cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Nutrition College
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 23376236     EISSN : 2622884X     DOI : -
Core Subject : Health, Social,
Journal of Nutrition College (P-ISSN : 2337-6236; E-ISSN : 2622-884X) diterbitkan oleh Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro sebagai media publikasi artikel-artikel ilmiah dalam biang Ilmu Gizi dengan skala terbit 4 kali dalam setahun, yaitu pada Januari, April, Juli, dan Oktober.
Arjuna Subject : -
Articles 704 Documents
PENGARUH PEMBERIAN COOKIES TEPUNG LABU KUNING DAN IKAN GABUS TINGGI PROTEIN TERHADAP KADAR HEMOGLOBIN PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK DENGAN ANEMIA Liza Safitri; Susyani Susyani; Terati Terati
Journal of Nutrition College Vol 12, No 1 (2023): Januari
Publisher : Department of Nutrition Science, Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v12i1.35312

Abstract

Latar belakang: Penyakit gagal-ginjal-kronis ialah kondisi renal yang tidak lagi bisa mengeluarkan limbah metabolisme tubuh yang berakibat pada gangguan fungsi endokrin dan metabolisme. Dua faktor dapat mengembangkan anemia pada pasien gagal ginjal kronis. Pertama, dibandingkan dengan pasien tanpa gagal ginjal kronis, mereka dengan gagal ginjal kronis menghasilkan lebih sedikit erythropoietin (EPO), dan kedua, hepcidin meningkat pada pasien dengan gagal ginjal kronis.Tujuan:Mengetahui pengaruh pemberian cookies berbahan dasar tepung labu kuning dan ikan gabus terhadap hemoglobin pasien gagal ginjal hemodialisis anemia di RSUP Dr. M. Hoesin Palembang.Metode: Penelitian ini dilakukan dalam 2 tahap, tahap pertama menggunakan Rancangan Acak Lengkap Non Faktorial untuk menentukan formulasi produk yang digunakan sebagai intervensi, dan tahap kedua menggunakan desain penelitian quasi eksperimen dengan one group pre -test dan post-test desain penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien gagal ginjal yang menjalani hemodialisis. Sampel penelitian dipilih dengan menggunakan metode Purposive Sampling dengan jumlah 40 responden. Analisis data menggunakan uji Friedman dan uji T-Dependent.Hasil: Uji organoleptik menunjukkan bahwa formula terpilih adalah formulasi F2. Sedangkan hasil intervensi menunjukkan adanya perbedaan kadar hemoglobin sebelum dan sesudah intervensi, rata-rata peningkatan kadar hemoglobin responden adalah 0,78 g/dl dengan p <0,001.Simpulan: Dapat disimpulkan bahwa cookies dengan penambahan labu kuning dan ikan gabus berpengaruh terhadap peningkatan kadar hemoglobin pada penderita gagal ginjal yang menjalani hemodialisa dan dapat dijadikan sebagai produk alternatif pencegahan anemia pada penderita gagal ginjal.
ASUPAN VITAMIN D, KALSIUM DAN AKTIVITAS FISIK KAITANNYA DENGAN GANGGUAN SIKLUS MENSTRUASI PADA MAHASISWI Miladia Gita Mutia; Dittasari Putriana
Journal of Nutrition College Vol 12, No 1 (2023): Januari
Publisher : Department of Nutrition Science, Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v12i1.33345

