cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Diponegoro
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 25408844     DOI : -
Core Subject : Health,
JKD : JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO ( ISSN : 2540-8844 ) adalah jurnal yang berisi tentang artikel bidang kedokteran dan kesehatan karya civitas akademika dari Program Studi Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro Semarang dan peneliti dari luar yang membutuhkan publikasi . JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO terbit empat kali per tahun. JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO diterbitkan oleh Program Studi Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro Semarang.
Arjuna Subject : -
Articles 1,040 Documents
HUBUNGAN LAMA MENDERITA HIPERTIROIDISME SECARA KLINIS DENGAN KELINAN FUNGSI VENTRIKEL KIRI JANTUNG Yulian Indra Gunawan; Charles Limantoro; Yosef Purwoko
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.558 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v6i2.18652

Abstract

Latar belakang: Disfungsi tiroid sudah umum ditemukan, prevalensinya meningkat dengan bertambahnya usia. Kelainan berupa hipertiroidisme di karakteristikkan dengan meningkatnya denyut nadi istirahat, volume darah, stroke volume, kontraktilitas miokard, fraksi ejeksi dan perubahan pada struktur ventrikel kiri jantung. Pada pasien dengan hipertiroidisme juga didapatkan kelemahan pada fungsi diastolik ventrikel kiri. Dalam jangka pendek, hipertiroidisme dihubungkan dengan peningkatan fungsi kontraktilitas ventrikel kiri. Hipertiroidisme yang terus menerus bisa menyebabkan meningkatnya risiko aritmia, remodeling dari miokardium, cardiac impairment yang dikarakteristikkan dengan cardiac output rendah, dan dilatasi dari ruangan jantung.Tujuan: Mengetahui hubungan antara lama menderita hipertiroidisme secara klinis dengan kelainain fungsi dari ventrikel kiri jantung, dan disfungsi ventrikel kiri apa yang lebih awal muncul.Metode: Penelitian ini menggunakan metode cross sectional. Subjek penelitian adalah pasien hipertiroidisme yang telah menjalani pemeriksaan ekokardiografi di RSUP dr Kariadi Semarang. Dilakukan wawancara mengguanakan kuesioner kepada subjek untuk mengetahui lama menderita hipertiroidisme.Hasil: Didapatkan 21 subjek dengan jumlah laki – laki 8 dan perempuan 12 dengan rerata lama menderita hipertiroidisme 18±3 bulan. Hasil ekokardiografi menunjukkan hanya 6 subjek mengalami disfungsi sistolik, 11 subjek mengalami kelianan fungsi diastolik yang tidak dapat dinilai, 5 subjek mengalami disfungsi diastolik grade 1, dan 5 subjek mengalami disfungsi diastolik grade 2. Lama menderita hipertiroidisme secara klinis tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan disfungsi sistolik (p>0,05) dan kelainan disfungsi diastolik (p>0,05).Kesimpulan: Tidak ada hubungan antara lama menderita hipertiroidisme dengan kelainan fungsi ventrikel kiri jantung. Disfungsi diastolik muncul lebih awal dari disfungsi sistolik.
HUBUNGAN STRUKTUR PEDIS DENGAN KECEPATAN LARI 60 METER PADA SISWA SMA NEGERI 3 SEMARANG Muhammad Zulham Amirullah; Erie BPS Andar; Farmaditya Eka Putra
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.694 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v5i4.15495

