cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Management of Aquatic Resources Journal (Maquares)
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 27216233     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Management of Aquatic Resources diterbitkan oleh Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Departemen Sumberdaya Akuatik, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro. Jurnal Management of Aquatic Resources menerima artikel-artikel mengenai bidang perikanan, manajemen sumberdaya perairan.
Arjuna Subject : -
Articles 548 Documents
PERBEDAAN KELIMPAHAN BINTANG MENGULAR (Ophiuroidea) PADA DAERAH TELUK DAN DAERAH LEPAS PANTAI PADA PERAIRAN PANTAI KRAKAL, GUNUNGKIDUL, YOGYAKARTA Aziz, Dhany Rosyid; Suryanti, -; Ruswahyuni, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (536.025 KB)

Abstract

Bintang mengular (Ophiuroidea) merupakan Echinodermata yang banyak tersebar di seluruh belahan dunia. Bintang mengular memiliki peranan terhadap ekologi suatu perairan.Pantai Krakal pada daerah Teluk dan daerah Lepas Pantai merupakan deretan pantai di pesisir selatan pulau Jawa yang menjadi daerah obyek wisata. Di daerah tersebut terdapat rataan substrat mati yang merupakan habitat atau tempat hidup dari bintang mengular.Pada lokasi tersebut diestimasikan terdapat kelimpahan bintang mengular. Aktivitas manusia pada pantai tersebut diduga telah mempengaruhi perbedaan kelimpahan bintang mengular. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kelimpahan bintang mengular (Ophiuroidea) pada daerah Teluk dan Lepas Pantai pada perairan Pantai Krakal, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2014. Metode pengambilan data kelimpahan bintang mengular (Ophiuroide) dan data persentase penutupan substrat menggunakan metode line transek sepanjang 50 meter dan metode kuadran transek dengan luas 1 x 1 meter. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini pada daerah Teluk didapatkan kelimpahan individu bintang mengular sebanyak 979 individu / 150 meter2, sedangkan kelimpahan individu bintang mengular pada daerah Lepas Pantai sebanyak 464 individu / 150 meter2. Hasil yang didapatkan dari persentase penutupan substrat di daerah Teluk sebesar 89,12%. Sedangkan nilai persentase penutupan substrat di daerah Lepas Pantai sebesar 84,78%. Pada kedua stasiun didapatkan 3 jenis bintang mengular yaitu Ophiocoma erinaceus, Ophiocoma riseii, dan Ophiocoma scolopendrina. Kelimpahan jenis bintang mengular yang paling banyak ditemukan di daerah Teluk dan daerah Lepas Pantai adalah jenis Ophiocoma scolopendrina. Brittle Star (Ophiuroidea) is echinodermata which many scattered all around the world. Brittle Star having role against ecology a waters. Krakal the coast in the gulf and the regions off shore of is a row of a beach in the southern coast of java island which is to be the tourist attractions. In the area there are equivalent die which is coral habitats or place life from the brittle star. On the location being estimated there is an abundance of a brittle star. Human activity upon the shore was suspected to have influenced the difference abundance brittle star. Research is aimed to tell the difference abundance of brittle star (Ophiuroidea) in the gulf and coast off krakal, in coastal waters district Gunungkidul, Yogyakarta. This research done on November 2014. A method of data retrieval abundance brittle star (Ophiuroidea) and data coral the percentage of the closure using methods line transek along 50 meters and quadrant transek method with broad 1 x 1 meter. In the gulf was obtained abundance individual brittle star as many as 979 individu / 150 meter2, while abundance individual brittle star in the areas off the coast of as many as 464 individu / 150 meter2.The results obtained from this research and that is that the percentage of the substrat of the value of coralin the gulf as much as 89,12 %. While the value of the percentage of the substrat off shore of coralin the area of 84.78 %.At the second stations found 3 sets of the brittle stars are Ophiocoma erinaceus, Ophiocoma riseii, and Ophiocoma scolopendrina. A kind of brittle star abundance the most common to find in the gulf and the regions off shore of is the type Ophiocoma scolopendrina.
BEBERAPA ASPEK BIOLOGI IKAN SWANGGI (Priacanthus tayenus) YANG DIDARATKAN DI PPP TAWANG KABUPATEN KENDAL Agustiari, Arinta Maulidina; Saputra, Suradi Wijaya; Solichin, Anhar
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 6, No 1 (2017): MAQUARES
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (928.721 KB)

