cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Diponegoro
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 25408844     DOI : -
Core Subject : Health,
JKD : JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO ( ISSN : 2540-8844 ) adalah jurnal yang berisi tentang artikel bidang kedokteran dan kesehatan karya civitas akademika dari Program Studi Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro Semarang dan peneliti dari luar yang membutuhkan publikasi . JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO terbit empat kali per tahun. JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO diterbitkan oleh Program Studi Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro Semarang.
Arjuna Subject : -
Articles 1,040 Documents
PENGARUH PEMBERIAN VITAMIN C TERHADAP KADAR GLUTATION (GSH) TIKUS SPRAGUE DAWLEY YANG TERPAPAR HEAT STRESS Prawara, Ananta Siddhi; Johan, Andrew; Jusup, Innawati
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 7, No 1 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (415.791 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v7i1.19339

Abstract

Latar Belakang: Heat stress adalah suatu keadaan dimana sistem termoregulator tidak dapat mengendalikan keseimbangan temperatur tubuh. Heat stres disebabkan oleh peningkatan suhu lingkungan dan pekerjaan yang berhubungan dengan suhu tinggi. Heat stress memiliki efek yang berbahaya bagi tubuh karena dapat menyebabkan peningkatan kadar dari reactive oxygen species (ROS). Salah satu antioksidan yang bertanggung jawab untuk mereduksi ROS adalah Glutation (GSH). GSH kadarnya akan menurun ketika tubuh terpapar heat stress. Vitamin C digolongkan sebagai antioksidan sistem pertahanan primer berdasarkan kemampuannya mendonorkan elektron untuk mencegah terjadinya oksidasi pada senyawa lain dengan bertindak sebagai agen pereduksi.Tujuan: Menganalisis pengaruh pemberian vitamin C untuk mencegah penurunan kadar GSH pada tikus Sprague Dawley yang terpapar heat stress.Metode: Penelitian ini true experimental randomized post-test only with control group design pada tikus yang dibagi ke dalam tiga kelompok yaitu satu kelompok kontrol negatif (K1) yang tidak diberikan induksi heat stress dan vitamin C, satu kelompok kontrol positif (K2) yang diberikan pemaparan heat stress 43oC selama 70 menit. Kelompok perlakuan (P) yang diberikan vitamin C dengan dosis 0,075 mg/g berat badan melalui sonde lambung 2 jam sebelum pemaparan heat stress 43oC selama 70 menit.Hasil: Kadar GSH kelompok kontrol negatif (K1) lebih tinggi 32,16% dibandingkan kadar GSH kelompok kontrol positif (K2) meskipun secara statistik tidak signifikan dengan p=0,525. Kadar GSH kelompok perlakuan (P) lebih tinggi 144,44% dibandingkan kadar GSH kelompok kontrol positif (K2) meskipun secara statistik tidak signifikan dengan p=0,134.Kesimpulan: Pemberian vitamin C dapat mencegah penurunan kadar GSH tikus Sprague Dawley yang terpapar heat stress.
PERBANDINGAN PEMBERIAN BRODIFAKUM DOSIS LD50 DAN LD100 TERHADAP RESIDU BRODIFAKUM PADA HEPAR TIKUS WISTAR Nugraha Adiyasa; Tuntas Dhanardhono; Sigid Kirana Lintang Bhima
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (275.164 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v5i4.15597

