cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Nutrition College
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 23376236     EISSN : 2622884X     DOI : -
Core Subject : Health, Social,
Journal of Nutrition College (P-ISSN : 2337-6236; E-ISSN : 2622-884X) diterbitkan oleh Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro sebagai media publikasi artikel-artikel ilmiah dalam biang Ilmu Gizi dengan skala terbit 4 kali dalam setahun, yaitu pada Januari, April, Juli, dan Oktober.
Arjuna Subject : -
Articles 704 Documents
PENGARUH PEMBERIAN BUBUK CENGKIH (Syzigium aromaticum) TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH PUASA DAN 2 JAM POSTPRANDIAL PADA WANITA PREDIABETES Husna, Adisty Nurul; Murbawani, Etisa Adi
Journal of Nutrition College Vol 5, No 3 (2016): Juli
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (416.379 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v5i3.16388

Abstract

Latar Belakang: Prediabetes merupakan kondisi transisi antara kadar glukosa darah normal dan diabetes. Kondisi tersebut dikaitkan dengan gaya hidup yang tidak sehat seperti kurang berolahraga, kelebihan asupan energi, karbohidrat, lemak, kurang asupan serat  serta antioksidan. Cengkih merupakan bumbu yang kaya akan antioksidan yang diketahui memiliki berbagai bahan aktif yaitu eugenol, trans-cariofilen, alfa humulene, dan triterpenoid yang dapat menurunkan kadar glukosa darah dan mencegah diabetes.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh bubuk cengkih terhadap kadar glukosa darah puasa (GDP) dan 2 jam postprandial (GD2JPP) sehingga dapat digunakan sebagai pencegahan Diabetes mellitus tipe 2.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian true experiment dengan pre-post test group design. Penelitian ini dilakukan di wilayah Tlogosari, Kota Semarang. Metode samping menggunakan consecutive sampling sehingga diperoleh 47 sampel yang terbagi dalam tiga kelompok, dengan dosis bubuk cengkih 1, 2, 3 gram/ hari selama 2 minggu. Asupan energi dan aktivitas fisik diperoleh dengan recall 3x24 jam dan kuesioner aktivitas fisik. Pengujian secara statistik dilakukan dengan uji Wilcoxon, paired t-test, Kruskall-Wallis, dan regresi linear.Hasil: Terdapat penurunan kadar glukosa darah dengan dosis 1, 2, 3 gram/hari yaitu 0,52 + 24,4; 2,46 + 18,7; dan 13,3 + 16,3 mg/dl pada GDP dan 31,7+14,7; 38,32+27,2; 31,11+32,5 mg/dl pada parameter GD2JPP. Kemudian, terdapat perbedaan yang signifikan (p=0,001) antarkelompok pada kadar GDP. Tingkat kecukupan serat merupakan variabel yang mempengaruhi kadar GDP sedangkan kadar GD2JPP dipengaruhi oleh asupan serat, energi, dan lemak.Simpulan: Bubuk cengkih dapat menurunkan kadar GDP dan GD2JPP serta dapat digunakan sebagai alternatif untuk mencegah Diabetes melitus tipe 2.
STATUS GIZI, PENYAKIT KRONIS, DAN KONSUMSI OBAT TERHADAP KUALITAS HIDUP DIMENSI KESEHATAN FISIK LANSIA Sari, Novita Kurnia; Pramono, Adriyan
Journal of Nutrition College Vol 3, No 1 (2014): Januari 2014
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.264 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v3i1.4535

