cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Nutrition College
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 23376236     EISSN : 2622884X     DOI : -
Core Subject : Health, Social,
Journal of Nutrition College (P-ISSN : 2337-6236; E-ISSN : 2622-884X) diterbitkan oleh Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro sebagai media publikasi artikel-artikel ilmiah dalam biang Ilmu Gizi dengan skala terbit 4 kali dalam setahun, yaitu pada Januari, April, Juli, dan Oktober.
Arjuna Subject : -
Articles 704 Documents
HUBUNGAN INDEKS MASSA TUBUH, PERSEN LEMAK TUBUH, DAN AKTIVITAS FISIK DENGAN KADAR GULA DARAH REMAJA Naintina Lisnawati; Florentina Kusmiyati; Bagus Herwibawa; Budi Adi Kristanto; Anggit Rizkika
Journal of Nutrition College Vol 12, No 2 (2023): April
Publisher : Department of Nutrition Science, Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v12i2.36662

Abstract

ABSTRACT Background: Adolescent blood sugar levels in Indonesia can be influenced by nutritional status and body composition. Adolescents with obesity and low levels of physical activity, were at risk of having high blood sugar levels. Objectives: The purpose of this study was to analyze the correlation between body mass index, percent body fat, physical activity and adolescent blood sugar levels Methods: This research was an analytic observational study with a cross sectional design. The subjects in this study were 27 students at one of the univercity in Central Java with an age range of 18-23 years who were taken by purposive sampling. Blood sugar variables were measured using instantaneous blood sugar measurements with an easy touch glucometer. Body fat percentage was measured using a Bio Impedance Analyzer (BIA). Body weight was measured using a digital scale, height was measured using a microtoise. Physical activity levels were measured using the physical activity level (PAL) recall form. Meanwhile, the data on the characteristics of the subjects were collected through a questionnaire. Data analysis used in this study was Kendall's tau-b, Mann Whitney-U and Independent Sample T-test.Results: The blood sugar levels in this study were all in the normal category. The mean blood sugar level for teenagers is 110.56 ± 21.66. Most of the body mass index (55.6%) of adolescents are included in the normal category. The majority of adolescents have a body fat percentage category of overweight as much as 37% and obesity as much as 37%. Based on the results of the analysis, it was found that there was no relationship between percent body fat, BMI, and physical activity with sugar levels.Meanwhile, there was a correlation between age and blood sugar levels (p= 0.012 r=0.380). In addition, there was a difference in the average percentage of body fat for male and female where female have more fat than male.Conclusion: Body mass index, percent body fat, and physical activity are not related to blood sugar levels. Age is another variable in this study that is related to blood sugar levels Keywords: Adolescents; Body fat percent; Blood sugar; BMI; Physical activityABSTRAK Latar belakang: Kadar gula darah remaja di Indonesia dapat dipengaruhi oleh status gizi dan komposisi tubuh. Remaja dengan status gizi obesitas berisiko memiliki kadar gula darah yang tinggi. Tingkat aktivitas fisik remaja yang rendah juga berisiko meningkatkan kadar gula darah.Tujuan: Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan indeks massa tubuh, persen lemak tubuh, dan aktivitas fisik dengan kadar gula darah remaja.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional. Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri di Jawa Tengah berjumlah 27 orang dengan rentang usia 18-23 tahun yang diambil secara purposive sampling. Variabel gula darah diukur menggunakan pengukuran gula darah sesaat dengan easy touch glucometer. Persen lemak tubuh diukur dengan Bio Impedance Analyzer (BIA). Berat badan diukur dengan menggunakan timbangan digital, tinggi badan diukur menggunakan microtoise. Tingkat aktivitas fisik diukur menggunakan form recall physical activity level (PAL).  Sedangkan data karakteristik subjek dikumpulkan melalui kuesioner. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Kendall’s tau-b, Mann Whitney U, dan Independen Sample T-test.Hasil: Kadar gula darah semaja dalam penelitian ini seluruhnya dalam kategori normal. Rerata kadar gula darah sesaat remaja adalah 110,56 ± 21,66. Sebagian besar (55,6%) indeks massa tubuh remaja termasuk dalam kategori normal. Sebagian besar remaja memiliki kategori persen lemak tubuh overweight sebanyak 37% dan obesitas sebanyak 37%. Berdasarkan hasil analisis diperoleh hasil bahwa tidak ada hubungan antara persen lemak tubuh, IMT, dan aktivitas fisik dengan kadar gula darah. Namun, ada hubungan antara usia dengan kadar gula darah (p= 0,012  r=0,380).Simpulan:  Indeks massa tubuh, persen lemak tubuh, dan aktivitas fisik tidak berhubungan dengan kadar gula darah, terdapat variabel lain dalam penelitian ini yang berhubungan dengan kadar gula darah yaitu usia.Kata Kunci : Aktivitas fisik; Gula darah; IMT; Persen lemak tubuh; Remaja 
EFEKTIVITAS BERBAGAI JENIS METODE PELATIHAN UNTUK MENINGKATKAN KAPASITAS KADER POSYANDU DALAM UPAYA PENCEGAHAN STUNTING PADA BALITA Azka Khansa Hanifah; Yayuk Hartriyanti
Journal of Nutrition College Vol 12, No 2 (2023): April
Publisher : Department of Nutrition Science, Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v12i2.36823

