cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 21 Documents
Search results for , issue "Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014" : 21 Documents clear
KARAKTERISTIK AGAR RUMPUT LAUT Gracilaria verrucosa BUDIDAYA TAMBAK DENGAN PERLAKUAN KONSENTRASI ALKALI PADA UMUR PANEN YANG BERBEDA Santika, Laras Guntur; Ma'ruf, Widodo Farid; Romadhon, -
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (362.403 KB)

Abstract

Rumput laut merupakan salah satu komoditi perikanan yang memiliki nilai ekonomis tinggi, karena pemanfaatannya yang demikian luas, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam dunia industri. Jenis Gracilaria banyak digunakan sebagai bahan baku pembuatan agar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi perlakuan alkali dan umur panen rumput laut Gracilaria verrucosa yang berbeda terhadap karakteristik sifat fisika dan kimiawi agar rumput laut. Mengetahui jumlah konsentrasi perlakuan alkali yang optimal dan waktu panen yang tepat untuk budidaya rumput laut sehingga diperoleh kualitas dan mutu agar yang baik. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah rumput laut G.verrucosa, NaOH, CaOCL2, KCl, CH3COOH dan aquades. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode experimental laboratories menggunakan rancangan percobaan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan dua perlakuan. Data dianalisa menggunakan analisa sidik ragam (ANOVA), dilanjutkan dengan Beda Nyata Jujur (BNJ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor perbedaan umur panen berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap seluruh parameter kecuali rendemen. Faktor konsentrasi NaOH berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap semua parameter. Interaksi kedua faktor berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap semua parameter kecuali viskositas. Tepung agar dengan bahan baku rumput laut Gracilaria verrucosa umur panen 60 hari dan perlakuan alkali penambahan NaOH 5% merupakan produk yang terbaik dengan kriteria mutu: rendemen (13,29%), kekuatan gel (355,35 g/cm2); viskositas (18,47 cP); kadar sulfat (10,03%); kadar air (12,64%); dan kadar abu (1,77%). Seaweed is one of fisheries commodities which has high economic value because its large utilization, both in daily or industry. Gracilaria species is widely used as raw material for making agar. The objective of this study was to determine different alkali concentrations and the effect of seaweed G.verrucosa harvesting times on the physical properties and chemical characteristics of seaweed agar. To know optimum concentration of alkali treatment in order and the exact harvesting times of seaweed cultivation to obtain good quality of agar. The material used in this study was seaweed G.verrucosa, NaOH, CaOCL2, KCl, CH3COOH and aquades. The method used in this study was experimental laboratories using Randomized Block Design (RBD) factorial of two factors. Data were analyzed using analysis of variance (ANOVA), continued by Honestly Significant Difference (HSD). The results showed that different harvesting times  had significant effect to (P<0.05) all parameters except the yield. Different NaOH concentrations had significant effect to (P<0.05) all parameters. Interaction of each factor had significant effect to (P<0.05) all parameters except viscosity. Seaweed Gracilaria verrucosa Agar flour with harvesting times 60 days and NaOH concentration 5% is the best treatment for producing agar which had quality criteria: yield (13.29%), gel strength (355.35 g/cm2); viscosity (18.47 cP); sulfate content (10.03%); water content (12.64%); and ash content (1.77%). 
PEMANFAATAN DAGINGIKAN TENGGIRI (Scomberomorus commersoni) DENGAN KONSENTRASI YANG BERBEDAPADA PEMBUATAN KERUPUK IKAN Zulfahmi, A Nova; Swastawati, Fronthea; Romadhon, -
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (276.828 KB)