Abstract

Latar Belakang : Persentase penduduk lanjut usia di Indonesia mengalami peningkatan yang signifikan selama 30 tahun terakhir. Peningkatan kuantitas lansia tersebut seharusnya diimbangi dengan peningkatan kualitas hidup lansia. Kualitas hidup khususnya dimensi kesehatan fisik diduga dipengaruhi oleh status gizi. Kejadian penyakit kronis dan konsumsi obat-obatan juga diketahui menurunkan kualitas hidup dimensi kesehatan fisik. Tujuan : Mengetahui hubungan status gizi, kejadian penyakit kronis dan konsumsi obat-obatan dengan kualitas hidup dimensi kesehatan fisik pada lanjut usia.Metode : Penelitian ini menggunakan rancangan cross sectional. Populasi adalah lansia di Kecamatan Cilacap Utara. Subjek adalah 58 orang lansia berumur 65-75 tahun yang mampu berkomunikasi dengan baik dan aktif datang ke posyandu. Subjek dipilih secara consecutive sampling. Kualitas hidup dimensi kesehatan fisik diperoleh dengan wawancara menggunakan kuesioner WHOQoL-BREF. Penentuan status gizi menggunakan IMT. Tinggi badan yang digunakan adalah tinggi badan prediksi yang diperoleh dari konversi panjang rentang tangan.Hasil : Sebanyak 17,2% lansia mengalami gizi kurang, 46,6% gizi normal, dan 36,2% gizi lebih. Sebanyak 87,9% subjek memiliki kualitas hidup dimensi kesehatan fisik baik. Kejadian penyakit kronis (r= -0,449; p=0,000) dan konsumsi obat-obatan (r= -0,299; p=0,023) berhubungan dengan kualitas hidup dimensi kesehatan fisik tetapi status gizi tidak (r=0,090; p=0,501).Simpulan : Penyakit kronis dan konsumsi obat-obatan menurunkan kualitas hidup dimensi kesehatan fisik pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Cilacap Utara I.
Pengaruh Faktor Jenis Kelamin dan Status Gizi terhadap Satiety pada Diet Tinggi Lemak Tsani, A.Fahmy Arif; Irawati, Lia; Dieny, Fillah Fithra
Journal of Nutrition College Vol 7, No 4 (2018): Oktober
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (569.982 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v7i4.22281

Abstract

Latar belakang: Obesitas menjadi salah satu permasalahan di berbagai satiety, gender differences negara termasuk Indonesia. Prevalensi obesitas terus meningkat setiap tahunnya serta dapat menjadi sinyal munculnya penyakit-penyakit non infeksi. Faktor diet yaitu pemilihan jenis makanan yang kurang sesuai dengan prinsip gizi seimbang dapat menjadi penyebab obesitas. Komponen makronutrien berbeda dapat menghasilkan efek yang berbeda terhadap satiety.Sehingga, strategi pemilihan makanan dengan zat gizi yang tepat dapat mengurangi resiko obesitas.Selain itu, faktor lain seperti jenis kelamin dan status gizi mungkin juga dapat mempengaruhi tingkat satiety.Tujuan: Mengetahui pengaruh faktor jenis kelamin dan status gizi terhadap satiety pada intervensi diet tinggi lemak.Metode:Desain penelitian eksperimental dengan rancangan pre-postgroup yang membandingkan efek satiety pada 3 jenis diet isokalori: tinggi lemak SFA (minyak kelapa sawit), tinggi lemak MUFA (minyak kanola), dan tinggi lemak PUFA (minyak kacang kedelai).Subjek penelitian 23 orang berusia 18 tahun keatas yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi di Daerah Istimewa Yogyakarta. Komponen satiety diukur dengan menggunakan kuesioner VAS (Visual Analogue Scale). Status gizi ditentukan dengan menggunakan indeks IMT Asia Pasifik.Hasil:Terdapat perbedaan tingkat satiety antara subjek perempuan dan laki-laki. Penurunan tingkat hunger (p=0,016) danPFC (p=0,024) pada subjek perempuan lebih tinggi dibandingkan pada subjek laki-laki. Peningkatan nilai fullness pada subjek perempuan lebih besar dibandingkan pada laki-laki (p<0,001). Sementara tingkat satiety pada kelompok berat badan normal dan kelompok obesitas serupa.Simpulan:Tingkat satiety pada intervensi diet tinggi lemak dipengaruhi olehperbedaan jenis kelamin, sedangkan pengaruh status gizi tidak terlihat.
PENGARUH PEMBERIAN JUS TOMAT ( LYCOPERSICUM COMMUNE ) TERHADAP TEKANAN DARAH SISTOLE DAN DIASTOLE LAKI – LAKI HIPERTENSIF USIA 40 – 45 TAHUN Paramita R, Sukma; Puruhita, Niken
Journal of Nutrition College Vol 4, No 2 (2015): April 2015
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (611.624 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v4i2.10053

