cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Management of Aquatic Resources Journal (Maquares)
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 27216233     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Management of Aquatic Resources diterbitkan oleh Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Departemen Sumberdaya Akuatik, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro. Jurnal Management of Aquatic Resources menerima artikel-artikel mengenai bidang perikanan, manajemen sumberdaya perairan.
Arjuna Subject : -
Articles 548 Documents
SEBARAN SPASIAL TERIPANG TANGKAPAN NELAYAN BERDASARKAN KANDUNGAN BAHAN ORGANIK SEDIMEN DI PULAU GELEANG KARIMUNJAWA Huda, Hasdin Nur; Sulardiono, Bambang; Ain, Churun
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 7, No 1 (2018): MAQUARES
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (933.389 KB) | DOI: 10.14710/marj.v7i1.22534

Abstract

Teripang merupakan salah satu biota yang keberadaanya mulai terancam akibat tingginya aktifitas penangkapan. Tingginya aktifitas penangkapan tersebut menyebabkan jumlah populasi teripang terus menurun dengan tajam. Oleh karena itu, perlu diadakan penelitian untuk mengetahui bagaimana kondisi teripang tersebut. Penelitian dilakukan pada bulan November-Desember 2016 dengan 4 titik lokasi dimana titik 1 pada 5⁰87'05,38'' LS dan 110⁰36'33,25'' BT, titik 2 pada 5⁰88'45,90'' LS dan 110⁰35'81,89'' BT, titik 3 pada 5⁰88'18,65'' LS dan 110⁰34'82,57'' BT dan titik 4 pada 5⁰86'79,84'' LS dan 110⁰35'37,36'' BT. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan kelimpahan teripang, mengetahui jumlah kandungan bahan organik sedimen perairan, sebaran spasial teripang tangkapan, dan hubungan bahan organik sedimen terhadap sebaran spasial teripang. Metode yang digunakan yaitu Random Purposive Sampling. Hasil penelitian menunjukan terdapat 4 spesies yang teridentifikasi yaitu Actinopyga echinites, Holothuria edulis, H. nobilis, dan Stichopus variegatus. Kelimpahan Teripang tertinggi pada titik 2 dengan 7 ind/m2. Sebaran spasial teripang tertinggi terdapat pada titik 2 yang memiliki kandungan bahan organik sedimen (5.7 %). Berdasarkan hasil uji regresi, bahan organik sedimen berhubungan dengan sebaran teripang. Hasil perhitungan uji regresi, angka koefisien determinasi (R2) adalah 0,603. Koefisien determinasi (R2) tersebut menunjukan bahwa kandungan bahan organik pada sedimen berpengaruh sebesar 60,3% terhadap sebaran Teripang di perairan tersebut. Hal tersebut juga menunjukan bahwa variabel lain memiliki pengaruh sebesar 39,7% terhadap sebaran Teripang. Uji korelasi menunjukkan kategori korelasi kuat dengan (r) adalah 0,778. Angka koefisien korelasi (r) = 0,778 dapat diartikan bahwa hubungan kedua variabel yang diuji adalah sangat kuat. Nilai F signifikan 4,33% artinya variabel bebas berpengaruh secara signifikan terhadap variabel terikat. Sea cucumber is one of the biota that its existence began to be threatened due to high catching activity. The high catching activity has caused the population of sea cucumbers to continue to decline sharply. Therefore, it is necessary to conduct research to find out how the condition of the sea cucumber. The study was conducted in November-December 2016 with 4 point locations where point 1 was at 5⁰87'05,38''LS and 110⁰36'33,25 '' BT, point 2 at 5⁰88'45,90 '' LS and 110⁰35'81, 89 '' BT, point 3 at 5⁰88'18,65 '' LS and 110⁰34'82,57 '' BT and point 4 at 5⁰86'79,84 '' LS and 110⁰35'37,36 '' BT. This study aims to determine the type and abundance of sea cucumbers, to know the amount of organic sedimentary water content, the spatial distribution of sea cucumbers, and the relationship of organic matter of sediment to the spatial distribution of sea cucumbers. The method used is Random Purposive Sampling. The results showed there were 4 species identified namely Actinopyga echinites, Holothuria edulis, H. nobilis, and Stichopus variegatus. Abundance of Sea Cucumber highest at point 2 with 7 ind/m2. The highest spatial distribution of sea cucumber is found at point 2 which has the content of organic sediment material (5.7%). Based on regression test result, organic sediment material is related to the distribution of sea cucumber. Result of calculation of regression test, coefficient of determination (R2) is 0,603. Coefficient of determination (R2) shows that the content of organic matter in sediment has an effect of 60.3% on the distribution of Sea Cucumber in these waters. It also shows that other variables have an effect of 39.7% on the distribution of Sea Cucumber. The correlation test indicates strong correlation category with (r) is 0.778. Correlation coefficient (r) = 0.778 can be interpreted that the relationship between the two variables tested is very strong. The value of F significant 4.33% means that independent variables significantly influence the dependent variable.
SUMBERDAYA PERIKANAN BENTOS: Terebralia sp. DI EKOSISTEM HUTAN MANGROVE (STUDI KASUS DI KAWASAN MANGROVE DESA BEDONO, KEC. SAYUNG, KAB. DEMAK) Noersativa, Farah Nabila; Anggoro, Sutrisno; Hendrarto, Boedi
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (630.624 KB)