Abstract

Latar Belakang : Indonesia memiliki beberapa pelari kenamaan di nomor elite pada masa lalu. Sekarang prestasi itu sudah sulit diperoleh atlet Indonesia. Berbagai penelitian dilakukan untuk mencapai prestasi atau hasil optimal dalam olahraga lari. Beberapa macam penerapan unsur pendukung keberhasilan dalam kecepatan lari perlu dioptimalkan seperti faktor anatomis pada kaki. Struktur anatomi pada kaki seperti arcus pedis dan panjang pedis yang membantu efisien fungsi kaki. Struktur pedis tersebut terdiri dari dua fungsi, yaitu menahan berat badan dan pergerakan berjalan atau berlari. Beberapa studi sebelumnya membuktikan bahwa arcus pedis memiliki korelasi negatif terhadap kecepatan lari.Tujuan : Mengetahui hubungan struktur pedis (indeks arcus pedis dan panjang pedis) terhadap kecepatan lari.Metode : Penelitian belah lintang ini dilakukan pada 61 subjek siswa laki-laki kelas X SMAN Negeri 3 Semarang. Indeks arcus pedis dinilai dengan metode Staheli-footprint. Panjang pedis dinilai dengan menggunakan satu set mistar segitiga. Kecepatan lari diukur menggunakan stopwatch dengan jarak tempuh 60 meter.Hasil : Pada penelitian didapatkan data indeks rata-rata arcus pedis kanan dan kiri dengan rerata 0,85 ± 0,27; data panjang pedis relatif dengan rerata 0,111 ± 0,003; dan data kecepatan lari dengan rerata 5,71 ± 0,46 m/s. Uji korelasi Spearman antara arcus pedis dan kecepatan lari 60 meter menunjukkan korelasi negatif yang tidak bermakna (r=-0,150; p=0,247). Sedangkan uji korelasi Spearman antara panjang pedis dengan kecepatan lari menunjukkan korelasi positif yang tidak bermakna (r= 0,014; p=0,914).Kesimpulan : Terdapat korelasi negatif yang tidak bermakna antara arcus pedis dengan kecepatan lari 60 meter. Terdapat korelasi positif yang tidak bermakna antara panjang pedis dengan kecepatan lari 60 meter.
HUBUNGAN OBESITAS TERHADAP PENINGKATAN INDEKS RASIO KARDIOTORAKS Annisa Rizki Heryanti; Lydia Purna; Kusmiyati Tjahjono
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.364 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v6i2.18547

Abstract

Latar Belakang : Indeks rasio kardiotoraks merupakan suatu indeks pembesaran jantung yang didapat dari perbandingan diameter jantung dan lebar dada yang didapat dari pemeriksan foto toraks. Peningkatan indeks rasio kardiotoraks disebabkan karena adanya pembesaran jantung. Salah satu penyebab pembesaran jantung adalah obesitas. Peningkatan berat badan pada penderita obesitas dapat memacu kerja jantung karena terjadi peningkatan kebutuhan metabolisme tubuh. Peningkatan kerja jantung ini dapat menyebabkan pembesaran jantung.Tujuan : Membuktikan adanya hubungan obesitas dengan peningkatan indeks rasio kardiotoraks.Metode : Data rekam medis yang dipilih berdasar kriteria inklusi yaitu pasien obesitas usia dewasa yang melakukan pemeriksaan foto toraks. Data disajikan deskriptif kemudian dianalisia dengan metode uji Fisher exact untuk mengetahui hubungan antara obesitas dengan peningkatan indeks rasio kardiotoraks.Hasil : Dari data yang didapatkan pada 33 sampel pasien obesitas yang melakukan pemeriksaan foto toraks di RSUP Dr Kariadi Semarang tercatat 29 (87,9%) pasien mengalami peningkatan indeks rasio kardiotoraks dan 4  (12,1%) pasien tidak mengalami peningkatan indeks rasio kardiotoraks. Selanjutnya tidak didapatkan adanya hubungan yang bermakna antara obesitas dengan peningkatan indeks rasio kardiotoraks (p=1,000)Kesimpulan : Tidak terdapat hubungan bermakna antara obesitas dengan peningkatan indeks rasio kardiotoraks.
PENGARUH FREKUENSI PENGGORENGAN MINYAK JELANTAH TERHADAP HEPAR TIKUS WISTAR (RATTUS NOVERGICUS) Indah Mustikasari; Fanti Saktini; Ainun Rahmasary Gumay
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 8, No 3 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (449.572 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v8i3.24492