Abstract

ABSTRACT Background: Stunting is a chronic nutritional problem that happens to toddlers in the world nowadays. One of the efforts to prevent stunting is performed by integrated health service (Posyandu) cadres with good capacity to provide optimal services at Posyandu. One way to increase the capacity of cadres is by providing education through various training methods and media.Objectives: In this literature review, various types of cadre capacity building methods will be analyzed to find out which method is the most effective and the best to affect cadre capacity.Methods: The analysis of the literature review was carried out by searching for specific keywords through the Google Scholar electronic database from 2019 – 2021 with various inclusion and exclusion criteria. The effectiveness of various training methods was analyzed based on the p-value and the percentage difference between before and after the training intervention. Results: Various types of capacity can be identified as outcomes, including knowledge, attitudes, skills, performance, and self-efficacy of cadres. The combination of lectures with focus group discussions (FGD) and lectures with audiovisual media is the most effective method for increasing knowledge. Meanwhile, lectures with booklets combined with brainstorming and practice are an effective method for improving attitudes and skills of the cadres. Conclusion: Posyandu cadre training strategies in order to increase capacity can be carried out by utilizing various combinations of methods that act as a stimulus for more than one sense, this can increase the ability of Posyandu cadres to receive and understand information related to stunting. Therefore the role of preventing stunting by Posyandu cadres can be maximized.Keywords: Cadres capacity; Stunting; Training methods ABSTRAKPendahuluan: Stunting adalah masalah gizi kronis yang dialami oleh balita di dunia saat ini. Upaya pencegahan stunting salah satunya diperankan oleh kader Pos pelayanan terpadu (Posyandu) yang perlu memiliki kapasitas baik agar dapat memberikan pelayanan optimal di Posyandu. Salah satu cara untuk meningkatkan kapasitas kader adalah dengan memberikan pelatihan atau pendidikan melalui berbagai metode dan media pelatihan.Tujuan: Literature review ini bertujuan untuk mengetahui metode peningkatan kapasitas kader yang paling efektif dalam memengaruhi kapasitas kader, meliputi pengetahuan, keterampilan, sikap, self-efficacy, dan performa.Metode: Analisis kajian literature review dilakukan melalui pencarian kata kunci spesifik melalui database elektronik Google Scholar dari tahun 2019 – 2021 dengan berbagai kriteria inklusi dan eksklusi. Efektivitas berbagai metode pelatihan dianalisis berdasarkan p-value dan persentase besar perubahan antara sebelum dan setelah interversi pelatihan.Hasil: Dapat diidentifikasi berbagai jenis kapasitas yang menjadi outcome penelitian, meliputi pengetahuan, sikap, keterampilan, performa, dan self-efficacy dari kader. Kombinasi ceramah dengan focus group discussion (FGD) dan ceramah dengan pemutaran video merupakan metode yang paling efektif dalam meningkatkan pengetahuan. Ceramah dengan pemberian booklet yang disertai brainstorming dan praktik merupakan metode yang efektif dalam meningkatkan sikap dan keterampilan.Simpulan: Strategi pelatihan kader Posyandu dalam rangka meningkatkan kapasitas dapat dilakukan dengan memanfaatkan berbagai kombinasi metode sekaligus yang berperan sebagai pemberi stimulus lebih dari satu panca indera, hal ini dapat meningkatkan kemampuan kader dalam menerima dan memahami informasi terkait stunting.Kata kunci: Metode pelatihan; Kapasitas kader; Stunting
NUTRIENT DENSITY COOKIES RUTF (READY TO USE THERAPEUTIC FOOD) DARI PANGAN LOKAL UNTUK INTERVENSI BALITA WASTING Ria Ambarwati; Vera Asti Rahmawati; Fitriani Fitriani
Journal of Nutrition College Vol 12, No 2 (2023): April
Publisher : Department of Nutrition Science, Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v12i2.37832

