cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Aquaculture Management and Technology
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Journal of Aquaculture Management and Technology diterbitkan oleh Program studi Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Undip. JAMTech menerima artikel-artikel yang berhubungan dengan akuakultur, nutrisi pakan ikan, parasit dan penyakit ikan, produksi budidaya, dll.
Arjuna Subject : -
Articles 305 Documents
PENGARUH PEMBERIAN CACING TANAH (Lumbricus rubellus) YANG DIKULTUR DENGAN PENGKAYAAN LIMBAH ORGANIK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN IKAN LELE (Clarias gariepinus) Ridlwan, Muhammad Qudus; Suminto, -; Chilmawati, Diana
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cacing tanah adalah salah satu pakan alami yang memiliki kandungan protein tinggi. Kandungan protein yang dari cacing tanah adalah 60-72% sehingga dapat dimanfaatkan sebagai pakan ikan lele untuk pembesaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pakan alami cacing tanah yang dikultur dengan pengkayaan limbah organik terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan ikan lele (C. gariepinus) dan mengetahui pertumbuhan dan kelulushidupan ikan lele (C. gariepinus) yang terbaik melalui kultur pengkayaan limbah organik cacing tanah yang berbeda. Penelitian dilaksanakan di Balai Benih Ikan Hadipolo Kudus dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) menggunakan 4 perlakuan masing-masing 3 ulangan untuk setiap perlakuan yaitu (A) tanpa pemberian limbah buah dan sayur; (B) pemberian limbah buah; (C) pemberian limbah sayur; dan (D) pemberian limbah buah dan sayur. Cacing tanah dikultur selama 10 hari dan kultur ikan lele dilakukan selama 45 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh pemberian limbah sayuran dan buah yang berbeda berpengaruh nyata (P<0,05) pada pertumbuhan (SGR)  dan rasio konversi pakan (FCR) ikan lele namun tidak berpengaruh nyata (P>0,05) pada kelulushidupan ikan lele (Clarias gariepinus). Perlakuan D yaitu pemberian cacing tanah telah dikultur dengan pengkayaan limbah organik buah dan sayuran memberikan nilai SGR, FCR, dan SR terbaik bagi ikan lele (C. gariepinus) masing-masing sebesar 4,18 ± 0,21%/hari; 0,76 ± 0,03; dan 100 ± 0%. Hasil penelitian mengenai kualitas air yang meliputi DO, pH, dan suhu sudah sesuai dengan tingkat kelayakan menurut pustaka. Earthworm is one of the natural food that has a high protein content. Protein content of earthworms is 60-72%, it can be used as feed for catfish culture. The Objective of this research was to know the effect of earthworm with enriched fruit and vegetables wastes as well as the effects on the growth and survival of catfish (C. gariepinus) and know the best growth and survival rate of catfish (C. gariepinus) through the cultural enrichment earthworm with organic waste. Research conducted at the Fish Seed Center Hadipolo Kudus with completely randomized design (CRD) using 4 treatments with 3 replicates for each treatment was (A) without fruit and vegetable waste enrichment; (B) fruit waste enrichment; (C) vegetable waste enrichment; and (D) mixed fruit and vegetable waste enrichment. Earthworms were cultured for 10 days and the culture of catfish carried out for 45 days. The results showed that the effect of vegetable and fruit waste significantly different (P <0.05) on growth (SGR) and food conversion ratio (FCR) catfish but not significant (P> 0.05) in survival rate of catfish (Clarias gariepinus). D treatment provide the earthworm cultured with enrichment of mixed fruits and vegetables wastes with value SGR, FCR, and SR was best for catfish (C. gariepinus), respectively by 4.18 ± 0.21% / day; 0.76 ± 0.03; and 100 ± 0%. Result of water quality include DO, pH and temperature was suitable with literature.
SUBTITUSI PAKAN SEGAR DENGAN PAKAN BUATAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAKN KEPITING BAKAU (Scylla paramamosain) Rahadiyani, Mega; Rachmawati, Diana; Samidjan, Istiyanto
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (183.679 KB)