Abstract

Latar Belakang : Hipertensi adalah suatu keadaan sesorang mengalami peningkatan tekanan darah diatas normal yang mengakibatkan peningkatan angka kesakitan (morbiditas) dan angka kematian (mortalitas). Buah tomat (Lycopersicum commune) mengandung kalium yang mempunyai efek menurunkan tekanan darah.Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh pemberian jus buah tomat (Lycopersium commune ) terhadap tekanan darah sistolik dan diastolik pria hipertensif usia 40-45 tahunMetode: Jenis penelitian ini menggunakan desain penelitian eksperimen dengan rancangan pre-post control design. Jumlah subyek  34 orang dengan tekanan darah sistolik mempunyai tekanan darah sistolik  > 120-139 mmHg dan tekanan darah diastolik > 90-119 mmHg dan meminum obat antihipertensi. Jus tomat sebanyak 200 ml diberikan 1 kali sehari selama 14 hari terbuat dari 150 gram buah tomat, 2,5g gula diet dan 100 ml air.Hasil:Pemberian jus tomat 200ml  1x sehari selama 14 hari secara klinis tidak menunjukkan penurunan yang signifikan terhadap tekanan darah sistolik dan diastolik, tetapi menurut hasil penelitian  pemberian 200ml  jus tomat dapat menurunkan tekanan darah sistolik sebesar 4,4mmHg dan tekanan darah diastolik sebesar 3,1 mmHg pada kelompok perlakuan dan pada kelompok kontrol dapat menurunkan tekanan darah sistolik sebesar 1,4 mmHg dan tekanan darah diastolik sebesar 1,4mmHg  dan tekanan darah diastolik setelah dikontrol dengan IMT dan asupan kalium.Simpulan:Pemberian jus tomat dapat membantu menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik pada laki-laki usia 40-45 tahun
NUGGET TEMPE DENGAN SUBSTITUSI IKAN MUJAIR SEBAGAI ALTERNATIF MAKANAN SUMBER PROTEIN, SERAT, DAN RENDAH LEMAK Permatasari, Putri Karunia; Rahayuni, Arintina
Journal of Nutrition College Vol 2, No 1 (2013): Januari 2013
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.79 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v2i1.2089

Abstract

Latar Belakang: Salah satu masalah gizi yang terjadi di Indonesia adalah kejadian gizi lebih atau obesitas. Obesitas sering dipengaruhi oleh ketidakseimbangan asupan makanan dan kurangnya aktifitas fisik pada anak maupun dewasa. Ketidakseimbangan asupan makanan ditandai dengan tingginya asupan lemak dan kurangnya asupan sumber protein dan serat. Salah satu bahan pangan sumber protein, serat, dan rendah lemak adalah tempe. Dengan demikian perlu dilakukan penelitian tentang nugget tempe dengan substitusi ikan mujair. Tujuan: Menganalisis variasi substitusi ikan mujair pada nugget tempe terhadap kadar protein, kadar serat, kadar lemak, tingkat penerimaan, dan menghitung komposisi asam amino esensial nugget tempe dengan substitusi ikan mujair. Metode: Merupakan penelitian eksperimental rancangan acak lengkap satu faktor yaitu nugget tempe dengan substitusi ikan mujair (0%, 10%, 20%, 30%, 40%, dan 50%). Analisis yang dilakukan adalah analisis kadar protein, kadar serat, dan kadar lemak. Pengujian tingkat penerimaan dilakukan dengan uji hedonik pada 20 orang panelis agak terlatih. Analisis statistik kadar protein, kadar serat, dan kadar lemak menggunakan uji One Way ANOVA Cl 95% untuk data berdistribusi normal dan  uji Kruskal-wallis untuk data berdistribusi tidak normal. Analisis untuk tingkat penerimaan menggunakan uji Friedman CI 95% dilanjutkan dengan uji Wilcoxon. Hasil: Variasi substitusi ikan mujair tidak mempengaruhi kadar protein, kadar serat, dan kadar lemak pada nugget tempe. Hasil uji tingkat penerimaan aroma, tekstur, dan rasa dipengaruhi oleh variasi substitusi ikan mujair, namun tidak mempengaruhi warna dari nugget tempe. Perlakuan terbaik diperoleh pada nugget tempe dengan substitusi ikan mujair 20% dengan kadar protein 14,76g; kadar serat 216mg; kadar lemak 16,74g; asam amino esensial metionin 249mg dan sistin 159mg. Simpulan: Nugget tempe dengan substitusi ikan mujair 20% sebagai hasil terbaik dan disukai panelis, menyumbang 14,8% bagi anak usia 6-12 tahun dan 12,3% bagi dewasa usia >15 tahun berdasarkan AKG protein, serta 0,57% untuk anak-anak; 0,43% untuk wanita dewasa; dan 0,28% untuk pria dewasa berdasarkan kebutuhan serat per hari.
PERBEDAAN PERKEMBANGAN MOTORIK KASAR, MOTORIK HALUS, BAHASA, DAN PERSONAL SOSIAL PADA ANAK STUNTING DAN NON STUNTING Hanani, Ruth; Syauqy, Ahmad
Journal of Nutrition College Vol 5, No 4 (2016): Oktober
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (398.385 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v5i4.16452