Abstract

ABSTRACT Background: Ready to Use Therapeutic Food (RUTF) is recommended in giving interventions to toddlers with uncomplicated wasting. Kepok banana (Musa paradisiaca L) and peanuts (Arachis hypogaea L) are local food ingredients that are easily available and processed into RUTF as an alternative to RUTF-WHO.Purpose: Developing RUTF from local food with nutrient density that meets RUTF-WHO standards, and has organoleptic characteristics that are acceptable to toddlers.Methods: Experimental research with completely randomized design with 2 repetitions. The research was divided into three stages, namely developing RUTF cookies with the main ingredient kepok banana flour with variations of peanut substitution 100 grams, 125 grams and 150 grams, nutritional value analysis, acceptance testing using 25 somewhat trained panelists and 20 toddlers aged 2-5 year. Analysis of nutritional value data was tested by ANOVA, the acceptance test of somewhat trained panelists was tested by Friedman and the acceptance test on toddlers was analyzed descriptively.Results: The higher the substitution of peanuts increased the levels of energy, protein, fat, and carbohydrates in RUTF cookies (per 100 grams), however, it could not reach the RUTF-WHO standard. The higher the substitution of peanuts, the higher the distinctive aroma and taste of peanuts, the texture is not too crunchy, and the color is darker. There was no difference in the acceptability of cookie panelists under five RUTF F1 and F2.Conclusion: RUTF Cookies F1 and F2 can be recommended as variations of RUTF. Further research is needed by modifying the amount and composition of ingredients to increase the energy, fat and carbohydrate levels of RUTF cookies. Keywords: Cookies; Kepok banana; Peanuts; RUTF.ABSTRAKLatar Belakang: Ready to Use Therapeutic Food (RUTF) direkomendasikan dalam pemberian intervensi pada balita wasting tanpa komplikasi. Pisang kepok (Musa paradisiaca L) dan kacang tanah (Arachis hypogaea L) merupakan bahan pangan lokal yang mudah didapatkan dan diolah menjadi RUTF sebagai alternatif pengganti RUTF-WHO.Tujuan: Mengembangkan RUTF dari pangan lokal dengan densitas zat gizi yang memenuhi standar RUTF-WHO, serta memiliki karakteristik organoleptik yang dapat diterima oleh balitaMetode: Penelitian eksperimen dengan desain Rancangan Acak Lengkap 2 kali ulangan. Penelitian terbagi menjadi tiga tahap, yaitu pengembangan cookies RUTF dengan bahan utama tepung pisang kepok dengan variasi substitusi kacang tanah 100 gram, 125 gram dan 150 gram, analisis nilai gizi, pengujian daya terima menggunakan 25 panelis agak terlatih dan 20 balita usia 2 – 5 tahun. Analisis data nilai gizi diuji dengan ANOVA, Uji daya terima panelis agak terlatih diuji dengan Friedman dan uji daya terima pada balita dianalisis secara deskriptif.Hasil: Semakin tinggi substitusi kacang tanah meningkatkan kadar energi, protein, lemak, dan karbohidrat cookies RUTF (per 100 gram), akan tetapi belum dapat mencapai standar RUTF-WHO. Semakin tinggi substitisi kacang tanah memberikan aroma dan rasa khas kacang tanah yang lebih tinggi, tekstur yang tidak terlalu renyah, dan warna yang lebih gelap. Tidak terdapat perbedaan daya terima panelis balita cookies RUTF F1 dan F2.Simpulan : Cookies RUTF F1 dan F2 dapat direkomendasikan sebagai variasi RUTF. Perlu penelitian lanjutan dengan melakukan modifikasi jumlah maupun komposisi bahan untuk meningkatkan kadar energi, lemak dan karbohidrat cookies RUTFKata Kunci: Cookies; Kacang tanah; Pisang kepok; RUTF.
HUBUNGAN SCREEN TIME, AKTIVITAS FISIK, DAN BEBAN KERJA PADA IBU BEKERJA TERHADAP PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF-DIRECT BREASTFEEDING SAAT PANDEMI COVID-19 Kristina Magdalena; Megah Stefani
Journal of Nutrition College Vol 12, No 2 (2023): April
Publisher : Department of Nutrition Science, Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v12i2.37666