Abstract

Pakan merupakan unsur terpenting dalam menunjang pertumbuhan dan kelangsungan hidup kepiting bakau. Pakan buatan sangat diperlukan terutama pada budidaya secara intensif yang membutuhkan pakan buatan sebagai sumber energi utama, sedangkan pada saat ini pembudidaya kepiting bakau (S. paramamosain) masih menggunakan pakan segar yaitu berupa ikan rucah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dan persentase terbaik dalam subsitusi pakan segar dengan pakan buatan  terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan kepiting bakau di Desa Tapak kecamatan Tugu, Semarang pada Januari – Maret 2014Hewan uji yang digunakan adalah Kepiting Bakau (S. paramamosain) dengan ukuran 122,5±1,5 g. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 kali ulangan yaitu perlakuan A (0% pakan buatan dan 100% pakan segar), B (25% pakan buatan dan 75% pakan segar), C (50% pakan buatan dan 50% pakan segar), D ( 75% pakan buatan dan 25% pakan segar) dan E (100% pakan buatan dan 0% pakan segar).Hasil penelitian menunjukan bahwa subtitusi pakan segar dengan pakan buatan terdapat pengaruh nyata (P<0,05) terhadap pertumbuhan dan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap kelulushidupan kepiting bakau (S. paramamosain). Perlakuan D (75% pakan buatan dan 25% pakan segar) memiliki hasil tertinggi dengan nilai pertumbuhan bobot mutlak sebesar 18,50±2,62 g. Nilai kelulushidupan kepiting bakau (S. paramamosain) berkisar antara 66,67-100%. Kualitas air pada media pemeliharaan terdapat pada kisaran yang layak dan beberapa parameter kualitas air terdapat pada batas minimum. Feeds is constitutes primal element in prop growth and survival rate of mud crabs. Indispensable artificial feeds especially on treatmenting intensively which need brand feeds as source of main energy, meanwhile for the moment mud crabs ( S. paramamosain ) still utilize fresh feeds which is as fish.  This research intent to know influence and best percentage in subtituation fresh feeds with feeds artificialing to growth and survival rate of mud crabs at Desa Tapak kecamatan Tugu, on January – March 2014.Animal tests that is utilized is mud crabs ( S. paramamosain ) with measure 122,5±1,5 g. This research did by method experimentaling to utilize fledged random design (RAL) with 3 time replicate which is treatment A (0% artificial feeds and 100% fresh feeds), B (25% artificial feeds and 75% fresh feeds), C (50% artificial feeds and 50% fresh feeds), D.( 75% artificial feeds and 25% fresh feeds) and e (100% artificial feeds and 0% fresh feeds).The result showed that subtitusi of fresh feeds with artificial feeds to be gotten reality influence (P<0,05) to growth and not significant (P>0,05) to survival rate of mud crabs ( S. paramamosain ). Treatment D (75% artificial feeds and 25% fresh feeds) having supreme result with appreciative absolute weight growth as big as 18,50±2,62 g. The survival rate of mud crab (S. paramamosain) ranged from 66.67 to 100.00%. Water quality on preserve media exists on gyration that reasonably and some water quality parameter exists on minimum bounds. 
PENGARUH PERENDAMAN EKSTRAK BUAH BELIMBING WULUH (Averrhoa bilimbi L.) UNTUK MENGOBATI INFEKSI Aeromonas hydrophila PADA IKAN MAS (Cyprinus carpio) Khaerani, Laela Rizki; Prayitno, Slamet Budi; Haditomo, A.H. Condro
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (605.039 KB)

