cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jppt@apps.ipb.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Marine Research
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 24077690     DOI : 10.14710/jmr.v9i4.28340
Core Subject : Science,
The Journal of Tropical Fisheries Management is managed by the Department of Water Resource Management, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Bogor Agricultural University aims to publish the results of basic, applied research in the scope of fisheries resources, fish stock studies, and population dynamics, fish biodiversity, fisheries technology, industrialization and fish trade, fisheries management, and fisheries development policies in the tropics, especially Indonesia. The scope of the area includes: Marine Fisheries Coastal Fisheries Inland Fisheries The focus and scope of this publication are expected to contribute thoughts for the government to strengthen the science of fisheries management
Arjuna Subject : -
Articles 825 Documents
Analisis Hubungan Panjang Berat Kerang yang Berbeda Cara Makannya : Kerang Darah dan Kerang Hijau yang didapat Di Perairan Tambak Lorok Semarang Muhammad Faiz Abadi; Chrisna Adhi Suryono; Retno Hartati
Journal of Marine Research Vol 14, No 1 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i1.43844

Abstract

Kerang darah (Anadara granosa) dan kerang hijau (Perna viridis) merupakan biota laut dari kelas bivalvia yang banyak dimanfaatkan untuk dijadikan bahan konsumsi. Kerang mudah ditemukan di darah pesisir seperti Tambak Lorok Semarang. Penangkapan kerang yang tidak memperhatikan ukuran dapat mengakibatkan overfishing yang berdampak pada penangkapan di masa depan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi ukuran panjang dan berat serta hubungan panjang cangkang dan berat total. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah deskreptif kuantitatif. Sebanyak 360 sampel kerang darah dan 360 sampel kerang hijau yang diperoleh dari tempat pelelangan ikan pasar Tambak Lorok diukur panjang dan beratnya. Panjang cangkang kerang diukur dari ujung anterior sampai ujung posterior dan pengukuran berat total kerang dilakukan dengan menimbang keseluruhan cangkang dan dagingnya. Hasil pengukuran kerang darah yang diperoleh menunjukan panjang cangkang adalah 23,4-40,6 mm dengan berat total 4,2-22,4 gram serta pengukuran kerang hijau yang diperoleh menunjukan panjang cangkang adalah 31-80 mm dengan berat total 3-32 gram. Pola pertumbuhan pada kerang darah (A. granosa) dan kerang hijau (P. Viridis) yang ditemukan di daerah perairan Tambak Lorok adalah allometrik negatif dengan nilai b sebesar 2, 4509 dan 2,5236 yang menunjukan bahwa pertumbuhan panjang cangkang akan lebih cepat dibandingkan pertumbuhan berat kerang.  
Tingkat Herbivori Daun Mangrove Avicennia marina (Forskk.) Vierh di Kota Pekalongan, Jawa Tengah Rany Nabilla Sari; Nirwani Soenardjo; Nur Taufiq Syamsudin Putra Jaya
Journal of Marine Research Vol 14, No 4 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i4.49182

Abstract

Ekosistem mangrove berperan penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan pesisir, terutama dalam penyediaan bahan organik dan penyerapan karbon. Aktivitas herbivori pada daun mangrove dapat mengurangi produktivitas ekosistem dan memengaruhi keseimbangannya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat herbivori daun pada spesies Avicennia marina (Forskk.) Vierh di Desa Kandang Panjang, Kota Pekalongan, berdasarkan kategori tinggi pohon (2 m) dan umur daun (muda, tua). Pengambilan sampel dilakukan pada Oktober 2023 menggunakan metode survei dengan teknik pengambilan acak. Sampel daun dianalisis menggunakan perangkat lunak ImageJ untuk menghitung persentase kerusakan daun. Hasil menunjukkan bahwa tingkat herbivori tertinggi pada A. marina terjadi pada daun tua dengan tinggi pohon 1–2 m sebesar 9,66%, sedangkan tingkat terendah pada daun tua dengan tinggi pohon
Tingkat Herbivori Daun Mangrove Di Desa Bedono, Sayung, Demak, Jawa Tengah Rahma Nimas Healthy Jayanti; Hadi Endrawati; Nur Taufiq-SPJ
Journal of Marine Research Vol 14, No 2 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i2.38645

