cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Fisheries Resources Utilization Management and Technology
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Topik-topik yang berhubungan dengan pemanfaatan sumberdaya perikanan, teknologi penangkapan, desain alat tangkap, fish behaviour, experimental fishing, fishing boat desain, fishing port management, sosial ekonomi perikanan.
Arjuna Subject : -
Articles 39 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 3: Agustus, 2014" : 39 Documents clear
ANALISIS KEBUTUHAN PERBEKALAN KAPAL PENANGKAP IKAN DI PELABUHAN PERIKANAN PANTAI TASIKAGUNG, REMBANG Fitriyashari, Amalia; Rosyid, Abdul; Dewi, Dian Ayunita Nugraheni Nurmala
Journal of Fisheries Resources Utilization Management and Technology Vol 3, No 3: Agustus, 2014
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (505.399 KB)

Abstract

Perbekalan dari suatu kapal penangkap ikan adalah kebutuhan yang harus dipenuhi oleh nelayan untuk melancarkan kegiatan operasionalnya seperti kebutuhan BBM, es, air bersih, kebutuhan beras, minyak pelumas dan lain sebagainya. Dalam penelitian ini membahas dua komponen perbekalan yang disediakan oleh Pelabuhan Perikanan yaitu kebutuhan solar dan es pada kapal Mini Purse seine dan kapal Cantrang yang berukuran 10-30 GT. Penelitian ini bertujuan untuk memperkirakan dan menganalisis kebutuhan perbekalan pada kapal penangkap ikan di Pelabuhan Perikanan Pantai Tasikagung Rembang selama lima tahun (2014-2018) yang akan datang. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2013–Januari 2014 di PPP Tasikagung, Rembang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yakni metode analisis Time Series dan Diskriptif dengan metode pengambilan sampel purposive sampling. Hasil Perkiraan kebutuhan solar pada Kapal Mini Purse seine pada tahun 2014-2018 tertinggi pada tahun 2016 dengan jumah kebutuhan solar yaitu 9.934.058 liter, pada tahun 2017 sebanyak 8.801.138 liter dan mengalami penurunan 28,5% pada tahun 2018. Perkiraan kebutuhan es pada  Kapal Mini Purse seine, tahun 2014-2018 tertinggi pada tahun 2016 yaitu 50.457,20 ton, pada tahun 2014 kebutuhan es yaitu 47.428,96 ton mengalami penurunan 24,1% pada tahun 2015, pada tahun 2017 sejumlah 44.702,85 ton, mengalami penurunan 28,5% pada tahun 2018. Perkiraan kebutuhan solar pada Kapal Cantrang, pada tahun 2014-2018 tertinggi pada tahun 2017 sebanyak 14.802.667 liter. Pada tahun 2015 sebanyak 11.851.000 liter, mengalami penurunan 41,8% pada tahun 2016, dan pada tahun 2018 sebanyak 14.114.333 liter. Perkiraan kebutuhan es pada Kapal Cantrang tahun 2014-2018 tertinggi pada tahun 2017 yaitu 84.586,67 ton es, pada tahun 2015 yaitu 67.720 ton es mengalami penurunan 41,8% pada  tahun 2016, serta pada tahun 2018 dengan total kebutuhan es yaitu 80.653,33 ton es. Supply of a fishing vessel is a necessity that must be fulfilled by fishermen to expedite its operational activities, as the needs arefuels, ice, fresh water, rice, lubricating oil,etc. This research analysed the two components of the supplies provided by the fishing port werefuel and ice for Mini Purse seine and Danish seinevessel (10-30 GT). This research objectives were to estimate and analyse the supply needs of the fishing vessel at Tasikagung fishing port, Rembang for the next five years (2014-2018). This research conducted in December 2013-January 2014 at Tasikagung fishing port, Rembang. Methods used in this research were oftime series analysis and descriptive. Sampling method used purposive sampling. The estimating results of Mini Purse seine vessels fuels on year 2014-2018 highest in 2016 is 9,934,058 liter, in 2017 is 8,801,138 liter and decreased 28.5% in 2018. The needs estimated of  Mini Purse seine vessels ice ,on years 2014-2018 highest in 2016 is 50,457.20 metric ton, in 2014 is 47,428.96 metric ton decreased 24.1% in 2015, in 2017 is 44,702.85 metric ton decreased 28.5% in 2018. The needs estimated of Cantrang vessels fuels, in 2014-2018, highest in 2017 is 14,802,667 liter, in 2015 is 11,851,000 liter decreased 41.8% in 2016, and in 2018 is 14,114,333 liter. The needs estimated of Cantrang vessels ice, in 2014-2018 highest in 2017 is 84,586.67 metric ton, in 2015 is 67,720 metric ton decreased 41.8% in 2016, and in 2018 is. 80,653.33 metric ton.
ANALISIS HASIL TANGKAPAN RAJUNGAN (Swimming crab) DENGAN BUBU LIPAT BERDASARKAN FAKTOR HIDRO-OSEANOGRAFI DI PERAIRAN BETAHWALANG DEMAK Jabarti, Ahmad Aqsya; Pramonowibowo, -; Yulianto, Taufik
Journal of Fisheries Resources Utilization Management and Technology Vol 3, No 3: Agustus, 2014
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (683.625 KB)

