cover
Contact Name
Nanang Setiawan
Contact Email
mozaik@uny.ac.id
Phone
+628122762804
Journal Mail Official
mozaik@uny.ac.id
Editorial Address
Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Yogyakarta, Kampus Karang Malang, Jalan Colombo No. 1, Yogyakarta, Indonesia, Kode Pos 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Mozaik: Kajian Ilmu Sejarah
ISSN : -     EISSN : 28089308     DOI : 10.21831/moz
Core Subject : Humanities, Social,
MOZAIK is an academic journal centered in the study of history. MOZAIK is welcoming contributions from young and more experienced scholars from different disciplines and approaches that focus on historical changes. MOZAIK is an academic journal to discuss various crucial issues in Indonesian history, both at local, national and international levels, covering the history of the early period of Indonesia to contemporary Indonesia. MOZAIK does it in a multidisciplinary and comparative manner.The scope of MOZAIK encompasses all historical subdisciplines, including, but not limited to, cultural, social, economic and political history, historiography, and the philosophy of history.
Articles 124 Documents
Problematika Naskah Sejarah di Dunia Melayu: Antara Mitos dan Realita (Studi Kasus Hikayat Raja Pasai) 'Afifah, Nurul
MOZAIK Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 15 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/mozaik.v15i1.71014

Abstract

One of the challenges that historians and philologists face is analyzing historical texts, especially traditional historiographic works like 'babad' and 'hikayat,' which may have been added to or subtracted from in various aspects. Such manuscripts cannot be considered the primary reference source for constructing a chronological history, as they lean more towards historical literature constructed from the author's imagination. This article discusses the challenges posed by Malay manuscripts that contain elements of myth and imagination. The study takes a case example of the manuscript "Hikayat Raja Pasai". The objective is to examine the position and role of hikayat or traditional historiography in general concerning the narration of history and its acceptance as a historical source. The research employs a descriptive-analytical method through several stages, including: 1) manuscript selection, 2) literature review, 3) content analysis and identification of imaginative elements in the manuscript, 4) examination of history to verify the accuracy of information, 5) interpretation of results, 6) writing, and 7) drawing conclusions. From this study, it was found that despite containing myths, hikayat still plays a role as a means to showcase the character of a community, aiding readers in understanding a belief, and myths are often more effective in raising human awareness and guiding them towards improvement. However, in accepting hikayat as a historical source, a critical and selective approach is necessary. Therefore, the application of historical methods is crucial to identify which elements can be used as historical sources and which ones should be considered purely imaginative.
Jejak Infrastruktur: Perkembangan Jaringan Transportasi Regentschap Lumajang Periode Kolonial Tahun 1884-1934 Setiawan, Nanang
MOZAIK Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 15 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/mozaik.v15i2.76854

Abstract

Penulisan sejarah jaringan transportasi di Regentschap Lumajang, terutama mengenai kereta api dan jalan menawarkan wawasan mendalam mengenai dampak infrastruktur transportasi terhadap perkembangan wilayah. Artikel ini mengeksplorasi evolusi jaringan transportasi di Regentschap Lumajang pada periode kolonial. Kereta api yang diperkenalkan pada abad ke-20, memainkan peran penting dalam menghubungkan Lumajang dengan pusat-pusat ekonomi lainya di Jawa Timur. Jalur kereta api tidak hanya memfasilitasi pergerakan barang dan penumpang, tetapi juga merangsang pertumbuhan ekonomi lokal. Selain itu pengembangan jaringan jalan di Lumajang sejak periode pemerintahan kolonial dan terus berlanjut hingga kini, turut berkontribusi pada mobilitas dan konektivitas di daerah Lumajang. Pembangunan jalan utama dan jalan desa mendukung pertumbuhan ekonomi dengan meningkatkan aksebilitas ke pasar dan pusat-pusat layanan. Menggunakan metode penelitian historis yang mencakup pengumpulan sumber, kritik, interpretasi, analisis dokumen berupa arsip untuk menggambarkan perubahan signifikan dalam infrastruktur transportasi ke dalam sebuah karya dalam bentuk tulisan atau historiografi. Hasil penelitian menunjukan bahwa integrasi antara kereta api dan jaringan jalan telah mempengaruhi pola ekonomi, sosial dan geografis daerah tersebut. Temuan ini memberikan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana transportasi berperan dalam pembangunan regional dan bagaimana perencanaan infrastruktur yang efektif dapat mendukung pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Kata Kunci: Lumajang, Jaringan Transportasi, Sosial Ekonomi
Derap Lars Penopang Produksi PG Gondang Baru Pasca Nasionalisasi, 1957-1967 Hadi, Putro Wasista
MOZAIK Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 15 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/mozaik.v15i2.70993

