cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Nutrition College
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 23376236     EISSN : 2622884X     DOI : -
Core Subject : Health, Social,
Journal of Nutrition College (P-ISSN : 2337-6236; E-ISSN : 2622-884X) diterbitkan oleh Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro sebagai media publikasi artikel-artikel ilmiah dalam biang Ilmu Gizi dengan skala terbit 4 kali dalam setahun, yaitu pada Januari, April, Juli, dan Oktober.
Arjuna Subject : -
Articles 704 Documents
PROFIL KANDUNGAN MAKRONUTRIEN DAN GULA TAMBAHAN PADA PRODUK SUSU CAIR DAN KONTRIBUSINYA TERHADAP KECUKUPAN HARIAN BATITA Yunita Sekar Asri; Gemala Anjani; Diana Nur Afifah; Rachma Purwanti
Journal of Nutrition College Vol 12, No 3 (2023): Juli
Publisher : Department of Nutrition Science, Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v12i3.33746

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Pelabelan gizi pada produk susu cair di pasaran tidak menggunakan acuan kebutuhan yang sesuai dengan anjuran kecukupan harian batita, sehingga informasi kecukupan kandungan pada produk menjadi kurang tepat.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kandungan makronutrien dan gula tambahan pada produk susu cair dan kontribusinya sesuai anjuran kecukupan harian batita.Metode: Merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan observasional secara cross sectional. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive dan memenuhi kriteria inklusi. Total sebanyak 30 sampel meliputi varian plain(n=10) dan berperisa(n=20) didapatkan melalui pembelian produk dari tiga pasar retail di wilayah Tangerang Selatan. Data kandungan makronutrien dan gula tambahan didapatkan melalui label informasi nilai gizi pada kemasan produk. Kandungan makronutrien dan gula tambahan pada sampel dibandingkan dengan kecukupan harian untuk batita.Hasil: Tiap 100ml produk susu cair plain dibandingkan susu cair berperisa memiliki rerata kandungan lemak (4,90±1,84g vs 2,8±0,89g) dan protein (3,02±0,76 vs 2,11±0,48 g). Sedangkan kandungan energi total (59,58±4,44 vs 69,06±10,51 kkal), karbohidrat total (5,04±1,01 vs 10,42±1,77 g), gula tambahan (0,15±0,47 vs 6,11±2,18 g) lebih tinggi pada susu cair berperisa.Simpulan: Secara keseluruhan kontribusi kandungan makronutrien pada produk susu cair tergolong rendah terhadap kecukupan harian batita, namun pada susu cair plain memiliki kecukupan tinggi pada kandungan protein sedangkan susu cair berperisa pada kandungan gula tambahan.   
PROFIL ASAM AMINO MAKANAN PENDAMPING ASI (MP-ASI) PROTEIN HIDROLISAT IKAN KUNIRAN Nuryanto Nuryanto; Astrid Rossalia Putri; Ekowati Chasanah; Muhammad Sulchan; Diana Nur Afifah; Pujoyuwono Martosuyono; Nazulatul Asmak
Journal of Nutrition College Vol 12, No 3 (2023): Juli
Publisher : Department of Nutrition Science, Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v12i3.40395

Abstract

ABSTRAKLatar belakang: Ikan kuniran merupakan sumber protein yang tinggi yang dapat digunakan sebagai bahan makanan pendamping ASI (MP-ASI). Agar nilai cerna protein tinggi maka dapat dilakukan hidrolisat protein.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan asam amino pada MP-ASI protein hidrolisat ikan kuniran.Metode: Penelitian eksperimen dengan design rancangan acak lengkap (RAL) dua kali ulangan. Sampel penelitian ini adalah produk MP-ASI Protein hidrolisat ikan kuniran yang di bagi menjadi tiga formula MP-ASI yaitu formulasi 1 (F1), formulasi 2 (F2) dan Fromulasi 3 (F3) dengan komposisi bahan baku protein hidrolisat ikan (PHIK), susu skim beras merah dan kacang hijau yang berbeda setiap formulasi. Variabel bebas penelitian ini adalah formulasi F1, F2 dan F3, sedangkan variabel terikat penelitian ini adalah kandungan asam amino. Analisis asam amino menggunakan metode AOAC 2005, dengan HPLC. Analisis data yang digunakan meliputi analisis deskriptif dan di sajikan dalam bentuk grafikHasil: Formula MP-ASI PHIK mengandung 15 asam amino yang terdiri dari 9 asam amino esensial yaitu histidin, arginin, treonin, valin, metionin, isoleusin, leusin, fenilalanin, lisin dan 6 asam amino non esensial yaitu asam glutamat, asam aspartat, serin, glisin, alanin, dan tirosin. Kandungan asam amino esensial yang tinggi adalah leusin dan lisin sedangkan asam amino non esensial tertinggi yaitu asam glutamat yang terdapat pada F2.Simpulan: Kandungan asam amino yang tertinggi adalah leusin, lisin dan asam glutamat yang terdapat pada MP-ASI F2. 
ASUPAN ZAT GIZI MAKRO DAN MIKRO DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA BALITA USIA 12-59 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS RADAMATA Adriana Inna Natara; Tri Siswati; Almira Sitasari
Journal of Nutrition College Vol 12, No 3 (2023): Juli
Publisher : Department of Nutrition Science, Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v12i3.34499