Abstract

Kerupuk ikan yang beredar di masyarakat sebagian mengandung karbohidrat dan daya serap minyak yang tinggi. Penambahan gizi kerupuk dapat dilakukan dengan menambahkan tambahkan daging ikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan daging ikan dengan konsentrasi berbeda terhadap nilai organoleptik, karakteristik fisik dan kimia kerupuk. Rancangan percobaan yang digunakan adalah RAL satu faktor yang terdiri dari empat taraf dan satu kontrol dengan tiga kali ulangan. Faktor yang diamati adalah pemberian daging ikan dengan perbandingan daging:tepung tapioka  0 : 1 ; 1 : 1 ; 1,5 : 1 ; 2 : 1 ; 2,5 : 1. Data nilai uji  proksimat kerenyahan, daya kembang dan penyerapan minyak dianalisis menggunakan uji ANOVA dan Uji lanjut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbandingan pemberian daging ikan tenggiri dan tepung tapioka memberikan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap nilai proksimat, kerenyahan, daya kembang dan penyerapan minyak. Uji organoleptik nilai terbaik pada perbandingan 2,5:1 dengan nilai 7,89 ≤ m ≤ 7,95. Hasil penelitian menunjukkan kadar protein 2,09% - 20,71%; lemak 0,14% - 3,01%; air antara 4,99% - 8,81%; abu 0,42% - 2,86%; karbohidrat 68,43% - 88,54%; kerenyahan 565,24 gf – 939,18 gf; daya kembang 28,58% - 121,14% dan daya serap minyak 6,87% - 31,55%. Pemanfaatan daging ikan tenggiri dapat mempengaruhi nilai organoleptik, karakteristik fisik, kimia dan organoleptik kerupuk ikan. Some of fish crackers commonly found in community contain carbohydrates and high oil absorption.The nutritional addition of crackers can be done by addition of fish.The purpose of this research was to determinethe effect of flesh fish addition with different concentrations to the organoleptic, chemical and physical characteristics of crackers.The experimental design used was Completely Randomized Design with four levels and one control with three replications. Factors observed is a ratio of meat fish : tapioca flour which consist of 0 : 1 ; 1 : 1 ; 1,5 : 1 ; 2 : 1 ; 2,5 : 1. While control treatment was done by giving fish meat to starch 0:1. Data obtainedwere analysed using ANOVA test and followed by mean test. The results showed that spanish mackerel fishand tapioca flour gives significant effect (P<0,05) to the value of proximate (protein, fat, moisture, ash and carbohydrates), crispness, linear expansion, and oil absorption. Based on organoleptic test on fish crackers, the best value was resulted on ratio of meat fish : tapioca flour 2,5:1 with the value of 7,89 ≤ m ≤ 7,97. Based on the results, it was obtained that protein 2,09% - 20,71%; fat 0,14% - 3,01%; moisture 4,99% - 8,81%;  ash 0,42% - 2,86%; carbohydrate 68,43% - 88,54%; crispness 939,18 gf – 565,24 gf; linear expansion 28,58%- 121,14% and oil absorption 6,87% - 3,55%. The use of spanish mackerel flesh can affect on physical, chemical, and sensory characteristics of fish crackers. 
KAJIAN EFEK ANTIOKSIDAN ASAP CAIR TERHADAP OKSIDASI LEMAK IKAN PINDANG LAYANG (Decapterus sp.) SELAMA PENYIMPANAN SUHU RUANG Fauziah, Nidaul; Swastawati, Fronthea; Rianingsih, Laras
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (180.704 KB)

