cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Aquaculture Management and Technology
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Journal of Aquaculture Management and Technology diterbitkan oleh Program studi Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Undip. JAMTech menerima artikel-artikel yang berhubungan dengan akuakultur, nutrisi pakan ikan, parasit dan penyakit ikan, produksi budidaya, dll.
Arjuna Subject : -
Articles 305 Documents
ANALISIS LAJU PERTUMBUHAN RELATIF, EFISIENSI PEMANFAATAN PAKAN DAN KELULUSHIDUPAN BENIH IKAN GURAMI (Osphronemus gouramy) MELALUI SUBTITUSI SILASE TEPUNG BULU AYAM DALAM PAKAN BUATAN Wibowo, Wahyu Prasetyo; Samidjan, Istiyanto; Rachmawati, Diana
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (312.106 KB)

Abstract

Bahan pakan utama seperti tepung ikan yang digunakan sebagian besar berasal dari impor, kondisi ini mengakibatkan harga pakan ikan menjadi mahal. Salah satu cara untuk menanggulangi masalah ketergantungan bahan baku protein hewani yang mahal yaitu dengan memanfaatan limbah bulu ayam. Limbah bulu ayam dapat dijadikan silase tepung bulu ayam sebagai pengganti tepung ikan yang dapat menekan biaya produksi. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui pengaruh substitusi tepung ikan dengan silase tepung bulu ayam pada pakan terhadap pertumbuhan relatif dan kelulushidupan ikan gurami (O. gouramy) dan mengetahui komposisi terbaik subtitusi tepung ikan dengan silase tepung bulu ayam pada pakan yang memberikan pertumbuhan relatif dan kelulushidupan terbaik ikan gurami (O. gouramy). Ikan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih ikan gurami (O. gouramy) dengan bobot rata-rata 4,51±0,06 g/ekor dan padat tebar 25 ekor/m3. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap 5 perlakuan dan 3 kali ulangan. Perlakuan A (Substitusi 0% silase tepung bulu ayam), perlakuan B (Substitusi 25% silase tepung bulu ayam), perlakuan C (Substitusi 50% silase tepung bulu ayam), perlakuan D (Substitusi 75% silase tepung bulu ayam), perlakuan E (Substitusi 100% silase tepung bulu ayam). Variabel yang diamati meliputi bobot mutlak, laju pertumbuhan  relatif (RGR) dan efisiensi pemanfaatan pakan (EPP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa silase tepung bulu ayam dalam pakan buatan memberikan pengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap pertumbuhan bobot mutlak, RGR, dan EPP. Dosis terbaik perlakuan B 25% silase tepung bulu ayam silase dan 75% tepung ikan dalam pakan mampu menghasilkan bobot mutlak, RGR dan EPP masing-masing sebesar 74,31 g, 1,56%/hari dan 43,44%. The main feed ingredients such as fish meal used mostly from imports, conditions have resulted in the price of fish feed to be expensive. One way to address the problem of dependence on raw materials of animal protein is expensive is by memanfaatan waste chicken feathers. Waste chicken feathers can be used as silage chicken feather meal as a substitute for fish meal which can reduce the cost of production. The purpose of this study was to determine the effect of substitution of fish meal with a chicken feather meal silage on feed relative to the growth and survival rate of carp (O. gouramy) and determine the best composition substitution of fish meal with a chicken feather meal silage on the feed that provides the best relative growth and survival rate gourami (O. gouramy). The fish samples used in this study is the seed of carp (O. gouramy) with an average weight of 4,51±0,06 g/ individual and stocking density 25 fish / m3. This research used experimental method completely randomized design with 5 treatments and 3 repetitions. Treatment A (Substitution 0% silage flour chicken feathers), treatment B (Substitution 25% silage flour chicken feathers), treatment of C (Substitution 50% silage flour chicken feathers), treatment D (Substituted 75% silage flour chicken feathers), treatment E (Substitution 100 % silage chicken feather meal). Variables observed absolute weight, relative growth rate (RGR) and the efficiency of feed utilization (EPP). The results showed that chicken feather meal silage in artificial diet provides highly significant effect (P <0.01) on the growth of absolute weight, RGR, and EPP. Best dose treatment and 25% silage silage chicken feather meal and 75% fish meal in feed capable of producing absolute weight, RGR and EPP respectively by 74,31 g, 1,56% / day and 43,44%. 
IDENTIFIKASI BAKTERI VIBRIO YANG BERASOSIASI DENGAN PENYAKIT BAKTERIAL PADA KEPITING BAKAU (Scylla serrata) YANG BERASAL DARI REMBANG Ashofa, Eni Ashfa; Sarjito, -; Prayitno, Slamet Budi
Journal of Aquaculture Management and Technology Vol 3. No 2 (2014): Journal of Aquaculture Management and Technology
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (531.466 KB)

