cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Nutrition College
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 23376236     EISSN : 2622884X     DOI : -
Core Subject : Health, Social,
Journal of Nutrition College (P-ISSN : 2337-6236; E-ISSN : 2622-884X) diterbitkan oleh Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro sebagai media publikasi artikel-artikel ilmiah dalam biang Ilmu Gizi dengan skala terbit 4 kali dalam setahun, yaitu pada Januari, April, Juli, dan Oktober.
Arjuna Subject : -
Articles 704 Documents
EFEK PEMBERIAN SEDUHAN KULIT BUAH NAGA MERAH (Hylocereus polyrhizus) TERHADAP KADAR MALONDIALDEHYDE (MDA) TIKUS SPRAGUE DAWLEY DISLIPIDEMIA Septiana, Wayan Chitra; Ardiaria, Martha
Journal of Nutrition College Vol 5, No 4 (2016): Oktober
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (494.67 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v5i4.16434

Abstract

Latar Belakang: Peningkatan asupan makanan tinggi lemak meningkatkan keadaan stres oksidatif, ditandai oleh senyawa radikal bebas seperti MDA. Stres oksidatif dapat dikendalikan dengan meningkatkan konsumsi antioksidan nonenzimatik. Kulit buah naga memiliki zat antioksidan nonenzimatik golongan flavonoid, total phenol dan aktivitas antioksidan yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan efek pemberian seduhan kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) terhadap kadar (MDA) tikus Sprague dawley dislipidemiaMetode: Jenis penelitian ini adalah true experimental dengan post-test only controlled group design. Subjek penelitian yaitu 30 ekor tikus Sprague dawley jantan dibagi menjadi 5 kelompok yaitu K-, K+, P1, P2 dan P3. Kelompok perlakuan 1, 2 dan 3 diberi diet tinggi lemak selama 7 hari, lalu diberi diet standar tikus serta seduhan kulit buah naga merah dengan dosis 200 mg/ml, 400 mg/ml dan 800 mg/ml selama 14 hari berikutnya. Pengukuran kadar malondialdehid hanya diukur 1 kali yakni setelah intervensi. Kadar malondialdehid plasma diperiksa dengan metode TBARS (Thiobarbituric Acid Reactive Substance). Data dianalisis dengan uji One Way Annova dan uji lanjut Post-hoc LSDHasil: Dosis 200 mg/ml (P1), 400 mg/ml (P2) dan 800 mg/ml (P3) seduhan kulit buah naga mampu menurunkan kadar MDA plasma tikus Sprague dawley dislipidemia (p<0,05). Rerata kadar MDA plasma setelah diberikan seduhan kulit buah naga ialah kelompok K- sebesar 1,2±0,09 nmol/ml, K+ sebesar 5,7±0,12 nmol/ml, P1 sebesar 3,3±0,17 nmol/ml, P2 sebesar 2,1±0,22 nmol/ml dan P3 sebesar 1,7±0,18 nmol/ml. Secara statistik terdapat perbedaan rerata kadar MDA plasma antar kelompok (p<0,05)Simpulan : Seduhan kulit buah naga dosis 200 mg/ml, 400 mg/ml dan 800 mg/ml mampu menurunkan kadar MDA plasma tikus Sprague dawley dislipidemia. Dosis 0,8 g/ml seduhan kulit buah naga lebih efektif menurunkan kadar MDA plasma. 
JENIS MP-ASI, FREKUENSI DAN WAKTU PERTAMA KALI PEMBERIAN MP-ASI SEBAGAI FAKTOR RISIKO KEJADIAN GIZI LEBIH PADA BAYI USIA 6-12 BULAN DI KOTA MAGELANG Nurastrini, Vania Retno; Kartini, Apoina
Journal of Nutrition College Vol 3, No 1 (2014): Januari 2014
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (258.222 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v3i1.4605

