cover
Contact Name
Muhamad Zaenal Muttaqin
Contact Email
mz.muttaqin@uinssc.com
Phone
+6282210831252
Journal Mail Official
diyaalafkar@gmail.com
Editorial Address
Jl. Perjuangan By Pass Sunyaragi, Cirebon, West Java 45132, Indonesia
Location
Kota cirebon,
Jawa barat
INDONESIA
Diya al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis
ISSN : 23030453     EISSN : 24429872     DOI : https://doi.org/10.24235/diyaafkar.v13i2
Core Subject :
Diya al-Afkar is a scholarly journal focusing on the study of the Qur’an and Hadith. This journal publishes scholarly articles in the form of studies on the sciences of the Qur’an and Hadith, interpretations and understandings of the Qur’an and Hadith, research findings-including both literature reviews and field research-related to the Qur’an or Hadith, and/or book reviews. The journal is published twice a year.
Arjuna Subject : -
Articles 190 Documents
MEMILIH PASANGAN HIDUP DALAM PERSPEKTIF HADITS (Tinjauan Teori Dan Aplikasi) Aeni mahmudah
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 4 No. 01 (2016): JUNI
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v4i01.886

Abstract

Memilih pasangan hidup merupakan tahap pertama yang harus dilalui sebelum pernikahan. Beberapa hal bisa mendorong seseorang, saat menentukan siapa yang pantas untuk dijadikan sebagai pendampung hidup. Hal tersebut tidak hanya berorientasi pada kebaikan lahiriah, seperti kecantikan, kekayaan, status sosial, agama, dan budi pekerti. Kriteria tersebut dalam Adat Jawa juga dikenal dengan istilah bobot, bibit, dan bebet. Akan tetapi, Rasulullah Saw dalam hadisnya, lebih menekankan untuk memilih pasangan hidup berdasarkan agama dan budi pekertinya.Pembahasan dalam skripsi ini mencakup tentang: 1) bagaimana kesahihan hadis memilih calon pendamping hidup? 2) bagaimana makna dan interpretasi terhadap hadis tentang memilih pasangan hidup tersebut? serta 3) bagaimana relevansinya hadis nabi terhadap kehidupan sosial masyarakat pada masa kekinian?Sejalan dengan rumusan masalah tersebut di atas, maka tujuan dari penulisan skripsi ini tidak lain adalah untuk mengetahui kesahihan hadis, mengetahui pemaknaan dan interpretasi terhadap hadis tentang memilih pasangan hidup, serta untuk mengetahui relevansi hadis terhadap kehidupan sosial masyarakat pada masa kekinian.Jenis penelitian ini adalah penelitian pustaka dengan membahas buku, baik dari buku primer maupun sekunder yang menjelaskan tentang memilih pasangan hidup, terutama yang berkaitan dengan hadis, Hukum Islam, serta Adat Jawa. Selain itu, penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif, dengan tujuan agar dapat memberi gambaran tentang memilih pasangan hidup, yang berangkat dari teori dalam teks hadis, Hukum Islam, serta Budaya atau Adat Jawa, hingga relevansinya pada masa kini.Hadis pertama yang menjelaskan tentang menikahi perempuan karena kecantikan, keturunan, harta, dan agama, merupakan hadis sahih baik sanad maupun matannya.  Sedangkan hadis kedua tentang menerima pinangan laki-laki yang baik agama serta ahlaknya, pada awalnya merupakan hadis dhaīf, kemudian menjadi hasan lighairihi karena turut menguatkan hadis yang pertama. Dewasa ini dalam memilih pendamping hidup, masyarakat masih senantiasa melangsungkan konsep-konsep tersebut di atas, namun perbedaannya pada masa sekarang ini ada kelonggaran dalam memilih pasangan. Selain itu, baik laki-laki maupun perempuan lebih terbuka dalam menentukan pilihannya. Semua itu sah-sah saja, karena pada dasarnya tujuan atau niat dari memilih pasangan hidup, tidak lain agar kelak rumah tangga yang akan dijalani dapat berbuah kebahagiaan baik di dunia, maupun di akhirat. Kata kunci: pasangan hidup, hadis, teori, aplikasi
KONSEP TAKDIR DALAM AL-QUR’AN ( Studi Tafsir Tematik) Arnesih Arnesih
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 4 No. 01 (2016): JUNI
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v4i01.887