Abstract

Belimbing wuluh merupakan salah satu tanaman buah asli Indonesia dan daratan Malaya. Buah belimbing wuluh berbentuk elips hingga seperti torpedo dengan panjang 4-10 cm. Buahnya mengandung senyawa flavonoid dan triterpenoid. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perendaman ekstrak buah belimbing wuluh (A. bilimbi L.) terhadap kelulushidupan ikan mas (C. carpio) yang diinfeksi bakteri A. hydrophila. Ikan uji yang digunakan adalah ikan mas (C. carpio) dengan bobot individu rata-rata 12,76±1,62 g/ekor. Ikan dipelihara selama 14 hari dengan padat tebar 1 ekor/L. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 kali pengulangan. Perlakuan A, B, C, dan D dengan konsentrasi masing-masing 0 ml/L, 3000 ml/L, 6000 ml/L, 9000 ml/L. Data yang diamati meliputi gejala klinis, kelulushidupan, dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukan bahwa hari ke-1 setelah penyuntikan bakteri A. hydrophila, ikan mas menunjukkan gejala klinis berenang pasif, borok, haemorhage, bernafas tidak teratur, warna tubuh memudar, luka dibekas suntikan, sirip gripis. Hasil tersebut memperlihatkan bahwa perlakuan B, C dan D rata-rata memperlihatkan proses penyembuhan mulai dari hari ke-5 pasca perendaman. Kenaikan persentase kelulushidupan tertinggi pada perendaman ikan mas yang diinfeksi A. hydrophila menggunakan ekstrak buah belimbing wuluh ditunjukkan oleh perlakuan C sebesar 70%. Perlakuan B dan D juga memperlihatkan kenaikan persentase kelulushidupan yaitu sebesar 53,33% dan 66,67%. Hasil pengukuran kualitas air selama penelitian berada dalam kisaran yang sesuai untuk kehidupan ikan mas (C. carpio). Kesimpulan yang diperoleh yaitu ekstrak buah belimbing wuluh dapat menyembuhkan infeksi bakteri A. hydrophila pada ikan mas. Star fruit is one of originally from Indonesia and Malaya lands. The shape of this fruit is ellipse such as torpedo with length up to 4-10 cm. The fruit contains flavonoid and triterpenoid. This research aimed to observe the effect of submersion of Averrhoa bilimbi on the survival of common carp (C. carpio) intra muscularly by bacteria A. hydrophila. The test fish used in this research were common carp (Cyprinus  carpio) with average individual weight 12,76±1,62 g/head. The fish were looked after reased 14 days with stocking density 1 individual/L. This research was carried out using Completely Randomized Design (CRD) with 4 treatments and 3 times repetition. Treatment A, B, C, and D were star fruit  extractsat concentration of 0 ml/L, 3000 ml/L, 6000 ml/L, 9000 ml/L respectively. The variable observed in this research consisted of clinical symptom, survival, and water quality. The result of the research shows that day 1 after the injection of bacteria A. hydrophila, common carp showed clinical symptoms passive swim, ulcer, haemorhage, Breathing irregularly , the color of the body faded , a wound in the former an injection, and slightly damaged fin. The result shows that treatment B, C and D commonly shows healing process starting from day 5 after submersion. The highest in survival rate of common carp post infected by A. hydrophila than submensed in extract of star fruit shown by treatment C, B, and D at 70%, 53,33%, and 66,67% respectively. The water quality during the research was appropriate for common carp life (C. carpio). The conclusion was that extract of Averrhoa bilimbi can heal infection of bacteria A. hydrophila in common carp. 
Analisis Kelulushidupan dan Pertumbuhan Benih Ikan Nila Larasati (Oreochromis niloticus) F5 D30-D70 pada Berbagai Salinitas Fitria, Ajeng Suci
Journal of Aquaculture Management and Technology Vol 1, No 1 (2012): Journal Of Aquaculture Management and Technology
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.368 KB)

