cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Aquaculture Management and Technology
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Journal of Aquaculture Management and Technology diterbitkan oleh Program studi Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Undip. JAMTech menerima artikel-artikel yang berhubungan dengan akuakultur, nutrisi pakan ikan, parasit dan penyakit ikan, produksi budidaya, dll.
Arjuna Subject : -
Articles 305 Documents
PRODUKSI Daphnia sp. YANG DIBUDIDAYAKAN DENGAN KOMBINASI AMPAS TAHU DAN BERBAGAI KOTORAN HEWAN DALAM PUPUK BERBASIS ROTI AFKIR YANG DIFERMENTASI Wibisono, Muhamad Ary; Hastuti, Sri; Herawati, Vivi Endar
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (377.063 KB)

Abstract

Daphnia sp. merupakan alternatif pakan alami  yang seringkali digunakan memenuhi kebutuhan  pertumbuhan benih ikan. Kandungan nutrisi dalam tubuh Daphnia sp.. Bergantung pada pupuk yang digunakan. Nutrisi ini dapat berasal dari bahan organik tersuspensi dan bakteri yang diperoleh dari pupuk yang ditambahkan ke dalam media kultur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui produksi Daphnia sp. yang dibudidayakan dengan kombinasi ampas tahu dan berbagai kotoran hewan dalam pupuk berbasis roti afkir yang difermentasi serta, kombinasi terbaik  terhadap pertumbuhan dan produksi Daphnia sp.. Padat penebaran Daphnia sp. yaitu 100 ind/l. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan 4 perlakuan . Perlakuan dalam penelitian ini yaitu Perlakuan A  (0%  kotoran , 50% ampas tahu dan 50% roti afkir), B (25% kotoran ayam, 25% ampas tahu  dan 50% roti afkir),  C (25% kotoran kambing, 25% ampas tahu dan 50 % roti afkir, D (25% kotoran burung puyuh, 25% ampas tahu dan 50% roti afkir) dengan Jumlah total kombinasi yaitu 200 g/l. Data yang diamati meliputi kepadatan populasi, biomassa,kepadatan fitoplankton, kandungan nutrisi dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kombinasi ampas tahu dengan berbagai kotoran hewan dalam pupuk berbasis roti afkir yang difermentasi menunjukan bahwa Perlakuan D (25% kotoran burung puyuh, 25% ampas tahu dan 50% roti afkir) menghasilkan kepadatan populasi tertinggi yaitu 2270.67 ind/ml pada fase stasioner, dikarenakan pada Perlakuan D memiliki kandungan Nutrisi (NPK) pupuk organik setelah fermentasi sebesar Nitrogen (N): 3,99; Phosphor (P): 1,33; dan Kalium (K): 2,34. Perlakuan D (25% kotoran burung puyuh, 25% ampas tahu dan 50% roti afkir) menghasilkan Biomassa sebesar  389 gram, dan kepadatan fitoplankton tertinggi sebesar 52135 sel/ml.  Daphnia sp. was one of alternative natural feeds that oftenly used to fulfill the needs of fish growth. Nutrition contained on the Daphnia sp. depended on the fertilizer that used. This nutrition could be came from suspended organic matters and bacteria that gained from the fertilizer that added to the culture media. This research was aimed to knew the production of Daphnia sp. which cultured with combined tofu waste and animal feces in the fertilizer based on the fermented bread waste and knew the best treatment according to the growth and Daphnia sp. production. The density of Daphnia sp. was 100 ind/ml.  This research used experimental methods with complete randomize design of 4 treatments and the repetition of counted population as 3 times. Treatments on this research was Treatment A  (0% feces , 50% tofu waste and 50% bread waste), B (25% chicken mannure, 25% tofu waste  and 50% bread waste),  C (25% sheep feces, 25% tofu waste and 50% bread waste, D (25% quail feces, 25% tofu waste and 50% bread waste) with the total ammount of the combination was 200 g/l. Data that observed during this research were population density, biomass, fitoplankton density, nutrition content, and water quality. The result of this research showed that the additition of combined tofu waste with some animal feces on the fertilizer based on fermented bread waste gave Treatment D (25% quail feces, 25% tofu waste dan 50% bread waste) as the best treatment with the population density valued by 2270.67 ind/ml. during the stasioner phase, because Treatmment D had nutrition contain (NPK) on the organic fertilizer after fermentation was Nitrogen (N): 3,99; Phospor (P): 1,33; and Kalium (K): 2,34. Treatment D (25% quail feces, 25% tofu waste dan 50% bread waste) resulted Biomass 385.3 grams, and fitoplankton density was valued 52135 cells/ml.
PENGARUH KOMBINASI PAKAN BUATAN DAN CACING TANAH (Lumbricus rubellus) TERHADAP EFISIENSI PEMANFAATAN PAKAN, PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN LELE DUMBO (Clarias gariepinus) Trisnawati, Yeni; Suminto, -; Sudaryono, Agung
Journal of Aquaculture Management and Technology Vol 3. No 2 (2014): Journal of Aquaculture Management and Technology
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (267.306 KB)

