cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jppt@apps.ipb.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Marine Research
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 24077690     DOI : 10.14710/jmr.v9i4.28340
Core Subject : Science,
The Journal of Tropical Fisheries Management is managed by the Department of Water Resource Management, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Bogor Agricultural University aims to publish the results of basic, applied research in the scope of fisheries resources, fish stock studies, and population dynamics, fish biodiversity, fisheries technology, industrialization and fish trade, fisheries management, and fisheries development policies in the tropics, especially Indonesia. The scope of the area includes: Marine Fisheries Coastal Fisheries Inland Fisheries The focus and scope of this publication are expected to contribute thoughts for the government to strengthen the science of fisheries management
Arjuna Subject : -
Articles 825 Documents
Hubungan Panjang dan Berat Ikan Pelagis Kecil: Kembung Lelaki (Rastrelliger kanagurta) dan Selar Kuning (Selaroides leptolepis) Yang Didaratkan di TPI Majakerta, Kabupaten Indramayu Banafsha Ambarwati; Chrisna Adhi Suryono; Gunawan Widi Santosa
Journal of Marine Research Vol 14, No 3 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i2.50168

Abstract

Ikan pelagis kecil, seperti ikan kembung lelaki (Rastrelliger kanagurta) dan ikan selar kuning (Selaroides leptolepis), merupakan sumber daya perikanan yang melimpah dan bernilai ekonomi tinggi di perairan Indonesia. Kedua jenis ikan ini didaratkan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Majakerta, Indramayu, sebagai hasil tangkapan utama nelayan. Namun, informasi ilmiah tentang distribusi ukuran panjang dan berat, serta pola pertumbuhan ikan tersebut masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis distribusi ukuran panjang dan berat, hubungan panjang dan berat, serta faktor kondisi ikan kembung lelaki dan ikan selar kuning. Peneltian ini dilaksanakan di TPI Majakerta pada September-Oktober 2024. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan systematic random sampling. Hasil penelitian menunjukkan frekuensi panjang total ikan kembung lelaki berkisar antara 17–26 cm dengan berat 67–251 gram, sedangkan panjang total ikan selar kuning berkisar antara 18–24 cm dengan berat 67–215 gram. Hubungan panjang dan berat ikan kembung lelaki W=0.0892L2,3541 dan ikan selar kuning W=0,0503L2,5597. Kedua ikan memiliki tipe pertumbuhan alometrik negatif dengan nilai b 2,354 pada ikan kembung lelaki dan nilai b 2,559 pada ikan selar kuning. Faktor kondisi rata-rata ikan kembung lelaki sebesar 1,330 dan ikan selar kuning sebesar 1,322, yang mengindikasikan bahwa kedua jenis ikan berada dalam kondisi kesehatan yang baik. 
Kelimpahan Megabenthos yang Berkaitan dengan Karakteristik Substrat di Ekosistem Padang Lamun Perairan Jepara Syafitri Indah Febryana; Ita Riniatsih; Munasik Munasik
Journal of Marine Research Vol 14, No 1 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i1.42802

Abstract

Megabenthos menjadi salah satu kelompok biota laut yang berasosiasi dengan ekosistem padang lamun serta memiliki peran penting dalam pemanfaatan bahan organik di substrat perairan. Megabenthos hidup menetap di substrat dasar ekosistem padang lamun sehingga karakteristik substrat dan kandungan nutrient di dalamnya memengaruhi  keberadaan dan kelimpahan megabenthos yang berasosiasi di ekosistem padang lamun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan megabenthos di ekosistem padang lamun dan keterkaitannya terhadap karakteristik substrat dan parameter lingkungan pada Perairan Pantai Blebak, Pantai Semat, dan Pantai Ujung Piring, Jepara. Penelitian ini dilakukan dengan penentuan stasiun pengambilan data secara purposive sampling. Pengambilan data lamun dan megabenthos menggunakan metode line transect dan analisis data kelimpahan terhadap faktornya menggunakan Principal Component Analysis (PCA). Hasil pengamatan menunjukkan ditemukannya 27 spesies megabenthos dari filum Gastropoda, Bivalvia, Asteroidea, dan Holothuroidea pada ketiga lokasi pengamatan. Kelimpahan megabenthos Perairan Pantai Blebak dengan substrat dasar pasir halus, Pantai Semat dengan substrat pasir kasar berlumpur, dan Ujung Piring dengan substrat pasir sangat halus diperoleh dari yang terendah sebesar 0,10 ind/m2, 0,113 ind/m2, dan 0,13 ind/m2. Kelimpahan megabenthos dicirikan oleh faktor persentase tutupan lamun, karakteristik substrat, bahan organik, dan parameter fisika kimia perairan.
Karakteristik Bio-fisik Pantai Sebagai Lokasi Peneluran Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea) Di Konservasi Penyu Nagaraja, Cilacap Muhammad Rafi Tsaqif; Retno Hartati; Widianingsih Widianingsih; Jumawan Jumawan
Journal of Marine Research Vol 14, No 4 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i4.49113

