cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Management of Aquatic Resources Journal (Maquares)
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 27216233     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Management of Aquatic Resources diterbitkan oleh Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Departemen Sumberdaya Akuatik, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro. Jurnal Management of Aquatic Resources menerima artikel-artikel mengenai bidang perikanan, manajemen sumberdaya perairan.
Arjuna Subject : -
Articles 548 Documents
STRUKTUR POPULASI TIRAM (Saccostrea cuccullata Born, 1778) PADA EKOSISTEM MANGROVE DAN NON-MANGROVE DI SEMARANG, JAWA TENGAH Rismawati, Ulfah; Afiati, Norma; Suprapto, Djoko
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (526.782 KB)

Abstract

Tiram (Saccostrea cuccullata), merupakan salah satu sumberdaya perikanan yang memiliki nilai ekonomis penting. Pengambilan tiram umumnya dilakukan secara tidak teratur baik jumlah, ukuran dan waktunya sehingga diduga hal tersebut berpengaruh terhadap struktur populasi. Penelitian ini dilakukan di Pantai Mangkang yang merupakan daerah bermangrove dan Pantai Maron yang non-mangrove, Semarang Jawa Tengah selama bulan Juli – September 2014, yang bertujuan untuk mengkaji perbedaan struktur populasi tiram berdasarkan perbedaan pada ekosistem mangrove dan non-mangrove. Metode survei deskriptif digunakan dalam penelitian ini dengan teknik pengambilan sampel bersifat purposive random. Jumlah sampel tiram yang terkumpul selama tiga bulan (Juli – September, 2014) pada daerah bermangrove yaitu 209 individu, sedangkan pada daerah non-mangrove berjumlah 253 individu. Kisaran panjang cangkang tiram pada ekosistem mangrove yaitu 12,00 – 82,20 mm dan untuk berat basah total yaitu 1,01 – 55,03 g. Pada daerah non-mangrove kisaran panjang cangkang yaitu 21,30 – 82,00 mm dan berat basah totalnya 2,04 – 83,45 g. Kerapatan populasi tiram di daerah bermangrove berkisar 16 – 96 individu/m2 dan pada daerah non-mangrove yaitu 24 – 104 individu/m2. Pola distribusi pada ekosistem mangrove dan non-mangrove umumnya mengelompok. Sifat pertumbuhan yang didapat dari analisis hubungan panjang berat yaitu alometrik negatif, dimana b<3. Pada pengamatan Indeks STORET (Kepmen LH No. 115, 2003) diperoleh hasil yaitu perairan Pantai Mangkang (Mangrove) dan Pantai Maron (Non-Mangrove) masuk kategori perairan tercemar sedang. Oysters (Saccostrea cuccullata) is the one of the fisheries resource that has an important economic value. Collection of oysters usually done in irregular either total, size and time allowing allegedly this impact on the structure of population. This research is conducted in Mangkang Beach wich is a mangrove areas and Maron beach is a non-mangrove areas, Centtral Java Sea during July – September 2014 with a purpose to study the differences of structure population based on mangrove and non-mangrove areas. Methods that used in this study was descriptive survey with purposive random sampling. Variable observed  i.e  physic, chemist, biology, social and economic factors. Total of sample that collected during three months (July – September) in mangroves areas 209 individuals and in non-mangrove areas 253 individuals. The range of shell length in mangroves ecosystem is 12,00 – 82,20 mm and the total weight is 1,01 – 55,03 g. In non-mangrove ecosystem the range of shell length is 21,30 – 82,00 mm and the total weight is 2,04 – 83,45 g. Population density of oyster in mangrove and non-mangrove areas is generally clumped. Correlation of length and weight of oysters has a meaning negative allometric both of mangrove and non-mangrove, wich  b<3. Sex ratio of oysters both of mangrove and non-mangrove areas is not balanced, wich the male less than female. The results of STORET Index (Kepmen LH No. 115, 2003) categorised that both the waters in mangrove and non-mangrove ecosystem as relatively contaminated.
ANALISIS TROPHIC STATE INDEX CARLSON AIR MUARA SUNGAI BANJIR KANAL TIMUR, SEMARANG Khasani, Andro; Afiati, Norma; Sulardiono, Bambang
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 6, No 1 (2017): MAQUARES
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1164.059 KB)