Abstract

Takdir merupakan sebuah sebutan atas pengetahuan Allah Swt yang meliputi seluruh alam.  Allah Swt menulis segala peristiwa yang terjadi baik kepada alam maupun manusia.  Takdir Allah Swt hanya untuk menyelaraskan takdir dengan keinginan manusia, karena manusia diberkahi kelebihan akal untuk mampu membedakan antara perbuatan baik dan perbuatan buruk, Allah Swt hanya membimbing kita menuju amal kebaikan yang menyebabkan kita mempunyai keinginan dan kemudian melakukannya. Amal kebaikan kita didapat melalui keimanan, ketaatan yang tulus dan berdo’a agar selalu mendapatkan ridha Allah Swt.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana konsep takdir dalam al-Qur’an secara kronologis pewahyuan makkiyah dan madaniyah serta perspektif teologis dan sains, sedangkan metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode maudlu’i (tematik), yang berarti menghimpun ayat-ayat yang berkenaan dengan takdir kemudian menyusun secara kronologis ayat makkiyah dan ayat madaniyah. Dalam penyusunan ayat makkiyah dan madaniyah penulis menggunakan teorinya Ibnu Abbas. Berdasarkan hasil analisis, penelitian ini menunujukkan bahwa sebagian besar ayat tentang takdir lebih cenderung kepada ayat-ayat makkiyah dibandingkan dengan ayat-ayat madaniyah. Ini menunujukan bahwa ayat tentang takdir lebih menyeru kepada tauhid. Dalam pengelompokan ayat-ayat tentang takdir berdasarkan makkiyah dan madaniyah penulis mengkategorikan ke dalam empat kategori yakni: takdir yang berbicara tentang waktu, takdir yang berbicara tentang manusia, takdir yang berbicara tentang alam semesta dan takdir yang berbicara tentang balasan manusia.   Kata Kunci: Takdir, Teologis dan Sains, Tafsir
TRADISI MUJAHADAH PEMBACAAN AL-QUR’AN SEBAGAI WIRID DI PONDOK PESANTREN KEBON JAMBU AL-ISLAMY BABAKAN CIWARINGIN CIREBON M. Ofik Taufikur Rohman Firdaus
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 4 No. 01 (2016): JUNI
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v4i01.888