Abstract

ABSTRAK Pelabuhan Perikanan Pantai Tawang merupakan pelabuhan yang cukup besar di Kabupaten Kendal. Salah satu hasil tangkapan yang didaratkan yaitu ikan Swanggi (Priacanthus tayenus) merupakan jenis ikan demersal dengan karakteristik khusus berwarna merah muda, memiliki mata besar dan pada sirip perutnya terdapat bintik berwarna kehitam-hitaman. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui aspek biologi ikan Swanggi meliputi struktur ukuran, hubungan panjang berat, faktor kondisi (Kn), ukuran pertama kali tertangkap (Lc50%), ukuran pertama kali matang gonad (Lm50%), tingkat kematangan gonad (TKG), indeks kematangan gonad (IKG), diameter telur, fekunditas dan upaya pengelolaan sumberdaya ikan Swanggi (Priacanthus tayenus). Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret – April 2016. Metode penelitian adalah survei. Pengambilan sampel menggunakan metode random sampling atau acak. Hasil penelitian dilakukan pada ikan Swanggi sebanyak 625 ekor, pertumbuhan ikan Swanggi bersifat allometrik negatif dengan persamaan W = 0,00045L2,30701. Panjang ikan yang tertangkap selama penelitian berkisar antara 105 – 324 mm dan  berat berkisar antara 22 – 205,2 gram. Nilai faktor kondisi adalah 1,106. Nilai Ukuran pertama kali tertangkap (Lc50%) adalah 152 mm.Ukuran pertama kali matang gonad (Lm50%) yaitu 153 mm. Ikan Swanggi jantan maupun betina sebagian besar belum matang gonad. Nilai TKG yang semakin tinggi akan diikuti dengan tingginya nilai IKG dan diameter telur juga semakin besar. Fekunditas tertinggi sebesar 245303 butir. Hubungan fekunditas terhadap panjang dan berat ikan Swanggi menunjukkan koefisien korelasi lemah. Kata Kunci : Ikan Swanggi  (Priacanthus tayenus), Aspek Biologi, PPP Tawang  ABSTRACT Tawang Coastal Fishing Port is a huge port in Kendal Regency. One of its hauls which was landed is Red Bigeye fish (Priacanthus tayenus). Which include in demersal fish with special characters; they have pink color, big eyes, and black spots around their pelvic fins. The purpose of this research is to find out the biological aspect of Red Bigeye fish from several aspects, i.e. size of the structure, relation of length and weight, the conditions factor (Kn), the size of the first caught (Lc50% ), the first time size of gonad maturity (Lm50%), gonad maturity level (TKG), index of gonad maturity (IKG), diameter of egg, fecundity, and management effort of Red Bigeye fish (Priacanthus tayenus) resources. The research was conducted in March – April 2016. The method used in this research is survey. In taking sample, this research use random sampling method. The result was done on 625 Swanggi fish. The growth of Red Bigeye fish is negative allometric with equation W = 0,00045L2,30701. The length of caught fish for the research are around 105 - 324 mm and weight around 22 – 205,2 gram. The value of condition factor is 1,106. The value of first time caught is 152 mm. The value of first time mature gonad (Lm50%) is 153 mm. Most male and female Red Bigeye fish are immature gonads. The higher TKG value will be followed by the higher IKG and egg diameter will be bigger. The highest fecundity is 245303 grain. The fecundity relation toward the weight of Red Bigeye fish shows weak correlation coefficient. Keywords : Swanggi Fish (Priacanthus tayenus), Biological Aspect, Tawang Coastal Fishing Port 
STRUKTUR KOMUNITAS PLANKTON PADA PADANG LAMUN DI PANTAI PULAU PANJANG, JEPARA Sari, Amalia Nurtirta; Hutabarat, Sahala; Soedarsono, Prijadi
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (558.214 KB)

