cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Management of Aquatic Resources Journal (Maquares)
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 27216233     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Management of Aquatic Resources diterbitkan oleh Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Departemen Sumberdaya Akuatik, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro. Jurnal Management of Aquatic Resources menerima artikel-artikel mengenai bidang perikanan, manajemen sumberdaya perairan.
Arjuna Subject : -
Articles 548 Documents
STATUS KESUBURAN PERAIRAN BERDASARKAN SEBARAN KLOROFIL-a, BAHAN ORGANIK, NITRAT DAN FOSFAT DI PESISIR SAYUNG, DEMAK Aquatic Trophic Status Based on Chlorophyll-a, Organic Matter, Nitrate and Phosphate Distribution in the Coast of Sayung, Demak Meliala, Elvina Gianina; Purnomo, Pujiono Wahyu; Rahman, Arif
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 8, No 3 (2019): MAQUARES
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.509 KB) | DOI: 10.14710/marj.v8i3.24250

Abstract

ABSTRAK Pesisir Sayung terletak di utara Laut Jawa dan didominasi oleh hutan mangrove dengan populasi penduduk yang tinggi. Adanya hutan mangrove dan aktivitas manusia di sekitar pesisir berpotensi membuat perairan menjadi kaya bahan organik. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui status dan sebaran kesuburan perairan dan mengkaji hubungan antara klorofil-a, bahan organik, nitrat dan fosfat di Desa Bedono dan Timbulsloko, Sayung, Demak. Penelitian dilakukan pada bulan Desember 2018. Metode yang digunakan pada penelitian adalah metode deskriptif. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling pada 2 stasiun dengan 4 titik di setiap stasiunnya. Analisis status kesuburan perairan dengan metode TSI dan sebaran kesuburan dengan metode IDW. Analisa data untuk mengetahui hubungan antar variabel menggunakan regresi linear berganda. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa status kesuburan perairan di pesisir Sayung termasuk kategori eutrofik. Kesuburan perairan di Bedono (69,04) lebih tinggi daripada Timbulsloko (67,94) dan cenderung menurun ke arah laut. Klorofil-a berhubungan kuat dengan nitrat, fosfat dan BOD (r=0,915). Pada perairan Bedono, keberadaan klorofil-a cenderung dipengaruhi oleh nitrat, sedangkan pada perairan Timbulsloko cenderung dipengaruhi oleh fosfat. ABSTRACT The Coast of Sayung is located in the North of Java Sea. This area is dominated by mangrove forest with a high rural population. The existence of mangrove forest and human activities in the area make the waters enriched with organic matters. Aims of this research are to know the category and distribution of trophic status also to understand the correlation among organic matters, chlorophyll-a, nitrate and phospate in Bedono and Timbulsloko, Sayung, Demak. This research was conducted on December 2018 and used descriptive method. The technical method of sampling used purposive sampling on two stations of four points each. Trophic State Index (TSI) used to analyze the trophic status in the coast of Sayung an the distribution used IDW method. Data analysis to find out the correlation among variabels used multiple linear regression method. The final result shows that the trophic status in the coast of Sayung is categorized as eutrophic. The trophic state in Bedono (69,04) is higher than in Timbulsloko (67,94). Chlorophyll-a had strong correlation with nitrate, phosphate and BOD (r=0,915). In Bedono, chlorophyll-a mostly affected by nitrate while in Timbulsloko it mostly affected by phosphate.
ASPEK BIOLOGI DAN TINGKAT PEMANFAATAN IKAN SELAR KUNING (Selaroides leptolepis) YANG TERTANGKAP JARING CANTRANG DI PERAIRAN KABUPATEN PEMALANG Andriani, Novi; Saputra, Suradi Wijaya; Hendrarto, Boedi
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (613.832 KB)