Abstract

Ikan pindang layang digemari masyarakat namun memiliki daya simpan yang pendek. Salah satu penyebab pendeknya daya simpan ikan pindang yaitu oksidasi lemak. Asap cair dapat ditambahkan pada produk ini sebagai alternatif untuk mengurangi oksidasi lemak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan asap cair pada ikan pindang layang selama penyimpanan suhu ruang terhadap oksidasi lemak. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah ikan pindang layang utuh dari Sentra Pengasapan Wonosari, Demak; asap cair dan aquadest. Metode penelitian yang digunakan adalah experimental field dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola terbagi oleh waktu ”Split Plot in Time”. Faktor konsentrasi asap cair (0% dan 3% ) sebagai sub plot dan lama penyimpanan (hari ke-0, 2, 4 dan 6) sebagai main plot. Data hasil penelitian kadar air, kadar fenol, kadar lemak, angka peroksida dan TBA dianalisis menggunakan uji ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa asap cair memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap kadar lemak, kadar fenol, angka peroksida dan TBA, namun tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap nilai kadar air. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan nilai kadar air antara 48,02%–69,26%; nilai kadar fenol antara 2818ppm–9984ppm; kadar lemak 8%–23,47%; angka peroksida antara 1,60ml Eq/kg–9,93ml Eq/kg dan TBA 3,64mg malonaldehid/kg–7,84mg malonaldehid/kg. Berdasarkan hasil uji pada parameter angka peroksida dan TBA diketahui bahwa penambahan asap cair dapat menghambat oksidasi lemak pada pindang layang. Penghambatan oksidasi lemak efektif hingga hari ke-2 dengan percepatan kenaikan angka peroksida pindang dengan asap cair yakni 0,20 dan tanpa asap cair yakni 1,62 sedangkan TBA pada pindang dengan asap cair yakni 1,20 dan tanpa asap cair yakni 1,78.    Boiled fish mackerel scad are favored  by people but its has short storage period. One cause of damage factor is the oxidation of lipid. Liquid smoke can added to the product as an alternative method to inhibit oxidation of lipid. This research was aimed to observe the effect of liquid smoke addition on boiled fish mackerel scad in room storage to oxidation of lipid. The material used were boiled fish mackerel scad from Smoking Sentra Wonosari, Demak; liquid smoke and aquadest. The method used in the research was experimental field using Split Plot in Time Design. The factors consists of liquid smoke concentration (0% and 3%) as sub plot and length of storage (0, 2, 4 and 6) as main plot. Data of research water content, phenol content, fat content, peroxide value and TBA were analyzed using ANOVA. The results obtained that liquid smoke gives significant effect (P<0,05) on phenol content, fat content, peroxide value and TBA, but no significant effect on the value of water content. Based on the results, water content between  48,02%–69,26%; phenol content between 2818 ppm–9984 ppm; fat content 8%–23,47%; peroxide value 1,60ml Eq/kg–9,93ml Eq/kg and TBA 3,64mg Malonaldehid/kg–7,84mg Malonaldehid/kg. Based on the results peroxide value and TBA, the addition of liquid smoke can inhibit the oxidation of lipid in boiled fish mackerel scad. Inhibit the oxidation effective until 2 days with accelerated peroxide value boiled fish with liquid smoke was 0.20 and without liquid smoke was 1.62 and TBA with liquid smoke was 1.20 and without liqud smoke was 1.78.   
KAJIAN SENYAWA BIOAKTIF EKSTRAK TERIPANG HITAM (Holothuria edulis) BASAH DAN KERING SEBAGAI ANTIBAKTERI ALAMI Sari, Evi Maya; Ma'ruf, Widodo Farid; Sumardianto, -
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (332.166 KB)

Abstract

Holothuria edulis merupakan salah satu sumber hayati laut yang mempunyai banyak manfaat dan memiliki senyawa bioaktif. Tujuan dilakukannya penelitian ini untuk mengetahui kandungan senyawa bioaktif dan daya hambat terbaik ekstrak H. edulis basah dan kering serta  pengaruh perbedaan konsentrasi pelarut dan keadaan sempel sebagai aktivitas antibakteri Bacillus cereus dan Pseudomonas aeruginosa. Hasil dari penelitian didapatkan bahwa ekstrak etil asetat H. edulis dalam keadaan basah dengan konsentrasi 450mg/ml merupakan ekstrak terbaik. Hasil dari ekstrak H. edulis basah menunjukkan aktivitas antibakteri tertingi dengan daya hambat bakteri terluas pada bakteri B. cereus 2.8±0.2 mm dan P. aeruginosa yaitu 8.6±0.2 mm, sedangkan pada H. edulis kering pada B. cereus 1.7±0.1 mm dan P. aeruginosa yaitu 5.5 ±0.2 mm. Berdasarkan uji fitokimia dari ekstrak H. edulis basah dan kering positif mengandung alkaloid, triterpenoid, steroid, flavonoid, dan saponin. Holothuria edulis is one of marine resources that has many benefit and have bioactive compounds. The purpose of this research was to determine the content of bioactive compounds and the best extract inhibition of wet and dry H. edulis as well as the influence of the different solvent concentration and sample condition as the antibacterial activity of Bacillus cereus and Pseudomonas aeruginosa. Results of the research found that the best extracts of H. edulis is ethyl acetate extract of wet H. edulis in 450 m g/ml concentration. Results extracts of wet H. edulis show that the highest antibacterial activity with the wide blocked power on B. cereus is 2.8 ± 0.2 mm and P. aeruginosa is 8.6 ± 0.2 mm, meanwhile in dry H. edulis on B. cereus is 1.7 ± 0.1 mm and P. aeruginosa is 5.5 ± 0.2 mm. Based on phytochemicals test of wet and dry H. edulis extracts positive contains alkaloid, triterpenoid, steroid, flavonoid and saponin.
PENGARUH PELARUT YANG BERBEDA PADA EKSTRAKSI Spirulina platensis SERBUK SEBAGAI ANTIOKSIDAN DENGAN METODE SOXHLETASI Anam, Choirul; Agustini, Tri Winarni; Romadhon, -
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (201.192 KB)

