cover
Contact Name
Mursyidul Haq Firmansyah
Contact Email
mursyidulhaqf@uindatokarama.ac.id
Phone
+6285204120009
Journal Mail Official
mahiyahjournal@uindatokarama.ac.id
Editorial Address
Jl. Diponegoro No. 23 Palu
Location
Kota palu,
Sulawesi tengah
INDONESIA
MAHIYAH: Journal of Islamic Thought and Philosphy
ISSN : 31635962     EISSN : 31635946     DOI : 10.24239/mahiya
Core Subject :
amined through critical, reflective, and methodological approaches. As a scholarly publication, Mahiyah is committed to encouraging the emergence of Islamic thought that is open, profound, and relevant to contemporary developments. The journal welcomes research articles, conceptual studies, studies of intellectual figures, textual analyses, and critical examinations of the dynamics of classical, modern, and contemporary Islamic thought. Particular attention is also given to studies that connect the Islamic intellectual tradition with issues related to humanity, culture, society, science, technology, and global civilization. The journal aims to provide an academic forum for lecturers, researchers, students, and scholars of Islamic studies, both nationally and internationally. By upholding academic integrity, originality, and scholarly quality, Mahiyah: Journal of Islamic Thought and Philosophy seeks to contribute to the enrichment of Islamic scholarship, particularly in the fields of theology, philosophy, and Islamic thought. Through the publication of high-quality articles, Mahiyah is expected to become an academic reference in the development of Islamic thought and philosophy studies, while also strengthening the role of the Department of Islamic Theology and Philosophy at UIN Datokarama Palu in fostering a critical, inclusive, and transformative Islamic intellectual tradition.
Arjuna Subject : -
Articles 28 Documents
KONSEP MANUSIA DALAM PERSPEKTIF FRIEDRICH WILLHELM NIETZSCHE Moh. Hidayat; Saude; Istnan Hidayatullah
Mahiyah: Journal of Islamic Thought and Philosophy Vol. 1 No. 2 (2024): MAHIYAH: Journal of Islamic Thought and Philosophy
Publisher : Department of Islamic Theology and Philosophy, UIN Datokarama Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24239/jxecex72

Abstract

Setiap masa memiliki caranya sendiri untuk bagaimana menempatkan manusia dan masyarakatnya dalam jalur-jalur yang tepat. Setiap perubahan yang terjadi selalu dimulai dari kenyataan bahwa cara-cara yang lama sudah tidak sesuai lagi dengan tuntutan zaman. Dalam kerangka ini, penulis menyelami pemikiran Friedrich Willhelm Nietzsche tentang filsafat manusia terkhusus konsepnya tentang manusia unggul (ubermensch). Bagi Nietzsche, ubermensch merupakan sebuah dorongan untuk menjadi manusia yang bermental tuan dengan kehendak akan berkuasa dan berani melintasi kehidupan ini tanpa ada paksaan dari keyakinan apapun. Tawaran Nietzsche tentang manusia unggul (ubermensch) merupakan bagian penting bagi kehidupan sosial karena mampu memfilter term kebenaran yang menipu. Dari kesimpulan yang diperoleh, Nietzsche manganjurkan agar kita menerima realitas secara utuh, sebab menerima kebenaran dan kesalahan adalah bagian dari realitas hidup. Dan pada akhirnya menghasilkan manusia yang berkehendak berdasarkan dorongan dirinya untuk menghadapi realitas dengan berani dan apa adanya.
SALAFIYAH THEOLOGY: BETWEEN THE PURIFICATION OF BELIEF AND THE THREAT OF RADICALIZATION IN CONTEMPORARY ISLAM: TEOLOGI SALAFIYAH: ANTARA PENYUCIAN KEYAKINAN DAN ANCAMAN RADIKALISASI DALAM ISLAM KONTEMPORER Surni Kadir; Soraya Attamimi; Muhammad Raafi’ul Anam
Mahiyah: Journal of Islamic Thought and Philosophy Vol. 2 No. 2 (2025): MAHIYAH: Journal of Islamic Thought and Philosophy
Publisher : Department of Islamic Theology and Philosophy, UIN Datokarama Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24239/4g261t57

