cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Diponegoro
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 25408844     DOI : -
Core Subject : Health,
JKD : JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO ( ISSN : 2540-8844 ) adalah jurnal yang berisi tentang artikel bidang kedokteran dan kesehatan karya civitas akademika dari Program Studi Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro Semarang dan peneliti dari luar yang membutuhkan publikasi . JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO terbit empat kali per tahun. JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO diterbitkan oleh Program Studi Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro Semarang.
Arjuna Subject : -
Articles 1,040 Documents
ANALISIS EKSTRAK BUAH KIWI (ACTINIDIA DELICIOSA) PADA KADAR UREUM DAN KREATININ SERUM TIKUS WISTAR YANG DIINDUKSI PARASETAMOL Rizky Amalia; Amallia N. Setyawati; Dwi Ngestiningsih
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (379.194 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v6i2.18630

Abstract

Latar Belakang: Buah kiwi merupakan buah yang kaya akan antioksidan dan memiliki banyak khasiat untuk tubuh. Antioksidan dapat menetralisir radikal bebas yang dapat merusak sel. Parasetamol dapat menyebabkan kerusakan pada ginjal jika digunakan dengan dosis berlebih. Aktivitas antioksidan dari buah kiwi dapat mengurangi kerusakan ginjal akibat toksisitas parasetamol.Tujuan: Membuktikan pengaruh pemberian ekstrak buah kiwi (Actinidia deliciosa) terhadap kadar ureum dan kreatinin serum tikus wistar jantan yang diinduksi parasetamol.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik dengan pendekatan the post test-only control group design. Penelitian ini menggunakan lima kelompok, 1 kelompok kontrol negatif, 1 kelompok kontrol positif dan 3 kelompok perlakuan. Tiap kelompok terdiri dari 7 ekor tikus. Kelompok kontrol negatif mendapat pakan standar, kelompok kontrol positif mendapat pakan standar serta diinduksi parasetamol dan kelompok perlakuan mendapat pakan standar, ekstrak buah kiwi dosis berbeda untuk setiap kelompok perlakuan serta diinduksi parasetamol.Hasil: Rerata kadar ureum pada kelompok kontrol negatif adalah 37,65 ± 2,68 mg/dl sedangkan rerata kelompok kontrol positif adalah  35,03 ± 8,86 mg/dl. Rerata kadar kreatinin pada kelompok kontrol negatif adalah 0,40 ± 0,06 mg/dl sedangkan rerata kelompok kontrol positif adalah 0,45 ± 0,05 mg/dl. Ekstrak buah kiwi dapat menurunkan kadar ureum dan kreatinin tikus. Tidak ada perbedaan yang bermakna pada kadar ureum antar kelompok (p=0,187). Tidak ada perbedaan yang bermakna pada kadar kreatinin antar kelompok (p=0,091).Kesimpulan: Parasetamol tidak terbukti meningkatkan kadar ureum pada penelitian ini, namun parasetamol terbukti meningkatkan kadar kreatinin. Pemberian ekstrak buah kiwi tidak menurunkan kadar ureum dan kreatinin tikus secara signifikan.
PENGARUH PEMBERIAN ANALGESIK KOMBINASI PARASETAMOL DAN TRAMADOL TERHADAP KADAR UREUM SERUM TIKUS WISTAR Intan Ayuningtyas Hapsari; Taufik Eko Nugroho
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.549 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v5i4.14480