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Stunting atau pendek masih menjadi masalah gizi di negara berkembang khususnya Indonesia. Nusa Tenggara Timur merupakan daerah dengan menyumbang tingginya kasus tersebut.Tujuan: untuk mengetahui hubungan asupan zat gizi makro dan mikro dengan kejadian stunting pada balita usia 12-59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Radamata, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara TimurMetode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain kasus-kontrol (case-control) yang di lakukan dengan membandingkan dua kelompok yaitu kelompok kasus sebanyak 40 balita dan kelompok kontrol sebanyak 40 balita. Pengumpulan data meliputi asupan makan balita dengan pengisin kuesioner SQ-FFQ dan menghitung hasil asupan zat gizi mikro dan makro menggunakan program nutria survey kemudian hasil dirata-rata dan bandingkan dengan Angka Kecukupan Gizi (AKG).Penelitian ini menggunakan uji chi-squareHasil: Penelitian ini menunjukan bahwa ada hubungan signifikan antara stunting dengan asupan energi (p<0.05), asupan lemak (p<0,05) dengan nilai OR= 9.08 (95% CI=3.28-5.08) dan 3,56(95% CI 1,40 - 9,08). Balita memiliki risiko stunting 9.08 kali dan 3.56 kali lebih besar jika kekurangan asupan energi dan lemak.Simpulan: Dalam upaya penanggulangan stunting, sangat penting untuk memonitor asupan zat gizi makro khususnya jumlah energi dan lemak. 
HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP HYGIENE SANITASI DENGAN PERILAKU PERSONAL HYGIENE PADA PENJAMAH MAKANAN KAKI LIMA DI KECAMATAN TAPOS KOTA DEPOK Rara Maulidya Putri; Adhila Fayasari
Journal of Nutrition College Vol 12, No 3 (2023): Juli
Publisher : Department of Nutrition Science, Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v12i3.36845

Abstract

ABSTRAKLatar belakang: Personal hygiene merupakan suatu tindakan pencegahan penyakit terhadap seseorang dengan lingkungan tempat tinggal. Penjamah makanan kaki lima merupakan suatu upaya individual yang berjualan makanan ditempat keramaian seperti ditepi jalan, di rumah sakit, disekolah dan lain sebagainya. Masalah kesehatan yang erat bagi tubuh yaitu masalah kebersihan dan sanitasi pada makanan. Hal tersebut dikarenakan pengetahuan, sikap dan perilaku sangat berperan dalam sanitasi pada makanan sehingga dapat menghindari pencemaran yang terjadi pada makanan.Tujuan: Untuk menganalisis hubungan pengetahuan dan sikap hygiene sanitasi terhadap perilaku personal hygiene pada penjamah makanan kaki lima di Wilayah Kecamatan Tapos Kota Depok. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross sectional pada penjamah makanan kaki lima di wilayah Kecamatan Tapos pada bulan Mei-Juni 2022. Kriteria inklusi, Subjek berumur 20-60 tahun, bersedia menjadi subjek dalam kondisi sehat, subjek merupakan penjamah makanan kaki lima makanan tradisional. Penelitian ini menggunakan pertanyaan pengetahuan dan sikap hygiene sanitasi, serta pengamatan pada perilaku personal hygiene. Analisis data menggunakan analisa univariat dan bivariate dengan uji chi square dan p-value <0,05 dengan bantuan program aplikasi statistic dalam pengolahannya.Hasil: Hasil analisis statistik menyatakan ada hubungan antara pengetahuan hygiene sanitasi terhadap perilaku personal hygiene (p<0,001), ada hubungan antara sikap hygiene sanitasi terhadap perilaku personal hygiene (p=0,048).Simpulan: Ada hubungan antara pengetahuan higiene sanitasi terhadap perilaku personal hygiene dan ada hubungan antara sikap hygiene sanitasi terhadap perilaku personal hygiene.Kata kunci: Hygiene Sanitasi; Pengetahuan; Perilaku; Personal Hygiene; Sikap
PENGARUH PEMBERIAN PUDING LABU KUNING (CUCURBITA MOSCHATA DURCH) TERHADAP PENURUNAN TEKANAN DARAH PADA PENDERITA HIPERTENSI Yohandrey, Febry; Kasmiyetti, Kasmiyetti; Handayani, Marni; Dwiyanti, Defriani; Edmon, Edmon
Journal of Nutrition College Vol 12, No 4 (2023): Oktober
Publisher : Department of Nutrition Science, Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v12i4.40494

