggi (p = 0,001), pekerjaan tenaga non medis (p = 0,001), lama kerja kurang dari 1 tahun (p = 0,006), dan alat pelindung diri ≥ 2 jenis (p = 0,10) mempunyai pengaruh yang bermakna terhadap kolonisasi S. aureus. Analisa multivariat diperoleh lama kerja kurang dari 1 tahun paling berpengaruh terhadap kolonisasi S. aureus pada petugas kesehatan di RSND ( p = 0,043 ; RP = 3,611 ; IK 95% = 1,041-12,522).Kesimpulan : Prevalensi kolonisasi S. aureus sebesar 28,2 % dan lama kerja kurang dari 1 tahun merupakan faktor risiko terjadinya kolonisasi S. aureus pada petugas kesehatan di RSND.
HUBUNGAN HIPERTENSI DENGAN DERAJAT DEFEK KERUSAKAN KARTILAGO OSTEOARTRITIS LUTUT BERDASARKAN ULTRASONOGRAFI Sulung Ade Pratama; Hermina Sukmaingtyas; Ika Vemilia Warlisti
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 8, No 1 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.408 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v8i1.23394

Abstract

Latar Belakang : Osteoartritis di Indonesia mempunyai prevalensi secara radiologis mencapai 15,5% pada pria dan 12,7% pada wanita yang berumur antara 40-60 tahun. Hipertensi merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap tingkat kerusakan tulang rawan sendi yang dapat dinilai dengan ultrasonografi (USG), defek kartilago ini akibat mekanisme kerusakan vaskuler di daerah subkondral. Tujuan : Mengetahui hubungan hipertensi dengan derajat defek kerusakan kartilago osteoartritis lutut berdasarkan ultrasonografi. Metode : Penelitian observarsional-analitik cross sectional dengan subjek berjumlah 14 responden. Uji statistik menggunakan uji korelasi Fisher. Hasil : Secara statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan antara Hipertensi dengan Derajat Defek Kerusakan Kartilago Osteoartritis Lutut Berdasarkan Ultrasonografi dengan nilai p = 0.068. Kesimpulan : Tidak terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara Hipertensi dengan Derajat Defek Kerusakan Kartilago Osteoartritis Lutut Berdasarkan UltrasonografiKata Kunci : Hipertensi, Osteoartritis, Ultrasonografi, Subkondral
KORELASI LOKASI PERDARAHAN INTRASEREBRAL DENGAN OUTCOME PASIEN STROKE HEMORAGIK Pradesta, Rizki Rudwi; Sukmaningtyas, Hermina; Pudjonarko, Dwi
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.692 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v6i2.18629

Abstract

Latar belakang Angka kejadian stroke meningkat tajam beberapa tahun kebelakang dan Indonesia menjadi negara dengan jumlah penderita stroke terbanyak di Asia. Stroke hemoragik intraserebral merupakan jenis kedua terbanyak dari pasien stroke setelah stroke iskemik. Outcome stroke dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain GCS, volume perdarahan, lokasi perdarahan, perluasan intraventrikuler, dan adanya peningkatan waktu pembekuan darah. Lokasi perdarahan merupakan faktor yang berpengaruh kuat untuk memprediksi kefatalan kasus, letak lokasi perdarahan yang bervariasi menyebabkan lokasi perdarahan bisa dijadikan pembeda untuk menentukan tingkat keparahan prognosis pasien stroke hemoragik. Penilaian outcome  stroke dapat dinilai dengan menggunakan Barthel Index karena realibilitasnya yang cukup tinggi yaitu 0,95 dan dapat dilakukan dalam waktu singkatTujuan Mengetahui korelasi lokasi perdarahan intraserebral dengan outcome pasien stroke hemoragik.Metode penelitian ini merupakan penelitian Observasional Analitik dengan metode Belah Lintang. Subjek merupakan pasien yang terdaftar sebagai pasien Stroke Hemoragik di RSUP Dr. Kariadi Semarang tahun 2015-2016. Data yang dikumpulkan adalah data sekunder berupa skala nominal yang ditentukan dari hasil CT Scan lokasi perdarahan pasien dan data ordinal yang didapatkan dari hasil penilaian kuesioner Barthel Index. Uji statistik menggunakan uji korelasi Chi Square.Hasil Tidak terdapat korelasi antara lokasi perdarahan dengan outcome  pasien stroke hemoragik yang dihitung menggunakan Barthel Index dengan nilai p= 0.665 (bermakna bila p < 0,05).Kesimpulan Tidak terdapat korelasi antara lokasi perdarahan dengan outcome  pasien stroke hemoragik yang dihitung menggunakan Barthel Index pada penelitian kali ini.
PENGARUH EKSTRAK DAUN DEWA (GYNURA DIVARICATA) TERHADAP KADAR UREUM DAN KREATININ : STUDI EKSPERIMENTAL PADA TIKUS MODEL KANKER PAYUDARA Indi Swastyastika; Amallia N. Setyawati; Dwi Ngestiningsih
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (318.32 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v5i4.14479