Abstract

Latar Belakang : Parasetamol dan tramadol merupakan kombinasi obat analgesik yang umum digunakan. Penggunaan bersamaan terbukti dapat memberikan efek analgesik dengan risiko efek samping lebih rendah. Namun, penggunaan parasetamol dan tramadol jangka waktu panjang dapat menyebabkan peningkatan risiko terjadinya disfungsi ginjal.Tujuan : Mengetahui pengaruh pemberian kombinasi parasetamol dan tramadol terhadap kadar ureum serum tikus wistar.Metode : Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan desain Post- Test Only Control Group Design. Sampel adalah 28 ekor tikus wistar jantan dengan kriteria tertentu, dibagi secara acak menjadi 4 kelompok. Kelompok I tidak diberi parasetamol dan tramadol (kontrol), Kelompok II diberi parasetamol dosis 9 mg, Kelompok III diberi tramadol 0,9 mg, dan Kelompok IV diberi kombinasi parasetamol dosis 9 mg dan tramadol dosis 0,9 mg. Pemberian dilakukan secara oral dengan sonde lambung 3 kali sehari selama 14 hari. Hari ke 15 tiap tikus dibius dan diambil darahnya melalui pembuluh darah retroorbita. Kadar urea kemudian akan diukur menggunakan metode standar. Data yang didapatkan di analisa menggunakan uji One-Way ANOVA dan uji Post-Hoc.Hasil : Tidak terdapat kenaikan nilai rerata kadar ureum dari kontrol terhadap perlakuan 1, 2 dan 3 yang signifikan. Pada uji One-Way ANOVA tidak didapatkan perbedaan yang signifikan (p=0,81) antara semua kelompok. Pada uji Post-Hock juga tidak didapatkan perbedaan yang signifikan pada kontrol terhadap perlakuan 1 (p=0,52), kontrol terhadap perlakuan 2 (p=0,36), kontrol terhadap perlakuan 3 (p=0,62), perlakuan 1 terhadap perlakuan 2 (p=0,77), perlakuan 1 terhadap perlakuan 3 (p=0,88), dan perlakuan 2 terhadap perlakuan 3 (p=0,66).Simpulan : Tidak terdapat perbedaan kenaikan kadar ureum serum yang bermakna antara pemberian kombinasi parasetamol dan tramadol dibandingkan dengan kelompok kontrol.
PERBEDAAN FLEKSIBILITAS TRUNCUS ATLET RENANG (RENANG GAYA BEBAS, RENANG GAYA DOLPHIN, RENANG GAYA DADA), BOLA VOLI DAN TAEKWONDO (STUDY PADA ATLET DI KLUB KOTA SEMARANG JAWA TENGAH) Isyania Fajriati; Muhammad Wajdi; Yuswo Supatmo
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 7, No 2 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (295.195 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v7i2.21194

Abstract

Latar belakang : Fleksibilitas sebagai aspek penting pada setiap aktifitas manusia, misal olahraga, terutama olahraga prestasi. Gerakan yang biasa dilakukan oleh atlet, seperti fleksi, ekstensi, rotasi maupun memberikan tekanan pada truncus dapat menyebabkan cidera truncus. Lebih dari 80% orang mengalami keluhan sakit punggung selama hidupnya, hal tersebut sering terjadi ketika melakukan olahraga kompetitif.Tujuan : Untuk mengidentifikasi perbedaan fleksibilitas truncus pada atlet renang (renang  gaya bebas, renang gaya dolphin, renang gaya dada), bola voli dan taekwondoMetode : Penelitian analitik observasional metode cross sectional sampel 90 dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu kelompok atlet renang, bola voli dan taekwondo. Penelitian dengan cara pengukuran panjang truncus atlet dengan cara passive extension dengan scoring hyperextensi truncus.Hasil : Terdapat perbedaan tidak bermakna dari fleksibilitas truncus kelompok atlet renang dengan bola voli (p=0,105). Terdapat perbedaan signifikan dari fleksibilitas truncus kelompok atlet renang dan taekwondo (p<0,001). Terdapatt perbedaan signifikan dari fleksibilitas truncus kelompok atlet bola voli dan taekwondo(p=0,010).Kesimpulan : Fleksibilitas truncus kelompok atlet renang lebih baik dari bola voli. Fleksibilitas truncus kelompok atlet renang lebih baik dari taekwondo. Fleksibilitas truncus kelompok atlet bola voli lebih baik dari taekwondo
KORELASI LUAS AREA WHARTON’S JELLY DENGAN LUARAN BERAT LAHIR BAYI PADA KEHAMILAN CUKUP BULAN Alem Pramudita Wibowo; Besari Adi Pramono
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (439.17 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v6i2.18534