Abstract

ABSTRACTBackground: Hypertension as the Silent Killer because it is a deadly disease without any symptoms as a warning sign to its victims. Bukittinggi is ranked 4th with the highest hypertension prevalence rate in West Sumatra at 31.2% in 2018. Tigo Baleh Health Center is ranked as the first with the highest hypertension in Bukittinggi City. Non-pharmacological therapy management can be carried out in patients with hypertension sourced from local functional foods. Pumpkin is one of the local functional foods that has anti-hypertensive substances.Objectives: Hypertension is often referred to as the Silent Killer because it is a deadly disease without any symptoms as a warning sign to its victims. Bukittinggi is ranked 4th with the highest hypertension prevalence rate in West Sumatra at 31.2% in 2018. Tigo Baleh Health Center is ranked as the first with the highest hypertension in Bukittinggi City. Non-pharmacological therapy management can be carried out in patients with hypertension sourced from local functional foods. Pumpkin is one of the local functional foods that has anti-hypertensive substances. The purpose of this study was to determine the effect of giving pumpkin pudding on lowering blood pressure in patients with hypertension.Methods: This study used a Quasi Experiment Two Group Pretest-Postest design in the Tigo Baleh Health Center work area. The sampling technique was purposive sampling. Respondents in this study were 40 people who included the Treatment Group and the Control Group. Data analysis consisted of univariate analysis and bivariate analysis with the Dependent T-test to see the average differences of each experimental group also the Independent T-test to see the effect of changes in blood pressure after intervention from both experimental groups.Results The results showed an average blood pressure reduction of 20.35/8.05 mmHg in the treatment group and 3.30/4.35 mmHg in the control group. Also, there is a significant difference in mean blood pressure (p < 0.05) and there is a significant effect of blood pressure changes (p < 0.05) from both groups before and after hypertension.Conclusion: Pumpkin pudding is more effective in reducing blood pressure in patients with hypertension than pudding. Thus, it is recommended for the community to consume pumpkin pudding as a complementary therapy for lowering blood pressure.Keywords : Hypertension; Blood Pressure; Pumpkin Pudding ABSTRAKLatar belakang: Hipertensi termasuk penyakit yang mematikan tanpa disertai gejala yang terlebih dahulu sebagai tanda peringatan kepada korbannya. Bukittinggi termasuk urutan ke- 4 dengan angka prevalensi hipertensi tertinggi di Sumatera Barat yaitu 31,2% pada tahun 2018. Puskesmas Tigo Baleh menduduki peringkat pertama penderita hipertensi tertinggi di Kota Bukittinggi. Penatalaksanaan Terapi Non Farmakologi dapat dilakukan pada penderita hipertensi yang bersumber dari pangan fungsional lokal. Labu kuning merupakan salah satu pangan fungsional lokal yang memiliki zat anti hipertensi. Tujuan: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian puding labu kuning terhadap penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi.Metode: Penelitian ini menggunakan desain Quasi Eksperimen Two Group Pretes-Postest di wilayah kerja Puskesmas Tigo Baleh. Teknik pengambilan sampel berupa Purposive Sampling. Responden dalam penelitian ini sebanyak 40 orang yang mencakup Kelompok Perlakuan dan Kelompok Kontrol. Analisis data terdiri dari analisis univariat dan analisis bivariat dengan uji T-test Dependent untuk melihat perbedaan rata – rata dalam masing – masing kelompok perlakuan dan kontrol serta uji T-test Indenpendent untuk melihat pengaruh perubahan tekanan darah setelah intervensi antara kelompok perlakuan dan kontrol.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan rata- rata penurunan tekanan darah 20,35/8,05 mmHg pada kelompok perlakuan dan 3,30/4,35 mmHg pada kelompok kontrol. Serta, terdapat perbedaan rata-rata tekanan darah yang signifikan (p < 0,05) dan terdapat pengaruh perubahan tekanan darah yang signifikan (p < 0,05) dari kedua kelompok sebelum dan setelah intervensi. Simpulan: Puding labu kuning lebih efektif menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi dibandingkan puding. Sehingga, disarankan kepada masyarakat untuk mengonsumsi puding labu kuning sebagai terapi komplementer untuk penurunan tekanan darah.Kata Kunci : Hipertensi; Tekanan Darah; Puding Labu Kuning
HUBUNGAN KONSUMSI TEH DAN KOPI READY TO DRINK SERTA KUALITAS TIDUR TERHADAP RISIKO ANEMIA REMAJA PUTRI DI SMAN 8 KOTA BOGOR Marini, Ajeng Rizka; Stefani, Megah
Journal of Nutrition College Vol 13, No 2 (2024): April
Publisher : Department of Nutrition Science, Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v13i2.41080