Abstract

 Pemanfaatan cacing tanah (L. rubellus) sebagai pakan lele dumbo (C. gariepinus) dalam budidaya lele dumbo diharapkan dapat meningkatkan konsumsi pakan, efisiensi pemanfaatan pakan, dan pertumbuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh kombinasi pakan buatan dan cacing tanah (L. rubellus) terhadap efisiensi pemanfaatan pakan, pertumbuhan dan kelulushidupan lele dumbo (C. gariepinus). Variabel yang diamati meliputi nilai efisiensi pemanfaatan pakan (EPP), laju pertumbuhan spesifik (SGR), dan kelulushidupan (SR). Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan  5 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan itu adalah kombinasi pakan buatan 0% dan cacing tanah 100% (A), kombinasi pakan buatan 25% dan cacing tanah 75% (B), kombinasi pakan buatan 50% dan cacing tanah 50% (C), kombinasi pakan buatan 75% dan cacing tanah 25% (D) dan kombinasi pakan buatan 100% dan cacing tanah 0% (E). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi pakan buatan 25% dan cacing tanah 75% memberikan nilai EPP yaitu sebesar 89,5±0,5% dan pertumbuhan terbaik (P<0,05) sebesar 2,04±0,2%BW/hari tetapi tidak berpengaruh (P>0,05) pada SR lele dumbo. Berdasarkan pada hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kombinasi 25% pakan buatan dan 75% cacing tanah mampu meningkatkan nilai EPP dan SGR dalam budidaya lele dumbo. The utilization of earthworm as feed in the culture is to increase the feeding consumption, feeding efficiency  and the growth of catfish. The research aimed to examine the effect of combination the artificial feed and earthworm on feeding efficiency, growth and survival rate of african catfish. The variables measured were feed efficiency (FE), specific growth rate (SGR), and survival rate (SR). This research apllied a completely randomized design (CRD) with 5 treatments and 3 replicates, respectively. The treatments were combination of 0% artificial feed and 100% earthworm (A), combination of 25% artificial feed and 75% earthworm (B), combination of 50% artificial feeds and 50% earthworm (C), combination of 75% artificial feeds and 25% earthworm (D) and combination of 100% artificial feed and 0% earthworm (E). The results showed that the combination of 25% artificial feed and 75% earthworm have resulted in the feeding efficiency utilization value of 89,5±0,05% and the best growth of 2,04±0,2%/day, but no significantly effect (P>0,05) on the survival rate of catfish. It was suggested to use the combination of 25% artificial feed and 75% earthworm to increase FE and SGR value for the culture of catfish.
INFESTASI MONOGENEA PADA IKAN KONSUMSI AIR TAWAR DI KOLAM BUDIDAYA DESA NGRAJEK MAGELANG Putri, Sekar Mentari; Haditomo, Alfabetian Harjuno Condro; Desrina, -
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (507.632 KB)

