cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Nutrition College
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 23376236     EISSN : 2622884X     DOI : -
Core Subject : Health, Social,
Journal of Nutrition College (P-ISSN : 2337-6236; E-ISSN : 2622-884X) diterbitkan oleh Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro sebagai media publikasi artikel-artikel ilmiah dalam biang Ilmu Gizi dengan skala terbit 4 kali dalam setahun, yaitu pada Januari, April, Juli, dan Oktober.
Arjuna Subject : -
Articles 704 Documents
PENGARUH PEMBERIAN YOGHURT KEDELAI HITAM (BLACK SOYGHURT) TERHADAP KADAR KOLESTEROL TOTAL DAN TRIGLISERIDA PADA LAKI-LAKI PENDERITA DISLIPIDEMIA USIA 40-55 TAHUN Sundari, Santy; Dieny, Fillah Fithra
Journal of Nutrition College Vol 2, No 1 (2013): Januari 2013
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (367.718 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v2i1.2104

Abstract

Latar Belakang: Dislipidemia merupakan kelainan metabolisme lipid yang ditandai dengan peningkatan maupun penurunan fraksi lipid dalam plasma, salah satunya adalah peningkatan  kadar kolesterol total dan trigliserida. Yoghurt kedelai hitam memiliki kandungan antioksidan yaitu anthosianin dan isoflavon untuk mencegah oksidasi lemak sehingga mampu menurunkan kadar kolesterol. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian yoghurt kedelai hitam terhadap kadar kolesterol total dan trigliserida pada penderita dislipidemia. Metode: jenis penelitian ini adalah true experimental dengan rancangan control group pre test- post test design. Subjek penelitian diambil dengan cara concecutive sampling, besar subjek penelitian ini adalah 14 orang pada masing-masing kelompok yaitu kelompok perlakuan I diberikan black soyghurt 115 ml, kelompok perlakuan II diberikan 225 ml dan kelompok kontrol tanpa diberikan perlakuan selama 21 hari. Sebelum intervensi masing-masing kelompok diberikan konseling. Subjek penelitian sebelum dilakukan pemeriksaan darah berpuasa selama ± 10 jam. Kadar kolesterol total dan trigliserida diukur sebelum dan sesudah dilakukan intervensi. Asupan makan masing-masing kelompok dipantau selama 21 hari. Normalitas data diuji dengan Shapiro Wilks. Analisis kadar kolesterol total dan trigliserida pada masing-masing kelompok menggunakan uji paired- t-test dan wilcoxon. Perbedaan kadar kolesterol total dan trigliserida pada masing-masing kelompok menggunakan uji ANOVA dan uji kruskall-wallis. Hasil: Pada ketiga kelompok tidak terdapat penurunan yang signifikan. Yoghurt kedelai hitam  dosis 115 ml mampu menurunkan kadar kolesterol total sebesar 1.64% dan trigliserida 7.85%. Dosis 225 ml mampu menurunkan kadar kolesterol total 0.05%. Pada kelompok kontrol terjadi penurunan kadar kolesterol total 2.12% dan trigliserida 13.02%.. Beberapa variabel perancu terrnyata memiliki pengaruh terhadap kadar kolesterol total dan trigliserida pada kelompok kontrol dan perlakuan II antara lain IMT, asupan energi, protein, lemak, karbohidrat, kolesterol dan serat. Kesimpulan : Pada ketiga kelompok tidak terdapat penurunan yang signifikan. Pemberian yoghurt kedelai hitam selama 21 hari dengan dosis 115 ml mampu menurunkan kadar kolesterol total sebesar 1.64% dan trigliserida 7.85%. Dosis 225 ml mampu menurunkan kadar kolesterol total sebesar 0.05%.
HUBUNGAN ASUPAN PROTEIN, SENG, ZAT BESI, DAN RIWAYAT PENYAKIT INFEKSI DENGAN Z-SCORE TB/U PADA BALITA Sundari, Ermawati; Nuryanto, Nuryanto
Journal of Nutrition College Vol 5, No 4 (2016): Oktober
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (678.904 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v5i4.16468