Abstract

Latar Belakang : Angka penggunaan tanaman obat sebagai pilihan terapi cukup tinggi, salah satunya terapi kanker payudara. Tanaman herbal yang dipercaya dapat digunakan dalam terapi kanker payudara adalah daun dewa (Gynura divaricata). Ginjal memegang peranan penting dalam proses ekskresi obat. Kadar ureum dan kreatinin dalam darah dapat digunakan sebagai parameter pemeriksaan fungsi ginjal. Belum terdapat penelitian mengenai pengaruh pemakaian daun dewa terhadap fungsi ginjal.Tujuan : Membuktikan pengaruh ekstrak daun dewa terhadap kadar ureum dan kreatinin pada tikus model kanker payudara.Metode Penelitian : Eksperimental Post Test Only Control Group Design. Sampel 15 tikus Sprague Dawley betina yang dibagi menjadi 3 kelompok. Kelompok kontrol negatif (K1) merupakan tikus normal dan kontrol positif (K2) merupakan tikus model kanker payudara yang mendapat pakan dan minum ad libitum, perlakuan (P) merupakan tikus model kanker payudara yang mendapat pakan ad libitum dan ekstrak daun dewa sebanyak 750 mg/kgBB selama 14 hari. Setelah 14 hari darah diambil dan dilakukan pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin.Hasil : Rata-rata kadar ureum K1 54,02, K2 43,06, dan P 33,98. Melalui uji ANOVA diketahui terdapat perbedaan yang bermakna (p=0,001) namun saat dilanjutkan dengan Post hoc Bonferroni, tidak terdapat perbedaan bermakna antara kelompok kontrol positif dan perlakuan. Rata-rata kadar kreatinin K1 0,44, K2 0,55, dan P 0,42. Karena sebaran data tidak normal dilakukan uji Kruskal-Wallis namun tidak terdapat perbedaan yang bermakna (p=0,08).Kesimpulan : Pemberian ekstrak daun dewa belum terbukti mampu menurunkan kadar ureum kreatinin pada tikus model kanker payudara.
GAMBARAN HISTOPATOLOGI USUS HALUS TIKUS WISTAR AKIBAT LUKA BAKAR TERMAL SELUAS 30% TOTAL BODY SURFACE AREA (TBSA) PADA FASE INTRAVITAL, PERIMORTEM DAN POSTMORTEM Naufaldi Dary Hartanto; Intarniati Nur Rohmah; Ika Pawitra Miranti
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 7, No 2 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (350.371 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v7i2.21193