Abstract

Mikroalga Spirulina platensis merupakan salah satu dari mikroalga hijau biru yang berpotensi untuk dimanfaatkan, karena diduga memiliki kandungan senyawa bioaktif yang berfungsi sebagai antioksidan. Metode ekstraksi dan pelarut merupakan faktor penting dalam memperoleh senyawa antioksidan yang diinginkan. Salah satu metode ekstraksi yang diduga optimum untuk mengekstrak senyawa bioaktif adalah Soxhletasi, karena menggunakan pelarut yang selalu baru dalam proses ekstraksinya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi metode Soxhletasi sebagai salah satu metode untuk mengekstraksi senyawa bioaktif dan mengetahui aktivitas antioksidan berdasarkan pelarut yang berbeda (aseton dan etil asetat) pada S. platensis. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah S. platensis serbuk, aseton dan etil asetat. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen laboratoris, data yang diperoleh selanjutnya diolah secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan metode Soxhletasi memiliki kemampuan yang cukup baik dalam mengekstraksi senyawa bioaktif pada biomassa serbuk S. platensis. Rendemen yang didapatkan ekstrak aseton sebesar 4,11% dan etil asetat sebesar 3,46%. Hasil uji fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak aseton dan etil asetat mengandung senyawa bioaktif yang dapat berfungsi sebagai antioksidan. Pengujian aktivitas antioksidan dengan metode penghambatan radikal bebas DPPH menunjukkan hasil bahwa ekstrak aseton mempunyai aktivitas antioksidan lebih baik dibandingkan ekstrak etil asetat. Ekstrak aseton mempunyai nilai IC50 64,712 ppm, IC50 ekstrak etil asetat sebesar 74,519 ppm, dan kuersetin yang digunakan sebagai standar memiliki nilai IC50 21,616 ppm. Nilai Aw ekstrak aseton sebesar 0,667 dan ekstrak etil asetat 0,670. Sehingga dapat disimpulkan bahwa aseton dapat mengekstrak senyawa bioaktif lebih baik dibandingkan etil asetat. Microalgae Spirulina platensisis one of green-blue microalgae which potentially utilized, because approximately has bioactive compound that functioned as an antioxidant. Extraction method and solvent are important factors in getting a desired antioxidant compound. One of the optimal extraction method to extracting bioactive compound is Soxhletation, because this method always using a new resolvent in its process. The purpose of this research was to observe the Soxhletation potential as one of the method for extracting bioactive compound and to know antioxidant activity based on different solvent (aceton and ethyl acetat) to extract S. platensis. The materials used in this research were S. platensis powder, acetone and etil acetate. Research method used was experimental laboratories, the next acquired data processed in a descriptif method. The result of research showed that Soxhletation method had better ability in extracting bioactive compound in biomass S. platensis powder. Yield resulted from acetone extract was 4.11% and etil acetate extract was 3.46%. The result of phytochemical screening test showed that acetone and etil acetate extract contained bioactive compound that can be used as antioxidant. Antioxidant activity of the samples with free radical resistance DPPH showed that acetone extract had better antioxidant activity than etil acetate extract. Acetone extract had IC50 64.712 ppm, ethyl acetate extract had 74.519 ppm, and quercetin that used as a standard had IC50 21.616 ppm. Water activity of  S. platensis extracted with acetone was 0.667 and ethyl acetate was 0.670. Thus it could be concluded that the acetone was better for extracting bioactive compound than etil acetate in S. platensis.
EFEKTIFITAS PENCUCIAN DAN SUHU SETTING (25, 40, 50oC) PADA GEL KAMABOKO IKAN LELE DUMBO (Clarias gariepenus) Bachtiar, Ibnu; Agustini, Tri Winarni; Anggo, Apri Dwi
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (372.784 KB)

