cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Management of Aquatic Resources Journal (Maquares)
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 27216233     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Management of Aquatic Resources diterbitkan oleh Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Departemen Sumberdaya Akuatik, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro. Jurnal Management of Aquatic Resources menerima artikel-artikel mengenai bidang perikanan, manajemen sumberdaya perairan.
Arjuna Subject : -
Articles 548 Documents
KAJIAN KESUBURAN PERAIRAN DI WADUK IR. H. DJUANDA PURWAKARTA BERDASARKAN KANDUNGAN NUTRIEN DAN STRUKTUR KOMUNITAS FITOPLANKTON Sari, Herda Mustika; Sulardiono, Bambang; Rudiyanti, Siti
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (632.427 KB)

Abstract

Waduk Ir. H. Djuanda terletak di Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat dengan ketinggian 111 m dpl dan luas 8.300 ha. Waduk tersebut dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar sebagai sumber air bersih, tempat pariwisata, tempat kegiatan perikanan tangkap maupun keramba jaring apung (KJA). Pemanfaatan waduk untuk berbagai kepentingan dimungkinkan menjadi salah satu sumber masukan nutrien dan berdampak bagi struktur komunitas plankton di perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan nutrient  (nitrat dan ortofosfat), struktur komunitas fitoplankton dan tingkat saprobitas indeks pada perairan waduk Ir. H. Djuanda, Purwakarta. Penelitian ini dilaksanakan bulan November-Desember 2014. Pengambilan sampel air dilakukan selama 2 kali dengan interval waktu pengambilan sampel air 1 bulan di 5 titik stasiun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar nitrat yang diperoleh termasuk ke dalam oligotrofik, dengan kisaran nilai antara 0,212-0,867 mg/l. Nilai ortofosfat berkisar antara 0,061-0,359 mg/l termasuk kedalam perairan eutrofikasi-super eutrofik. Kelimpahan fitoplankton dengan rata-rata keseluruhan 568.406 Ind/l. Jenis fitoplankton tertinggi selama penelitian adalah Oscilatoria sp dan jenis Peridinium sp. Nilai H’ berkisar antara 1,41-1,81 keanekaragaman rendah, nilai e berkisar 0,46-0,68 keseragaman sedang sedangkan indeks dominasi berkisar 0,24-0,43 yang berarti tidak terdapat jenis biota yang mendominasi. Berdasarkan nilai TSI yang diperoleh sebesar 0,6-1,5 termasuk pada perairan β-Mesosaprobik. Kesuburan perairan ini masih dapat dimanfaatkan oleh organisme di perairan. Ir. H. Djuanda Reservoir is located in Purwakarta, West Java with an altitude of 111 m above sea level and 8.300 ha wide. The reservoir is used by local people as a source of clean water, tourism and fisheries activities areas as well as floating net cages (KJA). Utilization of reservoirs for various purposes, is possible to be one source of nutrient input and impacts on the community structure of plankton in the waters. This research was aimed to determine of nutrient content (nitrate and orthophosphate), community structure of phytoplankton and the level of water saprobitas in Ir. H. Juanda Reservoir. The research was conducted in November-December 2014. Water sampling was conducted twice with water sampling interval of 1 month in 5 point stations. The results showed that nitrate belongs to the oligothrofic, with a range of values between 0,212 to 0,867 mg/l. Value of orthophosphate ranged from 0,061 to 0,359 mg/l is included into eutrophic-super eutrophic waters. The highest phytoplankton abundance in the research are Oscilatoria sp and Peridinium sp with a values 568.406 Ind/l. Value of H' ranged from 1,41 to 1,81 low diversity, values of e ranged from 0,46 to 0,68 medium uniformity while dominance index ranged from 0,24 to 0,43 which means there is not kind of life that dominates. Based on the value of TSI 0,6 to 1,5 is included into β-Mesosaprobic waters. Waters productivity still can be utilized by organisms in the waters.
PENGARUH PERBEDAAN SUHU TERHADAP PERKEMBANGAN EMBRIO, DAYA TETAS TELUR DAN KECEPATAN PENYERAPAN KUNING TELUR IKAN BLACK GHOST (Apteronotus albifrons) PADA SKALA LABORATORIUM Nugraha, Dimas
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 1, No 1 (2012): Journal of Management of Aquatic Resources
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (452.041 KB)

