cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Aquaculture Management and Technology
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Journal of Aquaculture Management and Technology diterbitkan oleh Program studi Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Undip. JAMTech menerima artikel-artikel yang berhubungan dengan akuakultur, nutrisi pakan ikan, parasit dan penyakit ikan, produksi budidaya, dll.
Arjuna Subject : -
Articles 305 Documents
PENGARUH PERENDAMAN BERBAGAI DOSIS EKSTRAK DAUN JERUJU TERHADAP KELULUSHIDUPAN Scylla serrata YANG DIINFEKSI Vibrio harveyi Ardiantami, Agatya Sara; Sarjito, -; Prayitno, Slamet Budi
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (340.337 KB)

Abstract

Kepiting bakau (Scylla serrata) menjadi salah satu komoditas perikanan yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Akan tetapi, tingkat permintaan tidak berbanding lurus dengan tingkat produksi. Salah satu kendala yang dihadapi adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri. Salah satu penyakit bakterial yang sering menginfeksi kepiting bakau adalah vibriosis. Upaya pengobatan yang dilakukan masih menggunakan bahan kimia seperti antibiotic, padahal penggunaan antibiotik dapat menimbulkan dampak negatif, yaitu resistensi bakteri patogen dan residu yang dapat mencemari lingkungan. Alternatif pengobatan selain menggunakan antibiotik, yaitu menggunakan bahan alami yang bersifat antibakterial, seperti tumbuhan jeruju (A. ilicifolius). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perendaman ekstrak daun jeruju terhadap kelulushidupan, pertumbuhan dan gejala klinis kepiting bakau yang diinfeksi V. harveyi. Kepiting bakau yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 48 ekor dengan rata-rata bobot tubuh, yaitu 41.81+0.56 gram. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Semua kepiting disuntik dengan bakteri V. harveyi dengan tingkat kepadatan 106 CFU/ml dan direndam dengan ekstrak daun jeruju dengan dosis 0 ppm (perlakuan A), 400 ppm (perlakuan B), 600 ppm (perlakuan C) dan 800 ppm (perlakuan D). Hasil penelitian menunjukkan bahwa gejala klinis yang terlihat pada kepiting bakau, yaitu gerakan pasif, kaki-kaki merenggang, kaki renang berwarna merah, melanosis pada karapas (menghitam dan bercak coklat). Persentase kelulushidupan pada perlakuan B, C dan D mencapai 100%, sedangkan perlakuan A, yaitu 83.33%. Kualitas air pada media pemeliharaan menunjukkan masih didalam kisaran yang layak untuk kehidupan kepiting bakau. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa perendaman ekstrak daun jeruju menunjukkan hasil tidak berpengaruh nyata terhadap kelulushidupan kepiting bakau. Mud crab (Scylla serrata) became one of fishery commodity which have a high-economic value. But, the demand rate not propotional with production level. One of an obstacle that be faced was disease that caused by bacterial. One of a bacterial disease that often infection mud crab was vibriosis. Medical eforts an usual conducted still using chemical matter like an antibiotic, in fact, the using of antibiotic can appear negative impacts were pathogen bacterial become resistent and residue can be soiled to environment. Medical alternative besides using antibiotic was using a natural matter which have an antibacterial characteristic was jeruju plant (A. ilicifolius). This research was aimed to know the effect of jeruju leaf extract immersion to survival rate, growth and clinical signs on mud crab that infected by V. harveyi. Mud crab that using in this research amount 48 crab with body weight average was 41.81+0.56 gram. This research was using completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 3 replications. All crabs injected by V. harveyi with density 106 CFU/ml and immersed with jeruju leaf extract with dose 0 ppm (treatment A), 400 ppm (treatment B), 600 ppm (treatment C) and 800 ppm (treatment D). The results showed that the Clinical signs on mud crab were passive motion, distantly-spaced leg, red-colour on swim leg, melanosys on carapace (blackened and brown spot). Percentage of SR on treatments B, C, D reaches 100%, but treatment A was 83.33%. Water quality on maintaince media showed that still in feasible range for mud crab life. Based on the results of this research was concluded that the submersion with jeruju leaf extract showed not significant effect on survival rate of mud crab.
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK DAUN BINAHONG (Anredera cordifolia) PADA PAKAN TERHADAP KELULUSHIDUPAN DAN PROFIL DARAH LELE DUMBO (Clarias gariepinus) YANG DIINFEKSI Aeromonas caviae Kurniawan, Adhi; Sarjito, -; Prayitno, Slamet Budi
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (461.176 KB)