Abstract

Kerugian akibat infestasi ektoparasit termasuk monogenea tidak sebesar kerugian akibat infeksi organisme patogen lain seperti virus dan bakteri, namun infestasi tersebut dapat menjadi salah satu faktor predisposisi bagi infeksi organisme patogen yang lebih berbahaya, menimbulkan kerusakan organ luar berupa insang dan kulit, pertumbuhan lambat dan penurunan nilai jual ikan. Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui gejala klinis ikan yang terserang monogenea, jenis-jenis monogenea dan nilai intensitas dan prevalensi pada budidaya ikan konsumsi air tawar di desa Ngrajek. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei-Agustus 2015. Sampel ikan yang diperiksa sebanyak 90 ekor dengan ukuran panjang total panjang ikan nila 8,37±1,10 cm dan total berat 7,37±2,22 gr, total panjang ikan mas 9,54±1,48 cm dan total berat 9,78±2,27 gr dan total panjang ikan lele 9,73±1,21 cm dan total berat 4,57±1,35 gr. Pengambilan sampel dilakukan di 5 kolam budidaya. Pengamatan eksternal ikan dilakukan di laboratorium dan analisis data secara deskriptif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis parasit yang menginfestasi ikan air tawar adalah Dactylogyrus spp. dan Gyrodactylus spp. Total jumlah Dactylogyrus spp. yang ditemukan pada semua ikan adalah (247 individu) dan Gyrodactylus spp. (23 individu). Nilai intensitas Dactylogyrus spp. pada masing-masing ikan yaitu 7 ind/ekor pada ikan lele, 4 ind/ekor pada ikan mas dan 3 ind/ekor pada ikan nila, sedangkan nilai intensitas Gyrodactylus spp. di ikan lele 2 ind, di ikan mas 1 ind dan di ikan nila 1 ind. Nilai prevalensi Dactylogyrus spp. di ikan mas 70%, di ikan nila 56,7% dan di ikan lele 50%, sedangkan nilai prevalensi Gyrodactylus spp. di ikan lele 26,7%, di ikan mas 13,3% dan di ikan nila 10%. Gejala klinis yang tampak adalah memerah pada sirip dan pada beberapa ikan memiliki infeksi jamur. Ikan lele memiliki intensitas dan prevalensi tertinggi pada infestasi monogenea. Losses due to infestation of ectoparasites, including monogenea not as severe as a result of infection of pviruses and bacteria, but infestations can be a predisposing factor for microbial infection of pathogenic organisms which more dangerous, causing damage to organs beyond the form of gills and skin, slow growth and decline in value of selling fish. Research was aimed to determine the clinical symptoms of the fish infected by monogenea, types of monogenea and intensity values, the prevalence and dominance on the freshwater/fish farming in Ngrajek. This study was conducted in May-August 2015. The samples total 90 fishes consist of tilapia total length 8.37±1.10 cm and total weight 7,37±2,22 gr, carp total length 9.54±1.48 cm and total weight 9,78±2,27 gr, catfish total length 9.73±1.21 cm and total weight 4,57±1,35 gr. Sampling was conducted at 5 aquaculture ponds the external observation of fish was in laboratory. The results showed that monogenea parasites that infest freshwater fish are Dactylogyrus spp. and Gyrodactylus spp. The total number of Dactylogyrus spp. (247 individu) and Gyrodactylus spp. (23 individu). Dactylogyrus spp. intensity values in catfish was 7 ind, in carp was 4 ind and in tilapia was 3 ind, while Gyrodactylus spp. intensity values in catfish was 2 ind, in carp was 1 ind and in tilapia was 1 ind. Dactylogyrus spp. prevalence values in carp was 70%, in tilapia was 56.7% and in catfish was 50%, while Gyrodactylus spp. prevalence values in catfish was 26.7%, in carp was 13.3% and in tilapia was 10%. Clinical signs observed were reddish of fins. Same fish were also had fungi infection. Catfish had higher the intensity and prevalence of monogenea infestation.
PENGARUH PENAMBAHAN KOTORAN AYAM, AMPAS TAHU DAN SILASE IKAN RUCAH DALAM MEDIA KULTUR TERHADAP BIOMASSA, POPULASI DAN KANDUNGAN NUTRISI CACING SUTERA (Tubifex sp.) Nurfitriani, Lela; Suminto, -; Hutabarat, Johannes
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (153.175 KB)

Abstract

   Pemanfaatan kotoran ayam, ampas tahu dan silase ikan rucah untuk penambahan media kultur cacing sutera diharapkan dapat meningkatkan biomassa, populasi dan kandungan nutrisi cacing sutera (Tubifex sp.). Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh penambahan kotoran ayam, ampas tahu dan silase ikan rucah dalam media kultur terhadap biomassa, populasi dan kandungan nutrisi cacing sutera. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dan masing-masing 3 kali ulangan. Perlakuan tersebut adalah penambahan 100% Kotoran Ayam (A); 50 % kotoran ayam, 35% ampas tahu dan 15% silase ikan rucah (B); 50% kotoran ayam, 25% ampas tahu dan 25% silase ikan rucah (C); 50% kotoran ayam, 15% ampas tahu dan 35% silase ikan rucah (D). Penentuan dosis perlakuan yang digunakan mengacu pada penelitian pendahuluan yang telah dilakukan sebelumnya. Kotoran ayam, ampas tahu dan silase ikan rucah dimasukkan ke dalam 12 wadah dengan ukuran 50x13x10 cm (luas 0,065 m2). Wadah dialiri air mengalir dengan sistem sistem sirkulasi dengan debit 0,35 L/menit dan ditebari cacing 10 g/wadah, selanjutnya cacing dipelihara selama 52 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan B memberikan hasil terbaik dengan biomassa tertinggi 57,93±1,59 g/wadah, populasi 13.995±374,8 individu/wadah dan kandungan protein 59,75±0,001%. Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa penambahan kotoran ayam, ampas tahu, dan silase ikan rucah dalam media kultur berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap biomassa, populasi dan kandungan nutrisi cacing sutera. The utilization of chicken manure, tofu waste and trace fish for additional culture medium that supposed to be increase the biomass, population and nutrition content of Silk worm (Tubifex sp.). The purpose of this research was to examine the effect of the addition of chicken manure, tofu waste, and silage trace fish in culture medium on biomass, population and nutrition content of Tubifex sp. This research was used Completely Randomized Design (CRD) with 4 treatments and 3 replicates, respectively. Those treatments were the addition 100% chicken manure (A); 50% chicken manure, 35% tofu waste and 15% silage trace fish (B); 50% chicken manure, 25% tofu waste and 25% silage trace fish (C); and 50% chicken manure, 15% tofu waste and 35% silage trace fish (D). This doses determination treatment used, were referred to previous preliminary research. Chicken manure, tofu waste, and silage trace fish were placed in 12 container with the size of 50x13x10 cm (0,065 m2 in the area). The container was irrigated with watering circulation system on discharge 0,35 L/minute and 10 g/container ofdensity, furthermore cultivan was cultivated during 52 days. The result showed that the treatment B was the best treatment with the highest biomass 57,93±1,59 g/container, population 13995±374,68 ind/container and protein content 59,75±0,001%. Base on the results, it was concluded that the addition of chicken manure, tofu waste and silage trace fish in cuture medium has a significant effect (P<0.01) on biomass, population and nutrition content of silk worm.
PENGARUH LAMA PERENDAMAN TELUR DALAM LARUTAN TEPUNG TESTIS SAPI TERHADAP JANTANISASI IKAN RAINBOW (Melanotaenia sp.) Setiawan, Arif Bayu; Susilowati, Titik; Yuniarti, Tristiana
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (717.29 KB)