Abstract

Desa Betahwalang adalah salah satu desa di Kabupaten Demak yang merupakan suatu desa penghasil rajungan (swimming crab). Peningkatan teknologi maupun pengetahuan daerah penangkapan rajungan penting dilakukan sebagai faktor keberhasilan dalam memaksimalkan operasi penangkapan rajungan.Tujuannya adalah untuk menganalisa daerah penangkapan dan keadaan oseanografi dari daerah penangkapan rajungan di perairan Betahwalang Demak dengan menggunakan metode deskriptif dan metode purposive sampling. Hasil penelitian berupa gambaran keadaan oseanografi dan peta daerah penangkapan rajungan yang menunjukan persebaran daerah operasi penangkapan rajungan menggunakan bubu lipat di perairan Betahwalang. Persebaran daerah penangkapan rajungan menggunakan bubu tersebar dari kedalaman 17,9-31,2 m dengan subtrat perairan berupa lumpur liat. Kedalaman 15,1-20 m memiliki suhu 27-310C dengan salinitas 29-31 ppt. Kedalaman 20,1-25 m suhu perairan 27-300C dengan salinitas 29-32 ppt. Kedalaman 25,1-30 m suhu perairan 280C-300C dengan salinitas berkisar 30-31 ppt. Kedalaman 30,1-35 m suhu perairan 28-290C dan salinitas 30-31 ppt. Hasil penelitian menunjukan bahwa daerah penangkapan rajungan yang potensial pada kedalaman 25,1-35 m dengan salinitas berkisar 30-31 ppt dan hasil tangkapan terbanyak pada titik koordinat lintang 06°41'18.81" bujur 110°27'53.06" dengan berat 3.080 gram.  Betahwalang village in Demak Regency is one of Rajungan ( swimming crab ) producers in Demak that has economical selling value and of export fishery commodity. The improvement of technology and knowledge about fishing ground in catching rajungan is greatly needed.The aim of this research was to analyze the fishing ground and oceanography of rajungan fishing ground in Betahlawang waters Demak Central Java using descriptive method. The results of this research were the oceanography description and rajungan fishing ground map that showed the spreading area of rajungan capture operation using folded trap in Betahlawang waters. It was spread from 17.9 m to 31.2 m in depth with water sediment of clay. The depth of 15.1 m to 20 m had average temperature of 270C to 310C with salinity of about 29 ppt to 31 ppt. The depth of 20.1 m to 25 m had average temperature of 270C to 300C with salinity of about 29 ppt to 32 ppt. The depth of 25.1 m to 30 m had average temperature of 280C to 300C with salinity of about 30 ppt to 31 ppt. The depth of 30.1 m to 35 m had average temperature of 280C to 290C with salinity of about 30 ppt to 31 ppt. The result of this research showed that the potential fishing ground was in the depth of 25.1- 35 m with salinity of 30- 31 ppt. The results showed that the potential crab fishing area at depths ranging from 25.1 to 35 m with a salinity of 30-31 ppt and most of the catch at point 06 ° latitude 41'18 .81 "longitude 110 ° 27'53 .06" with a weight of 3,080 grams.
ANALISIS DAERAH PENANGKAPAN RAJUNGAN (Portunus pelagicus) BERDASARKAN PERBEDAAN KEDALAMAN PERAIRAN DENGAN JARING ARAD (Mini Trawl) DI PERAIRAN DEMAK Prasetyo, Ganang Dwi; Fitri, Aristi Dian Purnama; Yulianto, Taufik
Journal of Fisheries Resources Utilization Management and Technology Vol 3, No 3: Agustus, 2014
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (824.545 KB)