Abstract

This article discusses the Gondang Baru Sugar Factory company after it was nationalized at the end of 1957, particularly the militarization that participated and became a determining factor in the company's operations a decade later. The subject matter will discuss the various managerial measurements taken after the company was nationalized, especially when the security department was headed by an ex-military named Darmoatmodjo. In order to assist in finding sources and interpreting data, both quantitative and qualitative, the business history method is used in this research. As a result, it is understandable that militarism in PG Gondang Baru occurs subtly in reference to its basic capabilities as a security service. However, the combination of the military as a security service with the various ranks of Klaten's Pamong Praja has managed to raise productivity figures measured by both the area of concession land and the percentage of theft throughout the decade of PG Gondang Baru's management after nationalization.Keywords: Militarization, PG Gondang Baru, Nationalization.
Komunitas Waria dan Politik Moralitas Pemerintah Orde Baru di Jakarta Tahun 1968-1998 Al Fikri, Aditya Wahyu
MOZAIK Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 15 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/mozaik.v15i2.71521

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk merekonstruksi kehidupan komunitas waria di Jakarta, menganalisis komunitas waria di tangan Gubernur Ali Sadikin, dan praktik politik moralitas yang diterapkan pemerintah Orde Baru untuk membatasi ruang gerak komunitas waria di Jakarta Tahun 1968-1998. Penelitian ini akan disajikan dengan menggunakan metode historis sebagai landasan penelitian. Penelitian ini menggunakan pendekatan interdisipliner dari ilmu-ilmu sosial, yaitu studi gender, sosial, dan kultural, sehingga metode sejarah didukung dengan teori gender, sosiologi, dan antropologi. Ketiga pendekatan ilmu sosial tersebut dianggap cocok untuk menjawab pertanyaan bagaimana dan mengapa komunitas waria terjadinya kesenduan di Jakarta tahun 1968-1998. Komunitas waria mendapatkan perhatian khusus pada masa pemerintahan Gubernur Ali Sadikin pada tahun 1968. Gubernur Ali Sadikin selalu mengikutsertakan komunitas waria sebagai partisipasi pameran Jakarta Fair dengan menari, menyanyi, dan sulap pada tahun 1968. Komunitas waria mengalami keredupan dalam eksistensinya dengan adanya politik moralitas yang diterapkan oleh pemerintah Orde Baru pada tahun 1974. Komunitas waria mendapatkan perlakuan intoleransi dari masyarakat dengan diterapkannya politik moralitas yang dilakukan. Politik moralitas yang diterapkan pemerintah Orde Baru membentuk konsep ideologi gender maskulinitas dan feminitas yang mengatur masyarakat Indonesia dalam berpakaian dan bertingkah laku. Pemerintah menerapkan Gerakan Disiplin Nasional (GDN) untuk merazia komunitas waria yang melakukan nyebong di pinggir jalan dan rel kereta api. Kata Kunci: Komunitas Waria, Ali Sadikin, Pemerintah Orde Baru, Politik Moralitas.
DINAMIKA POLITIK PARTAI DEMOKRASI INDONESIA PERJUANGAN CABANG KECAMATAN BAWEN PADA 1996 – 2001 Kinasih, Maria Dominika Tyas; Wuryani, Emy; Purwiyastuti, Wahyu
MOZAIK Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 15 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/mozaik.v15i2.73298

Abstract

Atmosfer politik yang berlangsung di sekitar tahun 1996 – 2001 berpengaruh hingga tingkat cabang. Hal tersebut dialami oleh Partai Demokrasi Indonesia (PDI) yang kemudian dikenal dengan nama Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Apa yang dilakukan oleh para kader PDI di tingkat pusat membawa dampak bagi dinamika yang terjadi di tingkat bawah, khususnya di wilayah Kecamatan Bawen. Para kader PDI Bawen selalu menyesuaikan diri terhadap kondisi politik yang terjadi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan dinamika politik PDIP Kecamatan Bawen tahun 1996-2001 dan sikap para kader PDIP Kecamatan Bawen ketika menghadapi permasalahan politik yang terjadi di tahun 1996-2001. Hasil penelitian menunjukkan: 1) dinamika pengkaderan anggota PDIP cabang Bawen penuh tantangan, sikap dan semangat para kader sangat penting dalam praktik berorganisasi; 2) proses pengkaderan dilakukan melalui inisiatif kader cabang Bawen sendiri; dan 3) sejarah dan dinamika pengkaderan di PDI Bawen bermanfaat sebagai pengetahuan pelengkap bagi pelajaran sejarah di SMA.
TARI BEDHAYA ANGLIR MENDHUNG DI MANGKUNEGARAN SARANA LEGITIMASI DAN LOYALITAS PENGUASA Darmarastri, Hayu Adi; Kurniawati, Asti; Sutirto, Tundjung Wahadi; -, Supariadi; -, Susanto; Dadtun, Yusana Sasnti
MOZAIK Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 15 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/mozaik.v15i2.77372