Abstract

ABSTRACTBackground: The compounds tannin and caffeine found in tea and coffee can affect hemoglobin levels and sleep quality, often associated with the risk of anemia and poor sleep quality in adolescent girls.Objective: This study aims to analyze the relationship between the consumption of ready-to-drink tea and coffee and the quality of sleep with the risk of anemia in adolescent girls in SMAN 8 Kota Bogor.Methods: The method in this research employs a cross-sectional design, utilizing proportional random sampling technique. The study was conducted on 79 adolescent girls who met the inclusion criteria: having experienced menstruation, not experiencing menstrual disorders, and regularly consuming ready-to-drink tea and coffee (≤3 times/day). The exclusion criteria included students with anemia. The research was carried out on August 3, 2023, at SMAN 8 Kota Bogor, and data collection occurred at a single point in time. Data was collected using a questionnaire for respondent characteristics, a Food Frequency Questionnaire (FFQ) for the habit of consuming ready-to-drink tea and coffee, the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) questionnaire for assessing sleep quality, and an assessment for anemia risk through screening using an 8-group questionnaire (Yes or No). Data analysis used the chi-square test.Results: No association of ready-to-drink tea and coffee consumption with sleep quality with p>0,05 (p-value = 0,331; p-value = 0,232 and POR = 1,728; POR = 1,859), and no association of ready-to-drink coffee consumption with the risk of anemia with p<0.05 (p-value = 0.254 and POR = 1.832). There was a significant association of ready-to-drink tea consumption and sleep quality on the risk of anemia with a p<0.05 (p-value = 0,006; p-value = 0,001 and POR = 4,148; POR = 5,920).Conclusion: It is concluded that there is no association between ready to drink tea and coffee consumption with sleep quality and anemia risk.Keywords : Adolescent girls; coffee; risk of anemia; sleep quality; tea. ABSTRAKLatar Belakang: Senyawa tanin dan kafein yang terdapat pada teh dan kopi dapat mempengaruhi kadar hemoglobin dan kualitas tidur, sehingga seringkali dikaitkan dengan risiko anemia dan kualitas tidur yang buruk pada remaja putri..Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan konsumsi teh dan kopi ready to drink serta kualitas tidur terhadap risiko anemia pada remaja putri di SMAN 8 Kota Bogor.Metode: Metode dalam penelitian ini menggunakan desain cross sectional (potong lintang) dengan menggunakan teknik proportional random sampling dan dilakukan kepada 79 remaja putri dengan kriteria inklusi siswi yang sudah mengalami menstruasi, tidak mengalami gangguan menstruasi, rutin (≤3 kali/hari) mengonsumsi teh dan kopi ready to drink. Kriteria eksklusi penelitian ini yaitu siswi yang memiliki status anemia. Penelitian dilakukan pada tanggal 3 Agustus 2023 di SMAN 8 Kota Bogor dan dilakukan satu waktu dengan pengambilan data satu kali. Pengambilan data dengan menggunakan kuesioner tanya jawab untuk data karakteristik responden, kuesioner FFQ (Food Frequency Questionnaire) untuk data kebiasaan konsumsi teh dan kopi ready to drink, kuesioner PSQI (Pittsburgh Sleep Quality Index) untuk mengukur penilaian kualitas tidur, dan peniliaian untuk risiko anemia dengan skrining menggunakan kuesioner yang terdiri dari 8 kelompok pertanyaan tertutup (Ya atau Tidak). Analisis data menggunakan uji chi-square.Hasil: Tidak adanya hubungan konsumsi teh dan kopi ready to drink dengan kualitas tidur dengan nilai p>0,05 (p-value = 0,331; p-value = 0,232 dan POR = 1,728; POR = 1,859), dan tidak adanya hubungan konsumsi kopi ready to drink dengan risiko anemia dengan nilai p<0,05 (p-value = 0,254 dan POR = 1,832). Terdapat hubungan signifikan konsumsi teh ready to drink dan kualitas tidur dengan risiko anemia diperoleh nilai p<0,05 (p-value = 0,006; p-value = 0,001 dan POR = 4,148; POR = 5,920).Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan konsumsi teh dan kopi ready to drink dengan kualitas tidur dan juga tidak terdapat hubungan konsumsi kopi ready to drink dengan risiko anemia. Namun, terdapat hubungan signifikan konsumsi teh ready to drink dan kualitas tidur dengan risiko anemia pada remaja putri.Kata Kunci : Kopi; kualitas tidur; teh; remaja putri; risiko anemia
HUBUNGAN KETAHANAN PANGAN DENGAN GIZI KURANG PADA BALITA USIA 2-5 TAHUN (STUDI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PANGKALAN KABUPATEN LIMA PULUH KOTA) Hidayati, Hidayati; Margawati, Ani; Noer, Etika Ratna; Syauqy, Ahmad; Kartini, Apoina
Journal of Nutrition College Vol 13, No 3 (2024): Juli
Publisher : Department of Nutrition Science, Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v13i3.42541