Abstract

Desa Betahwalang terletak di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, merupakan salah satu wilayah yang memilki potensi tinggi pada perikanan rajungan (Portunus pelagicus). Kegiatan penangkapan rajungan akan lebih efektif dan efisien apabila daerah penangkapan rajungan dapat diduga terlebih dahulu, serta pengkajian perbedaan kedalaman perairan dilakukan, karena kedalaman perairan sangat berpengaruh terhadap siklus kehidupan rajungan. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis hasil tangkapan dan daerah penangkapan rajungan berdasarkan perbedaan kedalaman perairan dengan jaring arad di perairan Demak. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan menggunakan metode penentuan sampling  purposive sampling dan metode pengambilan sampel adalah metode gridding. Jenis hasil tangkapan rajungan yang didapat antara lain Portunus pelagicus, Charybdis feriatus, dan Portunus sanguinolentus. Terdapat dua kisaran kedalaman perairan yaitu kedalaman A (0 – 5 meter) dan kedalaman B (5,5 – 10 meter). Pada kedalaman B (5,5 – 10 meter), berat dan ukuran tubuh hasil tangkapan rajungan semakin besar, namun jumlah rajungan yang didapat semakin sedikit, dan didominasi rajungan berjenis kelamin betina. Sebaliknya, pada kedalaman A (0 – 5 meter), berat dan ukuran tubuh hasil tangkapan rajungan semakin kecil, namun jumlah rajungan yang didapat semakin banyak, dan didominasi rajungan berjenis kelamin jantan. Betahwalang village located in Demak, Central Java, is one of the areas that have a high potential in the fisheries swimming crab (Portunus pelagicus). Cacthing for swimming crab would be more effective and efficient when fishing ground of swimming crab can be predicted in advance and differences in water depth study, the water depth affects the life cycle of swimming crab. The purpose of this reasearch was to analyze the catch and fishing ground of swimming crab at different water depth with mini trawl in Demak waters. The method in research used descriptive method. The method of determinig the sampling used purposive sampling and the sampling method used gridding method. Type catches the swimming crab is Portunus pelagicus, Charybdis feriatus, and Portunus sanguinolentus. There are two ranges A water depth is the depth (0 - 5 meters) and the depth B (5,5 - 10 meters). In depth B (5,5 - 10 meters),the weight and size of swimming crab attaching to the greater, however meager, are predominantly female swimming crab sex. In contrast, at a depth A ( 0- 5 meters), weight and size of the swimming crab attaching to the smaller, but amounted to much,  and swimming crab-sex male dominated.
ANALISIS HARGA DAN PEMASARAN IKAN KEMBUNG LELAKI (Rastrelliger kanagurta) DI PANGKALAN PENDARATAN IKAN (PPI) CITUIS KABUPATEN TANGERANG Damayanti, Rizky; Bambang, Azis Nur; Sardiyatmo, -
Journal of Fisheries Resources Utilization Management and Technology Vol 3, No 3: Agustus, 2014
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (223.192 KB)

Abstract

Ikan Kembung Lelaki (Rastrelliger kanagurta) merupakan salah satu produk perikanan yang menjadi komoditas penting diwilayah Tangerang. Produksi ikan terbanyak di Kabupaten Tangerang didaratkan di TPI Cituis. Total produksi ikan yang didaratkan di TPI Cituis selama tahun 2009 – 2013 adalah 151,745 kg dengan rata-rata produksi per tahun 30,349 kg. Ikan kembung lelaki di TPI Cituis memiliki harga yang tinggi tetapi tidak stabil. Faktor - faktor yang mempengaruhi harga yang akan diteliti untuk penelitian antara lain jumlah produksi (X1), mutu ikan (X2), jumlah bakul (X3) dan ukuran berat ikan (X4). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi harga ikan kembung lelaki yang didaratkan di TPI Cituis dan mengetahui saluran pemasaran dan margin pemasaran ikan kembung lelaki di TPI Cituis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi kasus dengan analisis deskriptif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan persamaan regresi Y= 3.168 - 0.084X1 + 0,501X2 + 0,076X3 + 0,350X4 + 0,006811. Pemasaran ikan kembung lelaki terbentuk ada 3 tipe distribusi pemasaran. Lembaga pemasarannya meliputi nelayan, TPI, pedagang besar, pedagang pengecer dan pengolah. Margin pemasaran terbesar dalam saluran pemasaran ikan kembung lelaki di TPI Cituis adalah pengasinan sebesar Rp. 10.000,- . Mutu ikan yang baik akan menghasilkan harga tinggi, maka disarankan menjaga mutu  yang baik sampai ke konsumen. Indian Mackerel (Rastrelliger kanagurta) is one fisheries products became an important commodity in Tangerang. Production Indian Mackerel Most landed in Tangerang at TPI Cituis. The total production of Indian Mackerel landed in TPI Cituis during 2009-2013 was 151.745 kg with an average annual production of 30.349 kg . Indian Mackerel in TPI Cituis has a high price but not stable. Factors - factors that will be affected the price from research comprise total production (X1) , the quality of the fish (X2) , the number of wholeseller (X3) and the size of the fish (X4). Research objective to analyze the factors that affect the price of Indian Mackerel landed at TPI Cituis and to know marketing channels and marketing margins of Indian Mackerel in TPI Cituis . Case study was used as a method in this research.  The research results showed that the regression equation Y= 3.168 - 0.084X1 + 0,501X2 + 0,076X3 + 0,350X4 + 0,006811. Marketing Indian Mackerel formed there was three types of marketing distribution. Marketing institutions consist the fishermen, TPI, wholesalers, retailers and processors. The biggest margin in the marketing distribution in TPI Cituis is the processor of Rp.10.000,-. Good quality fish will result in higher prices, it is advisable to maintain a good quality to the consumers.
LAJU ASAM AMINO TERLARUT YANG TERDISTRIBUSI KE DALAM KOLOM AIR LAUT PADA UMPAN IKAN KEMBUNG (Rastrelliger kanagurta) (SKALA LABORATORIUM) Perdiana, -; Fitri, Aristi Dian Purnama; Yulianto, Taufik
Journal of Fisheries Resources Utilization Management and Technology Vol 3, No 3: Agustus, 2014
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.557 KB)