Abstract

Bentuk aktivitas herbivori merupakan kegiatan memakan daun mangrove oleh fauna (herbivor) yang berada di dahan pohon secara langsung. Mengetahui aktivitas herbivori pada daun mangrove sangatlah penting karena merupakan indikator kesehatan dan kualitas pada ekosistem mangrove. Pemangsaan yang dilakukan oleh herbivor akan mempengaruhi perubahan keseimbangan karbohidrat yang dihasilkan dan melemahnya struktur fisik pada tumbuhan. Oleh karena itu, penting diketahui tingkat herbivori pada tumbuhan mangrove untuk melihat tingkat kesehatan ekosistem mangrove. Tujuan dari penelitian ini yaitu menganalisis tingkat herbivori daun mangrove Avicennia marina dan Rhizophora mucronata pada ekosistem mangrove di Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak. Penelitian dilakukan pada bulan Januari 2023. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode purposive sampling. Metode penentuan lokasi ini dilakukan berdasarkan pertimbangan kondisi mangrove yang ada di lapangan yaitu pada lokasi yang banyak terdapat kerusakan dan letaknya lebih mudah dijangkau. Sampel daun spesies Avicennia marina dan Rhizophora mucronata diambil berdasakan tiga kategori ketinggian berbeda, yaitu <1 m, 1-2 m, dan >2m, masing-masing sebanyak 10 pohon sebagai ulangan. Daun dipisahkan berdasarkan umur daun (muda dan tua) dan kondisi daun (rusak dan utuh). Total daun yang diambil sebanyak 10% dari setiap pohon. Hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata tingkat herbivori pada setiap kategori spesies, umur daun dan tinggi pohon yaitu pada spesies Avicennia marina 6.739% kisaran (0.038-46.202) hingga 32.180% kisaran (14.821-59.066) sedangkan pada spesies Rhizophora mucranata sebesar 5.40% kisaran (0,19-21.57) hingga 10,87% kisaran (0,53 - 43,46). Tingkat herbivori Avicennia marina lebih tinggi daripada Rhizophora mucronata. Rendahnya persentase tingkat herbivori mengidentifikasikan bahwa ekosistem mangrove di Bedono masih tergolong sehat. The form of herbivory activity is the activity of eating mangrove leaves by fauna (herbivores) that are directly on the tree branches. Knowing herbivorous activity in mangrove leaves is very important because it is an indicator of the health and quality of mangrove ecosystems. Predation by herbivores will affect changes in the balance of carbohydrates produced and the weakening of the physical structure of plants. Therefore, it is important to know the level of herbivory in mangrove plants to see the level of health of the mangrove ecosystem. The purpose of this study was to analyze the herbivory level of Avicennia marina and Rhizophora mucronata mangrove leaves in the mangrove ecosystem in Bedono Village, Sayung District, Demak Regency. The research was conducted in January 2023. The method used in this study was a purposive sampling method. This method of determining the location was based on consideration of the condition of the mangroves in the field, namely at locations where there was a lot of damage and where it was easier to reach. Leaf samples of Avicennia marina and Rhizophora mucronata species were taken based on three different height categories, namely <1 m, 1-2 m, and >2 m, with 10 trees each as replicates. Leaves are separated based on leaf age (young and old) and leaf condition (damaged and intact). The total leaves taken were 10% from each tree. The results showed that the average value of herbivory in each species category, leaf age and tree height was for Avicennia marina species 6.739% range (0.038-46.202) to 32.180% range (14.821-59.066) while for Rhizophora mucranata species it was 5.40% range (0.19-21.57) to 10.87% range (0.53 - 43.46). Avicennia marina herbivory level is higher than Rhizophora mucronata. The low percentage of herbivory indicates that the mangrove ecosystem in Bedono is still relatively healthy.
Screening Squalene dari Hati Hiu Non Appendiks Carcharhinus brevipinna di PPN Pemangkat Kalimantan Barat Dwi Imam Prayitno; Nadiya Nadiya; Nora Idiawati; Dwi Ari Priyatno
Journal of Marine Research Vol 14, No 4 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i4.39408