Abstract

Al-Qur’an adalah mukjizat terakhir dan teragung yang keotentikannya dipelihara langsung oleh Allah Swt. Oleh karena itu, al-Qur‟an terus dikaji dan dijadikan pedoman umat Islam. Berbagai interaksi pun dilakukan secara individu ataupun kelompok. Di antaranya ada sebagian yang hanya mempelajari seputar redaksinya saja dan ada juga yang mengaplikasikan al-Qur‟an langsung dalam kehidupannya atau disebut dengan Living Qur’an. Salah satu contoh Living Qur’an adalah Tradisi Mujahadah Pembacaan al-Qur‟an Sebagai Wirid di Pondok Pesantren Kebon Jambu Al-Islamy Babakan Ciwaringin CirebonPenelitian ini mengkaji bagaimana tradisi mujahadah yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Kebon Jambu Al-Islamy dan bagaimana pengalaman pelaku mujahadahpun menjadi salah satu rumusan dalam penelitian ini. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tradisi Mujahadah secara runtut di Pondok Kebon Jambu. Kemudian juga mengetahui pengalaman yang dirasakan oleh orang yang mengamalkan mujahadah.Penelitian ini merupakan kajian lapangan (field research) dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Metode yang digunakan adalah deskriptif-analitik, yaitu memaparkan realita dan menganalisis tentang kegiatan mujahadah al-Qur’an di Pondok Pesantren Kebon Jambu dengan metode pengumpulan data berupa observasi, dokumentasi, dan wawancara, metode pengolahan data dan metode penarikan kesimpulan.Hasil penelitian ini, penulis dapat menyimpulkan bahwa tradisi ini dilatarbelakangi oleh keinginan pengasuh untuk meneruskan amalan yang beliau lakukan ketika mesantren di Pondok A.P.I Tegal Rejo dan melestarikan tradisi ahlussunnah wal jama’ah. Kegiatan ini dilaksanakan setiap Senin malam Selasa setelah shalat Maghrib dan dikuti oleh seluruh santri. Tujuannya adalah sebagai sarana untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah Swt, melatih diri untuk memerangi hawa nafsu, menumbuhkan rasa tawakkal kepada Allah Swt, membersihkan diri dari segala penyakit, wujud rasa syukur atas limpahan nikmat, serta melatih diri dan para santri untuk istiqomah membaca al-Qur’an. Kemudian, beberapa pengalaman yang dirasakan oleh pelaku mujahadah diantaranya timbul ketenangan lahir dan bathin, dimudahkan dalam segala urusan, tumbuhnya semangat belajar menuntut ilmu, kelapangan rizki, dikabulnya segala permintaan, serta terjalinnya tali silaturahmi yang erat.  Kata Kunci: mujahadah, wirid, tradisi, Al-Qur’an dan Pesantren
TANGGUNG JAWAB SOSIAL DALAM AL QUR'AN; Analisis Kritis Tafsir Tematik Kemenag RI M. Wiyono
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 4 No. 02 (2016): DESEMBER
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v4i02.1142

Abstract

Dalam al-Qur'an tanggung jawab sosial merupakan salah satu bentuk kegiatan dalam rangka mempererat sekaligus sebagai perekat persatuan dan persaudaraan ummat, termasuk tanggung jawab sosial di bidang ekonomi. Konsentrasi al-Qur'an dalam bidang ekonomi sangat diperhatikan, mengingat ekonomi menjadi salah satu elemen pembentuk kesejahteraan, prilaku ekonomi yang dimaksud adalah meliputi produksi, kepemilikan dan dsitribusi. Dalam kepemilikan al-Qur'an mempunyai pola yang khas, berbeda dengan kepemilikan, kapitalis, sosialis maupun liberalis. Keunikan tersebut bila digali lebih dalam maka kita akan mendapatkan sebuah pola baru dalam pengentasan kemiskinan dan pemerataan. Konsep pemerataan dijelaskan oleh mufasir dengan berbagai cara, di antaranya adalah mengambil metode tematik sebagai pilihannya, sebagaimana yang tertuang dalam tafsir tematik kemenag RI. Tulisan ini hendak melihat lebih dekat keunikan metode tematik yang digunakan oleh al-Qur'an dalam menggali konsep-konsep tersebut. Kata Kuci:  al-Qur’an, metode tafsir, tematik, tanggungjawab sosial. 
KONSEP KEADILAN GENDER DALAM PEMBAGIAN WARISAN (Studi Komparatif Pemikiran M. Quraish Shihab dan Munawir Sjadzali) Ayu Faizah; Adib Adib; Ahmad Faqih Hasyim
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 4 No. 02 (2016): DESEMBER
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v4i02.1143

Abstract

The division of inheritance between men and women are often the dispute because their ratio of 2: 1, then the study was conducted with two conflicting opinions with each other, namely the interpretation of the interpretation M. Quraish Shihab al-Misbah and Munawir Sjadzali in Re-actualizing Islamic Teachings , The method used is the comparative method. Quraish explained in the commentary of al-Misbah that the division of inheritance between men and women (2: 1) is a matter that can not be changed. However, in other works Quraish allow equal division of inheritance (1: 1) in accordance with the agreement of all the heirs. While Munawir Sjadzali explicitly requires equal division of inheritance (1: 1) on the condition that women have a role. So in essence M. Quraish and Munawir have the same thought, that justice in the division of inheritance can not be seen from the property, but based on the responsibilities and roles owned. Keywords: justice, inheritance, Quraish, Munawir, tafsir al-Misbah
MAKNA WALI DAN AULIYĀ’ DALAM AL-QUR’AN (Suatu Kajian dengan Pendekatan Semantik Toshihiko Izutsu) Ismatilah Ismatilah; Ahmad Faqih Hasyim; M. Maimun
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 4 No. 02 (2016): DESEMBER
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v4i02.1144

