cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Diponegoro
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 25408844     DOI : -
Core Subject : Health,
JKD : JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO ( ISSN : 2540-8844 ) adalah jurnal yang berisi tentang artikel bidang kedokteran dan kesehatan karya civitas akademika dari Program Studi Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro Semarang dan peneliti dari luar yang membutuhkan publikasi . JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO terbit empat kali per tahun. JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO diterbitkan oleh Program Studi Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro Semarang.
Arjuna Subject : -
Articles 1,040 Documents
PENGARUH PEMBERIAN MERKURI PER ORAL TERHADAP GAMBARAN HISTOPATOLOGIS GINJAL TIKUS WISTAR Andre Wiguna; Hadi Hadi; Siti Amarwati
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (582.769 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v5i4.14236

Abstract

Latar Belakang : Merkuri merupakan logam berat yang sangat berbahaya, namun banyak digunakan dalam kehidupan manusia. Merkuri terdapat dalam bentuk elemental, inorganik, dan organik. Kasus keracunan merkuri sudah lama ditemukan. Paparan merkuri merusak banyak organ, termasuk ginjal. Ginjal, khususnya tubulus proksimal, merupakan tempat utama akumulasi merkuri klorida (jenis merkuri inorganik).Tujuan : Mengetahui pengaruh pemberian merkuri klorida per oral terhadap gambaran histopatologi ginjal tikus Wistar.Metode : Penelitian eksperimental post test only control group design selama 14 hari dengan sampel 27 ekor tikus Wistar jantan dibagi secara acak menjadi kelompok kontrol (tidak diberi merkuri klorida), perlakuan 10 mg/kgBB, dan perlakuan 20 mg/kgBB. Tiap kelompok terdiri dari 9 ekor tikus. Pada hari ke-15 dilakukan terminasi, ginjal diambil, preparat diproses, dicat dengan Hematoksilin-Eosin, dan diamati dengan perbesaran 400 kali. Dinilai derajat kerusakan tubulus proksimal: normal, ringan (dilatasi tubulus), sedang (degenerasi albuminosa), dan berat (nekrosis sel tubulus).Hasil : Normal, kerusakan ringan, kerusakan sedang, dan kerusakan berat berturut-turut: kontrol: 0, 33,3%, 66,7%, 0 ; perlakuan 10 mg/kgBB: 0, 0, 33,3%, 66,7% ; perlakuan 20 mg/kgBB: 0, 0, 0, 100%. Rerata derajat kerusakan histopatologi semakin meningkat dari kontrol sampai perlakuan 20 mg/kgBB. Analisis statistik dengan uji Kruskal-Wallis didapatkan perbedaan bermakna (p<0,001) dilanjutkan uji Mann-Whitney didapatkan perbedaan bermakna antara kontrol dengan perlakuan 10 mg/kgBB (p=0,002) dan kontrol dengan perlakuan 20 mg/kgBB (p<0,001). Perlakuan 10 mg/kgBB dengan perlakuan 20 mg/kgBB terdapat perbedaan yang tidak bermakna (p=0,065).Simpulan : Pemberian merkuri klorida per oral berpengaruh menyebabkan perubahan gambaran histopatologi ginjal tikus Wistar.
PENGARUH PEMBERIAN ASAP CAIR PADA BERBAGAI KONSENTRASI TERHADAP PERTUMBUHAN Enterococcus faecalis PENYEBAB GANGREN PULPA Ardiana Cahaya Imaniar; Indah Lestari Vidyahayati; Gunawan Wibisono; V. Rizke Ciptaningtyas
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 7, No 2 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (305.461 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v7i2.20671