Abstract

Surimi merupakan lumatan daging ikan yang telah mengalami proses pencucian (leaching) secara berulang-ulang, pengepresan, penambahan bahan tambahan (food additive), pengepakan dan pembekuan. Mutu surimi antara lain ditentukan oleh nilai gel strength. Faktor yang dapat mempengaruhi nilai gel strength adalah pencucian dan suhu setting ketika proses pemanasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh frekuensi pencucian terhadap sifat fisika (gel strength, uji lipat, uji gigit) dan pengaruh suhu setting terhadap sifat fisika (gel strength, uji lipat, uji gigit dan uji derajat putih), sifat kimia (kadar protein, air dan pH) kamaboko ikan Lele. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah ikan Lele dumbo, garam, dan bahan pendukung lainnya. Metode penelitian bersifat eksperimen laboratoris menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dua tahap. Tahap pertama terdiri dari 4 perlakuan yaitu L1(pencucian 1x); L2(pencucian 2x); L3(pencucian 3x); L4(pencucian 4x). Penelitian tahap kedua terdiri dari 3 perlakuan yaitu : T1(suhu setting 25oC); T2(suhu setting 40oC); T3(suhu setting 50oC); dengan 3 ulangan. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis keragaman kemudian diuji dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ). Untuk data uji hedonik diuji dengan uji Kruskall Wallis dilanjutkan dengan uji Multiple Comparison. Hasil penelitian tahap I perlakuan frekuensi pencucian menunjukkan bahwa nilai gel strength, uji lipat, uji gigit tidak menunjukkan perbedaan yang nyata (P>0,05) pada perlakuan L3 dan L4. Hasil penelitian tahap II perlakuan suhu setting menunjukkan bahwa nilai gel strength, uji lipat, uji gigit memberikan perbedaan yang nyata (P<0,05) pada perlakuan T1 dan T2 ; T1 dan T3. Uji derajat putih tidak menunjukkan perbedaan yang nyata (P>0,05) pada tiap perlakuan. Suhu setting T2(40oC) merupakan suhu setting yang paling efektif digunakan dalam pengolahan surimi ikan Lele Dumbo dengan kriteria mutu produk: gel strength 824,5567; uji lipat 3,53; uji gigit 8,40; uji derajat putih 67,92%; kadar protein 19,53122%; kadar air 71,72075%; pH 6,77. Surimi is fish meat that has undergone the process of leaching (leaching) repeatedly, pressing, adding additional ingredients (food additives), packing and freezing. Surimi quality, among others, determined by the value of gel strength. Factors that can affect the value of gel strength are washing and temperature settings during heating process. This study aims to determine the effect of the frequency of washing on physicochemical properties (gel strength, folding test, bite test) and the effect of temperature settings on the physical properties (gel strength, folding test, test and test whiteness bite), chemical (protein content, water and pH) kamaboko catfish. Material used in this study were African catfish, salt, and other supporting materials. Methods of experimental laboratory research using completely randomized design (CRD) which consists of two stages. The first stage consists of 4 treatments namely L1 (1x washing); L2 (2x washing); L3 (3x washing); L4 (4x washing). The second phase of the study consisted of 3 treatments: namely; T1 (temperature setting 25oC); T2 (temperature setting 40°C); T3 (temperature setting 50°C); with 3 replications. Data were analyzed using analysis of variance and then tested with Honestly Significant Difference (HSD) test. After hedonic test, the data were analysed using Kruskall Wallis test followed by Multiple Comparison test.Results of a phase I study showed that washing frequency treatment gel strength values, folding test, nip test showed no significant differences (P> 0.05) in the treatment of L3 and L4. Results of a phase II study showed that the treatment temperature setting value of gel strength, folding test, cutting test gave significant differences (P <0.05) in the treatment of T1 and T2; T1 and T3. Whiteness test showed no significant differences (P> 0.05) in each treatment. T2 temperature setting (40°C) temperature setting is most effectively used in heating catfish with fish surimi product quality criteria: gel strength 824.5567; folding test 3.53; cutting test 8.40; test whiteness 67.92%; 19.53% protein content; 71.72% moisture content; pH 6.77.  
PENGARUH BAHAN PENGIKAT DAN WAKTU PENGGORENGAN TERHADAP MUTU PRODUK KAKI NAGA IKAN TENGGIRI (Scomberomorus sp.) Nugroho, Aditya; Swastawati, Fronthea; Anggo, Apri Dwi
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (406.259 KB)