Abstract

Latar Belakang: Masalah kesehatan reproduksi yang sering terjadi salah satunya gangguan siklus menstruasi. Di Indonesia, sebanyak 35,5% mahasiswi yang terdapat di 59 perguruan tinggi mengalami gangguan tersebut.  Adapun faktor yang mempengaruhi seperti kurangnya asupan vitamin D, asupan kalsium, dan tingginya aktivitas fisik. Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta memiliki aktivitas yang sangat padat, sehingga dilakukan studi pendahuluan di fakultas tersebut.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan asupan vitamin D, asupan kalsium, dan aktivitas fisik dengan gangguan siklus menstruasi pada mahasisiwi Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta. Metode: Desain penelitian ini adalah observasional dengan pendekatan cross sectional yang melibatkan 73 mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta usia 18-19 tahun, yang diambil dengan metode accidental sampling. Data asupan vitamin D dan kalsium diperoleh menggunakan Semi Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ) selama satu bulan terakhir, data aktivitas fisik menggunakan International Physical Activity Questionnaire (IPAQ) selama satu minggu terakhir dan data gangguan siklus menstruasi menggunakan kuesioner siklus menstruasi melalui google form. Analisis data pada software SPSS menggunakan uji chi square.Hasil : Sebagian besar responden memiliki asupan vitamin D kurang (94,5%), asupan kalsium kurang (87,7%), aktifitas fisik berat (80,8%) dan gangguan siklus menstruasi (4,1%). Hasil uji analisis chi square tidak terdapat hubungan antara asupan vitamin D (p=0,631), asupan kalsium (p=0,597), dan aktifitas fisik (p=0,389) dengan gangguan siklus menstruasi.  Simpulan: Tidak terdapat hubungan asupan vitamin D, asupan kalsium, dan aktivitas fisik dengan gangguan siklus menstruasi (p>0,05). Diharapkan responden dapat meningkatkan asupan vitamin D dan kalsium yang cukup serta memperhatikan aktivitas fisik agar tidak berlebihan
FAKTOR YANG MEMENGARUHI KEJADIAN HIPERTENSI MASYARAKAT PESISIR (STUDI PADA MASYARAKAT WILAYAH KERJA PUSKESMAS KEDUNG II JEPARA) Silvia Ulin Nafi&#039;; Natalia Desy Putriningtyas
Journal of Nutrition College Vol 12, No 1 (2023): Januari
Publisher : Department of Nutrition Science, Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v12i1.36230

Abstract

Latar belakang: Telah terjadi peningkatan prevalensi hipertensi pada masyarakat pesisir pantai di Kedung Jepara, pada tahun 2019 sebanyak 3,5%, pada tahuan 2020 sebanyak 4,3%, pada tahun 2021 sebanyak 5,0% masyarakat di wilayah kerja pesisir Kedung Jepara menderita hipertensi.Tujuan: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian hipertensi pada masyarakat pesisir di wilayah kerja Puskesmas Kedung II.Metode: Desain penelitian yang digunakan adalah Cross Sectional. Penelitian telah dilakukan pada bulan Juni-Juli 2022 di Wilayah Kerja Puskesmas Kedung II. Teknis pengambilan sampel yang digunakan adalah Quota Sampling dengan responden sebanyak 100 responden penderita hipertensi yang berusia 45-59 tahun yang menderita hipertensi dan pengambilan data meliputi variabel jenis kelamin, obesitas, konsumsn i kopi, kebiasaan merokok,aktivitas fisik, konsumsi makanan laut dan kualitas tidur. Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat menggunakan distribusi frekuensi,dan analisis bivariat menggunakan uji Chi Square.Hasil: Hasil penelitian didapatkan ada 97,6% responden obesitas dan 98,7% responden yang mengonsumsi makanan laut berlebih mengalami hipertensi serta terdapat hubungan jenis kelamin (p=0,046), obesitas (p<0,001), konsumsi kopi (p=0,037), aktivitas fisik (p<0,001), konsumsi makanan laut (p<0,001), kualitas tidur (p<0,001) dengan kejadian hipertensi pada masyarakat pesisir. Tidak ada hubungan antara kebiasaan merokok (p=0,072) dengan kejadian hipertensi pada masyarakat pesisir.Simpulan: Faktor yang memengaruhi kejadian hipertensi masyarakat pesisir di wilayah kerja Puskesmas Kedung II adalah jenis kelamin, obesitas, konsumsi kopi, aktivitas fisik, konsumsi makanan laut, kualitas tidur sedangkan kebiasaan merokok tidak menjadi faktor risiko kejadian hipertensi. Saran pada penelitian ini adalah perlu adanya peningkatan promosi kesehatan terkait penanganan dan pencegahan hipertensi kepada masyarakat pesisir.
PERBEDAAN FAKTOR RISIKO STUNTING DI DAERAH PERKOTAAN DAN PERDESAAN PADA ANAK USIA 6-23 BULAN DI INDONESIA: ANALISIS DATA RISKESDAS Vivi Ucianna; Adriyan Pramono; Ani Margawati; Ahmad Syauqy
Journal of Nutrition College Vol 12, No 1 (2023): Januari
Publisher : Department of Nutrition Science, Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v12i1.33304