Abstract

Kendala produksi kepiting bakau adalah masih menggantungkan populasi kepiting bakau dari alam untuk perikanan tangkap dan  budidaya sehingga tidak ada kontrol kesehatan bagi kultivan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bakteri vibrio yang menginfeksi kepiting bakau dan mengetahui gejala klinis akibat infeksi bakteri. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksploratif. Sampling dilakukan pada 30 ekor kepiting sampel kemudian dipilih 6 kepiting yang memiliki gejala klinis terserang penyakit bacterial untuk diisolasi. Gejala klinis sampel kepiting yaitu karapas berwarna gelap, bercak merah, bercak hitam dan bercak coklat pada ventral, dan luka. Isolasi dilakukan dengan spread plate method yaitu menggoreskan hasil dilusi organ target (hepatopankreas, insang, luka, dan hemolymph) ke media Thiosulphate Citrate Bile Salt. Isolasi didapatkan 18 isolat bakteri kemudian dipilih 5 isolat yaitu SJR5, SJR9, SJR10, SJR16, SJR17. Bakteri terpilih kemudian dilakukan uji postulat Koch pada 9 kepiting sehat dengan penyuntikan 0,2 ml bakteri terpilih dengan dosis 108 CFU/ml dan dilakukan pengamatan gejala klinis dan kelulushidupan setiap 15 menit. Hasil uji postulat Koch menunjukan kepiting uji pasca infeksi bakteri SJR9, SJR10, SJR16, dan SJR17 mengalami kematian 100% selama 105 menit dan kepiting uji yang diinfeksi bakteri SJR5 mengalami kematian 100% selama 90 menit. Hasil karakterisasi morfologi dan biokimia menunjukan bahwa Vibrio alginolitycus (SJR5), Vibrio parahaemolitycus (SJR9), Vibrio ichthyonteri (SJR10), Vibrio harveyi (SJR16) dan Vibrio salmonicida (SJR17)  merupakan true pathogen yang mengakibatkan kematian kepiting bakau pada lingkungan yang baik. The problem of mud crab production is the availability of mud crab population in nature for capture fisheries and aquaculture, up to know there are no control of mud crab health. The aims of study were to find  the species of vibrio that infected mud crabs, and to know the clinical symptomps due to vibrio bacterial infection. Explorative method was used in this research. 30 mud crabs of selected were sampled and 6 mud crabs were selected which have clinical symptomps bacterial disease. The clinical symptomps mud crab disease was darken carapace, rust spot, black and brown discoloration, and wounds. The bacteria were isolated by spread plate method with spreading dilution of heptopancreas, gills, wounds, and hemolymph on Thiosulphate Citrate Bile Salt medium. It was found 18 bacterial isolates then selected 5 isolate namely SJR5, SJR9, SJR10, SJR16, and SJR17. The selected bacteria followed by postulate Koch trial in 9 mud crabs with injection 0.2 ml bacteria 108 CFU/ml and monitoring clinical symptomps and survival rate every 15 minutes. Postulat Koch’s test showed that mud crab post infection isolate bacteria SJR9, SJR10, SJR16, and SJR17 suffered 100% mortality within 105 minutes and mud crabs which infected bacteria SJR5 experienced 100% mortality in 90 minutes. The results of morphological and biochemical characteristics of bacteria showed Vibrio alginolitycus (SJR5), Vibrio parahaemolitycus (SJR9), Vibrio ichthyonteri (SJR10), Vibrio harveyi (SJR16) and Vibrio salmonicida (SJR17) were true pathogenic bacteria that viruilend to mud crabs.
PENGARUH PEMBERIAN TEPUNG TESTIS SAPI DENGAN DOSIS YANG BERBEDA TERHADAP KEBERHASILAN JANTANISASI PADA IKAN CUPANG (Betta sp.) Rachmawati, Dyhar; Basuki, Fajar; Yuniarti, Tristiana
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (323.578 KB)