Abstract

Kaki naga ikan merupakan produk diversifikasi dimana tekstur menjadi salah satu parameter penting dalam penentuan mutu produk. Penggunaan bahan pengikat dan waktu penggorengan yang berbeda akan mempengaruhi tekstur dan mutu produk kaki naga. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan bahan pengikat dan waktu penggorengan terhadap mutu produk kaki naga ikan. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah Ikan Tenggiri. Bahan pengikat yang digunakan yaitu tepung sagu, terigu dan tapioka. Waktu penggorengan yang digunakan adalah 1, 2 dan 3 menit. Metode penelitian yang digunakan bersifat eksperimental laboratoris dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK). Penelitian awal meliputi penggunaan bahan pengikat yang berbeda dengan konsentrasi 10%, kemudian diuji yang terbaik berdasarkan gel strength, uji lipat, gigit dan proksimat, tepung yang terbaik yaitu tapioka. Kaki naga dengan tepung terbaik kemudian dilakukan penelitian selanjutnya yaitu penggorengan dengan waktu 1, 2 dan 3 menit. Parameter yang diamati adalah uji hedonik, hardness dan proksimat. Hasil penelitian awal menunjukkan bahwa penggunaan tepung yang berbeda memberikan perbedaan yang nyata (p<0,05) terhadap uji gel strength, uji lipat dan gigit. Nilai tertinggi didapatkan tepung tapioka dengan nilai gel strength 843,13 gf.cm, kadar air 55,54%, kadar lemak 0,41% dan kadar protein 12,65%. Penelitian lanjutan menunjukan bahwa waktu penggorengan yang berbeda memberikan perbedaan yang nyata (p<0,05) terhadap uji hedonik, hardness, kadar air, lemak dan protein. Waktu penggorengan terbaik didapat 2 menit dengan nilai hedonik 7,453 7,634, hardness 545,13 gf, kadar air 45,32%, kadar lemak 4,18%, kadar protein 9,37%. Fish drum stick is a diversified of fishery products where the texture become one of the important parameter to determine the quality of products. The use of binders and different frying time will affect to the texture and quality of fish drum stick product. The purpose of this study was to determine the effects of the binders and frying time on the fish drum stick quality. The material used in this study were Spanish Mackerel Fish. In this study three different binders were used as follows sago, wheat and tapioca flour; and three different frying times (1, 2 and 3 minutes). The method used was experimental laboratory with a randomized block design (RBD). The first phase used three different binders with 10% concentration of each binders, then quality of the best fish drum stick was analyzed for gel strength test, folding test, teeth cutting test and proximate. They were analyzed for further study with different frying times (1, 2 and 3 minutes). Parameters measured were hedonic test, hardness and proximate analysis. Results of a phase I study showed that the use of different flour gives a significanly difference (P <0.05) against gel strength, folding test and teeth cutting test. The highest value obtained is tapioca flour with gel strength 843.13 gf.cm, water content 55.54%, fat content 0.41%  and protein content 12.65%. Sudy Phase II showed that different frying time provide significantly effect (P <0.05) to the hedonic test, hardness, moisture content, fat and protein. Frying time 2 minutes with the best obtained hedonic value 7,453 7,634, 545.13 gf hardness, moisture content 45.32%, fat content 4.18%, protein content 9,37%.
PENGARUH PENAMBAHAN OKSIDATOR DAN REDUKTOR TERHADAP DEGRADASI EKSTRAK KASAR PIGMEN FUKOSANTIN RUMPUT LAUT Sargassum duplicatum Rahmawaty, Amanda; Ma'ruf, Widodo Farid; Rianingsih, Laras
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.089 KB)