Abstract

In Indonesia context, the term wali and Auliya 'only have two meanings, those are wali as parents and wali as the close one with Allah and has peculiarity that other people do not have or wali is defined according to tasawuf, such as wali songo. However, in the holy Qur'an the word wali and auliya have different meaning depend on the relation of sintagmatik that is used in a word. So that, the researcher analyze the meaaning wali and Auliya.The formulation of this research are 1) how is the meaning of wali and Auliya 'in the holy Qur’an? And 2) how is the basic meaning and word relational meaning of wali and Auliya 'in the holy Qur'an?The purpose of the research are: 1) to know the meaning of wali and Auliya in the holy Qur'an and 2) to know the basic meaning and relational word meaning of wali and Auliya'.This research is qualitative and what kind of research is a library to discuss the book, both in primary and secondary books that explain the semantic word guardian and Auliya 'in the Qur'an. The approach of this research is the semantic approach offered Toshihiko Izutsu. steps in the research is to determine the word that will be studied the meaning and concepts contained in it, tracing the roots of the word, transformation, and change the meaning, outlining categories of semantic guardian and Auliya 'according to the condition of the wearer, and compose semantic field to obtain an illustration or picture clearer about the meaning of a word.The results of this study is the first meaning of the word meaning guardian pick up close. The second is based on relational meaning, in the Qur'an the word guardian and Saints have various meanings of which are helper, protector, friend, leader, ruler, children, heirs, lover, coreligionists, and the close is righteous. In the development of meaning, the word guardian at the time of the Pre-Qur'anic means master, people who have power over something. At the time of Qur'anic word guardian and Saints have meaning as disbutkan above.The meaning of the word guardian and Auliya 'in the post-Qur'anic evolving in the context Indonesiaan is the first guardian of Sufi pandangn corner meaningful person who received special protection. because obedience to God. God has the absolute right to choose his servant to be a trustee. Both from the standpoint of jurisprudence family, guardian meaningful words the person who has the authority to perform a contract, guardian of marriage. Third from a social standpoint in meaningful parent / father or mother and meaningful leaders, such as mayors. Key words: wali, auliyā’, semantic, Qur’an.
Penafsiran Mirza Bashiruddin Tentang Ayat-Ayat Penyaliban, Kewafatan Dan Kebangkitan Nabi Isa as. (Kajian Tematik Dalam Tafsir Shaghir) Makmuri Makmuri; Didi Junaedi; M. Maimun
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 4 No. 02 (2016): DESEMBER
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v4i02.1146