Abstract

Latar Belakang : Kegagalan pertumbuhan (stunting) pada anak usia di bawah lima tahun dapat menyebabkan berbagai macam gangguan perkembangan, termasuk perkembangan motorik kasar, motorik halus, bahasa, dan personal sosial. Beberapa penelitian menunjukkan hasil yang berbeda, dimana status gizi (stunting) tidak berhubungan dengan perkembangan anak. Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbedaan perkembangan pada anak stunting dan non stunting.Metode : Penelitian obeservasional dengan pendekatan cross sectional, bertempat di Keluarahan Jangli Semarang dengan jumlah sampel 49 anak (11 stunting dan 38 non stunting) berusia 24-59 bulan yang dipilih dengan simple random sampling. Data yang dikumpulkan meliputi data karakteristik subyek, karakteristik ibu, status gizi, dan perkembangan anak. Status gizi diukur dengan membandingkan tinggi badan dengan umur, dan data perkembangan anak diukur dengan Kusioner Pra-Skrining Perkembangan (KPSP). Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 22,4% anak tergolong stunting.Status perkembangan kategori mencurigakan pada anak stunting lebih tinggi (72,2%) dibandingkan dengan non stunting (31,6%).Terdapat perbedaan perkembangan pada anak stunting dan non stuntingdengan nilai p 0,033. Jenis perkembangan pada anak stunting yang masuk pada kategori mencurigakan secara berturut-turut meliputi perkembangan personal sosial (87,5%), bahasa (75%), motorik kasar (25%), dan motorik halus (12,5%).Simpulan : Terdapat perbedaan perkembangan pada anak stunting dan non stunting, meliputi perkembangan motorik kasar, motorik halus, bahasa dan personal sosial.
HUBUNGAN EATING DISORDER DENGAN STATUS GIZI PADA REMAJA PUTRI DI MODELING AGENCY SEMARANG. Syarafina, Aqmariya; Probosari, Enny
Journal of Nutrition College Vol 3, No 2 (2014): April 2014
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (224.398 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v3i2.5440

Abstract

Latar Belakang : Persepsi body image yang negatif akan mempengaruhi tindakan seseorang untuk melakukan upaya pengurangan konsumsi makan. Keinginan untuk memiliki bentuk tubuh yang sempurna dan persaingan di dunia modeling membuat para model tersebut melakukan perilaku yang tidak tepat dalam mencapai tubuh yang ideal dengan melakukan diet yang terlalu ketat. Diet ketat yang dilakukan para remaja putri dapat berujung pada kebiasaan makan yang kurang baik yang pada akhirnya menyebabkan terjadinya eating disorder sehingga akan berdampak negatif pada status gizi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan eating disorder dengan status gizi pada remaja putri.Metode : Penelitian observasional dengan rancangan cross-sectional bertempat di Modeling Agency Kota Semarang . Sampel berjumlah 59 subjek yang merupakan remaja putri  anggota modeling agency usia 15-19 tahun dan dipilih menggunakan metode consecutive sampling. Penilaian status gizi menggunakan persen lemak tubuh dengan Bioelectrical Impedence Analysis (BIA). Penilaian penyimpangan perilaku makan menggunakan kuesioner eating disorder diagnostic scale (EDDS). Data dianalisis menggunakan uji chi square.Hasil : Sebanyak 40 subjek (67.8%) mengalami eating disorder dengan 11 subjek (27.5%) underfat dan 19 subjek (32.2%) tidak mengalami eating disorder dengan status gizi normal. Terdapat hubungan yang bermakna eating disorder dengan status gizi, nilai (p = 0.01 ; p < 0,05).Simpulan : Ada hubungan eating disorder dengan status gizi pada remaja putri.
KANDUNGAN GIZI DAN DAYA TERIMA COOKIES BERBASIS TEPUNG IKAN TERI (Stolephorus sp) SEBAGAI PMT-P UNTUK BALITA GIZI KURANG Ramadhan, Rahmawati; Nuryanto, Nuryanto; Wijayanti, Hartanti Sandi
Journal of Nutrition College Vol 8, No 4 (2019): Oktober
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (367.449 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v8i4.25840