Abstract

Tangkapan hiu di PPN Pemangkat Kalimantan Barat dari bulan Mei sampai Agustus tahun 2022, menunjukkan hiu Non Appendiks lebih dominan,dengan presentase sebagai berikut: 88, 87,50, 85,71dan75% dari keseluruhan jumlah tangkapanhiu. Dalam penelitian ini dilakukan analisis kandungan minyak hati hiu Non Appendiks jenis Carcharhinus brevipinna. Untuk menghasilkan minyak kaya squalene dan senyawa lainnya dilakukan ekstraksi menggunakan metode dry rendering dengan alat vakum drying pada perlakuan suhu 50oC selama 8 jam, kemudian sampel minyak hati Carcharhinus brevipinna dianalisis menggunakan GC-MS (Gas Chromatography Mass Spectrometry) Shimadzu QP 2010. Hasil analisis menunjukkan kandungan senyawa squalene sebesar 27,60% selain itu terdapat kandungan senyawa lain seperti SFA (Saturated Fatty Acid), MUFA (MonoUnsaturated Fatty Acid), PUFA (PolyUnsaturated Fatty Acid) memiliki nilai kandungan 49,44, 14,77dan 35,80%. Penelitian ini menunjukkan bahwa hiu Non Appendiks yang secara statistik mendominasi hasil tangkapan nelayan PPN memiliki potensi sebagai sumber baru squalene selain hiu Appendiks, namun masih perlu peninjauan kembali tentang populasi hiu Carcharhinus brevipinna dan metode ekstraksi untuk menghasilkan kandungan squalene yang berorientasi konservasi dalam menjaga kelestarian hiu.
Peran Tasamu Rawanang dalam Restorasi Hutan Mangrove di Pesisir Kampung Asai Kabupaten Kepulauan Yapen Papua Orgenes Bleskadit; Nurhani Widiastuti; Fanny Fransina Carolina Simatauw; Ruben Bais Rumbiak; Imam Setiawan; Emmanuel Manangkalangi; Fitriyah Irmawati Elyas Saleh
Journal of Marine Research Vol 15, No 1 (2026): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v15i1.50692