Abstract

ABSTRACTABSTRACT Background: Work from home (WFH) has various positive and negative impacts. Working mothers have enough time for their families. One of which is exclusive breastfeeding for their babies. However, the transition of work patterns to WFH can increase device usage or screen time among working mothers. So, it affects lifestyle behaviors related to physical activity. In addition, the workload during WFH tends to be higher and it affects mothers in carrying out their roles as mothers and employees. Obejective: This study aims to determine the association between screen time, physical activity, and workload among working mothers with exclusive breastfeeding through direct breastfeeding and mixed breastfeeding during the Covid-19 pandemic.Methods: This research was conducted on 27 breastfeeding mothers with≥ 6 months and ≤ 2 years old children. This research design is a cross-sectional study and sampling techniques using purposive sampling. Data analysis using spearman rank correlation. Results: Results reveal that there is no association between screen time (television, laptop or computer, and smartphone) with the breastfeeding method with p>0,05 (p-value = 0.239; p-value = 0.403; p-value= 0.714) and there is no association between physical activity with screen time (TV, laptop or computer, and smartphone) with p>0,05 (p-value = 0.692; p-value = 0.277; p-value = 0.239). But, there is an association between workload and breastfeeding through direct breastfeeding and mixed breastfeeding with p<0.05 (p=0.036). Conclusion:  Screen time and breastfeeding methods have no association. There is also no association between screen time and physical activity. However, there is an association between workload and breastfeeding methods in direct breastfeeding and mixed breastfeeding. Keywords : Breastfeeding methods; Exclusive breastfeeding; Physical Activity; Screen time; WorkloadABSTRAKLatar belakang: Work from Home (WFH) memiliki berbagai dampak positif dan negatif. Ibu yang bekerja secara WFH cenderung memiliki waktu yang cukup untuk keluarga salah satunya yaitu pemberian ASI eksklusif bagi bayinya. Namun, transisi pola kerja ke WFH dapat meningkatkan penggunaan perangkat berlayar atau screen time pada ibu bekerja sehingga memengaruhi perilaku gaya hidup yang berkaitan dengan aktivitas fisik. Selain itu, beban kerja saat WFH cenderung lebih tinggi sehingga memengaruhi ibu dalam menjalankan peran menjadi ibu dan pekerja.Tujuan: mengetahui hubungan screen time, aktivitas fisik, dan beban kerja pada ibu bekerja terhadap pemberian ASI eksklusif secara direct breastfeeding dan mixed breastfeeding saat pandemi covid-19.Metode: Metode penelitian ini dilakukan kepada 27 ibu menyusui yang bekerja WFH dan memiliki bayi berusia ≥ 6 bulan dan ≤ 2 tahun. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan penentuan subjek secara purposive. Analisis data menggunakan uji spearman rank correlation.Hasil:  tidak terdapat hubungan antara screen time (TV, laptop atau komputer, dan handphone) dengan metode menyusui dengan nilai p>0,05 (p-value = 0,239; p-value = 0,403; p-value=0,714) dan tidak terdapat hubungan antara aktivitas fisik dengan screen time TV, laptop atau komputer, dan handphone dengan nilai p>0,05 (p-value = 0,692; p-value = 0,277; p-value = 0,239). Terdapat hubungan antara beban kerja dengan metode menyusui secara direct breastfeeding dan mixed breastfeeding dengan p-value = 0,036.Simpulan: Screen time dan metode menyusui tidak memiliki hubungan. Tidak terdapat juga hubungan antara screen time dengan aktivitas fisik. Namun, terdapat hubungan antara beban kerja dengan metode menyusui secara direct breastfeeding dan mixed breastfeeding.Kata kunci : ASI eksklusif; Aktivitas fisik; Beban kerja; Metode pemberian ASI; Screen time
THE EFFECT OF TABURIA FORTIFICATION AND NUTRITION EDUCATION OF MOTHERS TO ON NUTRITIONAL STATUS OF 12-24 MONTHS OLD CHILDREN IN INDONESIA : RANDOMIZED CONTROLLED TRIAL STUDY Yulia Wahyuni; Maria Mexitalia; M. Zen Rahfiludin
Journal of Nutrition College Vol 12, No 3 (2023): Juli
Publisher : Department of Nutrition Science, Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v12i3.34518