Abstract

ABSTRAKSungai Banjir Kanal Timur merupakan salah satu sungai besar yang dimiliki Kota Semarang. Sungai ini berfungsi dalam sistem drainase dan pengendalian banjir. Beberapa aliran sungai mengalir ke Sungai Banjir Kanal Timur dan berakhir di muara. Muara merupakan segmen yang akan menampung semua beban yang berasal dari sungai. Oleh karena itu, status trofik perairan di muara, khususnya Sungai Banjir Kanal Timur perlu dievaluasi dalam rangka pengelolaan lingkungan dan pemanfaatan sumberdaya alamnya. Penelitian ini dilaksanakan selama bulan Mei 2016 di muara Sungai Banjir Kanal Timur Semarang. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kualitas air melalui status kesuburan perairan di muara Sungai Banjir Kanal Timur, berdasarkan metode Trophic State Index (Carlson, 1977) dan metode STORET dalam Kepmen LH No. 115 Tahun 2003 tentang Pedoman Penentuan Status Mutu Air dan PP RI No. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Variabel utama yang digunakan pada Analisis TSI Carlson adalah kandungan total N, total P, klorofil-a, dan kecerahan air (angka Secchi disk). Metode penelitian menggunakan metode deskriptif dengan penentuan lokasi sampling bersifat purposive sampling. Hasil yang diperoleh dari analisis TSI (Carlson, 1977) berkisar 53 – 57. Kriteria TSI menunjukkan bahwa TSI TP < TSI SD > TSI CHL dan TSI TP > TSI SD > TSI CHL. Pendugaan interpretasi hubungan tersebut menjelaskan bahwa fosfor membatasi biomasa alga (rasio TN/TP lebih besar dari 33:1), dan nilai TSI Chl yang rendah disebabkan beberapa faktor lain selain fosfor seperti, pemangsaan oleh zooplankton, kandungan nitrogen, dan sebagainya yang sifatnya mengurangi biomasa algae. Di sisi lain, analisis (Indeks STORET) menggunakan Kepmen LH No. 115 Tahun 2003 tentang Pedoman Penentuan Status Mutu Air menghasilkan skor, yaitu -8. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kesuburan perairan muara Sungai Banjir Kanal Timur, Semarang menurut TSI (Carlson 1977) berada pada status eutrofik ringan atau (Indeks STORET, Kepmen LH No. 115 / 2003) termasuk kategori perairan tercemar ringan. Kata Kunci : Status Mutu Perairan, Trophic State Index Carlson (1977),  Kepmen  LH No. 115 Tahun 2003, muara Sungai Banjir Kanal Timur Semarang. ABSTRACTEast Banjir Kanal River is one of the largest river owned by the city of Semarang. The river has a main function as drainage system and flood control of the city. Several streams flowing into the East Banjir Kanal River and end at the estuary. As estuary accommodates all loads from the river, therefore, the trophic status of waters in particular for East Banjir Kanal River needs to be evaluated in the context of environmental management and utilization of natural resources. This work was conducted during May 2016 in the estuary of East Banjir Kanal River. The objective was to determine river water quality using Trophic State Index by Carlson (1977) and the STORET method in the Decree of the Minister of Environment of The Republic of Indonesia (Kepmen LH) No. 115/2003 regarding Guideline for the Determination of Water Quality Status and The Government Regulation of The Republic of Indonesia No 81/2001 regarding Water Quality Management and Water Pollution Control. The main variables used in the analysis of Trophic State Index by Carlson, 1977 are total N, total P, chlorophyll-a and water clarity. Descriptive method is used to determine random sampling points. The average results of all stations analysed by means of Trophic State Index (Carlson, 1977) ranged from 53-57. The interpretation showed that TSI TP < TSI SD > TSI CHL and TSI TP > TSI SD > TSI CHL, these mean that phosphorus limit the biomass of algae (the ratio TN/TP larger than 33:1). Furthermore, lower TSI Chl values in all sampling point were due to several factors other than phosphorus, such as predatory zooplankton, nitrogen which worked to reduce algal biomass. The STORET analysis in the Decree of the Minister of Environment of The Republic of Indonesia (Kepmen LH) No. 115/2003 about Guideline for the Determination of Water Quality Status gives an overall score of  minus 8. It is concluded that by applying both methods, the estuary of the East Banjir Kanal, Semarang during the course of the study were on light eutrophic status and categorized as lightly polluted waters. Keywords:  Water Quality Status, Trophic State Index Carlson (1977), Decree of the Minister of Environment of The Republic Indonesia (Kepmen LH) No. 115/2003, Estuary of East Banjir Kanal River Semarang. 
STUDI KELIMPAHAN TERIPANG (HOLOTHURIIDAE) PADA EKOSISTEM LAMUN DAN EKOSISTEM KARANG PULAU PANJANG JEPARA Ardiannanto, Ryanditama; Sulardiono, Bambang; Purnomo, Pujiono Wahyu
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (779.208 KB)