Abstract

Ikan cupang merupakan salah satu jenis ikan hias air tawar yang populer dan banyak digemari masyarakat. Perkembangan ikan cupang cukup pesat karena mudah untuk dipelihara. Namun, penggemar ikan hias ini lebih menyukai ikan jantan daripada betina karena ikan jantan memiliki nilai estetika dan warna yang lebih bagus dan menarik serta memiliki profit yang lebih tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian tepung testis sapi terhadap persentase kelamin benih ikan cupang jantan dan betina, serta dosis terbaik. Penelitian dilaksanakan di Balai Benih Ikan Siwarak, Ungaran pada bulan Desember 2014-Maret 2015 dengan metode penelitian menggunakan ekperimental. Rancangan yang digunakan adalah RAL (Rancangan Acak Lengkap) dengan 5 perlakuan dan 3 kali ulangan. Dosis yang digunakan adalah perlakuan A dengan dosis 0%, perlakuan B 5%, perlakuan C 10%, perlakuan D 15%, dan perlakuan E 20% dengan pemeliharaan selama 21 hari. Variabel yang diukur meliputi persentase kelamin jantan dan betina, laju kelulushidupan (SR), dan kualitas air. Analisis data menggunakan ANOVA dan apabila terdapat perbedaan yang nyata maka dilakukan uji lanjut yaitu dengan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase jantan dan betina perlakuan A sebesar 42,11%±1,64;57,89%±1,64, perlakuan B sebesar 45,77%±1,92;54,23%±1,92, perlakuan C sebesar 54,43%±3,46;45,57%±3,46, perlakuan D sebesar 65,18%±2,15;34,82%±2,15, dan perlakuan E sebesar 75,46%±2,72;24,54%±2,72. Hasil kelulushidupan (SR) perlakuan A sebesar 53%±1,73, perlakuan B sebesar 55,33%±1,53, perlakuan C sebesar 60%±2,00, perlakuan D sebesar 61,33%±3,21, dan perlakuan E sebesar 69,33%±1,15. Kualitas air selama penelitian masih berada dalam kisaran yang layak untuk kehidupan ikan cupang yaitu suhu 26-270C; pH 6-7; DO 4,06-4,89mg/l. Kesimpulan dari penelitian ini adalah adanya pengaruh yang nyata terhadap pemberian tepung testis sapi selama 21 hari dengan dosis terbaik 20% dan menghasilkan persentase kelamin jantan tertinggi sebesar 75,46%±2,72.Betta fish is one type of freshwater fish are popular and highly favored by the people. Betta fish development is very fast because it is easy to maintain. However , fans betta fish prefer males than females because male fish have aesthetic value , the color is more attractive and has a higher profit. This study aimed to determine the effect of the testis flour cows on the percentage of seed sex male and female betta fish , as well as the best dose. Research conducted at the Fish Seed Center Siwarak , Ungaran in December 2014 - March 2015 by using experimental research methods. The design used is RAL (Rancangan Acak Lengkap) with 5 treatments and 3 replications. The dose used is a treatment with a dose of treatment A 0 % , treatment B 5 %, treatment C 10 %, treatment D 15 %, and treatment E 20 % with maintenance for 21 days. Measured variables include the percentage of male and female, survival rate ( SR ), and water quality. Data analysis using ANOVA and if there is a noticeable difference then conducted a further test is the test of Duncan. Results of the percentage of male and females treatment A has a value of 42.11%±1.64 ; 57.89%±1.64, treatment B has a value of 45.77%±1.92 ; 54.23%±1.92, treatment C has a value of 54.43%±3.46 ; 45.57%±3.46, treatment D has a value of 65.18%±2.15 ; 34.82%±2.15, and treatment E has a value of 75.46%±2.72 ; 24.54%±2.72. Results of the survival rate (SR) treatment A has a value of 53%±1.73, treatment B has a value of 55.33%±1.53, treatment C has a value of 60%±2.00, treatment D has a value of 61.33%±3.21, and treatment E has a value of 69.33%±1.15. Water quality during the research is still in reasonable range for the life of Betta fish are temperature 26-27oC; pH 6-7; DO 4.06-4.89mg/l . The conclusion from this study is that there is a real impact on the provision of flour cow testicle, the best dose given was 20%, and the highest percentage of male sex amounts to 75.46%±2.72.
PENGARUH PERENDAMAN EKSTRAK BAWANG PUTIH (Allium sativum) TERHADAP KELULUSHIDUPAN DAN HISTOLOGI GINJAL IKAN LELE (Clarias gariepinus) YANG DIINFEKSI BAKTERI “Edwardsiella tarda” Sari, Dian Ratna; Prayitno, Slamet Budi; Sarjito, -
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (471.115 KB)