Abstract

Latar Belakang : Masalah gizi yang paling banyak ditemukan pada anak di Indonesia adalah stunting, Indikator untuk menilai stunting berdasarkan pada Indeks Tinggi Badan menurut Umur (TB/U) dengan ambang batas (Z-score) <-2 Standart Deviasi (SD). Several micronutrients are required for adequate growth among children. However, it has been unclear as to which nutrient deficiencies contribute most often to growth faltering in populations at risk for poor nutrition and poor growth. Inadequate intakes of dietary energy and protein and frequent infections are well-known causes of growth retardation (3–5). However, the role of specific micronutrient deficiencies in the etiology of growth retardation has gained attention more recently (6–8). Tujuan : Mengetahui hubungan antara asupan protein, seng, zat besi, dan penyakit infeksi terhadap indeks z-score TB/U pada balita usia 24-59 bulan.Metode : Penelitian observasional dengan pendekatan cross sectional di Kelurahan Jangli Semarang, jumlah sampel 61 balita usia 24-59 bulan, dipilih dengan simple random sampling. Data yang dikumpulkan meliputi: identitas sampel, berat badan, tinggi badan, riwayat asupan makan, dan riwayat penyakit infeksi. Berat badan diukur menggunakan timbangan digital dan tinggi badan diukur menggunakan microtoise. Asupan protein, seng, zat besi, dan riwayat penyakit infeksi diperoleh dari food frequency questionairre semi-kuantitatif. Data dianalisis dengan uji analisis depskripsi, analisis bivariate menggunakan uji Chi Square, Pearson, dan Spearman.Hasil : Sebanyak  36,1 subjek mengalami stunting. Rerata z-score TB/U -1,25 ± 1,2. Rerata asupan protein, seng, dan zat besi subjek berturut-turut 34.8 ± 13 g, 5.2 ± 2.5 mg, 8.2 ± 6.5 mg dengan sebagian besar tingkat kecukupan protein, seng, dan zat besi subjek adalah cukup. Sebanyak 29.1% subjek memiliki riwayat infeksi. Terdapat hubungan antara protein dan penyakit infeksi dengan z-score TB/U pada balita. Tidak terdapat hubungan antara asupan seng, dan zat besi dengan z-score TB/U pada balita.  Simpulan : Terdapat hubungan antara asupan protein dan riwayat penyakit infeksi terhadap indeks z-score TB/U pada balita.
PERBEDAAN KADAR GLUKOSADARAHPUASASEBELUM DAN SETELAHPEMBERIAN SARI BENGKUANG (Pachyrrhizuserosus) PADA WANITA PREDIABETES Yasmina, Andriani Rizka; Probosari, Enny
Journal of Nutrition College Vol 3, No 4 (2014): Oktober 2014
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (357.708 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v3i4.6824

Abstract

Latar Belakang : Prediabetes merupakan suatu keadaan yang mendahului timbulnya diabetes. Pemilihan jenis makanan yang tepat merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan sebagai pencegahan diabetes. Bahan makanan yang dihubungkan dengan penurunan kadar glukosa darah adalah bengkuang (Pachyrrhizuserosus). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kadar glukosa darah puasa sebelum dan setelah pemberian sari bengkuang (pachyrrhizuserosus) pada wanita prediabetes.Metode  : Penelitian ini merupakan penelitian true experiment dengan control group pretest – posttest design. Subjek penelitian ini sebanyak 30 orang wanita dengan kriteria, 40-50 tahun, dan kadar glukosa darah puasa (GDP) 100-125 mg/dl. Subjek dibagi menjadi 2 kelompok (perlakuan dan kontrol) secara acak dimana masing-masing kelompok memiliki 15 orang subjek. Kelompok perlakuan pada penelitian ini diberi sari bengkuang yang terbuat dari 320 gram buah bengkuang yang diambil sarinya menggunakan juicer dan kelompok kontrol diberi sirup rendah kalori yang terbuat dari 2 sendok makan sirup dan ditambah ±200 ml air matang selama 21 hari. Metode pengukuran kadar glukosa darah puasa adalah spektofotometri. Paired t-test, Indepedent sample t-test, Wilcoxon, dan Mann-Whitneydigunakan untuk menganalisis perbedaan kadar glukosa darah.Hasil  :  Rerata kadar GDP subjek sebelum intervensi pada kelompok perlakuan sebesar 108.53 mg/dl dan setelah intervensi sebesar 102.53 mg/dl. Rerata kadar GDP subjek sebelum intervensi pada kelompok control sebesar 105.53 mg/dl dan setelah intervensi sebesar 109.4 mg/dl. Rerata delta kadar GDP subjek setelah intervensi pada kelompok perlakuan mengalami penurunan yang bermakna (p<0.05) sebesar 6 mg/dl dan pada kelompok control mengalami peningkatan sebesar 3.47 mg/dl namun tidak bermakna(p>0.05). Uji statistik menunjukkan terdapat perbedaan yang bermakna (p<0.05) antar kedua kelompok.Simpulan  :  Terdapat penurunan kadar glukosa darah puasa yang bermakna (p<0.05) sebesar 6 mg/dl setelah pemberian sari bengkuang yang terbuat dari 320 gram buah bengkuang.
EFEK SUPLEMENTASI VIRGIN COCONUT OIL TERHADAP PARAMETER METABOLIK DAN ANTROPOMETRIK TIKUS WISTAR JANTAN OBESITAS Wijaya, Hendy; Surdijati, Siti
Journal of Nutrition College Vol 9, No 1 (2020): Januari
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4976.745 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v9i1.25324