Abstract

ABSTRACTBackground: Undernutrition describes acute nutritional status.This situation is presented with a Z-Score value of BB/TB at the of <-3 SD to <-2 SD malnutrition category based on World Health Organization (WHO) standards. One of the factors that causes malnutrition in toddlers is family food security.Objectives: To analyze the relationship between food security and malnutrition in children aged 2-5 years in the PangkalanCommunity Health Center working area.Methods: Observational research using a cross sectional study design. The research was 300 children aged 2-5 years, selected through simple random sampling. Food security was calculated using a questionnaire (HFFSM), as well as anthropometric measurements of BB/TB.  Bivariate data analysis was carried out using the Spearman correlation test.Results :As much  75.7%  low food security and nutritional status BB/TB malnutrition was 9%. The results of the Spearman correlation test, show that there is a relationship between family food security and nutritional status according to Z-Score BB/TB p-value 0,023 r=0,131*, this means that if the BB/TB score is low, food security will be increasingly dangerous.Conclusion: Family food security is one of the factors that can increase the incidence of underweight in toddlers aged 2-5 years. Nutritional problems are caused by weak family food security, which is the family’s ability to meet the food needs of household members in terms of quantity, quality, and variety according to local culture. Efforts that can be made to increase food security in households so that nutritional intake can be met properly including empowering houdewives regarding how to manage finances for household consumption as well as empowering training such as sewing and managing small and medium household businesses (UMKM).Keywords : Malnutrition; food security; toodlers                                                                     ABSTRAKLatar belakang: Gizi Kurang menggambarkan status gizi yang bersifat akut, keadaan ini dipresentasikan dengan nilai Z-score BB/TB pada ambang batas <-3 SD sampai dengan <-2 SD kategori  gizi kurang berdasarkan standar World Health Organization (WHO). Salah satu yang menjadi faktor terjadinya gizi kurang pada balita yaitu ketahanan pangan keluarga.Tujuan: Menganalisis hubungan ketahanan pangan dengan gizi kurang pada anak usia 2-5 tahun di wilayah kerja Puskesmas Pangkalan.Metode: Penelitian observasional dengan menggunakan rancangan study cross-sectional. Penelitian melibatkan  300 anak usia 2-5 tahun yang  dipilih melalui simple random sampling,  ketahanan pangan dihitung menggunakan kuesioner (HFFSM) serta pengukuran antropometri berat badan dan tinggi badan.. Analisis data bivariate dilakukan dengan menggunakan uji korelasi spearman. Hasil: Sebanyak 75.7% ketahanan pangan rendah (low food security) dan status gizi BB/TB gizi kurang sebanyak 9%. Hasil uji korelasi spearman menunjukkan terdapat hubungan ketahanan pangan keluarga dengan status gizi menurut Z-Score BB/TB (p=0.023) r=0,131*, artinya apabila skor BB/TB rendah maka ketahanan pangan nya semakin rawan.Simpulan: Kerawanan pangan  keluarga merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan kejadian gizi kurang pada balita usia 2-5 tahun. Masalah gizi disebabkan lemahnya ketahanan pangan keluarga yang merupakan kemampuan keluarga untuk memenuhi kebutuhan pangan anggota rumah tangga dari segi jumlah, mutu dan ragamnya sesuai dengan budaya setempat. Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan ketahanan pangan di rumah tangga sehingga asupan gizi dapat terpenuhi dengan baik yaitu pemberdayaan kepada ibu rumah tangga terkait bagaimana pengelolaan keuangan untuk konsumsi rumah tangga serta pemberdayaan pelatihan seperti menjahit dan pengelolaan usaha rumah tangga kecil dan menengah (UMKM).Kata Kunci : Gizi Kurang; Ketahanan Pangan; Balita
PROGRAM INOVASI ABANG MESI MENINGKATKAN CAPAIAN KEBERHASILAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA IBU MENYUSUI DI WILAYAH UPTD PUSKESMAS MARGA JAYA KOTA BEKASI TAHUN 2022 Widiastuti, Retno; Swamilaksita, Prita Dhyani; Wahyuni, Yulia; Novianti, Anugrah; Nuzrina, Racmania
Journal of Nutrition College Vol 12, No 4 (2023): Oktober
Publisher : Department of Nutrition Science, Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v12i4.38071