Abstract

Perubahan yang terjadi dalam perairan sebagai akibat dari adanya beban masukan yang ada akan menyebabkan perubahan pada komposisi, kelimpahan, dan distribusi dari komunitas plankton. Maka dari itu, keberadaan plankton dapat dijadikan sebagai indikator perairan karena sifat hidupnya yang relatif menetap, jangka hidup yang relatif panjang dan mempunyai toleransi spesifik pada lingkungan.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi kualitas perairan pada areal lamun pantai Pulau Panjang Jepara, menganalisa kelimpahan, dan mengetahui jenis fitoplankton dan zooplankton yang mendominasi dan mengetahui nilai tropik saprobik indeks dengan menggunakan fitoplankton dan zooplankton sebagai indikator. Untuk teknik pengambilan plankton dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian sampel. Pengambilan sampel dimaksud dengan mengambil data hanya sebagian dari populasi yang nantinya diharapkan dapat menggambarkan sifat populasi dari obyek penelitian. Pengambilan sampel plankton dilaksanakan dengan menggunakan metode sampling aktif dengan plankton net. Jenis fitoplankton yang ditemukan pada areal lamun pantai Pulau Panjang Jepara terdiri dari kelas Bacillariophyceae, Chlorophyceae, Cyanophycae dan Dinophyceae serta terdiri dari 31 genera. Jenis zooplankton terdiri dari filum Arthropoda, filum Mollusca, filum Protochordata, dan filum Annelida serta terdiri dari 25 genera. Jenis fitoplankton yang paling sering mendominasi terdapat pada genus Nithzschia sp. Pada zooplankton, jenis yang paling sering mendominasi ialah Calanus sp. Hal ini menjadikan Nithzschia sp. dan Calanus sp. berperan cukup tinggi dalam menjaga keberlangsungan ekosistem perairan di lokasi ini. Berdasarkan kelimpahan plankton maka didapatkan nilai Saprobik Indeks (SI) berkisar 0,6 – 1,07 dan nilai Tropik Saprobik  Indeks (TSI) berkisar 1,1 – 2,3 hal ini menunjukkan bahwa kualitas perairan di areal lamun pantai Pulau Panjang Jepara dikategorikan dalam tingkat saprobitas β-Mesosaprobik yaitu tercemar ringan sampai sedang. The changes which happened in water is a result of the debit, it makes the change in composition, abundance, distribution and community of plankton. Thus, presence of plankton can be a water indicator because its life character relatively settled, long life terms and also has a specific toleration to the environment. The purposes of the research are to know the condition of water quality on lamun area of Pulau Panjang Jepara, analyzing abundance, and find out fitoplankton and zooplankton kinds and dominate and find out tropic saprobic index value, using fitoplankton and zooplankton as an indicator. Whereas, sample research method was used as the retrieval technique for plankton in this research. Taking a sample has a purpose by taking a half parts from the population which later can be an example of population character from object of research. Sample retrieval use an active sampling method with plankton net.This plankton type which found on lamun area Pulau Panjang beach in Jepara consist of class from Bacillariophyceae, Chlorophyceae, Cyanophycae and Dinophyceae also consist of 31 genera. Zooplankton types consist of fillum Arthropoda, fillum Mollusca, fillum Protochordata, and fillum Annelida also consist of 25 genera. Fitoplankton type which mostly dominating is a kind of genus Nithzschia sp. On zooplankton, a type which mostly dominated is Calanus sp. This case make  Nithzschia sp. and Calanus sp. has an important role in keeping sustainability environment of water in this location. Based on the abundance of plankton, then we can get the Saprobic Index value (SI) on range 0,6 – 1,07 and Tropic Saprobic  Index (TSI) on range 1,1 – 2,3. This case show that the water quality in lamun area on Pulau Panjang Jepara, categorized in saprobitas β-Mesosaprobik stages is contaminated in middle stage and light.
PENGELOLAAN PERIKANAN TANGKAP DI KAWASAN TAMAN NASIONAL KARIMUNJAWA Management of Capture fisheries in the Area of Karimunjawa National Park Santi, Yulia; Anggoro, Sutrisno; Suryanti, Suryanti
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 8, No 2 (2019): MAQUARES
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (510.593 KB) | DOI: 10.14710/marj.v8i2.24233