Abstract

Keberadaan bakteri E. tarda yang menyerang ikan lele dumbo dalam kegiatan budidaya merupakan masalah yang serius karena ikan ini memiliki nilai ekonomis tinggi. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut dengan menggunakan bahan alami, seperti bawang putih yang memiliki sifat antibakteri. Bawang putih adalah salah satu tanaman alami yang mengandung bahan-bahan aktif senyawa sulfur seperti aliin, allicin, disulfida, trisulfida. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan ekstrak bawang putih sebagai antibakteri E. tarda, mengetahui pengaruh perendaman ekstrak bawang putih terhadap kelulushidupan ikan lele dumbo yang diinfeksi bakteri E. tarda, mengetahui kelainan histologi ginjal ikan lele dumbo yang diinfeksi bakteri E. tarda, sertamengetahui dosis yang terbaik dari ekstrak bawang putih dalam penelitian ini.Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap yang terdiri dari 4 perlakuan dan 3 kali pengulangan. Perlakuan yang digunakan yaitu perlakuan A (dosis 0 ppm), B (dosis 1000 ppm), C (dosis 2000 ppm) dan D (dosis 3000 ppm). Ikan lele yang digunakan sebanyak 120 ekor dengan ukuran rata-rata 9,07±0,21 cm selanjutnya diinfeksi bakteri E. tarda dengan kepadatan 107 CFU/mL. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada uji sensitivitas ekstrak bawang putih mampu memberikan efektivitas antibakteri secara in vitro. Perendaman ekstrak bawang putih berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kelulushidupan ikan lele yang diinfeksi bakteri E. tarda. Nilai kelulushidupan terendah hingga tertinggi dimulai pada perlakuan A sebanyak 13,13%, B sebesar 56,67%, D sebesar 56,67% dan C sebanyak 76,67%. Kelainan jaringan yang terjadi pada organ ginjal yaitu kongesti, nekrosis dan degenerasi vakuola. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa konsentrasi terbaik ekstrak bawang putih untuk mengurangi infeksi E. tarda adalah dosis 2000 ppm. The existence of E. tarda was a serious problem in Catfish farming, that caused  high economic losses in aquaculture. One of the effort to solve this case was the use of  natural ingredient, such as garlic extract which has antibacterial substances. Garlic is a natural plant which contains active ingredients such as sulfur compound, aliin, allicin, disulphide and trisulfida as antibacterial substances. The aims of this research were to determine the ability of garlic extract as an antibacterial of E. tarda, the soaking effect of garlic extract toward survival rate of catfish infected by E. tarda, to observe the abnormalities of liver and kidney in histologically and to determine the best dose of garlic extract to cope E. tarda.  This reasearch used experimental method using a completely randomized design with  4 treatments and 3 repetitions. These treatments were  A (0 ppm), B (1000 ppm), C (2000 ppm) and D (3000 ppm). The Catfish used were 120 fish, around 9,07±0,21 cm in size, then they were infected by E. tarda with dose 107 CFU/mL. The result of this research showed that on antibacterial sensitivity test of garlic extract was able to make an antibacterial effect from in vitro test. The soaking of garlic extract showed a significant effect (P<0.05) toward survival rate of Catfish infected by E. tarda. The lowest to higest of survival rate were treatment A (13.13%), B (56.67%), D (56.67%) and C (76.67%). The observation of histology in kidney showed congestion, necrosis and vacuola degeneration. From that research it can be concluded that the best garlic extract concentrations to reduce E. tarda infection was 2000 ppm.
PERAN BAWANG PUTIH DALAM PAKAN SEBAGAI IMUNOSTIMULAN TERHADAP KONDISI KESEHATAN, KELULUSHIDUPAN, DAN PERTUMBUHAN IKAN TAWES (Puntius javanicus) Andriani, Citra; Hastuti, Sri; Sarjito, - -
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (745.08 KB)