Abstract

Ikan selar kuning merupakan salah satu ikan pelagis yang termasuk dari famili Carangidae yang sering tertangkap jaring cantrang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aspek biologi ikan Selar kuning; tingkat pemanfaatan dan rencana pengelolaan ikan melalui produksi per satuan upaya penangkapan (CPUE), potensi maksimum lestari (MSY) serta upaya penangkapan optimum (f.opt). Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari-Maret 2015 di TPI Asemdoyong. Penelitian menggunakan data primer dan data sekunder, sedangkan sampel ikan didapatkan dengan metode penarikan contoh acak sederhana. Data sekunder meliputi data produksi ikan Selar kuning selama 5 tahun terakhir mulai tahun (2010–2014). Hasil penelitian menunjukan struktur ukuran tangkapan berada pada 123-130 mm, pertumbuhan ikan Selar kuning bersifat allometrik positif dengan nilai b sebesar 3,067. Faktor kondisi (Kn) yang diperoleh adalah 1,041. Ukuran ikan pertama kali tertangkap (L50%) adalah 126 mm. TKG yang diperoleh mayoritas berada pada TKG II, III, dan IV dengan nilai IKG jantan berkisar antara 0,06-0,97 % dan betina berkisar antara 0,06-3,54 %. Ikan Selar kuning pertama kali matang gonad (Lm50%) pada jantan adalah 133,8 mm dan betina adalah 133,6 mm. Nilai fekunditas berkisar antara 11.220-33.880 butir. Perkembangan CPUE selama 5 tahun terakhir mengalami fluktuasi dan cenderung mengalami kenaikan. Nilai MSY dan F.optimum sebesar 1.078.927 Kg dan 11.269,98 trip; dengan pemanfaatan ikan Selar kuning dalam kondisi over fishing. Rencana upaya pengelolaan ikan selar kuning di Perairan Kabupaten Pemalang dilakukan dengan cara memperbesar mesh size, mengatur daerah penangkapan dan musim penangkapan. Yellow striped trevally is one of pelagic fish of the family carangidae and that is often caught using danish seine. The research was intended to recognize the biological aspects of Yellow striped trevally; the exploitation level and management plan by way ofthe catch per unit effort (CPUE), maximum potential sustainable (MSY) and effort rate optimum (f.opt). This study was carried out at TPI Asemdoyong during February-March 2015. The study of data used were primary data and secondary data while fish sample obtained by a simple random sampling method. The secondary data was the production data of Yellow striped trevally in recent 5 years (2010-2014). The result showed size ranges from 123-130 mm. Growthof  Yellow striped trevally was positive allometric b value of 3,067. The condition factor (Kn) that found 1,041. First caught fish size was (L50%) of 126 mm. TKG acquired majority were at TKG II, III, and IV with IKG values ranged from 0.06 to 0.97% males and females ranged from 0.06 to 3.54%. The first of Yellow striped trevally mature gonads (Lm50%) in males and females was 133.8 mm and 133.6 mm. Fecundity values obtained ranged between 11220-33880 item. CPUE developments over the last 5 years was fluctuated and tends to increase. MSY and F.optimum amounted to 1,078,927 kg and 11269.98 trip; with exploitation level of Yellow striped trevally (Selaroides leptolepis) still considered as over fishing. The management plan of Yellow striped trevally in Pemalang waters has been done by increasing the mesh size, arragement of fishing ground and management of fishing season.
Efektifitas Fasilitas Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Pasir Dalam Pengelolaan Sumberdaya Perikanan Di Kabupaten Kebumen Wardani, Muhamad Sutri; Ghofar, Abdul; Saputra, Suradi Wijaya
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (161.62 KB)