Abstract

ABSTRAKPerikanan  tangkap  di  kawasan  Taman  Nasional  Karimunjawa  dikelola  oleh  lebih  dari  satu  instansipengelola.  Setiap  instansi  diduga  mempunyai  peran  masing-  masing  sesuai  tupoksinya.  Saat  ini  belum diketahui secara nyata instansi apa saja yang mengelola beserta perannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi instansi pengelola yang berperan dalam pengelolaan perikanan tangkap di kawasan TNKJ, persepsi,  aspirasi  dan  partisipasi  nelayan  terhadap  pengelolaan  perikanan  tangkap  serta  bagaimana  strategi pengelola  dalam  pengawasan  perikanan  tangkap.  Metode  penelitian  ini  adalah  studi  kasus  dengan  analisis deskriptif, dimana pengumpulan data melalui wawancara dan studi pustaka. Penentuan responden menggunakan metode purposive sampling, responden terdiri dari nelayan dan instansi pengelola. Hasil penelitian menunjukan bahwa  instansi yang  mengelola  perikanan tangkap adalah Unit  Pelaksana  Teknis   Pelabuhan Perikanan Pantai Karimunjawa, Balai Taman Nasional Karimunjawa, Dinas Perikanan, Polisi Air   dan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut dan Satuan Kerja Pengawasan Sumberdaya Kelautan dan   Perikanan. Pembagian peran masing- masing instansi pengelola sudah sesuai dengan bidang masing-masing  serta tidak terjadi tumpang tindih kewenangan. Sinkronisasi dan koordinasi sudah dilakukan, hal ini terbukti   dengan  adanya  Nota  Kesepakatan Bersama. Sebanyak 80% nelayan setuju dengan peraturan yang diterapkan. Partisipasi nelayan terhadap sosialisasi dan pelatihan rendah yaitu 35% dan 19%. Strategi pengelola dalam pengawasan perikanan tangkap adalah dengan membentuk dan memberdayakan Pengawas   Perikanan  dan  Kelompok  Masyarakat  Pengawas  secara  sinergi. Strategi untuk  meningkatkan partisipasi  nelayan  dalam  sosialisasi  dan  pelatihan  adalah  dengan  memberikan penyadaran  motivasi dan  apresiasi berupa penghargaan dan pendampingan. ABSTRACTCapture   fisheries   in Karimunjawa National   Park   are   managed by   more   than one   management institutions.  Each  institution  is  assumed  to  have  their  respective  roles  according  to  their  basic  tasks  andfunctions. It is not yet known exactly what institutions are managing along with their roles. The purposes of  this study  were to know what institutions  were involved  in the management of capture fisheries in TNKJ  areas, perceptions, aspirations and participation of fishermen on the management of capture fisheries and  how the management strategy in the supervision of capture fisheries. This research method was case study with descriptive analysis, where data collected by interview and literature study. Determination of  respondents used purposive sampling method, respondents consist of fishermen and manager institution. The results showed that the institutions that managed capture fisheries were Technical Implementation Unit  Karimunjawa Fishery Port, Karimunjawa National Park Office, Fisheries Official, Water Police and Indonesian National Army – Navy and Work Unit of Supervision of Marine and Fisheries Resources. The  division of roles of each institution agency was in accordance with their respective fields and there was no  overlapping authority. Synchronization and coordination had been done, it was proved by the Memorandum of Understanding (MoU). As many as 80% of fishermen agree with the regulations applied. The  participations of fishermen on socialization and training were low at 35% and 19%. The management strategies in the supervision of capture fisheries were by establishing and empowering Fisheries Supervisor  and a group of supervisor community (PokMasWas). The strategies to increase the participation of fishermen in socialization and training were by giving awareness of motivation and appreciation in the form  of recognition and assistance.
NILAI EKONOMI HUTAN MANGROVE DI DESA MOJO KECAMATAN ULUJAMI KABUPATEN PEMALANG Purnamawati, Ayu Dwi; Saputra, Suradi Wijaya; Wijayanto, Dian
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (768.767 KB)

Abstract

Kerusakan hutan mangrove di Indonesia sebagian besar diakibatkan oleh perbuatan manusia, baik berupa konservasi kawasan mangrove menjadi sarana pemanfaatan lain seperti pemukiman, industri, rekreasi dan lain sebagainya. Lemahnya pemahaman mengenai nilai khas dari jasa ekologi, menyebabkan Hutan ini sering kurang dihargai dan cenderung dikonversi ke penggunaan lain. Sehingga perlu dilakukan penilaian (valuasi) terhadap keberadaan Hutan mangrove dan pengaruh lingkungan bagi masyarakat Desa Mojo. Penelitian bertujuan untuk mengetahui secara ekonomi nilai manfaat langsung, manfaat tidak langsung dan nilai  ekonomi total dari sumberdaya hutan mangrove di Desa Mojo, Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang. Metode yang digunakan adalah purposive sampling. Data yang dibutuhkan berupa data primer yang dilakukan dengan cara wawancara melalui kuesioner dan data skunder yang diperoleh dari instansi-instansi terkait di Kabupaten Pemalang. Analisis data menggunakan pendekatan penilaian ekonomi menurut Ruitenbeek (1991). Nilai ekonomi manfaat langsung Hutan mangrove Desa Mojo, yang dimanfaatkan masyarakat setempat, meliputi: a) perikanan tangkap: pencari kepiting dan nelayan menggunakan perahu; dan b) perikanan budidaya: udang vaname, ikan bandeng dan kepiting soka. Diperoleh nilai ekonomi total manfaat langsung per tahun Rp200.364.004.000,00. Nilai ekonomi manfaat tidak langsung dari hutan mangrove Desa Mojo yang diestimasi melalui biaya pengganti, yaitu: a) sebagai penahan abrasi; b) pemecah gelombang; dan c) penyedia unsur hara diperoleh nilai total manfaat tidak langsung per tahun Rp18.953.232.310,00; dan nilai manfaat ekonomi total Hutan mangrove Desa Mojo yang diperoleh hanya dari sebagian jasa-jasa yang diambil dalam penelitian sebesar Rp219.410.973.910,00 per tahun dengan luas hutan mangrove 72 ha dan luas lahan tambak seluas 327 ha. Mangrove forest destruction in Indonesia is largely caused by human actions, either in the form of conservation of mangrove areas into other uses such as residential facilities, industry, recreation etc. Weak understanding of the typical value of ecological services, causing these forests are often undervalued and likely to be converted to another use. So that needs to be done appraisal (valuation) of the existence of mangrove forests and environmental effects for the community village of Mojo. The study aims to determine the economic value of direct benefits, indirect benefits and the total economic value of mangrove forest resources in the village of Mojo, District Ulujami, Pemalang. The method used is purposive sampling. Datas needed are  primary data by interview with questionnaire and secondary data obtained from related institutions in Pemalang. Data analysis using economic valuation approaches according Ruitenbeek (1991). The economic value of the direct benefits of Mojo village’s Mangrove, which utilized by local communities, including: a) fisheries: search crab and fishing boats; and b) aquaculture: vaname shrimp, fish and soft-shelled crabs. Retrieved total economic value of direct benefits annually is IDR 200.364.004.000,00. The value of indirect economic benefits of mangrove forests were estimated through the Mojo village replacement costs, namely: a) as a drag abrasion; b) breakwater; and c) providers of nutrient obtained total value of indirect benefits annually IDR 18.953.232.310,00; and the value of total economic benefits of Mojo village’s mangrove obtained only from the majority of services that are taken in the study amounted IDR 219.410.973.910,00 annually with an area of 72 ha of mangrove forest and land area of pond area 327 ha.
KUALITAS PERAIRAN SUNGAI SEKETAK SEMARANG BERDASARKAN KOMPOSISI DAN KELIMPAHAN FITOPLANKTON Sumartini, Susi; -, Suryanti; Rudiyanti, Siti
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.06 KB)