Abstract

Latar belakang: Stunting merupakan masalah gizi yang sering ditemukan di negara berkembang, termasuk Indonesia. Stunting dapat disebabkan oleh banyak faktor. Perbedaan tempat tinggal di perkotaan dan perdesaan salah satu faktor penyebab stunting. Tujuan: Menganalisis faktor risiko stunting di daerah perkotaan dan perdesaan pada anak usia 6-23 bulan di Indonesia.Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan menganalisis data survei nasional di 34 provinsi di Indonesia tahun 2018 (Riskesdas 2018). Jumlah subjek dalam penelitian ini sebanyak 15.833 anak usia 6-23 bulan. Data dianalisis menggunakan analisis deskriptif, uji chi-square, dan regresi logistik ganda.Hasil: Prevalensi stunting pada usia 6-23 bulan lebih rendah di perkotaan (26,9%) dibandingkan di perdesaan (30,8%). Perbedaan signifikan yang ditemukan pada faktor risiko kejadian stunting antara daerah perkotaan dan perdesaan. Faktor risiko kejadian stunting yang signifikan di perkotaan adalah berat badan lahir rendah (OR=2,017, 95%Cl: 1,655-2,457). Sedangkan, faktor risiko kejadian stunting yang signifikan di perdesaan adalah adalah kelahiran prematur (OR=1,121, 95%Cl: 1,015–1,238) dan riwayat berat badan lahir rendah (OR=2,188, 95%Cl: 1,845–2,595). Setelah dikontrol dengan variable perancu (jenis kelamin dan usia), berat badan lahir rendah (OR=2,017, 95%Cl: 1,655-2,457) tetap menjadi faktor risiko kejadian stunting yang signifikan di perkotaan. Sedangkan, kelahiran prematur (OR=1,121, 95%Cl: 1,015–1,238) dan riwayat berat badan lahir rendah (OR=2,188, 95%Cl: 1,845–2,595) juga tetap menjadi faktor risiko kejadian stunting yang signifikan di perdesaanSimpulan: Berat badan lahir rendah menjadi faktor risiko stunting di daerah perkotaan dan perdesaan. Sedangkan, kelahiran premature menjadi faktor risiko stunting hanya di perdesaan. 
ANALISIS FAKTOR DETERMINAN KEBUGARAN JASMANI REMAJA PUTRI DI MADRASAH ALIYAH Angga Hardiansyah; Aratsia Wahdinia Alamsah; Ines Rohmattul Hinyah; Moh Arifin
Journal of Nutrition College Vol 12, No 2 (2023): April
Publisher : Department of Nutrition Science, Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v12i2.36755