Abstract

Pelabuhan Perikanan merupakan pusat pengembangan ekonomi yang mempunyai tugas pokok untuk menunjang peningkatan usaha di bidang perikanan. Untuk memacu perkembangan dan pertumbuhan usaha perikanan serta peningkatan taraf hidup nelayan, Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) di Kabupaten Kebumen mempunyai potensi untuk dikembangkan menjadi Pelabuhan Perikanan dilihat dari potensi sumberdaya perikanan yang besar. Kabupaten Kebumen mempunyai wilayah penangkapan yang cukup luas, adanya sumber daya perikanan laut yang memungkinkan dieksploitasi oleh armada perikanan yang cukup besar dan jumlah nelayan yang cukup banyak, adanya industri pengolahan ikan dan kegiatan pemasaran, serta dukungan yang besar dari masyarakat nelayan Kebumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai CPUE (Catch per Unit Effort) selama sepuluh tahun di Kabupaten Kebumen mengalami fluktuasi, nilai cpue alat tangkap pelagis tertinggi  131,62 kg/trip tahun 2002 dan terendah 20,95 kg/trip pada tahun 2008 sedangkan nilai cpue alat tangkap demersal tertinggi  16,17 kg/trip tahun 2007 dan terendah 0,45 kg/trip pada tahun 2004. Kondisi fasilitas-fasilitas di PPI saat ini sebagian rusak dan kurangnya perawatan. Persepsi nelayan Pasir  terhadap efektifitas pengembangan fasilitas PPI Pasir dalam kaitan dengan pengelolaan sumberdaya perikanan didominasi kategori cukup baik 73,15%. Kondisi fasilitas di PPI Pasir dalam kategori kurang baik 91,3% pada fasilitas dasar, cukup baik 65,22% pada fasilitas fungsional dan kurang baik 54,35% pada fasilitas penunjang.
KELIMPAHAN EPIFAUNA PADA EKOSISTEM LAMUN DENGAN KEDALAMAN TERTENTU DI PANTAI BANDENGAN, JEPARA (Epifauna Abundance in Seagrass Ecosystem with Specific Depth at Bandengan Beach, Jepara) Indah Abrianti S, Indah Abrianti S; Supriharyono, Supriharyono; Sulardiono, Bambang
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 6, No 4 (2017): MAQUARES
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (857.903 KB)

Abstract

Ekosistem lamun merupakan salah satu ekosistem laut dangkal yang terdapat hampir di seluruh perairan dangkal Indonesia. Ekosistem lamun memiliki banyak peranan penting, salah satunya adalah tempat asosiasi dari epifauna. Kerapatan dari lamun akan berpengaruh terhadap kelimpahan epifauna di Pantai Bandengan Jepara. Penelitian ini dilaksanakan pada April 2017 di Pantai Bandengan Jepara dan bertujuan untuk dapat mengetahui hubungan antara kelimpahan epifauna dengan kerapatan lamun, kedalaman dan bahan organik. Metode penelitian yang digunakan yakni Purposive Sampling. Pengambilan sampel diambil pada 3 stasiun dengan kedalaman berbeda dan masing-masing stasiun dilakukan 3 kali pengulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan 1 jenis lamun di Pantai Bandengan, yaitu Thalassia sp. Kerapatan lamun pada masing-masing stasiun yaitu 120 (I), 219 (II) dan 50 (III), dengan kata lain terdapat lamun dengan kerapatan rendah, sedang dan tinggi. Epifauna yang ditemukan di Pantai Bandengan Jepara secara keseluruhan yaitu 6 spesies dengan kelimpahan 61 ind/m² pada stasiun kerapatan rendah, 101 ind/m² pada kerapatan sedang dan 119 ind/m² pada kerapatan tinggi. Berdasarkan uji regresi menunjukkan bahwa hubungan antara kelimpahan epifauna dengan kerapatan lamun, kedalaman dan bahan organik adalah positif, sedangkan pengaruh dari kerapatan lamun dan bahan organik terhadap kelimpahan epifauna terjadi secara langsung, dan pengaruh kedalaman terhadap kelimpahan epifauna adalah secara tidak langsung. The seagrass ecosystem is one of shallow marine ecosystem found in almost all shallow waters of Indonesia. The seagrass ecosystem has many important roles, one of which is the association of epifauna. The density of the seagrasses will have an effect on the epifauna abundance in Bandengan Beach Jepara. This research was conducted on April 2017 at Bandengan Beach Jepara and the aimed of this research was to find out the relationship between epifauna abundance with seagrass density, depth and organic material. The research method used is Purposive Sampling. Sampling is taken at 3 different depth stations and each station is done 3 repetitions. The results showed that found 1 type of seagrass in Bandengan Beach, namely Thalassia sp. Seagrass density at each station is 120 (I), 219 (II) and 50 (III), in other words there are seagrasses with low, medium and high density. Epifauna found in Bandengan Beach Jepara is 6 species with an abundance of 61 ind/m² at low density stations, 101 ind/m² at medium density, and 119 ind/m² at high density. Based on the regression test result showed that the relationship between epifauna abundance with seagrass density, organic material and depth is positive however seagrass density and organic material influence to epifauna abundance have direct effect and depth influence to epifauna abundance have indirect effect.
KELIMPAHAN BULU BABI (SEA URCHIN) PADA EKOSISTEM KARANG DAN LAMUN DI PERAIRAN PANTAI SUNDAK, YOGYAKARTA Firmandana, Tony Cahya; Suryanti, -; Ruswahyuni, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (627.706 KB)