Abstract

Kebutuhan pasar ikan tawes semakin meningkat sehingga perlu ditunjang dengan peningkatan pengendalian penyakit, keseimbangan gizi, dan kinerja pertumbuhan. Penggunaan imunostimulan merupakan pilihan yang mampu untuk meningkatkan kinerja pertumbuhan dan pengendalian penyakit dengan meningkatkan kekebalan tubuh ikan. Bawang putih termasuk jenis tanaman obat yang dikenal mampu berfungsi sebagai imunostimulan Pengambilan data penelitian dilakukan selama 48 hari yang dilakukan di Balai Benih Ikan (BBI) Mijen, Semarang. Wadah pemeliharaan yang digunakan kolam beton dengan ukuran 2x2x1 m yang disekat dengan waring menjadi 6.  Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental laboratoris, dengan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan 5 perlakuan dalam 3 kelompok.  Perlakuan yang digunakan selama penelitian terdiri dari perlakuan A,B,C,D,E yaitu dengan dan tanpa penambahan ekstrak bawang putih, penambahan ekstrak bawang putih masing-masing dengan dosis 2.5 g/kg; 5 g/kg; dan 10 g/kg. Untuk mengevaluasi manfaat penambahan imunostimulan dilakukan uji in vivo dengan infeksi bakteri Aeromonas sp. Hasil penelitian menunjukan bahwa penambahan ekstrak bawang putih pada pakan memberikan pengaruh yang berbeda terhadap nilai kelulushidupan, pertumbuhan namun memberikan pengaruh yang sama terhadap kondisi kesehatan. Perlakuan dengan penambahan ekstrak dosis 10 g/kg menunjukkan nilai tertinggi pada kelulushidupan (83.33 %), total konsumsi pakan (97.40 g), laju pertumbuhan relatif (2.72 %/hari). Pengamatan gejala klinis pasca infeksi Aeromonas sp. menunjukkan ikan tawes terdapat bercak kuning ditubuh, warna tubuh memucat, serta sisik lepas.   Kualitas air pada media pemeliharaan berada pada kisaran yang sesuai untuk budidaya ikan tawes.  Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa penambahan ekstrak bawang putih pada pakan dengan dosis 10 g/kg memberikan hasil tertinggi pada kelulushidupan dan pertumbuhan. Java barb increasing so should be supported by increased for disease control, balance nutrition, and growth performance. Additional imunostimulan an option to improve growth performance and control disease by increasing fish immune. Garlic kind of medicines known capable of functioning as imunostimulan. The research was carried out for 48 days at Balai Benih Ikan (BBI) Mijen, Semarang. A container maintenance is a concrete with size 2x2x1 m with nets to 6 part with the water level 40 cm. The methodology used was experimental laboratoris, using the randomized complete block design with 5 treatment in 3 group. Those who used during the experience with and without additional extract garlic, the extract garlic with a dose 2.5 g/kg; 5g/kg; and 10g/kg. To evaluate benefits additional imunostimulan undergone a in vivo with bacterial infection Aeromonas sp. The result of research that the addition of extract garlicin in  feed showed a significant result toward survival rate (SR,) growth performance, but gave not significant on health conditions. Treatment by adding extract doses 10 g/kg shows on the highest the scene (97.40 g), rgr(2.72 %/day), sr(83.33 %).The clinical symptoms post infection A.hydrophila show fish here are yellow spotting  skin , the color of the body blanch, and loose scales.Water quality in a media maintenance was in the range of appropriate to the cultivation of fish .The conclusion of research is the addition to extract garlic with a dose 10 g/kg results on the highest survival rate and growth performance. 
Pengaruh Penggunaan Dua Jenis Media Kultur Teknis yang Berbeda Terhadap Pola Pertumbuhan, Kandungan Protein dan Asam Lemak Omega 3 EPA (Chaetoceros gracilis) Jati, Fhibia; Hutabarat, Johannes; Herawati, Vivi Endar
Journal of Aquaculture Management and Technology Vol 1, No 1 (2012): Journal Of Aquaculture Management and Technology
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.876 KB)

Abstract

Pakan alami sebagai penunjang budidaya ikan dan sekaligus sebagai faktor pendukung keberhasilan budidaya semakin giat dibudidayakan. Salah satu pakan alami yang memiliki banyak manfaat adalah Chaetoceros gracilis. Kelebihan dari mikroalga ini disamping pemeliharaanya mudah juga memiliki nilai nutrisi yang baik. Untuk mendapatkan C. gracilis dengan pola pertumbuhan dan kandungan nutrisi yang optimum diperlukan media dengan komposisi yang tepat antara nutrien makro maupun mikro yang diperlukan oleh mikroalga tersebut karena nutrisi media merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan komposisi biokimia mikroalga. Selama ini belum banyak penelitian mengenai kandungan nutrisi terutama protein dan kandungan asam lemak omega 3 pada diatom C. gracilis. Maka dari itu dari penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan media kultur teknis Walne dan Guillard terhadap pola pertumbuhan C. gracilis, kandungan protein dan asam lemak omega 3 EPA. Penelitian ini dilaksanakan di Satuan Kerja Balai Benih Udang (Satker BBU) Sluke, Rembang, Jawa Tengah pada bulan November - Desember 2011. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental. Uji yang digunakan adalah uji t. Perlakuan yang digunakan adalah perbedaan media kultur, dengan 2 perlakuan dan 6 ulangan. Data yang dikumpulkan meliputi konstanta pertumbuhan spesifik dan waktu lag phase. Materi yang digunakan adalah C. gracilis yang dikultur secara semi massal pada media teknis Guillard dan Walne. Hasil panen C. gracilis kemudian di analisa kandungan nutrisi dan kandungan asam lemaknya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media teknis Guillard dan Walne tidak berpengaruh (P>0,05) terhadap waktu lag phase dan konstanta pertumbuhan spesifik C. gracilis. Kandungan protein C. gracilis pada media Guillard adalah 34,03 % pada fase eksponensial dan 30,11 % pada fase stasioner, sedangkan pada media Walne kandungan protein C. gracilis adalah 32,77 % pada fase eksponensial dan 26,78% pada fase stasioner. Kandungan asam lemak omga 3 EPA C. gracilis pada media Guillard adalah 8,1609 %, sedangkan pada media Walne adalah 6,5951 %.  
PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG ALGA COKLAT (Sargassum sp.) DALAM PAKAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN EFISIENSI PEMANFAATAN PAKAN BENIH LELE (Clarias sp.) Sahara, Riyand; Herawati, Vivi Endar; Sudaryono, Agung
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.392 KB)