Abstract

Nila dapat hidup di air tawar, air payau dan air laut dengan kadar garam antara 0-35 ppt. Ikan nila (Oreochromis niloticus) air tawar dapat dipindah ke air asin dengan proses adaptasi bertahap, yaitu dengan menaikkan kadar garam sedikit-demi sedikit. Untuk meningkatkan produksi budidaya khususnya ikan nila (Oreochromis niloticus), dapat dilakukan dengan cara mengetahui media pemeliharaan yang optimal bagi kelulushidupan dan pertumbuhan ikan tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji pengaruh salinitas berbeda terhadap kelulushidupan dan pertumbuhan benih ikan nila Larasati (Oreochromis niloticus) F5 serta mengetahui salinitas terbaik dalam media pemeliharaan benih ikan nila Larasati (Oreochromis niloticus) F5. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April – Juni tahun 2012, bertempat di Satker PBIAT, Janti – Klaten, Jawa Tengah. Ikan uji yang digunakan adalah benih ikan nila Larasati (Oreochromis niloticus) F5 berukuran 3–5 cm. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan masing – masing 3 kali ulangan. Perbedaan salinitas media pemeliharaan pada setiap perlakuan A, B, C, D, dan E masing - masing adalah 0, 15, 20, 25, dan 30 ppt. Benih ikan dipelihara dalam wadah pemeliharaan dengan volume air 20 liter dan kepadatan 20 ekor setiap wadahnya selama 40 hari. Pemberian pakan dilakukan secara at satiation pada pukul 08.00, 12.00, dan 16.00 WIB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan salinitas berpengaruh nyata terhadap kelulushidupan dan berpengaruh sangat nyata terhadap pertumbuhan dan rasio konversi pakan ikan nila Larasati (Oreochromis niloticus) F5 serta media salinitas 0–20 ‰ baik bagi kelulushidupan dan pertumbuhan benih ikan nila Larasati (Oreochromis niloticus) F5.  
AGENSIA PENYEBAB VIBRIOSIS IKAN LELE DUMBO (Clarias gariepinus) PADA KOLAM BEKAS TAMBAK UDANG Indrarini, Dani; Prayitno, Slamet Budi; Sarjito, -
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (584.383 KB)

Abstract

Tingginya permintaan pasar terhadap ikan lele menyebabkan pembudidaya bekerja keras untuk meningkatkan hasil produksi melalui upaya budidaya intensif dalam pemanfaatan lahan bekas tambak. Seiring dengan adanya pemanfaatan lahan bekas tambak yang memiliki kandungan salinitas rendah, maka dimungkinkan untuk terdeteksinya bakteri genus Vibrio. Vibriosis merupakan penyakit bakterial yang sangat merugikan usaha budidaya ikan karena dalam waktu yang sangat singkat dapat menimbulkan tingkat kematian yang tinggi. Metode yang digunakan adalah metode eksploratif. Ikan sampel diambil dari Desa Bulumanis Kabupaten Pati dan Desa Desa Wonosari Kabupaten Demak sebanyak 10 ekor yang diduga terserang penyakit bakteri. Isolasi bakteri menggunakan media TCBS. Organ yang diisolasi yaitu luka – luka pada permukaan tubuh, hati, dan ginjal ikan lele. Hasil isolasi diperoleh 23 isolat lalu diseleksi berdasarkan morfologi koloni hingga diperoleh 5 isolat (LPL14, LDL8, LPG10, LPL4, dan LDH1) untuk uji postulat koch. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gejala klinis ikan lele yang terserang Vibriosis adalah luka kemerahan/borok (ulcer) pada permukaan tubuh, hemoragi (luka kemerahan), perut berisi cairan kuning dan sirip gripis yang disertai luka kemerahan. Identifikasi bakteri dilanjutkan dengan uji biokimia. Agensia penyebab Vibriosis ikan lele pada kolam bersalinitas rendah adalah bakteri genus Vibrio  (LPL 14, LDL 8, dan LPG 10), Vibrio vulnificus (LDH 1), dan Vibrio harveyi (LPL4). Pengamatan histopatologi diperoleh bahwa terjadi kerusakan pada organ hati berupa kelainan nekrosis, degenerasi vakuola, melanomakrofag, dan kongesti. High market demand of catfish causes an increase of the farmer effort to increase the production by extensification using unproductive brackish pond area. In a row of using a brackish pond area which has a low salinity, consequently Vibriosis are detected in the pond culture. Vibriosis is a bacterial diseases that can causes loss in aquaculture at a short time can lead a high mortality rate. Research method used explorative method. 10 samples of fish were taken from Bulumanis village, Pati regency and Wonosari village, Demak regencies which were potentially infected by Vibrio. Isolation of bacteria were done in TCBS medium. Bacterial isolates were collected from fish lesion on the body surface, liver, and kidney of catfish. Isolation were able to gained 23 isolates and then 5 isolates (LPL14, LDL8, LPG10, LPL4, and LDH1) were selected based on colony morphology to do postulates koch’s test. The results of this research showed that the clinical signs of catfish infected by Vibrio were redness lesions/ulcer on the body surface, hemorrhagic, fluid inside stomach, and fin eroded with redness wound. Bacterial identification through biochemical test revealed that the causative agent of catfish disease at brackish pond area were bacteria of the genus Vibrio (LPL 14, LDL 8, and LPG 10), Vibrio vulnificus (LDH 1), and Vibrio harveyi (LPL4). Observation of histopathology found necrosis, vacuolar degeneration, melanomacrofage, and congestion in the liver.
PENGARUH PERENDAMAN RECOMBINANT GROWTH HORMONE (rGH) DENGAN DOSIS BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN RAJUNGAN (Portunus pelagicus, Linnaeus 1758) Faramida, Richa Na’imatul; Rejeki, Sri; Yuniarti, Tristiana
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (591.212 KB)

