cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Management of Aquatic Resources Journal (Maquares)
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 27216233     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Management of Aquatic Resources diterbitkan oleh Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Departemen Sumberdaya Akuatik, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro. Jurnal Management of Aquatic Resources menerima artikel-artikel mengenai bidang perikanan, manajemen sumberdaya perairan.
Arjuna Subject : -
Articles 548 Documents
PROFIL VERTIKAL BAHAN ORGANIK DASAR PERAIRAN DENGAN LATAR BELAKANG PEMANFAATAN BERBEDA DI RAWA PENING Putri, Mutia Novenda; Purnomo, Pujiono Wahyu; Soedarsono, Prijadi
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (379.659 KB)

Abstract

Sedimentasi di Rawa Pening berlangsung secara intensif dan selalu meningkat sehingga menyebabkan pendangkalan akibat pertumbuhan Eceng Gondok (Eichhornia crassipes) yang tidak terkendali. Penumpukan bahan organik akibat Eceng Gondok di dasar perairan perlu diteliti pengaruhnya bagi lingkungan perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil kandungan bahan organik secara vertikal pada zonasi pendangkalan di kawasan tutupan Eceng Gondok dan perairan terbuka serta untuk mengetahui hubungan potensi bahan organik dengan sediaan nutrien nitrogen dan fosfor. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dan metode sampling menggunakan purposive sampling. Lokasi penelitian terdiri dari 2 stasiun yaitu kawasan tutupan Eceng Gondok dan perairan terbuka. Data yang diukur meliputi bahan organik, N Total, P Total, pH tanah, tekstur tanah, kedalaman kecerahan, arus, suhu, dan DO. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan bahan organik, N Total dan P Total pada semua segmen tidak memiliki pola. Bahan organik tergolong sangat tinggi dengan kisaran 61,99% - 74,82%. P Total tergolong tinggi sedangkan N Total tergolong rendah sampai sedang. Kontribusi nutrien ini tergolong rendah sampai sedang terhadap perairan akibat DO dan pH yang rendah.
KOMPOSISI DAN BEBERAPA ASPEK BIOLOGI SPESIES UDANG PENAEID DI PERAIRAN BATANG DAN KENDAL, JAWA TENGAH (Composition And Several Biological Aspect of Penaeid Shrimp in Batang And Kendal Water, Central Java) Sari, Verina; Solichin, Anhar; Saputra, Suradi Wijaya
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 6, No 4 (2017): MAQUARES
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1183.664 KB)