Abstract

Terebralia sp. merupakan salah satu jenis gastropoda yang menjadi indikator kestabilan dari ekosistem mangrove Keberadaan struktur dan distribusi populasi bentos Terebralia sp. dapat melihat seberapa jauh keberhasilan penghijauan yang ada di kawasan hutan mangrove Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui struktur dan distribusi populasi serta pola pertumbuhan bentos Terebralia sp. di kawasan mangrove, dan mengetahui hubungan kerapatan mangrove dengan kepadatan populasi bentos Terebralia sp.  Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan melakukan pengambilan sampel siput Terebralia sp. menggunakan metode plot sampling yang terdiri dari 3 stasiun. Setiap stasiun terdiri dari line transek sepanjang 100 m  yang dibentangkan tegak lurus dari garis pantai memotong hutan mangrove yang kemudian dibagi menjadi 20 plot dan dilakukan pemeriksaan siput Terebralia sp. dengan kuadran 0,5x0,5m. Sampel yang diperiksa dicatat panjang cangkang dan berat basah. Distribusi dan pola persebaran siput Terebralia sp. dianalisis dengan Indeks Morisita. Pola dan sifat pertumbuhan dianalisis dengan analisis panjang berat dan faktor kondisi. Analisis komunitas vegetasi mangrove dianalisis dengan metode inventarisasi.  Analisis hubungan kerapatan mangrove dengan kepadatan Terebralia sp. dilakukan dengan uji statistik korelasi non paramterik. Hasil penelitian didapatkan struktur populasi Terebralia sp. terdiri dari kepadatan populasi tertinggi sebanyak 152 individu/m2, pola sebaran populasi Terebralia sp. ketiga stasiun adalah dengan pola mengelompok, distribusi frekuensi panjang paling banyak adalah pada kelas interval 25-28 mm yaitu sebanyak 74 individu, pola pertumbuhan siput Terebralia sp. berdasarkan hubungan panjang dan berat adalah allometrik negatif dan nilai faktor kondisi Stasiun 1, 2, dan 3 berkisar antara 4,54 – 5,12 . Hubungan kerapatan mangrove dengan kepadatan populasi Terebralia sp. ditemukan memiliki korelasi sangat lemah (r = 0,118). Terebralia sp. is one type of gastropods as indicators of the mangrove ecosystem stability. The existence of the population structure and distribution of Terebralia sp. could determined how much the success of reforestation in the area of mangrove forests in Bedono village, District Sayung, Demak. This research was conducted in order to know the population structure and distribution and growth patterns of Terebralia sp. in mangrove areas, and determining the relationship between mangrove density and Terebralia sp  density. The methods that used in this research is using sampling plot methods that consist of 3 stasions. Each stations are consist of 100 metres transect line whixh was stretched perpendicular to the shoreline and cut off the mangrove forest area. The transect line was divided to 20 plots. The examination of lenght and weight of  Terebralia sp. was did with 0,5x0,5 metres quadrant at each plots. The distribution pattern of Terebralia sp. was analyzed by Morisita Index. The growth pattern of Terebralia sp. was analyzed by weight and lenght analysis and condition factor analysis. The mangrove comunity analysis was analyzed by Inventarisation method. The  relationship between mangrove density and Terebralia sp. density is performed using a statistical test of non-parametric correlation. The results showed that a population structure Terebralia sp. consists of the highest population density as much as 152 individuals/m2, the pattern of population distribution Terebralia sp. at all station showed a clustered pattern, the length frequency distribution at the most is as many as 74 individuals on the 25-28 mm class intervals, the pattern of growth Terebralia sp. based on the length and weight relationship is negative allometric, and the value of condition factors of Station 1, 2, and 3 is about 4.54 -  5.12. The relationship between mangrove density and Terebralia sp. density found that they have a very weak correlation (r = 0.118).
TINGKAT EKSPLOITASI IKAN TUNA SIRIP BIRU SELATAN (Thunnus maccoyii) DI SAMUDERA HINDIA BERDASARKAN HASIL TANGKAPAN YANG DIDARATKAN DI PELABUHAN BENOA, BALI Kurniawan, Damar Nusawicaksono; Ghofar, Abdul; Saputra, Suradi Wijaya; Setyadji, Bram
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) VOLUME 5, NOMOR 4, TAHUN 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.297 KB)