Abstract

Rajungan (Portunus pelagicus) merupakan hasil perikanan yang sangat potensial dan menjadi salah satu komoditi ekspor unggulan yang masih kurang optimal pertumbuhannya dan tingkat kelulushidupan benihnya sangat rendah. rGH berfungsi mengatur pertumbuhan tubuh, reproduksi, dan sistem imun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian rGH dengan dosis yang berbeda melalui metode perendaman terhadap laju pertumbuhan, frekuensi pergantian kulit, periode pergantian kulit, dan kelulushidupan rajungan serta mengetahui dosis perendaman rGH yang terbaik dari masing-masing perlakuan. rGH yang digunakan berasal dari ikan kerapu kertang. Hewan uji adalah crablet muda rajungan yang berumur 30-40 hari dengan bobot 2,26±0,72 gram. Padat tebar yang digunakan adalah 30 ekor/kolam yaitu terdiri dari 1 perlakuan 3 ulangan. Pakan yang diberikan adalah pakan rucah yang diberikan secara fix feeding rate 5% dari bobot tubuh. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan rancangan acak kelompok (RAK). Pemeliharaan dilakukan pada kolam semi indoor dengan menggunakan basket untuk tiap individu. Pemberian rGH dilakukan secara langsung dengan dosis 0 mg/L, 2 mg/L, 4 mg/L, dan 6 mg/L dengan 1 kali perendaman di awal pemeliharaan selama 1 jam. Pemeliharaan dilakukan selama 40 hari dan dilakukan pengukuran pertumbuhan setiap 10 hari sekali.Hasil penelitian menunjukkan bahwa perendaman hormon rGH berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap penambahan bobot dan laju pertumbuhan relatif bobot, dan tidak berpengaruh nyata (P>0.05) terhadap frekuensi molting, periode molting dan kelulushidupan. Perlakuan perendaman hormon rGH (B, C dan D) menunjukkan hasil bahwa ke tiga perlakuan tersebut tidak berbeda nyata. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa perendaman hormon rGH selama 1 jam mampu meningkatkan bobot (6,83±1,02), dan RGR (6,32 ±0,88).       Blue swimming crab (Portunus pelagicus) is a potential fishery comodity and become one of the leading export that are still less than optimal growth and high mortality rate during on growing. rGH functions to regulated body growth, reproduction and immune system. The purpose of this research were to find out the effects of rGH hormon on the growth, moulting periode and frequency, and survival rate of blue swimming crab and to find out the dosege that gives the best growth and survival rate.  rGH hormone derived from giant crouper. Crablet of blue swimming crab 30 – 40 days old with average weight of 2,26±0,72 grams. Were used stocking density  was 30 individuals/tank. A Group Randomized Design was applied in this research. Maintenance of crab on a semi indoor pond with use of one basket for one individu. There were from treatments A 0 mg/L, B 2 mg/L, C 4 mg/L, and D 6 mg/L each treatment was replicated 3 times the blue swimming crab were immersed according to the treatment for 1 hours. Immersion is done directly without shocking salinity according to the prescribe dosage. Maintenance performed for 40 days and measured growth every 10 days. The result of the research showed that application of rGH significantly (P<0,05) affected relative growth rates, but no significant (P>0.05) affect on the moulting frequency, moulting period, and survival rate. Based on the result of this reaserch can be conclude and the dosage of 6 mg/L give the best result of growth (6,83±1,02) and RGR (6,32 ±0,88).              
Profil Darah Dan Kelulushidupan Ikan Nila Pandu F5 (Oreochromis niloticus) yang Diinfeksi Bakteri Streptococcus agalactiae dengan Kepadatan Berbeda Putri, Rias Ramadhani; Basuki, Fajar; Hastuti, Sri
Journal of Aquaculture Management and Technology Vol 2, No 2 (2013) : Journal of Aquaculture Management and Technology
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (100.566 KB)