Abstract

Ikan black ghost merupakan salah satu ikan hias komoditi ekspor yang memiliki nilai ekonomis yang cukup menjanjikan. Ikan ini menyukai perairan dengan suhu 26 – 28 0C. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui pengaruh suhu terhadap perkembangan embrio, daya tetas telur dan penyerapan kuning telur ikan black ghost (A. albifrons). Metode yang digunakan adalah metode eksperimen dalam skala laboratories dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 (empat) perlakuan suhu yaitu 24, 26, 28 dan 30 0C dan 3 (tiga) ulangan yang dilaksanakan pada 19 Maret – 04 Mei 2012 di Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Ikan Hias Air Tawar Depok, Jawa Barat. Hasil penelitian didapatkan waktu perkembangan embrio yang paling cepat adalah perlakuan suhu 30 0C (55 jam 56 menit). Daya tetas telur (HR) presentase yang tertinggi adalah perlakuan suhu 26 0C adalah 36%. Waktu kecepatan penyerapan kuning telur yang paling cepat adalah perlakuan suhu 30 0C (4 hari 21 jam).Hasil Daya Tetas Telur (HR) menunjukan bahwa data didapatkan menyebar normal dengan nilai signifikan 0,932 dan homogenitas 0,848 yang bersifat homogen. Dari uji anova data tersebut terlihat bahwa F hitung adalah 3,167 dengan F tabel 4,07. Karena F hitung < F tabel, maka H0 diterima. Dengan demikian data yang didapatkan Suhu air yang berbeda tidak berpengaruh langsung terhadap daya tetas telur larva ikan black ghost .Kata Kunci : Ikan black ghost, suhu, perkembangan embrio, daya tetas telur dan kecepatan penyerapan kuning telurAbstractBlack ghost is one of the prospective ornamental fish export commodities which have fish economic value. These fish prefer waters with range temperature of 26-28 0C. The method used was experimental laboratories with design used Randomized Design Complete with 4 (four) treatment temperature of 24, 26, 28 and 30 0C and 3 (three) replicated whose have been conducted on 19 March to 4 May 2012 at Research and Development Center Aquaculture Freshwater Ornamental Fish Depok, West Java. The results obtained which the longest embryonic development was the fastest time of the treatment temperature is 30 0C (55 hours 56 minutes). Hatching Rate (HR) is the highest percentage is 26 0C temperature treatment was 36%. The speed of absorption of the yolk of the fastest time was 30 0C temperature treatment (4 days 21 hours). The results of Hatching Rate showed that the spread of data obtained normal with a significant value 0,932 and homogeneous 0,848. ANOVA of the data can be seen that F calculated was 3,167 and F table was 4,07. Since F calculated <F table, then H0 is accepted. It means that water temperatures does not directly influence hatching rate black ghost fish larvae.Keywords: black ghost fish, temperature, embryo, yolk absorption, hatching rate.
PENYEBARAN BULU BABI (Sea Urchins) DI PERAIRAN PULAU MENJANGAN KECIL, KEPULAUAN KARIMUNJAWA, JEPARA Afifa, Fitria Hersiana; Supriharyono, Supriharyono; Purnomo, Pujiono Wahyu
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 6, No 3 (2017): MAQUARES
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (983.681 KB)