Abstract

Artikel ini meninjau kembali teologi Salafi tidak hanya sebagai gerakan penyucian akidah yang berlandaskan pada al-Qur’an dan Sunnah, tetapi juga sebagai fenomena keagamaan yang kompleks, yang terbentuk oleh dinamika historis, etika, dan sosial. Dalam konteks modern, Salafisme menghadapi tantangan signifikan dalam mendamaikan komitmen terhadap literalisme tekstual dan kemurnian teologis dengan tuntutan masyarakat plural serta perubahan dalam penafsiran keagamaan. Melalui tinjauan pustaka yang bersifat fenomenologis, studi ini mengeksplorasi bagaimana para penganut Salafi merespons ketegangan antara otentisitas doktrinal yang kaku dan realitas transformasi sosial-politik yang dinamis.Penelitian ini menyoroti bahwa Salafisme, meskipun berakar pada klaim kembali kepada ajaran Islam awal (al-salaf al-ṣāliḥ), tidak terlepas dari pengaruh modernitas, tekanan politik, serta wacana Islam global. Oleh karena itu, Salafisme tidak hanya dipahami sebagai sikap teologis semata, melainkan juga sebagai realitas sosial yang dijalani dan dipraktikkan, yang dibentuk oleh interaksi lintas negara, pemaknaan lokal, serta perdebatan internal dalam komunitasnya. Unsur-unsur seperti pembentukan identitas, pengendalian spiritual, kerangka etika, serta batasan komunitas menjadi elemen penting dalam memahami wajah Salafisme kontemporer.Dengan pendekatan hermeneutik dan reflektif, studi ini memandang Salafisme sebagai sebuah pengalaman keberagamaan yang dinamis dan hidup dalam konteks global Islam maupun dalam ekspresi lokal yang beragam. Temuan ini menunjukkan perlunya pemahaman yang lebih bernuansa terhadap teologi Salafi, tidak semata sebagai gerakan reaksioner atau literalistik, tetapi sebagai jalan spiritual yang terus bergulat dengan perubahan zaman, tanpa kehilangan klaimnya atas kemurnian tauhid dan konsistensi teologis.
ANSWERING THE CLIMATE CRISIS BY REDESIGNING SCIENTIFIC BUILDINGS BASED ON THE UNIFICATION OF EPISTEMOLOGY AND AXIOLOGY (A Study of al-Farabi's Philosophy): MENJAWAB KRISIS IKLIM DENGAN MERANCANG ULANG BANGUNAN ILMIAH BERDASARKAN PENYATUAN EPISTEMOLOGI DAN AXIOLOGI (Studi tentang Filsafat al-Farabi) Istnan Hidayatullah; Kamridah
Mahiyah: Journal of Islamic Thought and Philosophy Vol. 2 No. 2 (2025): MAHIYAH: Journal of Islamic Thought and Philosophy
Publisher : Department of Islamic Theology and Philosophy, UIN Datokarama Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24239/qbpp8871