Abstract

Latar Belakang: Untuk mengatasi masalah obesitas ada banyak program modifikasi gaya hidup melalui pengaturan pola makan dan peningkatan aktivitas fisik. Di antara program diet dikenal diet rendah lemak serta derivatnya dan diet rendah karbohidrat. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa efek positif diet rendah karbohidrat sebagian besar diperantarai oleh keton dalam darah. Selain dapat berfungsi sebagai sumber energi alternatif yang efisien, keton dapat berperan juga sebagai molekul sinyal yang dapat mempengaruhi metabolisme sel dan perilaku. Virgin Coconut Oil (VCO) adalah sumber asam lemak rantai sedang alamiah dengan kuantitas dan kualitas tinggi yang dapat diserap dan dimetabolisme di dalam liver dengan mudah dan cepat menjadi keton Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efek suplementasi virgin coconut oil terhadap kadar glukosa darah, keton darah, asupan makanan, massa lemak viseral dan berat badan pada model obesitas yang diinduksi melalui diet tinggi lemak-sukrosa.Metode: Tiga puluh dua subyek tikus wistar jantan yang sebelumnya sudah dibuat obesitas (indeks Lee >0,300) melalui diet tinggi lemak-sukrosa selama 20 minggu dibagi ke dalam empat kelompok. Kelompok (A) mendapat akuades per oral, kelompok (S) mendapat larutan sukrosa per oral, kelompok (VCO) mendapat VCO per oral, dan kelompok (CO) mendapat minyak jagung per oral selama 4 minggu, diberikan sebelum makan pada siklus malam tikus.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna pada kadar glukosa darah, massa lemak viseral dan berat badan antar kelompok subyek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian virgin coconut oil dapat meningkatkan kadar keton darah dan menurunkan asupan makanan (p=0,023 dan p=0,000) dibandingkan dengan kelompok perlakuan lain.Simpulan: Hasil penelitian menunjukkan bahwa suplementasi VCO sebelum makan dapat meningkatkan kadar keton darah dan menekan asupan makanan tikus obesitas yang diinduksi diet tinggi lemak-sukros. Namun, penurunan asupan makanan tampaknya tidak dipengaruhi oleh kadar keton dalam darah.
PENGARUH PEMBERIAN TEPUNG SORGUM (Sorghum bicolor L. Moench) TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH PUASA TIKUS DIABETES Dewi, Arini Citra; Widyastuti, Nurmasari; Probosari, Enny
Journal of Nutrition College Vol 9, No 1 (2020): Januari
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.969 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v9i1.24266