Abstract

Umpan merupakan alat bantu dan bentuk rangsangan berbentuk fisik atau kimiawi yang dapat memberikan respon terhadap ikan-ikan dalam tujuan penangkapan ikan. Operasi penangkapan rawai tuna  umumnya di Indonesia menggunakan umpan alami ikan kembung, ikan kembung memiliki nilai ekonomis dan dapat dikonsumsi oleh masyarakat. Mengetahui laju jenis asam amino dan laju asam amino total yang terdistribusi ke dalam kolom air laut pada umpan ikan kembung untuk operasi rawai tuna skala laboratorium. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analisis. Penelitian dilakukan skala laboratorium dengan melakukan perendaman umpan ke dalam kolom air laut, ikan uji yang digunakan adalah ikan kembung (Rastrelliger kanagurta) yang dianalogikan sebagai umpan alami dalam operasi penangkapan rawai tuna. Ukuran ikan kembung yang digunakan memiliki panjang 23 cm dan lebar 2,5 cm dengan berat 100 gram. Sampel air laut diuji menggunakan metode HPLC (High Performance Liquid Chromatography). Didapatkan hasil laju jenis asam amino 7 macam dari 17 jenis asam amino pada umpan ikan kembung adalah L-serine, Glycine, L-threonine, L-alanine, L-Valine, L-Lysine HCl, L-Isoleucine  dan L-Leucine. Laju asam amino total umpan ikan kembung pada perendaman K1 hingga K24 menurun dengan bertambahnya waktu perendaman. Kesimpulan yang dihasilkan adalah semakin lama waktu perendaman maka laju pelepasan asam amino semakin kecil dan berpengaruh pada ruang aktif semakin lama perendaman umpan maka ruang aktif semakin mengecil. The bait have attractive function a form of physical or chemical form of stimulation that can provide a response to the fish in the the purpose of catching fish. Rawai tuna generally arrest operations in Indonesia to use natural bait mackerel, rastrelliger has economic value and can be consumed by the public. Knowing the rate of amino acid type and the rate of the total amino acids that are distributed into the water column at mackerel bait for the operation of rawai tuna laboratory scale. The methods used in this research is descriptive analysis method. Laboratory scale research done by soaking the bait into the water column, fish test used was mackerel (Rastrelliger kanagurta) which are analogous to natural as bait in catching operations rawai tuna. Size of mackerel used has a length of 23 cm wide and 2.5 cm long with a weight of 100 grams. Samples of sea water are tested using the method HPLC (High Performance Liquid Chromatography). Obtained results of rate of 7 different types of amino acids of the 17 kinds of amino acids in feeds mackerel is L-serine, Glycine, L-threonine, L-alanine, L-Valine, L-Lysine HCl, L-Isoleucine and L-Leucine. The rate of total amino acids in the mackerel bait soaking K1 to K24 decreases with increasing time of submersion. The resulting conclusion is the longer soaking, then the rate of release of amino acids is getting smaller and the effect on the active space of the longer soaking bait then active space is increasingly shrinking.
ANALISIS PERBEDAAN KEDALAMAN DAERAH PENANGKAPAN IKAN TERHADAP KOMPOSISI HASIL TANGKAPAN PADA ALAT TANGKAP CANTRANG (Boat Seine) DI PERAIRAN REMBANG Nusantara, Risky Aditya; Rosyid, Abdul; Boesono, Herry
Journal of Fisheries Resources Utilization Management and Technology Vol 3, No 3: Agustus, 2014
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (404.446 KB)