Abstract

Ikan hias pelangi (rainbow) merupakan salah satu ikan hias papua yang mempunyai bentuk dan warna yang unik yang memilki jenis yang sangat banyak ada yang sudah diberi nama dan ada yang belum, juga mempunyai nilai jual yang lumayan dan merupakan komoditas ekspor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama perendaman telur dalam tepung testis sapi dan mengetahui waktu yang terbaik terhadap jantanisasi ikan rainbow (Melanotaenia sp.). Penelitian ini dilaksanakan di APPIHIS Semarang pada bulan Oktober- Desember 2016 dengan metode penelitian menggunakan rancangan acak kelompok dengan 5 perlakuan dan 3 ulangan. Lama waktu perendaman yaitu perlakuan A selama 0 jam atau tanpa perendaman tepung testis sapi, perlakuan B 24 jam, perlakuan C 36 jam, perlakuan D 48 jam dan perlakuan E selama 60 jam dengan dosis yang sama yaitu sebanyak 60 ppm. Data yang diambil adalah persentase kelamin jantan, betina, kelulushidupan (SR) dan kualitas air. Analisis data menggunakan ANNOVA dan apabila terdapat pengaruh yang nyata makan dilanjutkan dengan uji Duncan. Persentase kelamin jantan dan betina didapatkan perlakuan A sebesar 28,43%±5,38; 71,57%±5,38, perlakuan B sebesar 62,67%±3,69; 37,33%±3,69, perlakuan C sebesar 59,92%±1,73; 40,08%±1,73, perlakuan D sebesar 44,27%±2,31; 55,73%±2,31 dan perlakuan E sebesar  33,06%±0,67; 66,94%±0,67. Kelulushidupan (SR) didapatkan pada perlakuan A sebesar 90,81%±2,06, perlakuan B sebesar 97,22%±0,92, perlakuan C sebesar 93,72%±1,09, perlakuan D sebesar 93,85%±1,35 dan perlakuan E sebesar 95,99%±1,68. Kesimpulan dari penelitian ini adalah lama perendaman telur yang berbeda berpengaruh terhadap jantanisasi ikan rainbow dan lama perendaman terbaik adalah pada perlakuan B dengan lama perendaman selama 24 jam menghasilkan persentase jantan sebesar 62,67%±3,69.Rainbow fish is one of the ornamental fish Papua that have unique shape and color who have very many species have already been named and there is not yet, also has a hefty selling value value and is an export commodity. This research aims to determine the effect of soaking in the testes flour cows and knowing the best time to jantanisasi rainbow fish (Melanotaenia sp.). This research was conducted in APPIHIS Semarang in October-December 2016 with the research method using a grou randomized design with 5 treatments and 3 replications. Length of time a soaking is without soaking the flour treatment A cow testicle, treatment B 24 hours, treatment C 36 hours, 48 hours of treatment D and E for 60 hours of treatment with the same dose as many as 60 ppm. Data taken is percentage of male genitals, female, survival rate (SR) and water quality. Analysis of data using ANOVA and if there is significant differences meal continue by Duncan test. The percentage of male and female A treatment obtained by 28.43% ± 5.38; 71.57% ± 5.38, treatment B by 62.67% ± 3.69; 37.33% ± 3.69, C treatment amounting to 59.92% ± 1.73; 40.08% ± 1.73, treatment D amounted to 44.27% ± 2.31; 55.73% ± 2,31 and treatment E of 33.06% ± 0.67; 66.94% ± 0.67. Survival rate (SR) be obtained at treatment A of 90.81% ± 2.06, treatment B by 97.22% ± 0.92, C treatment amounting to 93.72% ± 1.09, treatment D amounted to 93.85% ± 1,35 and treatment E of 95.99% ± 1.68. The conclusions of this study are different eggs soaking time affects the rainbow and old fish maskulinisasi best soaking is in treatment B with old soaking for 24 hours resulted in the percentage of males by 62,67%±3,69.   Rainbow fish is one of the ornamental fish Papua that have unique shape and color who have very many species have already been named and there is not yet, also has a hefty selling value value and is an export commodity. This research aims to determine the effect of soaking in the testes flour cows and knowing the best time to jantanisasi rainbow fish (Melanotaenia sp.). This research was conducted in APPIHIS Semarang in October-December 2016 with the research method using a grou randomized design with 5 treatments and 3 replications. Length of time a soaking is without soaking the flour treatment A cow testicle, treatment B 24 hours, treatment C 36 hours, 48 hours of treatment D and E for 60 hours of treatment with the same dose as many as 60 ppm. Data taken is percentage of male genitals, female, survival rate (SR) and water quality. Analysis of data using ANOVA and if there is significant differences meal continue by Duncan test. The percentage of male and female A treatment obtained by 28.43% ± 5.38; 71.57% ± 5.38, treatment B by 62.67% ± 3.69; 37.33% ± 3.69, C treatment amounting to 59.92% ± 1.73; 40.08% ± 1.73, treatment D amounted to 44.27% ± 2.31; 55.73% ± 2,31 and treatment E of 33.06% ± 0.67; 66.94% ± 0.67. Survival rate (SR) be obtained at treatment A of 90.81% ± 2.06, treatment B by 97.22% ± 0.92, C treatment amounting to 93.72% ± 1.09, treatment D amounted to 93.85% ± 1,35 and treatment E of 95.99% ± 1.68. The conclusions of this study are different eggs soaking time affects the rainbow and old fish maskulinisasi best soaking is in treatment B with old soaking for 24 hours resulted in the percentage of males by 62,67%±3,69.
ANALISIS KARAKTER REPRODUKSI IKAN NILA KUNTI (Oreochromis niloticus) F4 DAN F5 Tamamdusturi, Rifqi; Basuki, Fajar
Journal of Aquaculture Management and Technology Vol 1, No 1 (2012): Journal Of Aquaculture Management and Technology
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (189.713 KB)