Abstract

Ikan lele dumbo (C. gariepinus) adalah ikan yang cukup populer di kalangan masyarakat Indonesia, khususnya di pulau Jawa. Salah satu kendala dalam budidaya lele dumbo adalah serangan penyakit MAS (Motile Aeromonas Septicemiae) yang disebabkan oleh bakteri Aeromonas sp. Penyakit ini sangat ganas, khususnya pada ikan lele. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan ekstrak daun binahong (Anredera cordifolia) terhadap kelulushidupan lele dumbo yang diinfeksi Aeromonas caviae. Hewan uji yang digunakan adalah lele dumbo berukuran 10±0,12 cm dan bobot 25±0,1 gr. Metode penelitian ini adalah eksperimen dengan 4 perlakuan yaitu perlakuan A (tanpa pemberian ekstrak daun binahong), B (2,5%), C (5%), dan D (7,5%) dengan pemberian pakan selama 14 hari. Uji tantang dilakukan dengan menyuntikkan suspensi A. caviae dengan dosis 1,5x108 sel/mm3 sebanyak 0,1 mL secara intramuskular. Pengamatan dilakukan selama 9 hari pasca infeksi yang meliputi kelulushidupan, gejala klinis, dan profil darah lele dumbo. Hasil pengamatan total eritrosit hari ke-3 pasca infeksi mengalami penurunan disemua perlakuan dibandingkan hari ke-0. Hari ke-6 sampai hari ke-9 pasca infeksi total eritrosit mengalami kenaikan. Total leukosit hari ke-3 dan hari ke-6 pasca infeksi mengalami penurunan disemua perlakuan. Kadar hematokrit hari ke-3 dan hari ke-6 pasca infeksi mengalami penurunan disemua perlakuan dibandingkan hari ke-0. Hasil penelitian menunjukkan gejala klinis ikan lele yang terserang A. caviae diantaranya respon pakan menurun, berenang tidak normal, timbul luka disertai pendarahan dibagian penyuntikan. Pemberian ekstrak daun binahong pada lele dumbo tidak berpengaruh nyata terhadap kelulushidupan lele dumbo pasca infeksi A. caviae. Dalam penelitian ini dosis ekstrak daun binahong yang ditambahkan pada pakan kurang efektif sebagai immunostimulan lele dumbo setelah infeksi A. caviae. The Catfish (C. gariepinus) is one of most freshwater fish for Indonesian people, especially in Java. One of the problems of intensive catfish culture is disease caused by Motyle Aeromonas Septicemia (MAS). This disease known very pathogenic, especially for catfish. The aim of this research was to investigate the effect of Anredera cordifolia leaf extract toward hematology and survival rate of C. gariepinus infected by Aeromonas caviae. The tested fish C. gariepinus average weight was 25±0,1 g. This research was conducted with 4 (four) treatments namely, A (treatment with no leaf extract A. cordifolia), B (2,5% leaf extract), C (5% leaf extract), and D (7,5% leaf extract) respectively. The challenge test was done by injecting of 0,1 ml A. caviae suspensions with dosage of 108 cell/mm3 intra-muscularly. Observation was performed for 9 days after infection. The parameter observed were survival rate, clinical symptoms, and hematology. The observation demonstrated that erythrocyte at all treatment 3 days after infection were decrease at all treatment. Erythrocyte for 6 days to 9 days after infection increase all treatment. Leuchocyte level 3 days and 6 days after infection was decreases in all treatment similarly. Hematokrit level 3 days to 6 days after infection also decrease at treatment,  respectively clinical symptoms observation infected catfish showed swam abnormally, injured and haemorhagic on the skin along with damaged on the body. Immersion with A. cordifolia extract leaf past infection indicated that they were not significantly different on C. gariepinus survival rate. Therefore the dosage of A. cordifolia leaf extract is not effective to protect C. gariepinus from A. caviae infection.
KEBERHASILAN JANTANISASI IKAN RAINBOW (Melanotaenia sp.) DENGAN STADIA YANG BERBEDA MELALUI PERENDAMAN TEPUNG TESTIS SAPI Himawan, Asrul; Hastuti, Sri; Yuniarti, Tristiana
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (912.129 KB)