Abstract

Teripang (Sea Cucumber) merupakan salah satu spesies yang banyak terdapat pada ekosistem lamun dan karang. Menurunnya populasi teripang diduga akan menyebabkan perubahan lingkungan perairan, oleh sebab itu penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan komposisi jenis, kerapatan relatif teripang, kelimpahan teripang (Holothuriidae) dan komposisi jenis makanan dalam usus teripang pada perairan karang dan lamun di pantai Pulau Panjang Jepara. Penelitian ini dilaksanakan di perairan Pulau Panjang, Jepara pada bulan November tahun 2013. metode pengambilan sampel untuk data penutupan karang menggunakan line transek dan untuk data kerapatan lamun menggunakan kuadran transek. Hasil dari penelitian ini nilai persentase kerapatan lamun di ekosistem lamun terdiri dari Thalassia hemprichii 42.47%, Enhalus acoroides 38.79%, Halodule uninervis 7.00%, dan  Syringodium isoetifolium 11.74%. Sedangkan penutupan terumbu karang untuk  Karang hidup 0.52%, Karang mati 42.27%, Pecahan karang 30.73% dan Pasir 26.49%. Sedangkan nilai persentase  Komposisi jenis teripang (Holothuriidae) di perairan lamun dan karang didapatkan 2 jenis yaitu H. atra dan H. nobilis, dengan kerapatan relatif pada ekosistem lamun H. atra adalah 93.06 % sedangkan untuk H. nobilis di terumbu karang adalah 91.67 %. Kelimpahan teripang pada ekosistem lamun terdiri dari H. atra sebesar 161 individu/150m2 dan H. nobilis sebesar 12 individu/150m2 sedangkan pada ekosistem terumbu karang terdiri dari H. atra 8 individu/150m2 dan H.nobilis sebesar 88 individu/150m2. Komposisi makanan teripang dari jenis H. atra yang didapatkan adalah jenis Nitzchia sp 21.635%, Spirulina sp 11.0578%, Parafavella sp 5.769%. dan butiran pasir sebesar 14.904%, sedangkan H. nobilis adalah Nitzchia sp sebesar 26.415%, Spirulina sp sebesar 10.063%, dan Parafavella sp sebesar 5.031%, dan butiran pasir sebesar 17.610%. Sea cucumbers are mostly found in the seagrass and reefs ecosystems. The research aims to know the composition, relative density, abundance and food composition in the gut of sea cucumber found on the reef and seagrass ecosystems of the Coastal Water of Panjang Island, Jepara. The reseach was carried out at Coastal Water of Panjang Island, Jepara on November 2013. The sampling metode used to collect data on reef cover percentage is line transect and for seagrass density is quadrant transect. Persentage of seagrass density : Thalassia hemprichii 42.47%, Enhalus acoroides 38.79%, Halodule uninervis 7.00%, and Syringodium isoetifolium 11.74%. Coral cover on the reef ecosystem composed of living coral 0,52%, dead reef 42,27%, coral fragments 30,73% and sand 26,49%.  There are two kind of sea cucumber from seagrass and reef ecosystem i.e Holothuria atra  and Holothuria nobilis. The relative abundance of H.atra was 93.06 % on seagrass ecosystem and H.nobilis on coral reef ecosystem was 91.67 %. Sea cucumber abundance at seagrass ecosystem are H. atra 161 individuals/150m2 and H. nobilis 12 individuals/150m2 while on reef ecosystem abundance of sea cucumber are H. atra 8 individuals/150m2 and H. nobilis 88 individuals/150m2. Food composition in the gut of H. atra are Nitzchia sp 21.635%, Spirulina sp 11.0578%, Parafavella sp 5.769%. and sand 14.904%, while in the gut of H. nobilis are Nitzchia sp 26.415%, Spirulina sp 10.063%, are Parafavella sp 5.031%, and sand 17.610%.
HUBUNGAN KANDUNGAN BAHAN ORGANIK DENGAN KELIMPAHAN DAN KEANEKARAGAMAN GASTROPODA PADA KAWASAN WISATA MANGROVE DESA BEDONO DEMAK Relation of Organic Matters to the Abundance and Diversity of Gastropods in the Mangrove Tourism Areas of Bedono, Demak Prasetia, Muhammad Nur; Supriharyono, Supriharyono; Purwanti, Frida
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 8, No 2 (2019): MAQUARES
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (386.768 KB) | DOI: 10.14710/marj.v8i2.24231