Abstract

Latar Belakang   Berat lahir bayi merupakan salah satu indikator penting yang berkaitan dengan angka mortalitas dan morbiditas bayi. Berat  lahir bayi sangat bergantung dengan asupan nutrisi  dari tali pusat pada masa kehamilan. Wharton’s jelly adalah komponen penyusun terbesar dari tali pusat.Tujuan   Mengetahui korelasi luas area Wharton’s jelly dengan luaran berat lahir bayi pada kehamilan cukup bulan.Metode  Penelitian ini merupakan sebuah studi observasional analitik dengan rancangan belah lintang. Sampel penelitian adalah tali pusat dari bayi dengan kehamilan tunggal dan memiliki usia kehamilan cukup bulan. Data diambil dengan cara purposive sampling kemudian pembacaan dan pengukuran luas area Wharton’s jelly dilakukan secara mikroskopis. Uji statistik menggunakan uji Pearson.Hasil   Dari 35 data dan sampel talipusat yang terkumpul, 29 data dan sampel memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Rerata luas area Wharton’s jelly pada kehamilan cukup  bulan dengan berat lahir normal adalah 56,077 ± 19,537 mm2. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat korelasi yang signifikan secara statistik antara luas area Wharton’s jelly dengan luaran berat lahir bayi pada kehamilan cukup bulan (p=0,041).Kesimpulan   Terdapat korelasi antara luas area Wharton’s jelly dengan luaran berat lahir bayi pada kehamilan cukup bulan.
HUBUNGAN JUMLAH KONSUMSI ROKOK PER HARI PADA PEROKOK AKTIF DENGAN GANGGUAN PENGLIHATAN WARNA Mochammad Rizal Fatoni; Riski Prihatningtias; Arnila Novitasari Saubig
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 8, No 2 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (404.579 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v8i2.23890

Abstract

Latar Belakang : Buta warna adalah ketidakmampuan atau kurangnya seseorang untuk membedakan warna-warna. Salah satu penyebab buta warna yang didapat adalah neuropati optik toksik yang merusak saraf optikus oleh karena toksin. Rokok mengandung zat-zat kimia berbahaya yang menyebabkan kelainan mata, salah satunya gangguan penglihatan warna.  Tujuan : Mengetahui hubungan jumlah konsumsi rokok per hari pada perokok aktif terhadap gangguan penglihatan warna. Metode : Penelitian observasional analitik dengan pengambilan data secara cross-sectional. Subjek penelitian ini adalah 46 responden yang memenuhi kriteria inklusi. Semua data dikumpulkan menggunakan data primer berupa data hasil uji Farnsworth-Munsell 15 Hue Test. Analisis data yang digunakan adalah uji normalitas Saphiro-Wilk dan uji korelasi Spearman. Hasil : Berdasarkan dari 46 responden yang telah dilakukan pemeriksaan Farnsworth-Munsell 15 Hue Test, terdapat 44 responden dengan penglihatan warna baik dan 2 responden dengan penglihatan warna sedang. Dengan menggunakan uji normalitas Saphiro-Wilk didapatkan distribusi data tidak normal dengan nilai p=0,000 (p<0,05). Kemudian dilanjutkan uji korelasi Spearman sehingga didapatkan hasil hubungan tidak bermakna antara jumlah konsumsi rokok per hari pada perokok aktif dengan gangguan penglihatan warna dengan nilai p=0,747 (p>0,05). Kesimpulan : Tidak terdapat hubungan antara jumlah konsumsi rokok per hari pada perokok aktif dengan gangguan penglihatan warna sehingga kuat lemahnya hubungan tidak dapat diidentifikasi.Kata kunci : Buta warna, rokok, Farnsworth-Munsell 15 Hue Test
PENGARUH LATIHAN ZUMBA TERHADAP MASSA OTOT TUBUH PADA WANITA USIA MUDA Rina Prihatingrum; Tanjung Ayu Sumekar; Hardian Hardian
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 2 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.126 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v5i2.11601