Abstract

Latar Belakang : Brodifakum adalah senyawa yang umumnya digunakan sebagai racun tikus. Namun, sering disalah gunakan pada kasus kriminal. Brodifakum akan di metabolisme tubuh melalui organ ekskresi diantaranya hepar. Paparan brodifakum dalam dosis yang berbeda akan menghasilkan kadar residu yang berbeda pula.Tujuan: Mengetahui perbandingan pemberian brodifakum dosis LD50 dan LD100 terhadap jumlah residu brodifakum pada hepar tikus wistar.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan menggunakan pendekatan post test only control group design. 27 sampel tikus wistar diberikan perlakuan pemberian brodifakum secara per oral. Residu brodifakum dideteksi menggunakan High Performance Liquid Chromatography. Dilakukan analisa deskriptif, uji non parametrik Mann-Whitney terhadap data. Hasil analisis dinyatakan bermakna bila nilai p<0,05.Hasil: Konsentrasi brodifakum pada hepar hewan coba meningkat berdasarkan jumlah brodifakum yang dimakan. Tikus mati pada hari ke-3 sebanyak 4, pada hari ke-5 sebanyak 7 dan pada hari terminasi sebanyak 16 tikus diterminasi. Kadar residu terendah didapatkan pada angka 0,00002 mg/kg dan tertinggi pada angka 0,00100 mg/kg. Uji Mann-Whitney didapatkan hasil perbandingan residu brodifakum pada hepar tikus pada dosis kontrol dan LD50 (p=0,001) dan pada kontrol dan LD100 (p=0,000). Antara jumlah residu brodifakum pada hepar tikus pada dosis LD50 dan LD100 (p=0,539).Simpulan: Tidak ada perbedaan bermakna antara jumlah residu brodifakum pada hepar tikus pada dosis LD50 dan LD100 (p=0,539).
GAMBARAN PENGGUNAAN PENGOBATAN TRADISIONAL, KOMPLEMENTER DAN ALTERNATIF PADA PASIEN KANKER YANG MENJALANI RADIOTERAPI Rizal Ryamizard; CH Nawangsih CH Nawangsih; Ani Margawati
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 7, No 2 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (456.711 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v7i2.21475

Abstract

Latar Belakang : Kanker merupakan penyebab kematian tertinggi kedua di dunia. Selain modalitas terapi konvensional, pasien kanker seringkali menggunakan pengobatan tradisoinal, komplementer dan alternatif (TCAM).Tujuan : Mengetahui proporsi serta gambaran penggunaan pengobatan tradisional, komplementer dan alternatif pada pasien kanker yang menjalani radioterapi.Metode : Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain belah-lintang. Sampel adalah 97 pasien kanker yang menjalani radioterapi di RSUP Dr. Kariadi Semarang yang diambil secara consecutive sampling. Data mengenai kondisi demografis dan penggunaan TCAM didapatkan dari pengisian kuesioner serta catatan medik pasien.Hasil : Sebanyak 54 dari 97 (55,67%) pasien kanker yang menjalani radioterapi di RSUP Dr. Kariadi Semarang menggunakan setidaknya satu jenis TCAM. Tidak terdapat kondisi demografis pasien yang berhubungan dengan penggunaan TCAM. Informasi mengenai TCAM yang digunakan pasien, paling banyak (40,74%) berasal dari teman pasien. Jenis TCAM yang paling sering digunakan adalah vitamin, mineral, minyak dan herbal (83,33%). Sebagian besar (62,96%) pasien pengguna TCAM tidak memberitahukan penggunaan TCAM kepada dokter. Sebagian besar (72,22%) pasien pengguna TCAM, memiliki anggota keluarga atau teman yang juga menggunakannya.Kesimpulan : Proporsi penggunaan TCAM pada pasien kanker yang
UBI JALAR UNGU GORENG ATAU KUKUS DOSIS BERTINGKAT TERHADAP GULA DARAH TIKUS WISTAR Matondang, Asri Rizqi; Tarigan, Clara Vica Rudangta; Sihombing, Maria Anna; Defie, Rhory; Siringoringo, Ester Theresia; Utomo, Astika Widy
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (425.752 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v6i2.18565