Abstract

ABSTRAK Echinodermata merupakan salah satu phylum yang memiliki peranan penting di perairan terumbu karang, seperti ditemukan di Perairan Pulau Menjangan Kecil. Peranan Bulu Babi di ekosistem terumbu karang berkaitan dengan pengendalian ekspansi algae. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 19 dan 20 November 2016, dengan tujuan untuk mengetahui penyebaran Bulu Babi serta kelimpahan Bulu Babi pada kedalaman dan antar lokasi yang berbeda. Metode yang digunakan adalah metode eksplanatif. Stasiun pengukuran terdapat di zona muka dan belakang pulau yang terdapat terumbu karang, masing-masing stasiun dengan kedalaman yang berbeda. Pola penyebaran Bulu Babi dapat diketahui menggunakan formula ID= S2/  , berdasarkan rumus tersebut diketahui nilai ID (indeks dispersion) tiap kedalaman di dua lokasi yang berbeda. Hasil ID pada Lokasi A berbeda pada kedalaman 0-90cm dan 90-140cm ID < 1, sedangkan kedalaman 140-170cm dan >170cm ID > 1. Hasil ID lokasi B pada empat kedalaman yang berbeda yaitu ID>1. Berdasarkan hasil ID tersebut dapat diketahui bagaimana pola penyebaran. Hal ini menunjukkan bahwa Bulu Babi di Pulau Menjangan Kecil sebagian besar hidup mengelompok pada kedalaman yang ekosistem terumbu karang masih cukup baik. Kata Kunci: Pulau Menjangan Kecil; Penyebaran; Kelimpahan; Bulu Babi ABSTRACT Echinoderm is one of the phylum that has an important role in the waters of the coral reefs, as found in the waters of the Menjangan Kecil Island. The role of the sea urchins in the coral reef ecosystem is related to the control of algae expansion. The study was conducted in 19th  and 20th  November 2016, with the objective of knowing the spread abundance of sea urchins at different depths and locations. The method that used was explanative method. The measuring stations are located in the back and forth zones of coral reefs, each with different depths. Spread pattern of sea urchins can be known using the formula ID = S2 / x ̅, based on the formula is known value of ID (dispersion index) each depth at two different location. Result ID at Location A at 0-90 cm and 90-140 cm is ID <1, while at 140-170 cm and > 170 cm is ID> 1. The result of location ID B on four different depths is ID> 1. Based on the ID results can be known how the pattern of dissemination. This indicates that the sea urchins in Menjangan Kecil Island live mostly in groups at the depths of which coral reef ecosystems are still quite good. Keywords: Menjangan Kecil Island; Dispersal patterns; Abundanc;  Sea Urchins
BEBERAPA ASPEK BIOLOGI IKAN TERI (Stolephorus devisi) YANG TERTANGKAP PAYANG DI PERAIRAN KABUPATEN PEMALANG Dewanti, Rizky Oktarina Nur; Ghofar, Abdul; Saputra, Suradi Wijaya
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (343.985 KB)

Abstract

Kabupaten Pemalang merupakan daerah yang terletak di Pantai Utara Jawa  yang memiliki luas wilayah 11.530 km2 dengan luas perairan laut seluas 259,28 km2. Ikan Teri umumnya dieksploitasi dengan menggunakan alat tangkap payang. Payang yang digunakan, memiliki ukuran mata jaring yang relatif kecil. Aspek biologi ikan Teri perlu dikaji untuk dikaitkan dengan perikanan yang bertangung jawab. Ukuran hasil tangkapan dapat menunjukkan sejauh mana tingkat pemanfaatan sumberdaya dan dapat dijadikan sebagai bahan kajian untuk pengelolaan apa yang dapat dilakukan di daerah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur ukuran, pola pertumbuhan, aspek reproduksi serta konsep pengelolaan ikan Teri di perairan Pemalang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei, dengan teknik pengambilan sampel secara acak. Jenis data yang digunakan yaitu data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari Ikan Teri hasil tangkapan payang. Sampel diambil sebanyak 1 kg dari total tangkapan satu alat tangkap payang. Pengambilan sampel dilakukan sebanyak 4 kali. Data sekunder yang dikumpulkan berupa jumlah produksi ikan Teri yang tertangkap payang selama tahun 2008-2013 yang di peroleh dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pemalang. Penelitian ini dilakukan pada bulan November 2013-April 2014. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan ikan Teri (S. devisi) memiliki nilai b sebesar 3,125, ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ikan Teri bersifat alometrik positif dengan nilai faktor kondisi 1,09. Ukuran ikan pertama kali tertangkap adalah (Lc50%) 57,24mm. Ikan Teri yang telah matang gonad sebanyak 37%. Ukuran ikan Teri pertama kali matang gonad (Lm50%) adalah 60,67 mm. Pemalang is located on the North coast of Java, which has an area of 11.530 km2 with an area of sea waters covering area of 259,28 km2. Anchovy generally exploited by seine net were using small mesh sizes. Biological Aspects of anchovies need to examined and associated with the responsible fisheries. The measure catch shows the utilization of the resource as a review for management what can be used in the area. This research aimed to know the structure, the pattern of growth, reproductive aspects and the concept of management of anchovy in the waters of Pemalang. Survey method with random sampling was used in the research. The type of data use was primary data and secondary data. Primary data obtained from anchovy caught by seine net. Samples taken as much as 1 kg of the total catch one grap seine net which performed 4 times with one month interval for each sample collection. The secondary data used in this research taken from the total production of catch during 2008 to 2013 from Department of Marine and Fisheries in Pemalang. The research started from November 2013 until April 2014. The results shows that b value of the growth of anchovy (S. devisi) was 3,125, which mean that growth of anchovy (S. devisi) was allometric positive and condition factor value was 1,09. Size first fish caught (Lc50%)  was 57,24mm. Anchovy ripe gonads was 37%. Length at first maturity (Lm50%) is 60,67mm.
ANALISIS KELIMPAHAN BAKTERI DI PERAIRAN BERMANGROVE DAN TIDAK BERMANGROVE DI PERAIRAN PANTAI UJUNG PIRING, JEPARA Mahrus, Ilham Hauzan; Widyorini, Niniek; Taufani, Wiwiet Teguh
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 8, No 4 (2019): MAQUARES
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (684.644 KB) | DOI: 10.14710/marj.v8i4.26482