Abstract

Background : Body weight consists of  water, fat degree, bone, and body muscle mass. Body muscle mass is total weight degree of human’s muscle. Recently, Zumba is an exercise  that is interested by women that is believed to build an ideal body weight.Purpose : To observe the effect  of Zumba exercise on body muscle mass in young females.Method: This study was an analytical observational research with cross sectional design. The subjects were young females aged 19-24 years (n=18) who took a routine Zumba exercise. Muscle mass was measured using Bioelectric Impedance Analysis (Glass Body Analyzer 835) weight scale. . Correlation between the period of Zumba exercise and  body muscle mass was analyzed using Spearman’s rho correlation test.Result: From the 18 subjects, we foundthat the muscle mass average of Zumba participants who took this exercise for ≥8 weeks was higher than the participants who tookthis exercise for <8 weeks. Muscle mass average in the subjects who experienced Zumba exercise for < 8 weeks was 38,9% , andthe average  in participants who experienced this exercise  for ≥ 8 weeks was  42,1%. In the Spearman’s rho correlation test there was a medium degree positive correlation between muscle mass and Zumba exercise (r=0,52; p=0,032).Conclusion : The study found the differences between the average of body muscle mass in subjects who experienced Zumba exercise for <8 weeks and ≥8 weeks. This study also showed a positive correlation with moderate degree between body muscle mass and Zumba exercise period. Zumba has influences in young women’s body muscle mass.
PERBANDINGAN PENGARUH LARI RUTIN DENGAN LARI RUTIN DITAMBAH LATIHAN OTOT INTI TERHADAP LINGKAR PINGGANG PADA MAHASISWI FAKULTAS KEDOKTERAN UNDIP Musdalifa Maftuhatul Janna Hae; Darmawati Ayu Indraswari
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.943 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v5i4.15496

Abstract

Latar belakang : Obesitas sentral, yang merupakan kumpulan lemak berlebih pada daerah abdomen, berkaitan erat dengan penyakit kardiovaskular. Menurut organisasi kesehatan dunia (WHO), obesitas adalah 1 dari 10 risiko kesehatan yang dapat dicegah. Lingkar pinggang dianggap sebagai metode antropometri yang berkorelasi dengan lemak viseral pada obesitas. Untuk mencegah obesitas diperlukan olahraga di antaranya adalah lari dan latihan otot inti. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan pengaruh lari rutin dan lari rutin ditambah latihan otot inti terhadap lingkar pinggang.Metode : Penelitian ini merupakan penelitianeksperimentaldengan rancangan two group pre and post-test design. Jumlah subjek 26 orang yang diperoleh dengan cara purposive sampling dan dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok 1 diberi perlakuan lari selama 30 menit dan kelompok 2 diberi perlakuan lari selama 30 menit ditambah latihan otot inti, selama 8 minggu. Uji normlitas yang digunakan adalah Shapiro wilk. Uji hipotesis yang digunakan adalah uji t berpasangan dan uji beda yang digunakan adalah ANOVA.Hasil bermakna jika p<0,05.Hasil : Pada kelompok 1 tidak didapatkan perbedaan yang bermakna sebelum dan sesudah diberi perlakuan (p=0,217). Sedangkan pada kelompok 2 didapatkan perbedaan yang bermakna sebelum dan sesudah diberi perlakuan (p=0,031). Tidak didapatkan perbedaan pengaruh yang signifikan antara kelompok 1 dan kelompok 2 (p=0,230).Kesimpulan : Pada penelitian ini tidak didapatkan perbedaan bermakna antara pengaruh lari rutin dengan lari rutin ditambah latihan otot inti terhadap lingkar pinggang.
HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL DENGAN TINGKAT KECEMASAN PADA IBU Silka Roudhatul Jannah; Donna Hermawati
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 7, No 2 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (420.183 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v7i2.21466