Abstract

Latar Belakang:. Prevalensi anak balita gizi lebih di Kota Magelang tahun 2012 berdasarkan data di Profil Kesehatan Kota sebesar 5,8%4. Pemberian makanan pendamping ASI yang diberikan pada bayi kurang dari 4 bulan dengan frekuensi yang tinggi dan jenis yang tidak sesuai umur akan menyebabkan kenaikan berat badan yang terlalu cepat sehingga mengarah ke gizi lebih.Metode: Penelitian ini dilakukan dengan rancangan  kasus kontrol pada 27 gizi lebih sebagai kelompok kasus dan 27 gizi normal sebagai kelompok kontrol dengan disertai matching umur, jenis kelamin, konsumsi susu formula dan tempat tinggal. Kriteria gizi lebih ditentukan berdasarkan indeks z-score BB/PB >2 SD menurut WHO child growth standart. Data umur, panjang badan, berat badan, jenis kelamin, konsumsi susu formula, jenis MP-ASI, frekuensi pemberian MP-ASI, dan waktu pemberian MP-ASI pertama kali pada bayi usia 6-12 bulan diperoleh melalui wawancara menggunakan kuesioner terstruktur. Analisis dilakukan dengan Pearson Chi-Square dan OR.Hasil: Pemberian MP-ASI yang tidak sesuai umur pada kelompok kasus sebesar 55,6%, sedangkan  pada kelompok kontrol sebesar 40,7%. Kelompok kasus yang mendapat MP-ASI lebih dari 3 kali sehari sebesar 96,3%, sedangkan pada kelompok kontrol sebesar 59,3% . Kelompok kasus yang mendapat MP-ASI sebelum usia 6 bulan sebesar 66,7%, sedangkan pada kelompok kontrol sebesar 29,6% . Penelitian ini menunjukkan, faktor risiko kejadian gizi lebih pada bayi 6-12 bulan adalah frekuensi pemberian MP-ASI (p=0,002:OR=17,9) dan waktu pertama kali pemberian MP-ASI (p=0,01:OR=4,8). Pemberian MP-ASI yang tidak sesuai umur bukan merupakan faktor risiko kejadian gizi lebih pada bayi usia 6-12 bulan (p=0,4:OR=0,55)Simpulan: Faktor risiko kejadian gizi lebih pada bayi usia 6-12 bulan di Kota Magelang adalah frekuensi pemberian MP-ASI dan waktu pertama kali pemberian MP-ASI
PERBEDAAN STATUS GIZI DAN KUALITAS ASUPAN MAKANAN PADA LANSIA YANG MENGIKUTI DAN TIDAK MENGIKUTI PROLANIS Astiti, Rosiana Dwi; Margawati, Ani; Rahadiyanti, Ayu; Tsani, A Fahmy Arif
Journal of Nutrition College Vol 8, No 3 (2019): Juli
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (438.554 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v8i3.25808

Abstract

Latar Belakang: Populasi lansia terus mengalami peningkatan. Peningkatan ini harus diikuti dengan perbaikan fasilitas kesehatan sehingga derajat kesehatan dan kualitas asupan makanan lansia meningkat. Salah satu strategi yang dilaksanakan pemerintah yaitu Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan status gizi dan kualitas asupan makanan pada lansia yang mengikuti dan tidak mengikuti prolanis.Metode: Penelitian ini merupakan studi cross sectional. Subjek merupakan lansia yang mengikuti dan tidak mengikuti prolanis. Data meliputi karakteristik subjek, tingkat pendapatan, status gizi berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT), kualitas asupan makanan menggunakan formulir Diet Quality Index-International (DQI-I), dan aktivitas fisik dengan metode International Physical Activity Questionnaire (IPAQ). Analisis data menggunakan uji independent t-test dan Mann-Whitney.Hasil: Rerata skor kualitas asupan makanan subjek yaitu 48,5±6,7 yang tergolong rendah. Rerata status gizi subjek yaitu 24,5±4,2 kg/m2. Kualitas asupan makanan subjek yang mengikuti prolanis (49,0±7,5) lebih tinggi dibandingkan subjek yang tidak mengikuti prolanis (47,6±6,1). Hasil uji beda menunjukkan terdapat perbedaan pada status gizi antara subjek yang mengikuti dan tidak mengikuti prolanis (p=0,029), tetapi tidak terdapat perbedaan pada kualitas asupan makanan (p=0,538).Simpulan: Ada perbedaan signifikan status gizi berdasarkan keikutsertaan prolanis (p=0,029). Tidak ada perbedaan signifikan kualitas asupan makanan berdasarkan keikutsertaan prolanis (p=0,538).
PENGARUH PEMBERIAN YOGHURT KACANG MERAH TERHADAP KADAR TRIGLISERIDA PADA WANITA DISLIPIDEMIA Pramesti, Angela Astrid; Kartasurya, Martha Irene
Journal of Nutrition College Vol 4, No 3 (2015): Juli 2015
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (313.626 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v4i3.10095