Abstract

Indonesia merupakan negara keempat yang memiliki jumlah penderita diabetes melitus (DM) terbanyak di dunia. Salah satu yang terpenting bagi penderita DM adalah pengendalian kadar glukosa darah. Ubi jalar ungu merupakan salah satu jenis umbi-umbian yang memiliki indeks glikemik yang lebih rendah sehingga tidak meningkatkan glukosa darah secara signifikan dan juga karena adanya antosianin yang memiliki manfaat untuk menurunkan kadar gula darah yang kadarnya dapat bergantung dari cara pengolahannya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian ubi jalar ungu yang dikukus dan digoreng terhadap kadar gula darah tikus wistar. Penelitian eksperimental dilakukan pada bulan April hingga Mei 2017 di Laboratorium Hewan Coba Fakultas Kedokteran Undip. Pemilihan sampel diperoleh secara random sampling. Sebelum diberi perlakuan terlebih dahulu tikus diinjeksi aloksan monohidrat lalu perlakuan diberikan selama empat minggu. Pengukuran gula darah dilakukan setiap akhir minggu. Analisis data menggunakan Post-hoc Mann-whitney dengan nilai signifikansi p<0,05. Didapatkan hasil yang signifikan di minggu ke-2, ke-3, dan ke-4 pada kelompok kukus 13,5 gram/kgBB dan juga di minggu ke-2 dan ke-3 pada kelompok goreng 6,75 gram/kgBB. Dengan demikian, pengolahan yang berbeda memberikan dosis optimal yang juga berbeda terhadap kadar gula darah tikus wistar.
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK DAUN SIRSAK TERHADAP DERAJAT HISTOPATOLOGI PADA TIKUS WISTAR KARSINOMA HEPATOSELULER YANG MENDAPAT TERAPI STANDAR SORAFENIB Nanda Putri Mardiana Sinaga; Neni Susilaningsih
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 8, No 4 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (352.319 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v8i4.25366

Abstract

Latar Belakang: Karsinoma hepatoseluler/ hepatocellular carcinoma (HCC) merupakan penyakit neoplasma ganas primer hepar tersering yang terdiri dari sel menyerupai hepatosit dengan derajat diferensiasi bervariasi. Pemberian sorafenib pada terapi HCC dikembangkan untuk melawan kinase onkogenik yang mampu memperpanjang kelangsungan hidup pasien HCC. Daun sirsak mengandung hingga 17 senyawa acetogenin yang memiliki efek sitotoksik yang dapat menekan pertumbuhan kanker dan juga memiliki efek hepatoprotektif. Induksi apoptosis oleh acetogenins dapat secara selektif terhadap sel kanker tertentu sehingga pemberian ekstrak daun sirsak  berpotensi memiliki efek kemoterapi pada karsinoma hepatoseluler tikus wistar yang diinduksi DEN. Tujuan: Membuktikan pengaruh pemberian ekstrak daun sirsak sebagai suplemen terapi standar sorafenib terhadap derajat histopatologi hepar tikus wistar karsinoma hepatoseluler. Metode: Penelitian experimental dengan desain post test only control group design pada tikus jantan. Sampel penelitian sebanyak 24 tikus dibagi 3 kelompok dengan perlakuan yang berbeda. Kelompok P1 diinduksi DEN dan diberikan terapi standar sorafenib serta ekstrak daun sirsak, Kelompok K1 diinduksi DEN dan diberikan terapi standar sorafenib tanpa esktrak daun sirsak, dan Kelompok KII diberikan hanya diinduksi DEN tanpa pemberian ekstrak daun sirsak dan tanpa sorafenib. Hasil: Uji beda Post Hoc berdasarkan kelompok perlakuan didapatkan bahwa antara perlakuan P1 terhadap KI didapatkan nilai P = 0,003, PI terhadap KII nilai P = <0,001 dan KI terhadap KII nilai P= <0,001, sehingga dapat disimpulkan antara kelompok PI terhadap K2 berbeda bermakna (P< 0,05), begitu juga antara kelompok PI terhadap KII terdapat perbedaan bermakna (P< 0,05), dan antara kelompok KI terhadap KII terdapat perbedaan bermakna (P< 0,05). Derajat histopatologi hepar kelompok PI lebih rendah dibanding kelompok KI dan KII dan derajat histopatologi hepar kelompok KI lebih rendah dibanding kelompok KII. Kesimpulan: Pemberian ekstrak daun sirsak berpengaruh terhadap derajat histopatologi pada tikus wistar karsinoma hepatoseluler yang mendapat terapi standar sorafenib.Kata Kunci: Ekstrak daun sirsak, derajat histopatologi, karsinoma hepatoseluler, sorafenib, Diethylamine
HUBUNGAN KEJADIAN EFUSI PLEURA PADA PASIEN GAGAL JANTUNG KONGESTIF BERDASARKAN FOTO THORAKS DI RSUP DR KARIADI TAHUN 2015 Andika Abdul Rahim Damanik; Sukma Imawati
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (389.892 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v5i4.14224