Abstract

ABSTRAKEkosistem mangrove merupakan salah satu ekosistem penting yang terdapat disepanjang garis pantai perairan tropis. Ekosistem mangrove memiliki peranan ekologi yang sangat penting, salah satunya yaitu tempat berlangsungnya proses dekomposisi. Bakteri sebagai dekomposer memiliki peran penting, sehingga kelimpahan bakteri pada perairan dapat dijadikan indikator kualitas lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kelimpahan bakteri, hubungannya dengan bahan organik dan mengetahui perbedaan total bakteri pada kawasan bermangrove dan tidak bermangrove. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April 2019 di perairan Pantai Ujung Piring, Jepara dan analisis total bakteri dilaksanakan di Laboratorium Manajemen Kesehatan Hewan Akuatik (MKHA), Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau Jepara. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Penanaman bakteri dilakukan menggunakan metode spread plate. Perhitungan total bakteri menggunakan metode Total Plate Count (TPC). Analisis data menggunakan T-test dan Principal Component Analysis (PCA). Mangrove pada lokasi penelitian mayoritas jenis Rhizophora apiculata kemudian kelimpahan bakteri yang didapat pada kawasan bermangrove yaitu 2,5 x 103 CFU/ml sampai dengan 8,0 x 103 CFU/ml. Sedangkan tidak bermangrove 1,4 x 103 CFU/ml sampai dengan 4,6 x 103 CFU/ml. Kesimpulan dari penelitian ini adalah nilai total bakteri termasuk kategori rendah, kemudian terdapat hubungan yang kuat antara total bakteri dengan bahan organik dan terdapat perbedaan nilai kelimpahan bakteri pada kawasan bermangrove dan tidak bermangrove. ABSTRACTMangrove ecosystem is one of the important ecosystems along the tropical coastline. Mangrove ecosystems have a very important ecological role which is the place where decomposition takes place. Bacteria as decomposer have an important role , therefore total bacteria in the waters can be used as indicator of environmental quality. The purpose of this study was to determine the total bacteria, its relationship with organic matter and to know the difference in total bacteria in mangrove and non-mangrove areas. This research was conducted in April 2019 at Ujung Piring Beach, Jepara and a total bacterial analysis was carried out at the Laboratory of Aquatic Animal Health Management (MKHA), Brackishwater Aquaculture Center, Jepara. Sampling used purposive sampling method, bacterial planting used Spread Plate Method, total bacterial calculation used the Total Plate Count (TPC) method, data analysis used T-test and Principal Component Analysis (PCA). the majority of mangrove species are Rhizophora apiculata then total bacteria obtained in the mangrove area were 2.5 x 103 CFU/ml to 8.0 x 103 CFU/ml. While in the non-mangrove area were 1.4 x 103 CFU/ml to 4.6 x 103 CFU/ml. The conclusion is that the total bacterial value is in the low category, then there is a strong relationship between total bacteria and organic matter and there are differences in total bacteria among mangrove and non- mangrove area. 
STRUKTUR KOMUNITAS LARVA IKAN PADA EKOSISTEM MANGROVE DENGAN UMUR VEGETASI YANG BERBEDA DI DESA TIMBULSLOKO, DEMAK Riswandha, Novrizal Soni; Solichin, Anhar; Afiati, Norma
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (593.799 KB)