Abstract

Tilapia Pandu (Oreochromis niloticus) is the result repair genetic conducted activities cross breeding between females nila gift and male nila singapore called pandu. This research intent to know and hematology tilapia pandu infected by bacteria Streptococcus agalactiae.Method is used a experimental laboratories. A completely randomized design was applied to the research with 3 treatments and 3 replicates, treatment A (density bactery 105), B (density bactery 107) and C (density bactery 109). Variables tested include the number of erythrocyte, leuchocyte, haemoglobin, hematocrite, blood glucose, and survival rate on days 7 and 14. The results obtained by the infection bacteria S. agalactiae are not significant against hematology and survival rate tilapia pandu. The number of erythrocytes was highest in treatment C for 1.78±0,07x 106 sel/mm3, the highest leucocyte in treatment C for 120,57±4,82 x 103 sel/mm3, the highest haemoglobin in treatment C for 7.70±0.36 g/dL, the highest hematocryte in treatment C for 25.80±1.73%, the highest trombocyte in treatment A for 72,00±61,05 x 103 sel/mm3, the highest blood glucose in the treatment B for 74.53±34,10 g/dL and the highest survival rate in the treatment B and C each for 89.78±0.12%. The results obtained that bacterial infection of S. agalactiae gives no real influence on the blood profile and survival rate tilapia pandu.
ANALISA KESESUAIAN PERAIRAN PULAU PARI SEBAGAI LAHAN BUDIDAYA TIRAM MUTIARA (Pinctada maxima) DENGAN APLIKASI TEKNOLOGI PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Sinaga, Simon Giando; Hartoko, Agus; Ariyati, Restiana Wisnu
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (694.866 KB)