Abstract

ABSTRAK Pengkajian dan pendugaan status sumberdaya perikanan di suatu wilayah perairan dapat dilakukan dengan mengetahui laju eksploitasinya. Data frekuensi panjang merupakan salah satu data yang dapat digunakan untuk melakukan pendugaan tingkat eksploitasi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menduga nilai mortalitas, laju pertumbuhan, ukuran pertama kali tertangkap dan tingkat eksploitasi. Penelitian dilakukan pada bulan April-Mei 2016 di Loka Penelitian Perikanan Tuna Pelabuhan Benoa, Denpasar, Bali. Metode yang digunakan adalah metode survei. Sementara data panjang ikan tuna sirip biru selatan tahun 2013-2014 kemudian diolah dengan perangkat lunak FISAT II. Hasil penelitian menunjukkan struktur ukuran ikan tuna sirip biru selatan 145 - 210 cmFL dengan modus di ukuran 170-174 cmFL, ukuran pertama kali tertangkap (Lc) 171 cmFL, hubungan panjang berat mendapat nilai W= 0,00006*FL2,792, faktor kondisi berada pada angka 1,86-2,00, laju pertumbuhan yang didapat yaitu Lt=220,50(1 - e 0,2(t+0,488)), dimana nilai dari L∞ yaitu 220,50 cmFL dan nilai t0 -0,49, laju mortalitas total (Z) sebesar 1,14/tahun, laju mortalitas alami (M) sebesar 0,36/tahun, dan laju mortalitas akibat penangkapan (F) sebesar 0,78/tahun, dan tingkat eksploitasi (E) 0,68/tahun, Hal ini menunjukan penangkapan  ikan tuna sirip biru selatan oleh kapal rawai tuna di Samudera Hindia dalam keadaan berlebih (overfishing) karena nilai tingkat eksploitasi yang didapat melebihi tingkat pemanfaatan optimum atau Eopt = 0,5/tahun (0,68 > 0,5). Kata Kunci : Ikan Tuna Sirip Biru Selatan, Tingkat Eksploitasi, Mortalitas, Pertumbuhan  ABSTRACT Stock assessment and prediction status of fisheries resources in the waters can be made by knowing the rate of exploitation. Length-frequency data is one can be used to suspect rate of exploitation . The aimed of this research was to suspect value of mortality, the growth rate, size at first capture and the level of exploitation. This research was conducted on April-May 2016 at the Loka Fishery Tuna's Research Benoa Port, Denpasar, Bali. This research used survey method.While data length of the southern bluefin tuna 2013-2014 was processed with FISAT II. The results showed size structure of southern bluefin tuna 145-210 cmFL with mode in sizes 170-174 cmFL, size at first capture (Lc) 171 cmFL, value of lenght and weight relationship W = 0,00006 *,792 FL2, condition factors 1,86-2.00, the growth rate Lt = 220,50 (1-e of 0.2 (t + 0,488)), where the value of L ∞ was 220.50 cmFL and value t0 -0.49 total mortality rate (Z) of 1.14/year, rate of natural mortality (M) of 0.36/year, and  rate of mortality due to the arrest of (F) amounted to 0.78/year, and the rate of exploitation (E) 0,68/year, it shows the fishing of southern bluefin tuna by the longline in the Indian Ocean was overfishing because level of exploitation value was over the optimum effort or Eopt = 0,5/year (0.68 > 0.5). Keyword: Southern Bluefin Tuna, exploitation rate, Mortality, growth,
STUDI HUBUNGAN SUBSTRAT DASAR DAN KANDUNGAN BAHAN ORGANIK DALAM SEDIMEN DENGAN KELIMPAHAN HEWAN MAKROBENTHOS DI MUARA SUNGAI SAYUNG KABUPATEN DEMAK Taqwa, Rella Nur; Muskananfola, Max Rudolf; Ruswahyuni, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (298.93 KB)