Abstract

ABSTRACT Background: Physical fitness is something that needs to be considered by teenagers because it can relate to aspects of their health. Factors of physical fitness can be influenced by several things, such as hemoglobin levels, nutritional status, percent fat, and physical activity.Objectives: The purpose of this study to determine the relationship between hemoglobin levels, nutritional status, percent fat and physical activity with the physical fitness of female adolescents at MAN 2 Kota SemarangMethods: This research was conducted using a cross-sectional design with a total sample of 87 female students. The sample was collected with proportionate stratified sampling. Data on hemoglobin levels were taken from capillary blood which were then measured using the kapiler blood with Point of Care Testing (easytouch GCHB brand), while nutritional status was measured using the BMI/U indicator, percent fat using the BIA tool and physical activity was measured using the IPAQ questionnaire. Bivariate analysis in this study used the Gamma test and multivariate used the ordinal logistic regression test.Results The results of this study showed that the samples had normal hemoglobin levels (67.8%), good nutritional status (79.3%), normal fat percentage (67.8%) and strenuous physical activity (49.4%). The results of the bivariate analysis showed that there was a relationship between hemoglobin level (p<0.001), nutritional status (p= 0.005), percent fat (p<0.001) and physical activity (p<0.001) and physical fitness of female adolescents. Conclusion: There is a relationship between hemoglobin levels, nutritional status, percent body fat and physical activity with the physical fitness of young women and what most influences the physical fitness of young women is nutritional status.Keywords: Hemoglobin level; Nutritional status; Percent fat; Physical activity; Physical fitness.ABSTRAKLatar belakang: Kebugaran jasmani merupakan hal yang perlu diperhatikan oleh remaja karena dapat berhubungan dengan aspek kesehatannya. Faktor kebugaran jasmani dapat dipengaruhi oleh beberapa hal seperti kadar hemoglobin, status gizi, persen lemak dan aktivitas fisik.Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kadar hemoglobin, status gizi, persen lemak dan aktivitas fisik dengan kebugaran jasmani remaja putri di MAN 2 Kota Semarang.Metode: Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan desain cross sectional dengan jumlah sampel sebanyak 87 orang siswi. Sampil diambil dengan menggunakan teknik proportionate stratified sampling. Data kadar hemoglobin diambil dari darah kapiler yang kemudian diukur dengan menggunakan darah kapiler metode digital (Point of Care Testing) merk easytouch GCHB, sedangkan status gizi diukur dengan menggunakan indikator Indeks Massa Tubuh menurut umur (IMT/U), persen lemak dengan menggunakan alat bioimpedance analysis (BIA) dan aktivitas fisik diukur dengan menggunakan kuesioner International Physical Activity Questionnaire (IPAQ). Analisis bivariat pada penelitian ini menggunakan uji Gamma dan multivariat menggunakan uji regresi logistik ordinal.Hasil: Hasil pada penelitian ini di dapat bahwa sampel memiliki kadar hemoglobin yang normal (67,8%), status gizi yang baik (79,3%), persen lemak yang normal (67,8%) dan aktivitas fisik yang berat (49,4%). Hasil analisis bivariat menunjukan bahwa terdapat hubungan antara kadar hemoglobin (p<0,001), status gizi (p= 0,005), persen lemak (p<0,001) dan aktivitaas fisik (p<0,001) dengan kebugaran jasmani remaja putri.Simpulan: Terdapat hubungan antara kadar hemoglobin, status gizi, persen lemak tubuh dan aktivitas fisik dengan kebugaran jasmani remaja putri. Variabel status gizi yaitu variabel yang paling berpengaruh terhadap kebugaran jasmani.Kata Kunci: Aktivitas fisik; Kadar hemoglobin; Kebugaran jasmani; Persen lemak; Status gizi.
POTENSI TERAPEUTIK KOPI HIJAU TERHADAP OBESITAS Amalia Firdausya Putri Purnomo; Ufairoh Maliha Shofwah; Olivia Anggraeny
Journal of Nutrition College Vol 12, No 2 (2023): April
Publisher : Department of Nutrition Science, Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v12i2.36269