Abstract

Latar Belakang: Gagal jantung kongestif merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas di seluruh dunia. Risiko terjadinya gagal jantung kongestif juga semakin meningkat sepanjang waktu, dan dengan meningkatnya usia. Sementara efusi pleura merupakan suatu keadaan yang cukup sering dijumpai. Di Indonesia, kejadian efusi pleura paling banyak disebabkan oleh berbagai kasus infeksi. Sejauh ini belum terdapat penelitian yang meneliti hubungan antara gagal jantung kongestif dengan kejadian efusi pleura, sehingga dirasakan perlu bagi peneliti untuk melakukan penelitian ini.Tujuan: Mengetahui hubungan antara efusi pleura berdasarkan foto thoraks dengan pasien gagal jantung kongestif di RSUP Dr. Kariadi pada Januari - Desember 2015.Metode: Desain penelitian ini adalah penelitian deskriptif analitik dengan menggunakan rancangan cross sectional. Data yang dikumpulkan adalah data sekunder yang berupa catatan medik pasien ruang rawat inap RSUP Dr. Kariadi Semarang periode Januari - Desember 2015. Kemudian data yang diperoleh diedit, dikoding, ditabulasi, dan dimasukkan ke dalam computer lalu dihitung frekuensinya kemudian ditampilkan dalam tabel.Hasil: Hasil uji chi-square menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara gagal jantung kongestif berdasarkan foto thoraks dengan kejadian efusi pleura (p < 0,05)Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara gagal jantung kongestif berdasarkan foto thoraks dengan kejadian efusi pleura.
PERBEDAAN POTENSI ANTIBAKTERI BAWANG PUTIH TUNGGAL DENGAN BAWANG PUTIH MAJEMUK TERHADAP SALMONELLA TYPHI Adhuri, Iesha Kinanthi; Kristina, Tri Nur; Antari, Arlita Leniseptaria
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 7, No 2 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (356.209 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v7i2.20670

Abstract

Latar Belakang: Salmonella typhi, bakteri patogen yang dapat menimbulkan demam tifoid pada manusia, pernah menunjukkan resistensi terhadap antibiotika yang digunakan sebagai first line drugs seperti kloramfenikol, kortimoksazol, tetrasiklin, dan ampisilin.  Sehubungan dengan besarnya masalah resistensi obat, beberapa peneliti telah memilih untuk mengembangkan strategi alternatif. Salah satunya adalah pemanfaatan bawang putih yang mempunyai efek antimikroba. Sebagai obat, belakangan ini, masyarakat mempercayai bawang putih tunggal lebih berkhasiat daripada bawang putih majemuk.Tujuan: Membandingkan potensi anteribakteri bawang putih tunggal dan majemuk terhadap S. typhi.Metode: Metode penelitian ini adalah eksperimental laboratoris. Uji aktivitas antibakteri bawang putih tunggal dan majemuk dengan pelarut etanol 96% dan aquades dilakukan dengan metode difusi dan dilusi.Hasil: Dengan metode difusi, bawang putih tunggal dengan pelarut etanol 96% maupun aquades lebih unggul dibandingkan dengan bawang putih majemuk. Pada metode dilusi, dengan pelarut aquades, bawang putih tunggal juga lebih unggul dibandingkan dengan bawang putih majemuk.  Namun demikian, pada satu pengulangan metode dilusi dengan pelarut etanol 96%, bawang putih majemuk lebih unggul dibandingkan bawang putih tunggal.Simpulan: Bawang putih tunggal memiliki kecenderungan lebih unggul dibandingkan dengan bawang putih majemuk sebagai agen antibakteri terhadap S. typhi.
TINGKAT KECEMASAN PASIEN ODONTEKTOMI Rohedy Adlina Mizani Jodisaputra; Gunawan Wibisono; Natalia Dewi Wardani
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.613 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v5i4.15918