Abstract

Latar Belakang : Diabetes adalah kelainan endokrin yang ditandai dengan hiperglikemi akibat resistensi insulin. Tepung sorgum memiliki indeks glikemik yang tergolong rendah dan kandungan serat yang tinggi sehingga dapat menurunkan kadar glukosa darah puasa dan meningkatkan sensitivitas insulin.Tujuan: Mengetahui perbedaan pemberian tepung sorgum terhadap kadar glukosa darah puasa pada tikus diabetes.Metode : Penelitian true experimental dengan desain pretest-posttest randomized control group. Sebanyak 18 ekor tikus wistar jantan dibagi menjadi 3 kelompok meliputi kelompok kontrol negatif (K -), kontrol positif (K +) dan perlakuan (P). Kelompok K – dan K + diberi pakan standar sebanyak 20 g/hari, sedangkan P diberi pakan yang terdiri dari tepung sorgum 5 g/hari dan pakan standar sebanyak 15 g/hari selama 28 hari. Kadar glukosa darah diukur dengan metode GOD – PAP menggunakan spektrofotometer. Data yang terkumpul dianalisis secara statistik menggunakan uji Paired t – Test, uji One Way Anova, dan uji Kruskal Wallis.Hasil: Terdapat perbedaan signifikan kadar glukosa darah puasa antar kelompok sebelum (p=0,000) dan sesudah (p=0,000) pemberian perlakuan Selisih penurunan kadar glukosa darah puasa pada kelompok P sebanyak 150,63± 2,57 mg/dl (p=0,000).Simpulan : Tepung sorgum dapat menurunkan kadar glukosa darah puasa tikus diabetes secara signifikan.
HUBUNGAN TINGKAT ASUPAN SENG DAN ZAT BESI DENGAN JUMLAH LEUKOSIT ATLET SEPAK BOLA REMAJA Setyarsih, Liani; Safitri, Iqlima; Susanto, Hardhono; Suhartono, Suhartono; Fitranti, Deny Yudi
Journal of Nutrition College Vol 9, No 1 (2020): Januari
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v9i1.26926

Abstract

Latar belakang: Latihan fisik intensitas tinggi dapat menyebabkan timbulnya stres fisik yang akan menekan sistem imun pada tubuh atlet. Penurunan fungsi sistem imun tersebut akan meningkatkan risiko infeksi dan menurunkan performa atlet. Leukosit adalah komponen yang berperan dalam homeostasis sistem imun. Salah satu faktor yang mempengaruhi sistem imun adalah asupan zat gizi termasuk seng dan zat besi.Tujuan: Untuk mengetahui hubungan tingkat asupan seng dan zat besi dengan jumlah leukosit pada atlet sepak bola remaja.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan Cross sectional. Penelitian dilaksanakan di Sekolah Sepak Bola (SSB) Terang Bangsa Semarang. Jumlah subjek sebanyak 24 atlet remaja dengan metode pengambilan sampel Simple Random Sampling. Data asupan makan diperoleh melalui food recall 24 jam, data aktivitas fisik, kualitas tidur dan kondisi stres psikologis diambil menggunakan kuesioner, dan sampel darah diambil melalui pembuluh darah vena. Data dianalisis menggunakan uji korelasi pearson dan rang spearman.Hasil: Sebanyak 91,7% jumlah leukosit subjek dalam kategori normal. Rerata tingkat asupan seng subjek yaitu 56,22% sedangkan zat besi sebesar 57,7%.Tidak terdapat hubungan signifikan antara  tingkat asupan seng dan zat besi dengan jumlah leukosit.Simpulan: Tidak terdapat hubungan signifikan antara  tingkat asupan seng dan zat besi dengan jumlah leukosit.
ANALISIS PENGELUARAN PANGAN, KETAHANAN PANGAN DAN ASUPAN ZAT GIZI ANAK BAWAH DUA TAHUN (BADUTA) SEBAGAI FAKTOR RISIKO STUNTING Aritonang, Eta Aprita; Margawati, Ani; Dieny, Fillah Fithra
Journal of Nutrition College Vol 9, No 1 (2020): Januari
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (318.476 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v9i1.26584

