cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 19 Documents
Search results for , issue "Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016" : 19 Documents clear
PERBEDAAN KARAKTERISTIK IKAN BANDENG (Chanos chanos Forsk) CABUT DURI DALAM KEMASAN BERBEDA SELAMA PENYIMPANAN BEKU Meiriza, Yulisa; Dewi, Eko Nurcahya; Rianingsih, Laras
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.735 KB)

Abstract

Pengemasan terhadap ikan bandeng cabut duri selama penyimpanan beku dapat mempertahankan kualitas lebih lama. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh lama penyimpanan beku dengan perlakuan perbedaan kemasan terhadap perubahan kualitas terutama tekstur ikan bandeng cabut duri berdasarkan nilai uji drip loss, PLG dan organoleptik. Metode penelitian yang digunakan bersifat eksperimental laboratoris dengan rancangan percobaan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan pola Faktorial. Perlakuan yang diterapkan terhadap pengemasan ikan bandeng cabut duri beku vakum dan non vakum masing-masing tiga kali pengulangan. Parameter yang diamati adalah drip loss, PLG dan organoleptik. Data dianalisis menggunakan analisa ragam (ANOVA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengemasan ikan bandeng cabut duri yang dibekukan dengan kemasan vakum dan kemasan non vakum selama penyimpanan berpengaruh nyata (p<0,05) terhadap nilai PLG, drip loss dan organoleptik. Hasil uji kualitas terhadap penyimpanan beku selama 2 bulan mendapatkan rata-rata nilai pada uji PLG kemasan non vakum 7,827% dan vakum 8,513%. Sedangkan drip loss kemasan non vakum 7,567% dan vakum 6,813% dan nilai organoleptik kemasan non vakum sebesar 7,676 dan vakum sebesar 7,790. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh hasil terbaik yaitu pada kemasan vakum terhadap ikan bandeng cabut duri selama penyimpanan beku. Packaging to boneless milkfish during frozen storage can extent shelf-life. The purpose of this study was to know the effect of frozen storage time with different packaging treatment to the quality changes on texture of boneless milkfish by drip loss test value, PLG and organoleptic. The research method used was an experimental laboratory with experimental design Completely Randomized Design (CRD) with Factorial pattern. The different treatment was applied to the packaging of frozen milkfish boneless i.e. vacuum and non vacuum in triplicates. All Parameters measured were drip loss, PLG and organoleptic. Data were analyzed using analysis of variance (ANOVA). The results showed that the vacuum packaging and non vacuum packaging of frozen milkfish boneless during storage no significantly affect (p<0.05) to the value of drip loss, PLG and organoleptic. The results on the quality of frozen storage for 2 months showed that the average value of the test PLG for non vacuum packaging and vacuum were 7.827% and 8.513%. respectively. Meanwhile drip loss non-vacuum packaging 7.567% and vacuum 6.813%, and non-vacuum packaging organoleptic value of 7.676 and a vacuum of 7.790. The research showed that vacuum packaging was tbe best treatment for milkfish boneless during storage.
POTENSI EKSTRAK Caulerpa racemosa SEBAGAI ANTIBAKTERI PADA FILLET IKAN BANDENG (Chanos chanos) SELAMA PENYIMPANAN DINGIN Rachmawati, Siti; Sumardianto, -; Romadhon, -
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.845 KB)