Abstract

Perairan pantai Sundak memiliki beberapa biota echinodermata salah satunya bulu babi. Bulu babi tersebar di ekosistem padang lamun dan karang, keberadaan bulu babi pada suatu ekosistem tidak bisa lepas dari pengaruh faktor fisika kimia pada lingkungan tersebut, walaupun tidak berpengaruh secara langsung. Karakteristik yang berbeda pada kedua ekosistem akan mempengaruhi populasi pada ekosistem tersebut. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui kondisi ekosistem karang dan lamun di perairan pantai Sundak, untuk mengetahui kelimpahan bulu babi (sea urchin) di ekosistem karang dan lamun pantai Sundak, dan untuk mengetahui perbedaan kelimpahan bulu babi pada ekosistem karang dan padang lamun pantai Sundak. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei yang bersifat deskriptif. Metode sampling yang digunakan pada kegiatan penelitian ini yaitu penentuan lokasi sampling, pengambilan data penutupan karang, pengambilan data kelimpahan bulu babi. Pengukuran parameter kimia dan fisika berupa arus, suhu, salinitas, pH, kedalaman, kecerahan, dan bahan organik. Analisis data meliputi penutupan karang, kerapatan lamun, kelimpahan bulu babi, indeks keanekaragaman, dan indeks keseragaman. Penutupan substrat dasar pada lingkungan ekosistem karang di pantai Sundak didominasi oleh karang mati dengan presentase sebesar 62,2%, pecahan karang 24,25%, dan pasir 13,5%. Sedangkan kerapatan lamun di pantai Sundak sebesar 68 ind/m2. Kelimpahan bulu babi di pantai Sundak pada ekosistem karang dan lamun dengan jenis Stomopneustus sp., jenis Echinometra sp. A, jenis Echinometra sp. B, dan jenis Echinometra sp. C pada ekosistem karang dengan kelimpahan sebesar 329 ind/50m2 dan jenis Stomopneustus sp. dan jenis Echinometra sp. A. Pada ekosistem lamun dengan kelimpahan sebesar 34 ind/50m2. Terdapat perbedaan kelimpahan jumlah bulu babi pada ekosistem karang dan ekosistem padang lamun. Sundak coastal waters have some biota one of them is urchins echinoderms. Sea urchins spread over the seagrass beds and coral ecosystems, the existence of sea urchins in an ecosystem can not be separated from the influence of environmental factors on the chemical physics, although has no direct influence. The different characteristics in the two ecosystems will affect the population in the ecosystem. This study was conducted to determine the condition of coral and seagrass ecosystems in Sundak coastal waters, to determine the abundance of sea urchins on coral and seagrass ecosystems in Sundak Beach, and to determine the relationship of the abundance of sea urchins between the characteristic of habitats on coral and seagrass in Sundak beach. The method used is descriptive survey method. The sampling method used in this research is determining the location of sampling, coral cover data retrieval, data retrieval abundance of sea urchins. Measurement of chemical and physical parameters such as flow, temperature, salinity, pH, depth, brightness, and organic matter. Data analysis was includes coral cover, the density of seagrass, the abundance of sea urchin, diversity index, and uniformity index. Closure of bottom substrate on coral ecosystems in the coastal environment in Sundak beach dominated by dead coral with a percentage of 62.2%, 24.25% rubble, and 13.5% sand. While the density of seagrass on the Sundak beach ind/m2 68. Abundance of sea urchins on the Sundak beach in the reef and seagrass environments with type Stomopneustus sp., Kind Echinometra sp. A type of Echinometra sp. B, and type of Echinometra sp. C on coral ecosystems with an abundance of 329 ind/50m2 and the type of Stomopneustus sp. and types of Echinometra sp. A. on seagrass ecosystems with an abundance of 34 ind/50m2. There are differences in the abundance of sea urchins amount on coral and seagrass ecosystems.
HUBUNGAN NITRAT DAN FOSFAT DENGAN KLOROFIL-A DI MUARA SUNGAI WULAN KABUPATEN DEMAK Prihatin, Meina Siska; Suprapto, Djoko; Rudiyanti, Siti
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (437.981 KB)