Abstract

ABSTRAK Wilayah pesisir Bedono sebagai kawasan hutan bakau yang terletak di utara Kabupaten Demak telah dikelola dan dijadikan kawasan wisata sehingga secara tidak langsung akan berdampak terhadap fungsi ekologis mangrove. Banyak organisme hidup yang berasosiasi dengan mangrove salah satunya adalah Gastropoda. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui jenis Gastropoda, kelimpahan dan keanekaragaman Gastropoda serta mengetahui hubungan antara kandungan bahan organik dengan kelimpahan Gastropoda. Pengambilan sampel Gastropoda dan sedimen dengan metode kuadran transek yaitu 1 x 1m di 3 stasiun. Hasil penelitian didapatkan terdiri dari 5 genera Gastropoda yaitu Cassidula sp, Cerithidae sp, Littorina sp, Telescopium sp, dan Terebralia sp. Kelimpahan Gastropoda berkisar antara 94 – 248 ind/3m2. Nilai indeks keanekaragaman sebesar 1,08 - 1,27. Nilai indeks keseragaman sebesar 0,67 – 0,94 dan indeks dominasi sebesar 0,23 – 0,39. Berdasarkan nilai uji regresi sederhana dimana nilai koefisien korelasi berkisar 0,7 < r ≤ 1,0 menunjukkan bahwa kelimpahan gastropoda memiliki hubungan yang kuat dan memiliki korelasi dengan kandungan bahan organik dalam sedimen. ABSTRACT Bedono coastal as an area mangrove forest located at the northen Demak Regency has been managed and used as a tourism area. Many living organisms associated to mangrove, mainly Gastropods. Purpose the research a to investigate type of Gastropods, abundance and diversity of Gastropods and relationship of organic matters to Gastropods abundance. Samples of Gastropods and sediments were collected using 1x1m transect quadrant methods in 3 different stations. Results of research obtained 5 genera of Gastropods that is Cassidula sp, Cerithidae sp, Littorina sp, Telescopium sp, dan Terebralia sp. Abundance of Gastropods between 94 – 248 ind/3m2. Result of diversity index was 1,08 – 1,27. Uniformity index between 0,67 – 0,94 and domination index was 0,23 – 0,39. Based on simple regression test the value of a correlation range 0,7 < r ≤ 1,0. It was showed that gastropods abundance have a close relationship and a correlation with organic matters in sediments.
VALUASI EKONOMI EKOSISTEM TERUMBU KARANG DI PERAIRAN KARANG KELOP KABUPATEN KENDAL Maharmingnastiti, Wiedha; Saputra, Suradi Wijaya; Wijayanto, Dian
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.201 KB)

Abstract

Ekosistem terumbu karang merupakan salah satu ekosistem di laut yang mempunyai banyak manfaat. Ekosistem ini memiliki manfaat yang besar bagi kehidupan di dalamnya, juga bagi kebutuhan manusia. Oleh karena itu sudah selayaknya jika nilai ekonomi ekosistem terumbu karang dievaluasi. Penelitian dilakukan pada bulan Februari – April 2015 di Perairan Karang Kelop, Kabupaten Kendal. Penelitan ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan tingkat pemanfaatan sumberdaya ekosistem terumbu karang di Pidodo Kulon dan nilai ekonomi total manfaat ekonomi terumbu karang di perairan Karang Kelop. Adapun manfaat dari penelitian ini diharapkan dapat menambah informasi masyarakat tentang keberadaan ekosistem terumbu karang yang memiliki nilai ekonomi tinggi, memahami pentingnya valuasi ekonomi sumberdaya terumbu karang di perairan Karang Kelop dan sebagai bahan pengambilan kebijakan pemerintah dalam mengelola ekosistem terumbu karang di perairan Karang Kelop. Metode penelitian yang digunakan adalah metode cluster sampling berdasarkan jenis alat tangkap yang digunakan.  Jumlah responden yang diambil dalam penelitian ini adalah 38 orang, yaitu 26 orang nelayan, 10 orang masyarakat sekitar kawasan dan 2 orang pihak LSM Barakuda. Untuk mengetahui total nilai ekonomi terumbu karang, data dianalisis dengan menjumlahkan nilai manfaat langsung, nilai manfaat tak langsung dan nilai manfaat pilihan. Nilai ekonomi total (Total Economic Value) manfaat ekosistem terumbu karang di perairan Karang Kelop seluas 4 ha adalah sebesar Rp. 1.235.942.701 per tahun dengan rincian manfaat langsung Rp.657.883.000 (53,25%), manfaat tidak langsung Rp. 576.733.500 (46,65%), dan manfaat pilihan Rp. 1.326.201 (0,10%). Hasil penelitian ini dapat digunakan oleh para pengambil keputusan di Kabupaten Kendal, khususnya di Desa Pidodo Kulon untuk perencanaan pengelolaan. Coral reef ecosystem is one of the marine ecosystem that has many benefits. This ecosystem functions to support marine flora and fauna and has great value to fullfil human needs. Therefore, the economic value of coral reef ecosystem should be evaluated. This study had been conducted on February to April 2015 in Karang Kelop marine in Kendal Regency. The  aims of study is to find the type and use of coral reef ecosystem in Pidodo Kulon and total economic value of coral reef ecosystem in Karang Kelop marine. The benefit of this research is that people can get information about the existence of coral reef ecosystems that have a high economic value, and can get to understand the importance of economic valuation of coral reef resources in Karang Kelop waters. The research methods used is a cluster sampling method by type of fishing gear used.  The number of respondents in this study are 38 people, that is 26 fishermen, 10 local communities and  2 officers of the NGO Barakuda. In order to know the total economic value of the coral reefs, the data are analyzed by calculating the total benefit direct value, indirect benefit and optional benefit. The total economic value of coral reef ecosystem in 4 ha of the park is amount Rp. 1.235.942.701 per year compose of direct use benefits Rp. .657.883.000 (53,25%), indirect use benefits Rp. 576.733.500 (46,65%), and optional use benefit Rp. 1.326.201 (0,10%).This result could be used by all stakeholders in Kendal Regency and Pidodo Kulon Village to set up management plan.
PERUBAHAN LUAS VEGETASI MANGROVE DI PULAU PARANG, KEPULAUAN KARIMUNJAWA MENGGUNAKAN CITRA SATELIT Widiyanti, Angela Merici Dwi; Hartoko, Agus; Hendrarto, Boedi
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1266.514 KB)