Abstract

Ikan rainbow (Melanotaenia sp.) merupakan salah satu ikan hias yang banyak dicari oleh penggemar ikan hias. Ikan rainbow jantan mempunyai kelebihan dibandingkan betinanya antara lain lebih cepat pertumbuhannya, postur tubuh lebih besar, dan warna yang lebih cerah. Sehingga ikan rainbow jantan lebih bernilai ekonomis dibandingkan yang betina. Salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan tersebut yaitu dengan melakukan metode pengarahan jenis kelamin. Penelitian  ini bertujuan untuk mengetahui stadia terbaik dengan penggunaan tepung testis sapi (TTS) untuk keberhasilan jantanisasi pada ikan rainbow (Melanotaenia sp.). Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode eksperimen dan Rancangan Acak Lengkap Faktorial yang terdiri dari 2 faktor (dosis dan stadia) dengan 3 kali ulangan. Ikan uji yang digunakan telur berumur 3 hari dengan kepadatan 100 butir dan larva yang baru menetas dengan kepadatan 100 ekor per wadah dengan waktu pemeliharaan 60 hari. Perlakuan tersebut adalah A1B1 (telur umur 3 hari dengan dosis 0 ppm), perlakuan A1B2 (larva baru menetas dengan dosis 0 ppm), perlakuan A2B1 (telur umur 3 hari dengan dosis 80 ppm), dan perlakuan A2B2 (larva baru menetas dengan dosis 80 ppm) dengan waktu perendaman yaitu 24 jam. Data yang diamati meliputi derajat penetasan telur, persentase jantan dan betina (%), kelulushidupan (SR) dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukan bahwa derajat penetasan telur ikan rainbow adalah pada perlakuan A1B1 95,67%+0,58 dan perlakuan A2B1 95,67%+2,08. Persentase kelamin jantan dan kelamin betina tertinggi pada perlakuan A2B1 74,22%+1,85 dan perlakuan A1B1 yaitu 64,30%+1,75. Kelulushidupan (SR) ikan rainbow tertinggi adalah pada perlakuan C 98,61%+0,57. Kualitas air pada media pemeliharaan pada kisaran layak untuk budidaya Ikan Rainbow (Melanotaenia sp.) yaitu suhu 26-280C; pH 7,0-8,0; dan DO 4,3-5,0 mg/l. Kesimpulan dari penelitian ini adalah perendaman menggunakan tepung testis sapi dengan stadia yang berbeda pada perendaman telur maupun larva memberikan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap persentase jantan dan betina sedangkan pada derajat penetasan dan kelulushidupan tidak berpengaruh nyata (P>0,05). Perlakuan terbaik adalah perlakuan A2B1 (telur umur 3 hari) merupakan stadia terbaik menghasilkan persentase kelamin jantan sebesar 74,22%+1,85.Rainbow fish (Melanotaenia sp.) is one of the ornamental fish which has a sought by ornamental fish lover. The male rainbow fish has more interesting physical appearance than the female, for instance its rapid growth, bigger posture and brighter body color. Sex reversal is a possible way to enhance the male fish. This study aims to determine the best stadia with the use of cow testis flour (CTF) for succeeding the  masculinization on rainbow fish (Melanotaenia sp.). This research was conducted by using experimental method and factorial completely randomized design consisted of 2 factors (dosage and stage) with 3 replications. The object of this research used 3 days age of  eggs with 100 grains density and newly hatched larvae with a density of 100 individuals per container with 60 days cultivation. The treatments were A1B1 (3 days age eggs with 0 ppm CTF), treatment A1B2 (newly hatched larvae with 0 ppm CTF), A2B1 treatment (3 days age of eggs with 80 ppm CTF), and A2B2 treatment (newly hatched larvae with 80 ppm CTF) with 24 hours of submersion. The parameters of this research were hatching rate, male and female percentage (%), survival rate (SR) and water quality. The results showed that the highest hatching rate of rainbow eggs was at treatment A1B1 95.67% + 0,58 and A2B1 95,67% + 2.08. The highest percentage of male rainbow fish was at treatment A2B1 98,61% + 0,57. The quality water in cultivation media was in the proper range for rainbow fish cultivation (Melanotaenia sp.) as the  temperature 26-280C; pH 7,0-8,0; and DO 4.3-5.0 mg/l. The conclusion of this research was that different stage of rainbow fish submersion with cow testicle flour on eggs and larvae showed  signifcant effect (P <0.05) on the percentage of males and females while the hatching rate and survival rate did not showed significant effect (P>0.05). Treatment A2B1 was the best result as it produced 74,22±1,85% of male rainbow fish. 
PENGARUH PENGGUNAAN EKSTRAK BUAH NANAS TERHADAP TINGKAT PEMANFAATAN PROTEIN PAKAN DAN PERTUMBUHAN IKAN MAS (Cyprinus carpio) Anugraha, Riana Slamet; Subandiyono, -; Arini, Endang
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.927 KB)