Abstract

Kabupaten Batang dan Kendal merupakan daerah dalam  satu jalur perairan Pantai Utara Jawa yang memiliki potensi  sumberdaya udang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui komposisi dan beberapa aspek biologi  udang penaeid yang tertangkap di perairan Batang dan Kendal ditinjau dari pengamatan struktur ukuran, sifat pertumbuhan dan aspek reproduksi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei. Sampel udang diambil secara acak sebanyak 10% dari total hasil tangkapan. Pengambilan sampel sebulan sekali dalam 3 bulan. Tempat pengambilan sampel di TPI Roban, TPI Tawang dan TPI Bandengan. Komposisi hasil tangkapan udang pada bulan Agustus 2016 sampai bulan Oktober 2016 di Perairan Batang ditemukan 5 spesies udang yang dominan tertangkap  yaitu, Metapenaeopsis barbata (69%), Trachypenaeus longipes (16%), Metapenaeus  conjunctus (9%), Penaeus merguiensis (6%), dan Metapenaeus tenuipes (0,001%), sedangkan di Perairan Kendal ditemukan 6 spesies udang yaitu  Penaeus indicus (40%), Metapenaeus  conjunctus (22%), Penaeus merguiensis 17%, Metapenaeopsis barbata (14%), Metapenaeus tenuipes (5%), dan Trachypeneus longipes (2%). Berdasarkan pengamatan hasil tangkapan udang, TPI Tawang terdapat 6 spesies yaitu M. barbata, M. conjunctus, P. merguiensis, T. longipes, M. tenuipes dan P. indicus. TPI Roban terdapat 5 spesies yaitu M. barbata, M. conjunctus, P. merguiensis, T. longipes, dan M. tenuipes. Dan TPI Bandengan terdapat 4 spesies yaitu M. conjunctus, P. merguiensis, M. tenuipes dan P. indicus. Hasil tangkapan terbanyak untuk spesies udang M. barbata di TPI Roban (70%), M. conjunctus di TPI Bandengan (48%), P. merguiensis di TPI Bandengan (69%), M. tenuipes di TPI Bandengan (93%), T. longipes di TPI Roban (80%), dan P. indicus di TPI Bandengan (78%). Ukuran yang sering tertangkap tiap bulan berbeda-beda, pola pertumbuhan mayoritas allometrik positif, sebagian besar udang yang tertangkap belum matang gonad, Perbandingan nisbah kelamin menunjukkan bahwa jumlah udang betina lebih banyak ditemukan dibandingkan udang jantan. Batang and Kendal regency is an area in one lane waters of North Coast of Java that have the potential of fishery resources, especially shrimp. The purpose of this study is to know the composition and biology aspect of penaeids shrimp in Batang and Kendal waters from observation of size structure, growth characteristic and reproduction aspect. This research method is survey method. 10% of shrimp samples taken at random from the total catch. Sampling once a month in 3 months. Sampling at TPI Roban, TPI Tawang and TPI Bandengan. The composition of the shrimp catches in August 2016 to October 2016 in Batang waters found 5 species, ie Metapenaeopsis barbata (69%), Trachypenaeus longipes (16%), Metapenaeus conjunctus (9%), Penaeus merguiensis (6%), and Metapenaeus tenuipes (0,001%), Kendal waters found 6 species of shrimp that is Penaeus indicus (40%), Metapenaeus conjunctus (22%), Penaeus merguiensis (17%), Metapenaeopsis barbata (14%), Metapenaeus tenuipes (5%), and Trachypeneus longipes (2%). Based on the observation of shrimp catch, there are 6 species in TPI Tawang, they are M. barbata, M. conjunctus, P. merguiensis, T. longipes, M. tenuipes and P. indicus. There are 5 species of shrimp  in TPI Roban, they are M. barbata, M. conjunctus, P. merguiensis, T. longipes, and M. tenuipes. There are 4 species of shrimp in TPI bandengan, they are M. conjunctus, P. merguiensis, M. tenuipes and P. indicus. The largest distribution of catches for species M. barbata in TPI Roban (70%), M. conjunctus in TPI Bandengan (48%), P. merguiensis in TPI Bandengan (69%), M. tenuipes in TPI Bandengan (93%) , T. longipes in TPI Roban (80%), and P. indicus in TPI Bandengan (78%). Based on study of biological aspect, the size that is often caught each month is different, most positive allometric growth, Most of the shrimp caught immature gonads, Comparison of sex ratio shows that the number of female shrimp is more common than shrimp. 
DISTRIBUSI LOGAM BERAT TIMBAL (Pb) DAN CADMIUM (Cd) DI SEDIMEN, AIR DAN BIVALVIA DI LINGKUNGAN MUARA SUNGAI WISO JEPARA Partogi, Martin Arianto; Purnomo, Pujiono Wahyu; Suryanti, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (689.869 KB)