Abstract

ABSTRACTBackground: Obesity is a nutritional problem caused by excess food intake. This increases the risk of degenerative diseases. Consumption of green coffee affects the incidence of obesity, which can improve body composition, lipid profile, and inflammatory response. Green coffee is defined as coffee beans that haven’t been roasted. Green coffee contains caffeine, trigonellin, and chlorogenic acid. These compounds are widely used for health both in the form of brewed coffee or supplements.Objective: Analyzing the benefits of green coffee to deal with obesity problems.Method: Literature review using research articles in the last 10 years from 4 databases (ScienceDirect, PubMed, ProQuest, and ResearchGate) using keywords: green coffee, obesity, inflammation, lipid profile, weight, BMI. Study selection was based on the 2009 PRISMA Statement and 24 studies were included in this review.Results: In 22 studies, green coffee can improve body composition (weight, BMI, WC, and body fat percentage), lipid profile (LDL, triglycerides and HDL) and inflammatory conditions in human and mice. Nonetheless, there were 2 studies that didn’t show a significant effect of green coffee on reducing body weight and improving lipid profiles in mice and humans. This is likely due to differences in the source or dose of chlorogenic acid given. In addition, green coffee can be used as an anti-inflammatory because it contains pyrocatechool.Conclusion: Green coffee has therapeutic potential because it contains chlorogenic acid, caffeine, and trigonellin which show remedial effects on body composition, lipid profile and inflammatory conditions.Keywords: Anti-inflammatory; Body composition; Green coffee; Lipid profile; Obesity.ABSTRAKLatar Belakang: Obesitas merupakan salah satu permasalahan gizi akibat asupan makanan berlebih. Hal tersebut meningkatkan risiko penyakit degeneratif. Konsumsi kopi hijau berpengaruh terhadap kejadian obesitas, dimana dapat memperbaiki komposisi tubuh, profil lipid, serta respon inflamasi. Kopi hijau didefinisikan sebagai biji kopi yang belum dilakukan proses pemanggangan. Kopi hijau mengandung kafein, trigonelin, dan polifenol dimana senyawa polifenol yang utama terkandung pada kopi hijau adalah asam klorogenat. Senyawa tersebut banyak dimanfaatkan untuk kesehatan baik dalam bentuk bubuk kopi yang diseduh ataupun suplemen.Tujuan: Menganalisis manfaat kopi hijau untuk menangani masalah obesitas.Metode: Literature review menggunakan artikel penelitian dalam 10 tahun terakhir dari 4 database (ScienceDirect, PubMed, ProQuest, dan ResearchGate) menggunakan keywords: green coffee, obesity, inflammation, lipid profile, weight, BMI. Seleksi studi mengacu pada PRISMA Statement 2009 dan ditetapkan 24 studi yang disertakan dalam review ini.Hasil: Pada 22 penelitian, kopi hijau dapat memperbaiki komposisi tubuh (berat badan, IMT, lingkar pinggang, dan persentase lemak tubuh), profil lipid (LDL, trigliserida dan HDL) serta kondisi inflamasi pada subjek manusia dan mencit. Meskipun demikian, terdapat 2 penelitian yang tidak menunjukkan efek signifikan kopi hijau dalam penurunan berat badan dan perbaikan profil lipid pada mencit dan manusia. Hal ini kemungkinan terjadi karena adanya perbedaan sumber atau dosis asam klorogenat yang diberikan. Selain itu, kopi hijau dapat digunakan sebagai anti-inflamasi karena mengandung zat pyrocatechol.Simpulan: Kopi hijau memiliki potensi terapeutik karena mengandung asam klorogenat, kafein, dan trigonelin yang menunjukkan efek perbaikan pada komposisi tubuh, profil lipid dan kondisi inflamasi.Kata kunci: Anti-inflamasi; Komposisi tubuh; Kopi hijau; Obesitas; Profil lipid.
HUBUNGAN TINGKAT STRES DAN KEPRIBADIAN NEUROTICISM DENGAN PERILAKU EMOTIONAL EATING PADA MAHASISWA GIZI STIKES MITRA KELUARGA Miosan Tasadeva Azalea; Noerfitri Noerfitri
Journal of Nutrition College Vol 12, No 2 (2023): April
Publisher : Department of Nutrition Science, Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v12i2.37610