Abstract

Mangrove di kawasan Desa Timbulsloko, Demak yang semula rusak dengan perlahan mulai direhabilitasi melalui kegiatan Mangrove Replant (MR). Hasil dari kegiatan tersebut membentuk suatu zonasi mangrove berdasarkan umur vegetasi mangrove yang diperkirakan mempunyai pengaruh terhadap struktur komunitas larva ikan yang berada di dalamnya. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2014 – Januari 2015. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, sedangkan pengambilan sampel dilakukan menggunakan scoope net di tiga lokasi sampling yang memiliki umur vegetasi berbeda. Penelitian dilakukan selama 4 kali dalam 1 bulan dengan interval 1 minggu. Hasil penelitian didapatkan larva ikan di Stasiun I (8 bulan) sebanyak 109 indvidu, di Stasiun II (2 tahun) diperoleh larva ikan sebanyak 173 individu dan di Stasiun III (5 tahun) diperoleh sebanyak 429 individu. Keseluruhan larva ikan yang tertangkap terdiri dari 5 famili. Indeks keanekaragaman termasuk dalam kategori rendah dengan nilai berkisar antara 0,89-1,05, dengan nlai tertinggi di Stasiun III yaitu mangrove umur 5 tahun. Indeks keseragaman berkisar antara 0,56-0,65, nilai tertinggi juga pada Stasiun III dengan umur mangrove 5 tahun. Nilai indeks Dominasi berkisar antara 0,47-0,54, dengan nilai tertinggi pada Stasiun II. Dengan demikian dapat dilihat bahwa semakin tua umur mangrove semakin baik fungsinya sebagai penyedia habitat dan lindungan bagi ikan. Dapat dilihat juga bahwa komposisi larva ikan di ketiga stasiun penelitian relatif sama, namun kelimpahan yang paling banyak ditemukan di Stasiun III yang memiliki umur vegetasi lebih tua dibandingkan Stasiun I dan Stasiun II. Mangrove in Timbulsloko Village area, Demak, which was originally broken is slowly rehabilitated through Mangrove Replant program (MR). These activities was influential in the formation of zoning by mangrove vegetation. Age of mangrove plant is expected to have an influence on the community structure of fish larvae that are in it. This study was conducted in December 2014 - January 2015. This study applying descriptive method, sampling was conducted using a scoope net in three sampling sites which have  different age vegetation. Sampling was conducted  4 times in one month at weekly interval. The results of the study obtained 109 individual fish larvae at the Station I (8 months old trees) 109, at the Station II (2 years old mangrove trees) obtained fish larvae as many as 173 individuals and at the Station III ( 5 years old mangrove trees) obtained as many as 429 individual. As a whole, fish larvae caught consist of 5 families. Diversity index considered low with score range between 0,89-1,05, for which the highest value owned by Station III ( 5 years old mangrove). Uniformity index ranged from 0,56-0,65, with the highest value in Station III (5 years old mangrove).  Domination index ranged from 0,47-0,54 , with the highest in Station II. Thus it can be seen that the older the mangrove age,  the better service they provide for the community . Beside that, even thought composition of fish larvae in three stations research are the same, the abundant most was in Station III, having the oldest vegetation compared to Station I and Station II .
PENILAIAN PENCEMARAN PERAIRAN DI POLDER TAWANG SEMARANG DITINJAU DARI ASPEK SAPROBITAS Suprobo, Harisya Diah; Anggoro, Sutrisno; Soedarsono, Prijadi
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (481.513 KB)