Abstract

Latar Belakang : Penyakit Kardiovaskuler (PKV) merupakan salah satu penyakit degeneratif yang cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Resistant starch (RS) yang tinggi pada kacang merah dapat menurunkan kadar trigliserida. Kacang merah yang diolah menjadi yoghurt memiliki aktivitas antioksidan berupa isoflavon yang lebih tinggi dibanding tanpa pengolahan sehingga mampu memperbaiki kadar trigliserida darah.Tujuan: Menganalisis pengaruh pemberian yoghurt kacang merah terhadap kadar trigliserida darah pada wanita dislipidemiaMetode : Jenis penelitian adalah true experimental. Subjek penelitian adalah 37 wanita dengan kadar trigliserida ≥100 mg/dL yang kemudian dibagi menjadi dua kelompok secara acak. Kelompok perlakuan diberi yoghurt kacang merah sebanyak 225 ml/hari dan kelompok kontrol diberi sirup rendah kalori. Intervensi dilakukan selama 15 hari. Kadar trigliserida diukur menggunakan metode CHOD-PAP. Asupan makanan sebelum dan selama intervensi diukur menggunakan metode food recall 3x24 jam dan dianalisis menggunakan program nutrisurvey. Aktivitas fisik dianalisis menggunakan IPAQ. Uji normalitas menggunakan Shapiro Wilk. Analisis statistik menggunakan uji Wilcoxon, independent t-test dan Mann Whitney.Hasil : Median kadar  trigliserida awal  dan akhir pada kelompok perlakuan yaitu 136±47,7 mg/dL dan 114±45,9 mg/dL. Median kadar trigliserida awal  dan akhir pada kelompok kontrol adalah  172±14,8 mg/dL dan 169±28,0 mg/dL. Penurunan kadar trigliserida pada kelompok perlakuan lebih banyak (p=0,006) yaitu sebesar 22 mg/dL  (13,1%) , sedangkan kelompok kontrol sebesar 3 mg/dL (1,7%). Kadar Trigliserida 35% subjek kelompok perlakuan menjadi normal setelah intervensi. Kesimpulan : Pemberian yoghurt kacang merah 225 ml/hari selama 15 hari menurunkan kadar Trigliserida wanita pre-menopause dengan dislipidemia.
PENGARUH PEMBERIAN JUS BIJI PEPAYA (CARICA PAPAYA LINN.) TERHADAP KADAR ASAM URAT TIKUS SPRAGUE DAWLEY DISLIPIDEMIA Arsyiyanti, Cut; Syauqy, Ahmad; Tjahjono, Kusmiyati
Journal of Nutrition College Vol 2, No 1 (2013): Januari 2013
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (221.265 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v2i1.2116

