cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Nutrition College
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 23376236     EISSN : 2622884X     DOI : -
Core Subject : Health, Social,
Journal of Nutrition College (P-ISSN : 2337-6236; E-ISSN : 2622-884X) diterbitkan oleh Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro sebagai media publikasi artikel-artikel ilmiah dalam biang Ilmu Gizi dengan skala terbit 4 kali dalam setahun, yaitu pada Januari, April, Juli, dan Oktober.
Arjuna Subject : -
Articles 704 Documents
HUBUNGAN ASUPAN FOSFOR DENGAN KALSIUM URIN PADA WANITA DEWASA AWAL Prameswari, Nisrina; Fitranti, Deny Yudi
Journal of Nutrition College Vol 4, No 4 (2015): Oktober 2015
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (237.722 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v4i4.10157

Abstract

Background: Kalsium urin dapat digunakan sebagai diagnosis awal berkurangnya kepadatan tulang. Asupan fosfor yang berlebihan merupakan salah satu faktor yang dapat menyebabkan meningkatnya jumlah kalsium dalam urin. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan asupan fosfor dengan kalsium urin pada wanita dewasa awal.Method: Jenis penelitian adalah penelitian cross-sectional. Subjek penelitin adalah 46 mahasiswi berusia 18-24 tahun di Jurusan Peternakan Universitas Diponegoro. Asupan fosfor didapatkan melalui wawancara dengan metode food recall 24 jam yang dilakukan selama 4 hari berturut-turut. Kalsium urin diambil pada hari kelima. Jumlah kalsium urin dianalisa dengan menggunakan metode o-cresophatelin complexone. Uji statistik yang digunakan adalah uji Rank Spearman, dan Pearson. Result: Hasil penelitian menunjukan sebanyak 8,7% subjek memiliki asupan fosfor tinggi. Tidak ada subjek yang memiliki jumlah kalsium urin yang tinggi. Hasil penelitian menunjukkan asupan fosfor tidak berhubungan dengan jumlah kalsium urin (r = 0,107, p = 0,477).Conclusion: Tidak ada hubungan antara asupan fosfor dengan jumlah kalsium urin pada wanita dewasa awal (p>0,05)
HUBUNGAN ASUPAN ENERGI JAJANAN DENGAN PRESTASI BELAJAR REMAJA DI SMP PL DOMENICO SAVIO SEMARANG Febriani, Kartika; Margawati, Ani
Journal of Nutrition College Vol 2, No 4 (2013): Oktober 2013
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (215.641 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v2i4.3731

Abstract

Latar belakang: Masa remaja merupakan masa transisi dari anak menuju dewasa. Remaja mengalami perkembangan secara fisik dan psikologi. Perlu asupan energi yang optimal untuk menunjang perkembangan fisik dan psikologi remaja. Remaja mendapat asupan energi jajanan cukup tinggi. Asupan energi jajanan diduga berkaitan dengan prestasi belajar. Salah satu faktor yang berhubungan dengan prestasi belajar yang baik adalah asupan energi yang optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan asupan energi jajanan dengan prestasi belajar pada remaja di SMP PL Domenico Savio.Metode: Penelitian ini dilakukan di SMP PL Domenico Savio Semarang. Desain penelitian cross sectional dengan jumlah sampel 63 subjek. Pengambilan sampel penelitian menggunakan consecutive random sampling pada siswa kelas 7 dan 8 reguler. Data  asupan energi jajanan dan selain jajanan diambil menggunakan Food Recall 3x24 jam. Data prestasi belajar diambil dari rata- rata nilai rapor semester genap. Hubungan asupan energi jajanan dengan prestasi belajar dianalisis menggunakan uji Chi-square. Hubungan asupan energi jajanan, asupan energi selain jajanan, dan prestasi belajar dianalisis menggunakan uji regresi logistik.Hasil: Pada penelitian ini ditemukan 30 subjek (47,6%) asupan energi jajanan cukup dan 33 subjek (52,4%) asupan energi jajanan kurang. Subjek dengan asupan energi jajanan cukup dan prestasi belajar baik adalah 20 orang (55,6%), asupan energi jajanan kurang dan prestasi belajar baik adalah 16 orang (44,4%), asupan energi jajanan cukup dan prestasi belajar kurang  adalah 10 orang (37%), subjek yang asupan energi jajanan kurang dan prestasi belajar kurang adalah 17 orang (63%). Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara asupan energi jajanan dengan prestasi belajar (p=0,145). Terdapat hubungan yang bermakna antara asupan energi selain jajanan dan prestasi belajar (p=0,026). Asupan energi dari jajanan bukan merupakan variabel yang berhubungan kuat dengan prestasi belajar (p<0,05).Simpulan: Asupan energi jajanan bukan merupakan faktor yang berhubungan kuat dengan prestasi belajar, tetapi asupan energi selain jajanan berhubungan dengan prestasi belajar.
HUBUNGAN OBESITAS SENTRAL DENGAN SIKLUS MENSTRUASI DAN DYSMENORRHEA PRIMER PADA REMAJA Karina S, Else; Nuryanto, Nuryanto; Kusumastuti, Aryu Candra
Journal of Nutrition College Vol 6, No 4 (2017): Oktober
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (553.774 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v6i4.18669