Abstract

Latar Belakang : Beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya stunting anak usia 6-24 bulan antara lain kurangnya asupan zat gizi, penyakit infeksi, lingkungan, sosial ekonomi keluarga dan riwayat kehamilan ibu. Penelitian ini bertujuan menganalisis proporsi pengeluaran pangan rumah tangga, ketahanan pangan, dan asupan zat gizi sebagai faktor risiko terjadinya stunting usia 6-24 bulan.Metode : Penelitian ini menggunakan desain case-control dengan masing-masing kelompok kasus (stunting) dan kontrol (tidak stunting) berjumlah 24 sampel yang diambil menggunakan purposive sampling pada anak usia 6-24 bulan yang berada di Semarang Utara. Stunting diukur berdasarkan z-score tinggi badan menurut umur (TB/U) dianalisis dengan software World Health Organization (WHO) Anthro. Data yang diambil yaitu berat badan lahir, panjang badan lahir, tingkat pendidikan ibu, pendapatan keluarga dan pengeluaran rumah tangga. Data riwayat asupan energi, protein, vitamin A dan seng selama 1 tahun diperoleh dengan menggunakan Semi Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ). Data ketahanan pangan diperoleh dengan menggunakan kuisioner Household Food Security Scale Module (HFSSM). Data dianalisis dengan menggunakan uji Chi Square dan analisis regresi logistik.Hasil : Baduta stunting lebih banyak mengalami kerawanan pangan rumah tangga (79,2%), riwayat kekurangan asupan protein (70,8%), vitamin A (75%) dan seng (66,7%) dibandingkan dengan anak yang tidak stunting. Ketahanan pangan rumah tangga (OR=6,9), riwayat asupan protein (OR=8,6), vitamin A (OR=20,6) dan seng (OR=8,7) merupakan faktor yang paling berisiko terhadap kejadian stunting pada baduta usia 6-24 bulan (p<0,05).Simpulan: Kerawanan pangan rumah tangga, kurangnya asupan protein, vitamin A dan seng merupakan faktor yang berisiko meningkatkan kejadian stunting pada baduta usia 6-24 bulan.
KARAKTERISTIK IBU DAN STATUS GIZI BALITA MENURUT BB/U DI DESA TAMBAKAN KECAMATAN GUBUG KABUPATEN GROBOGAN TAHUN 2019 Rahma, Rinda Yusuf Dinanisas; Sholichah, Farohatus; Hayati, Nur
Journal of Nutrition College Vol 9, No 1 (2020): Januari
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v9i1.24914

Abstract

Latar Belakang : Balita BGM merupakan indikator awal terjadinya gizi kurang. Ibu berperan penting dalam tumbuh kembang balita. Prevalensi BGM/D di Kecamatan Gubug meningkat sebesar 0,52% dari tahun 2017 ke tahun 2018. Desa Tambakan memiliki prevalensi BGM/D terbesar. Faktor tidak langsung penyebab terjadinya gizi kurang pada balita yaitu umur ibu saat hamil, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, jumlah anak ibu, pengetahuan ibu, dan riwayat sakit ibu saat hamil.Tujuan : Mengetahui hubungan karakteristik ibu dengan status gizi balita menurut BB/UMetode : Penelitian ini merupakan penelitian dengan desain cross sectional. Sampel penelitian sebanyak 89 responden diambil menggunakan purposive sampling. Pengambilan data karakteristik ibu dan balita menggunakan KMS dan kuesioner. Status gizi balita menggunakan pengukuran antropometri. Analisis univariat menggunakan uji deskriptif, analisis bivariat menggunakan uji chi squared, dan analisis multivariat menggunakan regresi logistik.Hasil : Mayoritas ibu berumur 20-35 tahun saat hamil (85,4%) memiliki jumlah anak tidak lebih dari dua (77,5%), tidak bekerja (79,8%), tingkat pendidikan ibu SMP (36%), memiliki pengetahuan yang baik (89,9%). Sebanyak 59 dari 89 balita (66,3%) memiliki status gizi baik. Jumlah anak ibu, pekerjaan ibu, dan riwayat sakit saat hamil ibu tidak berhubungan dengan status gizi balita menurut BB/U.variabel yang berpengaruh terhadap status gizi balita adalah umur ibu (p=0,029;OR=3,927), pendidikan ibu (p=<0,001;OR=10,294) dan pengetahuan ibu (p=0,001;OR=21,091). Pendidikan ibu paling berhubungan terhadap status gizi balita menurut BB/U.Kesimpulan : Variabel yang paling berhubungan dengan status gizi balita adalah pendidikan ibu (p=0,012) dengan nilai OR=0,136 yang artinya, ibu yang berpendidikan tinggi dapat mencegah memiliki balita dengan status gizi kurang dan gizi buruk.
KONSUMSI GIZI PADA PENYANDANG DIABETES MELLITUS DI MASYARAKAT Giajati, Sukma Anggraeni; Kusumaningrum, Niken Safitri Dyan
Journal of Nutrition College Vol 9, No 1 (2020): Januari
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (383.834 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v9i1.26424