Abstract

Makroalga Caulerpa racemosa mengandung senyawa bioaktif yang berpotensi sebagai antibakteri untuk mencegah  pembusukan pada ikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan senyawa aktif pada Caulerpa racemosa secara kuantitatif, jenis antibakteri dominan pada Caulerpa racemosa, dan pengaruh perbedaan konsentrasi ekstrak Caulerpa racemosa terhadap perubahan nilai pH, TPC, TVBN, dan organoleptik pada fillet ikan bandeng selama penyimpanan dingin.  Metode penelitian yang digunakan bersifat eksperimental laboratoris menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial 3x4 dengan 3 kali ulangan. Faktor pertama yaitu lama penyimpanan (0, 4, 8, dan 12) hari dan faktor kedua yaitu konsentrasi antibakteri ekstrak Caulerpa racemosa kontrol,1% dan 1,5%. Data pH, TVB dan TPC dianalisis dengan ANOVA dan uji lanjut BNJ (Beda Nyata Jujur), sedangkan data organoleptik dengan uji Kruskal Wallis dan uji lanjut Duns Multiple Comparison menggunakan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan ekstrak Caulerpa racemosa dengan konsentrasi berbeda berpengaruh nyata (p<0,05) terhadap nilai pH, TVB, TPC dan organoleptik. Penambahan ekstrak Caulerpa racemosa 1% dan 1,5% dapat menghambat pembusukan pada fillet ikan bandeng hingga hari ke-8, sedangkan fillet kotrol sudah mengalami pembusukan pada hari ke-4. Konsentrasi methanol pada ekstraksi Caulerpa racemosa terbaik adalah 100%. Senyawa antibakteri dominan pada Caulerpa racemosa berasal dari golongan alkaloid. Penggunaan ekstrak Caulerpa racemosa 1% merupakan perlakuan terbaik dalam mempertahankan kesegaran fillet ikan bandeng yang disimpan pada suhu dingin. Macroalgae Caulerpa racemosa contains bioactive compounds as an antibacterial to prevent fish spoilage. The aimed of this study was to determine bioactive compound content of Caulerpa racemosa quantitatively, the dominat antibacterial compounds in Caulerpa racemosa, and the effect of different concentrations of Caulerpa racemosa extract to the changes of pH, TPC, TVBN, and sensory value of milkfish fillet during cold storage. The observation was carried out every 4 days. The method used was experimental laboratory with randomized completely design with 3x4 factorial design and in triplicates The first factor was the storage time (0, 4, 8, and 12 days) and the second factor was the concentration of antibacterial extract from Caulerpa racemosa control 1% and 1.5%. pH, TVB and TPC data were analyzed by ANOVA and HSD test (Honestly Significant Difference), while sensory data by Kruskal Wallis test and Duns Multiple Comparison test using SPPS. The results showed that the addition of Caulerpa racemosa extract in different concentrations significantly (p <0.05) affect on pH, TVB, TPC and sensory value. The addition of Caulerpa racemosa extract 1% and 1.5% can inhibit spoilage in catfish fillets up to day 8, while the control already decomposing on the 4th day. The best concentration of methanol that used to Caulerpa racemosa extraction was 100%. The dominant of Antibacterial compound in Caulerpa racemosa was sourced from alkaloid class. The using of 1% Caulerpa racemosa extract is the best treatment to maintain the freshness of fish fillets during cold storage.
PENGARUH PENGGUNAAN KAYU MERBAU (Intsia bijuga) SEBAGAI PEWARNA ALAMI DALAM PEWARNAAN KULIT SAMAK IKAN BANDENG (Chanos chanos Forsk.) Hardianti, Meilinda; Sumardianto, -; Anggo, Apri Dwi
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (470.687 KB)