Abstract

Penyu lekang (L. olivacea) merupakan salah satu spesies yang terancam punah sehingga membutuhkan habitat pantai yang sesuai untuk keberlangsungan siklus hidupnya, salah satunya ialah ancaman hilangnya habitat peneluran penyu, Lokasi penelitian ini adalah Kawasan Konservasi Penyu Nagaraja, Cilacap di ketiga lokasi pantai yaitu Pantai Sodong; Pantai Widarapayung; dan Pantai Sidaurip. Pantai ini merupakan salah satu pantai yang menjadi tempat pendaratan beberapa penyu lekang. Penelitian ini dilaksanakan pada Bulan Juli-Agustus 2024, dimana fase Bulan akhir dari peneluran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik Bio-fisik pantai tempat peneluran penyu dan mengetahui perbandingan jumlah telur sarang alami peneluran di Kawasan Konservasi Penyu Nagaraja, Cilacap. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif eksploratif, pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi langsung di lapangan dengan pengamatan sarang alami penyu. Hasil penelitian menunjukkan ditemukan 2 sarang alami peneluran berjumlah 259 telur di Pantai Sodong, 3 sarang alami peneluran yang berjumlah 229 telur, 6 sarang alami peneluran yang berjumlah 624 telur. Berdasarkan hasil parameter bio-fisik meliputi suhu pasir, dalam sarang berkisar antara 27-29oC. Kelembaban 68-82%. Lebar pantai 36-64 meter, kemiringan pantai 1,8o-10o. Komposisi sedimen Pantai Sodong pasir kasar; Pantai Widarapayung dan Pantai Sidaurip adalah pasir sedang. 
Distribusi Ukuran Rajungan (Portunus pelagicus) di Perairan Desa Danasari Kabupaten Pemalang Reza Achmad Fauzi; Nur Taufiq-SPJ; Suryono Suryono
Journal of Marine Research Vol 14, No 2 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i2.44591