Abstract

Masuknya Logam berat Pb dan Cd di dalam perairan sungai Wiso yang berlokasi di Jepara Jawa Tengah bersumber dari pembuangan limbah domestik dan industri. Logam berat yang terlarut dalam badan air (bentuk ion) maupun yang mengendap di dasar perairan (sedimentasi), masuk ke dalam tubuh hewan air, baik melalui insang, bahan makanan, ataupun melalui difusi yang kemudian akan terakumulasi di dalam tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persebaran dan distribusi logam berat di sekitar lingkungan muara sungai Wiso pada air dan bivalvia, perpindahan logam berat pada badan air ke dalam sedimen, serta perpindahan logam berat pada sedimen ke dalam bivalvia. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari 2014 hingga April 2014. Metode yang dipakai pada penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pengumpulan data primer menggunakan metode observasi dan pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling.  Kemudian analisis kandungan logam berat dalam sampel menggunakan instrument Atomic Absorbtion Spectrophotometer (ASS) sesuai dengan SNI. Berdasarkan hasil laboratorium menunjukkan bahwa perairan muara Sungai Wiso telah tercemar logam berat Pb dan Cd berdasarkan baku mutu air laut menurut Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Tahun 2014 dan baku mutu sedimen Reseau National d’Observation (RNO) Tahun 1981. Tetapi pada daging bivalvia masih berada di bawah Batas Maksimum Cemaran Logam Berat dalam Pangan SNI No. 7387 Tahun 2009. Berdasarkan hasil uji regresi didapatkan nilai Significance F sebesar 0,9302 dan 0,7062 yang menunjukkan bahwa logam berat Pb dan Cd pada sedimen tidak berhubungan erat dengan yang terdapat pada badan air. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kadar logam berat dalam badan air di perairan Sungai Wiso lebih rendah dibandingkan dalam sedimen yang menunjukkan adanya akumulasi logam berat dalam sedimen.  The entry of heavy metals Pb and Cd in the river waters Wiso located in Jepara, Central Java sourced from domestic and industrial waste disposal. Heavy metals dissolved in the water body (form ions) or settles in the bottom waters (sedimentation), entered into the animal's body, either through the gills, food, or through diffusion which will then accumulate in the body. This study aims to determine the spread and distribution of heavy metals in the environment around river estuary Wiso on water and bivalves, the movement of heavy metals in water bodies into the sediment, and the transfer of heavy metals in sediments in the bivalves. The research was conducted in February 2014 until April 2014. The method used in this research is descriptive method, with the collection of primary data using the method of observation and sampling conducted with a purposive sampling method. Then the analysis of heavy metal content in the samples using Atomic Absorption Spectrophotometer instrument (ASS) according with SNI. Based on laboratory results indicate that the waters Wiso estuary has been polluted heavy metals Pb and Cd based on the sea water quality standards according to the Decree of the Minister of Environment in 2014 and sediment quality standardsReseau National d'Observation (RNO) 1981. But the flesh bivalves still under the Limit for Heavy Metal Contamination in Food SNI No.7387 in 2009.Based on test results obtained regression Significance F value of 0.9302 and 0.7062 which indicates that heavy metals Pb and Cd in sediments are not closely related to those of the water body so that it can be concluded that the levels of heavy metals in water bodies in the waters of the River Wiso more lower than in the sediments indicate the presence of heavy metal accumulation in the sediments.
EFEKTIVITAS KOMBINASI MIKROORGANISME DAN TUMBUHAN AIR Lemna minor SEBAGAI BIOREMEDIATOR DALAM MEREDUKSI SENYAWA AMONIAK, NITRIT, DAN NITRAT PADA LIMBAH PENCUCIAN IKAN Alfian Dony Saputra; Haeruddin Haeruddin; Niniek Widyorini
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) VOLUME 5, NOMOR 3, TAHUN 2016