Abstract

ABSTRACTBackground: Students are one of the age groups that experience a lot of stress. Most of the stress experienced by students is caused by intrapersonal, interpersonal, academic activities, and environmental problems. Stress can affect eating behavior, someone who is experiencing stress tends not to eat or otherwise will overeat which has an impact on changes in nutritional status. Eating behavior is not only caused by hunger, but there are also other factors that influence it. Several factors that can influence eating behavior are mood, taste, and personality.Objectives: Analyze the relationship between stress levels and neuroticism personality with emotional eating behavior in STIKes Mitra Keluarga nutrition students.Methods: This research is quantitative research with a cross sectional design. The number of samples is 117 students of the S1 Nutrition STIKes Mitra Keluarga study program who were selected using the Simple Random Sampling technique. Data were collected using the Perceived Stress Scale (PSS), Big Five Inventory (BFI), and Dutch Eating Behavior Questionnaire (DEBQ). Data were analyzed using Chi-Square test.Results: Most of the respondents experienced a high level of stress (70.1%), had a moderate category of neuroticism personality (63.2%), and experienced a high category of emotional eating (52.1%). The significant relationship between variables is proven by the results of bivariate analysis which shows the p-value of each research variable, namely stress level (0.012) and neuroticism personality (0.016).Conclusion: There is a significant relationship between stress levels and neuroticism personality with emotional eating behavior in STIKes Mitra Keluarga nutrition students.Keywords: Emotional eating; Neuroticism personality; stress level. ABSTRAK Latar belakang: Mahasiswa merupakan salah satu kelompok umur yang banyak mengalami stres. Sebagian besar stres yang dialami oleh mahasiswa disebabkan dari masalah intrapersonal, interpersonal, kegiatan akademik, dan lingkungan. Stres dapat mempengaruhi perilaku makan, seseorang yang sedang mengalami stres cenderung tidak selera makan atau sebaliknya akan makan berlebihan yang berdampak pada adanya perubahan status gizi. Perilaku makan tidak hanya disebabkan oleh rasa lapar, tetapi juga terdapat faktor lain yang mempengaruhinya. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi perilaku makan adalah suasana hati, selera, dan kepribadian. Tujuan: Menganalisis hubungan antara tingkat stress dan kepribadian neuroticism dengan perilaku emotional eating pada mahasiswa gizi STIKes Mitra Keluarga.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 117 mahasiswa program studi S1 Gizi STIKes Mitra Keluarga yang dipilih dengan teknik Simple Random Sampling. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner Perceived Stress Scale (PSS), Big Five Inventory (BFI), dan Dutch Eating Behaviour Questionnaire (DEBQ). Data dianalisis menggunakan uji Chi-Square.Hasil: Sebagian besar responden mengalami stress tingkat berat (70,1%), memiliki kepribadian neuroticism kategori sedang (63,2%), dan mengalami emotional eating kategori tinggi (52,1%). Hubungan yang signifikan antara variabel dibuktikan dengan hasil analisis bivariat yang menunjukkan nilai p-value pada masing-masing variabel penelitian yaitu tingkat stress (0,012) dan kepribadian neuroticism (0,016).Simpulan: Adanya hubungan yang signfikan antara tingkat stress dan kepribadian neuroticism dengan perilaku emotional eating pada mahasiswa gizi STIKes Mitra Keluarga.Kata Kunci: Emotional eating; Kepribadian neuroticism; Tingkat stres
PENGARUH PEMBERIAN FOOD BAR TINGGI SERAT TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 Theresia Sri Guslin Marbun; Susyani Susyani; Podojoyo Podojoyo
Journal of Nutrition College Vol 12, No 2 (2023): April
Publisher : Department of Nutrition Science, Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v12i2.35408

Abstract

ABSTRACTBackground: Diabetes mellitus is a significant degenerative disease worldwide with an increasing number. Adequate fiber consumption can help control blood glucose levels. Corn and green beans are high-fiber foods with a low glycemic index.Objective: This study aims to determine the effect of high-fiber food bars on blood glucose levels in patients with type 2 diabetes mellitus.Method: This type of research is a quasi-experimental pre and post test design with control group. A sample of 60 people was divided into two groups, namely treatment and control using the accidental sampling method. The control group was given food bars 2x25 grams a day for 7 days while the control group was not given food bars. Blood glucose levels were measured before and after the intervention, then analyzed by paired test. The research was conducted at Gelumbang Hospital, Muara Enim Regency in January - May 2022.Results: Data analysis using paired sample t-test obtained the average difference in the decrease in blood glucose levels of the treatment group 51.53 mg/dl (p-value<0.001) and the comparison group 17.17 mg/dl (p-value<0.001). Statistical test results using the independent sample t-test obtained the difference in decreasing blood glucose levels in the treatment group and the control group of 34.367 mg/dl (p-value<0.001).Conclusion: Provision of high-fiber food bars as a substitute for snacks as much as 2x25 grams a day has an effect on reducing blood glucose levels in patients with type 2 diabetes mellitus.Keywords: Blood glucose level; Diabetes mellitus; Food barABSTRAKLatar belakang: Diabetes melitus merupakan salah satu penyakit degeneratif yang signifikan di seluruh dunia dengan jumlahnya yang terus meningkat. Konsumsi serat yang cukup dapat membantu mengontrol kadar glukosa darah. Jagung dan kacang hijau merupakan salah satu pangan tinggi serat dengan indeks glikemik yang rendah. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian food bar tinggi serat terhadap kadar glukosa darah pasien diabetes melitus tipe 2.Metode: Jenis penelitian ini adalah quasi eksperimen pre and post test design with control group. Sampel berjumlah 60 orang yang dibagi dua kelompok yaitu perlakuan dan kontrol menggunakan metode accidental sampling. Kelompok kontrol diberikan food bar 2x25 gram sehari selama 7 hari sedangkan kelompok kontrol tidak diberikan food bar. Kadar glukosa darah diukur sebelum dan setelah intervensi, kemudian dianalisis dengan uji paired test.  Penelitian dilakukan di RSUD Gelumbang Kabupaten Muara Enim pada bulan januari – mei tahun 2022.Hasil: Analisis data menggunakan paired sample t-test diperoleh selisih rata-rata penurunan kadar glukosa darah kelompok perlakuan 51,53 mg/dl (p-value<0,001) dan kelompok pembanding 17,17 mg/dl (p-value<0,001). Hasil uji statstik menggunakan independent sample t-test diperoleh selisih penurunan kadar glukosa darah pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol sebesar 34,367 mg/dl (p-value<0,001).Simpulan: Pemberian food bar tinggi serat sebagai pengganti makanan selingan sebanyak 2x25 gram dalam sehari berpengaruh terhadap penurunan kadar glukosa darah pasien diabetes melitus tipe 2.Kata Kunci: Diabetes mellitus; Food bar; Kadar glukosa darah
KURANGNYA DUKUNGAN SUAMI, RIWAYAT ANEMIA DAN KEK SEBAGAI FAKTOR RISIKO KEGAGALAN ASI EKSKLUSIF Firdananda Fikri Jauharany; Ardelita Ika Fadhlillah; Agus Sartono
Journal of Nutrition College Vol 12, No 2 (2023): April
Publisher : Department of Nutrition Science, Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v12i2.37961