Abstract

Pakan merupakan salah satu faktor yang dapat menunjang perkembangan budidaya ikan. Pakan yang sesuai dengan tingkat kebutuhan nutrisi dan memiliki nilai kecernaan yang tinggi dapat mendukung pertumbuhan maksimal ikan. Alga coklat (Sargassum sp.) memiliki material imunostimulan yang dapat digunakan sebagai feed supplement untuk pakan ikan karena memiliki kandungan nutrisi seperti protein, vitamin, karbohidrat, serat kasar, lipid dan mineral. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penambahan tepung alga coklat (Sargassum sp.) dalam pakan terhadap pertumbuhan dan efisiensi pemanfaatan pakan benih lele (Clarias sp.). Variabel yang dikaji meliputi nilai efisiensi pemanfaatan pakan (EPP), protein efisiensi rasio (PER), pertumbuhan mutlak (G), laju pertumbuhan spesifik (SGR), dan kelulushidupan (SR). Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 3 ulangan yaitu perlakuan A (tepung Sargassum sp. dosis 0%), B (tepung Sargassum sp. dosis 1%), C (tepung Sargassum sp. dosis 2%), D (tepung Sargassum sp. dosis 3%) dan E (tepung Sargassum sp. dosis 4%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan tepung alga coklat (Sargassum sp.) dalam pakan berpengaruh (P<0,05) terhadap EPP, PER, G dan SGR, namun nilai SR untuk semua perlakuan menunjukkan hasil yang sama (P>0,05). Perlakuan D dan E memberikan nilai EPP, PER, G dan SGR tertinggi (P<0,05), yaitu masing-masing sebesar (78,83-81,04%), (2,00-2,04), (100,39-103,53 g) dan (2,66-2,70%/hari). Berdasarkan pada hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penambahan tepung alga coklat (Sargassum sp.) dalam pakan mampu meningkatkan nilai EPP, PER, dan Pertumbuhan pada benih lele (Clarias sp.). The fish feed was one of the important factor required for the fish culture. Feed that matched with nutritional requirement and has high value of digestion values will be able to promote maximum growth of fish. Brown algae (Sargassum sp.) Have immunostimulatory material that can be used as a feed supplement for fish food because it contains nutrients such as protein, vitamins, carbohydrates, crude fiber, lipids and minerals This study aimed to examine the effect of adding flour brown algae (Sargassum sp.) in diets on growth and feed utilization efficiency of seed catfish (Clarias sp.). The variables examined include the efficiency of feed utilization (EPP), protein efficiency ratio (PER), Absolute Growth (G), specific growth rate (SGR), and survival rate (SR). This study used a completely randomized design (CRD) with 5 treatments and 3 replications that treatment A (Sargassum sp. flour doses of 0%), B (Sargassum sp. flour dose of 1%), C (Sargassum sp. flour dose of 2%), D (Sargassum sp. flour dose of 3%) and E (Sargassum sp. flour dose of 4%). The use of Sargassum sp. significantly affect FE, PER, G and SGR values (P<0.05), but did not show a significantly effect towards the value of SR (P>0.05). The treatment D and E showed highest FE, PER, G and SGR (P<0.05), with value of (78.83-81.04%), (2.00-2.04), (100.39-103.53 g) and (2.66-2.70%/days). It was suggested that the used of Sargassum sp. in practical diet was able to increase the FE, PER, G and SGR values for the catfish (Clarias sp.).
Profil Darah Ikan Nila Kunti (Oreochromis Niloticus) yang Diinjeksi Streptococcus agalactiae dengan Kepadatan Berbeda Matofani, Ayu Shinta; Hastuti, Sri; Basuki, Fajar
Journal of Aquaculture Management and Technology Vol 2, No 2 (2013) : Journal of Aquaculture Management and Technology
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.628 KB)