Abstract

Muara sungai Sayung merupakan daerah yang telah mengalami perubahan kondisi ekologi perairan yang disebabkan karena pengaruh pasang tertinggi (rob). Daerah tersebut telah berubah menjadi daerah tergenang dan banyak didominasi oleh substrat berlumpur. Substrat lumpur kaya akan bahan organik dan akan menjadi cadangan makanan bagi hewan makrobenthos yang hidup di muara sungai. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan substrat dasar dan kandungan bahan organik dalam sedimen dengan kelimpahan hewan makrobenthos, dan untuk mengetahui kondisi lingkungan Muara Sungai Sayung berdasarkan nilai keanekaragaman dan keseragaman hewan makrobenthos. Penelitian ini berdasarkan studi kasus dan menggunakan metode purposive sampling untuk pengambilan sampel. Hasil penelitian dari ketiga stasiun di Muara Sungai Sayung didapatkan kelimpahan hewan makrobenthos berkisar antara 363 – 4829 ind/m3. Hewan makrobenthos yang didapatkan selama penelitian terdiri dari 3 kelas yaitu Polychaeta, Gastropoda, dan Bivalvia. Hasil penelitian pada stasiun I nilai indeks keanekaragaman sebesar 0,63, indeks keseragaman sebesar 0,57, Stasiun II nilai indeks keanekaragaman sebesar 0,13, indeks keseragaman sebesar 0,19, dan Stasiun III diperoleh nilai indeks keanekaragaman sebesar 1,79 dan indeks keseragaman sebesar 0,78. Nilai keanekaragaman tergolong dalam kategori rendah sampai sedang yang menunjukkan bahwa kondisi lingkungan sudah tidak layak untuk kehidupan hewan makrobenthos di dalamnya dan nilai keseragaman termasuk dalam kategori kecil sampai tinggi yang menunjukkan bahwa komposisi jenis hewan makrobenthos tidak sama dan kondisi ekosistemnya tidak stabil sehingga rawan akan terjadinya penurunan pada fungsi ekosistemnya. Berdasarkan nilai uji regresi sederhana dan uji regresi berganda dimana nilai koefisien korelasi berkisar 0,9 < r ≤ 1,0 menunjukkan bahwa kelimpahan hewan makrobenthos memiliki hubungan yang sangat kuat dan memiliki korelasi yang sangat nyata dengan jenis substrat dasar dan kandungan bahan organik dalam sedimen.
PENGARUH KERAPATAN LAMUN Thalassia hemprichii TERHADAP KELIMPAHAN BAKTERI HETEROTROF DI PANTAI PRAWEAN, JEPARA Yunita, Isnaini Dian; Widyorini, Niniek; Supriharyono, Supriharyono
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 7, No 4 (2018): MAQUARES
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (590.226 KB) | DOI: 10.14710/marj.v7i4.22664

Abstract

Ekosistem lamun merupakan salah satu ekosistem yang memiliki kompleksitas dan keanekaragaman hayati yang tinggi. Padang lamun merupakan hamparan vegetasi lamun yang menutupi suatu kawasan pesisir. Selain memiliki fungsi ekonomi, lamun juga memiliki fungsi ekologis yakni berperan penting sebagai pendaur zat hara oleh mikroorganime yaitu bakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kerapatan lamun, kelimpahan bakteri heterotrof yang berasosiasi dengan lamun serta pengaruh kerapatan lamun dengan kelimpahan bakteri heterotrof di Pantai Prawean, Jepara. Metode yang digunakan yakni deskriptif eksplanatif dengan pengambilan sampel secara purposive dan dianalisis dengan IBM SPSS Statistic 22. Jenis lamun yang ditemukan di Pantai Prawean ada 5 (lima): Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Halodule uninervis dan Halodule pinifolia. Kerapatan tertinggi didapat dari jenis Thalassia hemprichii sebesar 78 Ind/m2 dan terendah adalah Enhalus acoroides 10 Ind/m2 dan kelimpahan bakteri heterotrof tertinggi diperoleh dari tingkat kerapatan rapat di stasiun 3 yakni 29,4x108 Upk/ml dan kelimpahan terendah diperoleh dari tingkat kerapatan jarang di stasiun 2 yakni 3,3x108 Upk/ml. Korelasi antara kerapatan lamun dengan kelimpahan bakteri heterotrof tinggi atau kuat yakni 0,896 dan korelasi ini dinyatakan sangat signifikan terbukti nilai sig. 0,001 dengan tingkat kesalahan 0,1%. Artinya bertambahnya kerapatan lamun dapat meningkatkan pula kelimpahan bakteri heterotrof. Seagrass ecosystem is one ecosytems that has high complexity and biodiversity. Seagrass beds are a stretch of seagrass vegetation that covers a coastal area. Beside its economic function, seagrass also have ecological function that play an important role of nutrient cycle for microorganism its bacteria. This study aims to determine the density of seagrass, the abundance of heterothropic bacteria and influence of seagrass density with abundance of heterotrophic bacteria at Prawean beach, Jepara. The method used in this study is descriptive explanative with purposive sampling and the data analyzed by IBM SPSS Statistic 22. There are 5 (five) species of seagrass that can be found in Prawean beach: Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Halodule uninervis and Halodule pinifolia. The highest density obtained from Thalassia hemprichii species is 78 sprouts of seagrass/m2 and the lowest density obtained from Enhalus acoroides is 10 obtained from seagrass density at station 3 its value 29,4x108Cfu/ml and the lowest abundance of heterotrophic bacteria was obtained from rare seagrass at station 2 its value 3,3x108Cfu/ml.  The corelation between seagrass density with abundance heterotrophic bacteria is high or strong that has value 0,846 and this correlation is very significantly proven has sig value 0,001 with error rate 0,1%, it can be conclude that increase of seagrass density can also increase the abundance of heterotrophic bacteria.  
KELIMPAHAN LARVA UDANG Penaeid PADA SAAT PASANG DI SALURAN TAMBAK DESA GEMPOLSEWU, KAB. KENDAL Riyana, Hesty; Hutabarat, Sahala; Widyorini, Niniek
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (503.864 KB)