Abstract

Indonesia memiliki keanekaragaman hayati laut yang tinggi salah satu sumberdaya tersebut adalah rajungan (Portunus pelagicus) yang merupakan salah satu komoditas perikanan yang bernilai ekonomis penting karena permintaannya tinggi dan merupakan komoditas ekspor dengan harga yang tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui distribusi ukuran rajungan dan tingkat kematangan gonad. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif untuk mengetahui ukuran karapas, bobot tubuh dan tingkat kematangan gonad rajungan dan metode random sampling untuk menentukan titik pengambilan sampel. Penelitian dilakukan pada tanggal 23 Oktober – 21 November 2023. Pengambilan data rajungan yang dilakukan meliputi lebar karapas dan berat tubuh, jenis kelamin, dan tingkat kematangan gonad. Sampel rajungan yang dikumpulkan berjumlah 2455 ekor (1473 ekor rajungan jantan dan 982 ekor rajungan betina). Hasil dari penelitian ini menunjukkan rajungan yang paling banyak ditemukan memiliki ukuran lebar karapas yang berkisar antara 104-116 mm dan berat tubuh 61-86 g. dengan persamaan hubungan lebar karapas dan berat tubuh sebesar 0.0001L2.8512 untuk rajungan betina dan 0.0002L2.7345 untuk rajungan jantan. Rajungan yang ditemukan lebih banyak berkelamin jantan dibandingkan betina dan rajungan betina yang ditemukan dalam usia dewasa dengan Tingkat Kematangan Gonad kategori 2 (Matured). Hasil tersebut menunjukkan kondisi rajungan (Portunus pelagicus) di Perairan Desa Danasari Pemalang memiliki komposisi berdasarkan ukuran, dan tingkat kematangan gonad yang cukup ideal, namun untuk rasio jenis kelamin didapatkan tidak ideal karena menunjukkan hasil perbandingan rajungan jantan dengan rajungan betina tidak seimbang. Indonesia possesses a high biodiversity of marine life, and one of its valuable resources is the blue swimming crab (Portunus pelagicus), a fisheries commodity of significant economic importance due to its high demand and export value. The aim of this research is to determine the size distribution of blue swimming crabs and their gonadal maturity levels. The methodology employed in this study is quantitative descriptive, focusing on carapace size, body weight, and gonadal maturity levels of blue swimming crabs. The research was conducted from October 23 to November 21, 2023. Data collection for blue swimming crabs included measurements of carapace width, body weight, gender, and gonadal maturity level. A total of 2455 specimens were collected 1473 male and 982 female blue swimming crabs. The results indicate that the most commonly found blue swimming crabs have carapace widths ranging from 104-116 mm and body weights of 61-86 g. The relationship between carapace width and body weight is expressed by the equations 0.0001L2.8512 for female crabs and 0.0002L2.7345 for male crabs. Male blue swimming crabs were more abundant than females. Furthermore, matured female blue swimming crabs were found with Gonadal Maturity Level 2. These findings suggest that the blue swimming crab population (Portunus pelagicus) in the waters of Danasari Village, Pemalang, exhibits a composition based on size and gonadal maturity levels that is relatively ideal. However, the gender ratio is deemed less ideal due to an imbalanced proportion of male to female blue swimming crabs.
Invasif Phyllorhiza punctata von Lendenfeld, 1884 di Pantai Pasir Panjang, Singkawang, Kalimantan Barat Shifa Helena; Warsidah Warsidah; Nor Sa’adah
Journal of Marine Research Vol 14, No 2 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i2.46749

Abstract

Phyllorhiza punctata merupakan spesies asing invasif. Kebanyakan ubur-ubur memakan zooplankton, sebagai produktivitas primer bagi semua ekosistem perairan. Phyllorhiza punctata telah ditemukan dalam jumlah besar di perairan Ancol Jakarta pada tahun 2018. Ditemukannya Phyllorhiza punctata  di Pantai Pasir Panjang Singkawang Kalimantan Barat pada Juni 2024 memunginkan akan merugikan ekosistem. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kondisi kualitas perairan apakah dapat mendukung pertumbuhan Phyllorhiza punctate. Metode yang digunakan adalah pengamatan visual keberadaan Phyllorhiza punctate disekitar Pantai Pasir Panjang Singkawang dan Pengukuran Kualitas Air seperti Salinitas, Suhu dan Kecepatan Arus secara in-situ. Penelitian ini menunjukan bahwa perairan di kawasan pantai Pasir Panjang memiliki suhu air yang hangat, hal ini dapat membuat populasi Phyllorhiza punctate meningkat dengan cepat. Keberadaan Pantai Pasir Panjang yang berada didekat pelabuhan Internasional Kijing juga memungkinkan  menjadi salah satu penyebab masuknya Phyllorhiza punctate. Hal ini sesuai dengan hipotesis bahwa polip yang sedang tumbuh mungkin menempel pada kapal, atau terbawa dalam tangki pemberat kapal yang kemudian dibuang. Kondisi perairan hangat dengan suhu rata-rata 30 ⁰C dan salinitas 32 ppt akan mendukung pertumbuhan Phyllorhiza punctate, hal ini tentu akan merugikan mengingat setiap ubur-ubur dapat membersihkan 50 m3 air yang berisi plankton dalam satu hari, menjadikan kumpulan ubur-ubur Phyllorhiza punctata yang padat menjadi berbahaya karena dapat mengubah jaring makanan di kolom air.  Phyllorhiza punctata is an invasive species. Like most jellyfish, they feed on zooplankton, which is important to all aquatic ecosystems. Phyllorhiza punctata was found in large numbers in the waters of Ancol Jakarta in 2018. The discovery of Phyllorhiza punctata in the Pasir Panjang Beach, Singkawang, West Kalimantan at June 2024 is likely to be detrimental to the ecosystem. The aim of this research is to find out whether water quality conditions can support the growth of Phyllorhiza punctate.The method used is a visual observation of the presence of Phyllorhiza punctate around Pasir Panjang Singkawang Beach and in-situ measurement of water quality such as salinity, temperature and current speed. This research shows that the waters in the Pasir Panjang coastal area experience a "Loop current" or warm ocean current, which causes the population of Phyllorhiza punctate to increase rapidly. The existence of Pasir Panjang Beach which is near the Kijing International port may also be one of the causes of the entry of Phyllorhiza punctate. This is consistent with the hypothesis that the growing polyp may be attached to the ship, or carried in the ship's ballast tanks and then thrown away. Warm water conditions with an average temperature of 30 ⁰C and salinity of 32 ppt will support the growth of Phyllorhiza punctate, this will certainly be detrimental considering that each jellyfish can clean 50 cubic meters of water containing plankton in one day, creating a collection of Phyllorhiza punctata jellyfish Dense ones are dangerous because they can change the food web in the water column. 
Profil Morfologi, Lingkungan Perairan, dan Potensi Ekonomi Ulva sp. di Bali Desy Febrianti; Fenny Crista Anastasia Panjaitan; Amiqatul Fikriyah; Resti Nurmala Dewi; Achmad Suhermanto; Iman Muhaimin; Dimas Rizky Hariyadi; Indra Kristiana; Sumartini Sumartini; Nur Hidayah
Journal of Marine Research Vol 15, No 1 (2026): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v15i1.48207