Abstract

Fukosantin merupakan karotenoid utama yang ada pada S. duplicatum. Fukosantin mudah mengalami perubahan molekul, isomerasi dan degradasi. Oksidator dan reduktor adalah faktor yang dapat mengakibatkan degradasi pigmen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan oksidator dan reduktor terhadap degradasi ekstrak kasar pigmen fukosantin rumput laut S. duplicatum pada penyimpanan suhu ruang selama 12 jam.  Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah rumput laut  S. duplicatum sebanyak satu kilogram yang diambil di perairan Pantai Bandengan, Jepara. Variabel yang diamati adalah kandungan fukosantin, nilai pH, dan nilai total perubahan warna (ΔE). Penelitian ini dilakukan dengan metode percobaan laboratoris menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan pola percobaan split plot in time. Sebagai main plot adalah lama penyimpanan (0, 3, 6, 9, dan 12 jam) dan sebagai sub plot adalah jenis perlakuan (kontrol, oksidator, dan reduktor). Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor jenis perlakuan dan lama penyimpanan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kandungan fukosantin, pH, dan total perubahan warna. Interaksi kedua faktor berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kandungan fukosantin dan total perubahan warna. Penambahan oksidator (hidrogen peroksida) menyebabkan  laju degradasi yang lebih kecil dibandingkan dengan penambahan reduktor (asam askorbat). Setelah penyimpanan selama 12 jam, pada penambahan oksidator pigmen fukosantin berkurang sebesar 28.04% dari nilai awal, nilai pH menurun sebesar 6.65% dari nilai awal, dan nilai total perubahan warna meningkat menjadi 106.89% dari nilai awal, sedangkan pada penambahan reduktor pigmen fukosantin berkurang sebesar 29.54% dari nilai awal, nilai pH menurun sebesar 9.25% dari nilai awal, dan nilai total perubahan warna meningkat menjadi 139.93% dari nilai awal. Fucoxanthin was the main carotenoid in S. duplicatum. The molecul of fucoxanthin can be changed, isomerized and degraded easily. Oxidator and reductor were one of the factors that causing degradation of pigment. The objective of this study was to know the effect of oxidator and reductor addition to the crude fucoxanthin of  S. duplicatum degradation stored at room temperature for 12 hours.  The raw material of this research was one kilogram of S. duplicatum which was taken from coastal waters Bandengan, Jepara. The variables that have been choosen for this study were fucoxanthin content, pH, and color changed (ΔE). The method of this study was laboratory experimental using split plot in time experimental pattern with Completely Randomized Design. The different time of storages (0, 3, 6, 9 and 12 hours) were the main plot for this study, the others sub plot were the different treatments (control, oxidator, and reductor). This study showed that the different treatments and the different time of storages factor had significantly (P<0,05) effect to fucoxanthin content, pH, and color changed (ΔE). Interaction of each factor had significantly (P<0,05) effect to  fucoxanthin content and color changed. After storage for 12 hour, oxidator addition of fucoxanthin content was reduced up to 28.04% from the initial, pH was decreased into 6.65% from initial, and color changed was increased into 106.89% from initial, while reductor addition of fucoxanthin content was reduced up to 29.54% from initial, pH was decreased into 9.25% from initial, and color changed was increased into 139.93% from initial.  
PENGARUH PERBEDAAN JENIS DAN LAMA PERENDAMAN ASAP CAIR TERHADAP KARAKTERISTIK ARABUSHI IKAN TONGKOL (Euthynnus affinis) Najih, Mohammad Ainun; Swastawati, Fronthea; Agustini, Tri Winarni
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (334.908 KB)

Abstract

Arabushi merupakan salah satu produk olahan ikan yang melibatkan proses pengasapan dan pengeringan. Perbedaan jenis dan lama perendaman asap cair dapat berpengaruh terhadap karakteristik dan banyak sedikitnya senyawa-senyawa asap yang terserap dalam daging ikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perbedaan jenis dan lama perendaman dalam asap cair terhadap karakteristik arabushi ikan tongkol. Materi dalam penelitian ini adalah ikan tongkol (Euthynnus affinis) dan asap cair. Rancangan percobaan yang digunakan pada penelitian adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial 2x3. Perlakuan yang diterapkan adalah perbedaan 2 jenis asap cair dan perbedaan 3 macam lama perendaman asap cair. Parameter uji fisik yang diamati adalah organoleptik yang dianalisis dengan Kruskal Wallis. Parameter uji kimia yang diamati adalah kadar fenol, air, dan Aw, analisa data menggunakan uji statistic univariate menggunakan software SPSS 16.0. Hasil penelitian didapatkan bahwa perlakuan perbedaan jenis dan lama perendaman asap cair memberikan pengaruh berbeda nyata (P<0,05) terhadap nilai organoleptik (kenampakan, bau, tekstur), kadar fenol, air, dan Aw. Nilai organoleptik berkisar antara 7,04 - 8,44; kadar fenol 0,11% - 0,22%; kadar air 12,54% - 20,9%; dan Aw 0,67 - 0,81. Kombinasi jenis dan lama perendaman asap cair memberikan pengaruh nyata pada karakteristik arabushi berdasarkan hasil uji organoleptik, kadar fenol, air dan Aw. Arabushi was one of fish processed products involved curing and drying. Different type and duration of liquid smoke immersion can affect the characteristics and the extented of the smoke compounds absorbed in fish meat. The purpose of this research was to determine the effect of different types and duration of liquid smoke immersion to the characteristics of Eastern Little Tuna Arabushi. The materials used was Eastern Little Tuna and liquid smoke. The experimental design used was Randomized Block Design (RGD) factorial 2x3. Treatment that applied were the different types of liquid smoke (2 levels) and different duration liquid smoke immersion (3 levels). Physical parameters test observed were organoleptic which analyzed by Kruskal Wallis. Chemical parameters test observed were content of  phenol, water content, and Aw. Data analysis used statistic univariate by software SPSS 16.0. The results showed that different type and duration of liquid smoke immersion were significantly gave different effect (P<0.05) to organoleptic value (appearance, odor, texture), phenol content, water content, and Aw. Organoleptic values ranged from 7.04 – 8.44 ; phenol content of 0.11% - 0.22% ; water content of 12.54 % - 20.9% ; and Aw 0.67 – 0.81 . Combination of type and duration liquid smoke immersion gave a significant effect on the characteristics of arabushi based on the results of organoleptic test, phenol content, water content and Aw.
PERBEDAAN KONSENTRASI MIMOSA PADA PROSES PENYAMAKAN TERHADAP KUALITAS FISIK DAN KIMIA IKAN NILA (Oreochromis niloticus) Kholifah, Nunung; Darmanto, YS; Wijayanti, Ima
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (115.336 KB)