Abstract

Kulit ikan bandeng merupakan kulit ikan yang mempunyai nilai keindahan pada rajah sehingga menambah nilai ekonomis untuk dijadikan produk samak. Penyamakan adalah mengubah kulit yang tidak stabil menjadi stabil dan bebas dari mikroorganisme. Salah satu bahan pewarna alami yang dapat digunakan dalam pewarnaan kulit samak yaitu kayu merbau (intsia bijuga). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan pewarna alami kayu merbau dan konsentrasi yang berbeda terhadap kualitas dari kulit samak ikan bandeng. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah kulit ikan bandeng yang diperoleh dari limbah home industry Fania Food, Yogyakarta dan ekstrak larutan kayu merbau diperoleh dari Yogyakarta. Penelitian menggunakan desain percobaan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga kali pengulangan dimana konsentrasi yang digunakan adalah 5%, 15%, 25%, dan pewarna sintetis. Data dianalisis menggunakan analisa ragam (ANOVA). Untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan data diuji dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) untuk data parametrik. Kulit samak ikan bandeng dengan konsentrasi merbau 25% merupakan hasil yang terbaik dengan kriteria mutu : uji ketahanan gosok cat basah (4,417 skala) dan kering (4,750 skala), ketahanan luntur terhadap keringat (4,750  skala), kuat tarik (1949,353N/cm2), kemuluran (47,923%), dan foto mikrograf jaringan kulit yang menunjukkan serat-serat kolagen kulit lebih tersusun rapi sehingga penetrasi warna merata ke kulit. Milkfish skin is a fish skin that has a magnificent on nerf. It has economic added value as a tanning product. Leather tanning is converting process from unstable to stable skin and free from microorganisme. One of natural substances used in leather tanning is Merbau (Intsia bijuga). The aimed of this study was to determine the effect of natural dyes merbau utilization and different concentrations to leather fish quality. The materials used in the research were milkfish skin obtained from the waste of Fania Food Home Industry, Yogyakarta and wood Merbau (Intsia bijuga) extract from Yogyakarta. This research used completely randomized design (CRD) in triplicates with different concentration as follows 5%, 15%, 25%, and synthetic colour. Data were analyzed using analysis of variance (ANOVA). To determine differences among the treatments, parametric data were tested using Honestly Significant Difference (HSD) test. Tanned milkfish skin using 25% of merbau has the best quality based on the criteria : rub resistance on wet coating test (4,417 scale) and dry coating test (4,750 scale), fastness to perspiration (4,750 scale), tensile strength (1949,353N/cm2), elongation (47,923%) and skin tissue micrograph photos showing better display of collagen fibers so that penetration of the color evenly rub.
PENGARUH LAMA PEMASAKAN IKAN BANDENG (Chanos chanos Forsk.) DURI LUNAK GORENG TERHADAP KANDUNGAN LISIN DAN PROTEIN TERLARUT Irawati, Andi Ayu; Ma'ruf, Widodo Farid; Anggo, Apri Dwi
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (362.926 KB)

Abstract

Bandeng duri lunak merupakan salah satu produk terkenal di Jawa Tengah. Tujuan proses bandeng duri lunak adalah untuk menghasilkan duri lunak sehingga mudah untuk dikonsumsi. Pada umumnya, masyarakat menyukai produk makanan siap saji. Namun, sebagian masyarakat masih belum mengetahui kandungan nutrisi setelah proses. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh lama pemasakan yang berbeda terhadap kandungan lisin dan protein terlarut bandeng duri lunak goreng. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah ikan bandeng (Chanos chanos Forsk). Penelitian menggunakan desain percobaan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 3 perlakuan lama pemasakan berbeda yaitu 90 menit, 105 menit, dan 120 menit dengan 3 kali pengulangan. Parameter pengujian adalah kandungan lisin, protein terlarut, kadar air, protein total, uji sensori, uji kekerasan tulang. Data dianalisis menggunakan analisa ragam (ANOVA). Untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan data diuji dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) untuk data parametrik. Hasil penelitian menunjukkan pemasakan bandeng duri lunak goreng berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kandungan lisin, protein terlarut, kadar air, protein total. Bandeng duri lunak goreng dengan lama pemasakan terbaik selama 90 menit merupakan hasil yang terbaik dengan kriteria mutu: kandungan lisin 1,73 mg/g; protein terlarut 15,96%; kadar air 37,42%; protein total 32,36% dan sensori meliputi kenampakan (8,0), bau (7,5), rasa (7,2), tekstur (7,9) dan lendir (9,0). Soft-boned milkfish is one of well known products from Central Java. The purpose soft-boned milkfish process is to produce soft-bone which is easy to eat. Commonly, people prefer a product which is ready to eat. However most people have not known the nutrition content after processing. The aimed of this study was to know the effect of different cooking duration time into lysine and dissolved protein content in fried  soft-boned milkfish. The materials used in this research was milkfish (Chanos chanos Forsk). This research using Completely Randomized Design which 3 different treatments such as cooking duration on 90 minutes, 105 minutes, and 120 minutes in triplicates. All samples were analyzed for lysine content, dissolved protein content, moisture content, total protein, sensory value and fish bone hardness. The data was analized using analysis of variant (ANOVA). Honestly Significant Difference test was used to know the differences between treatment for parametric data. This result showed that the different fried soft-boned milkfish cooking gave significantly different (p<0.05) to lysine content, dissolved protein, moisture content and total protein. The best treatment was fried soft-boned milkfish which is cooked for 90 minutes with lysine content : 1,73 mg/g; dissolved protein 15,96%; moisture content : 37,42% and total protein : 32,36%; and sensory value of visibility (8,0); smell (7,5); taste (7,2); texture (7,9); and mucus (9,0).
PENGARUH PENAMBAHAN ISOLAT PROTEIN KEDELAI YANG BERBEDA DAN KARAGENAN TERHADAP KARAKTERISTIK SOSIS IKAN PATIN (Pangasius pangasius) Kharisma, Mega; Dewi, Eko Nurcahya; Wijayanti, Ima
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.339 KB)