Abstract

Beberapa lokasi di Pulau Bali dilaporkan memiliki potensi alga hijau atau chlorophyta dari jenis Ulva Sp. Namun, pemanfaatan ekonominya masih belum optimal. Penelitian ini bertujuan melakukan identifikasi morfologi, karakteristik perairan, dan potensi pengembangan ekonomi Ulva Sp. di Pulau Bali. Pengambilan sampel dilakukan pada delapan lokasi yang terdapat di Kabupaten Jembrana, Buleleng, dan Kota Denpasar. Setiap lokasi memiliki 3 stasiun pengambilan sampel dengan luasan 30x30 cm per stasiun. Pengamatan morfologi pada sampel Ulva sp. dilakukan secara visual/manual terkait bentuk, ukuran, dan warna talus. Parameter karakteristik perairan yang dianalisis yaitu suhu, pH, salinitas, DO, jenis substrat, dan kondisi liangkungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 4 morfologi talus berbeda yang ditemukan yaitu talus pipih, bermembran, dan transparan ditemukan di satu lokasi; talus pipih, kaku, dan hijau keperakan ditemukan di lima lokasi, talus tabung, kusut dan bergerigi ditemukan di tiga lokasi; serta talus tabung, lurus, dan bercabang ditemukan di dua lokasi. Parameter kualitas air di lokasi tumbuhnya Ulva seperti suhu berkisar antara 26,5-30,7 OC, DO 6,3-10,2 mg/l, salinitas 29,5-31,5 ppt, pH 7,94-8,25. Ulva sp. ditemukan di wilayah pantai yang masih terpengaruh pasang surut dengan substrat berupa pasir, pasir berbatu, atau hamparan batu karang. Pemanfaatan Ulva secara ekonomis oleh masyarakat masih terbatas pada jenis Ulva dengan talus pipih, bermembran, dan transparan serta talus pipih, kaku, dan hijau keperakan, yang digunakan untuk pakan abalon (ulva segar) dan dijual ke industri (ulva kering), Harga Ulva segar berkisar Rp 2.000,- s.d Rp 5.000,-, harga Ulva kering berkisar antara Rp 3.000 s.d Rp 15.000,-.  Several locations in Bali are reported to have the potential for green algae or chlorophyta from Ulva Sp. However, it’s economic utilization is still not optimal. This study aims to identify the morphology, water characteristics, and economic development potential of Ulva Sp. in Bali. Sampling was carried out at eight locations in Jembrana Regency, Buleleng, and Denpasar City. Each location has 3 sampling stations with an area of 30x30 cm per station. Morphological observations on Ulva spesimen were carried out visually/manually related Thallus texture, shape, size, abd colour. The parameters of the water characteristics described were temperature, pH, salinity, DO, type of substrate, and environmental conditions. The results showed that there were 4 different thallus morphologies; Flat thallus, thin, membranous, and transparent thallus found in one location; Flat thallus, stiff, and mid to dark green with strong metalic gloss found in five locations, tubular, crumpled texture with denticulation macro and microscopic thallus found in three locations; and tubular, straight, and branched thallus found in two locations. Water quality parameters at the location where Ulva grows such as temperature ranges from 26.5-30.7 OC, DO 6.3-10.2 mg/l, salinity 29.5-31.5 ppt, pH 7.94-8.25. Ulva sp. is found in coastal areas that are still affected by tides with substrates in the form of sand, rocky sand, or coral reefs. The economic utilization of Ulva by the community is still limited to the type of Ulva with Flat thallus, thin, membranous, and transparent thallus and flat, stiff, and mid to dark green with strong metalic gloss thallus, which are used for abalone feed (fresh ulva) and to industry (dried ulva). The price of fresh Ulva ranges from IDR 2,000 to IDR 5,000, the price of dried Ulva ranges from IDR 3,000 to IDR 15,000. 
Kelimpahan Dan Kekayaan Spesies (Species Richness) Plankton Di Teluk Balikpapan Perairan Penyangga Ibu Kota Nusantara Di Kalimantan Timur Antyenlin Riastra; Iwan Suyatna; Nurfadilah Nurfadilah
Journal of Marine Research Vol 15, No 1 (2026): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v15i1.47881