Abstract

Latarbelakang: Gangren pulpa merupakan akibat lanjut karies gigi yang tidak dirawat dengan baik. Bakteri yang terlibat pada gangrene pulpa diantaranya adalah Enterococcus faecalis. Gangren pulpa memiliki kaitan yang erat dengan karies gigi, sehingga pengobatan awal gangren pulpa dilakukan dengan menghilangkan karies baik secara mekanik maupun kimia. Pada penelitian ini, Peneliti menggunakan asap cair sebagai bahan percobaan, kandungan fenol pada asap cair diharapkan efektif dalam menghambat maupun membunuh pertumbuhan bakteri Enterococcus faecalis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Kadar Hambat Minimum dan Kadar Bunuh Minimum asap cair terhadap pertumbuhan bakteri Enterococcus faecalis.Tujuan: Mengetahui pengaruh pemberian asap cair pada berbagai konsentrasi terhadap pertumbuhan Enterococcus faecalis penyebab gangren pulpa.Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan post test only control group design. Sampel penelitian ini adalah koloni Enterococcus faecalis dengan perlakuan sebanyak 6 konsentrasi asap cair (100%, 50%, 25%, 12,5%, 6,25% dan 0%) duplikasi dilakukan sebanyak 5 kali.Hasil: Uji Kruskal-Wallis menunjukkan bahwa nilai signifikansi p <0.005 kemudian dilanjutkan dengan uji Mann-Whitney yang menyatakan bahwa terdapat signifikansi pada kelompok P3(25%). Konsentrasi terendah yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri terdapat pada konsentrasi 25% dan konsentrasi terendah yang dapat membunuh bakteri terdapat pada konsentrasi 100%.Kesimpulan: Nilai Kadar Hambat Minimum asap cair terhadap pertumbuhan bakteri Enterococcus faecalis adalah pada konsentrasi 25% sementara nilai Kadar Bunuh Minimum terdapat pada konsentrasi 100%.
HUBUNGAN ANTARA TERJADINYA BAKTERIAL VAGINOSIS DENGAN PENGGUNAAN KONTRASEPSI HORMONAL Salsabella Indriana P.; Widyawati Widyawati; Desy Armalina
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (378.487 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v5i4.15941

Abstract

Latar belakang : Keputihan merupakan hal yang sering dialami oleh wanita usia subur di Indonesia. Keputihan dapat bersifat fisiologisa dan patologis. Keputihan patologis dapat disebabkan oleh banyak hal salah satunya bakterial vaginosis (BV). BV dapat disebabkan oleh beragam hal mulai dari penggunaan celana dalam yang terlalu ketat, kurang menjaga kebersihan daerah kemaluan, penggunaan kontrasepsi, dan sebagainya. Pada penelitian ini dilakukan analisa hubungan antara terjadinya bakterial vaginosis dengan penggunaan kontrasepsi hormonal.Metode : Penelitian ini adalah penelitian analitik korelatif dengan rancangan cross sectional dengan sampel 51 wanita pasien Puskesmas Mangkang usia 20-30tahun pengguna kontrasepsi hormonal. Data merupakan data primer dengan pemeriksaan sekret/duh vagina yang kemudian dicat dengan pengecatan gram dan dibaca di Laboratorium Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin RS Kariadi. Analisis secara analitik korelatif menggunakan rancangan chi-square, dengan derajat kemaknaan p<0,05.Hasil penelitian : Kontrasepsi hormonal yang paling sering digunakan adalah jenis suntik (66.7%) kemudian disusul jenis pil (25.5%) dan yang terakhir adalah jenis implan (7,8%). Dari data tersebut didaptkan hasil p= 0,972 yang berarti tidak ada hubungan antara terjadinya bakterial vaginosis dengan penggunaan kontrasepsi hormonal.Kesimpulan : Kontrasepsi hormonal yang paling sering digunakan adalah jenis suntik (66.7%). Tidak terdapat hubungan antara kejadian bakterial vaginosis dengan penggunaan kontrasepsi hormonal.
PENGARUH LATIHAN FLEKSI DAN EKSTENSI LUMBAL TERHADAP FLEKSIBILITAS LUMBAL PADA DEWASA MUDA Eirin Yovita Kurniawan; Tanti Ajoe Kesoema; Meita Hendrianingtyas
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 8, No 1 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.44 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v8i1.23314