Abstract

Larva udang merupakan organisme yang bersifat planktonik, hidupnya mengapung atau melayang yang pergerakannya dipengaruhi oleh arus. Kemampuan renangnya sangat terbatas hingga keberadaannya sangat ditentukan ke mana arus membawanya. Distribusi dan kelimpahan larva udang di perairan dipengaruhi oleh arus pasang surut. Pergerakan arus saat pasang yang terjadi di perairan pantai akan membawa larva udang menuju muara, kemudian memasuki sungai yang nantinya akan masuk ke dalam saluran tambak. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui komposisi dan kelimpahan larva udang penaeid yang masuk ke dalam saluran tambak dan mengetahui pengaruh perbedaan jarak lokasi saluran tambak dengan muara terhadap ketersediaan larva udang Penaeid di Desa Gempolsewu, Kab. Kendal. Penelitian dilakukan pada bulan Desember 2014 -Januari 2015. Lokasi penelitian terdiri dari dua stasiun dengan jarak 300 m dari stasiun I ke stasiun II. Teknik pengambilan sampel larva udang dalam penelitian ini menggunakan metode purposive sampling. Pengambilan sampel larva udang dilaksanakan dengan menggunakan metode pasif di mana plankton net diameter 45 cm dan mesh size jaring 150 mikron dipasang di tengan saluran tambak menghadap muara selama 1 jam. Spesies Larva udang Penaeid yang ditemukan selama penelitian pada kedua stasiun yaitu Penaeus merguiensis dan Metapenaeus sp. Kelimpahan yang diperoleh selama penelitian pada stasiun I sebanyak 412 ind/100m3 dengan jumlah stadia mysis 240 ind/100m3 dan postlarva 172 ind/100m3. Pada stasiun II sebanyak 312 ind/100m3 dengan jumlah stadia Mysis 214 ind/100m3 dan postlarva 98 ind/100m3. Kelimpahan Relatif Penaeus merguiensis 84% pada stasiun I dan 90% pada stasiun II. Sedangkan Kelimpahan Relatif  Metapenaeus sp. 16% pada stasiun I dan 10% pada stasiun II. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa jarak dari bibir sungai/ estuari berpengaruh pada kelimpahan larva udang.    Shrimp larvae is planktonic organisms that live by floating or drifting, and its movement is affected by current. Its Swimming ability is very limited, so the presence is determined where the flow through. Distribution and abundance of shrimp larvae in waters influenced by tidal current. The current when flood tide that transport shrimp larvae to the estuary, then enter the river until to the channel brackish water ponds. The purpose of this study was to determine the composition and abundance of penaeid shrimp larvae that enter the channel ponds and to determine the effect of different distance of channel pond locations with the estuary toward the availability of Penaeid shrimp larvae in the Gempolsewu Village, Kendal. The study was conducted from December 2014 to January 2015. Location of the study consists of two stations with a distance 300 m from stasiun I to stasiun II. The sampling technique of collecting shrimp larvae in this study used purposive sampling method. Sampling of the shrimp larvae was carried out by using the passive method in which the plankton net of 45 cm diameter and 150 micron mesh size nets were installed in the middle of channel facing the estuary when flood tide for 1 hour. The result showed that two spesies of Penaeid shrimp larvae i.e  Penaeus merguiensis and Metapenaeus sp. were found in both stasions. The abundance of both spesies obtained during the research in the station I was 412 ind / 100m3 consist of stadia mysis 240 ind / 100m3 and postlarva 172 ind / 100m3. While at the station II was 312 ind / 100m3  consist of stadia Mysis 214 ind / 100m3 and postlarva 98 ind / 100m3. Relative abundance of Penaeus merguiensis 84% at station I and 90% at station II. While the Relative Abundance Metapenaeus sp. 16% at station I and 10% at station II. Based on the results of this research could be concluded that the distance from mouth of river/ estuary influenced the abundance of shrimp larvae.
KOMPOSISI LARVA IKAN DI KAWASAN KOSERVASI MANGROVE DUSUN SENIK, DESA BEDONO, KECAMATAN SAYUNG, DEMAK Rinaldi, Rexa Kurnia; Widyorini, Niniek; Purnomo, Pujiono Wahyu
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 6, No 2 (2017): MAQUARES
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (849.937 KB)