Abstract

Ikan mas (Cyprinus carpio) merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang memiliki kandungan protein tinggi serta mempunyai nilai ekonomis penting. Penambahan ekstrak buah nanas pada pakan dapat meningkatkan pemanfaatan protein lebih optimal untuk pertumbuhan kultivan. Enzim bromelin yang terdapat di dalam ekstrak buah nanas dapat menghidrolisis protein menjadi komponen-komponennya yang lebih sederhana. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh ekstrak buah nanas dalam pakan buatan terhadap tingkat pemanfaatan protein pakan, serta keterkaitan dengan nilai efisiensi pemanfaatan pakan (EPP), protein efisiensi rasio (PER), laju pertumbuhan relatif (RGR), dan kelulushidupan (SR). Ikan uji yang digunakan adalah ikan mas dengan ukuran 3-5 cm dengan kepadatan 20 ekor/ wadah perlakuan. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan, yaitu perlakuan A (tanpa penambahan ekstrak buah nanas), B (ekstrak buah nanas dosis 0,75%), C (ekstrak buah nanas dosis 1,5%), dan perlakuan D (ekstrak buah nanas dosis 2,25%). Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan dengan menggunakan ekstrak buah nanas yaitu perlakuan B, C, dan D (P<0,05) memberikan pengaruh terhadap nilai EPP, PER dan RGR dan mendapat nilai tertinggi dibandingkan perlakuan tanpa menggunakan ekstrak buah nanas (perlakuan A). Nilai kelulushidupan antar perlakuan tidak berbeda nyata (P>0,05). Perlakuan terbaik untuk nilai EPP, PER, dan RGR diperoleh pada perlakuan B, yaitu dengan nilai EPP 27,21±3,93; PER 0,81±0,12, dan  RGR 0,67±0,11. Perlakuan B memiliki hasil terbaik untuk nilai EPP, PER, dan RGR. Carp (Cyprinus carpio) is one of the freshwater fish which contained high protein level  and it has high economical value. The use of the pineaple extract could improve the optimal utilization of protein compsumtion by carp (C. carpio) for their optimal growth. Bromelain enzyme found in the pineaple extract could hydrolize the protein to be more simple component. This study aims to study the effect of pineaple extract in artificial feed on the  feed utilization rate and its relations to the efficiency of feed utilization (EPP), protein efficiency ratio (PER), relative growth rate (RGR), and survival (SR). The fish body lenght used was between 3-5 cm. The density was 20 fish/tank. This study used a completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 3 replicates. The treatments were A (without the addition of pineaple extract), B (pineaple extract 0,75%), C (pineaple extract 1,5%), and D (pineaple extract 2,25%). The data showed that the utilization of pineaple extract resulted on the more significant effect (P<0,05) on the EPP, PER, and RGR, values  compared  to the treatment A. The survival rate was not significantly different between treatments (P>0,05). The best treatment on the EPP, PER, and RGR were treatment B with a value of 27,21±3,93 EPP, 0,81±0,12 PER, 0,67±0,11 RGR. Treatment B had the best results for EPP, PER, and RGR.
PRODUKSI Daphnia sp. YANG DIBUDIDAYAKAN DENGAN KOMBINASI AMPAS TAHU DAN BERBAGAI KOTORAN HEWAN DALAM PUPUK BERBASIS ROTI AFKIR YANG DIFERMENTASI Wibisono, Muhamad Ary; Hastuti, Sri; Herawati, Vivi Endar
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (385.893 KB)