Abstract

Ikan nila di Indonesia merupakan salah satu ikan air tawar yang memiliki nilai ekonomis penting. Berbagai upaya terus dilakukan dalam meningkatkan produksi ikan nila, salah satunya adalah dengan pemuliaan seperti perbaikan genetik. Selective breeding adalah riset genetik yang dominan untuk memperbaiki pertumbuhan sebagai tujuan utama baik dari seleksi famili maupun individu. Harapannya adalah generasi F5 ikan nila kunti memiliki peningkatan performa dari ikan nila kunti F4. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan karakter reproduksi yang dihasilkan dari ikan nila kunti F4 dan F5 sehingga diketahui terjadinya  peningkatan performa karakter reproduksi dari generasi 4 ke generasi 5. Karakter reproduksi diamati heritabilitasnya, heritabilitas merupakan nilai dugaan yang mampu menunjukkan laju perubahan yang dapat dicapai dengan seleksi untuk suatu sifat di dalam populasi. Penelitian ini dilakukan dengan 2 perlakuan dan masing-masing terdiri dari 30 ulangan. Karakter reproduksi meliputi fekunditas, HR, diameter telur, bobot telur, panjang dan bobot larva menetas, panjang dan bobot larva lepas telur dan jumlah larva dimulut. Data tersebut diuji peningkatan performa reproduksi dengan analisis heritabilitas. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan performa karakter reproduksi dari induk F4 ke F5 dilihat dari meningkatnya hasil fekunditas; HR; diameter dan bobot telur; panjang dan bobot larva menetas; panjang dan bobot larva lepas telur dan jumlah larva dimulut serta didukung nilai heritabilitas fekunditas dan HR dari induk F4 ke F5 yang dikategorikan sebagai nilai kisaran yang tinggi. Kualitas air selama penelitian tidak dilakukan upaya untuk mempertahankan namun masih berada dalam kisaran yang layak untuk kehidupan ikan nila kunti.
ANALISA KESESUAIAN LAHAN PERAIRAN PULAU PARI KEPULAUAN SERIBU SEBAGAI LAHAN BUDIDAYA IKAN KERAPU (Epinephelus sp.) PADA KERAMBA JARING APUNG DENGAN MENGGUNAKAN APLIKASI SIG Ghani, Abdul; Hartoko, Agus; Ariyati, Restiana Wisnu
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (433.097 KB)