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Menyusui adalah cara paling efektif menjaga kesehatan bayi. Capaian ASI eksklusif menurut Data WHO, Profil Kesehatan Indonesia tahun 2022 dan Provinsi Jawa Barat bertururt-turut, 44%, 56,9% dan 59,4%. Data Dinas Kesehatan Kota Bekasi tahun 2021 didapatkan capaian ASI ekslusif Kota Bekasi sebesar 50,3%, sedangkan capaian UPTD Puskesmas Marga Jaya adalah 22,78% dan merupakan puskesmas dengan capaian ASI eksklusif  rendah di Kota Bekasi.Tujuan: Mengetahui hubungan umur, pendidikan, pekerjaan, pengetahuan, sikap ibu, kondisi fisik payudara ibu, teknik perawatan bayi baru lahir, dukungan keluarga dan dukungan tenaga kesehatan  dengan keberhasilan pemberian ASI eksklusif pada ibu menyusui di wilayah UPTD Puskesmas Marga Jaya Kota Bekasi tahun 2022.Metode: Penelitian menggunakan metode survey melalui pendekatan cross sectional dan teknik pengambilan sampel dengan total sampling sebanyak 62 responden ibu bayi usia 6-11 bulan,  menggunakan uji Chi-Square.Hasil: Responden yang berhasil ASI eksklusif sebanyak 53,2%, ibu dengan umur 20-35 tahun sebanyak 74,2%, 62,9% ibu dengan tingkat pendidikan menengah dan tinggi, 80,6% ibu rumah tangga, 93,5% pengetahuan ibu mengenai ASI eksklusif baik, sikap ibu terhadap ASI eksklusif positif sebanyak 69,4%, 90,3% kondisi fisik payudara ibu normal, 80,6% teknik perawatan bayi baru lahir gabung, 69,4% dukungan keluarga mendukung dan 58,1% mendapat dukungan tenaga kesehatan.  Tidak ada hubungan yang bermakna antara umur ibu (p=0,778), pendidikan ibu (p=0,354), pekerjaan ibu (p=0,372), pengetahuan ibu mengenai ASI eksklusif (p=0,332), sikap ibu terhadap ASI eksklusif (p=0,243), kondisi fisik payudara ibu (p=0,405), teknik perawatan bayi baru lahir (p=0,372), dukungan keluarga (p=0,243) dan dukungan tenaga kesehatan (p=0,143) dengan keberhasilan pemberian ASI eksklusif.Simpulan: Tidak ada hubungan yang bermakna antara umur ibu, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, pengetahuan ibu mengenai ASI eksklusif, sikap ibu terhadap ASI eksklusif, kondisi fisik payudara ibu, teknik perawatan bayi baru lahir, dukungan keluarga dan dukungan tenaga kesehatan dengan keberhasilan pemberian ASI eksklusif.Kata Kunci: ASI Eksklusif; kondisi payudara ; pengetahuan ibu; dukungan keluarga; tenaga kesehatan.ABSTRACTBackground: Breastfeeding is the most effective way to keep infant’s healthy. Data of WHO for 2022 shows 44% of infant get exclusive breastfeeding. Indonesia's health profile data for 2022 states the national exclusive breastfeeding coverage is 56.9% and West Java Province is 59.4%. The data of Dinas Kesehatan Bekasi City in 2021, it was found that the achievement of exclusive breastfeeding for Bekasi City was 50.3%, while the achievement of the UPTD Puskesmas Marga Jaya was 22.78%, which is the puskesmas with the low achievement exclusive breastfeeding in Bekasi City.Objective : To find out the relationship between age, education, occupation, knowledge. mother’s attitude, physical condition of mother’s breasts, newborn care techniques, family support and health worker support with the success of exclusive breastfeeding for breastfeeding mothers in the UPTD Puskesmas Marga Jaya Bekasi City in 2022. Methods: The research used a survey methode through a cross sectional approach and a sampling technique by total sampling, 62 respondents, mothers of 6-11 month’s infants and using a Chi-Square test.                                           Results: The research found that 53.2% respondents succeeded in giving exclusive breastfeeding, 74.2% mothers aged 20-35 years, 62.9% mothers with secondary and higher education levels, 80.6% housewife, 93.5% had good knowledge of mothers about exclusive breastfeeding, 69.4% had positive attitudes about exclusive breastfeeding, 90.3% had normal physical condition of the mother's breasts, 80,6% technique care for newborn rooming in, 69.4% had family support supported and 58.1% had received support from health workers. There was no significant relationship between mother's age (p=0.778), mother's education (p=0.354), mother's occupation (p=0.372), mother's knowledge about exclusive breastfeeding (p=0.332), mother's attitude about exclusive breastfeeding (p=0.243 ), physical condition of the mother's breast (p=0.405), newborn care techniques (p=0.372), family support (p=0.243), support from health workers (p=0.143) with the success of exclusive breastfeeding.Conclusion: There is no significant relationship between mother's age, mother's education, mother's occupation, mother's knowledge about exclusive breastfeeding, mother's attitude about exclusive breastfeeding, physical condition of mother's breast, newborn care techniques, family support and health worker support with the success of exclusive breastfeeding.Keywords: Exclusive breast feeding; the physical condition of mother's breasts; mother’s knowledge;  family support; health worker.
MUTU GIZI PANGAN, INDEKS MASSA TUBUH DAN KADAR HEMOGLOBIN REMAJA PUTRI DI WILAYAH LOKUS STUNTING DESA SUKAMANTRI KABUPATEN TANGERANG Hanifah, Luthfi Nur; Nadiyah, Nadiyah; Dewanti, Lintang Purwara; Palupi, Khairizka Citra; Ronitawati, Putri
Journal of Nutrition College Vol 13, No 1 (2024): Januari
Publisher : Department of Nutrition Science, Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v13i1.41285