Abstract

Daphnia sp. merupakan alternatif pakan alami  yang seringkali digunakan memenuhi kebutuhan  pertumbuhan benih ikan. Kandungan nutrisi dalam tubuh Daphnia sp.. Bergantung pada pupuk yang digunakan. Nutrisi ini dapat berasal dari bahan organik tersuspensi dan bakteri yang diperoleh dari pupuk yang ditambahkan ke dalam media kultur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui produksi Daphnia sp. yang dibudidayakan dengan kombinasi ampas tahu dan berbagai kotoran hewan dalam pupuk berbasis roti afkir yang difermentasi serta, kombinasi terbaik  terhadap pertumbuhan dan produksi Daphnia sp.. Padat penebaran Daphnia sp. yaitu 100 ind/l. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan 4 perlakuan . Perlakuan dalam penelitian ini yaitu Perlakuan A  (0%  kotoran , 50% ampas tahu dan 50% roti afkir), B (25% kotoran ayam, 25% ampas tahu  dan 50% roti afkir),  C (25% kotoran kambing, 25% ampas tahu dan 50 % roti afkir, D (25% kotoran burung puyuh, 25% ampas tahu dan 50% roti afkir) dengan Jumlah total kombinasi yaitu 200 g/l. Data yang diamati meliputi kepadatan populasi, biomassa,kepadatan fitoplankton, kandungan nutrisi dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kombinasi ampas tahu dengan berbagai kotoran hewan dalam pupuk berbasis roti afkir yang difermentasi menunjukan bahwa Perlakuan D (25% kotoran burung puyuh, 25% ampas tahu dan 50% roti afkir) menghasilkan kepadatan populasi tertinggi yaitu 2270.67 ind/ml pada fase stasioner, dikarenakan pada Perlakuan D memiliki kandungan Nutrisi (NPK) pupuk organik setelah fermentasi sebesar Nitrogen (N): 3,99; Phosphor (P): 1,33; dan Kalium (K): 2,34. Perlakuan D (25% kotoran burung puyuh, 25% ampas tahu dan 50% roti afkir) menghasilkan Biomassa sebesar  389 gram, dan kepadatan fitoplankton tertinggi sebesar 52135 sel/ml.  Daphnia sp. was one of alternative natural feeds that oftenly used to fulfill the needs of fish growth. Nutrition contained on the Daphnia sp. depended on the fertilizer that used. This nutrition could be came from suspended organic matters and bacteria that gained from the fertilizer that added to the culture media. This research was aimed to knew the production of Daphnia sp. which cultured with combined tofu waste and animal feces in the fertilizer based on the fermented bread waste and knew the best treatment according to the growth and Daphnia sp. production. The density of Daphnia sp. was 100 ind/ml.  This research used experimental methods with complete randomize design of 4 treatments and the repetition of counted population as 3 times. Treatments on this research was Treatment A  (0% feces , 50% tofu waste and 50% bread waste), B (25% chicken mannure, 25% tofu waste  and 50% bread waste),  C (25% sheep feces, 25% tofu waste and 50% bread waste, D (25% quail feces, 25% tofu waste and 50% bread waste) with the total ammount of the combination was 200 g/l. Data that observed during this research were population density, biomass, fitoplankton density, nutrition content, and water quality. The result of this research showed that the additition of combined tofu waste with some animal feces on the fertilizer based on fermented bread waste gave Treatment D (25% quail feces, 25% tofu waste dan 50% bread waste) as the best treatment with the population density valued by 2270.67 ind/ml. during the stasioner phase, because Treatmment D had nutrition contain (NPK) on the organic fertilizer after fermentation was Nitrogen (N): 3,99; Phospor (P): 1,33; and Kalium (K): 2,34. Treatment D (25% quail feces, 25% tofu waste dan 50% bread waste) resulted Biomass 385.3 grams, and fitoplankton density was valued 52135 cells/ml.
Potensi Chlorella sp. sebagai Imunostimulan untuk Pencegahan Penyakit Bercak Putih (White Spot Syndrome Virus) pada Udang Windu (Penaeus Monodon) Ermantianingrum, Aulia Ayu; Sari, Rohita; Prayitno, Slamet Budi
Journal of Aquaculture Management and Technology Vol 1, No 1 (2012): Journal Of Aquaculture Management and Technology
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.31 KB)