Abstract

Background: Irregular menstrual cycle and primary Dysmenorrhea are menstrual disorder which woman can sustain. These can be occur because nutritional status especially obesity. Central obesity increase in adolescent which describe high body fat mass. High percentage of body fat mass in central obese patients can lead to hormonal dysfuntion and causing abnormal menstrual cycles and primary Dysmenorrhea. Objective: To analyze the association of central obesity with menstrual cycle and primary dysmenorrhea in adolescentsMethods : this study used Cross sectional design with 73 subject central obesity and 73 normal adolescent based on waist circumference. Anthropometric measurements include height, weight and waist circumference. Physical activity assessed by GPAQ physical activity questionnaire, family history Dysmenorrhea, menstrual cycle and primary Dysmenorrhea were assessed by questionnaire. Data were analyzed by Chi Square test.Results: There were 23 adolescents or 31.5% of central obesity group have abnormal menstrual cycle whereas in normal group there were 10 adolescent or 13.6% who have abnormal menstrual cycle. There was association between central obesity and menstrual cycle ( p = 0.018). There were 20 adolescents or 27.3% central obesity group have primary Dysmenorrhea whereas in normal group there were 15 adolescents or 20.5%. There was no significant association between central obesity and primary Dysmenorrhea ( p = 0.43).Conclusion : There was association between central obesity and menstrual cycle but there was not association between central obesity and menstrual cycle
INDEKS GLIKEMIK DAN BEBAN GLIKEMIK VEGETABLE LEATHER BROKOLI (Brassica oleracea var. ITALICA) DENGAN SUBSTITUSI INULIN Handayani, Liri; Ayustaningwarno, Fitriyono
Journal of Nutrition College Vol 3, No 4 (2014): Oktober 2014
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (530.476 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v3i4.6881

Abstract

Latar Belakang: Diabetes melitus tipe 2 erat kaitannya dengan pola hidup. Asupan tinggi lemak dan gula tetapi rendah serat dapat menyebabkan hiperglikemia. Dalam penatalaksanaannya, diperlukan kontrol gula darah untuk mencegah komplikasi. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan mengonsumsi makanan dengan indeks glikemik (IG) rendah, seperti brokoli dan inulin. Pengolahan brokoli menjadi vegetable leather diharapkan menghasilkan makanan rendah IG.Tujuan: Menganalisis nilai indeks glikemik dan beban glikemik (BG) vegetable leather brokoli yang disubstitusi dengan inulin. Metode: Merupakan penelitian dengan rancangan acak lengkap satu faktor yaitu substitusi sukrosa dengan inulin (0%, 25%, 50%, 75%, dan 100%) yang disubstitusikan pada vegetable leather untuk mengetahui pengaruhnya terhadap nilai indeks glikemik dan beban glikemik vegetable leather. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan uji One Way ANOVA dengan uji lanjut Tukey. Hasil: Indeks glikemik dari setiap variasi susbtitusi inulin (0%, 25%, 50%, 75%, dan 100%) adalah 50,09; 53,48; 30,00; 29,16; dan 23,42. Sedangkan beban glikemik dari setiap variasi adalah 10,36; 8,76; 5,39; 3,91; dan 3,67.Simpulan: Semua vegetable leather memiliki IG dan BG kategori rendah. Vegetable leather dengan substitusi inulin 100% memiliki indeks glikemik (23,42) dan beban glikemik (3,67) yang paling rendah.
PERBEDAAN KADAR SENG (ZN) RAMBUT BERDASARKAN DERAJAT STUNTING PADA ANAK USIA 6-9 TAHUN Rahmawati, Arindha; Wirawanni, Yekti
Journal of Nutrition College Vol 1, No 1 (2012): Oktober 2012
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (275.866 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v1i1.421