Abstract

ABSTRACTBackground: Indonesia faces nutritional problems, including nutritional anemia. One of the most susceptible groups to anemia is teenage girls, as evidenced by the still high prevalence of iron deficiency anemia in teenage girls. The behaviour of teenage girls who consume more vegetable foods than animal proteins affects haemoglobin levels, as well as teenage girls' habits defining body image make them restrict their daily intake of food, thereby causing the teenager to suffer from anemia.Objective: To determine the correlation between the nutrition quality of foods and body mass index (BMI) with haemoglobin levels in teenage girls in the Stunting Locus Area of Sukamantri Village, Tangerang Regency.Methods: Respondents to this study were teenage girls aged 12 to 18 years. The study was conducted in two primary and two secondary schools with a cross-sectional research design. Subjects 141 teenage girls were selected by multistage cluster sampling. Haemoglobin levels were measured using the Mission Hb, weight measurement using digital scales, and height using microtoise food. Nutritional quality was measured using food recall 2x24 hours. Independent variables were the nutritional quality of food and body mass index, and the dependent variable was haemoglobin levels. The bivariate analysis used the Spearman and Pearson correlation test correlation tests.Results: The average haemoglobin level is 13.0 ± 1.40 g/dL. The Z-score ratio is based on BMI-for-age -0.03 ± 1.3 z-score, and the median quality of food nutrition value of food is 62.26±1.19%. There are no significant correlations between the nutritional quality of food, body mass index and haemoglobin levels of teenage girls (p>0.05).Conclusion: The nutritional value of food, body mass index, and haemoglobin levels are not significantly correlated. Keywords: Body Mass Index; Hemoglobin; Nutritional Quality of Food; Teenage Girls ABSTRAKLatar Belakang: Indonesia menghadapi permasalahan gizi, termasuk anemia gizi. Salah satu kelompok yang paling rentan terkena anemia adalah remaja putri, hal ini dibuktikan dengan masih tingginya prevalensi anemia defisiensi besi pada remaja putri. Perilaku remaja putri yang lebih banyak mengonsumsi makanan nabati dibandingkan protein hewani mempengaruhi kadar hemoglobin, begitu pula dengan kebiasaan remaja putri. Penurunan citra tubuh membuat mereka membatasi asupan makanan sehari-hari, sehingga menyebabkan remaja tersebut menderita anemia.Tujuan: Mengetahui hubungan kualitas gizi makanan dan indeks massa tubuh (IMT) dengan kadar hemoglobin pada remaja putri di wilayah Lokus Stunting Desa Sukamantri Kabupaten Tangerang.Metode: Responden penelitian ini adalah remaja perempuan berusia 12 sampai 18 tahun. Penelitian dilakukan di empat sekolah, dua sekolah dasar dan dua sekolah menengah dengan desain penelitian cross-sectional.  Sebanyak 141 responden remaja putri yang dipilih secara multistage cluster sampling. Kadar hemoglobin diukur menggunakan Mission Hb, pengukuran berat badan menggunakan timbangan digital dan tinggi badan menggunakan microtoise. Kualitas gizi pangan diukur menggunakan food recall 2x24 jam. Variabel bebas dalam penelitian ini yaitu kualitas gizi makanan dan indeks massa tubuh, sedangkan variabel terikat dalam penelitian ini yaitu kadar hemoglobin. Analisis bivariat menggunakan uji korelasi uji korelasi Spearman dan Pearson.Hasil: Rata-rata kadar hemoglobin 13.0 ± 1.40 g/dL. Rasio z-score berdasarkan BMI untuk usia -0.03 ±1.3 SD dan median kualitas makanan nilai gizi makanan adalah 62.26±1.19% Tidak ada hubungan yang bermakna antara kualitas gizi makanan, indeks massa tubuh dan kadar hemoglobin remaja putri (p>0.05).Simpulan: Nilai gizi makanan, indeks massa tubuh dan kadar hemoglobin tidak berhubungan nyata. Kata Kunci: Indeks Massa Tubuh; Kadar Hemoglobin; Mutu Gizi Pangan; Remaja Putri
INTERVENSI POSTER “POKEZI” DAN EFEKTIVITASNYA PADA PENGETAHUAN, SIKAP, DAN PERILAKU KONSUMSI PANGAN BERISIKO PADA SISWA KELAS X SMK PPN BANJARBARU Pitaloka, Anis Diah; Andrestian, Meilla Dwi; Anwar, Rosihan
Journal of Nutrition College Vol 13, No 3 (2024): Juli
Publisher : Department of Nutrition Science, Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v13i3.40815