Abstract

ABSTRACT Background: The government and various health organizations have recommended and campaigned for the importance of exclusive breastfeeding. However, exclusive breastfeeding is still relatively low to this day. Various factors influencing exclusive breastfeeding include the husband's support, maternal health, and nutritional status.Objectives: This study aims to analyze the history of anemia, history of CED (Chronic Energy Deficiency), and husband's support as risk factors for failure of exclusive breastfeeding.Methods: An analytic study of 60 breastfeeding mothers was conducted to analyze the factors of husband support, history of anemia and CED during pregnancy as risk factors for failure of exclusive breastfeeding. The husband's support and exclusive breastfeeding status were measured through interviews using a questionnaire. A history of anemia and CED can be identified by looking at the records of hemoglobin levels and MUAC (mid-upper arm circumference) in the Maternal and Child Health Book. Data analysis used the Chi-Square and Odd-Ratio tests.Results: The chi-square test showed a significant relationship between the husband's support and the success of exclusive breastfeeding (p<0.001). There was no relationship between the history of CED (p=0.315) and anemia (0.219) with exclusive breastfeeding status. Breastfeeding mothers whose husbands do not support to practice of exclusive breastfeeding are 8.636 times more likely to experience failure in exclusive breastfeeding.Conclusion: Lack of husband support is a risk factor for failure of exclusive breastfeeding.Keywords: Anemia; Chronic energy deficiency; Exclusive breastfeeding; Husband support; ABSTRAK Latar belakang: Pemerintah dan berbagai organisasi kesehatan telah merekomendasikan dan mengkampanyekan pentingnya pemberian ASI eksklusif. Namun, pemberian ASI eksklusif masih tergolong rendah sampai hari ini. Berbagai faktor yang mempengaruhi pemberian ASI eksklusif antara lain dukungan suami, kesehatan ibu dan status gizi.Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengkaji riwayat anemia, riwayat KEK (Kekurangan Energi Kronis), dan dukungan suami sebagai faktor risiko kegagalan ASI eksklusif.Metode: Sebuah studi analitik dengan desain kasus kontrol pada 60 ibu menyusui dilakukan untuk mengkaji faktor dukungan suami, riwayat anemia dan KEK selama kehamilan sebagai faktor risiko kegagalan pemberian ASI eksklusif. Dukungan suami dan status ASI eksklusif diukur melalui wawancara dengan menggunakan kuesioner. Riwayat anemia dan KEK dapat diketahui dengan melihat catatan kadar hemoglobin dan LiLA (Lingkar Lengan Atas) pada Buku Kesehatan Ibu dan Anak. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dan Odd-Ratio.Hasil: Uji chi-square menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara dukungan suami dengan keberhasilan pemberian ASI eksklusif (p<0,001). Tidak ada hubungan antara riwayat KEK (p=0,315) dan anemia (0,219) dengan status pemberian ASI eksklusif. Ibu menyusui yang tidak didukung suami untuk mempraktikkan ASI eksklusif berisiko 8,636 kali lebih besar mengalami kegagalan dalam memberikan ASI eksklusif.Simpulan: Kurangnya dukungan suami merupakan salah satu faktor risiko kegagalan pemberian ASI eksklusif.Kata Kunci : Anemia; ASI eksklusif; Dukungan suami; Kekurangan energi kronis
KONSUMSI JAJANAN KAITANNYA DENGAN ASUPAN GULA, GARAM, LEMAK PADA REMAJA JEPARA SELAMA PANDEMI COVID-19. Dzakiyya Sabriani Maziyah; Teddy Wahyu Nugroho; A. Fahmy Arif Tsani; Fillah Fithra Dieny
Journal of Nutrition College Vol 12, No 2 (2023): April
Publisher : Department of Nutrition Science, Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v12i2.35679