Abstract

Jemaat Ahmadiyah merupakan aliran dalam agama Islam yang mempunyai berbagai “kepercayaan” yang berbeda dengan mayoritas umat Islam lainnya. Di antara “kepercayaan” yang seringkali menjadi polemik itu adalah hal yang berkaitan dengan penafsiran ayat-ayat yang terkait dengan tentang penyaliban, kewafatan, dan kebangkitan Nabi Isa as. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penafsiran Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad, sebagai salah satu tokoh Ahmadiyah terhadap ayat-ayat tentang Nabi Isa a.s.Dalam penelitian ini penulis menggunakan jenis penelitian kepustakaan (library research) dengan metode kualitatif yang merujuk pada sumber primer dan sumber sekunder. Sumber primer adalah kitab Tafsir Shaghir (Tafsir Qur’anun Majid) dan sumber sekunder adalah buku-buku penunjang baik berupa buku cetak maupun digital.Melalui penelitian ini dapat diambil beberapa hasil bahwa, penafsiran Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad dalam kitab Tafsir Shaghir (Tafsir Qur’anun Majid) menyatakan bahwa Nabi Isa a.s telah disalib namun tidak sampai mati, Nabi Isa diturunkan oleh muridnya dari tiang salib kemudian diobati dengan ramuan-ramuan salep. Setelah sembuh Nabi Isa a.s melakukan perjalanan mencari murid-muridnya hingga sampai di Srinagar Khasmir di mana beliau meninggal dan dikubur di kota tersebut. Dengan demikian, maka Jemaat Ahmadiyah meyakini Nabi Isa a.s telah wafat. Keyakinan akan wafatnya Nabi Isa a.s membuat Jemaat Ahmadiyah mempunyai ajaran bahwa kedatangan Nabi Isa a.s yang dijanjikan di akhir zaman bukanlah yang  diutus untuk Bani Israil, akan tetapi seseorang yang memiliki sifat yang sama dengan Nabi Isa a.s. Kata kunci: Nabi Isa a.s, Jemaat Ahmadiyah, Mirza Bahsiruddin Mahmud Ahmad, Tafsir Shaghir (Tafsir Qur’anun Majid).
Penafsiran Ayat-Ayat Pemicu Radikalisme Perspektif Ibnu Taimiyah Dan Quraish Shihab (Telaah QS. Al-Taubah [9]: 5 dan 29) Siti Khoirunnisa; Lukman Zain; Anisatun Muthi'ah
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 4 No. 02 (2016): DESEMBER
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v4i02.1149

Abstract

Di Indonesia telah banyak kelompok yang melakukan tindakan intoleran atas nama agama terhadap non-muslim. Ayat-ayat al-Qur’an menjadi dasar dan nilai tertinggi perbuatan terorisme sekelompok orang tersebut. Oleh sebab itu, gagasan tentang pentingnya mengenal lebih dalam soal penafsiran al-Qur’an terkait ayat-ayat yang terkesan radikal menjadi sangat penting, agar seseorang tidak terdorong melakukan tindak kekerasan atas nama agama. Dalam hal ini, penulis akan mengkaji pemikiran Ibnu Taimiyah dan Quraish Shihab tentang ayat-ayat pemicu tindakan radikal tersebut, terkhusus QS. al-Taubah (9): 5 dan 29. Seperti Ibnu Taimiyah dan Quraish Shihab Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dan jenis penelitian ini adalah penelitian pustaka dengan membahas buku, baik dari buku primer maupun sekunder yang terkait dengan tema yang dikaji. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah muqaran. Langkah-langkah dalam penelitian ini adalah menjelaskan pengertian radikalisasi dan deradikalisasi, mengumpulkan ayat al-Qur’an yang seringkali ditafsirkan secara radikal, memaparkan penafsiran masing-masing mufassir, menganalisis studi komparatif yakni perbandingan antara penafsiran Ibnu Taimiyah dan Quraish Shihab.Hasil penelitian ini menjawab bagaimana penafsiran Ibnu Taimiyah dan Quraish Shihab tentang QS. Al-Taubah ayat 5 dan 29 adalah sebagai berikut: dalam menafsirkan al-Qur’an keduanya tidak menafsirkan secara tekstual, melainkan dengan menjadikan asbab nuzul sebagai alat untuk memahami maksud ayat tersebut. Asbab al-Nuzul ayat tentang izin penyerangan terhadap kaum muslim adalah peristiwa penyerangan terlebih dulu yang dilakukan kaum Nashrani yang ada di Romawi. Dengan demikian, konteks pelaku penyerangan adalah kaum Nashrani dan Yahudi yang tidak beragama dengan benar, yang sikap dan perilakunya akan berakibat mengganggu ajaran Islam dan mengganggu kelangsungan hidup masyarakat Islam. Keduanya sama-sama menyimpulkan umat muslim tidak boleh menyerang kaum musyrikin kecuali ada penyerangan terlebih dulu yang dilakukan kaum musyrik.  Kata kunci: al-Qur’an, Radikalisasi, Intoleran.
Al-Falah dan Al-Farah (Studi Ma’anil Qur’an dan Tafsir Tematik dalam Tafsir Al-Azhar) Siti Fajriyah; Didi Junaedi; M. Maimun
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 4 No. 02 (2016): DESEMBER
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v4i02.1150