Abstract

Latar Belakang: Ikan Teri (Stolephorus sp) merupakan pangan lokal di Kabupaten Tegal yang potensial dijadikan  PMT-P untuk balita gizi kurang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh subtitusi  tepung  ikan teri terhadap kandungan gizi  dan daya terima PMT-P Cookies Ikan Teri.Metode: Penelitian eksperimental rancangan acak lengkap satu faktor dengan variasi persentase subtitusi tepung ikan teri (n=4) dari  F0= 0% (kontrol), F1= 10%, F2=15% dan F3=20%. Kadar protein diukur dengan menggunakan metode Micro-Kjedahl, karbohidrat dengan metode by difference, lemak dengan metode Soxhlet, energi melalui perhitungan, kadar air dengan metode gravimetri, kadar abu dengan metode pengabuan kering dan  kadar kalsium serta besi diukur dengan menggunakan metode Atomic Absorption Spectroscopy (AAS). Daya terima menggunakan uji hedonik. Hasil:  Rata-rata kandungan gizi per 100 gram  PMT-P cookies ikan teri  F0, F1,F2, dan F3 secara berturut-turut adalah energi sebesar 424±0,24; 421±0,97; 413±0,42; 422±0,40; protein sebesar 7,67±0,20; 9,48±0,03; 11,85±0,07; 12,77±0,08 g; lemak sebanyak 9,20±0,04; 10,35±0,18; 9,58±0,12; 10.47±0.11 g, karbohidrat sebesar 77,70±0,17; 72,59±0,16; 70,03±0,25; 69,17±0,17 g; kadar air sebanyak 3,75±0,03; 4,56±0,01; 4,66±0,03; 4,40±0,06 %; kadar abu sebesar 1,66±0,01; 3,01±0,03; 3,86±0,02; 3,18±0,02 %; besi 4,04±0,08; 4,51±0,06; 4,78±0,08; 5,32±0,14 mg; dan kalsium sebanyak 1419±3,02; 2600±1,98; 2880±1,98; 3133±2,29 mg. Semakin tinggi subtitusi  tepung ikan teri semakin rendah  daya terima warna, aroma, dan rasa cookies. Cookies yang mendekati standar permenkes dan daya terimanya baik yaitu F1 dengan subtitusi tepung ikan teri sebanyak 10%.Simpulan: Semakin meningkat subtitusi tepung ikan teri maka semakin meningkat protein, lemak, kadar air, kadar abu,  besi, dan kalsium serta menurunnya karbohidrat juga daya terima warna, aroma, dan rasa cookies ikan teri.
STATUS KEPADATAN TULANG BERDASARKAN KATEGORI LINGKAR PINGGANG WANITA DEWASA Ruseno, Citra Juliandari; Rahayuningsih, Hesti Murwani
Journal of Nutrition College Vol 4, No 4 (2015): Oktober 2015
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (243.981 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v4i4.10110