Abstract

Muara Sungai Wulan merupakan aliran sungai yang banyak dimanfaatkan untuk aktivitas manusia seperti tempat pemukiman penduduk, budidaya perikanan, hutan mangrove, serta jalur transportasi kapal nelayan sehingga mempengaruhi kesuburan perairan, secara langsung atau tidak langsung akan mempengaruhi kandungan Nitrat, Fosfat dan Klorofil-a. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kandungan  Nitrat, Fosfat, dan Klorofil-a dan  hubungan Nitrat dan Fosfat dengan Klorofil-a. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September 2015 di Muara Sungai Wulan Demak, Jawa Tengah. Pengambilan sampel dilakukan pada empat stasiun yang berbeda. Parameter utama dalam penelitian ini adalah Nitrat, Fosfat dan Klorofil-a. Parameter pendukung dalam penelitian ini adalah kelimpahan fitoplankton, pengukuran kecepatan arus, pH, temperatur, DO, salinitas, kedalaman, dan kecerahan. Hasil penelitian kandungan nitrat pada keempat stasiun berkisar antara 1,53 – 1,70 mg/l, kandungan Fosfat berkisar antara 0,15 - 0,32 mg/l, dan kandungan Klorofil-a berkisar antara 0,039 - 0,058 µg/l.  Hubungan antara Nitrat dengan Klorofil-a diperoleh nilai r sebesar 0,904, hubungan antara Fosfat dengan Klorofil-a diperoleh nilai r sebesar 0,760 menunjukkan bahwa hubungan variabel tersebut sama-sama kuat. Estuary is a river that is widely used for human activities such as a place of settlement, aquaculture, mangrove forests, as well as fishing boat transportation thus affecting the fertility of the waters, directly or indirectly will influence the content of nitrates, phosphates and chlorophyll-a. The purpose of this research is to know the content of nitrates, phosphates, and chlorophyll-a and Nitrate and Phosphate with Chlorophyll-a. This research was carried out in September 2015 at Estuary Wulan Demak, Central Java. Sampling was conducted at four different stations. The main parameter in this research are Nitrates, Phosphates and Chlorophyll-a. Supporting parameters in this study is the abundance of phytoplankton, the measurement of the speed of the flow, pH, temperature, salinity, depth, D.O, and brightness. The research content of nitrates in the four stations ranged from 1.53 – 1.70 mg/l Phosphate content, ranging between 0.15-0.32 mg/l, and chlorophyll-a range between 0.039-0.058 µ g/l. Relationship between Nitrate with Chlorophyll-a retrieved value r of 0.904, the relationship between Phosphate with Chlorophyll-a retrieved value r of 0.760 shows that the relationship of these variables are equally strong.
KEBIASAAN MAKANAN DAN OSMOREGULASI SEBAGAI LANDASAN DOMESTIKASI KEONG MACAN (Babylonia spirata L.) Novian, Sansistya Dita; Anggoro, Sutrisno; Rachmawati, Diana
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (335.701 KB)