Abstract

S. agalactiae is a bacteria that often attack tilapia. The purpose of this study was to examine the blood profile of Tilapia Kunti that infected by bacterium S. agalactiae with use variable concentration of erythrocytes, leukocytes, haemoglobin, hematocrit, trombocyte, and blood glucose. The method used was a completely randomized design (CRD) with 3 treatments and 3 replications. Treatment I (Tilapia Kunti injected using S. agalactiae with density 105), treatment II (tilapia kunti injected using S. agalactiae with density107), and treatment III (tilapia kunti injected using S. agalactiae with density 109). The results showed that the tilapia kunti injected using S. agalactiae with different densities have significant differences on the hematocrit and no significant differences on erythrocytes, leukocytes, haemoglobin, trombocyte, blood glucose and survival rate. The highest concentration of erythrocytes was observed in treatment II, in the amount of 1.933 ± 0.162 x106 cells/mm3, the highest concentration of leukocytes was observed in treatment II, in the amount of 122.267 ± 3.265 x103 cells/mm3, the highest concentration of hemoglobin was observed in treatment II, in the amount of of 9.333 ± 0.404 g / dL, the highest concentration of hematocrit was observed in treatment II, in the amount of is 30.933 ± 1.168%, the highest trombocyte concentration was observed in treatment I, in the amount of 30.333 ± 14.742 x103/μL, the highest blood glucose concentrations was observed in treatment I, in the amount of 73.933 ± 47.446 mg / dL, and the highest survival rate was observed in treatment II, in the percentage of 94.443 ± 9.624%.
PRODUKSI NAUPLII DAN COPEPODIT Oithona sp. YANG DIKULTUR DENGAN PERBEDAAN DIET MIKROALGA (Chlorella vulgaris, Chaetoceros calcitrans, DAN Isochrysis galbana) Syarifah, Dian Hidayah; Suminto, -; Chilmawati, Diana
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.117 KB)

Abstract

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa Oithona sp. dapat digunakan sebagai pakan alami kegiatan budidaya air laut. Nauplii dan copepodit Oithona sp. mempunyai ukuran yang sesuai untuk pakan pertama larva ikan.Perlu dilakukan kajian tentang produksi Oithona sp. agar mencapai maksimal sehingga mampu mencukupi kebutuhan dalam kegiatan budidaya. Kajian 5 diet mikroalga dilakukan untuk mengetahui pengaruhnya terhadap produksi nauplii dan copepodit sekaligus untuk mendapatkan diet dengan hasil terbaik pada kedua stadia tersebut. Penelitian eksperimental laboratoris ini dilakukan di Laboratorium Pakan Hidup Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara dengan rancangan percobaan acak lengkap (RAL) masing-masing 3 pengulangan untuk setiap perlakuan. Perlakuan diet berdasarkan pada dosis 0.01 mg berat kering mikroalga untuk setiap satu individu copepoda. Kelima perlakuan diet untuk kultur Oithona sp. selama 22 hari adalah C. vulgaris (Cv); Cv+I. galbana (Ig) (1:1); Cv+C. calcitrans (Cc) (1:1); Cc+Ig (1:1); dan Cv+CC+Ig (1:1:1). Kultur Oithona sp. dilakukan pada botol kaca vial 50 ml dengan volume air laut 10 ml dan kepadatan awal Oithona sp. stadia dewasa 1 ind.ml-1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian diet mikroalga yang berbeda berpengaruh nyata (P<0,05) pada produksi nauplii dan copepodit Oithona sp. Kepadatan nauplii (39,83 ± 2,334 ind.ml-1) dan copepodit (12,93 ± 0,170 ind.ml-1) adalah maksimum pada hari ke 22. Berdasarkan hasil penelitian ini disimpulkan bahwa diet Cc+Ig dan Cv+Cc+Ig masing-masing menghasilkan produksi nauplii dan copepodit terbaik. Diet Cc+Ig disarankan sebagai diet untuk pengembangan kultur Oithona sp. selanjutnya. Many research had showed that Oithona sp. could be used as a live food on marine culture activity. Nauplii and copepodit Oithona sp. have the suitable size for the fish fry. A studied about Oithona sp. production must be done to get the maximum production so it can fulfill the need of culture. The studied of 5 microalgal diet purposed to look for the diet effect for nauplii and copepodit production and also to got the best production of both stadia. This experimental laboratoris had done in Live Feed Laboratorium of Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara with Completely Randomized Design (CRD) triplicate for each treatment. Microalgal diet treatment based on 0.01 mg microalgal dry weight for one individu of copepod. That five trathments for 22 days Oithona sp. culture were C. vulgaris (Cv); Cv+ I. galbana (Ig) (1: 1); Cv+ C.calcitrans (Cc) (1:1); Cc+Ig (1:1); and Cv+Cc+Ig (1:1:1). Oithona sp. cultured on 50 ml vial glass bottle with 10 ml seawater and initial density of Oithona sp. adult stage was 1 ind.ml-1. The experimental result showed that the given of different microalgal diet had  significant effect  (P< 0,05) for nauplii and copepodit production of Oithona sp. Density of nauplii (39,83 ± 2,334 ind.ml-1) and copepodit (12,93 ± 0,170 ind.ml-1) were maximum on 22 day of culture respectively. Conclusion based on this experimental result was Cc+Ig and Cv+Cc+Ig diet produced the best result each on nauplii and copepodit density. Cc+Ig diet was suggested as the diet for the next development of Oithona sp. culture.
PENGARUH SUBSTITUSI SILASE TEPUNG BULU AYAM DALAM PAKAN BUATAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PEMANFAATAN PAKAN IKAN NILA GIFT (Oreochromis niloticus) Nurhayati, Wahyu; Rachmawati, Diana; Samidjan, Istiyanto
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (632.029 KB)