Abstract

ABSTRACTBackground: Mother's nutritional knowledge and parents' feeding practices will influence children's eating behavior which have an impact on the child's growth.Objective: The purpose of this study was to determine the effects of Taburia fortification and nutrition education of mothers on the nutritional status of children in Waipare Public health center in East Nusa Tenggara.Materials and Methods: This study was a randomized controlled trial. A total of 180 mothers and their children aged 12-24 months who had malnourished (z-score -3 to -2). The group divided into teams were the intervention group (IG) (n=90) and the control group (CG) (n=90). The IG give intervention for three months. The mothers were given nutrition education, while their children were given taburia. The CG, mothers were given nutrition education. Data feeding rules obtained using a self-administered feeding practice-Questionnaire (FPQ). Dietary intake assessment of macronutrient and micronutrient three-day food records, nutritional status, and percentage of child's sick day was conducted before and after the intervention.Results: The result of the study showed that there was no significant difference in the mean increase (P> 0.01) between knowledge scores in IG and CG, post-intervention. Lower percentage of sickness among children in IG than CG. The average nutrient intake, WAZ (0.97±0.52), WLZ (1.02±0.42) of IG increased and was higher than CG after the intervention. The LAZ of IG increased (0.34±0.66 SD) while on the CG declined (0.27±0,31 SD).Conclusion: Thus, The Taburia fortification intervention was useful in improving WAZ, LAZ, WLZ in children who experienced malnutrition, but the intervention nutrition education of mothers can increase WAZ and WLZ. 
PERBEDAAN TINGKAT PENGETAHUAN GIZI, KETERSEDIAAN PANGAN RUMAH TANGGA, DAN KONSUMSI SAYURAN PADA MASYARAKAT PENERIMA P2KP DAN NON P2KP Rahmawati Rasidin; Prita Dhyani Swamilaksita; Vitria Melani; Putri Ronitawati; Mury Kuswari
Journal of Nutrition College Vol 12, No 3 (2023): Juli
Publisher : Department of Nutrition Science, Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v12i3.36723

Abstract

ABSTRAKLatar belakang: Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) merupakan bagian dari Program Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP). Penerima program ini merupakan sekelompk wanita yang tergabung dalam kelompok wanita tani. Melalui program ini diharapkan masyarakat penerima program memiliki pengetahuan gizi yang lebih baik dan tercapainya ketahanan pangan di tingkat rumah tangga, terutama pada aspek ketersediaan dan konsumsi pangan, khususnya pada konsumsi sayuran.Tujuan: Mengetahui perbedaan tingkat pengetahuan gizi, ketersediaan pangan rumah tangga, dan konsumsi sayuran pada masyarakat penerima P2KP dan Non-P2KP.Metode: Penetian ini dilakukan pada bulan Maret 2021 – Agustus 2022 menggunakan analitik observasional dengan desain penelitian cross-sectional. Teknik pengambilan sampel purposive sampling sebanyak 43 penerima P2KP dan 43 Non-P2KP. Pengambilan data tingkat pengetahuan gizi menggunakan kuesioner pengetahuan gizi, pada ketersediaan pangan rumah tangga menggunakan kuesioner HFIAS (Household Food Insecurity Access Scale), serta konsumsi sayuran menggunakan kuesioner FFQ (Food Frequency Questionnaire). Analisis data menggunakan uji statistik t-test independen dan Mann-Whitney dengan tingkat kepercayaan 95%.Hasil: Pada penerima P2KP nilai rata-rata tingkat pengetahuan gizi sebesar 93,00 sedangkan pada Non-P2KP memiliki nilai rata-rata 82,10 yang menunjukkan ada perbedaan dengan nilai (p=0,001). Pada variabel ketersedian pangan rumah tangga penerima P2KP memiliki skor nilai rata-rata 2,27 dan Non-P2KP memiliki skor nilai rata-rata sebesar 5,18 dengan nilai (p=0,001). Pada variabel konsumsi sayuran, penerima P2KP mengonsumsi rata-arta 25,276 kali per bulan, sedangkan pada Non-P2KP 9,102 kali per bulan (p=0,001).Simpulan: Ada perbedaan tingkat pengetahuan gizi, ketersediaan pangan rumah tangga, dan konsumsi sayuran pada masyarakat Penerima P2KP dan Non-P2KP. 
NARRATIVE LITERATURE REVIEW: MEDIA EDUKASI KALENDER BERPENGARUH TERHADAP PENINGKATAN PENGETAHUAN DAN PERUBAHAN PERILAKU MENGENAI STUNTING DI INDONESIA Intan Yusuf Habibie; Agni Nur Imanti; Ghina Putri Dyanti; Rohis Inggrit Aprilia
Journal of Nutrition College Vol 12, No 3 (2023): Juli
Publisher : Department of Nutrition Science, Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v12i3.37648