Abstract

Sungai Seketak terletak di kelurahan Tembalang, kecamatan Tembalang, kota Semarang.  Semakin bertambahnya jumlah penduduk dan berdirinya pusat-pusat pendidikan di daerah Tembalang serta rencana pembangunan waduk pendidikan Diponegoro yang memanfaatkan aliran Sungai Seketak tentunya memberikan dampak bagi organisme yang hidup di perairan tersebut. Salah satunya adalah fitoplankton yang merupakan produsen utama. Masukan bahan organik maupun anorganik dari kegiatan manusia ke dalam badan air menyebabkan perubahan terhadap kualitas air dan keberadaan fitoplankton.Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni – Juli  2012 di Sungai Seketak, Tembalang Semarang. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampel air yang diambil dari Sungai Seketak. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dengan metode pengambilan sampel adalah purposive sampling method. Frekuensi sampling dilakukan setiap 2 minggu sekali. Lokasi sampling terdiri dari 3 stasiun yaitu stasiun 1 merupakan inlet dari perencanaan waduk pendidikan Diponegoro. Lokasi ini berdekatan dengan jembatan dan gerbang pintu masuk UNDIP dan merupakan kawasan padat penduduk dimana di lokasi ini banyak ditemukan limbah rumah tangga dari warga sekitar yang dibuang langsung ke badan sungai. Stasiun 2 merupakan bagian tengah dari perencanaan waduk pendidikan Diponegoro berdekatan dengan Rusunawa UNDIP. Stasiun 3 merupakan stasiun yang sudah jauh dari kawasan padat penduduk yang merupakan outlet dari perencanaan waduk pendidikan Diponegoro.Hasil penelitian didapatkan 11 genera fitoplankton yaitu Oscillatoria sp., Anabaena sp., Nitzschia sp., Asterionella sp., Scenedesmus sp., Pediastrum sp., Volvox sp., Mougeotia sp., Closterium sp., Navicula sp., dan Dictyocha sp. Kelimpahan fitoplankton tertinggi yaitu pada stasiun 2 sebesar 7.451 Ind/L yang didominasi oleh Mougeotia sp. Indeks keanekaragaman pada tiap stasiun menunjukkan nilai 1,49 pada stasiun 1, 1,29 pada stasiun 2 dan 1,12 pada stasiun 3 dimana nilai dari ketiga stasiun menunjukkan kisaran 1 – 3 yang berarti perairan termasuk dalam kategori tercemar sedang. Indeks keseragaman mendekati 1 yang artinya jumlah setiap spesies sama atau setidaknya hampir sama.
PRODUKTIVITAS PRIMER PERAIRAN BERDASARKAN KANDUNGAN KLOROFIL-a DAN KELIMPAHAN FITOPLANKTON DI MUARA SUNGAI BEDONO DEMAK Febbrianna, Vida; Muskananfola, Max Rudolf; Suryanti, Suryanti
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 6, No 3 (2017): MAQUARES
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (795.868 KB)