Abstract

Latar Belakang : Asam urat merupakan produk akhir metabolisme purin yang jika jumlahnya berlebih dapat memicu berbagai macam penyakit diantaranya gout. Biji pepaya mengandung zat fitokimia seperti flavonoid, saponin, dan tanin yang dapat menormalkan kadar profil lipid dan menurunkan kadar asam urat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jus biji pepaya terhadap kadar asam urat pada tikus dislipidemia. Metode: Jenis penelitian ini adalah true experimental dengan pre-post test randomized control group design terhadap 24 ekor tikus Sprague Dawley dislipidemia yang kemudian dibagi secara acak dalam 4 kelompok yaitu kelompok kontrol negatif yang hanya diberikan pakan standar, kontrol positif yang diberikan pakan standar dan tinggi lemak, serta dua kelompok perlakuan yang diberikan pakan standar, tinggi lemak dan jus biji pepaya dengan dosis 400 mg dan 800 mg selama 30 hari. Kadar Asam urat diperiksa dengan metode Spektrofotometri. Data di analisis dengan uji Paired t-test dan Anova serta uji LSD pada tingkat kepercayaan 95%. Hasil: Perubahan kadar asam urat kelompok kontrol negatif, k ontrol positif dan perlakuan 400 mg dan 800 mg secara berturut-turut adalah -11,21 (p=0,352), 18,91 (p=0,360), -30,43 (p=0,024), dan -16,67(p=0,127). Perubahan kadar asam urat antar kelompok dengan uji Anova menunjukkan signifikansi sebesar 0,017. dilanjutkan uji Post-Hoc antara kelompok kontrol negatif dengan kelompok perlakuan dosis 400 mg dan 800 mg menunjukkan signifikansi berturut-turut 0,003 dan 0,019. Simpulan: Pemberian jus biji pepaya selama 30 hari pada dosis 400 mg/ekor/hari efektif menurunkan kadar asam urat pada tikus dislipidemia.
Pengaruh pemberian kombinasi minyak rami dengan minyak wijen terhadap kadar kolesterol high density lipoprotein (HDL) pada tikus sprague dawley dislipidemia Meisyahputri, Bike; Ardiaria, Martha
Journal of Nutrition College Vol 6, No 1 (2017): Januari
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (681.012 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v6i1.16890

Abstract

Latar Belakang: Dislipidemia merupakan faktor risiko dari penyakit kardiovaskular (CVD) seperti penyakit jantung koroner (PJK) dan artherosklerosis. Dislipidemia adalah kelainan metabolisme lipid dalam darah. Salah satu kelainan komponen lipid yaitu menurunnya kadar kolesterol High Density Lipoprotein (HDL). Minyak rami dan minyak wijen yang mengandung asam linolenat, asam linoleat dan antioksidan yang berpotensi dalam meningkatkan kadar kolesterol HDL darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian kombinasi minyak rami dengan minyak wijen terhadap kadar kolesterol HDL pada tikus dislipdemia.Metode : Penelitian true experimental dengan pre-post test randomized control group design terhadap 24 ekor tikus Sprague dawley dislipidemia dibagi secara acak menjadi 4  kelompok yaitu kelompok kontrol diberikan pakan standar dan tinggi kolesterol dan tiga kelompok perlakuan diberikan pakan tinggi kolesterol dan kombinasi minyak rami dengan minyak wijen dosis 1 ml/200 gBB, 2 ml/200 gBB, 3 ml/200 gBB selama 14 hari. Kadar kolesterol HDL diperiksa dengan metode CHOD-PAP. Data dianalisis dengan uji Paired t-test dan Anova.Hasil : Terdapat perbedaan penurunan kolesterol HDL secara bermakna sebelum dan sesudah perlakuan pada kelompok kontrol sebesar 1,43% (p=0,003). Kelompok P1, P2, P3 mengalami peningkatan kolesterol HDL secara bermakna (p<0,05) berturut-turut yaitu sebesar 18,49% (p=0,000), 29,21% (p=0,000), dan 50,85% (p=0,000).Simpulan : Ketiga kelompok perlakuan dengan pemberian kombinasi minyak rami dengan minyak wijen selama 14 hari terbukti dapat meningkatkan kadar kolesterol HDL. Kelompok perlakuan  dosis 3 ml/200 gBB paling efektif meningkatkan kolesterol HDL pada tikus dislipidemia.
HUBUNGAN ASUPAN KAFEIN DENGAN KALSIUM URIN PADA LAKI-LAKI DEWASA AWAL Safitri, Eva Yulia; Fitranti, Deny Yudi
Journal of Nutrition College Vol 4, No 4 (2015): Oktober 2015
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.817 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v4i4.10147