Abstract

Latar belakang: Banyak orang merasa cemas terhadap prosedur perawatan gigi. Rasa cemas saat perawatan gigi menempati urutan ke-5 dalam situasi yang dianggap menakutkan. Tingginya angka kejadian kecemasan dental di masyarakat mengakibatkan pasien mengalami kesehatan gigi dan mulut yang lebih buruk. Terapi musik merupakan salah satu metode non-farmakologis untuk menurunkan kecemasan pasien saat perawatan.Tujuan: Mengetahui pengaruh pemberian musik instrumental pop terhadap tingkat kecemasan pasien odontektomi.Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental klinis dengan non-randomized post test only control group design. Subjek penelitian berjumlah 32 orang merupakan pasien odontektomi berusia 18-50 tahun di Rumah Sakit Nasional Diponegoro dan klinik gigi jejaring lainnya. Subjek dibagi menjadi kelompok kontrol dan perlakuan. Penilaian tingkat kecemasan pasien menggunakan kuesioner Zung Self-Rating Anxiety Scale. Data hasil penelitian diuji menggunakan uji t tidak berpasangan untuk mengetahui perbedaan rerata skor kecemasan pada kelompok kontrol dan perlakuan.Hasil: Data hasil uji t tidak berpasangan menunjukkan adanya perbedaan bermakna skor kecemasan antara kelompok kontrol dan perlakuan dengan nilai p<0,001 (p<0,05).Kesimpulan: Pemberian musik instrumental pop berpengaruh secara signifikan dalam menurunkan tingkat kecemasan pada pasien odontektomi.
PERBEDAAN TINGKAT STRES DAN TINGKAT RESILIENSI NARAPIDANA YANG BARU MASUK DENGAN NARAPIDANA YANG AKAN SEGERA BEBAS (STUDI PADA NARAPIDANA DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN KLAS IIA WANITA SEMARANG) Diah Anggraini; Titis Hadiati; Widodo Sarjana
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 8, No 1 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (404.399 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v8i1.23308