Abstract

Background: Stunting is a linear growth disorders are caused by chronic malnutrition especially zinc deficiency. Hair zinc concentrations can describe zinc status in the long term. The aim of this study is to investigate difference hair zinc concentrations based on degree of stunting in 6-9 years old children.Method: This cross sectional study was carried out on 57 school children aged 6-9 years. The subjects were chosen by stratified random sampling. Assessment degree of stunting are expressed by Height for Age Z-score (HAZ). Hair zinc concentrations was measured by Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS) methods, the hair zinc concentrations less than 70 ppm was considered as chronic zinc deficiency. Bivariate analysis was using Kruskal Wallis, Mann-Whitney and Rank Spearman.Results: The prevalence of nonstunting (-1≤HAZ<2 SD), mild stunting  (-2≤HAZ<-1 SD), moderate stunting (-3≤HAZ<-2 SD), and severe stunting (HAZ<-3SD) was 38,6%, 33,3%, 22,8%, and 5,3%, respectively. The median value hair zinc concentrations were 579,13 ppm. Out of 57 subjects, 26,3% had normal hair zinc concentrations, 73,7% had excess hair zinc concentrations, and no subject that experience of zinc deficiency. There is a significant difference on hair zinc concentrations based on degree of stunting (p=0,010) and positive correlation between hair zinc concentrations with Height for Age Z-score (HAZ) (r=0,303 ; p=0,022).Conclusion : There is a significant difference between hair zinc concentrations based on degree of stunting and significant correlation between hair zinc concentrations with Height for Age Z-score (HAZ). Hair zinc concentrations increased with increasing Height for Age Z-score (HAZ).Keywords : Degree of stunting, Height for Age Z-score (HAZ), Hair zinc concentrations, malnutrition, children 
KEJADIAN HIPERTENSI PADA REMAJA PUTRI STUNTED OBESITY DI PEDESAAN BANGSRI KABUPATEN JEPARA Rahman, Listhia Hardiati; Sulchan, Muhammad
Journal of Nutrition College Vol 5, No 3 (2016): Juli
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (488.4 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v5i3.16369

Abstract

Latar belakang: Stunting dengan indikator tinggi badan per umur memberikan indikasi masalah gizi yang sifatnya kronis. Stunting dapat meningkatkan risiko obesitas. Stunting juga dapat dihubungkan dengan hipertensi. Hal ini disebabkan  adanya ekspresi dan  aktifitas ACE (Angiotensin Converting Enzyme) yang tinggi pada anak-anak stunting yang berhubungan dengan tingkat tekanan darah dan status gizi. Tujuan penelitian adalah  untuk menganalisis perbedaan kejadian hipertensi. Metode: Skrining dilakukan pada 1002 remaja putri di SMP dan MTS Kecamatan Bangsri Kabupaten Jepara. Penelitian  yang dilakukan berupa observasional dengan desain case control . Pemilihan subjek penelitian menggunakan multistage random sampling. Dua kelompok penelitian yaitu kelompok  kasus /stunted obesity (n=11) dan kelompok kontrol / stunted non-obesity (n=11). Pengukuran berupa tinggi badan, berat badan, dan  lingkar pinggang. Pengukuran tekanan darah menggunakan sfigmo-manometer air raksa  sebanyak dua kali pengukuran. Analisis data menggunakan uji independent t-test.Hasil: Sebanyak 234 orang (23,35%) remaja putri  mengalami stunted. Pada kelompok kasus (stunted obesity) diketahui sebanyak masing-masing 2 orang (18,2%)  dalam kategori tingkat tekanan darah borderline sistolik dan diastolik.Simpulan: Pada kelompok kasus (stunted obesity) lebih berisiko untuk mengalami hipertensi borderline daripada kelompok kontrol (stunted non-obesity)
PENGARUH PEMBERIAN ESTER STANOL TERHADAP KADAR KOLESTEROL TOTAL PADA WANITA PENDERITA HIPERKOLESTEROLEMIA D, Galuh Pradnya; Mulyati, Tatik
Journal of Nutrition College Vol 3, No 1 (2014): Januari 2014
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.535 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v3i1.4517