Abstract

Plankton merupakan organisme air yang memiliki peranan penting bagi biota perairan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kelimpahan dan kekayaan spesies plankton di Perairan Penyangga Ibu Kota Nusantara di Kalimantan Timur. Metode yang digunakan random sampling, pengambilan plankton dilakukan dipermukaan air dan kedalaman 5m. Waktu pengambilan sample periode 1 pada bulan Februari dan periode 2 pada bulan Maret 2024. Hasil penelitian menunjukan bahwa kelimpahan plankton periode 1 berkisar 100-873 ind/l dan kelimpahan pada periode 2 berkisar 446-2420 ind/l. kelimpahan tertinggi periode 1 di stasiun 2 kedalaman 5m dengan jumlah 873 ind/l. kelimpahan tertinggi periode 2 di stasiun 1 kedalaman 5m dengan jumlah 2420 ind/l. Keanekaramagaman plankton tertinggi pada periode 1 berkisar 1,24-1,41, sedangkan pada periode 2 berkisar 1,78-2,34 dengan kriteria tergolong rendah. Kekayaan plankton indeks Margalef tertinggi pada periode 1 berkisar 0,97-1,93 sedangkan periode 2 berkisar 2,38-3,56 kriteria ini termasuk rendah. Indeks Bray-Curtis memiliki kisaran nilai 0,91-0,98 yang menunjukan tidak adanya perbedaan pada jumlah spesies. Plankton is an aquatic organism that has an important role for aquatic biota. The purpose of this study was to determine the abundance and species richness of plankton in the Buffer Waters of the Archipelago Capital in East Kalimantan. The method used was random sampling, plankton collection was carried out at the surface of the water and a depth of 5m. Sampling time for period 1 in February and period 2 in March 2024. The results showed that the abundance of plankton in period 1 ranged from 100-873 ind/l and abundance in period 2 ranged from 446-2420 ind/l. the highest abundance in period 1 at station 2 at 5m depth with a total of 873 ind/l. the highest abundance in period 2 at station 1 at 5m depth with a total of 2420 ind/l. The highest plankton diversity in period 1 ranged from 1.24-1.41, while in period 2 ranged from 1.78-2.34 with criteria classified as low. The highest Margalef index plankton richness in period 1 ranged from 0.97-1.93 while period 2 ranged from 2.38-3.56 this criterion is low. The Bray-Curtis index ranges from 0.91-0.98 which shows no difference in the number of species.
Kondisi Ekosistem Lamun Di Pantai Blebak, Ujung Piring, dan Semat, Kabupaten Jepara Sabna Suryaningtias; Ita Riniatsih; Hadi Endrawati
Journal of Marine Research Vol 13, No 4 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i4.42799