Abstract

Tiram mutiara merupakan komoditas ekspor yang penting bagi indonesia karena memiliki nilai jual tinggi. Kegiatan budidaya tidak lepas dari penentuan lokasi yang sesuai bagi organisme yang dikultur, tetapi keyataanya penentuan lokasi masih berdasarkan feeling atau trial error. Hal ini menyebabkan pengembangan budidaya laut tidak berjalan dengan optimal. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pengukuran variabel oseanografi fisika, kimia dan biologi serta model spasial kesesuaian perairan untuk budidaya tiram mutiara (Pinctada maxima.) di Perairan Pulau Pari, Kepulauan Seribu. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei yaitu pengumpulan data lapangan kemudian analisis data melalui pendekatan spasial. Pengumpulan data dilakukan dengan cara pengukuran langsung ke lapangan, kemudian data yang telah didapatkan diolah pada citra Landsat 8  dengan menggunakan software Er Mapper 7.0 dengan tahapan terdiri dari Plotting titik koordinat, Pemodelan geo-statistik, cropping citra, gridding, overlay, pembuatan layout dan scoring  sehingga dihasilkan suatu model spasial. Peta yang dihasilkan kemudian diolah untuk menduga nilai kesesuaian perairan untuk budidaya tiram mutiara. Analisa kesesuaian perairan dilakukan dengan pembuatan matriks kesesuaian kemudian pembobotan dan penghitungan skor berdasarkan tingkat pengaruh dari setiap parameter terhadap daerah yang berpotensi untuk dijadikan kawasan budidaya laut. Peta hasil kesesuaian lahan budidaya di Pulau Pari menunjukkan daerah dengan tingkat kesesuaian berada pada kelas sesuai dan sesuai bersyarat. Daerah kesesuaian berada pada perairan terbuka. suatu perairan yang terlindung untuk kawasan budidaya tiram mutiara berpengaruh terhadap keberlanjutan usaha budidaya. Daerah pada semua stasiun direkomendasikan untuk dijadikan usaha budidaya karena merupakan daerah yang  tidak berada pada jalur pelayaran dan termasuk dalam kelas kesesuaian sesuai. Pearl Oyster is an important export comodity for Indonesia which has a high value. The cultivation activity can not be separated from the election of land suitability for the organism which cultured. The problem of land election is based on the feeling or trial error. It makes the marine cultivation is not running optimally. The aim of this research is surveying the oceanography variable such as physics, chemistry and biology with spatial modelling as a land suitability for land Pearl Oyster (Pinctada maxima.) Cultivation in Pari Islad water, Seribu Island. The method of this research is survey methode which is data accumulation then data analyze by spatial modelling. Data accumulation was got by measuring in that place, then the data processing was did by using Er Mapper 7.0 Software. The stage of data processing was coordinate plotting, geo-statistic  modelling, gridding, overlay, make the layout, and scoring until product spasial modelling. Then the map was processed to presume land suitability value for pearl oyster culvation. The Analyze of land suitability is did by using a suitability matrices. The rating and scoring was based on the effects level of each parameter from the potencial region to be a sea cultivation area. The results map of the land suitability cultivation in Pari Island indicate that the level of suitability region is in suitable and marginally suitable. The suitable are is in the open water. The protect area of a pearl oyster cultivation give an effect for  an cultivation activity. All the station are recommended to make a cultivation area because the areas is not a ship traffic and included  a suitable area.
PENGARUH KOMBINASI EKSTRAK NANAS DALAM PAKAN BUATAN DAN PROBIOTIK PADA MEDIA TERHADAP EFISIENSI PEMANFAATAN PAKAN DAN PERTUMBUHAN IKAN TAWES (Puntius javanicus) Wulandhari, Pramenthari Sisti; Rachmawati, Diana; Susilowati, Titik
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (496.509 KB)