Abstract

Pencemaran air adalah suatu perubahan keadaan disuatu tempat penampungan air seperti danau, sungai, lautan dan air tanah akibat aktivitas manusia. Polder Tawang Semarang merupakan suatu sistem untuk memproteksi air limpahan dari luar kawasan dan mengendalikan muka air di dalam Kota Lama. Polder Tawang Semarang mempunyai masalah pencemaran akibat limbah yang berasal dari limbah kota, pasar ikan, industri, dan rumah tangga yang masuk ke perairan yang berpengaruh terhadap kekeruhan,bau air dan pertumbuhan mikroorganisme.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji dan mengetahui tingkat saprobitas di Polder Tawang Semarang berdasarkan nilai SI (Saprobik Indeks) dan TSI (Tropik Saprobik Indeks), mengetahui hubungan antara saprobitas perairan dengan variabel kualitas air (BOD dan DO), serta mengetahui tingkat pencemaran air menggunakan penilaian saprobitas perairan. Penelitian ini menggunakan plankton sebagai materi utama yaitu sampel air dan sampel plankton. Komunitas fitoplankton yang terdapat di Polder Tawang Semarang terdapat 14 genera fitoplankton. Berdasarkan nilai kelimpahan individu fitoplankton dengan nilai rata-rata sebesar 8.423- 8.774 ind/L, sedangkan nilai Saprobik Indeks (SI) berkisar (-0,33) – (0,09) dan Tropik Saprobik Indeks berkisar (-0,67) – (0,14) maka tingkat pencemaran di Polder Tawang Semarang selama penelitian diketegorikan sebagai pencemaran sedang sampai berat (α-mesosaprobik). Dari hasil uji regresi antara saprobitas perairan dengan BOD dan DO menunjukkan adanya korelasi yang kuat yang berarti kontribusi pengaruh BOD dan DO terhadap saprobitas cukup besar.
SEBARAN KLOROFIL-α SECARA TEMPORAL MENGGUNAKAN SATELIT LANDSAT 8 DI PERAIRAN TELUK JAKARTA (Temporal Distribution of Chlorophyll-α Using Landsat 8 Satellites in The Waters of Jakarta Bay) Septianda, Fajar; Purwanti, Frida; Ain, Churun
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 6, No 4 (2017): MAQUARES
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1124.599 KB)