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (190.069 KB) | DOI: 10.14710/marj.v5i3.14393

Abstract

ABSTRAK Limbah pencucian ikan bersumber dari kegiatan pencucian bagian luar dan dalam tubuh ikan. Limbah pencucian ikan memiliki kandungan senyawa amoniak, nitrit, dan nitrat yang tinggi sehingga kemungkinan mempunyai efek negatif bagi lingkungan. Sebagian besar industri pengolahan ikan belum melakukan pengolahan limbah cairnya dengan baik. Bioremediasi merupakan metode biologi dengan memanfaatkan mikroorganisme dan tumbuhan air Lemna minor dalam pengolahan air limbah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas dan pengaruhdari kombinasi mikroorganisme dan Lemna minor dalam mereduksi senyawa amoniak, nitrit, dan nitrat pada limbah pencucian ikan. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen skala laboratorium dimana wadah percobaan berisi limbah pencucian ikan dengan volume 1 Liter. Desain penelitian yang digunakan yaitu percobaan faktorial 3 x 3 dengan 2 faktor, sehingga terdapat 9 kombinasi perlakuan M1L10, M1L50, M1L100, M5L10, M5L50, M5L100, M10L10, M10L50, dan M10L100, dimana “M” faktor konsentrasi mikroorganisme (1 mL/L, 5 mL/L, 10 mL/L), sedangkan “L” faktor bobot biomassaLemna minor (0,0255 gr/cm2, 0,1273 gr/cm2 , 0,2546 gr/cm2). Variabel utama penelitian adalah amoniak, nitrit, dan nitrat yang didukung oleh temperatur, pH, dan oksigen terlarut. Analisis data dengan menggunakan analisis efektivitas, uji two way Anova, dan uji Beda Nyata Jujur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai efektivitas berkisar antara 40,85% - 74,03% (amoniak), 42,21% - 74,10% (nitrit), dan 3,19% - 34,65% (nitrat). Pengaruh interaksi kombinasi mikroorganisme dan Lemna minor yaitu terdapat pengaruh yang nyata dan efektif dalam mereduksi senyawa amoniak, nitrit, dan nitrat pada limbah pencucian ikan. Kata Kunci: Amoniak; Bioremediasi; Lemna minor; Limbah Pencucian Ikan; Mikroorganisme; Nitrat; Nitrit ABSTRACT Fish washery waste derived from washing inner and outer part of fish body.Fish washery waste containshigh ammonia, nitrite, and nitrate which may have negative effect for the environment.Most of the fish processing industry are not doing the processing of waste water properly yet. Bioremediation is a biological method by using microorganisms and aquatic plant Lemna minor in wastewater treatment. The aims of study is to determine the effectiveness anda effect of the use of microorganism and Lemna minor combination in effort to reduce ammonia, nitrite, and nitrate compound in fish washery waste. The method used is laboratory-scale experiments where the experimental containers containing fish washery waste with a volume of 1 Liter. 3 x 3 factorial with 2 factor method design were used, so there are nine treatment combinations of M1L10, M1L50, M1L100, M5L10, M5L50, M5L100, M10L10, M10L50, and M10L100, where "M" forconcentrationof microorganisms factor (1 mL/L, 5mL/L, 10 mL/L), while the "L" for biomass weight of Lemna minorfactor (0,0255 gr/cm2, 0,1273 gr/cm2 , 0,2546 gr/cm2). The main variable of this study are ammonia, nitrite, and nitrate supported by temperature, pH, and Dissolved Oxygen. The data was analyzed using effectiveness analysis, two way Anova, and Least Signifficant Difference methode. The results show that the concentration of ammonia, nitrite, and nitrate decreased after 96 hours for all treatmentscombination. The effectiveness value, ranged between 40.85% - 74.03% (ammonia), 42.21% - 74.10% (nitrite), and 3.19% - 34.65% (nitrate). There is a signifficant influence and effective in combination of microorganisms and Lemna minor to reduce ammonia, nitrite, and nitrate compound in fish washery waste. Keywords: Ammonia; Bioremediation; Lemna minor; Fish Washery Waste; Microorganism; Nitrate;Nitrite
RESPON IKAN SIDAT (Anguilla bicolor) TERHADAP MAKANAN BUATAN PADA SKALA LABORATORIUM Sembiring, Asrika Yupina; Hendrarto, Boedi; Solichin, Anhar
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.254 KB)