Abstract

ABSTRAK Chlorella sp. merupakan salah satu mikroalga yang berpotensi sebagai imunostimulan untuk meningkatkan sistem pertahanan tubuh udang windu terhadap infeksi penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian Chlorella sp. terhadap sistem pertahanan tubuh udang windu. Metode yang digunakan adalah metode eksperimental menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan masing-masing terdiri dari 3 ulangan. Perlakuan yang diujikan yaitu penambahan Chlorella sp. pada pakan dengan perlakuan A (tanpa penambahan Chlorella sp.), perlakuan B (5 gr/kg pakan),  perlakuan C (10 gr/kg pakan), dan perlakuan D (15 gr/kg pakan). Hewan uji yang digunakan adalah udang windu (P. monodon) stadia juvenil dengan bobot rata-rata 5,37±0,3 gram. Parameter yang diamati yaitu total haemocyte count (THC), differential haemocyte count (DHC), dan kelulushidupan udang windu yang diinfeksi WSSV. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian Chlorella sp. tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap total haemocyte count (THC), differential haemocyte count (DHC), dan kelulushidupan udang windu yang diinfeksi WSSV. Pencegahan penyakit pada udang windu dapat dilakukan dengan pemberian imunostimulan untuk meningkatkan sistem imun, meskipun tidak ada udang windu yang hidup dalam 6 hari setelah diinfeksi WSSV. Kualitas air selama penelitian masih dalam kisaran layak untuk kehidupan udang windu.   ABSTRACT Chlorella sp. is a microalga that has potency as an immunostimulant to increase immune system of black tiger shrimp. The purpose of this research was to find out the effect of Chlorella sp. to increase immune system of black tiger shrimp. The experiment method used in this research was Completely Randomized Design (RAL) with 4 treatments and each of them consists of 3 replication. The treatments were A without addition of Chlorella sp., treatment B, C, and D with addition of Chlorella sp. 5, 10, 15 gram/kg diet respectively. The experiment animals was black tiger shrimps (P. monodon) juvenile with average weight 5,37±0,3 gram. Parameters observed were total haemocyte count (THC), differential haemocyte count (DHC), and survival rate of black tiger shrimp infected by WSSV. The results of research indicated that the addition of Chlorella sp. Within the diets showed no significant effect (P>0,05) on total haemocyte count (THC), differential haemocyte count (DHC), and survival rate of black tiger shrimp. Disease prevention of black tiger shrimp could be done by an administration of immunostimulant to stimulate or increase immune system. However, there was no shrimp was survived within 6 days after challenged with WSSV. The water quality during the research within ideal range for the life of black tiger shrimps.  
ANALISA USAHA KEGIATAN PEMBESARAN UDANG VANAME (Litopenaeus Vannamei) DI POKDAKAN SUDI MAKMUR KECAMATAN PALANG KABUPATEN TUBAN, JAWA TIMUR Wiguna, Ghani Bagas; Elfitasari, Tita; Rachmawati, Diana
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.7 KB)

Abstract

Prospek dari pengembangan usaha pembesaran udang vaname di POKDAKAN Sudi Makmur Kecamatan Palang Kabupaten Tuban memiliki potensi yang baik karena tingginya permintaan pasar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aspek teknis dan aspek finansial kegiatan pembesaran udang vaname POKDAKAN Sudi Makmur Kabupaten Tuban. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah studi kasus. Hasil dan kesimpulan yang diperoleh yaitu berdasarkan Aspek teknis budidaya , pembesaran udang vaname meliputi persiapan media budidaya, penebaran benih, pemberian pakan, pengelolaan kualitas air, panen dan pemasaran.  Hasil penelitian ditinjau dari aspek ekonomi berupa modal investasi berkisar Rp. 28.950.000 sampai dengan Rp. 41.600.000,-, biaya variabel berkisar Rp. 511.000.000 sampai dengan Rp. 361.100.000 /tahun, pendapatan sebesar Rp. 976.800.000 sampai deengan Rp. 1.272.800.000/tahun Berdasarkan hasil dari penelitian ini, disimpulkan bahwa usaha pembesaran udang vaname secara intensif di Kabupaten Tuban dikatakan layak untuk di jalankan dengan nilai PP rata-rata sebesar 0.53 sampai dengan 0.61 tahun, nilai NPV 3,395,134,139 sampai dengan 7,969,643,695; B/C ratio 1.7 sampai dengan 1.9 . The prospect of the development of vannamei shrip hatchery business in POKDAKAN Sudi Makmur Palang regency  district Tuban has a good potency because demand for shrimp is also quite high. The purpose of this research is to analyse technical aspect and financial aspect of  development of vannamei shrimp in POKDAKAN Sudi Makmur in district Tuban. The data collection method used in this research is interview method and questionnaire distribution method. Results and conclusions obtained are based on technical aspects of vannamei shrimp hatchery include culture preparation, feed management, water quality management and marketing method.  The result of this research based on economical aspect is capital investation is Rp. 28.950.000 to Rp. 41.600.000,-, variabel cost Rp. 511.000.000 to Rp. 361.100.000,-/year, income Rp. 976.800.000 to Rp. 1.272.800.000,-/year. Based on the result of this research concluded that intensive vannamei shrimp culture at district Tuban is feasible to be continued with averge PP 0.53 to 0.61, NPV 3,395,134,139 to 7,969,643,695,-, B/C ratio 1.7 to 1.9.
Pengaruh Penggunaan Ekstrak Daun Jeruju (Acanthus Ilicifolius) Dengan Dosis Berbeda Terhadap Gambaran Darah, Gejala Klinis Dan Kelulushidupan Lele Dumbo (Clarias gariepinus) Yang Diinfeksi Aeromonas hydrophila Ziyadaturrohmah, Siti; Prayitno, Slamet Budi; Sarjito, Sarjito; Hidayati, Nurul; Saptiani, Gina
Journal of Aquaculture Management and Technology Vol 2, No 4 (2013) : Journal of Aquaculture Management and Technology
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (167.27 KB)