Abstract

Latar Belakang  : Luka bakar merupakan salah satu cedera yang mengakibatkan mortalitas dan morbiditas yang tinggi di dunia. Luka bakar dapat digunakan untuk mengaburkan penyebab kematian seseorang apakah luka bakar terjadi saat korban masih hidup, sesaat setelah korban meninggal, atau saat korban sudah meninggal. Adanya temuan infiltrasi leukosit dan vasodilatasi vaskular pada usus halus ketika terjadi luka bakar akan digunakan sebagai pembeda luka bakar pada fase intravital, perimortem dan postmortem.Tujuan : Mengetahui perbedaan gambaran histopatologi (infiltrasi leukosit dan vasodilatasi vaskular ) usus halus tikus wistar akibat luka bakar pada fase intravital, perimortem dan postmortem.Metode : Penelitian eksperimental dengan Post Test-Only Control Group Design. Sampel terdiri dari 24 tikus wistar jantan yang terbagi menjadi 4 kelompok. Kelompok K tidak diberi perlakuan. Kelompok P1 diberi paparan luka bakar intravital. Kelompok P2 diberi paparan luka bakar perimortem yaitu 10 menit sejak waktu kematian. Kelompok P3 diberi paparan luka bakar postmortem yaitu 3 jam sejak waktu kematian. Setelah dilakukan intervensi, dilakukan pembuatan preparat usus halus dan pemeriksaan gambaran mikorskopis. Uji analisis menggunakan Kruskall Wallis dan Mann Whitney untuk paramter infiltrasi leukosit dan menggunakan uji Chi-Square untuk parameter vasodilatasi.Hasil : Pada paramteter infiltrasi leukosit uji Kruskal Wallis menunjukkan perbedaan bermakna dengan nilai p = 0.003 pada seluruh kelompok, dilanjutkan dengan uji Mann Whitney antar kelompok didapatkan perbedaan bermakna pada kelompok K dengan P1, K dengan P2, K dengan P3 dan P1 dengan P3 dan didapatkan perbedaan tidak bermakna pada kelompok P1 dengan P2, dan P2 dengan P3. Pada parameter vasodilatasi, tidak didapatkan perbedaan pada seluruh kelompok sehingga tidak mengeluarkan hasil ketika diuji dengan Chi-Square.Kesimpulan : Infiltrasi leukosit tertinggi terdapat pada kelompok intravital, kemudian perimortem, postmortem dan tidak didapatkan pada kontrol. Tidak didapatkan vasodilatasi vaskuler pada seluruh kelompok.
PERBEDAAN KADAR GLUKOSA SERUM DAN PLASMA NATRIUM FLUORIDA (NaF) DENGAN PENUNDAAN PEMERIKSAAN Agung, Albert; Retnoningrum, Dwi; I. Edward KSL, I. Edward KSL
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (349.713 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v6i2.18533

Abstract

Latar Belakang : Penentuan kadar glukosa darah menjadi salah satu tolak ukur penting dalam diagnosis diabetes mellitus. Rekomendasi dari WHO menyatakan bahwa darah sebaiknya disentrifugasi sebelum 30 menit setelah darah dialirkan ke dalam tabung dan diperiksa sesegera mungkin. Sejumlah penelitian memiliki hasil tidak konsisten mengenai efektivitas natrium fluorida sebagai agen antiglikolitik.Tujuan : Membuktikan perbedaan kadar glukosa serum dan plasma natrium fluorida (NaF).Metode : Penelitian ini adalah penelitian deskriptif analitik dengan rancangan cross sectional. Sampel adalah darah vena dari 15 orang mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro dengan tidak memperhatikan riwayat status glukosa darah sebelumnya yang dimasukkan dalam 2 tabung berbeda, serum dan natrium fluorida (NaF). Kadar glukosa sampel diperiksa dengan metode glukosa oksidase (GOD) pada waktu sebelum 2 jam, 4 jam dan 8 jam. Uji statistik menggunakan independent T-test, uji Mann-Whitney, uji Kruskal-Wallis dengan uji post-hoc Mann-Whitney.Hasil : Rerata kadar glukosa serum pada pemeriksaan sebelum 2 jam, 4 jam, dan 8 jam adalah 98,00 mg/dL, 93,07 mg/dL, dan 83,73 mg/dL. Rerata kadar glukosa plasma pada pemeriksaan sebelum 2 jam, 4 jam, dan 8 jam adalah 103,93 mg/dL, 98,73 mg/dL, 91,40 mg/dL. Pada uji Mann-Whitney tidak ditemukan adanya perbedaan bermakna secara statistik antara kelompok serum dan plasma pada pemeriksaan sebelum 2 jam dan 4 jam (p=0,161 dan p=0,089). Pada independent T-test tidak ditemukan perbedaan bermakna secara statistik antara kelompok serum dan plasma pada pemeriksaan 8 jam (p=0,371). Pada uji Kruskal-Wallis ditemukan penurunan signifikan pada kelompok serum (p=0,018) namun tidak pada kelompok plasma (p=0,071).Kesimpulan : Terdapat perbedaan kadar glukosa serum dan plasma NaF dengan penundaan pemeriksaan.
PERBEDAAN HASIL PEMERIKSAAN TEKANAN INTRAOKULER DENGAN TONOPEN DAN APPLANASI GOLDMANN PADA PASIEN GLAUKOMA Belinda Salva Dyah Fitriasari; Maharani Maharani; Riski Prihatningtias
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 8, No 2 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.308 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v8i2.23889