Abstract

Tepung ikan merupakan bahan baku utama yang umum digunakan dalam pakan ikan.Tepung bulu ayam adalah salah satu solusi untuk pengganti tepung ikan karena memiliki protein yang tinggi, namun dalam pengaplikasiannya tepung bulu ayam harus difermentasi menggunakan mikroorganisme Saccharomyces sp. agar menghasilkan enzim protease sehingga tepung bulu ayam dapat lebih mudah dicerna oleh ikan. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh subtitusi tepung ikan dengan silase tepung bulu ayam pada pakan buatan terhadap pertumbuhan relatif dan kelulushidupan ikan nila gift (O. niloticus), seta mengetahui komposisi terbaik yang memberikan pertumbuhan relatif dan kelulushidupan terbaik pada ikan nila gift (O. niloticus). Ikan uji yang digunakan adalah benih ikan nila gift (O. niloticus) dengan bobot rata-rata 2,83±0,13g/ekor dan padat tebar 25ekor/m3. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap 5 perlakuan dan 3 kali ulangan. Perlakuan dalam penelitian ini: perlakuan A (0% silase tepung bulu ayam), B (25% silase tepung bulu ayam), C (50% silase tepung bulu ayam) dan D (75% silase tepung bulu ayam), dan perlakuan E (100% silase tepung bulu ayam). Data yang diamati meliputi laju pertumbuhan relatif (RGR), efisiensi pemanfaatan pakan (EPP) dan rasio konversi pakan (FCR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa silase tepung bulu ayam dalam pakan buatan memberikan pengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap RGR, EPP dan FCR. Dosis terbaik perlakuan B 25% silase tepung bulu ayam mampu menghasilkan RGR, EPP dan FCR masing-masing sebesar 3,42%/hari, 78,32% dan 1,18. Feathers meal is one of the solutions to replace fish meal because higher protein, but to apply feathers meal must trhough fermentation using Saccharomyces sp. microorganism in order to produce proteases so feathers meal can more digested by fish.This study’s purpose was to know the effect of fish meal substitution with a feather meal silage on artificial feed to the growth and survival rate gift tilapia (O. niloticus), also know the best composition substitution that provides the relative growth and best survival rate on larasati tilapia (O. niloticus). The fish samples used are gift tilapia (O. niloticus) with an average weight of 2,83±0,13g/fish and stocking density of 25 fish/m3 of water. This research used experimental method completely randomized design with 5 treatments and 3 repetitions. The treatment in this study: treatment A (0% flour feathers meal silage), B (25% flour feathers meal silage), C (50% flour feathers meal silage) and D (75% flour feathers meal silage), and treatment E (100% flour feather meal silage). Data observed relative growth rate (RGR), efficiency of feed utilization (EPP) and feed convertion ratio (FCR). Results showed that the feather meal silage in artificial feed provides highly significant effect (P <0.01) against the RGR, EPP and FCR. Best dose treatment 25% feather meal silage are capable of generating RGR, EPP and FCR by 3,42%/day,78,32% and 1,18. Feathers meal is one of the solutions to replace fish meal because higher protein, but to apply feathers meal must trhough fermentation using Saccharomyces sp. microorganism in order to produce proteases so feathers meal can more digested by fish.This study’s purpose was to know the effect of fish meal substitution with a feather meal silage on artificial feed to the growth and survival rate gift tilapia (O. niloticus), also know the best composition substitution that provides the relative growth and best survival rate on larasati tilapia (O. niloticus). The fish samples used are gift tilapia (O. niloticus) with an average weight of 2,83±0,13g/fish and stocking density of 25 fish/m3 of water. This research used experimental method completely randomized design with 5 treatments and 3 repetitions. The treatment in this study: treatment A (0% flour feathers meal silage), B (25% flour feathers meal silage), C (50% flour feathers meal silage) and D (75% flour feathers meal silage), and treatment E (100% flour feather meal silage). Data observed relative growth rate (RGR), efficiency of feed utilization (EPP) and feed convertion ratio (FCR). Results showed that the feather meal silage in artificial feed provides highly significant effect (P <0.01) against the RGR, EPP and FCR. Best dose treatment 25% feather meal silage are capable of generating RGR, EPP and FCR by 3,42%/day,78,32% and 1,18.

Page 8 of 31 | Total Record : 305