Abstract

Latar Belakang: Kebiasaan duduk yang salah dan terlalu lama saat perkuliahan pada mahasiswa menyebabkan kekakuan punggung bawah yang mengakibatkan nyeri, untuk mencegahnya diperlukan program back exercises. Metoda back exercise yang sering digunakan adalah Williams’ flexion dan McKenzie exercises. Belum diketahui mana yang lebih efektif untuk meningkatkan fleksibilitas lumbal. Fleksibilitas lumbal dapat diukur dengan Modified modified schober test. Metode: Penelitian eksperimen pada 30 sampel yang dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama dengan intervensi Williams’ dan kelompok kedua dengan McKenzie. Pengukuran fleksibilitas secara manual sebelum dan sesudah intervensi menggunakan MMST. Analisis data dengan SPSS. Hasil: Rerata MMST fleksi antara sebelum dan sesudah perlakuan Williams’ dan McKenzie mengalami peningkatan. Rerata MMST ekstensi antara sebelum dan sesudah perlakuan Williams’ mengalami penurunan, sedangkan pada perlakuan McKenzie mengalami peningkatan. Terdapat perbedaan bermakna pada uji analisis MMST pada kedua perlakuan( Williams’ p=0,000; McKenzie p=0,000). Nilai rerata selisih MMST fleksi dan ekstensi pada perlakuan Williams’ dan McKenzie adalah 1,74 ± 1,18 dan -0,02 ± 1,31 serta 1,65 ± 0,78 dan 0,91 ± 1,46. Tidak terdapat perbedaan bermakna pada uji analisis selisih MMST fleksi dan ekstensi pada kedua perlakuan (p=0,823;dan p=0,051) Simpulan: Williams’ flexion exercises, dan McKenzie exercises dapat meningkatkan fleksibilitas lumbal tetapi tidak terdapat perbedaan yang signifikan dari kedua perlakuan tersebut.Kata Kunci : Latihan back exercise, Williams’ flexion, McKenzie extension, MMST
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK DAUN BELIMBING WULUH (AVERRHOA BILIMBI L.) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI STAPHYLOCOCCUS AURES SECARA IN VITRO Zaki Dewantoro; YL Aryoko Widodo S.; V. Rizke Ciptaningtyas
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (501.571 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v6i2.18598

Abstract

Latar Belakang  Staphylococcus aureus adalah bakteri yang sering menjadi penyebab dalam infeksi pada pioderma. Pengobatan infeksi S.aureus adalah dengan antibiotik kombinasi yang mempunyai kemampuan bakterisidal. Zat alamiah tertentu juga mempunyai kemampuan bakterisidal, salah satunya adalah daun belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L).Tujuan :  Mengetahui pengaruh pemberian ekstrak daun belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) terhadap bakteri Staphylococcus aureus secara in vitro.Metode : Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. Terdapat 9 beda perlakuan yaitu dengan memberi 6 konsentrasi ekstrak (5%, 20%, 35%, 50%, 65%, 80%), dan kelompok kontrol. Media Mueller Hinton yang sudah dilubangi menjadi sumur diteteskan ekstrak daun belimbing wuluh kemudian diinkubasikan selama 18-24 jam dalam suhu 35o. Kemudian hitung diameter hambat pada media.Hasil : Rata-rata perhitungan diameter hambat pada kontrol antibiotik (eritromisin) adalah 28,1 mm. Diameter hambat pada 6 kelompok perlakuan seluruhnya adalah 0 mmKesimpulan : Tidak ada pengaruh pemberian ekstrak daun belimbing wuluh ( Averrhoa bilimbi L.) dengan konsentrasi 5%, 20%, 35%, 50%,65%, 80% pada bakteri Staphylococcus aureus.
DIFFERENCES OF DEPRESSION LEVELS IN TEMPORAL LOBE EPILEPSY AND EXTRA TEMPORAL LOBE EPILEPSY PATIENTS : CASE STUDY IN POST EPILEPSY SURGERY PATIENTS Muhammad Rully Zen; Zainal Muttaqin; Yuriz Bakhtiar; Dimas Sindhu Wibisono
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 9, No 1 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro )
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (425.562 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v9i1.26574