Abstract

Sosis ikan dapat dibuat dengan produk berbasis surimi, hal ini disebabkan protein miofibril dalam ikan Patin dapat berperan dalam pembentukan gel. Kekuatan gel sosis yang dihasilkan rendah sehingga dapat ditambahkan dengan isolat protein kedelai (IPK) yang berfungsi menstabilkan emulsi dan karagenan berfungsi pembentuk gel. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan penambahan IPK dan karagenan terhadap karakteristik sosis ikan Patin selain itu untuk mengetahui konsentrasi IPK serta karagenan terbaik pada sosis ikan Patin. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah ikan Patin. Penelitian ini dilakukan dengan metode Rancangan Acak Lengkap dengan satu faktor, tiap perlakuan tiga kali pengulangan. Perlakuan pada pembuatan sosis yaitu penambahan IPK 4%, 5% dan 6% serta karagenan 0,5%. Variabel mutu yaitu kekuatan gel, stabilitas emulsi, kadar air, kadar protein dan kadar lemak. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan ANOVA dan Uji Beda Nyata Jujur (BNJ). Data pengujian sensori sosis ikan, uji lipat dan uji gigit diuji dengan uji Kruskall-Wallis dilanjutkan dengan uji Multiple Comparison. Hasil penelitian menunjukkan sosis ikan dengan konsentrasi isolat protein kedelai 4% dan karagenan 0,5% merupakan produk yang terbaik dengan kriteria mutu: kekuatan gel 761,36 g.cm; uji gigit 7,73; uji lipat 4,90 (A); kadar air 68,34%; kadar protein 59,42% (bk); kadar lemak 4,04% (bk) dan stabilitas emulsi 83,51%. Nilai rata-rata pengujian sensori diperoleh nilai kenampakan 8,40; aroma 7,80; rasa 7,93; tekstur 8,40. Berdasarkan hasil penelitian, penambahan IPK dan karagenan memberikan pengaruh yang nyata terhadap karakteristik sosis ikan Patin. Fish sausage can be made from surimi based product, it possibly caused by Patin fish’s myofibril protein function is as a gel former. However, gel strength from catfish sausage is low, therefore it can be added with Soy Protein Isolate (SPI) which have function to stabilized the emulsion and carrageenan that can form a gel. The purposed of this study were to determine the influence of various addition of SPI and carrageenan to catfish sausage characteristics and to choose the best concentration of SPI and carrageenan addition to catfish sausage based on it’s characteristics. The material of this study was catfish. The method used was completely randomized design with one factor, in triplicates on each treatments. The main study was using the various SPI concentrations about 4%, 5%, 6%  and carrageenan about 0.5%. The parameters measured were gel strength, emulision stability, water content, protein content and lipid content. Data analized by ANOVA and Honestly Significant Difference Test (HSDT). The data of fish sausage sensory test, folding test and teeth cutting test used Kruskall-Wallis test then continued by Multiple Comparison test. The result showed that fish sausage with SPI concentration about 4% and carrageenan about 0,5% was the best product with the parameters value : gel strength 761.36 g.cm; teeth cutting test 7.73; folding test 4.90 (A); water content 68.34%; protein content 59.42% (dw); lipid content 4.04% (dw) and emulsion stability 83.51%. The average value of sensory test showed general appearance 8.4; odor 7.8; flavor 7.93; texture 8.4. Based on the research result, the addition of SPI and carrageenan significantly affect on the characteristics of sausage Patin fish.
PENGARUH PERBEDAAN KONSENTRASI KARAGENAN TERHADAP KARAKTERISTIK EMPEK- EMPEK UDANG WINDU (Penaeus monodon) Rifani, Aulia Nissa; Ma'ruf, Widodo Farid; Romadhon, -
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (566.745 KB)