Abstract

Daerah penangkapan ikan merupakan suatu daerah perairan dimana ikan yang menjadi sasaran penangkapan tertangkap dalam jumlah yang maksimal dan alat tangkap dapat dioperasikan serta ekonomis. Pengkajian dan pemetaan daerah penangkapan sangat diperlukan dalam usaha penangkapan ikan. Pengakajian dan pemetaan daerah penangkapan untuk alat tangkap cantrang dalam penelitian ini meliputi kedalaman. Dari pengkajian dan pemetaan tersebut diharapkan akan didapatkan daerah penangkapan yang sesuai untuk alat tangkap cantrang.Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui daerah penangkapan ikan pada alat tangkap cantrang berdasarkan kedalaman di perairan Rembang dan mengetahui komposisi hasil tangkapan ikan demersal di perairan Rembang kususnya di TPI Tanjungsari. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Novemver- Desember 2013 di perairan Rembang, Desa Tanjungsari, Kecamatan Rembang, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif. Bahan yang digunakan adalah data primer, data sekunder dan pemetaan dengan menggunakan softwere ArcGis. Data yang diperoleh adalah data kedalaman 5-7 m, 13-15 m, 17-24 m dan komposisi hasil tangkapan dari 4 stasiun kemudian diolah dengan menggunkan Uji T-Test dengan software SPSS 16.0. Berdasarkan hasil penelitian ini adalah Daerah penangkapan ikan dengan alat tangkap cantrang di Rembang yang sesuai yaitu daerah yang memiliki kedalaman berkisar 17-24 meter dan Komposisi hasil tangkapan dengan alat tangkap cantrang di dominasi pada Trip I : Ikan Petek (Leiognathus dussumieri) sebesar 23,19 %, Ikan Kakap (Lutjanus sp.) sebesar 28,99 %, Ikan Kuniran (Upeneus sulphureus) sebesar 26,09 %, By Catch sebesar 21,74 %, Trip II : Ikan Petek (Leiognathus dussumieri) sebesar 25,53 %, Ikan Kakap Merah (L. campechanus) sebesar 8,51 %, Ikan Kuniran (Upeneus sulphureus) sebesar 40,43 %, By Catch sebesar 25,53 %, Trip III : Ikan Petek (Leiognathus dussumieri) sebesar 40,91 %, Ikan Kembung (Scomber canagorta) sebesar 27,27 %, Ikan Kuniran (Upeneus sulphureus) sebesar 15,91 %, By Catch sebesar 15,91 %, Trip IV : : Ikan Sembilang (Plotusus canius) sebesar 57,69 %, Ikan Petek (Leiognathus dussumieri) sebesar 23,08 %, Ikan Kembung (Scomber canagorta) sebesar 9,62 %, By Catch sebesar 9,62 %. Fishing area is an area where fish are caught in maximum amount and fishing gear can be operated economical. Assessment and mapping of fishing areas are needed in fishing effort. Assessment and mapping of fishing areas for cantrang (Seine Boat)  in this study is the depth. From the Assessment and mapping, it will determine an expected of the best fishing areas if using Cantrang. The purpose of this study was to determine the composition of the catch area that based on depth and to find the composition of demersal catch in coast of Rembang, especially in Tanjungsari Fishing Port. This Study was held on November – December 2013 in coast of Rembang, Tanjungsari Village, Rembang Regency, Central Java. The method that  used was descriptive method. It used primary data, secondary data and on mapping using ArcGIS softwere. It obtained depth 5-7 m, 13-15 m, 17-24 m and  composition the catch of 4 stations is then processed using Test T-Test with SPSS 16.0 software. Based on the results, the appropriate depth for Cantrang is in 17-24 meters and The composition of the catch by fishing gear in the dominance cantrang on Trip I: ponyfish (Leiognathus dussumieri) 23,19 %, fish snapper (Lutjanus sp.)  28,99 %, kuniran fish (Upeneus sulphureus) 26,09 %, by catch  21,74 %, Trip II : Ponyfish (Leiognathus dussumieri)  25,53 %, red snapper (L. campechanus)  8,51 %, kuniran fish (Upeneus sulphureus)  40,43 %,  by catch  25,53 %, Trip III : Ponyfish (Leiognathus dussumieri)  40,91 %, Mackerel (Scomber canagorta)  27,27 %, kuniran fish (Upeneus sulphureus)  15,91 %,  by catch  15,91 %, Trip IV : eel-tailed catfish (Plotusus canius)  57,69 %, Ponyfish (Leiognathus dussumieri) 23,08 %, Mackerel (Scomber canagorta)  9,62 %,  by catch  9,62 %.
PERBANDINGAN EFEKTIVITAS PENANGKAPAN ALAT TANGKAP BUBU LOBSTER DENGAN KRENDET AIR TAWAR (TANGLE GEAR) PADA PERAIRAN RAWAPENING Efraldo, Oscar Mario; Pramonowibowo, -; Asriyanto, -
Journal of Fisheries Resources Utilization Management and Technology Vol 3, No 3: Agustus, 2014
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (453.155 KB)