Abstract

Penelitian ini mendiskusikan tentang fungsi Tari Bedhaya Anglir Mendhung di Mangkunegaran yang menjadi sarana memperkuat legitimasi dan loyalitas bagi pemimpin di Mangkunegaran. Penelitian ini mengajukan beberapa pertanyaan yaitu, apakah fungsi Tari Bedhaya Anglir Mendhung dalam prosesi jumenengan di Mangkunegaran? dan bagaimana perkembangan Tari Bedhaya Anglir Mendhung di Mangkunegaran?Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang terdiri dari empat tahap, tahap heuristik, kritik, verifikasi dan historiografi. Untuk menemukan realitas historis terkait dengan Tari Bedhaya Anglir Mendung di Mangkunegaran, penelitian ini menggunakan data-data tertulis berupa arsip, buku, artikel surat kabar maupun jurnal juga foto-foto penari Anglir Mendung tahun 1983 di Perpustakaan Reksa Pustaka Mangkunegaran. Selain itu, penelitian ini juga memanfaatkan sumber lisan berupa wawancara dengan tokoh-tokoh yang memahami perkembangan Tari Bedhaya Anglir Mendung di Mangkunegaran.Kesimpulan penelitian ini Tari Bedhaya Anglir Mendhung memiliki fungsi penting di Mangkunegaran, yaitu sebagai sarana memperkuat legitimasi pemimpin di Mangkunegaran selain juga membangun loyalitas di Mangkunegaran. Tari Bedhaya Anglir Mendhung yang merupakan hasil cipta dari pendiri Kadipaten Mangkunegaran, yaitu Raden Mas Said yang kemudian menjadi KGPAA Mangkunegara I. Sejak pemerintahan KGPAA I terdapat tradisi pementasan Tari Bedhaya Anglir Mendhung dalam acara Tingalan Wiyosan Jumenengan Dalem di Mangkunegaran namun kemudian tidak lagi dilakukan pada masa pemerintahan KGPAA Mangkunegara III. Hal ini disebabkan karena Tari Bedhaya Anglir Mendhung diserahkan sebagai hadiah pernikahan kepada Paku Buwana V. Atas perintah dari KGPAA VIII maka Tari Bedhaya Anglir Mendhung kembali direkonstruksi ulang. Hasil rekonstruksi tersebut terlihat dari perubahan jumlah penari perempuan pada Tari Bedhaya Anglir Mendung.           
Contradiction in Terminis: Sejarah Kepemilikan Lahan Hutan di Yogyakarta Juwono, Harto
MOZAIK Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 16 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/mozaik.v16i1.74066

Abstract

AbstrakTulisan ini membahas perkembangan kepemilikan lahan tempat hutan berdiri di wilayah Kesultanan Yogyakarta, dengan focus pada hutan di Gunung Kidul. Periode yang diambil dalam kajian ini adalah masa abad XIX dan XX, ketika pemerintah Hindia Belanda menegakkan administrasinya. Pertimbangannya adalah pada masa itu administrasi dan eksploitasi kehutanan di Yogyakarta mencapai puncaknya dan hubungan juridis formal antara kedua pihak berlangsung intensif. Persoalan yang diangkat adalah mengetahui sejauh mana hak kepemilikan atas tanah hutan berlaku, apakah oleh pemerintah kolonial atau Kesultanan Yogyakarta. Metode yang digunakan adalah metode sejarah, dengan sumber data sejauh mungkin berasal dari era sezaman. Sebagai kesimpulan dari kajian ini bisa disampaikan bahwa hak kepemilikan atas hutan oleh Kesultanan Yogyakarta masih tetap ada dan diakui secara legal formal oleh pemerintah kolonial.Kata Kunci : Hutan, Kesultanan Yogyakarta, Kepemilikan, Kolonial
Peran Kelompok Minoritas Mawali dalam Pengembangan Islam Masa Dinasti Abbasiyah Azmirrijali, Zaki
MOZAIK Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 16 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/mozaik.v16i1.76448