Abstract

Udang merupakan hasil perikanan yang mengandung protein tinggi, daging udang dapat diolah sebagai makanan olahan seperti empek-empek udang dengan kandungan protein tinggi. Empek-empek udang dapat menjadi produk olahan diversifikasi yang diminati. Namun Empek-empek udang merupakan produk emulsi di mana sistem emulsi pada empek-empek mudah rusak dikarenakan sistem emulsi yang mudah pecah disebabkan oleh proses pengolahan. Karagenan adalah senyawa polisakarida hasil ekstraksi rumput laut. Karagenan memiliki salah satu fungsi sebagai pengemulsi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan karagenan dengan konsentrasi berbeda terhadap karakteristik produk empek-empek udang. Materi yang digunakan adalah udang Windu segar, karagenan, dan bahan pendukung lainnya. Penelitian ini bersifat eksperimental laboratoris dengan rancangan percobaan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan yang diterapkan adalah perbedaan konsentrasi karagenan 0%, 0,5%, 1% dan 1,5% dengan 3 kali pengulangan. Hasil penelitian menunjukan bahwa penambahan karagenan berpengaruh nyata (P<0.05) terhadap nilai stabilitas emulsi, water holding capacity (WHC), gel strength, aktivitas air (Aw), kadar air dan kadar protein. Empek-empek udang windu dengan penambahan karagenan 1,5% merupakan produk yang terbaik dengan kriteria mutu stabilitas emulsi 86,79%, water holding capacity 38,63%, kekuatan gel 838,88 g.cm, aktivitas air 0,86, kadar air 55,16%, kadar protein 18,38%, kadar lemak 0,05% dan hedonik 7,6≤µ≤8,4. Shrimp is a marine organism that has high protein content, shrimp meat can be processed as foods such as shrimp “empek-empek” which is contained high protein. Tiger shrimp empek-empek can be processed as added value product. However tiger shrimp empek-empek is an emulsion product that easily damaged during processing. Carrageenan is a polysaccharide that is extracted from seaweed. Carrageenan has a function as an stabilizer agent. The aimed of this study was to determine the effect of  carrageenan addition on different concentrations to tiger shrimp empek-empek characteristic. The materials used was fresh tiger shrimp, carrageenan, and other materials. This study was an experimental laboratories with experimental design completely randomized design (CRD). The treatment in this research were various concentrations of carrageenan 0%, 0,5%, 1% and 1,5% in triplicates. The results showed that the carrageenan addition were significantly different (P <0.05) to the value of the emulsion stability, water holding capacity (WHC), gel strength, water activity(Aw), water content and protein content. Tiger shrimp empek-empek with 1,5% carrageenan addition was the best treatment with the properties as follow,the emulsion stability 86,79%, water holding capacity 38,63%, gel strength 838,88 g.cm, water activity 0,86, water content 55,16%, protein content 18,38%, fat content 0,05% and hedonic 7,6≤µ≤8,4.
PENGARUH METODE PENGERINGAN GRANULATOR TERHADAP KANDUNGAN ASAM GLUTAMAT SERBUK PETIS LIMBAH PINDANG IKAN LAYANG (Decapterus spp.) Fauzy, Hilda Rizkyah; Surti, Titi; Romadhon, -
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (385.098 KB)