Abstract

Indonesia memiliki sumberdaya alam yang mendukung untuk kegiatan budidaya ikan sidat. Salah satu faktor utama dalam budidaya untuk meningkatkan pertumbuhan adalah asupan makanan yang baik dan memiliki kandungan gizi yang cukup. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui respon ikan Sidat yang mendekat dan yang mengkonsumsi pakan buatan yang diberikan; untuk mengetahui berapa lama waktu ikan Sidat mendekati pakan; dan untuk mengetahui nilai FCR pakan buatan yang diberikan kepada ikan Sidat. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen laboratoris dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan pemberian jenis pakan yang berbeda digunakan sebagai perlakuan A, B dan C yaitu pemberian pakan keong mas, ikan rucah dan udang rebon. Jumlah makanan yang diberikan sebanyak 10,14 gram/ulangan. Ikan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah ikan Sidat (Anguilla bicolor) pada stadia yellow eel dengan rata-rata bobot awal 7-10 gram. Ikan dipelihara dalam akuarium berukuran (100x30x50) cm3 yang diisi dengan 40 liter air tawar. Lama pemeliharaan selama 30 hari dengan padat tebar 5 ekor/akuarium. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah ikan Sidat yang paling banyak mendekat dan mengkonsumsi pakan pada pengamatan pagi hari maupun sore hari terdapat pada perlakuan C, diikuti dengan perlakuan B dan yang paling sedikit terdapat pada perlakuan A. Berdasarkan hasil yang didapat selama penelitian dapat diambil kesimpulan bahwa respon ikan Sidat berbeda terhadap makanan buatan yang diberikan. Udang rebon merupakan jenis makanan yang paling direspon oleh ikan Sidat baik dari jumlah ikan yang mendekat maupun yang mengkonsumsi pakan. Nilai Rasio Konversi Pakan (FCR) yang paling tinggi adalah pada perlakuan A yaitu 17,82 dan yang paling rendah adalah pada perlakuan C yaitu 15,38. Indonesia has a natural cultivation to increase the growth is good food intake that enough nutrients contains. The purpose of this research were to find out the respond of Eel which approach and consume the artificial food; to know the approaching time to the feed; and to know Food Convertion Ratio (FCR) value of the artificial food given to Eel. The method used in this research was laboratory experimental using a random complete design (RCD) with 3 treatments and 3 replications. The treatments of different kond of food applied as A, B and Ctreatments were golden anails, trash fish and brine shrimp. The amount of feed that given as much as 10,14 grams for each treatments. The experimental fish that used in this research was yellow eel with average body weigth of 7-10 grams. The Eel were kept in 100x30x50 cm3 size aquarium filled with 40 liter fresh water. The Eel stock density was 5/container and be reared for 30 days. The result showed that the highest number of Eels approaching and comsuming the feed in the morning and afternoon observation days was treatment C, followed by treatment B and the last found in treatment A. Based on the results obtained during the research could be inferred that Eel respond was different toward the given artificial food. Brine Shrimp was a kind of feed that are most responded by Eel, both in the number of fish that approach and consume the feed. The highest Food Convertion Ratio (FCR) values was in the treatment A (17,82) and the lowest was in the treatment C (15,38).
HUBUNGAN KANDUNGAN BAHAN ORGANIK DENGAN TOTAL BAKTERI DI SEDIMEN MUARA SUNGAI WISO, JEPARA Mufaidah, Zulistiana; Supriharyono, Supriharyono; Muskananfola, Max Rudolf
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) VOLUME 5, NOMOR 4, TAHUN 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (163.008 KB)