Abstract

Lobster air tawar jenis Red claw (Cherax quadricarinatus) adalah salah satu spesies introduksi bernilai ekonomis tinggi pada perairan Rawapening. Nelayan setempat menangkap lobster air tawar menggunakan bubu lobster, namun efektivitas penangkapan dirasa belum maksimal. Perlu suatu upaya untuk meningkatkan efektivitas penangkapan yaitu lewat uji coba alat tangkap baru menggunakan krendet air tawar (tangle gear). Krendet air tawar berbasis alat tangkap krendet yang digunakan untuk menangkap lobster air laut di pantai selatan Pulau Jawa. Tujuan penelitian ini adalah melakukan analisis pada alat tangkap dan umpan terhadap hasil tangkapan lobster air tawar, mengetahui ada tidaknya interaksi antara kedua faktor tersebut, dan menentukan alat tangkap paling efektif dari kedua alat tersebut dalam menangkap lobster air tawar. Metode eksperimental digunakan dalam penelitian ini. Bubu lobster memiliki panjang 80 cm, diameter 14 cm, memiliki dua buah mulut (ijeb/funnel). Krendet air tawar memiliki dimensi 50 x 60 cm, menggunakan dua lembar jaring sebagai media penjebak yang berukuran mata jaring 2,25” dan 4”, nilai hanging ratio 0,2 pada kedua lembar jaring. Umpan digunakan pada kedua alat, yaitu keong mas dan kijing. Penelitian ini dilakukan pada perairan Rawapening, Desa Asinan, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah. Penelitian pendahuluan dilakukan  Oktober - November 2012, dan pengambilan data pada Mei - Juli 2013. Analisis data yang dilakukan adalah analisis One Way Anova dengan bantuan program SPSS 16. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan alat tangkap yang berbeda berpengaruh terhadap hasil tangkapan. Penggunaan umpan berbeda pada bubu lobster berpengaruh terhadap hasil tangkapan. Penggunaan umpan berbeda pada krendet air tawar tidak berpengaruh terhadap hasil tangkapan. Tidak terdapat interaksi antara penggunaan alat tangkap serta umpan. Efektivitas penangkapan tertinggi didapatkan dari alat tangkap bubu lobster berumpan keong mas. Red claw (Cherax quadricarinatus) as one of the introduced species that have high economic value in Rawapening Waterbound. It is necessary to improve capturing effectiveness with a new kind of fishing gear trial, freshwater krendet (tangle gear). Freshwater krendet have its basic design from krendet, a fishing gear to capture marine crayfish in south coast of Java Island. The purpose of the study is to analyze between fishing gear and bait towards freshwater crayfish catches, to know whether or not there is an interaction between these factors, and determine the most effective fishing gear from both gears in capturing freshwater crayfish. Experimental method used  in this study. Lobster pot has 80 cm in length, 14 cm in diameter with two funnels. Freshwater krendet dimension is 50 x 6o cm, used two layer of nets which have mesh size 2,25” and 4”, with  same hanging ratio (0,2) for both nets. Bait also used in those gears, apple snail and freshwater mussel. This study was conducted in Rawapening Waterbound, Asinan Village, Bawen District, Semarang Regency, Central Java Province. The earlier study conducted in October-November 2012 and data taking process was conducted on May-July 2013. One Way Anova analysis is used to analyze the data within the help of SPSS 16 program. The result shown that the use of different fishing gear is effected on catches. Using two different baits in lobster pot also have an effect on catches, while there is no effect in freshwater krendet. There is no interaction between fishing gear and bait. The highest capturing effectiveness found in lobster pot with apple snail as bait.
ANALISIS SELEKTIVITAS JARING ARAD GENUINE (GENUINE SMALL BOTTOM TRAWL) DAN JARING ARAD MODIFIKASI (MODIFIED SMALL BOTTOM TRAWL) TERHADAP HASIL TANGKAPAN UDANG PUTIH (Penaeus merguiensis) DI PERAIRAN TAWANG KENDAL, JAWA TENGAH Yuniarta, Adefryan Kharisma; Fitri, Aristi Dian Purnama; Asriyanto, -
Journal of Fisheries Resources Utilization Management and Technology Vol 3, No 3: Agustus, 2014
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (554.9 KB)