Abstract

ABSTRAK Muara Sungai Bedono merupakan salah satu kawasan bermangrove yang terdapat di wilayah Pantai Utara Jawa Tengah. Wilayah ini telah mengalami proses degradasi berat oleh activitas gelombang dan kegiatan antropogenik yang berpengaruh terhadap erosi, akresi dan kesuburan perairan. Hal ini akan menggangu fungsi muara sungai  sebagai habitat ikan mencari makan (feeding grounds), daerah pemijahan (spawing grounds) dan daerah pengasuhan (nursery grounds). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kesuburan perairan berdasarkan nilai produktivitas primer, kandungan klorofil-a dan kelimpahan fitoplankton. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret 2017 di Muara Sungai Bedono Kabupaten Demak. Metode yang digunakan adalah deskriptif. Lokasi sampling ditentukan tiga stasiun yaitu laut, muara bagian bawah dan tengah dengan 3 (tiga) kali pengulangan tiap stasiun pada kondisi pasang dan surut. Hasil penelitian menunjukan bahwa nilai produktivitas primer di Muara Sungai Bedono berkisar antara 425-1.650 mgC/m3/hari. Kandungan klorofil-a berkisar antara 0,07-0,45 mg/L dan kelimpahan fitoplankton berkisar antara 2.144-5.478 ind/l. Kesuburan perairan di Muara Sungai Bedono dikategorikan perairan Eutrofik ditinjau dari nilai produktivitas primer, Oligotrofik ditinjau dari kandungan klorofil-a dan Mesotrofik ditinjau dari nilai kelimpahan fitoplankton. Berdasarkan uraian tersebut kunci utama kesuburan perairan adalah produktivitas primer sehingga Muara Sungai Bedono dikategorikan perairan Eutrofik. Kata kunci: Produktivitas Primer; Kandungan Klorofil-a; Kelimpahan Fitoplankton; Muara Sungai Bedono, Demak ABSTRACT Bedono Estuary, which is located in Northern coast of central Java, is one of the coastal region inhabited with mangroves. This area has experienced heavy degradation process due to waves actions and antrophogenic activities that can affect erosion, accretion and costal water production. This will disturb the functions of estuary as fish habitat as well as feeding grounds, spawing grounds and nursery grounds. The purpose of this research to determine the fertility of waters based on the value of primary productivity, the content of chlorophyll-a and the abundance of phytoplankton. This research was conducted in March 2017 in the Bedono Demak Estuary. A descriptive method is applied in the analysis. Three stations are chosen as sampling locations: that are at the sea, lower and middle area of the estuary with three repetitions during high and low tides. The analysis results show that the value of primary productivity at the Bedono Demak Estuary ranges from 425 to 1.650 mgC/m3/day, chlorophyll-a content ranges from 0,07 to 0,45 mg/L, phytoplankton abundance ranges from 2.144 to 5.478 ind/L. Fertility waters at the Bedono Demak Estuary can be categorized as eutrophic based on the value of primary productivity, as oligotrophic based on chlorophyll-a content and Mesotrophic based on phytoplankton abundance. The results show that primary productivity is the key of fertility waters so that Bedono Demak Estuary can be categorized as eutrophic. Keywords:        Primary Productivity; Chlorophyll-a; Phytoplankton Abundance; Bedono Demak Estuary. 
KELIMPAHAN ZOOPLANKTON KRUSTASEA BERDASARKAN FASE BULAN DI PERAIRAN PANTAI JEPARA, KABUPATEN JEPARA Aji, Wahyu Permana; Subiyanto, -; Muskananfola, Max Rudolf
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (519.692 KB)