Abstract

Introduction: Depression is a common condition in epilepsy patients, especially temporal lobe epilepsy both before and after epilepsy surgery. However, not many studies have examined the depression status of patients undergoing surgery outside the temporal lobe (extratemporal resection). Differences in levels of depression between temporal lobe epilepsy (TLE) and extra-TLE patients are also not well known, so the effect of surgery on mood disorders in this group of epilepsy patients needs to be further investigated. Aim: This study aims to study whether there are differences in depression rates for TLE  and extra-TLE patients in case studies of post-epileptic surgery patients. Method: The design of this study was cross sectional by conducting research on patients with temporal lobe epilepsy (n = 29) and extra temporal epilepsy patients (n = 24) from 1999 to 2019. The study was conducted at the Hospitals in Semarang. Researchers recorded depression levels using the Beck Depression Inventory - II (BDI-II) after the patient had surgery. The collected data will be analyzed using the parametric 2 independent samples t test. Results: 53 patients who were subject were 29 TLE patients (54.7%) and 24 Extra TLE patients (45.3%). TLE patients who had normal BDI-II results were 14 patients (48.3%), mild depression by 6 patients (20.7%), moderate depression by 8 patients (27.6%) and severe depression by 1 patient (3,4%) while the Extra TLE patients showed normal results of 11 patients (45.8%), mild depression of 8 patients (33.3%), moderate depression of 4 patients (16.7%) and severe depression of 1 patient ( 4.2%). 2 independent samples t test showed insignificant results, namely p = 0.831. Conclusion: There are differences of depression level between TLE and Extra TLE cannot be confirmed, because there are many factors such as the duration of epilepsy and seizure frequency that influence patients. Multifactorial explanation for the depression in patients with TLE and extra TLE must be investigated.Keywords: TLE (Temporal Lobe Epilepsy), extra-TLE, Depression
HUBUNGAN ANTARA DISLIPIDEMIA DENGAN STATUS PENYAKIT ARTERI PERIFER (PAP) PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 TERKONTROL SEDANG Eka Aryani; Heri-Nugroho Heri-Nugroho; Ani Margawati
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (389.733 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v5i4.14339

Abstract

Latar Belakang: Penyakit arteri perifer adalah gangguan suplai darah ke ekstremitas atas atau bawah karena obstruksi yang disebabkan aterosklerosis. Pasien PAP memiliki risiko yang lebih besar terhadap kematian akibat stroke, infark miokard dan serangan jantung. Diabetes melitus dan dislipidemia merupakan faktor risiko PAP yang sering ditemukan. Belum terdapat penelitian mengenai hubungan dislipidemia dengan status PAP pada pasien DM tipe II terkontrol sedang.Tujuan: Membuktikan hubungan antara dislipidemia dengan status PAP pada pasien DM tipe II terkontrol sedang.Metode: Penelitian ini menggunakan jenis penelitian analitik observasional dengan desain cross sectional yang menggunakan cara consecutive sampling. Diperoleh 30 subjek dengan DM tipe II terkontrol sedang, 21 subjek dislipidemia, 9 subjek tanpa dislipidemia dalam rentang usia 46-71 tahun. Penelitian ini menggunakan data primer dan sekunder. Status PAP ditentukan dengan pemeriksaan Ankle Brachial Index (ABI) menggunakan stetoskop saat istirahat dan post exercise jika diperlukan. Uji statistik dilakukan menggunakan uji Chi-Square, uji independent t test dan uji regresi logistik.Hasil: Didapatkan 12 subjek dengan PAP positif (40%). Uji chi-square menunjukkan terdapat hubungan bermakna antara status dislipidemia dengan status PAP pada pasien DM tipe II terkontrol sedang (p<0,025). Uji independent t test menunjukkan terdapat perbedaan antara kadar total cholesterol, LDL, HDL, dan trigliserid pada subjek dengan PAP positif dan negatif. Mayoritas subjek mengkonsumsi obat DM secara teratur dan beberapa subjek menderita hipertensi.Kesimpulan: Terdapat hubungan antara dislipidemia dengan status PAP pada pasien DMT2 terkontrol sedang.
PERBANDINGAN PLATELET LARGE CELL RATIO (P-LCR) PADA ANAK DENGAN DEMAM DENGUE DAN DEMAM BERDARAH DENGUE Anggie Lorenza; Nahwa Arkhaesi; Hardian Hardian
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 7, No 2 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (402.407 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v7i2.20743