Abstract

Petis adalah produk sampingan hasil perebusan (ikan, kupang, dan udang) yang dikentalkan seperti saus. Petis mengandung asam glutamat yang cukup tinggi yang dikenal sebagai penyedap makanan. Oleh karena itu, sangat memungkinkan produk flavor yang dibuat dari petis limbah pindang ikan layang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode pengeringan granulator terhadap kandungan asam glutamat, sifat kimia dan sifat fisik pada serbuk petis limbah pindang ikan layang. Metode penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan perlakuan metode pengeringan granulator (50°C selama 5 jam, 60°C selama 4 jam, dan 70°C selama 3 jam). Variabel mutu yang diamati adalah asam glutamat, kadar air, protein, lemak, abu karbohidrat, dan hedonik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode pengeringan granulator berpengaruh nyata terhadap nilai asam glutamat dengan nilai tertinggi diperoleh pada pengeringan suhu 50oC selama 5 jam yaitu 10,12%; Kadar protein, dan lemak terbaik terdapat pada metode pengeringan granulator dengan suhu 50oC selama 5 jam dengan nilai kadar protein 31,73%, kadar lemak 4,62%. Sedangkan untuk metode pengeringan granulator dengan suhu 70oC selama 3 jam memberikan nilai terbaik pada kadar air (21,37%), abu (6,16%) dan karbohidrat (65,79%). Nilai hedonik terbaik terdapat pada metode pengeringan granulator dengan suhu 60oC selama 4 jam yaitu 7,31 7,49. Fish paste is made from boiling of fish, mussel and shrimp by product which is viscous like sauce. Fish paste is high glutamic acid content that is used as food flavoring. Therefore, it may possibly making fish paste powder from mackerel scad byproducts due to high content of glutamic acids. The aimed of this research were to determine the effect of granulator drying method to glutamic acid content, the chemical and physical characteristic of the fish paste powder of mackerel scad fish boiled by product. The used research method was a randomized block design with three different treatments method of drying granulator (50oC for 5 hours, 60oC for 4 hours and 70oC for 3 hours). Quality variable measured were glutamic acid, moisture contnet, protein, lipids, ash, carbohydrate  and hedonic test. The result of the research showed that the method of granulator drying on fish paste powder of mackerel scad fish boiled by product had significantly affected to glutamic acid content on treatment 50oC for 5 hours which was showed the high content of glutamic acids 10,12%. Protein content and lipid content also showed the high amount at 50oC for 5 hours with 31,73% and 4,62% respectively, meanwhile at 70oC for 3 hours treatment gave the low moisture content (21,37%), ash content (6,16%) and carbohydrate content (65,79%). The high hedonic test (7,31 7,49) be found at temperature 60oC for 4 hours.
PENGARUH ”SOGA TINGI” (Cerios tagal) SEBAGAI BAHAN PENYAMAK TERHADAP KUALITAS FISIK DAN KIMIA KULIT IKAN BANDENG (Chanos chanos Forsk) Zulfa, Feniya; Swastawati, Fronthea; Wijayanti, Ima
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.047 KB)

Abstract

Penyamakan adalah proses konversi protein kulit mentah menjadi kulit samak yang stabil, tidak mudah membusuk, dan cocok untuk beragam kegunaan, salah satu bahan yang dapat digunakan sebagai bahan penyamak nabati adalah soga tingi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penggunaan tanin soga tingi terhadap kualitas fisik dan kimia dari kulit ikan bandeng samak. Materi yang digunakan yaitu kulit ikan bandeng yang diperoleh dari home industry Fania Food, Yogyakarta. Larutan soga tingi diperoleh dari desa Jetis Baran, Sleman Yogyakarta. Parameter pengujian meliputi kekuatan tarik, kemuluran, kekuatan sobek, suhu kerut, kadar air, kadar minyak, dan kadar zat larut dalam air. Penelitian menggunakan desain percobaan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga kali ulangan perlakuan konsentrasi 27,5%, 30%, 32,5% dan 20% mimosa sebagai kontrol. Data dianalisis menggunakan analisa ragam (ANOVA). Untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan data diuji dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa soga tingi dengan konsentrasi bahan penyamak yang berbeda berpengaruh nyata (p<0,05) terhadap kekuatan tarik, kemuluran, kekuatan sobek, suhu kerut, kadar air, kadar minyak, dan kadar zat larut dalam air. Kulit samak ikan bandeng dengan konsentrasi soga tingi 27,5% merupakan hasil yang terbaik dengan kriteria mutu : kekuatan tarik (1923,51N/cm2), kemuluran (24,86%), kekuatan sobek (420,28 N/cm2), suhu kerut (90,67°C), kadar air (14,13%), kadar minyak (8,43%), dan kadar zat larut dalam air (5,12%). Tanning is the process of converting raw skin protein into stable leather which not decompose easily, and suitable for various uses. One of the ingredients that can be used as a tanning materials is soga tingi. The research aimed was to determine the effect of the soga tingi tannins towards the physical and chemical the quality of fish skin leather. The material which used in this research were milkfish skin that obtained from Fania Food home industry, Yogyakarta. Soga tingi solution obtained from Jetis Baran village, Sleman, Yogyakarta. All samples were analyzed for tensile strength, elongation, tear strength, wrinkle temperature, moisture content, oil content, and levels of water-soluble substances. This research was charactereized as experimental laboratories using Completely Randomized Design (CRD) in triplicates with three different treatment concentrations (27.5%, 30%, 32,5% and 20% mimosa as a control). Data were analyzed using analysis of variance (ANOVA). To determine differences among the treatments the data was tested using, Honestly Significant Difference (HSD). The results showed that Soga tingi with different concentrations of tanner gave the significant result (p<0,05) for tensile strength, elongation, tear strength, wrinkle temperature, moisture content, oil content, and levels of water-soluble substances. Leather fish with a concentration of 27,5% soga tingi was the best result with the quality criteria : tensile strength (1923,51 N/cm2), at break elongation (24,86%), tear strength (420,28 N/cm2), wrinkle temperature (90,67°C), moisture content (14,13%), oil content (8,43%), and the levels of substances soluble in water (5,12%).
PENGARUH TRANSGLUTAMINASE TERHADAP MUTU EDIBLE FILM GELATIN KULIT IKAN KAKAP PUTIH (Lates calcalifer) Salimah, Tutuk; Ma'ruf, Widodo Farid; Romadhon, -
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (506.64 KB)