Abstract

Latar Belakang: Kecemasan adalah  perasaan khawatir yang menyebar, tidak menyenangkan, serta tidak jelas,. Dukungan sosial adalah keberadaan orang lain yang dapat diandalkan untuk dimintai bantuan, dorongan, dan penerimaan apabila individu mengalami kesulitan atau masalah. Semakin tinggi tingkat dukungan sosial maka akan sangat mempengaruhi kecemasan ibu dengan anak Autism Spectrum Disorder (ASD). Tingkat kecemasan diukur menggunakan Zung Self-rating Anxiety Scale. Tingkat dukungan sosial diukur menggunakan Multidimensional Scale of Perceived Social.Tujuan: Mengetahui hubungan antara dukungan sosial dengan tingkat kecemasan pada ibu dengan anak ASD.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan teknik cross-sectional. Subjek dari penelitian ini diambil dari ibu yang memiliki anak Autism Spectrum Disorder (ASD) yang bersekolah di SLB Negeri Semarang. Setelah itu diuji menggunakan uji korelasi Somer’d.Hasil: Sebanyak 44 subjek, 41 ibu (93,2%) yang mengalami kecemasan ringan, dan terdapat 3 ibu yang mengalami kecemasan sedang (6,8%). Tidak terdapat ibu yang mengalami kecemasan berat atau bahkan panik. Dari tingkat dukungan sosialnya, terdapat 11 ibu (25%) yang mendapatkan dukungan sosial sedang dan 33 ibu (75%) mendapatkan dukungan sosial tinggi, serta tidak didapatkan ibu dengan dukungan sosial rendah. Berdasarkan hasil analisis dengan uji Somers’d tidak didapatkan hubungan yang bermakna antara tingkat kecemasan dengan tingkat dukungan sosial dengan nilai p sebesar 0,083 (p>0,05)Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan antara tingkat kecemasan dengan tingkat dukungan sosial pada ibu yang memiliki anak Autism Spectrum Disorder (ASD) yang bersekolah di SLB Negeri Semarang.
PENGARUH PEMBERIAN ANALGESIK KOMBINASI PARASETAMOL DAN TRAMADOL TERHADAP KADAR SERUM GLUTAMAT OKSALOASETAT TRANSAMINASE TIKUS WISTAR Dana Tri Asmara; Taufik Eko Nugroho
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (363.185 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v6i2.18557

Abstract

Latar Belakang : Kombinasi analgesik parasetamol dan tramadol sering digunakan untuk menangani nyeri sedang hingga berat. Kombinasi tersebut memiliki efek sinergisme sehingga efektif dalam menangani nyeri. Penggunaan kombinasi parasetamol dan tramadol dapat menurunkan risiko kerusakan hepar.Tujuan : Mengetahui pengaruh pemberian kombinasi analgesik parasetamol dan tramadol terhadap kadar SGOT tikus wistar.Metode : Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan desain Post-Test Only Control Group Design. Sampel adalah 20 ekor tikus wistar jantan dengan kriteria tertentu, dibagi secara acak menjadi 4 kelompok. Kelompok I merupakan kelompok kontrol, Kelompok II diberi parasetamol dosis 9 mg, Kelompok III diberi tramadol 0,9 mg, dan Kelompok IV diberi kombinasi parasetamol dosis 9 mg dan tramadol dosis 0,9 mg. Pemberian dilakukan secara oral dengan sonde lambung 3 kali sehari selama 14 hari. Hari ke 15 tiap tikus dibius dan diambil darahnya melalui pembuluh darah retroorbita untuk diukur kadar SGOT nya. Data yang didapatkan di analisa menggunakan uji One-Way ANOVA dan uji Post-Hoc.Hasil : Pada uji One-Way ANOVA didapatkan perbedaan yang signifikan (p=0,02) antara semua kelompok. Pada uji Post-Hoc tidak didapatkan perbedaan yang signifikan pada kontrol terhadap perlakuan parasetamol  (p=0,980), kontrol terhadap perlakuan tramadol (p=0,910), kontrol terhadap perlakuan kombinasi (p=0,614), dan perlakuan tramadol terhadap perlakuan kombinasi (p=0,218).Namun, terdapat perbedaan yang signifikan pada perlakuan parasetamol terhadap perlakuan tramadol (p=0,003), dan perlakuan parasetamol terhadap perlakuan kombinasi (p=0,037).Simpulan : Tidak terdapat perbedaan kadar  SGOT yang bermakna antara pemberian kombinasi parasetamol dan tramadol dibandingkan dengan kelompok kontrol.
EFEKTIVITAS ASAP CAIR BERBAGAI KONSENTRASI SEBAGAI DISINFEKTAN ALAT KLINIK GIGI Denti Natalia Erlytasari; Gunawan Wibisono; Rebriarina Hapsari
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 8, No 4 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (310.984 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v8i4.25323