Abstract

Ikan kerapu (Epinephelus sp.) merupakan salah satu spesies unggulan dalam pengembangan budidaya laut di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa tingkat kesesuaian wilayah perairan untuk keramba jaring apung ikan kerapu (Epinephelus sp.) di zona budidaya laut di Pulau Pari berdasarkan parameter fisika dan kimia. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus yaitu pengumpulan data dan analisis data. Data primer didapatkan secara langsung dengan pengukuran langsung di lapangan, sedangkan data sekunder yang didapatkan kemudian diolah pada citra Landsat 8 sehingga dihasilkan suatu model dasar peta tematik. Peta tematik yang dihasilkan kemudian diolah untuk menduga nilai kesesuaian perairan untuk keramba jaring apung. Hasil pengukuran kecepatan arus berkisar antara 3,0 – 4,7 m/s, suhu 29oC – 30oC, salinitas 31,9 – 33,7 ppt, DO 7,0 – 8,1 mg/L, kecerahan 7,5 – 9,0 m, kedalaman 20 – 30 m. Peta Hasil kesesuaian lahan budidaya di Pulau Pari menunjukkan daerah yang tingkat kesesuaian untuk budidaya ikan kerapu berada pada perairan terbuka. Suatu perairan yang terlindung untuk kawasan budidaya ikan kerapu sistem keramba jaring apung berpengaruh terhadap keberlanjutan usaha budidaya. Daerah pada semua stasiun direkomendasikan untuk dijadikan usaha budidaya karena merupakan daerah yang tidak berada pada jalur pelayaran dan termasuk dalam kelas kesesuaian sesuai. Berdasarkan total skor yang digunakan untuk penilaian kesesuaian perairan di Pulau Pari, Kepulauan Seribu diperoleh tujuh stasiun yaitu stasiun I – stasiun VII termasuk pada kategori S2, sedangkan kedua stasiun lainnya yaitu stasiun VIII dan stasiun IX termasuk dalam kategori S3. Grouper (Epinephelus sp.) is one of the flagship species in marine culture development in Indonesia. This research aimed to analyze the level of suitability waters for floating net cages grouper (Epinephelus sp.) based on parameters of physics, chemistry, and biology waters in mariculture zone in Pari Island. The method of this research used a case study of data collection and data analysis. Primary data were directly obtained by direct measurement in the field, while the secondary data were obtained then processed on Landsat 8 to get a basic model of thematic maps. The thematic maps were obtained then processed to estimate the suitability of water for floating net cages. The measurement results of current velocity is 3.0 – 4.7 m/s, temperature 29oC - 30oC, salinity 31.9 – 33.7 ppt, DO 7.0 - 8.1 mg/L, transparency 7.5 – 9.0 m, depth of 20 – 30 m. The results of the land suitability of marine culture in Pari Island indicated that the level of suitability for grouper is in the open water. A sheltered waters for marine culture area with floating net cage systems are affect the sustainability of farming. All stations are recommended to be used for marine culture of grouper because the areas are not on cruise lines and are included in the corresponding suitability classes. Based on the total score for the assessment of the suitability of waters in Pari Island, Thousand Islands gained seven stations are stations I - VII included in the category of station S2, while the other stations are stations VIII and IX station included in the S3 category.
PENGARUH PERENDAMAN EKSTRAK DAUN SIRIH (Piper betle) DENGAN KONSENTRASI YANG BERBEDA TERHADAP GEJALA KLINIS, KELULUSHIDUPAN, HISTOLOGI DAN PERTUMBUHAN UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) YANG DIINFEKSI Vibrio harveyi Annisa, Nur; Sarjito, -; Prayitno, Slamet Budi
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.875 KB)