Abstract

ABSTRAK Muara merupakan salah satu ekosistem yang berada di pesisir, yang merupakan tempat terjadinya siklus dekomposisi unsur – unsur hara.Ketersediaan unsur hara didalam suatu perairan dapat menjadi indikator kesuburan perairan tersebut. Dalam hal ini, unsur hara yang dilihat adalah bahan organik sedimen yang terendap di  perairan dasar Muara Sungai Wiso, Jepara. Zat hara tersebut sangat berperan penting terhadap kelangsungan hidup organisme didalamnya. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret – April 2016 dengan tujuan untuk mengetahui total bakteri, kandungan bahan organik dan hubungan antara total bakteri dan kandungan bahan organik total di sedimen Muara Sungai Wiso, Jepara. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini bersifat deskriptif eksplanatif.Pengambilan sampel pada Muara Sungai Wiso dilakukan pada tiga stasiun pengamatan. Stasiun I merupakan bagian hulu aliran air Muara Sungai Wiso. Stasiun II merupakan bagian tengah aliran air Muara Sungai Wiso. Stasiun III merupakan bagian aliran air Muara Sungai Wiso yang berbatasan langsung dengan pantai.Total bakteri di sedimen dasar Muara Sungai Wiso, Jepara berkisar antara 3,3 x 105 cfu/ml hingga 1,2 x 107 cfu/ml. Kandungan bahan organik di sedimen dasar muara Sungai Wiso, jepara berkisar antara 7,12 % hingga 16,57 %. Bahan organik dengan total bakteri yang terdapat di sedimen dasar Muara Sungai Wiso Jepara tidak memiliki hubungan yang nyata (P > 0,05). Kata Kunci: Muara Sungai Wiso; Total Bakteri; Bahan Organik; Sedimen ABSTRACT Estuary is one of the important ecosystem located on the coast. Where of the decomposition cycle nutrient. The available of nutrients in the waters can be an indicator of water fertility. In this case, the element nutrient which is visible content of organic matter in sediment Wiso Estuary, Jepara. The nutrients are crucial to the survival of organism. The reseach was conducted on March – April 2016 in order to determine the total bacteria, the amount organic matter and relations between total bacteria and organic matter in the sediment Wiso estuary, Jepara. The method used in this research is descriptive explanation. Sampling was conducted at Wiso estuary at three observation stations. Station I is the  upstream of Wiso estuarine stream. Station II is a center part of Wiso estuarine stream. Station III is the final part of Wiso estuarine stream which is directly adjacent to the beach. Total bacteria in bottom sediment Wiso estuarine, Jepara ranged between 3,3 x 105 cfu/ml up to 1,2 x 107 cfu/ml. Content of Organic Matter in bottom sediment Wiso estuarine, Jepara ranged between 7,12 %  up to 16,57 %. Organic matter was not correlation with total bacteria (P > 0,05)  in bottom sediment Wiso estuarine Jepara. Keywords:Wiso estuary; Total bacteria; Organic Matter; Sediment
KONSENTRASI BAHAN ORGANIK PADA PROSES PEMBUSUKAN AKAR, BATANG DAN DAUN ECENG GONDOK (Eichhornia sp.) (SKALA LABORATORIUM) Pangestu, Putri Cipta; Soedarsono, Prijadi; Suryanti, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.077 KB)