Abstract

Keong Macan (Babylonia spirata L.) merupakan sumberdaya hayati yang memiliki nilai ekonomis karena banyak mengandung protein, kandungan lendir yang sedikit, rasanya enak dan mudah dalam pengelolaannya. Pemanfaatan keong macan yang dilakukan secara besar-besaran dan tidak sesuai dengan kemampuan regenerasi organisme tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kebiasaan makanan, jenis makanan yang terdapat pada perut, mengkaji hubungan panjang cangkang dan berat bobot total hasil tangkapan, dan mengetahui tingkat serta pola osmoregulasi keong macan di alam. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli-Agustus 2011 di Perairan Laut Kartini Jepara. Pengamatan sample dilakukan di laboratorium LPWP Jepara dan laboratorium Hidrobiologi Fakultas Perikanan Universitas Diponegoro. Pengambilan sampel dilakukan sebanyak empat kali setiap dua minggu sekali di Perairan Laut Kartini Jepara. Pada setiap titik, contoh diambil sebanyak 100 ekor. Penelitian ini menggunakan beberapa metode yaitu, untuk pemeriksaan kebiasaan makanan menggunakan metode gravimetrik, pemeriksaan osmoregulasi dilakukan dengan cara menghitung tingkat kerja osmotik berdasarkan perbedaan nilai osmolaritas haemolymph keong macan dan osmolaritas air laut, pemeriksaan osmolaritas menggunakan osmometer, dan sifat pertumbuhan ditentukan berdasarkan analisis hubungan panjang berat. Pola osmoregulasi keong macan di alam berada pada kondisi regulasi isoosmotik dengan rentang salinitas 31.5 hingga 32.3 ‰ dan Osmolaritas haemolymph pada rentang 924.90 hingga 935.32 mOsm/l H2O. Beban kerja osmotik (TKO) paling mendekati isoosmotik yaitu pada salinitas 32 ‰ dengan osmolaritas media pada nilai 935.32 mOsm/l H2O. Pada penelitian kondisi isoosmotik optimal terdapat pada stasiun I dan IV. Domestikasi keong macan mulai tahap aklimasi sampai kultivasi perlu memperhatikan kebutuhan media isoosmotik, yaitu 31.5 hingga 32.3 ‰ (924.90 hingga 935.32 mOsm/l H2O) dengan pakan daging ikan karena keong macan bersifat karnivora.
ASPEK BIOLOGI IKAN SEBELAH (Psettodes erumei) YANG TERTANGKAP DAN DIDARATKAN DI PELABUHAN PERIKANAN PANTAI (PPP) TAWANG KABUPATEN KENDAL Barokah, Leni; Solichin, Anhar; Suprapto, Djoko
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) VOLUME 5, NOMOR 4, TAHUN 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (144.754 KB)