Abstract

Jaring Arad diperlukan modifikasi mengingat masih tertangkapnya Udang Putih (Penaeus merguensis) yang undersize pada operasi penangkapan dengan Jaring Arad Genuine. Modifikasi dilakukan dengan mengubah mesh size dari codend Jaring Arad Genuine. Dengan menghitung nilai selektivitasnya maka ukuran terkecil Udang Putih yang tertangkap dapat diketahui. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dan metode purposive sampling. Komposisi hasil tangkapan dominan yang didapatkan pada Arad Genuine adalah Leiognathus sp, Caesio erythrogaster dan Penaeus merguensis. Sedangkan hasil tangkapan Modifikasi Arad didapatkan Harpiosquilla raphidea, Otholites ruber dan Penaeus merguensis. Berat rata-rata hasil tangkapan Arad Genuine adalah 4233,5 gram, sedangkan berat rata-rata hasil tangkapan Modifikasi Arad 2063,16 gram. L50 Arad Genuine sebesar 3,58 cm, SF diketahui sebesar 1,88 cm, sedangkan L50 Modifikasi Arad sebesar 7,2 cm, SF diketahui sebesar 1,89 cm. Modifikasi Arad mampu meloloskan Udang Putih dengan Tingkat Kematangan Gonad I-II yang merupakan Tingkat Kematangan Gonad yang belum memasuki masa reproduksi. Sedangkan Udang Putih yang tertangkap pada bagian codend adalah udang dengan Tingkat Kematangan Gonad III-IV yang merupakan masa siap kawin. Small bottom trawl needs modifications, considering that it catches undersize Penaeus merguensis. The modification done in this research was change of mesh size of small bottom trawl’s codend. By calculating the selectivity value, the smallest size of Penaeus merguensis can be known. The methods used were descriptive and purposive sampling methods. The compositions of the dominant catch on genuine small bottom trawl were Leiognathus sp, Caesio erythrogaster and Penaeus merguiensis. While on modified small bottom trawl, the dominant catch were Harpiosquilla raphidea, Otholites ruber and Penaeus merguiensis. The average weight of genuine small bottom trawl’s catch was 4233.5 grams, while for modified small bottom trawl was 2063.16 grams. Selectivity analysis of genuine small bottom trawl resulted in L50 at 3.58 cm and the SF was found to be 1.88 cm, while in modified small bottom trawl, the L50 was 7.2 cm and the SF was 1.89 cm. With small bottom trawl modification, Penaeus merguiensis with gonads maturity level I-II were able to be released. Gonads maturity level I-II indicates the level of maturity that not yet entering gonads reproduction period. Penaeus merguiensis catched in the codend were shrimps with gonads maturity level III-IV, which is the reproduction period.
ANALISIS FINANSIAL USAHA PERIKANAN TANGKAP CANTRANG 30 GT DI PELABUHAN PERIKANAN PANTAI (PPP) TASIK AGUNG REMBANG Al Bayyinah, Auliya; Ismail, -; Hapsari, Trisnani Dwi
Journal of Fisheries Resources Utilization Management and Technology Vol 3, No 3: Agustus, 2014
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (514.923 KB)

Abstract

Kabupaten Rembang merupakan Kabupaten yang terletak di pantai Utara Provinsi Jawa Tengah yang memiliki jumlah produksi perikanan tangkap terbesar di Provinsi Jawa Tengah dibandingkan dengan kabupaten lainnya. Penelitian ini mengambil usaha penangkapan cantrang karena alat tangkap cantrang merupakan salah satu alat tangkap yang jumlahnya paling banyak dibandingkan Kecamatan lain di Kabupaten Rembang. Kapal cantrang yang dioperasikan di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tasik Agung berkisar antara 10 – 30 GT dengan 1 trip selama ± 7 – 25 hari. Mayoritas masyarakat di Desa Tasik Agung bekerja sebagai nelayan cantrang. Berkaitan dengan hal tersebut, perlu diketahui sampai seberapa jauh kegiatan penangkapan menggunakan alat tangkap cantrang masih dapat memberikan keuntungan dan dikatakan layak. Penelitian ini bertujuan mengkaji aspek teknis perikanan cantrang dan menganalisis aspek kelayakan finansial usaha penangkapan cantrang di PPP Tasik Agung Rembang. Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2013 sampai Januari 2014. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dan studi kasus. Metode pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling dengan jumlah responden 8. Metode analisis  data yang digunakan adalah NPV, IRR, PP dan B/C Ratio. Hasil penelitian diketahui bahwa investasi yang diperlukan untuk usaha perikanan tangkap cantrang dengan ukuran kapal 30 GT berkisar antara Rp. 505.600.000,- sampai Rp. 598.200.000,-. Pendapatan rata-rata sebesar Rp. 1.070.260.281,-/th dengan biaya total Rp. 902.028.022,-/th menghasilkan keuntungan sebesar Rp. 168.232.259,- /th. Berdasarkan hasil perhitungan analisis finansial usaha perikanan tangkap cantrang diperoleh nilai NPV rata-rata Rp. 946.550.226,-, B/C ratio rata-rata 1,13 , IRR rata-rata 31% dan PP (Payback Period) rata-rata 3,30. Kesimpulan yang diperoleh adalah usaha perikanan tangkap cantrang di PPP Tasik Agung Rembang dapat dikatakan layak secara finansial. Rembang Regency is one of regencies located in the North Coast Area of Central Java Province which produces the largest fishing catch in Central Java Province. The object of this research is Danish Seine, a fishing gear that is more in its quantity in Rembang Sub district than other sub districts in Rembang Regency. Danish Seine, operated in Tasik Agung Fishing Port, has size 10 – 30 GT with its fishing trip is around 7 - 25 days. Most of people in Tasik Agung Village work as a fisherman using Danish Seine. Related with this condition, it is necessary to know how long fishing activity using Danish Seine will be profitable and can be done feasibly. The purpose of this research is to assess the technical aspect of Danish Seine and analyze feasibility aspect of fishing business using Danish Seine in Tasik Agung Coastal Fishing Port. This research was conducted on December 2013 until January 2014. The method used in this research is descriptive method and case study. The purposive sampling method is used in this research which gets 8 respondents. The data were analyzed using NPV, IRR, PP and B/C ratio. The findings of the research implies that the minimal investment required for fishing business using Danish Seine with a ship having size 30 GT was about Rp. 505.600.000,- to Rp. 598.200.000,-. The business made Rp. 1.070.260.281,-/year of average income with Rp. 902.028.022,-/year of total cost, this business made profit of Rp. 168.232.259,- /year. Based on the calculation of financial analysis of fishing business using Danish Seine, the average NPV is Rp. 946.550.226,-, the average of B/C ratio is 1,13 , the average of IRR is  31%,  and  the average of PP (Payback Period) is 3,30. From this research, it can be concluded that the fishing business using Danish Seine in Tasik Agung Fishing Port, Rembang is feasible.     
ANALISIS PEMASARAN HASIL TANGKAPAN LOBSTER (Panulirus sp) DI TEMPAT PELELANGAN IKAN (TPI) SE-KABUPATEN GUNUNGKIDUL Maisyaroh, Nisa; Ismail, -; Boesono, Herry
Journal of Fisheries Resources Utilization Management and Technology Vol 3, No 3: Agustus, 2014
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (371.353 KB)