Abstract

Bahan organik pada tanah dapat terbentuk karena ada penimbunan dari sisa-sisa tanaman yang telah mengalami pelapukan, salah satunya dapat berasal dari akar, batang dan daun Eceng Gondok yang merupakan sumber primer bahan organik di perairan Rawa Pening. Tingginya konsentrasi bahan organik pada perairan Rawa Pening dapat terlihat dengan banyaknya populasi Eceng Gondok yang tumbuh di perairan tersebut serta penimbunan sisa-sisa tumbuhan pada perairan yang tidak termanfaatkan. Penumpukan sisa-sisa dari tanaman ini dikhawatirkan akan mengakibatkan perombakan bahan organik secara besar-besaran dan berdampak pada kondisi perairan yang terlalu subur (eutrofikasi).Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah akar, batang dan daun Eceng Gondok. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah metode purposif sampling. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen skala laboratorium. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 3 kali ulangan yaitu wadah percobaan yang masing-masing diisi akar, batang, dan daun Eceng Gondok. Data yang diamati meliputi konsentrasi bahan organik pada masing-masing bagian tumbuhan, rasio bobot masing-masing bagian tumbuhan, biomassa awal dan akhir sampel uji, kelarutan oksigen, suhu air, pH air serta pH tanah pada setiap wadah percobaan penelitian. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni hingga Juli 2013 di Laboratorium Hidrobiologi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro Semarang.Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata konsentrasi bahan organik tertinggi terdapat pada wadah percobaan penelitian yang berisi akar Eceng Gondok dengan kisaran 50.25 – 57.3%. Wadah yang berisi batang mengandung konsentrasi bahan organik dengan kisaran 48.87 – 55.84%. Konsentrasi bahan organik terendah terdapat pada wadah yang berisi daun Eceng Gondok dengan kisaran 44.67 – 50.28%. Biomassa Eceng Gondok mengalami reduksi setelah 4 minggu terbukti dari biomassa awal masing-masing 200 gr dan biomassa rata-rata akhir pada akar yaitu 96,6 g, pada batang 72,6 g dan pada daun 56,3 g. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh maka dapat disimpulkan bahwa konsentrasi bahan organik tertinggi terdapat pada akar Eceng Gondok. Hasil analisis data konsentrasi bahan organik dengan Anova One Way terdapat perbedaan yang signifikan antara akar, batang dan daun diperoleh nilai signifikansi 0,00 (p<0.05). Bagian tumbuhan yang paling cepat terdekomposisi adalah daun Eceng Gondok.
PENGARUH SALINITAS BERBEDA TERHADAP RESPON OSMOTIK, REGULASI ION DAN PERTUMBUHAN IKAN SIDAT (Anguilla sp.) FASE ELVER SELAMA MASA AKLIMASI DAN KULTIVASI Yuliani, Tina Anggun; Anggoro, Sutrisno; Solichin, Anhar
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 7, No 4 (2018): MAQUARES
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (735.3 KB) | DOI: 10.14710/marj.v7i4.22567

Abstract

Salinitas yang sesuai dengan kebutuhan tubuh ikan diperlukan untuk efisiensi penggunaan energi tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon osmotik, regulasi ion dan pertumbuhan elver ikan sidat pada salinitas berbeda. Penelitian dan penulisan dilaksanakan dari Maret-Juli 2018 menggunakan rancangan acak lengkap dengan 3 level salinitas dan 3 kali ulangan. Elver ikan sidat dipelihara pada akuarium dengan ukuran 30 x 20 x 20 cm yang dilengkapi aerator dan pipa peralon sebagai shelter. Elver ikan sidat dipelihara selama 42 hari dengan pergantian air media dan pemberian pakan setiap 2 hari sekali. Pengukuran panjang dan bobot tubuh  dilakukan pada awal dan akhir penelitian. Osmolaritas media dan osmolaritas haemolymph di ukur menggunakan osmometer. Uji pendahuluan dilakukan untuk menentukan salinitas yang digunakan pada uji utama. Hasil yang diperoleh yaitu rata-rata osmolaritas media dan haemolymph pada salinitas 0 ‰, 2‰ dan 4 ‰ berturut-turut bernilai 1,7 ‰ mOsm/l H2O, 60,28 mOsm/l H2O, 116,4 mOsm/l H2O dan 47,56 mOsm/l H2O, 62,28 mOsm/l H2O, 68,1 mOsm/l H2O. Rata-rata panjang tubuh dan penurunan bobot tubuh pada salinitas 0 ‰, 2‰ dan 4 ‰ berturut-turut yaitu 1,05 cm, 2,07 cm, 0,84 cm dan 3,55 g, 0,82 g, 2, 65 g. Konsentrasi ion rata-rata pada salinitas 0 ‰, 2‰ dan 4 ‰ berturut-turut bernilai 0,27 g/l, 3,25 g/l dan 0,21 g/l. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa salinitas isoosmotik dan tingkat kerja osmotik terendah pada salinitas 1,97 ‰. Pertumbuhan panjang tertinggi dan penurunan bobot tubuh terendah berada pada salinitas 2 ‰ serta konsentrasi ion tertinggi pada salinitas 2 ‰.  Salinity that suits with the fish needs is necessary for the efficient use of energy in the body. This study aims to determine the osmotic response, ion regulation and elver eel fish growth at different salinity. The research was conducted from March to July 2018 and used a complete randomized design with 3 levels of salinity and 3 replications. Elver eel is kept in aquarium with size 30 x 20 x 20 cm which is equipped with aerator and pipe as shelter. Elver eel is maintained for 42 days with water change media and feeding every 2 days. Measurements of length and body weight were performed at the beginning and end of the study. Media osmolarity and haemolymph osmolarity are measured using an osmometer. The experiment preliminary aims to determine salinity that use at experiment prime.The results obtained were the mean of media osmolarity and haemolymph at salinity of 0 ‰, 2 ‰ and 4 ‰ respectively were 1.7 ‰ mOsm / l H2O, 60.28 mOsm / l H2O, 116.4 mOsm / l H2O and 47,56 mOsm / l H2O, 62.28 mOsm / l H2O, 68.1 mOsm / l H2O. Average of body length and decrease of body weight at salinity of 0 ‰, 2 ‰ and 4 ‰ respectively were 1.05 cm, 2.07 cm, 0.84 cm and 3.55 g, 0.82 g, 2.65 g. The mean ion concentrations in the salinity of 0 ‰, 2 ‰ and 4 ‰ were 0.27 g / l, 3.25 g / l and 0.21 g / l respectively. Based on the research results it can be seen that the isoosmotic salinity and the lowest osmotic work rate are at salinity 1.97 ‰. The highest growth length and the lowest body weight decrease is at 2 ‰ salinity and the highest ion concentration is at 2 ‰ salinity.
PERBANDINGAN NILAI HUE PADA BEBERAPA JENIS KARANG BERDASARKAN STATUS PENUTUPANNYA DI PULAU KARIMUNJAWA Larosa, Erick Setiawan; Purnomo, Pujiono Wahyu; Subiyanto, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (457.914 KB)