Abstract

Penelitian ini membahas tentang makna dari beberapa variasi lafaz al-falah dan beberapa variasi lafaz al-farah . Meskipun keduanya memiliki persamaan makna umum yaitu bahagia, namun tidak sedikit ulama yang membedakan makna secara rinci dari kedua istilah tersebut. Secara singkat, pengertian al-falah merupakan kebahagiaan, keberhasilan atau keselamatan yang baik. Bahkan tidak jarang diartikan dalam al-Qur’an sebagai makna kemenangan. Dan pengertian dari al-farah  adalah kegembiraan, kesenangan yang baik pula namun sifatnya tidak sampai terus menerus ke pemaknaan bahagia ukhrawi.Selain menguraikan makna perbedaan secara umum dari kedua istilah kata tersebut, penelitian ini juga menyimpulkan perbedaan makna kedua istilah tersebut menurut pemikiran Hamka dari kitab tafsirnya yaitu al-Azhar yang dituangkan menggunakan tartib nuzuli makkiyah madaniyah dari ayat-ayat al-Qur’an yang mengandung makna bahagia. Al-falah dan al-farah  sama-sama dapat dirasakan setelah mendapatkan sesuatu yang dimaksud, namun al-falah diartikan sebagai kebahagiaan yang terpuji sedangkan al-farah  lebih diartikan kepada makna gembira yang condong kurang terpuji.Kata Kunci: Bahagia, al-falah, al-farah , Hamka
Interaksi Kyai Dengan Masyarakat Dalam Tafsir Al-Maraghi Ahmad Ali Syauqi; Hartati Hartati; Ahmad Faqih Hasyim
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 4 No. 02 (2016): DESEMBER
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v4i02.1152

Abstract

Semakin terkikisnya ulama (kyai) yang menjadi panutan, membuat penulis merasa perlu menelisik lebih jauh relasi dan interaksi seperti apa yang sebaiknya dibangun, menurut al-Qur’an, antara seorang ulama dengan pejabat, masyarakat dan sesama kyai agar kehidupan dunia ini menjadi lebih baik. Tujuan penelitian ini ialah menjelaskan penafsiran al-Marâghî mengenai ayat-ayat interaksi antara: kiai dengan pejabat, kiai dengan kiai, dan kiai dengan masyarakat awam. Metode yang digunakan adalah metode dan library research. Kesimpulan yang didapat dari penulisan skripsi ini antara lain bahwa a.) Berdasarkan penafsiran atas QS al-Baqarah (2): 247, pemuka agama (kiai) tidak boleh termakan ucapan manis pejabat; harus selalu menjadi panutan pejabat, bukan sebaliknya, dan tetap menjalankan amar ma’ruf nahi munkar. Interaksi antara kiai dengan pejabat melalui kisah Nabi Samuel dengan pejabat Bani Israîl. b.) Berdasarkan penafsiran atas QS. Maryam (19): 53, al-Maraghi tidak menjelaskan panjang lebar mengenai interaksi antara Nabi Musa dengan Nabi Harun. Namun dari penjelasan al-Maraghi dapat ditemukan secara tersirat bahwa keduanya sama-sama Nabi yang menentang kezaliman saat itu. Interaksi antara Nabi Musa dengan Nabi Harun saling tolong menolong dalam berdakwah. c.) Berdasarkan penafsiran atas QS al-Taubah (9) 61, al-Maraghi menafsirkan interaksi antara Nabi Muhammad Saw. dengan masyarakat awam, al-Maraghi memberi perumpamaan dalam tafsirnya, bahwa orang yang yang menyakiti Rasulullâh sama dengan orang yang menyakiti kedua orang tuanya dan keluarganya khususnya kaum munafik yang menyakiti beliau. Kemudian, hal ini membuktikan bahwa al-Maraghi menganggap seorang Rasulullâh (baca: kiai) adalah juga orang tua mereka.  Kata kunci: Interaksi, Kiai, Masyarakat.

Page 2 of 19 | Total Record : 190