Abstract

Latar belakang: Proses disinfeksi alat klinik gigi yang terkontaminasi merupakan salah satu upaya memutus rantai penyebaran infeksi. Terdapat penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa beberapa mikroba tampak toleran terhadap alkohol sebagai disinfektan alat semi kritis. Asap cair memiliki potensi sebagai bahan alternatif alami yang berguna sebagai disinfektan karena mengandung senyawa fenol, karbonil, dan asam organik yang memiliki aktivitas antibakteri. Tujuan: Mengetahui efektivitas asap cair berbagai konsentrasi sebagai disinfektan alat klinik gigi dan membandingkannya dengan alkohol 70%. Metode: Pada penelitian eksperimental ini, kaca mulut direndam dalam air kumur responden yang memiliki kondisi rongga mulut yang sehat kemudian diberi perlakuan perendaman pada asap cair konsentrasi 6,25%, 12,5%, 25%, 50%, dan alkohol 70% sebagai kontrol positif serta aquadest steril sebagai kontrol negatif selama 30 menit. Kaca mulut direndam dalam NaCl 0,9% steril 10 ml kemudian diambil 10µl dan dihapuskan pada media Nutrient Agar. Perbedaan pertumbuhan mikroorganisme pada masing-masing perlakuan dan kontrol dianalisis menggunakan uji Kruskal-Wallis dilanjutkan dengan uji Mann-Whitney. Hasil: Terdapat perbedaan yang bermakna antar kelompok asap cair berbagai konsentrasi sebagai disinfektan alat klinik gigi ( p <0,001 ). Asap cair konsentrasi 12,5%, 25% dan 50% tidak memiliki perbedaan yang bermakna dengan alkohol 70%.  Jumlah koloni bakteri pada asap cair 6,25% lebih banyak dari alkohol 70% (p=0,005), tetapi lebih sedikit dari aquadest steril (p=0,008). Kesimpulan: Asap cair memiliki efektivitas yang sebanding dengan alkohol 70% sebagai disinfektan alat klinik gigi pada konsentrasi 12,5%.Kata kunci: Alat klinik gigi, Asap cair, Disinfektan, Efektivitas

Page 48 of 104 | Total Record : 1040


Filter by Year

2016 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 15, No 1 (2026): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 6 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 5 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 4 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 3 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 2 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 14, No 1 (2025): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 6 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 5 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 4 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 3 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 2 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 13, No 1 (2024): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 6 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 5 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 4 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 3 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 2 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 12, No 1 (2023): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 6 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 5 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 4 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 3 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 2 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 11, No 1 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 6 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 5 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 4 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 3 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 2 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 10, No 1 (2021): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO (DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL) Vol 9, No 6 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (Jurnal Kedokteran Diponegoro) Vol 9, No 4 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro ) Vol 9, No 3 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro ) Vol 9, No 2 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro ) Vol 9, No 1 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro ) Vol 8, No 4 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 8, No 3 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 8, No 2 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 8, No 1 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 7, No 4 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 7, No 2 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 7, No 1 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 4 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 3 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 1 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 3 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 2 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 1 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO More Issue