Abstract

Latar Belakang: Kepadatan tulang rendah disebabkan oleh persen lemak tubuh tinggi, asupan kalsium rendah, asupan vitamin D rendah, asupan protein rendah, aktivitas fisik rendah, dan gaya hidup sedentari. Lingkar pinggang besar dapat dijadikan prediktor obesitas abdominal. Obesitas abdominal dapat menimbulkan berbagai penyakit degeneratif, seperti osteoporosis.Tujuan: Menganalisis perbedaan kepadatan tulang antara lingkar pinggang normal dan obesitas abdominal, serta mengetahui hubungan persen lemak tubuh, asupan kalsium, asupan vitamin D, asupan protein, asupan lemak, dan aktivitas fisik terhadap kepadatan tulang pada wanita.Metode: Penelitian observasional dengan desain cross-sectional yang dilaksanakan di Kelurahan Lamper Kidul Kecamatan Semarang Selatan. Subjek penelitian adalah wanita dewasa usia 30-55 tahun sebanyak 32 subjek yang terdiri dari 16 subjek dengan lingkar pinggang ≤80 cm dan 16 subjek dengan lingkar pinggang >80 cm. Data kepadatan tulang diukur menggunakan densitometer ultrasound, data lingkar pinggang menggunakan metline, data persen lemak tubuh menggunakan Bioelectrical Impedance Analyzer (BIA), data asupan gizi (kalsium, vitamin D, protein, lemak) menggunakan kuesioner semi quantitative food frequency, dan data aktivitas fisik menggunakan formulir IPAQ. Analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square. Analisis multivariat menggunakan uji regresi logistik.Hasil: Pada kategori lingkar pinggang normal, subjek dengan kepadatan tulang osteopenia lebih banyak (75%) dibandingkan subjek dengan kepadatan tulang normal (25%). Sedangkan pada kategori lingkar pinggang obesitas abdominal, subjek dengan kepadatan tulang normal lebih banyak (56,3%) dibandingkan subjek dengan kepadatan tulang osteopenia (43,8%). Tidak terdapat perbedaan kepadatan tulang antara kategori lingkar pinggang normal dan obesitas abdominal pada wanita dewasa (p=0,072). Aktivitas fisik memiliki hubungan paling kuat dengan kepadatan tulang setelah disesuaikan dengan asupan lemak dan persen lemak (p=0,014).Kesimpulan: Tidak ada perbedaaan kepadatan tulang antara kategori lingkar pinggang normal dan obesitas abdominal pada wanita dewasa. Aktivitas fisik berhubungan dengan kepadatan tulang setelah disesuaikan dengan asupan lemak dan persen lemak.
HUBUNGAN INDEKS MASSA TUBUH (IMT), PERSEN LEMAK TUBUH, ASUPAN ZAT GIZI, DAN AKTIVITAS FISIK DENGAN KEPADATAN TULANG PADA REMAJA PUTRI Nafilah, Nafilah; Fitranti, Deny Yudi
Journal of Nutrition College Vol 3, No 4 (2014): Oktober 2014
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.209 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v3i4.6868

Abstract

Latar Belakang : Kepadatan tulang yang rendah saat remaja dapat meningkatkan risiko terjadinya osteoporosis. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kepadatan tulang diantaranya asupan zat gizi , IMT , persen lemak tubuh, dan aktivitas fisik. Akan tetapi, penelitian terbaru menunjukkan bahwa obesitas dapat meningkatkan risiko osteoporosis.Tujuan :Mengetahui hubungan IMT, persen lemak tubuh, asupan zat gizi dan aktivitas fisik dengan kepadatan tulang pada remaja putri.Metode :Penelitian dilaksanakan di SMP PL Domenico Savio Semarang pada bulan Juni 2014.Desain penelitian cross-sectional dengan subyek 101 remaja putri usia 13-15 tahun dipilih dengan metode simple random sampling. Data yang diambil adalah berat badan, persen lemak tubuh, tinggi badan, asupan protein, kalsium, fosfor, vitamin D, tingkat aktivitas fisik, dan kepadatan tulang. Analisis bivariat dengan uji rank Spearman dan analisis multivariat menggunakan uji regresi linier ganda.Hasil :Sebagian besar subyek (70,3%) mengalami osteopenia dan 29,7% memilki kepadatan tulang kategori normal. Sebanyak 63,4% subyek memilki nilai z-score IMT kategori normal, 65,3% memilki persen lemak tubuh normal, 44,6% memiliki tingkat aktivitas sedang, dan 56,4% memilki asupan protein lebih dari AKG. Asupan kalsium, fosfor, dan vitamin D kurang dari AKG masing-masing 65,3%, 44,6%, dan 66,3%. Asupan protein, kalsium, fosfor, vitamin D dan aktivitas fisik tidak terbukti terdapat hubungan dengan kepadatan tulang (p>0,05). Akan tetapi, IMT (r=0,415) dan persen lemak tubuh (r=0,402) terbukti mempunyai hubungan bermakna dengan kepadatan tulang (p<0,05). Pada analisis regresi linier ganda, hanya persen lemak tubuh yang menjadi prediktor kepadatan tulang (B=0,032).Kesimpulan :Terbukti terdapat hubungan antara indeks massa tubuh (IMT) dan persen lemak tubuh dengan kepadatan tulang. Akan tetapi, variabel yang menjadi prediktor terhadap kepadatan tulang hanya persen lemak tubuh.