Abstract

Latar Belakang Infeksi virus dengue merupakan penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh virus dengue yang memiliki empat serotipe. Salah satu gejala DD dan DBD ialah trombositopenia. Platelet Large Cell Ratio (P-LCR) merupakan salah satu penanda aktivasi trombosit yang berukuran lebih dari 12 fl yang akan meningkat ketika terjadi trombositopenia.Tujuan Membuktikan perbedaan antara nilai P-LCR pada anak dengan demam dengue dan demam berdarah dengueMetode Penelitian observasional analitik dengan cross-sectional. Sampel penelitian ini adalah pasien anak yang terkena DD dan DBD yang dirawat inap di RSUP Dr. Kariadi dan Rumah Sakit Nasional Diponegoro Semarang dengan total jumlah 49 sampel. Uji beda antara nilai P-LCR dengan DD dan DBD menggunakan uji t-tidak berpasangan. Uji regresi linier dilakukan untuk mengetahui pengaruh dominan terhadap nilai P-LCR.Hasil Rerata nilai P-LCR tertinggi didapatkan pada pasien DBD sebesar 42,05 ± 6,34 sedangkan pada nilai P-LCR pada DD hanya sebesar 31,51 ± 6,96. Terdapat perbedaan bermakna antara nilai P-LCR pada DBD dan DD dengan nilai p<0,001. Uji regresi linier menunjukan hanya kelompok DD dan DBD saja yang mempengaruhi terhadap nilai P-LCR dengan nilai p<0,001.Kesimpulan Rerata nilai P-LCR pada DBD lebih tinggi dibandingkan DD
HUBUNGAN KONSUMSI IKAN TERHADAP KEJADIAN STUNTING PADA ANAK USIA 2-5 TAHUN Annisa Nailis Fathia Rachim; Rina Pratiwi
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 6, No 1 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (403.16 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v6i1.16233

Abstract

Latar Belakang: Stunting merupakan kondisi kronis terganggunya pertumbuhan yang digambarkan pada z-score TB/U < -2SD. Prevalensi stunting di Indonesia cukup tinggi yaitu 37,2%. Salah satu penyebabnya adalah pemberian nutrisi yang tidak adekuat saat masa pertumbuhan. Diketahui dari penelitian bahwa mengkonsumsi ikan akan memberikan asupan protein dan mikronutrien untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan anak.Tujuan: Mengetahui hubungan konsumsi ikan (frekuensi dan jenis) terhadap kejadian stunting.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional jenis studi kasus kontrol. Jumlah subjek penelitian yaitu 106 anak usia 2-5 tahun yang mengkonsumsi ikan, yang terdiri dari 53 anak stunting pada kelompok kasus dan 53 anak normal pada kelompok kontrol. Penelitian ini dilakukan di Rowosari Semarang pada April-Juni 2016. Analisis statistik menggunakan uji Chi-square.Hasil: Dari penelitian ini, didapatkan hubungan bermakna pada konsumsi jenis ikan (p = 0,015; OR = 2,48) dan status ekonomi (p = 0,017; OR = 0,42) terhadap kejadian stunting pada anak usia 2-5 tahun. Sedangkan hubungan tidak bermakna didapatkan pada frekuensi konsumsi ikan (p = 0,302), tingkat pendidikan ibu (p = 0,109), dan riwayat pemberian ASI (p = 0,844) dengan kejadian stunting pada anak usia 2-5 tahunKesimpulan: Terdapat hubungan antara konsumsi jenis ikan dan status ekonomi terhadap kejadian stunting pada anak usia 2-5 tahun.
HPENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza) DOSIS BERTINGKAT TERHADAP GAMBARAN MIKROKROPIS GINJAL MENCIT BALB/C JANTAN YANG DIINDUKSI RIFAMPISIN Akhmad Ismail; RB Bambang Witjahjo
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 8, No 1 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (714.144 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v8i1.23395