Abstract

Mangrove di Pulau Parang digunakan untuk kegiatan masyarakat sehingga luas vegetasi mangrove semakin lama semakin berkurang. Penelitian ini menggunakan metode eksploratif. Pengambilan sampel di area mangrove menggunakan metode purposive sampling. Penelitian dilakukan dengan pengecekan lapangan dari hasil klasifikasi tidak terbimbing dengan menggunakan kombinasi band citra satelit. Hasil penelitian didapatkan jenis mangrove yang ditemukan di stasiun pengamatan Pulau Parang, Kepulauan Karimunjawa adalah Rhizophora mucronata, Bruguiera gymnorrhiza, Bruguiera cylindrica, dan Avicennia marina. Jenis Rhizophora apiculata dan Avicennia officinalis hanya ditemukan beberapa pohon di kawasan mangrove Rawa Buaya. Jenis Sonneratia alba hanya ditemukan dua pohon yang cukup jauh dari kawasan mangrove Batu Merah. Status kondisi mangrove di Pulau Parang, Kepulauan Karimunjawa berdasarkan kriteria baku kerusakan mangrove untuk kategori pohon dengan kerapatan rata-rata 1,275 ind/Ha dan penutupan rata-rata 37,50% termasuk dalam kriteria rusak jarang, kategori anakan dengan kerapatan rata-rata 372 ind/Ha termasuk dalam kriteria rusak jarang, sedangkan untuk kategori semai dengan kerapatan rata-rata 13.889 ind/Ha termasuk dalam kriteria baik sangat padat. Luas vegetasi mangrove di Pulau Parang, Kepulauan Karimunjawa pada tahun 1997 sebesar 46,80 Ha yang pada tahun 2004 berkurang menjadi 41,44 Ha lalu pada tahun 2011 berkurang menjadi 38,36 Ha. Perubahan penurunan luas mangrove dari tahun 1997 – 2011 adalah sebesar 18,03%. 
EVALUASI PERKEMBANGAN WISATA BAHARI DI PULAU TIDUNG BESAR KEPULAUAN SERIBU Sihotang, Silvyani Putri; Sulardiono, Bambang; Purwanti, Frida
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 6, No 3 (2017): MAQUARES
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (846.069 KB)