Abstract

Teluk Jakarta terletak di sebelah utara provinsi DKI Jakarta memiliki luas 514 km². Berbagai macam kegiatan manusia mengakibatkan perairan ini banyak menerima beban bahan pencemar yang akan mengganggu kesuburan perairan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa kandungan klorofil-α, mengetahui perbedaan sebaran klorofil-α berdasarkan hasil pengukuran di lapangan dengan hasil citra satelit Landsat 8, dan mengetahui sebaran klorofil-α secara temporal. Metode penelitian yang digunakan adalah survey dengan analisis secara deskriptif. Pengukuran sebaran klorofil-α secara temporal ini dilakukan di 3 lokasi sampling yaitu, Ancol, Penjaringan, dan Tanjung Priok. Kandungan klorofil-α di perairan Teluk Jakarta bervariasi, dengan nilai tertinggi 1,1 mg/l di Ancol dan nilai terendah 0,5 mg/l di Tanjung Priok. Sebaran klorofil-α hasil pengukuran data satelit mempunyai nilai tertinggi 0,8 mg/l pada Musim Timur (17 Agustus 2016) dan nilai terendah 0,6 mg/l pada Musim Barat (10 Maret 2016), sedangkan nilai tertinggi hasil sampling adalah 1,1 mg/l di Ancol dan nilai terendahnya adalah  0,5 mg/l Tanjung Priok. Sebaran klorofil-α secara temporal bervariasi. Nilai tertingginya terjadi pada Musim Timur yaitu 0,8 mg/l , dan nilai terendah terjadi pada Musim Barat yaitu 0,6 mg/l. The Jakarta Bay is located in the northern province of DKI Jakarta has an area of 514 km². Various kinds of human activities cause these waters to receive loads of pollutants that will interfere with quality of the waters. This study aims to analyze the chlorophyll-α content, to know the difference of chlorophyll-α distribution based on the results of field measurements with Landsat 8 satellite, and to know the chlorophyll-α distribution temporally. The research method used is survey with descriptive analysis. The measurement of temporal distribution of chlorophyll-α  is conducted in 3 location i.e, Ancol, Penjaringan, and Tanjung Priok. The content of chlorophyll-α in the waters of Jakarta Bay varies, with the highest value is 1,1 mg/l in Ancol and the lowest value is 0,5 mg/l in Tanjung Priok. The result of chlorophyll-α distribution  from measurement of satellite data has the highest value of 0,8 mg/l in the East season (17 August 2016) and the lowest value of 0,6 mg/l in the West season (10 March 2016), while the highest value of the field measurements result was 1,1 mg/l in Ancol and the lowest value is 0,5 mg/l in Tanjung Priok. The temporally distribution of chlorophyll-α is varied. The highest value occurred in the East season of 0,8 mg/l, and the lowest value occurred in the West season of 0,6 mg/l.
INDEKS TROFIK-SAPROBIK SEBAGAI INDIKATOR KUALITAS AIR DI BENDUNG KEMBANG KEMPIS WEDUNG, KABUPATEN DEMAK Indrayani, Noviana; Anggoro, Sutrisno; Suryanto, Agung
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (535.71 KB)

Abstract

Plankton berperan penting dalam ekosistem perairan. Plankton dapat dijadikan indikator kesuburan dan pencemaran, karena sifat plankton yang sebagian berperan sebagai produsen primer dan sebagian ada yang menyenangi bahan pencemar. Fitoplankton dapat melakukan fotosintesis yang menghasilkan karbohidrat dan oksigen serta merupakan awal dari rantai makanan. Berdasarkan sifat plankton inilah yang digunakan untuk menentukan tingkat saprobitas dengan melihat SI (Saprobik Indeks) dan TSI (Tropik Saprobik Indeks). Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan tingkat kesuburan dan pencemaran air di Bendung Kembang Kempis Wedung berdasarkan nilai saprobitasnya (SI dan TSI), menganalisis hubungan (keterkaitan) tingkat saprobitas perairan dengan variabel kualitas air di Bendung Kembang Kempis Wedung dan kontribusi variabel kualitas air dalam menentukan tingkat trofik saprobik. Metode penelitian yang digunakan adalah metode observasi dan metode pengambilan sampel yang digunakan adalah metode sistematik sampling. Penelitian ini dilakukan pada 5 stasiun dan setiap stasiun terdiri dari 2 substasiun. Pengambilan sampel plankton dilakukan secara aktif menggunakan plankton net dengan mesh size 60 µm diameter 25 cm untuk fitoplankton dan mesh size 200 µm diameter 20 cm untuk zooplankton. Berdasarkan hasil penelitian, tingkat kesuburan dan pencemaran air di Bendung Kembang Kempis Wedung adalah α-Mesosaprobik (pencemaran sedang sampai berat dengan kesuburan sulit dimanfaatkan untuk produktivitas plankton) dan β-Mesosaprobik (pencemaran ringan sampai sedang dengan kesuburan dapat dimanfaatkan untuk produktivitas plankton). Hubungan tingkat saprobitas perairan dengan kualitas air di Bendung Kembang Kempis Wedung memiliki hubungan yang lemah. Kontribusi pengaruh kualitas air terhadap saprobitas perairan sebesar 15-25% (DO), 12-34% (BOD), 9-11% (Nitrat) dan 21-59% (Fosfat). Plankton has an important role in the water ecosystem because it can be indicator of fertility and pollution as it can be a primary producer and pollutant neutralizer. Phytoplankton can perform photosynthesis which produces carbohydrates and oxygen as well as functions as the base of the food chain. Based on the nature of plankton were used to determine level of saprobity to see the SI (saprobic index) and TSI (Troppic-saprobic index). The objective of the study were to determine the fertility and pollution degree based on saprobity index (SI and TSI), analyzing the correlation of water saprobity degree to the variables of water quality in Kembang Kempis Dam Wedung and contribution of water quality variables in determining the trophic saprobic level. The method used was observation and the sample was taken based on systematic sampling. The study was done in 5 stations and each station consists of 2 substations. Plankton sample was collected by active using plankton net with a mesh size 60 µm diameter 25 cm for phytoplankton and 200 µm diameter 20 cm for zooplankton. Based on the result of the study, fertility and water pollution in Kembang Kempis dam Wedung is α-Mesosaprobik (moderate to severe contamination with difficult fertility used for plankton productivity) and β-Mesosaprobik (mild to moderate contamination with fertility can be used for plankton productivity). Saprobity level relationship with water quality in Kembang Kempis dam Wedung have a weak relationship. Contributions influence the water quality of the saprobity by 15-25% (DO), 12-34% (BOD), 9-11% (nitrate) and 21-59% (Phosphate).
PERTUMBUHAN DAN LAJU MORTALITAS LOBSTER BATU HIJAU (Panulirus homarus) DI PERAIRAN CILACAP JAWA TENGAH Bakhtiar, Nurul Mukhlish; Saputra, Suradi Wijaya; Solichin, Anhar
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (433.985 KB)