Abstract

Hubungan antara lamun dengan lingkungannya yang menggambarkan karakteristik biodiversitas lamun, vegetasi asosiasi, dan kondisi ekosistemnya disebut sebagai bioekologi lamun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi ekosistem lamun di Pantai Blebak, Ujung Piring, dan Semat, Kabupaten Jepara. Pengamatan dilakukan di 3 stasiun berbeda menggunakan metode line transect yang mengacu pada buku Panduan Monitoring Padang Lamun dari LIPI. Hasil penelitian ditemukan lamun sebanyak 5 jenis, yaitu Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Enhalus acoroides, Oceana serrulata, dan Halodule uninervis. Persentase penutupan lamun berkisar antara 16,62 – 32,91% dengan persentase tertinggi di Pantai Semat kategori penutupan sedang dan terendah di Pantai Blebak kategori penutupan jarang. Kerapatan lamun berkisar antara 48,12 – 116,48 ind/m2. Thalassia hemprichii memiliki kerapatan jenis lamun tertinggi dan kerapatan jenis terendah Oceana serrulata. Substrat di ketiga stasiun didominasi oleh pasir. Berdasarkan perhitungan nilai indeks ekologi lamun, Pantai Blebak dan Pantai Ujung Piring memiliki keanekaragaman sedang, keseragaman tinggi, dan tidak mendominasi, sedangkan Pantai Semat memiliki keanekaragaman sedang, keseragaman sedang, dan mendominasi. Perhitungan Indeks Kesehatan Ekosistem Lamun (IKEL) yang meliputi variabel jumlah jenis lamun, persentase penutupan lamun, persentase penutupan makroalga, persentase penutupan epifit, dan kecerahan air menunjukkan bahwa di Pantai Blebak dan Pantai Ujung Piring berstatus buruk, sedangkan Pantai Semat berstatus sangat buruk. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 tentang Baku Mutu Air Laut untuk ekosistem lamun, secara keseluruhan nilai parameter perairan pada ekosistem lamun di ketiga stasiun penelitian masih tergolong baik bagi keberlangsungan ekosistem lamun. The relationship between the seagrass and its environment that describes the characteristics of the seagrass’s biodiversity, the vegetation associated, and the conditions of the ecosystem is called the bioecology of seagrass. This research aims to find out the condition of the seagrass ecosystem in Blebak, Ujung Piring, and Semat Beach, Jepara Regency. The observation consists of 3 stations using the line transect method referring to the book Seagrass Monitoring Guide from LIPI. The results found 5 species of seagrass, that is Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Enhalus acoroides, Oceana serrulata, and Halodule uninervis. The percentage of seagrass cover ranges between 16,62 – 32,91% with the highest in the Semat Beach of the medium category and the lowest in Blebak Beach of rare category. The density ranges from 48,12 – 116,48 ind/m2. Thalassia hemprichii has the highest species density and the lowest Oceana serrulata. The substrate in the 3 stations is dominated by the sand. The ecological index of Blebak Beach and Ujung Piring Beach has moderate diversity, high uniformity, and non-dominant, Semat Beach has moderate diversity, moderate uniformity, and dominant. According to Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 on quality standar of sea water for seagrass ecosystems, the overall value of the parameters of the water condition in seagrass ecosystem still belong to the ecological condition. 
Efisiensi Biodegradasi Plastik LDPE (Low Density Polyethylene) oleh Aspergillus sp. dari Sedimen Mangrove Pantai Tirang Khairunafi Dian Hardini; Aninditia Sabdaningsih; Diah Ayuningrum
Journal of Marine Research Vol 14, No 3 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i3.47272