Abstract

Penyamakan kulit merupakan suatu proses pengolahan untuk mengubah kulit mentah hides maupun skines menjadi kulit tersamak atau leather. Kulit mentah mudah sekali membusuk dalam keadaan kering, keras dan kaku, sedangkan kulit tersamak memiliki sifat sebaliknya. Tujuan dilaksanakan penelitian ini adalah untuk mengetahui konsentrasi mimosa terbaik terhadap kualitas  kulit ikan nila samak ditinjau dari kekuatan tarik, kemuluran, kekuatan sobek, kadar air dan pH. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah kulit ikan nila (Oreochromis niloticua) yang didapat dari PT Aquafarm Nusantara, Semarang. Parameter pengujian adalah kekuatan tarik, kemuluran, kekuatan sobek, pH dan kadar air. Penelitian menggunakan desain percobaan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga kali pengulangan. Data dianalisis menggunakan analisa ragam (ANOVA). Untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan data diuji dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan konsentrasi mimosa berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kualitas fisik yaitu kekuatan kekuatan tarik, kemuluran dan kekuatan sobek dan tidak berpengaruh nyata terhadap kualitas kimia yaitu kadar air dan pH. Kulit ikan nila tersamak dengan perlakuan penambahan mimosa 30% memiliki kekuatan fisik dan kimia terbaik yaitu, kekuatan tarik (2164.97 N/cm2); kemuluran (10.71 %); kekuatan sobek (234.69 N/cm2); kadar air (17 %) dan pH (4.2), namun kulit samak dengan penambahan mimosa 10% merupakan produk yang sudah memenuhi kriteria mutu : kekuatan tarik (1671.17 N/cm2); kemuluran (12.49%); kekuatan sobek (192.07 N/cm2); kadar air (16.99%); dan pH (4.22). Tanning is a raw hides and skins conversion process into leather skines or leather. Raw skin can be rot easily in dry, hard and stiff conditions, while leather has the skin instead. The objective of this research was to determine the best mimosa concentration on quality fish tilapia leather skin in terms of tensile strength, elongation, tear strength, water content and pH. The material used in this research was skin tilapia (Oreochromis niloticua) bought from PT Nusantara Aquafarm, Semarang. The testing parameters were tensile strength, elongation, tear strength, moisture content and pH. This research used Completely Randomized Design (CRD) with three replication. Data were analyzed using analysis of varians (ANOVA). Comparison of means was carried out by Honestly Significant Difference Test (HSDT). Results of this research showed that different concentration of mimosa has significantly effected (p. < 0.05) against physical quality that is the strength of tensile strength, elongation and tear strength and not significantly effected on the chemical qualities that is  water content and pH. Tilapia fish leather skin with 30% mimosa adding was the best product which had the quality criteria : tensile strength (2164.97 N/cm2); elongation (10.71 %); tear strength (234.69 N/cm2); moisture content (17%) and pH (4.2), but leather skin with 10% mimosa adding was already fulfilled quality criteria : tensile strength (1671.17 N/cm2); elongation (12 %); tear strength (192.07 N/cm2); water content (16.99 %); and pH (4.22).

Page 2 of 3 | Total Record : 21