Abstract

Bakteri Vibrio harveyi merupakan salah satu agensia penyebab vibriosis yang dapat menyebabkan kematian pada udang, sehingga menimbulkan kerugian secara ekonomi. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh konsentrasi perendaman ekstrak daun sirih (Piper betle) berbeda terhadap gejala klinis, kelulushidupan, histologi dan pertumbuhan udang Vaname (L. vannamei) yang diinfeksi V. harveyidan mengetahui konsentrasi terbaik dari perendaman ekstrak daun sirih (Piper betle).Udang uji yang digunakan berjumlah 120 ekor dengan ukuran ±7 cm. Penginfeksian V. harveyi sebanyak 0,1 mL dengan konsentrasi 106 CFU/ml pada bagian intramuskular.Pada penelitian ini digunakan konsentrasi ekstrak daun sirih dengan konsentrasi perlakuan 0 ppm, 500 ppm, 800 ppm dan 1100 ppm. Gejala klinis yang muncul adanya warna memerah pada bagian ekor dan telson serta seluruh tubuh, perubahan warna kehitaman pada hepatopankreas serta udang terlihat pasif.  Perendaman (dipping) dilakukan selama 10 menit. Hasil penelitian diperoleh bahwa perendaman ekstrak daun sirih memberikan pengaruh nyata terhadap kelulushidupan dan histopatologi hepatopankreas udang vaname akan tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan udang vaname. Hasil ini juga diperoleh bahwa penggunaan konsentrasi1100 ppmmerupakan konsentrasiekstrak daun sirih terbaik untuk mengobati udang vaname yang terinfeksi V. harveyi. Vibrio harveyi isone of vibriosis agents that couldmass mortality in farmed shrimp, therefore result in significant losses in shrimp farming. The purpose of this researchis to find out the effect of various immersion concentration of betel leaves extract (Piper betle) toward clinical symptoms, survival rate, histology and growth of vannamei (L. vannamei) thatinfectedby V. harveyi and to determine the best concentration of immersion betel leaves extract (Piper betle).Infection was carried out by intramuscular infection of 0,1 ml of 106 CFU/ml V. harveyi. When clinical sign was shown redness on the tail and telson up the whole body flushed, discoloration and shrimp hepatopancreas blackened shrimp ponds passive then soaked with betel extract for 10 minutesThe result of the betel leavesextract immersion that give a significant effect on survival and histopathological hepatopancreas vaname but, it did not significantly affect the growth of shrimp vannamei. The result of this research which are the using concentration 1100 ppm is the best concentration to treat infected white shrimp V. harveyi.
ANALISA KELAYAKAN USAHA BUDIDAYA IKAN LELE (Clarias sp) DI POKDAKAN SIDO MAKMUR DESA TAMBAKSARI KECAMATAN ROWOSARI KABUPATEN KENDAL Simatupang, Trisna Margareha Kwartantry; Elfitasari, Tita; Susilowati, Titik
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.728 KB)

Abstract

Kecamatan Rowosari Kabupaten Kendal Provinsi Jawa Tengah mempunyai potensi budidaya air tawar yang cukup menjanjikan. Pembudidaya ikan di Desa Tambaksari memelihara ikan lele dengan sistem alami (tradisional) baik secara monokultur maupun polikultur. Permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah bagaimana memperoleh hasil yang baik dan menguntungkan dalam bisnis budidaya ikan dengan mengeluarkan biaya seminimal mungkin. Perhitungan aspek finansial yang berkaitan seperti keuangan, permodalan, pembiayaan, pendapatan dan pendapatan dalam periode waktu tertentu perlu dilakukan untuk memperbaiki profit secara finansial. Variabel yang akan diamati dalam usaha budidaya lele adalah bibit, pakan, tenaga kerja, listrik, transportasi, perawatan aset, perizinan, pupuk dan obat-obatan. Sedangkan  prospek bisnis dalam usaha dapat ditentukan berdasarkan perhitungan Payback Periode (PP), Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Benefit Cost Ratio (B/C Rasio). Berdasarkan variabel tersebut dapat diambil kesimpulan apakah kegiatan budidaya ikan lele di Pokdakan Sido Makmur Desa Tambaksari Kecamatan Rowosari Kabupaten Kendal layak atau tidak diusahakan lebih lanjut. Metode penelitian yang digunakan adalah metode studi kasus dan dianalisa secara deskriptif dengan pengumpulan data yang menggunakan metode observasi langsung, wawancara dan distribusi kuisioner. Hasil penelitian ditinjau dari aspek ekonomi berupa rata – rata biaya investasi sebesar Rp. 4.493,00 - Rp. 422.500/m2, biaya operasional sebesar Rp. 172.826,00 – Rp. 519.886,00/m2 dan pendapatan sebesar of  Rp. 432.000 – Rp. 1.866.667,00/m2. Berdasarkan hasil dari penelitian ini, disimpulkan bahwa usaha pembesaran ikan lele di Pokdakan Sido Makmur Desa Tambaksari Kecamatan Rowosari Kabupaten Kendal dikatakan layak untuk di jalankan dengan nilai NPV Rp. 285.856,00 – Rp. 2.380.337,00/m2, tidak menghasilkan IRR, B/C Ratio 1,07 – 2,22 dan Payback Periode 0,57 - 1,00. Rowosari Subdistrict, Kendal Regency, Central Java Province has a potential of freshwater cultivation. Fish farmers in Tambaksari Village raise catfish with natural (traditional) system either monoculture or polyculture. Problem that will be discussed in this study is efforts to obtain good and profitable results by spending as little as possible. It is necessary to calculate the related financial aspects such as finance, capital, financing, income and income within a certain period of time to improve profit financially. The variables to be observed in the cultivation of catfish are seeds, feed, labor, electricity, transportation, asset maintenance, licensing, fertilizer and medicine. Business prospects in this cultivation can be determined based on Payback Period (PP), Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Benefit Cost Ratio (B/C Ratio) calculations. Based on these variables can be concluded whether the catfish farming activities in Pokdakan Sido Makmur Tambaksari Village District Rowosari Kendal District feasible or not for further cultivated. The research method used is case study method with data collection using direct observation method, interview and distribution of questionnaire. The results of the study in terms of economic aspects of the average investment cost of Rp. 4.493,00 to Rp. 422.500/m2, Operational cost of Rp. 172.826,00 to Rp. 519.886,00/m2, and income of  Rp. 432.000 to Rp. 1.866.667,00/m2. Based on the results of this study, it was concluded that the catfish farming business in Pokdakan Sido Makmur Tambaksari Village, Rowosari District of Kendal Regency is said to be feasible to run with the value of NPV Rp. 285.856,00 to Rp. 2.380.337,00/m2 does not bear IRR, B/C Ratio 1,07 to 2,22 and Payback Periode 0,57 to 1,00.
PENGARUH CARA PEROLEHAN BIBIT HASIL SELEKSI, NON SELEKSI DAN KULTUR JARINGAN TERHADAP PERTUMBUHAN, KANDUNGAN AGAR DAN Gel strength RUMPUT LAUT Gracilaria verrucosa YANG DIBUDIDAYAKAN DENGAN METODE Broadcast DI TAMBAK Tegar Abdul Basith; Sri Rejeki; Restiana Wisnu Ariyati
Journal of Aquaculture Management and Technology Vol 3. No 2 (2014): Journal of Aquaculture Management and Technology
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (551.505 KB)