Abstract

Ekosistem mangrove Pantai Tirang merupakan kawasan dengan vegetasi tropis di zona intertidal yang memiliki berbagai manfaat. Namun, nyatanya pemanfaatan mangrove terancam oleh pencemaran seperti sampah plastik. Plastik merupakan polimer sintesis yang sulit terurai sehingga menjadi sampah yang menumpuk dan bermuara di ekosistem mangrove. Adanya upaya penanggulangan sampah plastik menggunakan mikroorganisme yang telah banyak dilakukan mendorong eksplorasi jamur Aspergillus pada sedimen ekosistem mangrove sekaligus potensinya dalam mendegradasi plastik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kelimpahan isolat dan potensi isolat jamur Aspergillus sp. dalam degradasi plastik LDPE (Low Density Polyethylene), dan mengidentifikasinya secara mikroskopis. Penelitian ini dilakukan pada Januari-Juni 2024 menggunakan metode pendekatan ekperimental dengan pengambilan sampel sedimen secara purposive pada 3 stasiun. Isolasi sampel sedimen menghasilkan 72 isolat yang terdiri atas Aspergillus sp., Mucor sp., Trichoderma sp., Absidia sp., Rhizomucor sp., Penicillium sp.,Fusarium sp., Saccharomyces sp., dan Rhizopus sp. Aspergillus sp. menjadi jenis jamur dengan kelimpahan tertinggi yaitu sebanyak 29 isolat atau sebesar 40,3%. Uji potensi jamur Aspergillus sp. dalam biodegradasi plastik LDPE menunjukan bahwa isolat yang berbentuk bulat dan berwarna hitam mampu mendegradasi plastik dengan nilai efisiensi mencapai 18,47% pada hari ke 28. Identifikasi mikroskopis menunjukan bahwa isolat jamur potensial yang digunakan dalam uji biodegradasi plastik LDPE mengarah pada Aspergillus niger.
Analisis Vegetasi dan Luasan Mangrove di Mangunharjo, Kecamatan Tugu, Kota Semarang Fadzil Eka Jaya Saputra; Nur Taufiq-Spj; Gunawan Widi Santosa
Journal of Marine Research Vol 14, No 1 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i1.34454

Abstract

Kelurahan Mangunharjo sering menjadi pusat kegiatan konservasi mangrove di Kota Semarang sejak awal tahun 2000-an. Tujuan dari adanya penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi ekosistem mangrove melalui analisa vegetasi dan perubahan luasan ekosistem mangrove di Kelurahan Mangunharjo. Pengambilan data vegetasi mangrove dilakukan di 4 stasiun dengan pengambilan data diameter batang, tutupan kanopi, substrat, dan parameter perairan. Perubahan luasan ekosistem mangrove menggunakan metode digitasi citra Google Earth 2002, 2007, 2012, 2017, dan 2021. Hasil penelitian menunjukkan bahwa vegetasi mangrove Kelurahan Mangunharjo ada kecenderungan meningkat dari tahun 2002 ke 2017 dan sedikit menurun di tahun 2021. Vegetasi didominasi oleh spesies Avicennia marina dengan kerapatan mangrove kategori pohon 2.258,4 ind/ha, persentase rata-rata tutupan kanopi 83,37% dengan kenaikan luasan mangrove sebesar 704% (2002-2021) yakni dari 7,5 ha pada tahun 2002 menjadi 60,3 ha pada tahun 2021.  

Filter by Year

2012 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 15, No 1 (2026): Journal of Marine Research Vol 14, No 4 (2025): Journal of Marine Research Vol 14, No 3 (2025): Journal of Marine Research Vol 14, No 2 (2025): Journal of Marine Research Vol 14, No 1 (2025): Journal of Marine Research Vol 13, No 4 (2024): Journal of Marine Research Vol 13, No 3 (2024): Journal of Marine Research Vol 13, No 2 (2024): Journal of Marine Research Vol 13, No 1 (2024): Journal of Marine Research Vol 12, No 4 (2023): Journal of Marine Research Vol 12, No 3 (2023): Journal of Marine Research Vol 12, No 2 (2023): Journal of Marine Research Vol 12, No 1 (2023): Journal of Marine Research Vol 11, No 4 (2022): Journal of Marine Research Vol 11, No 3 (2022): Journal of Marine Research Vol 11, No 2 (2022): Journal of Marine Research Vol 11, No 1 (2022): Journal of Marine Research Vol 10, No 4 (2021): Journal of Marine Research Vol 10, No 3 (2021): Journal of Marine Research Vol 9, No 4 (2020): Journal of Marine Research Vol 9, No 1 (2020): Journal of Marine Research Vol 8, No 4 (2019): Journal of Marine Research Vol 8, No 3 (2019): Journal of Marine Research Vol 7, No 3 (2018): Journal of Marine Research Vol 3, No 4 (2014): Journal of Marine Research Vol 3, No 3 (2014): Journal of Marine Research Vol 3, No 2 (2014): Journal of Marine Research Vol 3, No 1 (2014) : Journal of Marine Research Vol 2, No 4 (2013) : Journal of Marine Research Vol 1, No 2 (2012): Journal of Marine Research Vol 1, No 1 (2012): Journal of Marine Research More Issue