Abstract

Latar Belakang : Narapidana adalah seseorang yang melakukan tindak kejahatan dan dijatuhi hukuman berupa hilangnya hak kemerdekaan sehingga harus menjalani keseharian di Lembaga Pemasyarakatan. Selama terpenjara, narapidana terisolasi dari dunia luar, terpisah dari orang-orang terdekat, kehilangan privasi, dan harus mentaati peraturan di Lapas yang dapat menyebabkan ketegangan psikologis yang mengarah kepada stres. Resiliensi merupakan kemampuan untuk beradaptasi pada keadaan yang menekan, kemampuan resiliensi dibutuhkan narapidana untuk menghadapi stressor sehingga narapidana baru masuk dapat beradaptsi dengan baik dan narapidana yang akan segera bebas memiliki kesiapan dan percaya diri untuk kembali lagi ke masyarakat. Tujuan : Mengetahui perbedaan tingkat stres dan tingkat resiliensi narapidana baru masuk dengan narapidana yang akan segera bebas. Metode : Penelitian observasional analitik dengan rancangan belah lintang yang dilaksanakan di Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Wanita Semarang. Subjek penelitian adalah 24 narapidana baru masuk dan 20 Narapidana segera bebas. Pengukuran tingkat stres diukur menggunakan kuesioner DASS 42, sedangkan tingkat Resiliensi diukur menggunakan kuesioner CD-RISC. Uji hipotesis dilakukan menggunakan uji Fisher Exact. Hasil : Pada penelitian didapatkan perbedaan yang tidak bermakna pada tingkat stres ( p = 1.00) dan tingkat resiliensi ( p = 0.16) antar kelompok penelitian.Kata Kunci : narapidana, tingkat stres, tingkat resiliensi
UJI BEDA SENSITIVITAS KUMAN NEISSERIA GONORRHOEAE TERHADAP LEVOFLOKSASIN DENGAN TIAMFENIKOL SECARA IN VITRO Budiono, Maria Diandra Christie; Muslimin, Muslimin; Hadi, Purnomo
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (460.558 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v6i2.18597

Abstract

Latar belakang: Gonore adalah salah satu infeksi menular seksual yang disebabkan kuman Neisseria gonorrhoeae. Terapi yang digunakan untuk gonore mengalami perubahan karena tingginya angka resistensi antibiotik. Penggunaan antibiotik yang sudah resisten dapat meningkatkan kegagalan terapi, maka dari itu uji sensitivitas antibiotik harus sering dilakukan terutama antibiotik yang menjadi standar terapi, yaitu  levofloksasin dan tiamfenikolTujuan: Menilai perbedaan sensitivitas kuman Neisseria gonorrhoeae terhadap levofloksasin dengan tiamfenikol secara in vitro Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancanganCross-sctional design. Sampel adalah biakan kuman Neisseria gonorrhoeae yang didapatkan dari hasil swab endoserviks penderita yang dikonfirmasi melalui pengecatan gram, tes oksidase, uji fermentasi, dan kultur pada media Thayer-Martin Agar. Biakan kuman kemudian diinokulasi pada media Mueller Hinton- Thayer Martin Agar lalu diletakan disk levofloksasin dan kertas saring tiamfenikol dan dilakukan pengukuran zona hambat yang terbentuk dengan penggaris. Masing-masing kelompok penelitian terdiri dari 14 sampel. Uji hipotesis menggunakan uji Chi-squareHasil: Sensitivitas kuman Neisseria gonorrhoeaea terhadap levofloksasin adalah 0% sedangkan terhadap tiamfenikol sensitivitasnya sebesar 71, 43%, dan terdapat perbedaan bermakna antara levofloksasin dengan tiamfenikol ( p <0.05)Simpulan: Terdapat perbedaan bermakna sensitivitas kuman Neisseria gonorrhoeae terhadap levofloksasin dengan tiamfenikol secara in vitro dan sensitivitas kuman Neisseria gonorrhoea terhadap tiamfenikol lebih sensitif daripada levofloksasin.

Page 32 of 104 | Total Record : 1040


Filter by Year

2016 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 15, No 1 (2026): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 6 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 5 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 4 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 3 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 2 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 1 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 6 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 5 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 4 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 3 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 2 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 1 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 6 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 5 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 4 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 3 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 2 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 1 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 6 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 5 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 4 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 3 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 2 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 1 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 6 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 5 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 4 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 3 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 2 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 1 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 9, No 6 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (Jurnal Kedokteran Diponegoro) Vol 9, No 4 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro ) Vol 9, No 3 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro ) Vol 9, No 2 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro ) Vol 9, No 1 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro ) Vol 8, No 4 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 8, No 3 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 8, No 2 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 8, No 1 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 7, No 4 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 7, No 2 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 7, No 1 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 4 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 3 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 1 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 3 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 2 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 1 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO More Issue