Abstract

Sebagai upaya memulihkan kondisi perikanan dan ekosistem pesisir,  masyarakat Kampung Asai melaksanakan tasamu rawanang (peleh lautan) yang berlangsung sejak Agustus 2022.  Penelitian ini dilaksanakan pada April hingga Mei 2023, bertujuan untuk mengetahui apakah restorasi mangrove secara alami dapat terjadi tanpa adanya penanaman mangrove, melalui pengkajian struktur vegetasi mangrove dan indeks ekologi mangrove. Untuk memperoleh data vegetasi digunakan metode transek kuadran di 3 stasiun. Struktur komunitas mangrove yang dianalisi adalah Indeks Nilai Penting (INP) dan indeks ekologi yang dianalisis antara lain indeks keanekaragaman, indeks kemerataan, dan indeks dominansi. Hasil penelitian menginformasikan bahwa terdapat 11 jenis mangrove sejati. INP tingkat pohon tertinggi adalah R. apiculata (154,743%) diikuti B. gymnorrhiza (59,696%) dan R. mucronata (26,655%). Pada tingkat anakan dan semai, R.apiculata juga memiliki INP tertinggi. Nilai rata-rata keanekaragaman pada tingkat pohon adalah 1,263, tingkat anakan 1,165 dan tingkat semai 1,051, yang masuk dalam kelas keanekaragaman sedang. Indeks kemerataan jenis pada tingkatan pohon berkisar antara 0,595-0,625. Untuk tingkat anakan berkisar antara 0,626-0,786. Sedangkan untuk tingkatan semai berkisar antara 0,768-0,772. Hal ini menunjukkan bahwa penyebaran individu mangrove di lokasi penelitian cenderung merata atau memiliki tingkat kemerataan yang tinggi. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa pelaksanaan tasamu rawanang selama 9 bulan telah berkontribusi positif terhadap restorasi mangrove secara alami. Meskipun demikian,  kondisi ekosistem masih mengalami tekanan sehingga upaya pengelolaan berkelanjutan yang inklusif harus terus diupayakan.  The Asai village community has been conducting tasamu rawanang since August 2022 to restore the condition of fisheries and coastal ecosystems. This research was conducted from April to May 2023 to determine whether natural mangrove restoration can occur without mangrove planting by studying mangrove vegetation structure and the mangrove ecological index. To obtain vegetation data, the quadrant transect method was used at three stations. The mangrove community structure analysed was the Important Value Index (INP), and the ecological indices analysed were the Diversity Index, Uniformity Index, and Dominance Index. The study's results indicate that there are 11 true mangrove species. The highest INP at the tree level was R. apiculata (154.743%), followed by B. gymnorrhiza (59.696%) and R. mucronata (26.655%). At the sapling and seedling level, R. apiculata also had the highest INP.  The species uniformity index at the tree level ranged from 0.595 to 0.625. For the sapling level, it ranged from 0.626 to 0.786. At the seedling level, it ranged from 0.768 to 0.772. This shows that the distribution of mangrove individuals in the study area tends to be even, or at least highly uniform. Furthermore, this study's findings demonstrate that, even within a relatively short 9-month implementation period, the Tasamu approach has contributed to natural mangrove restoration. Nevertheless, the ecosystem remains under pressure, and inclusive, sustainable management efforts need to continue.

Filter by Year

2012 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 15, No 1 (2026): Journal of Marine Research Vol 14, No 4 (2025): Journal of Marine Research Vol 14, No 3 (2025): Journal of Marine Research Vol 14, No 2 (2025): Journal of Marine Research Vol 14, No 1 (2025): Journal of Marine Research Vol 13, No 4 (2024): Journal of Marine Research Vol 13, No 3 (2024): Journal of Marine Research Vol 13, No 2 (2024): Journal of Marine Research Vol 13, No 1 (2024): Journal of Marine Research Vol 12, No 4 (2023): Journal of Marine Research Vol 12, No 3 (2023): Journal of Marine Research Vol 12, No 2 (2023): Journal of Marine Research Vol 12, No 1 (2023): Journal of Marine Research Vol 11, No 4 (2022): Journal of Marine Research Vol 11, No 3 (2022): Journal of Marine Research Vol 11, No 2 (2022): Journal of Marine Research Vol 11, No 1 (2022): Journal of Marine Research Vol 10, No 4 (2021): Journal of Marine Research Vol 10, No 3 (2021): Journal of Marine Research Vol 9, No 4 (2020): Journal of Marine Research Vol 9, No 1 (2020): Journal of Marine Research Vol 8, No 4 (2019): Journal of Marine Research Vol 8, No 3 (2019): Journal of Marine Research Vol 7, No 3 (2018): Journal of Marine Research Vol 3, No 4 (2014): Journal of Marine Research Vol 3, No 3 (2014): Journal of Marine Research Vol 3, No 2 (2014): Journal of Marine Research Vol 3, No 1 (2014) : Journal of Marine Research Vol 2, No 4 (2013) : Journal of Marine Research Vol 1, No 2 (2012): Journal of Marine Research Vol 1, No 1 (2012): Journal of Marine Research More Issue