Abstract

ABSTRAK Stadia larva merupakan fase pertumbuhan awal ikan. Distribusi dan Kelimpahan larva ikan di Ekosistem Mangrove merupakan proses rekruitmen alami. Kawasan Konservasi Mangrove Dusun Senik Desa Bedono merupakan daerah asuhan dan daerah mencari makan bagi larva ikan, saat ini daerah tersebut terkena abrasi. Hilangnya sebagian besar daratan memberikan pengaruh terhadap distribusi dan kelimpahan larva ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis, kelimpahan, dan sebaran larva ikan di kawasan konservasi mangrove Desa Bedono. Penelitian dilakukan di Kawasan Konservasi Mangrove Desa Bedono bulan September - Oktober 2016.  Metode penelitian yang digunakan adalah survei dengan penentuan titik sampling secara purposive. Hasil yang diperoleh jumlah larva ikan yang tertangkap sebanyak 20.320 individu/150m3 yang terdiri dari 12 famili yaitu: Mugilidae (1.120 ind/150m3), Chanidae (20 ind/150m3), Gerreidae (60 ind/150m3), Apogonidae (17.360 ind/150m3),  Scatophagidae (40 ind/150m3), Gobiidae (180 ind/150m3), Belonidae (40 ind/150m3), Ambassidae (20 ind/150m3), Lutjanidae (620 ind/150m3), Engraulidae (60 ind/150m3), Nemipteridae (40 ind/150m3), dan Oryziatidae (760 ind/150m3). Nilai kelimpahan larva ikan pada titik I sebesar 393 ind/150m3, titik II sebesar 607 ind/150m3, titik III sebesar 800 ind/150m3, titik IV sebesar 1.687 ind/150m3, titik V sebesar 1.633 ind/150m3, titik VI sebesar 607 ind/150m3, titik VII sebesar 235 ind/150m3, titik VIII sebesar 793 ind/150m3. Berdasarkan indeks morisita, pola sebaran larva ikan adalah acak. Kesimpulan yang dapat diambil adalah famili Apogonidae mendominasi dengan persentase 85,43%, nilai kelimpahan tertinggi terdapat pada titik IV, dan pola distribusi larva ikan menyebar secara acak yaitu keberadaan spesies tidak memiliki kecenderungan untuk hidup berkoloni dan dapat bertahan hidup di mana saja pada suatu ekosistem. Kata Kunci : Larva ikan; Komposisi; Kelimpahan; Pola Distribusi; Kawasan Konservasi Mangrove ABSTRACT Larval stage is the early growth phase of fish. Distribution and abundance of larval fish in mangrove ecosystem is a natural recruitment process. Mangrove Conservation Area at Senik hamlet Bedono village is the breeding and feeding areas for fish larvae, now the area is damaged by abrasion. The loss of the most mainland affects to the distribution and abundance of fish larvae. This study aims to determine the type, abundance and distribution of fish larvae in mangrove conservation area at Bedono village. The study was conducted in Bedono village Mangrove Conservation Area in September-October 2016. The research method that is used is a survey with purposive sampling point determination. The results obtained, the number of fish larvae caught are 20.320 individuals/150m3 consisting of 12 families, namely: Mugilidae (1.120 ind/150m3), Chanidae (20 ind/150m3), Gerreidae (60 ind/150m3), Apogonidae (17.360 ind/150m3), Scatophagidae (40 ind/150m3), Gobiidae (180 ind/150m3), Belonidae (40 ind/150m3), Ambassidae (20 ind/150m3), Lutjanidae (620 ind/150m3), Engraulidae (60 ind/150m3), Nemipteridae (40 ind/150m3), and Oryziatidae (760 ind/150m3). The value abundance of fish larvae in point I is 393 ind/150m3, in point II is 607 ind/150m3, in point III is 800 ind/150m3, point IV is 1.687 ind/150m3, point V is 1.633 ind/150m3, point VI is 607 ind/150m3, point VII is 235 ind/150m3, point VIII is 793 ind/150m3. Based on morisita index, the distribution pattern of fish larvae is random. The conclusion of this research are family Apogonidae dominates by percentage 85.43%, the highest abundance values is contained in point IV, and the  distribution pattern of fish larvae randomly spread, means that the species does not live in colonies and can survive anywhere in an ecosystem. Keywords     : Fish Larvae; Composition; Abundance; Distribution; Mangrove Conservation Area
Mangrove Carbon Biomass at Kemujan Island, Karimunjawa Nasional Park Indonesia Cahyaningrum, Siska Tri; Hartoko, Agus; Suryanti, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1048.682 KB)