Abstract

ABSTRAKLatar belakang: Berdasarkan data terakhir SSGI (Survei Status Gizi Indonesia) pada tahun 2021, stunting masuk dalam kategori sedang dengan prevalensi kejadian stunting di Indonesia sebesar 24,4%. Salah satu upaya intervensi untuk mencegah stunting dapat dilakukan dimulai dari calon pengantin dan ibu balita dengan meningkatkan pengetahuan terkait stunting. Peningkatan pengetahuan dan perubahan perilaku dapat dibantu dengan suatu media seperti kalender. Kalender dapat dijadikan sebagai upaya preventif yang dapat memberikan dampak positif yang dapat meningkatkan pengetahuan dan sikap sehingga dapat merubah perilaku terkait upaya pencegahan kejadian stunting.Tujuan: Mengetahui efektifitas kalender dalam peningkatan pengetahuan dan perubahan perilaku mengenai stunting di Indonesia.Metode: Penelitian ini berupa literature review dengan metode naratif serta mengkaji dua artikel berdasarkan tujuan, metode dan hasil yang disajikan dari artikel tersebut. Pencarian artikel dilakukan dengan menggunakan artikel nasional dan internasional yang ditelusuri dengan database Google Scholar, ScienceDirect dan Academia.edu.Hasil: Hasil kajian literatur menyatakan bahwa edukasi gizi menggunakan media kalender dapat meningkatkan pengetahuan terkait stunting dan upaya pencegahan stunting. Selain itu, penggunaan media kalender dalam edukasi gizi juga dapat meningkatkan sikap terhadap perubahan perilaku, perspektif, dan praktik terhadap upaya peningkatan kesehatan pada ibu dan anak.Simpulan: Pemberian edukasi gizi kalender memiliki pengaruh dalam meningkatkan pengetahuan dan perubahan perilaku mengenai upaya pencegahan stunting di Indonesia. 
HUBUNGAN KONSUMSI SUPLEMEN PROTEIN DENGAN MASSA OTOT PADA ANGGOTA LEMBAH FITNESS CENTRE TAJEM, YOGYAKARTA Maria Wihelmina; Yuni Afriani; Endri Yuliati
Journal of Nutrition College Vol 12, No 3 (2023): Juli
Publisher : Department of Nutrition Science, Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v12i3.37720