Abstract

Terumbu karang merupakan Ekosistem pantai yang produktif dan kaya akan keanekaragaman hayati. Karimunjawa merupakan suatu kepulauan dengan berbagai ekosistem seperti mangrove, lamun dan terumbu karang. Daerah tersebut merupakan kawasan konservasi, salah satunya adalah ekosistem terumbu karang. Untuk memantau kondisi terumbu karang, Selain menghitung penutupan karang, dapat juga dilakukan dengan menghitung nilai hue. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan nilai hue pada beberapa jenis karang berdasarkan status penutupannya dan mengetahui hubungan nilai hue antar kedalaman pada berberapa jenis karang. Penelitian ini dilakukan pada bulan November 2014 di pulau Karimunjawa. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah purposive sampling dengan deskriptif analitis sebagai desain penelitiannya. Desain ini bertujuan untuk mendeskripsikan penutupan karang dengan nilai hue beserta perameter kualitas air pada dua kedalaman berbeda di tiga stasiun (Nyamplungan, Batu Topeng dan Tanjung Gelam). Analisis perbedaan nilai hue menggunakan uji varian dan uji beda nyata terkecil. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa nilai hue pada beberapa jenis karang menunjukkan adanya perbedaan. Dimana nilai hue dari Porites lobata sebesar 39 0 - 44 0, Acropora formosa sebesar 53 0 - 68 0 dan Acropora palifera sebesar 40 0 - 57 0. Perbedaan tersebut dikarenakan adanya perbedaan  warna pada setiap jenis  karang. Selain itu, nilai hue dari beberapa jenis karang di kedalaman berbeda juga menunjukan adanya perbedaan. Dimana nilai hue porites lobata pada kedalaman pertama di  stasiun I sebesar 39,6 0, stasiun II sebesar 47,2 0 dan sebesar III sebesar 35,8 0, sedangkan pada kedalaman kedua di stasiun I sebesar 41,6 0, stasiun II sebesar 530 dan stasiun III sebesar 55 0. Perbedaan tersebut dikarenakan nilai TSS yang lebih tinggi di kedalaman kedua dibandingkan dengan kedalaman pertama. Nilai hue pada beberapa jenis karang tidak memiliki hubungan dengan nilai penutupan karang. Nilai hue cenderung lebih tinggi pada kedalaman kedua dibandingkan pada kedalaman pertama. Coral reefs are the ecosystem of shore that are productive and rich of biodiversity. Karimunjawa is an archipelago with having various ecosystem such as mangrove, sea grass and coral reefs. That area is a conserved area, one of them is the ecosystem of coral reefs. To monitoring the condition of coral reefs, beside counting the coral cover, it can be also done by counting hue value. The purpose of this research was to compare hue value of some coral species by covers status, and to determine the relationship of hue value with depth at some coral species. This research conducted in November 2014 at the island of Karimunjawa. The method used in this research was purposive sampling with descriptive analitycal as research design. This design purposed to describe coral covers with the hue value along with the parameters of water quality at two different depths of three stations (Nyamplungan, Batu Topeng and Tanjung Gelam). Analysis for differences of hue values used variant test and least significant difference test. The research result showed that there were significan defferent of hue value among coral reef species. Where hue value of Porites lobata at 39 0 - 44 0, Acropora formosa at 53 0 - 68 0 and Acropora palifera at 40 0 - 57 0. It was caused by defference of color in every coral species. Moreover, hue value of some coral species at defferent depth also showed that there is a defference, where hue value of Porites lobata in the first depth at station I at 39,6 0, station II at 47,2 0 and station III at 35,8 0, whereas in the second depth at station I at 41,6 0, station II at 530 and station III at 55 0. It was caused by TSS value which is higher in the first depth than the second depth. Hue values of some coral species did not have the relationship with coral cover. Hue value at second depth was higher than first depth.
ANALISA KUALITAS PERAIRAN DITINJAU DARI TINGKAT SAPROBITAS DAN KANDUNGAN KLOROFIL DI MUARA SUNGAI BODRI KENDAL Ramanda, Okky Aditya; Sulardiono, Bambang; Ain, Churun
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 6, No 1 (2017): MAQUARES
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (738.958 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai saprobitas perairan (SI dan TSI), kandungan klorofil perairan, dan hubungan antara SI, TSI dengan kualitas perairan. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus 2016 dengan materi yakni sampel air dari Muara Sungai Bodri dan metode deskriptif serta metode pengambilan sampel yakni Purposive Sampling Method. Sampling dilakukan dengan pengulangan waktu yakni pasang dan surut dengan 3 kali pengulangan dengan 4 Stasiun lokasi sampling. Hasil penelitian didapatkan 65 genera dengan 115 spesies yang didominasi oleh Bacillariophyceae seperti Synedra sp., Skeletonema sp., dan Asterionella sp. Kelimpahan fitoplankton tertinggi terjadi pada Stasiun 1 saat surut sebesar  85184 ind/L yang didominasi oleh Synedra ulna. Dari hasil penelitian didapatkan nilai SI pada kisaran 0.75-1.29 yang menyatakan perairan dalam kondisi β-Mesosaprobik hingga β-Mesosaprobik/Oligosaprobik. Sedangkan, untuk TSI didapatkan nilai 0.99-2.56 yang menyatakan perairan dalam kondisi β-Mesosaprobik hingga Oligosaprobik. Hasil pengukuran kadar klorofil-α menunjukkan bahwa klorofil-α pada wilayah di sekitar muara bernilai rendah. Hubungan antara nilai SI dan TSI dengan kualitas perairan menunjukkan nilai positif dengan keeratan lemah pada saat pasang serta nilai positif dan negatif dengan keeratan kuat pada saat surut. Kata Kunci : Muara Sungai Bodri; Klorofil-α; Indeks Saprobik; Tropik Saprobik Indeks ABSTRACT This study aims to determine the value of water saprobity (SI and TSI), chlorophyl-α content and the context of SI, TSI with water quality such as DO, TSS, Nitrate and chlorophyl-α in Bodri River Estuary. This study was conducted in August 2016. The material used in this study is a sample of water taken from Bodri Estuary. The method used in this study is descriptive method with also sampling method is Purposive Sampling. The sampling location consisted by 4 stasions and it done with repetition time of the high and low tide. The result showed 65 genera with 115 species dominated by Bacillariophyceae such as Synedra sp., Skeletonema sp. and Asterionella sp. The highest phytoplankton abundance occurs in Station 1 at low tide at value 85184 ind/L which dominated by Synedra ulna. SI values in the range 0.75-0.29 which states that the water in β-Mesosaprobic to β-Mesosaprobic/Oligosaprobic conditions. While using TSI, it obtained values at range 0.99-2.56 which it states that the water in β-Mesosaprobic to Oligosaprobic conditions. The results of clorophyl-α measurement showed that the chlorophyl-α in the area around the estuary at a low value. The connection between SI and TSI with water quality has a positive value with weak correlaion at high tide and positive and negative value with strong correlation at low tide. Keywords: Bodri River Estuary; Chlorophyl-α; Saprobic Index; Trophic Saprobic IndexÂ