Abstract

Aeromonas hydrophila is a causative agent of Haemoragic Septicemia on Clarias gariepinus. The aim of this research was to investigate the effect of Acanthus ilicifolius leaf extract toward survival rate of C. gariepinus infected by A. hydrophila. Tested fish C. gariepinus 10-12 cm and weight ±25 gr. This reasearch was conducted by 4(four) treatments namely, A (treatment with no leaf ectract A. ilicifolius), B (300 ppm), C (500 ppm), and D (700) 30 minutes immersion. The challenge test was done by injecting 0,1 mL A. hydrophila suspensions with dosage 108 cell/mm3 intra-muscular by experiment fishes. Observation was performed for 5 days after infection such as blood profile, clinical symptoms, and survival rate of C. gariepinus. The results of blood profile after the infection showed that hematokrit of A, B, C, and D treatments was 17,33%, 14,67%, 15,00%, 19,67% respectively. Percentage of the highest erythrocyte was at D treatment 1,79x106 sel/mm3, B 1,72 x106 sel/mm3, A 1,64x106 sel/mm3, C 1,52x106 sel/mm3. Percentage of the highest leuchocyte was at C treatment 5,43x104 sel/mm3, D 3,11x104 sel/mm3, B 2,63x104 sel/mm3, and A 2,32x104 sel/mm3. The result showed that clinical symptoms of A. hydrophila infected fish swam abnormally, injured and haemoragic on the skin along with damaged on the body. Immersion with A. ilicifolius extract leaf past infection indicated that they were not significantly different on C. gariepinus survival rate. Therefore the dosage of A. ilicifolius leaf extract did not sufficient to protect C. gariepinus from A. hydrophila infection.
PENGARUH PEMBERIAN PUPUK ORGANIK CAIR DENGAN LAMA PERENDAMAN YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN RUMPUT LAUT (Caulerpa lentillifera) Dewi Nurfebriani Nurfebriani; Sri Rejeki; Lestari Lakhsmi Widowati
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (402.7 KB)

Abstract

Budidaya Caulerpa lentillifera masih terdapat kendala yaitu ketersediaaan bibit yang tidak kontinu.  Hal ini dikarenakan sifatnya yang musiman sehingga mengakibatkan tidak adanya kontuinitas produsi  C. lentillifera setiap waktu. Produksi C. lentillifera dapat ditingkatkan dengan adanya pengembangan teknologi budidaya. Teknologi budidaya yang dilakukan salah satunya dengan penambahan pupuk. Penambahan pupuk pada media pemeliharaan bertujuan untuk mencukupi nutrien yang dibutuhkan untuk rumput laut. Perlu dilakukan penelitian dengan penambahan pupuk organik cair dengan lama perendaman yang berbeda dan lama perendaman yang terbaik untuk pertumbuhan C. lentillifera  guna meningkatkan produksinya. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 5 perlakuan yaitu perlakuan A (0jam); B (2 jam); C (4 jam); D (6 jam) dan E (8 jam) dengan dosis pupuk 2,5 mL/L. Data yang didapatkan selama penelitian meliputi laju pertumbuhan spesifik dan parameter kualitas air. Data dianalisis dengan ANOVA dan dilakukan uji Duncan. Hasil menunjukkan pemberian dosis pupuk organik cair dengan lama perendaman yang berbeda berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap l6 laju pertumbuhan spesifik. Uji Duncan memperlihatkan perlakuan D dengan lama perendaman 6 jam memberikan hasil terbaik dari semua perlakuan dengan nilai laju pertumbuhan spesifik (3.27±5.12%/hari). Parameter kualitas air masih dalam kisaran yang tepat untuk pertumbuhan C. lentillifera. Discontinuity of seeds availability becomes an obstacle in Caulerpa lentillifera cultivation. C. lentillifera is a seasonal variety of seaweed, so that makes it has no continuity of production. C. lentillifera production can be increased by development cultivation technology. One of cultivation technologies can be done is by adding the fertilizer. The aim of fertilizer addition on rearing media is to add the nutrient the seaweed require. Thus, there is a need to study on the effect of immertion duration with liquid organic fertilizer. The aims of this investigation is to find out the effect of different time of liquid organic fertilizer immersion on the growth of C. lentillifera  and to find out the proper time of immersion that result in the best growth of C. lentiilifera. This study was done experimentally by applying a Completely Randomized Design with 5 treatments, namely  A (0 hour); B (2 hours); C (4 hours), D (6 hours) and E (8 hours) with fertilizer dose of 2,5mL/L. Each treatment was replicated 4 repititions. The data collected were specific growth rate and water quality parameters. Data parameters was analyzed using ANOVA  followed by Duncan’s test. The result shows that application of liquid organic fertilizer with different immersion duration  shows highly significantly  affect (P<0.01) on specific growth rate. The best growth was found in treatment D (6 hours) with specific growth rate (3.37±0.17%)/day.  The water quality parameters were still in the proper range for  C. lentillifera growth.
PERFORMA KEMATANGAN GONAD, FEKUNDITAS DAN DERAJAT PENETASAN MELALUI PEMBERIAN KOMBINASI PAKAN ALAMI PADA INDUK UDANG WINDU (Penaeus monodon Fab.) Sabrina, -; Suminto, -; Rachmawati, Diana
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (636.916 KB)