Abstract

ABSTRAKLatar belakang: Suplemen merupakan produk kesehatan yang mengandung satu atau lebih zat yang bersifat nutrisi atau obat. Pembentukan massa otot yang optimal membutuhkan zat gizi, salah satunya adalah protein.Mempunyai massa otot yang baik menjadi salah satu tujuan seseorang mengikuti latihan pada fitness centre.Tujuan: Penelitian ini bertujuan unntuk mengetahui hubungan konsumsi suplemen protein dengan massa otot pada anggota  fitness centre di Lembah Fitness Centre Tajem.Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah observasional, dengan desain cross sectional. Jumlah responden dalam penelitian ini adalah 40 orang anggota fitness centre yang aktif dan berusia 20 – 35 tahun. Data konsumsi suplemen diperoleh dengan wawancara langsung menggunakan kuesioner konsumsi suplemen sedangkan massa otot diperoleh dari pengukuran LOLA (lingkar otot lengan atas) dan LILA (lingkar lengan atas) dengan 3 kali pengulangan. Analisa data menggunakan uji chi-square.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden tidak mengkonsumsi suplemen yaitu sebanyak 25 orang (62,5%) dan memiliki massa otot dalam kategori normal yaitu 33 orang (82,5%). Hasil analisis statistik menunjukkan tidak ada hubungan antara konsumsi suplemen dan massa otot (p > 0,05).Simpulan: Konsumsi suplemen protein tidak berhubungan dengan massa otot. Diperlukan penelitian lebih lanjut dengan mengendalikan variabel-variabel perancu seperti asupan protein dari makanan dan intensitas latihan. 
PERSEPSI PERAWAT TERHADAP INSTRUMEN SKRINING MST DAN SNST DI RSUD CIDERES Rd. Yadi Andayani; Ibnu Zaki; Farida Farida
Journal of Nutrition College Vol 12, No 3 (2023): Juli
Publisher : Department of Nutrition Science, Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v12i3.36266

Abstract

ABSTRAKLatar belakang: Kejadian malnutrisi masih menjadi masalah di rumah sakit di Indonesia. Sebanyak 20-50% pasien mengalami malnutrisi di rumah sakit sehingga meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas, meningkatkan resiko komplikasi penyakit, memperpanjang terapi medis dan masa rawat inap sebanyak 1,6 kali. Kejadian malnutrisi di rumah sakit dapat diminimalisir apabila proses skrining gizi pasien baru dilakukan secara efektif. RSUD Cideres Kabupaten Majalengka menggunakan Malnutrition Screening Tool (MST) sebagai instrument skrining gizi. Namun penggunaan MST memiliki keterbatasan dalam mengkuantifikasikan penurunan berat badan . Simple Nutrition Screening Tool (SNST) merupakan instrumen skrining gizi yang dikembangkan menurut populasi Indonesia. Oleh karena itu instrumen SNST dapat menjadi solusi alternatif dalam mengatasi kelemahan MST.Tujuan: membandingkan persepsi perawat dalam penggunaan MST dan SNST sebagai instrument skrining gizi di RSUD Cideres Kabupaten Majalengka.Metode: Metode penelitian yang digunakan yaitu metode kualitatif dengan desain penelitian deskriptif. Data penelitian diperoleh melalui wawancara mendalam, kemudian dilakukan triangulasi metode dan referensi wawancara mendalam difokuskan pada pada bagaimana pemahaman, cara pandang, atau penafsiran narasumber tentang aspek kemudahan penggunaan kedua instrumen tersebut.Hasil: sebanyak lima narasumber menyatakan MST lebih unggul dibandingkan dengan SNST. Berdasarkan durasi, pelaksanaan skrining gizi dengan MST lebih singkat dibanding SNST. Lima narasumber menyatakan instrument MST lebih mudah dipelajari daripada SNST. Instrumen MST berdasarkan kebutuhan lebih sesuai jika dibandingkan SNST karena lebih sederhana sehingga lebih efisien. Sebagian narasumber menyatakan bahwa pertanyaan yang terdapat pada MST lebih tepat untuk digunakan karena lebih mudah dipahami dan di sampaikan kepada pasien.Simpulan: Penggunaan MST sebagai instrument skrining gizi lebih disukai dibandingkan dengan SNST. 
HUBUNGAN ANTARA FOOD TABOO DAN KEPATUHAN MENGKONSUMSI TABLET TAMBAH DARAH DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA IBU HAMIL Rifatul Imaliyah; Lirista Dyah Ayu Oktafiani; Farida Wahyu Ningtyias
Journal of Nutrition College Vol 12, No 3 (2023): Juli
Publisher : Department of Nutrition Science, Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v12i3.36973