Abstract

Latar Belakang : Penggunaan minyak goreng secara berulang-ulang menyebabkan oksidasi asam lemak tidak jenuh yang kemudian membentuk gugus peroksida (radikal bebas) dan monomer siklik. Radikal bebas dapat menyebabkan kerusakan pada membran sel, retikulum endoplasma, mengacaukan proses oksidasi, dan menyebabkan pembengkakan hati. Tujuan : Mengetahui pengaruh frekuensi penggorengan minyak jelantah terhadap     gambaran mikroskopis hepar tikus wistar (Rattus norvegicus). Metode : Penelitian ini menggunakan jenis penelitian true eksperimental laboratorik dengan Post Test Only with Control Group Design. Sampel sebanyak 25 ekor tikus wistar jantan yang telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, diadaptasi selama 7 hari. Kelompok K1 hanya diberi pakan dan minum standar, Kelompok K2, P1, P2, dan P3 diberi pakan dan minyak jelantah dengan frekuensi 1x, 3x, 6x dan 9x penggorengan dengan dosis 1.5 ml/hari selama 30 hari. Parameter histopatologi yang dinilai adalah  gambaran sel hepar normal, degenerasi parenkimatosa, degenerasi hidropik, dan  nikrosis. Analisis data dengan Chi Square. Hasil : Didapatkan perbedaan bermakna pada kelompok K1 yang tidak diberi minyak jelantah dengan kelompok P2 yang diberi minyak 6x penggorengan (p=0,050), kelompok K1 yang tidak diberi minyak jelantah dengan kelompok P3 yang diberi minyak jelantah 9x penggorengan (p=0,031) , dan kelompok P1 yang diberikan minyak jelantah 3x penggorengan dengan kelompok P2 yang diberikan minyak jelantah 6x penggorengan (p=0,050) serta didapatkan juga pada kelompok P1 yang diberikan minyak jelantah 3x penggorengan dengan kelompok P3 yang diberikan minyak jelantah 9x penggorengan(p=0,031). Kesimpulan : Terdapat pengaruh frekuensi penggorengan minyak jelantah terhadap gambaran mikroskopis hepar tikus wistar (Rattus norvegicus).Kata Kunci : Minyak jelantah, frekuensi penggorengan, kerusakan mikroskopis hepar.
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK BUAH KERSEN (Muntingia calabura L.) DOSIS BERTINGKAT TERHADAP GAMBARAN HISTOPATOLOGI GINJAL MENCIT BALB/C YANG HIPERURISEMIA Ida Kholifaturrokhmah; Ratna Damma Purnawati
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 3 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.855 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v5i3.13084

Abstract

Background : Cherry fruit has flavonoid function as an antioxidant. Cherry is traditionally used to treat gout. Increased production of uric acid in the metabolism or decreased excretion (expenditure) of uric acid in the kidney can affect images of kidney histopathology.Aim : Proving there are differences in kidney histopathology picture Balb / c mice were hyperuricemia among the group given cherry fruit extract (Muntingia calabura L.) with multilevel dose control group and uric acid levels Balb/c mice.Methods : This was a true-experimental research study using the pre test and post test control group design. The sample of 30 8Balb/c mice were divided into 6 groups randomly. The K1 group which was given only standard food and beverage, K2 group which were high purin diet and standard food, K3 group which were given cherry extract, and treated groups (P1,P2,P3) which were given standard food and cherry extact in graded dosage: 14 mg/20grBW, 28 mg/20grBW, and 56 mg/20grBW. The uric acid serum level of mices were measured, then the mices were terminated for observe the microscopic changes in kidneys.Results : One Way ANOVA test for proximal tubular damage showed the insignificant difference (p>0.05) in every groups. At the level of uric acid, Wilcoxon test showed significant differences (p<0.05) in every groups.Conclusion : There were not significant difference between chery extract with graded dosage to histopatological images of hyperurisemia Balb/c mice’s kidney. But the cherry fruit significant difference of hyperuricemia Balb/c mice.
PERBEDAAN NILAI ARUS PUNCAK EKSPIRASI SEBELUM DAN SESUDAH LATIHAN SKIPPING PADA DEWASA MUDA Haningtyas Endah Putriani; Endang Ambarwati; Muflihatul Muniroh
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 7, No 1 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (383.23 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v7i1.19371