Abstract

Latar Belakang : Pengukuran tekanan intraokular (TIO) adalah salah satu pemeriksaan dasar pada pasien glaukoma. Walaupun applanasi Goldmann adalah baku emas untuk mengukur TIO, terdapat pertimbangan yang cukup besar dalam menggunakan tonometer yang lebih sederhana. Tonopen merupakan tonometer praktis karena bentuknya yang portable serta dapat digunakan pada posisi tegak dan supinasi. Tonopen juga dapat mengukur TIO pada kornea patologis. Tujuan : Mengetahui perbedaan hasil pemeriksaan tekanan intraokuler dengan Tonopen dan applanasi Goldmann pada pasien glaukoma. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain penelitian cross sectional. Subjek diperoleh dengan metode purposive sampling. TIO diukur menggunakan dua tonometer: Tonopen dan applanasi Goldmann, pada 32 mata pasien glaukoma yang berusia di atas 40 tahun dengan TIO <21 mmHg dan bukan pasien dengan infeksi mata, strabismus, dan kelainan kornea. Pengukuran applanasi Goldmann dilakukan terlebih dahulu. Tiga nilai dari pengukuran tonopen diambil kemudian dirata-ratakan. Distribusi data dari kedua kelompok dilakukan uji normalitas Saphiro Wilk. Uji Mann Whitney digunakan untuk membandingkan pengukuran TIO antara applanasi Goldmann dan tonopen pada distribusi data tidak normal. Nilai signifikan apabila p<0,05. Hasil : Nilai rerata TIO applanasi Goldmann dan tonopen 32 sampel  mata dari 22 subjek dengan rerata usia 61,63±7,25 tahun adalah 15,78 ± 2,15 mmHg dan 15,50 ± 2,48 mmHg. Analisis Uji Mann Whitney terhadap TIO oleh applanasi Goldmann dan tonopen menunjukkan nilai p=0,692. Perbedaan yang signifikan secara statistik (p<0,05) antara kedua alat tidak ditemukan. Kesimpulan : Tidak terdapat perbedaan hasil pemeriksaan TIO menggunakan tonopen dan applanasi Goldmann.Kata Kunci : Tekanan intraokuler, applanasi Goldmann, tonopen.

Page 33 of 104 | Total Record : 1040


Filter by Year

2016 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 15, No 1 (2026): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 6 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 5 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 4 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 3 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 2 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 1 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 6 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 5 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 4 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 3 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 2 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 1 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 6 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 5 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 4 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 3 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 2 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 1 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 6 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 5 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 4 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 3 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 2 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 1 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 6 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 5 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 4 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 3 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 2 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 1 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 9, No 6 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (Jurnal Kedokteran Diponegoro) Vol 9, No 4 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro ) Vol 9, No 3 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro ) Vol 9, No 2 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro ) Vol 9, No 1 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro ) Vol 8, No 4 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 8, No 3 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 8, No 2 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 8, No 1 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 7, No 4 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 7, No 2 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 7, No 1 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 4 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 3 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 1 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 3 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 2 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 1 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO More Issue