Abstract

Lobster merupakan salah satu komoditas perikanan penting di Kabupaten Gunungkidul. Nilai ekonomis lobster cukup tinggi yaitu mencapai Rp.200.000,- sampai Rp.400.000,- perKg. Lobster juga merupakan komoditas ekspor. Produksi lobster di Kabupaten Gunungkidul pada tahun 2012 mencapai 88,27 ton. Produksi perikanan yang besar harus diimbangi dengan adanya pemasaran yang efisien mengingat dari hasil perikanan yang mudah rusak. Pemasaran merupakan hal yang paling penting dalam menjalankan sebuah usaha perikanan karena pemasaran merupakan tindakan ekonomi yang berpengaruh terhadap tinggi rendahnya pendapatan nelayan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis bentuk saluran distribusi, margin pemasaran, keuntungan dan menganalisis efisiensi pemasaran pada tiap-tiap lembaga pemasaran. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Secara khusus metode deskriptif dengan pendekatan studi kasus dan metode pengambilan sampel accidental sampling. Hasil penelitian menunjukkan bentuk saluran distribusi di setiap TPI ada 2 saluran yaitu Produsen à Pedagang Pengumpul à Konsumen dan Produsen à PedagangPengumpul à Eksportir. Margin pemasaran untuk saluran kedua di semua TPI dari pedagang pengumpul sama yaitu sebesar Rp. 50.000,-/kg. Margin pemasaran untuk saluran pertama di TPI Gunungkidul Lobster batu antara Rp.15.000,-/kg sampai Rp.25.000,-/kg, Lobster pasir antara Rp. 20.000,-/kg sampai Rp. 30.000,-/kg. Nilai efisiensi pemasaran yang paling efisien adalah saluran kedua, dimana nilai efisiensi saluran kedua lebih kecil dibandingkan nilai efisiensi saluran pertama. Lobster is one of fisheries commodities in Gunungkidul. Lobster is valued around Rp. 200.000,- to Rp. 400.000,- / kilogram and it makes lobster has high economic value. Lobstor is also one of export commodities.  The lobster production in Gunungkidul Regency in 2012 reached 88,72 tons. The high production of fish must be balanced with the efficient marketing of fishery products that are easily damaged. Marketing is the most important point in running a fishing business because marketing is an economic action that influences the fishermen’s income. The research was intended to analyze the distribution network, marketing margin, profit and the marketing efficiency in every market. Descriptive method was used in this research, specifically descriptive method using study case approach and accidental sampling method.  The result has shown that there are two distribution channels in every TPI 2 channels namely 1) Producer à fish wholesaler à Consumers and 2) Producer à fish wholesaler à Exporter. The marketing margins for the second line in all TPI from the same wholesaler is Rp. 50.000, - / kg. The marketing margin for the first line rock lobster between Rp.15,000,-/kg to Rp.25,000,-/kg. Sand lobster between Rp.20,000,-/kg to Rp.30,000,-/kg. The most efficient market value is the second line where the efficiency value is less than the first line’s efficiency value.

Page 3 of 4 | Total Record : 39