Abstract

Latar  Belakang:  Fungsi paru dapat ditingkatkan dengan latihan aerobik dan parameter fungsi paru yang mudah digunakan adalah APE (Arus Puncak Ekspirasi). Skipping adalah salah satu contoh latihan aerobik yang mudah dilakukan dengan alat yang sederhana. Skipping tidak tergantung pada cuaca dan waktu sehingga dapat menjadi salah satu alternatif latihan yang cocok untuk diterapkan pada masyarakat terutama dengan rutinitas yang padat.Tujuan: Membuktikan adanya perbedaan nilai APE sebelum dan sesudah latihan skipping pada dewasa muda.Metode: Desain penelitian yang digunakan adalah eksperimental dengan rancangan comparison group pre-test dan post-test design. Subjek penelitian berjumlah 40 mahasiswa  Fakultas  Kedokteran  Universitas  Diponegoro yang dipilih secara purposive sampling. Subjek dibagi menjadi kelompok kontrol dan perlakuan, terdiri dari 10 laki-laki dan 10 perempuan pada setiap kelompok. Kelompok perlakuan melakukan latihan skipping 3 kali perminggu selama 8 minggu sementara kelompok kontrol melakukan aktivitas sehari-hari seperti biasa. APE diukur dengan menggunakan mini wright peak flow meter.  Analisis  statistik  menggunakan  uji  t  berpasangan untuk menganalisis APE sebelum dan sesudah latihan skipping, uji Wilcoxon untuk menganalisis perbedaan APE pada kelompok kontrol, serta uji Mann-Whitney untuk menganalisis selisih APE antar kelompok dan antar jenis kelamin.Hasil: Terdapat peningkatan APE yang bermakna (p=0.000) setelah melakukan latihan skipping dan perbedaan APE yang bermakna jika dibandingkan dengan kelompok kontrol (p=0.000). Peningkatan APE kelompok perlakuan pada laki-laki lebih besar dibandingkan dengan perempuan (p=0.538).Kesimpulan: Latihan skipping meningkatkan APE pada dewasa muda.
HUBUNGAN ANTARA STATUS DIABETES MELITUS TIPE 2 DENGAN STATUS TUBERKULOSIS PARU LESI LUAS Radityo Utomo; Heri-Nugroho Heri-Nugroho; Ani Margawati
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/dmj.v5i4.15782

Abstract

Latar Belakang : Tuberkulosis paru (TB paru) merupakan penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis dan sampai saat ini masih menjadi masalah yang penting dalam kesehatan di dunia khususnya di negara berkembang. Salah satu faktor risiko tuberkulosis adalah diabetes melitus. Pasien DM memiiki 2 hingga 3 kali risiko untuk menderita TB dibanding orang tanpa DM.Tujuan : Membuktikan hubungan antara DM tipe 2 dengan status tuberkulosis paru lesi luas. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan rancangan studi belah lintang. Besar sampel dalam penelitian ini adalah 43 sampel yang merupakan pasien tuberkulosis yang berobat di BKPM Semarang. Pengukuran variabel dilakukan dengan cara pemeriksaan kadar gula darah dengan tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO), pemeriksaan foto rontgen, wawancara, dan rekam medis. Variabel perancu dalam penelitian ini adalah kebiasaan merokok, status gizi, kondisi rumah, status sosial ekonomi, jenis kelamin, dan umur. Analisis statistik dilakukan dengan menggunakan uji Chi-Square dan Mann-Whitney untuk bivariat. Sedangkan untuk multivariat menggunakan uji regresi logistik. Hasil : Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara diabetes melitus tipe 2 dengan tuberkulosis paru lesi luas (p=0,03). Diabetes melitus tipe 2 dapat meningkatkan risiko status tuberkulosis paru lesi sebanyak 5,25 kali.Variabel perancu yang bermakna dalam penelitian ini adalah kebiasaan merokok (p=0,01) dan status gizi (p=0,02).Simpulan : Terdapat hubungan yang bermakna antara diabetes melitus tipe 2 terhadap status tuberkulosis paru lesi luas.
HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KEPATUHAN KUNJUNGAN BEROBAT DAN KADAR GLUKOSA DARAH PUASA PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2 DI PUSKESMAS KENDAL 1 Edwin Rheza Nugroho; Ika Vamilia Warlisti; Saekhol Bakri
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 7, No 4 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.016 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v7i4.22266