Abstract

Ikan tawes (Puntius javanicus) merupakan ikan endemik dari jawa yang mudah dibudidayakan. Efisiensi pemanfaatan pakan masih rendah yang berakibat pada biaya produksi pada pakan yang mencapai 60-70%. Penambahan ekstrak nanas yang mengandung enzim bromelin dapat memecah polipeptida menjadi monopeptida. Selanjutnya kualitas air yang buruk mempengaruhi kinerja tubuh dalam memanfaatkan pakan untuk pertumbuhan. Probiotik dapat mendekomposisi bahan organik atau material beracun dalam air sehingga kualitas air akan menjadi lebih baik. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui interaksi dan kombinasi terbaik dengan pemberian ekstrak nanas dalam pakan komersil dan probiotik pada media terhadap efisiensi pemanfaatan pakan dan pertumbuhan ikan tawes (P. javanicus). Penelitian ini menggunakan metode eksperimental RAL pola faktorial dengan dua faktor, faktor pertama berupa ekstrak nanas  yang terdiri dari tiga taraf perlakuan dan faktor kedua berupa probiotik yang terdiri atas dua taraf perlakuan dan masing-masing diulang sebanyak tiga kali (ordo 3x2x3). Ikan uji berupa benih ikan tawes (P. javanicus) (bobot rerata 2,03±0,16 g/ekor) dengan kepadatan 1 ekor/L yang dipelihara selama 42 hari. Perlakuan yang digunakan adalah Perlakuan A1B1 (Pakan uji 0,75 % ekstrak nanas dan 1 ml/L probiotik), Perlakuan A1B2 (Pakan uji 0,75 % ekstrak nanas dan 1,5 ml/L probiotik), Perlakuan A2B1 (Pakan uji 1,5 % ekstrak nanas dan 1 ml/L probiotik), Perlakuan A2B2 (Pakan uji 1,5 % ekstrak nans dan 1,5 ml/L probiotik), Perlakuan A3B1 (Pakan 2,25 % ekstrak nanas dan 1 ml/L probiotik) dan Perlakuan A3B2 (Pakan uji 2,25 % ekstrak nanas dan 1,5 ml/L probiotik). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan dosis nilai terbaik adalah perlakuan A2B2 yang mampu menghasilkan nilai sebesar 86,25 % (EPP) dan 4,73 %/hari (RGR). Kualitas air pada media pemeliharaan terdapat pada kisaran yang layak untuk pemeliharaan ikan uji. Tawes fish (P. javanicus) is an endemic fish from Java which is easy to cultivate. Efficiency of feed utilization is low, that make cost of production in the feed reaches 60-70%. Addition of pineapple extract that contain bromelain enzyme can break down polypeptides into monopeptides. Poor water can impact metabolism and health of fish. It can be treated with probiotics. Probiotics can decompose organic matter or toxic materials in the water so that water quality will get better. The aim of this research is to find the interaction and combination of therapy with pinneapple extract into commercial feed and probiotics into media for feed efficiency and growth of tawes (P. javanicus). This research used experimental RAL method of factorial pattern with two factors, first factor of pineapple extract consisting of three treatment levels and second factor of probiotic consisting of two treatment levels and each repeated three times (order 3x2x3). Fish samples used are the fry of P. javanicus with an average weight of 2,03±0,16 g with a density of 1 fish/L were maintained for 42 days.The treatments used are A1B1 treatment (feed diet 0.75% pineapple extract and 1 ml / L probiotics), Treatment A1B2 (feed diet 0.75% pineapple extract and 1.5 ml / L probiotic), treatment A2B1 (feed diet 1.5% pineapple extract and 1 ml / L probiotic), treatment A2B2 (feed diet 1.5% pineapple extract and 1.5 ml / L probiotic), treatment A3B1 (feed diet 2.25% pineapple extract and 1 ml / L probiotic) and treatment A3B2 (feed diet 2.25% pineapple extract and 1.5 ml / L probiotics) The results showed that the best of dose treatment A2B2 which is able to generate value 86,25% (EPP) and 4,73%/day (RGR). Water quality in the maintenance media contained in the reasonable range for the maintenance of the test fish.
Pengaruh Perbedaan Dosis Pakan Keong Mas Dan Ikan Rucah Pada Kepiting Bakau.(Scylla paramamosain) Terhadap Pertumbuhan dan Kelulushidupan Dengan Sistem Battery di Tambak Tugu, Semarang Sadinar, Bintang; Samidjan, Istiyanto; Rachmawati, Diana
Journal of Aquaculture Management and Technology Vol 2, No 4 (2013) : Journal of Aquaculture Management and Technology
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (282.796 KB)

Abstract

Mud crab is one of the marine living resources of high economic value, occupants biota type has been commercially cultivated in many tropical countries. Mud crabs are well known in the domestic market and abroad as a tasty meat flavor and high nutritional value which contains many important Nutrients such as minerals and fatty acids. The material used is a mud crab (Syilla paramamosain) with an average weight of 100 grams were 36 tails. The method used was experimental methods carried out in the field, using a completely randomized design (CRD). The treatment is given in the form of feeding snails with a dose of 3%, 5%, 7%, and 5% trash fish. Respectively for treatments A, B, C, and D, with 3 replications. The results showethat the dose of different feed snails provide a significant influence on the growth of absolute and specific growth rate of mangrove crabs, but give no significant effect on survival growth of mud crab. Mud crab highest absolute weight gained from treatment C (116.60±0.06 g), and then treatment D (112.67±0.471 g), treatment B (112.08±0.273 g), and the treatment of A (108.63±0.27 g), while the value of survival was 85.19%, 96.30%, 100%, and 85.19% , each on treatment A, B, C, and, D. Water quality are still in a decent range for maintenance of mud crab.