Abstract

ABSTRACTBackround: The Riskesdas team (2018) reported that the proportion of risky consumption habits in adolescents aged 15-19 years which were more than 1 time per day was sweet food 52.30%, sweet drinks 63.67%, and food containing flavorings 73.29 % consumed more than once a day. Banjarbaru State SMK-PP students have poor food consumption habits. Thus, it is necessary to develop the poster media "Pokezi" and examine how effective it is on nutritional knowledge, attitudes, and risky food consumption behavior. Objective: This study aims to provide an intervention on the poster media "Pokezi" on differences in nutritional knowledge, attitudes, and risky food consumption behavior in class X students at SMK PP Negeri Banjarbaru, Banjarbaru City.Methods: This type of research is a quasi experiment. Members of the population are class X students of SMK PP Negeri Banjarbaru. Sampling in this study was non-probability sampling with purposive sampling technique. Each group of respondents was given time to fill out the pre-test and post-test questionnaires. Data analysis used the Wilcoxon signed test. Test the effectiveness of the media using the Kruskal Wallis test.Results: The results showed no significant difference α = 0.005 in the control group. Significantly different α = 0.005 in the Pokezi 1, 2, and 3 poster media experiencing changes in knowledge, attitudes, and risky food consumption behavior. Conclusions: Pokezi 3 shows the highest effectiveness for changing the mean rank of knowledge and behavior of 53.50 and 50.78. Pokezi 1 shows the highest effectiveness for changing the mean rank attitude of 51.38.Keywords: Knowladge of Nutrition; Attitudes; Behavior; Risky Food; Posters ABSTRAKLatar Belakang : Tim Riskesdas (2018) melaporkan bahwa, proporsi kebiasaan konsumsi berisiko pada remaja usia 15-19 tahun yang lebih dari sama dengan 1 kali per hari adalah makanan manis 52,30%, minuman manis 63,67%, dan makanan mengandung penyedap 73,29% yang dikonsumsi lebih dari sekali sehari. Siswa SMK-PP Negeri Banjarbaru memiliki kebiasaan konsumsi pangan yang kurang baik. Dengan demikian, perlu dikembangkan media poster “Pokezi” dan diteliti bagaimana efektivitasnya terhadap pengetahuan gizi, sikap, dan perilaku konsumsi pangan berisiko.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk memberikan intervensi media poster “Pokezi” pada perbedaan pengetahuan gizi, sikap, dan perilaku  konsumsi pangan berisiko pada siswa kelas X di SMK PP Negeri Banjarbaru, Kota Banjarbaru. Metode: Jenis penelitian ini adalah quasi eksperiment. Anggota populasi yaitu siswa kelas X SMK PP Negeri Banjarbaru.  Pengambilan sampel dalam penelitian ini secara non probability sampling dengan teknik purposive sampling. Setiap kelompok responden diberikan waktu mengisi kusioner pre- test dan posttest. Analisis data menggunakan Wilcoxon signed test. Uji efektivitas media menggunakan uji Kruskal Wallis.Hasil: Hasil penelitian menunjukan berbeda tidak nyata α = 0,005 pada kelompok kontrol.  Berbeda nyata α = 0,005 pada media poster Pokezi 1, 2, dan 3 mengalami perubahan terhadap pengetahuan, sikap, dan perilaku konsumsi pangan berisiko. Kesimpulan: Pokezi 3 menunjukan efektivitas tertinggi untuk perubahan mean rank pengetahuan dan perilaku sebesar 53,50 dan 50,78. Pokezi 1 menunjukan efektivitas tertinggi untuk perubahan mean rank sikap sebesar 51,38. Kata Kunci: Pengetahuan Gizi, Sikap, Perilaku, Pangan Berisiko, Poster