Abstract

Latar Belakang: Penanganan terapi diabetes melitus dilakukan seumur hidup sehingga membutuhkan kepatuhan kunjungan berobat dan kadar glukosa darah puasa yang baik. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi hubungan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan kunjungan berobat dan kadar glukosa darah puasa penderita diabetes melitus tipe 2 di Puskesmas Kendal 1.Metode: Desain penelitian ini adalah analtik cross sectional dengan jumlah sampel 58 pasien DM tipe 2. Analisa data menggunakan chi square dan fisher’s exact.Hasil: Hasil penelitian didapatkan tidak ada pengaruh hubungan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan menjalankan pengobatan (p>0,05) dan ada pengaruh hubungan antara dukungan keluarga dengan kadar glukosa darah puasa (p<0,05).Simpulan: Dapat disimpulkan terdapat pengaruh hubungan antara dukungan keluarga dengan kadar glukosa darah puasa.Kata kunci: Dukungan Keluarga, Kepatuhan Kunjungan Berobat, Kadar Glukosa Darah Puasa
PERAN MAKRONUTRIEN DALAM SARAPAN TERHADAP PERFORMA KOGNITIF REMAJA Helena Ayatasya Kusuma Cantika; Martha Ardiaria; Ahmad Syauqy
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (316.86 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v6i2.18579

Abstract

Latar Belakang: Sarapan adalah kegiatan mengkonsumsi makanan pada pagi hari yang menunjang 20-25% dari kebutuhan energi total dalam sehari.  Sarapan diketahui berkontribusi positif terhadap kualitas diet, perilaku, kognitif, dan performa akademik pada anak usia sekolah.  Saat ini, tingkat mutu gizi sarapan di Indonesia masih belum mencukupi kebutuhan dan tingkat ketersediaan biologis bagi tubuh.  Asupan zat gizi yang buruk pada anak usia sekolah akan mempengaruhi konsentrasi dan prestasi belajar karena adanya hambatan pada pertumbuhan otak dan tingkat kecerdasan.Tujuan: Menganalisis peran komposisi makronutrien dalam sarapan terhadap performa kognitif pada remajaMetode: Penelitian observasional analitik menggunakan metode belah lintang. Subjek penelitian adalah 83 siswa/siswi kelas X SMA Negeri 3 Semarang.  Data diperoleh melalui formulir Food Record 3x24 jam dan tes performa kognitif  yang terdiri dari Digit Symbol Test  dan Tes Kemampuan Ruang dan Bidang yang divalidasi oleh tim JAPSI dari Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat.  Analisis bivariat diuji dengan uji statistik chi-square. Hasil: Dari 83 subjek didapatkan mayoritas subjek penelitian tidak memiliki rerata asupan energi, karbohidrat, dan lemak yang adekuat dalam sarapan yang dikonsumsi (< 20% AKG Harian untuk masing-masing zat gizi).  Sebanyak 51 orang subjek (61.4%) memiliki rerata asupan protein yang adekuat dalam sarapan yang dikonsumsi.  Tidak didapatkan hubungan bermakna antara asupan energi (p=0,710), karbohidrat (p=0,948), protein (p=0,068), dan lemak (p=0,105) dalam sarapan terhadap performa kognitif.Kesimpulan: Tidak didapatkan hubungan bermakna antara asupan energi, karbohidrat, protein, dan lemak dalam sarapan terhadap performa kognitif.
PROFIL IMUNITAS TERHADAP VIRUS HEPATITIS B PADA TENAGA KESEHATAN DI RUMAH SAKIT NASIONAL DIPONEGORO SEMARANG Dea Bastiangga; Rebriarina Hapsari
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 8, No 4 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (404.396 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v8i4.25778