Abstract

Latar Belakang: Rifampisin merupakan obat anti tuberkulosis yang memiliki efek nefrotoksik seperti penyakit acute tubulointerstitial nephritis dan tubular necrosis,. Hal tersebut karena terjadi stres oksidatif dan reaksi inflamasi pada ginjal. Temulawak mengandung kurkumin dan xanthorrhizol yang bermanfaat sebagai nefroprotektor, antioksidan, dan antiinflamasi. Temulawak berpotensi mencegah kerusakan ginjal yang disebabkan oleh rifampisin. Tujuan: Mengetahui pengaruh pemberian ekstrak temulawak (Curcuma xanthorrhiza) dosis bertingkat terhadap gambaran mikroskopis ginjal pada mencit balb/c jantan yang diinduksi rifampisin. Metode: Penelitian ini menggunakan Post Test Only Control Group Design. Sampel sebanyak 25 ekor mencit balb/c jantan yang memenuhi kriteria inklusi, diadaptasi selama 7 hari. Kelompok kontrol negatif (K(-)) yang hanya diberi pakan standar, kontrol positif (K(+)) diberi per oral rifampisin 7mg/20grBB/hari. Kelompok I diberi per oral rifampisin 7mg/20grBB/hari dan ekstrak temulawak 2mg/20grBB/hari. Kelompok II diberi per oral rifampisin 7mg/20grBB/hari dan ekstrak temulawak 4mg/20grBB/hari. Kelompok III diberi per oral 7mg/20grBB/hari dan ekstrak temulawak 8mg/20grBB/hari. Perlakuan diberikan selama 14 hari. Pada hari ke 15, mencit diterminasi, diambil organ ginjal, dan dilakukan pembuatan preparat histologi. Setiap preparat dibaca pada 5 lapangan pandang dan dinilai dengan menggunakan skor kerusakan ginjal oleh Poernomo (1987). Hasil: Rerata kerusakan sel ginjal tertinggi pada kelompok kontrol positif. Uji Kruskal Wallis menunjukkan perbedaan bermakna (p=0,000). Uji Mann Whitney menunjukkan perbedaan bermakna (p<0,05) antara K(+) dan K(-), serta K(+) dan I,II,III. Simpulan: Pemberian ekstrak temulawak (Curcuma xanthorrhiza) dosis bertingkat memperbaiki gambaran mikroskopis ginjal pada mencit balb/c jantan yang diinduksi rifampisin.Kata Kunci: ekstrak temulawak (Curcuma xanthorrhiza), sel ginjal, degenerasi hidropik, perdarahan, peradangan, nekrosis sel, rifampisin

Page 47 of 104 | Total Record : 1040


Filter by Year

2016 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 15, No 1 (2026): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 6 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 5 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 4 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 3 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 2 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 1 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 6 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 5 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 4 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 3 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 2 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 1 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 6 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 5 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 4 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 3 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 2 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 1 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 6 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 5 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 4 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 3 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 2 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 1 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 6 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 5 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 4 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 3 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 2 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 1 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 9, No 6 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (Jurnal Kedokteran Diponegoro) Vol 9, No 4 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro ) Vol 9, No 3 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro ) Vol 9, No 2 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro ) Vol 9, No 1 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro ) Vol 8, No 4 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 8, No 3 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 8, No 2 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 8, No 1 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 7, No 4 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 7, No 2 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 7, No 1 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 4 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 3 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 1 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 3 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 2 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 1 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO More Issue