Abstract

Masa Dinasti Abbasiyah terkenal sebagai masa kejayaan Islam. Berbagai bidang seperti ilmu pengetahuan, politik, dan budaya mengalami kemajuan yang pesat pada masa ini. Namun, dibalik semua kejayaan tersebut, peran dari kelompok minoritas menjadi penting. Kelompok tersebut adalah kelompok Mawali. Kelompok ini adalah kumpulan dari orang-orang Islam, namun bukan keturunan Arab atau bisa juga berasal dari kalangan budak. Meskipun begitu, mereka memiliki kelebihan daripada orang-orang Arab. Metode penelitian yang digunakan untuk mengungkapkan peran dari kelompok minoritas Mawali ini adalah metode penelitian sejarah. Metode ini terdiri dari heuristic, verifikasi, interpretasi, dan penulisan (historiografi). Kesimpulan yang didapatkan adalah pada masa Abbasiyah orang-orang Mawali memiliki kedudukan yang lebih mulia daripada masa Umayyah. Kedudukan yang lebih baik ini memicu keaktifan dari orang-orang Mawali dalam mengembangkan berbagai hal seperti ilmu pengetahuan, budaya, dan politik. Peran Mawali lebih jauh lagi telah membawa Abbasiyah kepada kejayaan Islam. Namun, karena posisi yang semakin tinggi, kemudian orang-orang Mawali sendiri mulai mendirikan dinasti - dinasti kecil mereka sendiri.Kata Kunci: Mawali, Abbasiyah, Kejayaan, Islam.
Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat: Dhaup Ageng Sebagai Bentuk Pelestarian Budaya Indryani, Dytha Adelia; Martha, Nur'aeni; -, Kurniawati
MOZAIK Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 16 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/mozaik.v16i1.78906

Abstract

Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat merupakan poros dari adat istiadat Yogyakarta yang memiliki kewajiban untuk selalu melestarikan tradisi yang dimiliki, salah satu tradisi yang menjadi sorotan masyarakat Indonesia maupun dunia adalah warisan budaya adiluhung yaitu ritual upacara perkawinan atau dhaup ageng. Meskipun dhaup ageng yang dilakukan Karaton Yogyakarta bersifat feodal namun hal tersebut dianggap positif karena kekonsistenan Karaton Yogyakarta untuk mempertahankan adat istiadat sejak jaman Kesultanan Mataram Islam hingga masa kini di tengah gempuran modernitas. Dhaup agen di Karaton Yogyakarta memiliki prosesi yang sarat akan makna sehingga menjadi daya tarik bagi masyarakat untuk mengikutinya. Artikel ini akan membahas tentang prosesi pada upacara ritual pernikahan (dhaup ageng) di Karaton Yogyakarta serta makna dari prosesi tersebut. Penulis menggunakan pendekatan studi sejarah kebudayaan menurut Mc Cullagh yaitu mencoba mengkaji makna dari sebuah tindakan dan objek material dengan metode deskriptif-naratif. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan makna dari setiap prosesi yang dilakukan dalam tradisi upacara pernikahan di Karaton Yogyakarta. Manfaat dari artikel ini adalah untuk menambah wawasan tentang prosesi dhaup ageng di Karaton Yogyakarta yang merupakan sebuah bentuk pelestarian budaya di era modern, selain itu diharapkan dapat memberikan inspirasi bagi generasi muda agar selalu menjaga warisan tradisi yang dimiliki oleh bangsa Indonesia dan bangga untuk mengenalkannya ke dunia internasional, serta ingin menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia juga memiliki tradisi The Royal Wedding layaknya pernikahan di Kerajaan Inggris. Kata kunci: Karaton Yogyakarta, warisan budaya adiluhung, upacara ritual pernikahan, pelestarian budaya.
Komodifikasi Ternak Tradisional di Sunda Kecil Tahun 1960-an Sampai 2017 Pradita, Dennys; Wardhana, Adi Putra Surya
MOZAIK Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 16 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/mozaik.v16i1.72401

Abstract

Sunda Kecil is an area that has potential for farming. Most farms in this region are still traditional. Along with economic development policies, investment has begun to target farms in Sunda Kecil. When this article was written, research discussing the commodification of traditional farms in Sunda Kecil did not exist because most studies only focused on farm development techniques. Therefore, this research discusses (1) the reasons why Sunda Kecil has a tradition of farms; (2) the commodification of traditional farms in Sunda Kecil; (3) the influence of capitalism on the tradition of farms in Sunda Kecil. This research was compiled by collecting data, criticizing data, interpreting data, and compiling facts in a scientific narrative. Farms in Sunda Kecil fulfill the needs of food and life, such as horses, buffaloes, cows, and pigs. This potential has not been optimized, so the government conducted several policies to promote farms in Sunda Kecil, such as providing assistance for superior seeds, health employees, and artificial insemination. Modernization affected the pattern of farms in Sunda Kecil. Capital power has entered the economic joints that have the impact of changing the community's perspective on livestock. It is turned into a means to bring profit and change traditional farming towards modern farming.

Page 12 of 13 | Total Record : 124