Abstract

ABSTRAK Pulau Tidung Besar merupakan salah satu pulau di Kepulauan Seribu Provinsi DKI Jakarta yang menjadi destinasi wisata bahari. Perkembangan wisata bahari dapat memberikan dampak ekonomi, sosial-budaya dan lingkungan, sehingga perlu dilakukan evaluasi perkembangan wisata bahari. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perkembangan wisata bahari, dampak perkembangan wisata bahari dari aspek ekonomi, sosial-budaya dan lingkungan, dan mengevaluasi perkembangan wisata bahari menggunakan siklus wisata. Metode penelitian ini adalah metode deskriptif dengan analisis secara kualitatif. Data diperoleh dengan menyebar kuisioner kepada 98 masyarakat, 50 pengunjung dan 10 pengelola. Sejak tahun 2014 hingga 2016 terdapat penurunan pengunjung Pulau Tidung Besar yang disebabkan oleh tidak adanya penambahan daya tarik wisata dan belum maksimalnya perbaikan ataupun penambahan fasilitas pendukung. Dampak kegiatan wisata bahari di Pulau Tidung Besar untuk dampak ekonomi adalah penambahan lapangan kerja dan pendapatan penduduk, untuk dampak sosial-budaya terlihat dari kegiatan gotong royong penduduk dan dampak lingkungan adalah semakin meningkatnya kesadaran pemerintah maupun masyarakat terhadap keadaan terumbu karang, kebersihan lingkungan dan ketersediaan air bersih yang lebih baik.. Evaluasi perkembangan Pulau Tidung Besar masuk dalam tahap stagnasi menuju tahap penurunan/ peremajaan.                                                                                                                       Kata Kunci: Evaluasi, Perkembangan, Dampak, Wisata Bahari, Pulau Tidung ABSTRACTTidung Besar island as part of  the Seribu Islands is located at the Jakarta Province which become a marine tourism destination. Development of marine tourism could affect condition of economic, social-culture, and ecology, therefore need to be evaluate marine tourism development. The aims of the research are to know development of marine tourism, impact of marine tourism development based on economic, sosial-culture, ecology aspects and to evaluate development of marine tourism using tourist life cycle . The methods used in this research was descriptive method with qualitative analysis. Data obtained by distributed quistionnaires to 98 residents, 50 tourists and 10 staffs. Since the year 2014 to 2016, the visitors of Tidung Besar Island was decline due to lack of improvement or addition for supporting facilities. The marine tourism activities impact on economic aspect are increasing employment, the sosio-culture impact is lowering the “Gotong Royong” activities, and the ecological impact are good concern of the government and resident for coral reefs and better sanitation and availability of clean water. Evaluation of marine tourism development at the Tidung Besar Island is in the stagnation level toward decline/ rejuvenation.Keywords : Evaluation, Development, Impact, Marine Tourism, Tidung Island
STUDI HUBUNGAN KANDUNGAN BAHAN ORGANIK SEDIMEN DENGAN KELIMPAHAN MAKROZOOBENTHOS DI MUARA SUNGAI WEDUNG KABUPATEN DEMAK Choirudin, Ittok Rochmad; Supardjo, Mustofa Niti; Muskananfola, Max Rudolf
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (451.649 KB)

Abstract

Muara sungai Wedung digunakan oleh warga untuk keperluan rumah tangga, kegiatan pertambakan, dan keluar masuknya kapal ke TPI Wedung. Muncul dugaan telah terjadi penurunan kualitas air di muara sungai Wedung. Salah satu penyebabnya ialah pencemaran alami seperti adanya bahan – bahan organik sehingga akan berdampak pada kehidupan makrozoobenthos. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui komposisi dan kelimpahan makrozoobenthos serta untuk mengetahui hubungan antara kandungan bahan organik sedimen dengan kelimpahan  makrozoobenthos pada perairan muara sungai Wedung. Penelitian ini dilaksanakan pada Bulan April sampai Juni 2013. Penelitian ini dilakukan pada 3 stasiun. Materi penelitian adalah makrozoobenthos dan substrat dasar perairan muara sungai Wedung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi kasus. Makrozoobenthos yang diperoleh selama penelitian di muara sungai Wedung Kabupaten Demak terdiri dari 3 kelas yaitu Polychaeta, Gastropoda, dan Bivalvia. Kelimpahan makrozoobenthos terbesar terdapat pada stasiun II sebesar 4889 ind/m3, sedangkan kelimpahan terendah terdapat pada stasiun III sebesar 341 ind/m3. Kandungan bahan organik stasiun I berkisar antara 11,81 – 15,45% (sedang), stasiun II berkisar antara 12,72 – 17,57% (tinggi), dan stasiun III berkisar antara 9,5 – 16,44% (sedang). Hasil uji regresi antara kelimpahan makrozoobenthos dengan kandungan bahan organik diperoleh nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0,46. Koefisien korelasi (r) sebesar 0,678 yang menunjukkan bahwa hubungan antara kedua variable tersebut cukup. Wedung estuaries used by residents for domestic purposes, aquaculture activities, and entry and exit of ships to TPI Wedung. Alleged there has been a decline in water quality in Wedung estuaries. One of the caused was that natural pollution such as the organic matter that will have an impact on the lives of macrozoobenthos. The purpose of this study was to determine the composition and abundance of macrozoobenthos and to know the relationship between organic matter content of sediment with macrozoobenthos abundance in estuarine Wedung. The research was conducted in April to June 2013. This study was conducted at 3 stations. The research material was macrozoobenthos and Wedung estuarine substrate. The method used in this study was case study methods. Macrozoobenthos obtained during research in Wedung estuaries, Demak consists of three classes which were Polychaeta, Gastropoda, and Bivalve. The greatest abundance found at station II was 4889 ind/m3, while the lowest abundance at station III was 341 ind/m3. The content of organic matter in station I ranges from 11,81 to 15,45% (moderate), station II ranges from 12,72 to 17,57% (high), and station III ranges from 9,5 to 16,44% (moderate ). Results of regression between macrozoobenthos abundance with organic content obtained coefficient of determination (R2) of 0,46. The correlation coefficient (r) of 0,678 which shows that the relationship between the two variables is adequate. 
HUBUNGAN PANJANG BERAT DAN FAKTOR KONDISI TERIPANG HITAM (Holothuria atra) DI KAWASAN TAMAN NASIONAL LAUT KARIMUNJAWA Length-Weight Relationship and Condition Factor of Black Sea Cucumber (Holothuria atra) in Karimunjawa National Marine Park Area Panuluh, Citraningrum Mawa; Sulardiono, Bambang; Latifah, Nurul
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 8, No 4 (2019): MAQUARES
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (590.527 KB) | DOI: 10.14710/marj.v8i4.26552