Abstract

Latar Belakang : Indonesia termasuk ke dalam negara dengan prevalensi Hepatitis B tinggi, sehingga tenaga kesehatan di Indonesia juga memiliki risiko tinggi terinfeksi virus Hepatitis B yang ditularkan melalui darah atau cairan tubuh. Akan tetapi, belum ada regulasi yang mewajibkan tenaga kesehatan di Indonesia untuk menjalani vaksinasi Hepatitis B sebelum memulai bekerja di tempat pelayanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran profil imunitas terhadap virus Hepatitis B yang meliputi riwayat vaksinasi dan status imunologi Hepatitis B pada tenaga kesehatan di Rumah Sakit Nasional Diponegoro (RSND) Semarang dan faktor-faktor yang mempengaruhi kadar anti-HBs pada tenaga kesehatan yang telah vaksin Hepatitis B. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional. Sampel adalah 80 tenaga kesehatan di RSND Semarang yang bersedia ikut dalam penelitian. Data pribadi dan riwayat vaksinasi dikumpulkan melalui kuesioner. Data status imunologi Hepatitis B meliputi titer HBsAg kualitatif yang diperiksa dengan rapidtest imunokromatografi dan titer anti-HBs kuantitatif yang diperiksa dengan ELISA. Hasil : Sebanyak 50 % tenaga kesehatan lengkap menjalani vaksinasi Hepatitis B, 32.5 % tidak lengkap vaksin dan 17.5 % tidak pernah vaksin Hepatitis B. Semua tenaga kesehatan memiliki titer HBsAg negatif. Sebanyak 51.2 % tenaga kesehatan memiliki titer anti-HBs >100mIU/mL, 18.8 % tenaga kesehatan memiliki titer anti-HBs 10-99mIU/m dan 30 % tenaga kesehatan memiliki titer anti-HBs < 10mIU/mL. Faktor usia, kelengkapan vaksinasi dan lama terakhir vaksin berpengaruh signifikan terhadap kadar anti-HBs pada tenaga kesehatan yang telah vaksin (p<0.05). Kesimpulan : Profil imunitas terhadap virus Hepatitis B pada tenaga kesehatan di RSND Semarang masih rendah yang ditandai dengan tingkat kelengkapan vaksinasi Hepatitis B dan proporsi tenaga kesehatan yang memiliki titer anti-HBs protektif yang masih rendah.Kata Kunci : Tenaga Kesehatan, vaksin Hepatitis B, anti-HBs

Page 36 of 104 | Total Record : 1040


Filter by Year

2016 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 15, No 1 (2026): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 6 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 5 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 4 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 3 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 2 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 1 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 6 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 5 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 4 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 3 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 2 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 1 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 6 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 5 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 4 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 3 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 2 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 1 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 6 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 5 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 4 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 3 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 2 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 1 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 6 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 5 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 4 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 3 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 2 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 1 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 9, No 6 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (Jurnal Kedokteran Diponegoro) Vol 9, No 4 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro ) Vol 9, No 3 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro ) Vol 9, No 2 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro ) Vol 9, No 1 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro ) Vol 8, No 4 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 8, No 3 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 8, No 2 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 8, No 1 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 7, No 4 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 7, No 2 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 7, No 1 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 4 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 3 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 1 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 3 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 2 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 1 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO More Issue