Abstract

 *)Penulis Penanggungjawab Latar Belakang : Hiperkolesterolemia merupakan faktor risiko terjadinya penyakit jantung dan pembuluh darah. Ester stanol merupakan bentuk esterifikasi dari stanol, memiliki struktur kimia menyerupai kolesterol dan dapat menurunkan kadar kolesterol dengan cara berkompetisi dengan kolesterol untuk membentuk misel pada saat proses absorpsi.Metode : Jenis penelitian adalah true experimental dengan rancangan pre-post test control design. Subyek adalah 28 wanita dengan kadar kolesterol total ≥200 mg/dl, kelompok perlakuan mendapat 3.4 g/hari ester stanol dan kelompok kontrol mendapat plasebo. Intervensi dilakukan selama 14 hari. Metode CHOD-PAP digunakan untuk menganalisis kadar kolesterol total, darah diambil setelah subyek berpuasa selama 10 jam. Uji normalitas menggunakan Shapiro Wilk. Analisis statistik menggunakan uji dependent t-test, Wilcoxon, independent t-test dan Mann Whitney.Hasil : Pemberian susu rendah lemak ditambah ester stanol dengan dosis 3.4 g menurunkan kadar kolesterol total sebanyak 20.64 mg/dl atau 8.71%, sedangkan kelompok kontrol dengan pemberian susu rendah lemak menurunkan kadar kolesterol total sebanyak 16.92 mg/dl atau 7.06%. Secara statistik tidak terdapat perbedaan kadar kolesterol total (p=0.448) antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. Kesimpulan : Pemberian ester stanol 3.4 g per hari selama 14 hari dibandingkan dengan kelompok kontrol (susu rendah lemak tanpa ester stanol) tidak berbeda bermakna terhadap kadar kolesterol total.
Hubungan Asupan Vitamin C dan Tekanan Darah pada Perokok Aktif Usia Dewasa Awal Azalia, Fawnia; Probosari, Enny; Ardiaria, Martha
Journal of Nutrition College Vol 7, No 3 (2018): Juli
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (520.684 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v7i3.22272

Abstract

Latar Belakang: Hipertensi adalah kondisi yang berdampak pada berbagai komplikasi penyakit. Salah satu zat gizi yang berpengaruh terhadap tekanan darah adalah vitamin C. Vitamin C merupakan salah satu antioksidan yang dapat menyebabkan proses remodelling pada pembuluh darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan asupan vitamin C dan tekanan darah pada perokok aktif usia dewasa awal. Variabel perancu dalam penelitian ini diantaranya asupan vitamin E, natrium, dan kalsium. Metode: Penelitian observasional dengan rancangan cross-sectional dilakukan dengan pemilihan subjek menggunakan purposive sampling  yang melibatkan 51 perokok aktif berdasarkan kriteria inklusi. Data asupan diperoleh menggunakan SQ-FFQ. Tekanan darah diukur menggunakan tensimeter digital. Analisis hubungan asupan vitamin C dan tekanan darah dengan uji korelasi Rank-Spearman. Hasil: Penelitian ini menunjukkan median tekanan darah sistolik sebesar 122 mmHgdan rerata tekanan darah diastolik sebesar 80,45±10,15 mmHg. Median asupan vitamin C sebesar 76,4 mg. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara asupan vitamin C dan tekanan darah sistolik pada perokok aktif usia dewasa awal (p value = 0,91) dan tekanan darah diastolik (p value = 0,33).   Simpulan: Tidak terdapat hubungan asupan vitamin C dan tekanan darah pada perokok aktif usia dewasa awal. 
HUBUNGAN KONSUMSI KARBOHIDRAT SEDERHANA DAN CAIRAN TERHADAP KADAR ASAM URAT PADA REMAJA LAKI – LAKI Hapsari, Dea Mustika; Panunggal, Binar
Journal of Nutrition College Vol 4, No 1 (2015): Januari 2015
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.346 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v4i1.8620