Abstract

Teripang Hitam (H. atra) merupakan jenis biota laut yang memiliki nilai ekologis dan ekonomis di perairan Taman Nasional Laut Karimunjawa. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hubungan panjang berat, faktor kondisi dan analisis perbedaan antara Holothuria atra(teripang hitam) yang hidup di zona perairan budidaya dan wisata dengan yang hidup di zona rehabilitasi. Pengambilan sampel teripang dilakukan pada siang hari di 3 stasiun zona budidaya dan wisata yaitu Menjangan Kecil, Menjangan Besar dan perairan sekitar Wisma Apung serta 1 stasiun zona rehabilitasi yaitu di Perairan Alang-alang. Pengamatan sampel teripang dilakukan secara sensus. Total sampel yang diperoleh di Alang-alang sebanyak 30 individu dengan kisaran panjang 13-43 cm, berat 49-514 g, Sampel di Menjangan kecil sebanyak 17 individu dengan kisaran panjang 9-26 cm, berat 20-260 g, sampel Menjangan Besar sebanyak 5 individu kisaran panjang 16-23 cm berat 66-193 g dan sampel di perairan sekitar Wisma Apung sebanyak 17 sampel kisaran panjang 14-28 cm berat 23-260 g. Pertumbuhan teripang di masing-masing perairan menunjukkan pola pertumbuhan allometrik negatif yang artinya penambahan panjang lebih cepat daripada penambahan bobot. Nilai faktor kondisi Fulton teripang hitam di Alang-alang 1,34, Menjangan Kecil 1,91, Menjangan Besar 1,89, serta perairan sekitar Wisma Apung 1,37, menunjukkan teripang hitam di perairan yang banyak pengunjung lebih gemuk daripada teripang hitam di Alang-alang yang sepi pengunjung, serta faktor kondisi berat relatif alang-alang 104,27, Menjangan Kecil 104,25, Menjangan Besar 105,59 dan Wisma Apung 108,22 masing-masing perairan semua diatas 100 menunjukkan perairan tersebut menyediakan surplus makanan yang cukup.  Black Sea Cucumber (H. atra) is a type of marine biota that has ecological and economic value in the waters of the Karimunjawa Marine National Park. The purpose of this study was to analyze the relationship length-weight, condition factor and analysis of differences between Holothuria atra (black sea cucumbers) that live in cultivation and tourism zones and those that live in rehabilitation zones. Sea cucumber sampling is conducted at noon in 3 stations of the cultivation and tourism zones, namely Menjangan Kecil, Menjangan Besar and the waters around Wisma Apung and 1 rehabilitation zone station in Alang-alang. Observation of sea cucumber samples is done by census. Total samples obtained in Alang-alang were 30 individuals with a range of length 13-43 cm, weight 49-514 g, sampel in Menjangan Kecil were 17 individuals with a range of length 9-26 cm, weight 20-260 g, sampel in Menjangan Besar were 5 individuals with a range of length 16-23 cm, weight 66-193 g, and last sampel in waters around Wisma Apung were 17 individuals with a range of length 14-28 cm weight 23-260 g. The growth of sea cucumbers in each waters shows a negative allometric growth pattern which means that the addition of the length is faster than the addition of the weight. Fulton’s condition factor values of black sea cucumber in Alang-alang 1.34, Menjangan Kecil 1.91, Menjangan Besar 1.89, and waters around Wisma Apung 1.37, shows that black sea cucumbers in the waters that many visitors are fatter than black sea cucumbers in the Alang-alang which deserted visitors, and the relative weight condition factors of Alang-alang 104.27, Menjangan Kecil 104.25, Menjangan Besar 105.59 and Wisma Apung 108.22 each of the waters above 100 indicates that these waters provide sufficient food surplus.
KOMPOSISI IKAN YANG TERTANGKAP DENGAN CANTRANG SERTA ASPEK BIOLOGI IKAN SEBELAH (Psettodes erumei) DI TPI ASEMDOYONG, PEMALANG Adela, Sani; Ghofar, Abdul; Djuwito, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (737.805 KB)