Abstract

Sebagian besar ikan di laut, khususnya pada saat stadia larva, memanfaatkan Zooplankton Krustasea sebagai makanannya. Kelimpahan Zooplankton Krustasea pada perairan, tergantung pada kondisi lingkungan dan daya rekruitmen masing-masing spesies. Pola pasang surut yang terjadi pada perairan sangat menentukan distribusi dan kelimpahan Zooplankton Krustasea yang berada pada perairan tersebut, dimana pola pasang surut sangat berhubungan dengan fase bulan. Fase bulan terdiri dari  Fase Bulan Baru, Fase Bulan Seperempat, Fase Bulan Penuh (Purnama) dan Fase Bulan Tigaperempat. Kekuatan pasang yang terjadi pada Pasang Purnama (Spring Tide) lebih besar, dibandingkan pada Pasang Perbani (Neap Tide). Hal itu disebabkan, karena adanya perbedaan pembangkit pasang surut terkait posisi bulan dan matahari terhadap bumi. Tujuan dari penelitian ini, untuk mengetahui pengaruh fase bulan terhadap kelimpahan dan komposisi Zooplankton Krustasea di Perairan Pantai Jepara. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November-Desember 2013. Materi yang digunakan dalam penelitan adalah sampel Zooplankton Krustasea yang didapatkan di tiga lokasi penelitian yaitu Teluk Awur, Pantai Kartini dan Pulau Panjang. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode deskriptif, dengan metode pengambilan sampel yaitu sistematik random sampling. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa, ditemukan empat famili dan lima genera zooplankton krustasea, yang diperoleh dari Perairan Pantai Jepara. Tiga genera yaitu Acetes, Lucifer dan Mysis terdapat dalam jumlah yang lebih melimpah, dibandingkan genus Thysanopoda dan Viatrix. Jumlah genus yang diperoleh sama di semua lokasi, namun kelimpahan individu pada masing-masing lokasi penelitian, memiliki kecenderungan dominansi dari genus yang berbeda. Kelimpahan total individu Fase Bulan Baru dan Bulan Purnama lebih kecil, dibandingkan pada fase-fase bulan lainnya. Hal tersebut dikarenakan terjadinya keterlambatan waktu pasang, sehingga Pasang Purnama (Spring Tide) terjadi pada Fase Bulan Seperempat dan Bulan Tigaperempat.Various species of fish around the world, proved to be almost all of small pelagic fish and their larvae utilize crustacean zooplankton as food. The abundance of crustacean zooplankton in the waters, depend on the condition of the aquatic environment and the power recruitment of the each species. Tidal patterns that occur in waters will determine the distribution and abundance of crustacean zooplankton residing in these waters, where the tidal pattern depend on phase of moon. Moon phase consists of the New Moon phase, Quarter Moon Phase, Full Moon Phase and Three-quarters Moon Phase. Strength of tides that occur in the Spring Tide is greater than Neap Tide. That's because of differences in tide generating force associate position of the moon and the sun to the earth.The purpose of this study was to determine the effect of moon phase on the abundance and composition of crustacean zooplankton in the Jepara Coastal Waters. This research was conducted in November-December 2013. The materials used in this study were crustacean zooplankton samples, it were obtained at three study sites, that was the Teluk Awur, Kartini Beach and Panjang Island. The method used in this research was descriptive method, with sampling method was a systematic random sampling. The results showed that there were found four families and five genera of crustacean zooplankton were collected from Jepara Coastal Waters. Three genera i.e.: Acetes, Lucifer and Mysis were found more abundance than Thysanopoda and Viatrix. The numbers of genera obtained equally in all locations, but the abundance in each study site, tended to be dominated by different genus. Total abundance of individuals at New Moon Phase and Full Moon Phase was smaller than the two others moon phases. This was caused by the delayed of the tidal time, so the spring tide occurred at Quarter Moon Phase and Three-quarter Moon Phase.
ASPEK BIOLOGI UDANG Metapenaeus tenuipes DI PERAIRAN PEMALANG, JAWA TENGAH Biological Aspect Assessment of Metapenaeus tenuipes Shrimp on Pemalang, Central Java Yulianti, Aida Tri; Solichin, Anhar; Saputra, Suradi Wijaya
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 8, No 4 (2019): MAQUARES
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (831.244 KB) | DOI: 10.14710/marj.v8i4.26554