Abstract

Latar Belakang: Hiperkalsiuria merupakan salah satu faktor risiko terjadinya osteoporosis. Gaya hidup konsumsi tinggi kafein dapat menjadi faktor pemicu tingginya pengeluran kalsium dalam urin. Kafein dapat meningkatkan kadar kalsium dalam urin melalui penurunan reabsorbsi kalsium di ginjal.Tujuan: Mengetahui hubungan asupan kafein dengan kalsium urin pada laki-laki dewasa awalMetode: Penelitian ini termasuk penelitian observasional dengan desain crossesctional. Sebanyak 46 laki-laki dewasa menjadi subjek dalam penelitian ini dan diperoleh melalui  consecutive sampling. Data riwayat asupan makanan diperoleh melalui wawancara menggunakan food recall 24 jam selama 4 hari yang meliputi asupan kafein, asupan protein, asupan fosfor, asupan kalsium dan asupan natrium. Kadar kalsium urin diukur dengan metode ortho-cresolphtalein complexone (OCPC) pada hari ke-5 setelah dilakukan wawancara food recall 24 jam. Analisis bivariat menggunakan uji Pearson Product Moment atau uji Rank Spearman. Hasil: Sebanyak 2,2% subjek memiliki kadar kalsium urin tinggi. Rata-rata asupan kafein subjek 95,74 ± 101,67. Menurut hasil analisis, asupan kafein tidak memiliki hubungan dengan kadar kalsium urin (p>0,05). Namun, asupan protein (r= 0,420) dan asupan fosfor (r=0,356) memiliki hubungan bermakna dengan kadar kalsium urin (p<0,05).Kesimpulan: Asupan kafein tidak berhubungan dengan kadar kalsium urin pada laki-laki dewasa awal
HUBUNGAN PEMBERIAN SUSU FORMULA DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BAYI USIA 0-6 BULAN Astari, Nuriza; Kusumastuti, Aryu Candra
Journal of Nutrition College Vol 2, No 4 (2013): Oktober 2013
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (267.059 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v2i4.3722

Abstract

Latar Belakang : Diare adalah suatu keadaan pengeluaran tinja yang tidak normal atau tidak seperti biasanya, dimana terjadi peningkatan volume, konsistensi lunak atau encer dan frekuensi lebih dari 3kali/hari dan pada neonates lebih dari 4 kali/hari. Angka kejadian dan kematian diare masih tinggi terutama pada bayi yang mendapat susu formula. Pemberian susu formula dengan botol yang tidak sesuai prosedur meningkatkan risiko diare karena kuman dan moniliasis mulut yang meningkat, sebagai akibat dari pengadaan air dan sterilisasi yang kurang baik.Tujuan : Mengetahui hubungan pemberian susu formula dengan kejadian diare pada bayi usia 0-6 bulan. Metode : Jenis Penelitian adalah analitik observasional dengan rancangan kasus kontrol dengan matching berdasarkan usia bayi. Pengambilan subjek secara purposive sampling. Kelompok kasus adalah 40 subjek yang mengalami diare sedangkan kontrol adalah 40 subjek yang tidak mengalami diare. Data dianalisis menggunakan uji statistic Chi Square.Hasil : Hasil penelitian menunjukkan sebesar 92,5% bayi pada kelompok kasus menderita diare dan diberi susu formula. Semua subjek mendapatkan jenis susu formula yang tepat. Analisis bivariat menunjukkan pemberian susu formula berhubungan dengan kejadian diare (p = 0.000; OR= 14,1; CI = 2,9-66,4), cara pemberian susu formula berhubungan dengan kejadian diare (p = 0.040; OR 4.1; CI = 1.21 - 8.84) .Simpulan : Terdapat hubungan bermakna antara pemberian susu formula dengan kejadian diare pada bayi usia 0-6 bulan dan cara pemberian susu formula dengan kejadian diare pada bayi usia 0-6 bulan.
Hubungan Asupan Niasin terhadap Kadar Glukosa Darah Puasa pada Wanita Prediabetes Usia 30-50 tahun di Kota Semarang Rachmayanti, Annisa Alifaradila; Murbawani, Etisa Adi; Wijayanti, Hartanti Sandi
Journal of Nutrition College Vol 6, No 3 (2017): Juli
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (649.437 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v6i3.16914