Abstract

Ikan Sebelah (Psettodes erumei) merupakan ikan demersal yang hidup di dasar perairan. Ikan ini umumnya tertangkap dengan Cantrang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi ikan yang tertangkap dengan Cantrang; mengetahui aspek pertumbuhan ikan Sebelah yang meliputi panjang berat, dan ukuran rata – rata tertangkap; mengetahui aspek reproduksi yang meliputi tingkat kematangan gonad dan ukuran pertama kali matang gonad; mengetahui nilai CPUE dan mengetahui upaya pengelolaan sumberdaya perikanan ikan Sebelah. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret – Juni 2015 di TPI Asemdoyong, Pemalang. Metode yang digunakan adalah metode sampling acak sederhana. Berdasarkan penelitian, ikan yang tertangkap dengan cantrang terdiri dari 14 spesies yaitu ikan Bawal putih (Pampus argenteus), ikan Kembung (Rastrelliger sp.), ikan Tembang (Sardinella sp.), ikan Teri (Stolephorus sp.), ikan Selar kuning (Selaroides sp.), ikan Layur (Trichiurus sp.), ikan Sebelah (Psettodes erumei), ikan Ekor Kuning (Ocyurus sp.), ikan Petek (Leiognathus sp.), ikan Pari (Dasyatis sp.), ikan Kuro (Eleutheronema sp.), Cumi-cumi (Loligo sp.), ikan Bambangan (Lutjanus sp.), dan Udang. Pertumbuhan ikan Sebelah (Psettodes erumei) bersifat Allometrik negatif. Tingkat Kematangan Gonad ikan Sebelah betina didominasi oleh TKG III, sedangkan ikan Sebelah jantan didominasi oleh TKG I dan TKG II. Nilai CPUE tertinggi pada sampling minggu ke 16 yaitu 7.664 kg/kapal sedangkan CPUE terendah terjadi pada sampling minggu ke 7 yaitu sebesar 3.330 kg/kapal. Upaya pengelolaan yang dapat dilakukan yaitu dengan menentukan kuota penangkapan, pembatasan jumlah alat tangkap serta penetapan daerah penangkapan. Sebelah fish (Psettodes erumei) is a demersal fish that live in the bottom waters, also known as flatfish. These fish are generally caught by cantrang.The aims of this study are to find out the composition of fish caught by Cantrang, to know the growth aspects of Sebelah fish that include long weight relationship and size the first caught, and; reproductive aspects that include maturity level of gonads, the size of the gonads’ first ripe; to know the value of CPUE and fishery resource management efforts. This research was conducted in March - June 2015 in TPI Asemdoyong, Pemalang. The methodology that used in this research is simple random method. Based on the observation, Fish that caught by Cantrang consist of 14 specieses namely Bawal Putih fish (Pampus argenteus), Kembung fish (Rastrelliger sp.), Tembang fish (Sardinella sp.), Teri fish (Stolephorus sp.), Selar kuning fish (Selaroides sp.), Layur fish (Trichiurus sp.), Sebelah fish (Psettodes erumei), Ekor kuning Fish (Ocyurus sp.), Petek fish (Leiognathus sp.), Pari fish (Dasyatis sp.), Kuro fish (Eleutheronema sp.), Cumi - cumi (Loligo sp.), Bambangan fish (Lutjanus sp.), and Udang. The growth of Sebelah fish (Psettodes erumei) have Negative Allometric charactered. Gonad’s maturity level of female Sebelah fish are dominated by TKG III, whereas male Sebelah fishes are dominated by TKG 1 and TKG II. The number of  the higher CPUE in sampling week 16 is 7.664 kg/boat, and the lower number happen in sampling week 7 that is 3.330 kg/boat. The effort to organize it that can be done is by measuring the quota of catch, delimitation the number of fishing gears, and determine the fishing ground.Â