Abstract

Latar belakang: Pasien dengan diabetes harus memperhatikan manajemen gizi yang sangat penting untuk mengontrol status glikemik. Salah satu fokus pengelolaan gizi pada DM adalah untuk mencegah hiperglikemia yang mungkin terjadi. Setiap individu seharusnya mengikuti ketentuan diet yang berlaku. Namun, banyak masalah gizi muncul yang mencakup pengetahuan, kesadaran, kepatuhan, dan juga implementasinya. Dengan demikian, pemantauan gizi yang dikonsumsi oleh pasien dengan DM sangat penting untuk mempertahankan hasil metabolisme yang optimal.Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi asupan gizi pada pasien dengan DM.Metode: Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan metode survei untuk mengumpulkan keseluruhan data. Sejumlah sampel diambil secara consecutive pada pasien diabetes di satu Puskesmas di Kota Semarang. Sebanyak 93 responden berpartisipasi dalam penelitian ini. Kriteria inklusi meliputi pasien dengan DM yang berusia 18 – 70 tahun. Kuesioner recall 24 jam digunakan untuk mencatat dan mengamati asupan gizi dan pengambilan tiga kali tidak berturut-turut meliputi 2 hari hari kerja dan 1 hari pada akhir pekan. Analisis univariat dilakukan untuk mengintepretasikan data.Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa lebih banyak responden yang berpartisipasi dalam penelitian ini adalah perempuan daripada laki-laki (n=68, 62,4%; n=35, 37,6%), masing-masing. Sebagian besar responden (n=83, 89,2%) digolongkan sebagai tidak tepat dalam menerapkan asupan gizi.Simpulan: Masih banyak masyarakat yang menyandang DM belum tepat dalam menerapkan diet yang harus dikonsumsi. Pasien DM harus mematuhi perencanaan makan dengan jadwal, jumlah, dan jenis makanan yang tepat dengan komposisi karbohidrat, lemak, protein yang seimbang dan konsisten dengan jadwal makan. Pengkajian dan monitoring terkait dengan konsumsi nutrisi pada penyandang DM sangat diperlukan.
STUNTING DAN PERKEMBANGAN MOTORIK BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KEMUMU KABUPATEN BENGKULU UTARA Yulianti, Syami; R, Diyah Tepi
Journal of Nutrition College Vol 9, No 1 (2020): Januari
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v9i1.24530

Abstract

Latar Belakang : Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya. Indonesia merupakan negara dengan prevalensi stunting kelima terbesar di dunia yaitu sebanyak 37%. Balita yang mengalami stunting memiliki tingkat kecerdasan tidak maksimal, lebih rentan terhadap penyakit dan di masa depan berisiko menurunnya tingkat produktivitas sehingga menghambat pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kemiskinan dan memperlebar ketimpangan. Prevalensi stunting di Bengkulu rata-rata 29,4%, dimana kejadian tertinggi terdapat di Kabupaten Bengkulu Utara (35,8%).Tujuan : Mengetahui hubungan stunting dengan perkembangan motorik halus dan motorik kasar pada balita di Wilayah Kerja Puskesmas Kemumu Kabupaten Bengkulu Utara.Metode : Desain penelitian yang digunakan adalah cross-sectional. Analisa data menggunakan uji chi-square dengan tingkat kepercayaan 95% (α = 0,05). Jumlah sampel sebanyak 100 balita, diambil dengan teknik purposive sampling. Penilaian stunting dinyatakan dengan z-score tinggi badan menurut umur (TB/U) dan diklasifikasikan berdasarkan WHO. Perkembangan anak diukur dengan tes Denver II.Hasil :Sebanyak 32 (32%) balita dengan stunting, hasil uji korelasi statistik menunjukkan ada hubungan antara stunting dengan perkembangan motorik halus (p=0,003) dan motorik kasar (p=0,004) pada balita.Kesimpulan :Ada hubungan stunting dengan perkembangan motorik halus dan motorik kasar pada balita.