Abstract

ABSTRAK Ikan Sebelah (Psettodes erumei) merupakan ikan demersal yang hidup di dasar perairan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aspek biologi ikan Sebelah di Perairan Kabupaten Kendal. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei-Juni 2016. Metode dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Pengambilan sampel menggunakan metode simple random sampling atau acak sederhana. Data primer meliputi panjang berat, tingkat kematangan gonad, dan fekunditas untuk mengetahui aspek biologi ikan Sebelah, sedangkan data sekunder meliputi data produksi ikan Sebelah selama penelitian. Hasil penelitian menunjukan ukuran panjang ikan Sebelah mempunyai kisaran 140 mm – 310 mm dan berat dengan kisaran 31 gram – 332 gram, ukuran pertama kali ikan tertangkap (L50%) adalah 228 mm. Sifat pertumbuhanya bersifat allometrik positif  dengan nilai Kn adalah 1,19. Tingkat kematangan gonad ikan Sebelah jantan didominasi oleh TKG III dan IV, sedangkan tingkat kematangan gonad ikan Sebelah betina didominasi oleh TKG IV. Nilai indeks kematangan gonad terendah pada ikan Sebelah jantan adalah 0,07% dan nilai IKG tertinggi adalah 1,03%, sedangkan nilai IKG terendah pada ikan Sebelah betina adalah 0,24% dan nilai IKG tertinggi adalah 4,41%. Fekunditasnya berkisar antara 38.832 – 64.318 butir. Diameter telur terkecil pada TKG IV dan terbesar pada TKG VI. CPUE tertinggi pada sampling minggu ke 1 yaitu sebesar 5.607 kg/kapal sedangkan CPUE terendah terjadi pada sampling minggu ke 4 yaitu sebesar 3.623 kg/kapal. Kata Kunci : Ikan Sebelah (Psettodes erumei), Perairan Kendal, Pola Pertumbuhan. ABSTRACT Flatfish (Psettodeserumei) is kind of demersal fish that lives in seabed. The aimed of this research is to find out the biological aspect of flatfish of Kendal Regency waters. The research was done in May to June of 2016. The method used in this research is descriptive method. In taking the sample, it uses simple random sampling method. The primary data include long weight, gonad maturity level and fecundity to know the biological aspect of flatfish. Secondary data include flatfish production data during research. The result shows the flatfish length is about 140 – 310 mm and its weight is about 31– 332 gram. The length of first caught flatfish (L50%) is 228 mm. Its nature of growth is allometrikpositif, and its Kn value is 1,19. The gonad maturity level of male flatfishis dominated by TKG III and IV, and the gonad maturity level of female flatfish is dominated by TKG IV. The lowest value of gonad maturity level of male flatfish is 0,07% and the highest IKG value is 1,03%, while the lowest IKG value of female flatfish is 0,24% and the highest IKG value is 4,41%. The fecundity is about 38.832 – 64.318 egg. The smallest egg diameter is in TKG IV and the biggest is in TKG VI. The highest CPUE of first week sampling is 5.607 kg/ship, while the lowest CPUE is occurred on the fourth week, i.e. 3.623 kg/ship. Keywords:Flatfish (Psettodeserumei), Kendal waters, Growth pattern.
PENGARUH PENGELOLAAN KUALITAS AIR TERHADAP TINGKAT KELULUSHIDUPAN DAN LAJU PERTUMBUHAN UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) DI PT. INDOKOR BANGUN DESA, YOGYAKARTA Fuady, Muhammad Faiz; Haeruddin, -; Nitisupardjo, Mustofa
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.962 KB)

Abstract

Adanya pengelolaan kualitas air yang baik dapat menjaga kualitas air agar sesuai dengan baku mutu dan dapat meningkatkan produktivitas tambak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pengelolaan kualitas air pada proses budidaya udang vaname yang di lakukan oleh PT. Indokor dan mengetahui pengaruh pengelolaan kualitas air terhadap laju pertumbuhan dan tingkat kelulushidupan udang vaname . Penelitian ini  dilaksanakan pada bulan September - November 2012. Hasil yang diperoleh melalui pengukuran kualitas air pada budidaya intensif adalah kadar oksigen terlarut berkisar antara 3,9 - 7,8 mg/l, kadar karbondioksida bebas berkisar antara 2,6 − 5,1 mg/l, nilai pH berkisar antara 6,47 – 7,65, nilai suhu berkisar antara 24 0C  − 29 0C, nilai kecerahan berkisar antara 20 − 39 cm, nilai salinitas berkisar 15 − 19 ppt,  nilai kandungan nitrit berkisar 0,010  – 0,052 mg/l, dan nilai kandungan amonia berkisar 0,006  – 0,017 mg/l. Kemudian rata-rata nilai laju pertumbuhan udang adalah 0,24 gram/hari dan tingkat kelulushidupan sebesar 84 %. Sedangkan pada budidaya semi intensif di peroleh  kadar oksigen terlarut berkisar antara 1,8 – 3,5 mg/l, kadar karbondioksida bebas berkisar antara 4,9 – 6,6 mg/l, nilai pH berkisar antara 5,63 – 6,64, nilai suhu berkisar antara 26 0C  − 29 0C, nilai kecerahan berkisar antara 15 − 39 cm, nilai salinitas berkisar 16 − 18 ppt. Kemudian rata-rata nilai laju pertumbuhan udang adalah 0,18 gram/hari dan tingkat kelulushidupan sebesar 75 %. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan adanya pengelolaan kualitas air yang baik pada budidaya intensif di PT. Indokor dapat meningkatkan nilai paramater kualitas air, laju pertumbuhan serta tingkat kelulushidupan udang vaname (Litopenaeus vannamei).
PEMETAAN SEBARAN TERUMBU KARANG MENGGUNAKAN CITRA SATELIT SPOT-6 DI PERAIRAN PULAU PARI KEPULAUAN SERIBU JAKARTA Maulana, Yonas Ramadhan; Supriharyono, Supriharyono; Febrianto, Sigit
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 7, No 3 (2018): MAQUARES
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (876.785 KB) | DOI: 10.14710/marj.v7i3.22552