Abstract

Latar Belakang: Diabetes melitus merupakan salah satu faktor risiko penyakit jantung koroner atau stroke. Salah satu zat gizi yang berpengaruh terhadap kadar glukosa darah adalah niasin. Asupan niasin yang berlebih dapat menghambat penyerapan gluksosa oleh otot rangka dan merangsang glukoneogenesis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan asupan niasin dengan kadar glukosa darah puasa pada wanita usia 30-55 tahun. Variabel perancu dalam penelitian ini diantaranya asupan karbohidrat, serat, lemak, protein, dan nilai IMT. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan crossectional. Pemilihan responden menggunakan consecutive sampling yang melibatkan 46 wanita yang ditentukan berdasarkan kriteria inklusi. Data asupan diperoleh melalui Food Recall 2x24 Jam. Kadar glukosa darah puasa diuji dengan metode spektofotometri. Nilai IMT diperoleh melalui pengukuran antropometri. Uji Pearson digunakan untuk menganalisis hubungan asupan niasin dengan kadar glukosa darah puasa.Hasil: Median kadar glukosa darah puasa dari 46 subyek sebesar 104.50 mg/dL dengan rerata asupan niasin 23.70±7.22 mg. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara asupan niasin dengan kadar glukosa darah puasa (p =0,730). Seluruh variabel perancu juga tidak menunjukkan hubungan yang bermakna dengan glukosa darah puasa.Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara asupan niasin dengan kadar glukosa darah puasa.
HUBUNGAN KEBIASAAN SARAPAN DAN STATUS HIDRASI DENGAN KONSENTRASI BERFIKIR PADA REMAJA Lentini, Banun; Margawati, Ani
Journal of Nutrition College Vol 3, No 4 (2014): Oktober 2014
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (401.731 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v3i4.6862

Abstract

Latar Belakang : Masalah gizi pada remaja akan berdampak negatif pada tingkat kesehatan masyarakat. Masalah gizi tersebut antara lain anemia dan IMT kurang dari batas normal atau kurus. Prevalensi remaja dengan IMT kurus berkisar antara 30 % - 40 %. Keadaan status gizi remaja salah satunya dipengaruhi oleh pola konsumsi makan yaitu keterbatasan makanan atau membatasi sendiri makanannya karena faktor ingin langsing. Selain itu masalah gizi pada remaja adalah rendahnya kebiasaan sarapan. Remaja yang tidak terbiasa melakukan sarapan 79,2% mempunyai prestasi sekolah yang kurang. Tingginya angka remaja yang tidak terbiasa sarapan berpengaruh pada status hidrasi yang berkorelasi terhadap konsentrasi berfikir. Tujuan: Menganalisis hubungan antara kebiasaan sarapan dan status hidrasi dengan konsentrasi berfikir pada remaja.Metode:Penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Subjek pada penelitian ini adalah remaja perempuan. Jumlah subjek sebanyak  80  remaja dipilih menggunakan metode simple random sampling . Pengambilan data status hidrasi menggunakan indikator berat jenis urin. Data konsentrasi berfikir menggunakan  Digit Symbol Test dan Digit Span Test dari subtest WAIS ( Weschler Adult intelegence Scale) yang dilakukan oleh lembaga psikologi terapan yang tersertifikasi. Data kebiasaan sarapan dikumpulkan berdasarkan wawancara dengan kuesioner.Hasil : Sebanyak 52,5 % siswa terbiasa melakukan sarapan dan  47, 5 % subjek tidak terbiasa melakukan sarapan. Dari hasil analisis berat jenis urin didapatkan sebanyak 70 % subjek mengalami dehidrasi dan 30 % tidak dehidrasi (normal). Berdasarkan hasil test konsentrasi tersebut didapat 48,25 % subjek memiliki kemampuan konsentrasi rendah dan 51,75 % memiliki kemampuan konsentrasi tinggi. Terdapat hubungan yang signifikan antara kebiasaan sarapan dan konsentrasi berfikir (p=0,00).  Tidak terdapat hubungan antara status hidrasi dengan konsentrasi berfikir (p=0,35)Kesimpulan :Terdapat hubungan antara kebiasaan sarapan dengan konsentrasi berfikir . Tidak terdapat hubungan antara status hidrasi dengan konsentrasi berfikir.