Abstract

Akumulasi dari gas-gas rumah kaca dapat menyebabkan terjadinya perubahan iklim. Salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak tersebut adalah meningkatkan peran hutan sebagai penyerap karbon melalui sistem pengelolaan yang baik. Ekosistem di kawasan pesisir yang memiliki fungsi ekologi sebagai penyerap karbon adalah hutan mangrove. Fungsi ekologi tersebut menjadikan hutan mangrove dapat menyimpan karbon dalam jumlah besar baik pada vegetasi (biomassa) maupun bahan organik lain yang terdapat di hutan. Tujuan dari penelitian ini untuk menghitung biomassa karbon vegetasi mangrove diatas permukaan melalui persamaan alometrik, dan membangun pemodelan algoritma kandungan karbon jenis mangrove pada kawasan berdasarkan teknologi pengindraan jauh menggunakan citra satelit Quickbird. Penelitian menggunakan metode survey lapangan dengan eksploratif, dan pengambilan sampel di kawasan mangrove secara purposive sampling. Pengukuran biomassa tersimpan diatas permukaan dilakukan dengan tidak merusak vegetasi (non destructive sampling) melalui pengukuran diameter batang (DBH). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 21 spesies mangrove ditemukan di kawasan mangrove Pulau Kemujan. Total biomassa atas permukaan (batang, cabang, daun) adalah 182.4 ton (setara 91.2 ton C), dengan simpanan karbon terbesar pada bagian batang. Berdasarkan hasil regresi polynomial untuk pemodelan kandungan karbon tiap jenis, didapatkan hasil pemodelan untuk Ceriops tagal dengan algoritma y = -0.003(B2/B3)2 + 0.267(B2/B3) – 3.452; Rhizophora apiculata dengan algoritma y = 0.001(B2/B3)2 – 0.116(B2/B3)2 + 3.415; Bruguiera cylindrica dengan algoritma y = -0.003(B2/B3)2 + 0.336(B2/B3) – 7.265; Xylocarpus granatum dengan algoritma y = 0.000(B2/B3)2 – 0.058(B2/B3) + 2.101; Rhizophora mucronata dengan algoritma y = 0.000(B2/B3)2 – 0.022(B2/B3) +1.941. The accumulation of greenhouse gases cause climate change. One of the effort to decrease accumulation gas is increasing the role of forests as carbon sinks through good management system. Ecosystems in coastal areas that have ecological function as a carbon sink is a mangrove forest. The ecological functions of mangrove forests can save carbon in large numbers both on the vegetation (biomass) and other organic materials which found in the forest. The purpose of this research to calculate the carbon biomass of mangrove vegetation on the surface through allometric equations, and to build modeling algorithms the carbon content of mangrove species in the region based on remote sensing technology using Quickbird satellite imagery. The research used an exploratory field survey and purposive sampling method in mangrove area. Measurements was performed on the surface of stored biomass without damaging vegetation (non-destructive sampling) through the measurement of trunk diameter (DBH). The results showed that there are 21 mangrove species found in mangrove areas Kemujan Island. Total biomass on the surface (trunk, branches, leaves) is 182.4 ton (91.2 tons C), with the largest carbon storage in the trunk. Based  on the results of polynomial regression for modeling the carbon content of each spesies, the results of modeling algorithm for Ceriops tagal with y = -0.003(B2/B3)2+ 0.267(B2/B3) – 3.452; Rhizophora apiculata with the algorithm y = 0.001(B2/B3 )2 - 0.116 (B2/B3) + 3.415; Bruguiera cylindrica with the algorithm y = -0.003(B2/B3)2 + 0.336(B2/B3) – 7.265; Xylocarpus granatum with algorithm y = 0.000(B2/B3)2 - 0.058(B2/B3) + 2.101; Rhizophora mucronata with the algorithm y = 0.000(B2/B3)2 - 0.022(B2/B3) +1.941.
ANALISIS EKONOMI PELAKU USAHA WADUK JATIBARANG Economic Analysis of Businessman Around Waduk Jatibarang Putri, Lintang Kinanti; Saputra, Suradi Wijaya; Ain, Churun
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 8, No 3 (2019): MAQUARES
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (249.94 KB) | DOI: 10.14710/marj.v8i3.24256