Abstract

Pemberian kombinasi pakan alami cumi-cumi (Loligo sp.), cacing laut (Marphysa sp.) dan tiram (Crassostrea sp.) pada pembenihan udang windu diharapkan dapat meningkatkan kematangan gonad, fekunditas dan derajat penetasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh berbagai kombinasi pakan alami cumi-cumi, cacing laut dan tiram terhadap kematangan gonad, fekunditas dan derajat penetasan pada induk udang windu (P. monodon Fab.). Variabel yang diamati meliputi kematangan gonad, fekunditas dan derajat penetasan (HR). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan kombinasi pakan alami dan 3 kali ulangan. Perlakuan itu adalah A (cumi-cumi 25%, cacing laut 50% dan tiram 25%), B (cumi-cumi 30%, cacing laut 40% dan tiram 30%), C (cumi-cumi 35%, cacing laut 30% dan tiram 35%) dan D (cumi-cumi 40%, cacing laut 20% dan tiram 40%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kombinasi pakan alami pada perlakuan C memberikan tingkat kematangan gonad paling cepat yaitu selama 5 – 6 hari. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa derajat penetasan (HR) pada perlakuan A, B dan C berbeda nyata (P<0,05) terhadap perlakuan D tetapi tidak berbeda nyata (P>0,05) terhadap fekunditas induk udang windu (P. monodon Fab.). Berdasarkan pada hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian kombinasi pakan alami dengan jumlah cacing laut 30 – 50% dapat meningkatkan persentase derajat penetasan (HR) pada induk udang windu (P. monodon Fab.). The combination of live food organisms of squid (Loligo sp.), mudworm (Marphysa sp.) and oyster (Crassostrea sp.) in the tiger prawn hatchery tiger prawn, it’s can be supposed to be increase the maturation, fecundity and hatching rate. The purpose of this research was to observe the effect of the various combination of live food organisms of squid, mudworm and oyster on the maturation, fecundity and hatching rate (HR) broodstock of tiger prawn. The variables measurement were maturation, fecundity and hatching rate (HR). This research was used completely randomized design (CRD) with 4  treatments and 3 replicates, respectively.  Those treatments were A (25% squid, 50% mudworm and 25% oyster), B (30% squid, 40% mudworm and 30% oyster), C (35% squid, 30% mudworm and 35% oyster) and D (40% squid, 20% mudworm and 40% oyster). The result showed that the combination of live food organisms in treatment C was the fastest on the maturation during 5 – 6 days. This research was also showed that the Hatching Rate (HR) in treatment A, B and C were significanly effect (P<0,05) on the treatment D but no significanly effect (P>0,05) on the broodstock fecundity of tiger prawn, P. monodon Fab. Base on the results suggested that the combination of live food organisms in the ranged of mudworm 30 – 50% could to increase the prosentage HR of tiger prawn, P. monodon Fab.

Page 10 of 31 | Total Record : 305