Abstract

Plastik merupakan pengemas makanan yang berpotensi menyebabkan keracunan bila digunakan pada makanan, sehingga diperlukan bahan kemasan yang aman apabila dikonsumsi oleh manusia yaitu edible film. Edible film yang terbuat dari protein mempunyai sifat hidrofilik sehingga dapat menyerap sejumlah air pada RH tinggi. Penggunaan transglutaminase membantu memperbaiki kualitas edible film. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan transglutaminase terhadap nilai permeabilitas uap air, kadar air, ketebalan, persen pemanjangan, kekuatan tarik, dan kelarutan. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah gelatin, transglutaminase, dan gliserol. Metode penelitian bersifat experimental laboratories dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 3 perlakuan perbedaan konsentrasi transglutaminase (0,2%; 0,4%; 0,6%) serta kontrol dengan pengulangan 3 kali. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji ANOVA, jika hasil Fhitung ≥ Ftabel maka dilakukan uji lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan transglutaminase dapat menurunkan permeabilitas uap air dan kadar air, serta meningkatkan ketebalan, kekuatan tarik, dan persen pemanjangan. Penelitian menunjukkan bahwa penambahan transglutaminase dibandingkan tanpa penambahan transglutaminase dapat merubah nilai permeabilitas uap air 0,775 -1,13  (g.m-1.s-1.pa-1), kadar air 13,45 - 15,26 (%), ketebalan 0,081 – 0,107 (mm), persen pemanjangan 14,13 – 79,67 (%), kekuatan tarik 5,18 – 39,71 (MPa). Plastic are food packaging that potentially causes toxicity when it is used in food, so we need packaging materials which is safe when consumed by humans being, one of them is edible film. Edible film is made from proteins which have hydrophilic properties so it can be absorbed a certain amount of water at high RH. The used of transglutaminase help to improve the quality of edible film. The aimed of this study was to determine the effect of transglutaminase on water vapor permeability value, moisture content, thickness, percent elongation, tensile strength, and solubility. The materials used in this study were gelatin, transglutaminase, and glycerol. The researched method was experimental laboratories used completely randomized design (CRD), which consists of 3 different treatments of transglutaminase concentration (0.2%; 0.4%; 0.6%) and control in triplicates. Data were analyzed using ANOVA, if the result Fcount ≥ Ftable then the treatment performed by Honestly Significant Difference (HSD). The results showed that the addition of transglutaminase decrease the water vapor permeability and water content, as well as increasing the thickness, tensile strength, and percent elongation. The research showed that the addition of transglutaminase compared to without transglutaminase indicates changes on water vapor permeability values 0,775 to 1,13 (g.m-1.s-1.pa-1), the water content of 13,45 to 15,26 (% ), thickness 0,081 to 0,107 (mm), percent elongation 14,13 to 79,67 (%), tensile strength 5,18 to 39,71 (MPa).

Page 2 of 2 | Total Record : 19