Abstract

ABSTRACTBackground: The current COVID-19 pandemic has led Indonesia’s government to impose quarantine rules on their citizens. The consequence was a change in lifestyle and eating habits that strongly supported the populace in order to consume more food.Objectives: The study was to establish the relationship between foods consumed with sugar, salt, and fat intake during covid-19 pandemic in adolescents.Methods: An analytical observational study with cross sectional design. The research was conducted by online with 84 adolescents by simple random sampling in Jepara district. Data on snack consumption habits was obtained through a questionnaire from the Google form application. Data of snack consumption habits was obtained through a questionnaire from the Google form application. Data of snack and sugar, salt, and fat intake obtained through food frequency questionnaire (FFQ). Data were analyzed by chi square.Results: All respondence had poor snack consumption habits 91.7%, with excess sugar intake 89,3%, excess salt intake 66.7%, and excess fat intake 71%. Analyzed results obtained there were relation snack consumption habits and sugar intake (p<0.001), with salt intake (p=0.002), with fatty intake (p<0.001). Conclusion: There were correlation between snack consumption habits and intake of sugar, salt and fat during the covid-19 pandemic in adolescents.  Keywords: Adolescents; Covid-19; Snack consumption; Sugar intake. ABSTRAKLatar belakang: Pandemi Covid-19 menyebabkan pemerintah Indonesia menetapkan aturan karantina pada warganya. Konsekuensinya adalah perubahan gaya hidup dan kebiasaan makan yang sangat mendukung masyarakat untuk lebih banyak mengonsumsi makanan jajanan.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan konsumsi makanan jajanan dengan asupan gula, garam, dan lemak pada saat pandemi covid-19 pada remaja.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan cross sectional. Penelitian ini dilaksanakan secara online dengan metode pengambilan sampel Simple Random Sampling diperoleh 84 remaja usia 10-19 tahun di kecamatan Jepara. Data kebiasaan konsumsi jajan diperoleh melalui kuesioner dari aplikasi google form. Data konsumsi jajan dan asupan gula, garam, lemak diperoleh melalui semi quantitative food frequency questionnaire (SQ-FFQ). Analisis menggunakan uji Chi-Square.Hasil: Sebanyak 91,7% responden memiliki kebiasaan jajan yang tidak baik dengan asupan gula berlebih 89,3%, asupan garam berlebih 66,7%, dan asupan lemak berlebih 71%. Hasil uji menunjukkan terdapat hubungan antara konsumsi jajanan dengan asupan gula (p<0,001), dengan asupan garam (p=0,002), dengan asupan lemak (p<0,001).Simpulan: Terdapat hubungan antara kebiasaan konsumsi jajanan dengan asupan gula, garam, dan lemak selama pandemi covid-19 pada remaja. Kata kunci: Asupan gula; Covid-19; Konsumsi jajan; Remaja