Abstract

Kabupaten Pemalang merupakan wilayah yang memiliki potensi perikanan, salah satunya udang Metapenaeus tenuipes. Meningkatnya penangkapan dengan jaring Arad akan mengancam kelestariannya. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui aspek biologi udang M. tenuipes dan status sumberdayanya seperti struktur ukuran, sifat pertumbuhan, dan aspek reproduksi. Metode yang digunakan yaitu metode survei. Metode pengambilan sampel yang dilakukan adalah systematic random sampling. Pengambilan sampel dilakukan empat kali dari bulan Mei-Agustus 2016. Tempat pengambilan sampel di TPI Tanjungsari dan TPI Asemdoyong. Hasil penelitian menunjukkan nilai L50% M. tenuipes jantan 71 mm dan betina 81 mm, ½ L∞ jantan yaitu 60 mm dan betina 75 mm. L50% > 1/2 L∞ berarti ukuran udang yang tertangkap sudah cukup besar sehingga layak tangkap. Sifat pertumbuhan udang jantan dan betina yaitu alometrik negatif (pertumbuhan panjang lebih cepat dibandingkan berat). Nilai faktor kondisi M.tenuipes menunjukan udang betina lebih montok. Tingkat Kematangan Gonad udang M. tenuipes jantan dan betina tebanyak terdapat pada tingkatan I. Perbandingan nisbah kelamin M. tenuipes di Pemalang 1 : 1,33 dengan nisbah tersebut proses reproduksi akan berjalan baik Pemalang is area that has potential one of fishery Metapenaeus tenuipes. Increased netting Arad would threaten its sustainability. The purpose of the research to know biological aspects of M. tenuipes and resourch status, size of structure, growth, and reproduction aspects. The method used is a survey method. The sampling method used was systematic random sampling. Sampling was carried out four times from May-August 2016. The sampling sites were at TPs Tanjungsari and TPI Asemdoyong. The results showed that the L50% value of M. tenuipes was 71 mm in males and 81 mm in females, ½ L in males in 60 mm and 75 mm in females. L50%> 1/2 L∞ means that the size of the shrimp caught is large enough to be suitable for capture. The growth characteristic of male and female shrimp is negative allometrics (long growth is faster than weight). The factor value of M.tenuipes shows that female shrimp are more plump. Maturity Levels of male and female M. tenuipes shrimp found in level I. Comparison of M. tenuipes genital ratio in Pemalang 1: 1,33 with that ratio will reproduce well. 
HUBUNGAN ANTARA KANDUNGAN NITRAT, FOSFAT DAN KLOROFIL-α DI SUNGAI KALIGARANG, SEMARANG Herlianti, Julia; Suryanti, -; Soedarsono, Prijadi
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (558.65 KB)

Abstract

Sungai adalah salah satu sumber daya alam yang bersifat mengalir (flowing resource), sehingga pemanfaatan di hulu dapat menurunkan kualitas air, pencemaran dan biaya sosial bagi pelestariannya. Sungai Kaligarang sebagai salah satu sungai besar di kota Semarang memegang peran penting dalam kualitas air di pesisir Semarang. Adanya kegiatan pertanian, pertambangan, industri dan aktifitas penduduk yang ada di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) Kaligarang berperan penting dalam kualitas air DAS Kaligarang tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kondisi lingkungan perairan berdasarkan kandungan nitrat, fosfat dan klorofil-α di perairan Sungai Kaligarang, dan Mengetahui kandungan nitrat, fosfat dan klorofil-α di perairan Sungai Kaligarang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus, yaitu suatu metode penelitian yang menelaah suatu masalah pada waktu tertentu dan hasil yang diperoleh belum tentu dapat berlaku di daerah lain, meskipun objek penelitiannya sama. Hasil penelitian yang diperoleh klorofil-α tertinggi terdapat pada stasiun I, sedangkan klorofil-α terendah terdapat  pada stasiun III . Kandungan kadar nitrat tertinggi terdapat pada stasiun I dan kadar nitrat terendah terdapat pada stasiun III. Tingginya kandungan nitrat diduga dekat dengan lingkungan masyarakat yang mempengaruhi ekosistem sungai. Kandungan kadar fosfat tertinggi terdapat pada stasiun II dan kadar fosfat terendah terdapat pada stasiun III. Tingginya fosfat pada ekosistem sungai diduga akibat dari kegiatan industri yang membuang banyak limbah dari hasil industri tersebut ke daerah sekitar sungai. The river is one of the natural resources that are flowing (flowing resource), so that the utilization of upstream can degrade water quality, pollution and social costs for preservation. Kaligarang river as one of the major rivers in the city of Semarang plays an important role in the quality of coastal water in Semarang. The activities of agriculture, mining, industry and population activity is around Watershed (DAS) Kaligarang play an important role in water quality of the watershed Kaligarang. The aim of this study was to determine the environmental condition of the waters by nitrate, phosphate and chlorophyll-α in the waters of the River Kaligarang, and Knowing the content of nitrates, phosphates and chlorophyll-α in the waters of the River Kaligarang. The method used in this research is a case study, is a research method that examines a problem at certain times and the results obtained can not necessarily apply in other areas, though the object of research together. The results obtained chlorophyll-α is highest in the first station, chlorophyll-α while the lowest was at station III. The content of nitrate concentration is highest at the first station and the lowest levels of nitrates found in station III. The high content of nitrates allegedly close to the community environment that affects the river ecosystem. The content of the highest phosphate levels found in the station II and phosphate levels are lowest at station III. The high phosphate on the ecosystem of the river thought to result from industrial activities were dumped from the results of the industry to the area around the river.