Abstract

ABSTRAKWaduk Jatibarang merupakan waduk yang terletak di  Kelurahan Kandri, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang. Waduk Jatibarang merupakan salah satu waduk yang potensial untuk dimanfaatkan sebagai tempat wisata. Penilaian ekonomi diperlukan untuk menentukan apakah suatu pemanfataan sumberdaya dapat memberikan keuntungan ataupun mempunyai peranan positif dalam pembangunan ekonomi. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui nilai ekonomi wisata berdasarkan pelaku usaha wisata di sekitar Waduk Jatibarang. Pada sekitar Waduk Jatibarang terdapat beberapa pelaku usaha, yaitu pelaku usaha wisata perahu, pelaku usaha makanan dan homestay. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu surplus produsen untuk mengetahui nilai ekonomi pelaku usaha wisata. Nilai ekonomi pelaku usaha wisata perahu di Waduk Jatibarang pada 2018 adalah Rp 325.893.333. Sementara surplus ekonomi pelaku usaha makanan sebesar Rp 25.313.333. Estimasi nilai ekonomi pelaku usaha homestay adalah Rp -106.200.000. Hal ini dikarenakan kurangnya peminat homestay karena jaraknya yang dekat dengan pusat kota Semarang yang memiliki penginapan lebih baik dan mayoritas wisatawan berasal dari daerah Semarang. ABSTRACTWaduk Jatibarang is the reservoir that located in Kandri Village, Gunungpati sub-regency, Semarang. Waduk Jatibarang is used for tourist activities. Economic valuation is needed to determine resource usage benefits or positive roles in economic development. The purpose of this research is to find out the economic value of tourism based on its businessman around Waduk Jatibarang. The method in this research used to determine the economic value of tourism is producer surplus of businessman. The economic value of boat tour in 2018 is Rp 325.893.333. Meanwhile, the economic value of food businessman is Rp 25.313.333. The estimated economic value of  homestay owner is  Rp -106.200.000, this result happened because Waduk Jatibarang located near downtown Semarang which provides better accommodation and most of the visitors came from around.
KONSENTRASI KLOROFIL-a, NITRAT DAN FOSFAT UNTUK MENILAI KESUBURAN MUARA SUNGAI WAKAK, KENDAL Swayati, Dyah Prajna; Muskananfola, Max Rudolf; Rudiyanti, Siti
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (315.051 KB)

Abstract

Muara sungai merupakan daerah dimana air tawar dan air laut bertemu dan bercampur secara aktif. Bahan organik, mineral-mineral dan sedimen yang terbawa oleh arus pasang surut dan limbah aktivtas darat dari hulu sungai bercampur pada muara tersebut. Zat hara seperti fosfat dan nitrat merupakan zat hara yang dapat mempengaruhi pertumbuhan fitoplankton, dimana fitoplankton digunakan sebagai indikator kualitas perairan. Penelitian ini bertujuan mengetahui (i) kandungan klorofil-a, nitrat dan fosfat; (ii) hubungan antara klorofil-a dengan nitrat dan fosfat dan (iii) nilai kesuburan perairan di Muara Sungai Wakak. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember  2014 sampai Januari 2015. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei dan metode sampling menggunakan studi kasus. Lokasi penelitian di bagi menjadi tiga stasiun yaitu  muara bagian atas (upper estuary), muara bagian tengah (middle estuary) dan muara bagian bawah (lower estuary). Pengambilan sampel air dilakukan pada saat pasang dan surut, dengan pengulangan sebanyak tiga kali. Hasil penelitian pada waktu pasang menunjukkan bahwa konsentrasi klorofil-a berkisar 0,62 – 1,92 μg/l, nitrat berkisar 0,45 - 1,35 mg/l dan fosfat berkisar, 0,12 - 1,04. Sebaliknya saat surut, konsentrasi klorofil-a berkisar 0,34 – 0,92 μg/, nitrat berkisar 0,60 - 1,95mg/l dan fosfat berkisar  0,06 - 0,55 mg/l. Berdasarkan uji korelasi menunjukkan keeratan antara klorofil-a dengan nitrat dan fosfat saat pasang memiliki hasil sedang, saat surut memiliki hasil keterkaitan lemah. Kesuburan perairan Muara Sungai Wakak berdasarkan nilai TSI berkisar antara 55,12 – 65,42 saat pasang  dan 50,75  -  60,84 saat surut. Berdasarkan hasil tersebut dapat dikatakan bahwa baik saat pasang dan saat surut di duga Muara Sungai Wakak berada dalam katagori eutrofik ringan hingga sedang. Estuary is area whare fresh water and sea water meet and mix actively. Organic content, minerals and sedimentary that carried away by tidal currents and waste of land activities from headwaters mixed to the estuary. Nutrients such as phosphates and nitrates can influence the growth of phytoplankton, which phytoplankton was used as water quality. This research purpose were to know about (i) concentration of chlorophyll-a, nitrate and phosphate, (iii) corelation between chlorophyll-a with phosphate and nitrate and (iii) water productivity level. This study was conducted between December 2014 until January 2015. Research methode that used are surveying methode and sampling methode using study case. There ware sampling three stations which were upper estuary, middle estuary and lower estuary. Sampling water was conducted at high tide and low tide with three time replication. The results shows that at high tide, the concentration chlorophyll-a are 0,62 - 1,92 μg/l, nitrate are 0,45 - 1,35 mg/l and phosphate are 0,12 - 1,04 mg/l. at low tide, the concentration of chlorophyl-a are 0,34 – 0,92 μg/l, nitrate are 0,60 - 1,95mg/l and phospate are 0,06 - 0,55 mg/l. Based on correlation test, the reletionship chlorophyll-a with  nitrate and phosphate was middle correlation at high tide, while low tide was weak. The water productivity level of wakak estuary based TSI that are 55,12 – 6,42  at high tide and 50,75 – 60,84 at low tide, it mean that Wakak Estuary is categories as low until middle eutrophic.