Abstract

ABSTRACTBackground: Factors that cause anemia in pregnancy include food taboos and adherence to taking iron tablets. The application of food taboos affects the diversity of food consumption so that it has an impact on meeting the need for iron. The Iron supplement program is a government effort to reduce the incidence of anemia in pregnancy.Objectives: This study aims to analyze the relationship between food taboos and compliance with consuming iron supplement tablets with the incidence of anemia in pregnant women.Methods: This type of research was survey research with a cross-sectional approach. A sample of 35 people from 37 pregnant women was selected using simple random sampling. Samples were randomly selected using software on a mobile phone. This research was conducted on September 5-23, 2022. In this study, food taboos and adherence to consuming iron supplement tablets were the independent variables, and the dependent variable was anemia in pregnant women. In this study, primary data included: general characteristics of the respondents (age, working status, education, distance between pregnancies, family income), food taboos and adherence to consuming iron supplement tablets. Primary data was collected by filling out a questionnaire and secondary data related to Hb in the second trimester of pregnant women was obtained from the MCH handbook. Bivariate analysis using chi square.Results: The results showed that 40.0% of the respondents who applied food taboos had anemia and 25.7% of them experienced anemia. Based on the results of the chi-square test, a p-value of 0.001 was obtained, which means that there is a relationship between food taboos and the incidence of anemia in pregnant women. 28.6% of respondents get anemia from 45.7% of respondents who were non-compliant in consuming iron-supplement tablets and the results of the chi-square test between adherence to consuming iron-supplement tablets and the incidence of anemia in pregnant women obtained a p-value of 0.001, which means there is a relationship between both;Conclusions: There is a relationship between food taboos and compliance with consuming iron supplement tablets with the incidence of anemia in pregnant women  in the working area of Sukowono Public Health Center, Jember Regency.Keyword: Anemia; Food taboos; The adherenceABSTRAKLatar Belakang: Faktor penyebab anemia kehamilan diantaranya adalah food taboo dan kepatuhan mengkonsumsi tablet tambah darah. Penerapan food taboo mempengaruhi keberagaman konsumsi pangan sehingga berdampak terhadap  pemenuhan kebutuhan zat besi. Program pemberian tablet tambah darah merupakan upaya pemerintah untuk menurunkan kejadian anemia kehamilan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara food taboo dan kepatuhan mengkonsumsi tablet tambah darah dengan kejadian anemia pada ibu hamil.Metode: Jenis penelitian ini yakni penelitian survei dengan pendekatan cross-sectional. Sampel sebanyak 35 orang dari 37 ibu hamil yang dipilih menggunakan simple random sampling. Sampel dipilih secara acak dengan menggunakan perangkat lunak pada handphone. Penelitian ini dilaksanakan pada 5-23 September 2022. Dalam penelitian ini, food taboo dan kepatuhan mengkonsumsi tablet tambah darah merupakan variabel bebas (independen), serta variabel terikatnya adalah anemia pada ibu hamil. Pada penelitian ini data primer meliputi karakteristik umum responden (usia, status bekerja, pendidikan, jarak kehamilan, pendapatan keluarga), food taboo dan kepatuhan dalam mengkonsumsi tablet tambah darah. Data primer dikumpulkan melalui pengisian  kuesioner dan data sekunder terkait hb ibu hamil trimester II diperoleh dari buku KIA. Analisis bivariate menggunakan chi square.Hasil: Hasil penelitian dinunjukkan dari 40% responden yang menerapkan food taboo sebesar 25,7% responden mengalami anemia. Berdasarkan hasil uji chi-square memperoleh p-value sebesar 0,001 yang artinya terdapat hubungan antara food taboo dengan kejadian anemia pada ibu hamil. Sebesar 28,6% responden mengalami anemia dari 45,7% responden yang tidak patuh dalam mengkonsumsi tablet tambah darah dan hasil uji chi square antara kepatuhan mengkonsumsi tablet tambah darah dengan kejadian anemia pada ibu hamil hamil mendapatkan p-value sebesar 0,001 yang artinya terdapat hubungan diantara keduanya.Simpulan: Terdapat hubungan antara food taboo dan kepatuhan mengkonsumsi tablet tambah darah dengan kejadian anemia pada ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Sukowono Kabupaten Jember.Kata Kunci : Anemia, Food taboo, Kepatuhan