Abstract

Latar Belakang: Meningkatnya risiko kesehatan seperti obesitas dan sindrom metabolik pada remaja, menjadi perhatian yang besar. Kadar asam urat dapat menjadi penanda risiko berbagai penyakit pada remaja. Selain asupan purin yang tinggi, konsumsi karbohidrat sederhana juga dapat mempengaruhi peningkatan kadar asam urat. Sementara, konsumsi cairan yang tinggi dapat menurunkan kadar asam urat. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan konsumsi karbohidrat sederhana dan cairan terhadap kadar asam urat pada remaja laki – laki.Metode: Penelitian obeservasional menggunakan desain cross sectional yang melibatkan 60 remaja laki – laki berusia 16 sampai 18 tahun di SMAN 2 Slawi. Data konsumsi karbohidrat sederhana diperoleh secara langsung menggunakan Food Frequency Questionnaire (FFQ) semi-quantitative dan data konsumsi cairan diperoleh menggunakan wawancara dengan dietary recall 3x24 jam. Kadar asam urat dalam darah diukur dengan metode enzimatik PAP uricase. Hasil yang diperoleh dianalisis menggunakan uji rank Spearman dan r Pearson Test. Hasil: Sebanyak 6,7% subjek memiliki kadar asam urat tinggi dan 93,3% subjek memiliki kadar asam urat dalam batasan normal dengan rerata 5,842±0,97 mg/dl. 18,3% subjek dengan konsumsi karbohidrat sederhana dalam kategori tinggi, yaitu lebih dari 67 gram per hari dan sebanyak 58,3% subjek memiliki konsumsi cairan yang baik (>90%). Hubungan yang bermakna antara konsumsi karbohidrat sederhana dengan kadar asam urat (r=0,291, p=0,024). Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara konsumsi cairan dengan kadar asam urat (r=0,052, p=0,696). Simpulan: Terdapat hubungan yang bermakna antara konsumsi karbohidrat sederhana dengan kadar asam urat, konsumsi cairan tidak berhubungan dengan kadar asam urat pada remaja laki – laki.
PERBEDAAN KARAKTERISTIK USIA, ASUPAN MAKANAN, AKTIVITAS FISIK, TINGKAT SOSIAL EKONOMI DAN PENGETAHUAN GIZI PADA WANITA DEWASA DENGAN KELEBIHAN BERAT BADAN ANTARA DI DESA DAN KOTA Saraswati, Indira; Dieny, Fillah Fithra
Journal of Nutrition College Vol 1, No 1 (2012): Oktober 2012
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (224.68 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v1i1.726

Abstract

Latar Belakang : Kejadian obesitas mengalami pergeseran tidak hanya terjadi di perkotaan (18,7%), namun juga di pedesaan (12%). Adanya pergeseran demografi menyebabkan perbedaan karakteristik penyebab terjadinya obesitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan karakteristik usia, asupan makanan, aktivitas fisik, tingkat sosial ekonomi dan pengetahuan gizi pada wanita dewasa dengan kelebihan berat badan antara di desa dan kota. Metode : Rancangan penelitian ini adalah cross-sectional dengan consecutive sampling. Jumlah sampel masing-masing kelompok 30 orang meliputi wanita dengan kelebihan berat badan dengan IMT >25,0 kg/m2. Data meliputi karakteristik subjek, asupan makanan, aktivitas fisik, tingkat sosial ekonomi dan pengetahuan gizi yang diperoleh dari kuesioner. Analisis data menggunakan Independent t-Test dan Mann Whitney. Hasil : Prevalensi obesitas di kota lebih tinggi daripada di desa. Wanita dengan kelebihan berat badan di desa dan kota sebagian besar berusia 30–40 tahun, namun proporsinya lebih tinggi di desa dibandingkan di kota. Rerata asupan energi, karbohidrat, protein dan lemak di kota lebih tinggi dibandingkan di desa. Sedangkan rerata asupan serat di desa lebih tinggi dibandingkan di kota. Aktivitas fisik di desa lebih tinggi dibandingkan di kota. Pendapatan, pendidikan dan pengetahuan gizi di kota lebih tinggi dibandingkan di desa. Kesimpulan : Kejadian obesitas di kota lebih tinggi daripada di desa. Ditemukan perbedaan karakteristik pada wanita dengan kelebihan berat badan antara di desa dan kota meliptui  usia, asupan energi, karbohidrat, protein, lemak, serat, aktivitas fisik, pendapatan, pendidikan dan pengetahuan gizi. Â