Abstract

Budidaya rumput laut Gracilaria verrucosa di minati para pembudidaya karena dengan teknologi yang sederhana dapat menghasilkan produk yang tinggi dan biaya produksi rendah. Permasalahan yang dihadapi pembudidaya adalah pemilihan bibit rumput laut G. verrucosa berkualitas yang digunakan dalam budidaya belum seluruhnya diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan kualitas produksi rumput laut G. verrucosa dari bibit hasil seleksi, bibit kultur jaringan dan bibit non seleksi. Rumput laut yang digunakan dalam penelitian ini adalah bibit rumput laut G. verrucosa bibit hasil seleksi, bibit kultur jaringan dan bibit non seleksi dengan berat awal tanam sebesar 100 g. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan 3 perlakuan, perlakuan A (Bibit hasil seleksi), B (Bibit kultur jaringan) dan perlakuan C (Bibit non seleksi),  masing – masing perlakuan di ulang 21 kali. Pengumpulan data pada penelitian ini meliputi penimbangan berat dan pengukuran parameter kualitas air secara langsung meliputi (suhu, kecerahan, kedalaman, pH, salinitas) dan kandungan unsur hara yang di uji laboratorium. Hasil penelitian menunjukan pertumbuhan G. verrucosa  bibit non seleksi mempunyai pertumbuhan yang paling baik (pertumbuhan relatif rata – rata  106,18%) dari pada G. verrucosa. Bibit hasil seleksi (pertumbuhan relatif rata – rata 90,95%) maupun bibit kultur jaringan (pertumbuhan relatif rata - rata 77,14%). Kandungan agar rumput laut G. verrucosa bibit hasil seleksi mempunyai rendemen/kandungan agar terbaik rendemen agar 5,63%, sedangkan bibit dari kultur jaringan mempunyai Gel strength tertinggi yaitu 648, 312 g/f. G. verrucosa. culture becomes highly demanded by tambak farmers because by using simple technology and low production cost can  produce high yield. Good quality seed of G. verrucosa seems to be the main problem of its cultivation. The aims of this research were to find out the growth and quality of different seed of  G. verrucosa : the selection of seeds, tissue culture and non selection seeds with weigth of 100 gram. A completely randomaized design was applied in this research with 3 treatments : A (selection seed), B (tissue culture seed) and C (non selection seed.) each treatment replicated 21 times. Data collection in this study includes growth, water quality parameters (temperature, brightness, depth, pH, and salinity) and the nutrient content. The results show that the best growth was found at non selection seed (average relative growth rate 106,18%) but the best agar content found at the selection seed ( 5,63%) and the best gell strength was found at tissue culture seed (648,312% g/f).