Abstract

Lobster merupakan salah satu komoditas unggulan yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Tingginya intensitas penangkapan yang tidak terkendali menyebabkan ukuran rata - rata lobster yang tertangkap semakin kecil dan nilai ekonomisnya semakin rendah. Oleh karena itu, penelitian ini dilaksanakan untuk memberikan beberapa informasi mengenai aspek biologi lobster. Tujuan dari penelitian ini antara lain untuk mengetahui pertumbuhan, laju mortalitas, dan pola rekrutmen lobster. Penelitian ini dilaksanakan pada Bulan September sampai Bulan Januari di Perairan Cilacap. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan teknik pengambilan data simple random sampling. Lobster yang didaratkan di TPI Menganti dan Sentolokawat diambil seluruh hasil tangkapan kemudian dilakukan identifikasi, pengukuran panjang, dan penimbangan berat. Data diambil setiap satu bulan sekali selama lima bulan. Data dianalisis ukuran pertama kali tertangkap, faktor kondisi, nisbah kelamin, hubungan panjang-berat, pendugaan parameter pertumbuhan, laju mortalitas, dan pola rekrutmen. Didapatkan hasil ukuran pertama kali tertangkap (L50%=43,5mm) kurang dari setengah panjang asimtotik (½L∞=55,5mm). Hubungan panjang-berat lobster jantan yaitu W = 0,00293 L2,71 dan lobster betina W = 0,00196 L2,83. Faktor kondisi pada lobster jantan (1,02) dan betina (1,01) mempunyai tingkat kemontokan yang sama. Nisbah kelamin yang didapatkan antara lobster jantan dibanding lobster betina yaitu 1,774 : 1. Hasil uji chi square antara jantan dan betina didapatkan berbeda nyata sehingga dapat dinyatakan tidak seimbang. Persamaan pertumbuhan Von Bertalanffy lobster jantan Lt =110(1-e-0,31(t+0,37)) dan lobster betina Lt=94,5(1-e-0,26(t+0,47)), sehingga dapat dinyatakan pertumbuhan lobster jantan lebih cepat daripada lobster betina. Mortalitas total (Z) didapatkan sebesar 1,6 per tahun, mortalitas alaminya (M) sebesar 0,69 per tahun, mortalitas penangkapan (F) sebesar 0,91 per tahun. Tingkat eksploitasi (E) didapatkan sebesar 0,57 per tahun sehingga dapat dikategorikan termasuk dalam keadaan penangkapan berlebih. Pola penambahan baru lobster di Perairan Cilacap ini memiliki dua puncak yaitu pada bulan Juni dan Oktober. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penangkapan lobster P. homarus sudah dalam keadaan growth overfishing yang dikhawatirkan akan mengarah kepada recruitment overfishing.