Abstract

Pulau Pari merupakan salah satu pulau dari gugusan  Kepulauan Seribu, Jakarta yang memiliki ekosistem terumbu karang. Pencemaran minyak yang terjadi di Teluk Jakarta serta meningkatnya jumlah wisatawan di Pulau Pari memberikan dampak terhadap ekosistem terumbu karang di wilayah tersebut. Berdasarkan hal tersebut, maka diperlukan kajian mengenai kondisi terumbu karang di Pulau Pari, Kepulauan Seribu dan penyebab utama terjadinya degradasi pada terumbu karang tersebut. Penelitian ini menggunakan purposive sampling technique dan metode survei, materi yang digunakan pada penelitian ini adalah Citra Satelit SPOT-6 dan data hasil pengukuran terumbu karang di Pulau Pari, Kepulauan Seribu, Jakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu di tiap stasiun berkisar antara 27 - 290C, salinitas 31-32 0/00, kekeruhan air masih dibawah ambang batas baku mutu kekeruhan air untuk biota laut yaitu <0.1 NTU. Persentase karang hidup di Pulau Pari ditinjau dari penutupan karang memiliki nilai yang beragam, nilai terendah 24.20 % atau dapat dikatakan karang dalam kondisi rusak dan nilai tertinggi sebesar 41,64 %. Uji akurasi digunakan sebagai fiksasi hasil interpretasi citra dengan data di lapangan, dari 50 titik sampling di lapangan terdapat 35 titik sampling yang sesuai dengan analisis  penginderaan jauh pada citra SPOT-6. Titik sampling yang keliru menginterpretasikan penutupan lahan yaitu 15 titik sampling. Hal ini menunjukkan nilai akurasi dari penggunaan citra SPOT-6yaitu sebesar 70.00%. Hasil yang didapat hasil klasifikasi citra maupun sampel training area menunjukan kemampuan yang baik dan dapat digunakan dalam proses pemetaan.   Pari Island is one of the thousand islands knows has a luxury coral reef's ecosystem. Oil pollution in Jakarta bay and the increasing number of tourists on the Pari Island had an impact on coral reef ecosystems these activities may effect on degradation coral reefs in Pari Island. This theory used survey method and purposive sampling technique, the material used in this research is satellite SPOT-6 image and coral reef measurement data on Pari Island, Thousand Islands, Jakarta. The results of this study indicate that the temperature at each station ranged from 27 - 290C, salinity 31 - 320/00, turbidity of water is still below the standard threshold of water turbidity for marine biota, is <0.1 NTU. Live coral percentage on Pari Island viewed from coral cover has diverse value, the lowest value 24,20% or can be said coral in damaged condition and highest value 41,46%. The accuracy test is used as a fixation of the results of the interpretation of the image with the field data, from the 50 sampling points in the field there are 35 sampling points corresponding to the remote sensing analysis on the SPOT - 6. Sampling point mistakenly interpreting the land closure of 15 sampling points. It shows the accuracy value of the use of SPOT - 6 that is 70%. The results obtained from the classification of image and sample training area shows a good ability and can be used in the mapping process.Â