Abstract

Abstract This article explores ideas for addressing the climate crisis by redesigning the structure of knowledge based on the integration of epistemology and axiology from the philosophical perspective of Al-Farabi. This article aims to address gaps in studies regarding the reconstruction of scientific knowledge in the context of confronting the climate crisis from an Islamic philosophical perspective. To date, no research has specifically examined how Al-Farabi’s philosophy contributes to the construction of knowledge grounded in the integration of epistemology and axiology. This article is the result of qualitative research on Al-Farabi’s works as well as other works from journal articles, conference proceedings, books, and online literature discussing the issues of knowledge reconstruction and the climate crisis. Al-Farabi’s views were examined using a descriptive-analytical method with a hermeneutic approach. The research findings indicate that Al-Farabi’s philosophy addresses the issue of unifying epistemology and axiology through the concept of the active intellect (al-aql al-fa’al). Furthermore, Al-Farabi recommends that the study of knowledge be comprehensive, ranging from partial knowledge (juziyat) to universal knowledge (kyulliyat). This recommendation is intended to ensure that the knowledge acquired is holistic rather than merely theoretical. Such holistic knowledge will guide attitudes in practice so that the effects of science do not harm the environment but, on the contrary, help to protect and preserve it. Moreover, Al-Farabi also posits that ethics must be integrated into science. This fusion of holistic knowledge and ethics reflects the unification of the epistemology and axiology of knowledge. This study contributes to the fields of Islamic philosophy, interdisciplinary studies, and contemporary scientific and ecological research..
IDEOLOGI DALAM IKLAN PEREMPUAN(Studi Analisis Dengan Pendekatan Filsfat Kritis) Soraya Al amri; Saude; Kamridah
Mahiyah: Journal of Islamic Thought and Philosophy Vol. 2 No. 2 (2025): MAHIYAH: Journal of Islamic Thought and Philosophy
Publisher : Department of Islamic Theology and Philosophy, UIN Datokarama Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24239/c3xrhf94

Abstract

Iklan kosmetik telah mempengaruhi banyak perempuan dalam melihat kecantikan. Perempuan “ideal” adalah yang sesuai dengan stereotipe yang dibentuk dari aspek visual dan tekstual iklan, yaitu perempuan berkulit cerah,berambut lurus dan langsing. Periklanan telah mendistorsi realitas secara halus dan memanipulasi konsumen untuk terus membeli produk-produk mereka. Standar kecantikan yang kaku menciptakan persepsi perempuan tentang apa yang dianggap menarik dan hal ini secara besar-besaran meningkatkan profitabilitas industri kosmetik. Mereka didorong untuk memperbaiki bagian tubuh mereka yang dirasa tidak sempurna dengan terus membeli produk kosmetik. Sehingga keberhasilan industri kosmetik terjadi bersamaan dengan meningkatnya penurunan harga diri dan kepercayaan diri perempuan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitis dan pendekatan filsafat kritis untuk memahami fenomena perilaku konsumtif terhadap produk kecantikan di era saat ini, terutama memandang bagaimana terjadinya jalinan reproduksi dan relasi ideologis dalam memperkuat mitos kecantikan yang ditampilkan lewat iklan. Penelitian ini mengarah pada kesimpulan bahwa keberhasilan reproduksi industri kosmetik tidak bisa dilepaskan dari peran penting beberapa ideologis. Seperti idelogi rasisme atau warnaisme yang menciptakan rasa tidak percaya diri pada perempuan berkulit gelap lewat kurangnya representasi orang-orang berkulit gelap di media iklan. Hal ini masih sering terjadi di negara-negara Asia seperti Indonesia, Korea Selatan, China, India, dan lainnya. Industri kosmetik juga memanfaatkan ide kelas sosial. Bagaimana penampilan seseorang dapat menentukan posisi kelas ekonomi mereka di masyarakat. Karena kecantikan sekarang bisa dibeli dan tidak lagi bergantung pada faktor genetika. Sehingga status ekonomi seseorang bisa dilihat dari seberapa menarik penampilan mereka. Hal ini kemudian melahirkan perilaku konsumtif. Dengan memahami secara kritis mekanisme pemasaran industri kosmetik melalui beragam jenis iklan. Harapannya banyak orang yang bisa memahami bahwa standar kecantikan yang berada di masyarakat hanyalah ilusi buatan sekelompok orang dan sangat tidak Inklusif. Dan menyadari bahwa industri kosmetik telah mengeksploitasi rasa ketidakamanan perempuan dan laki-laki terhadap tubuh mereka sendiri selama bertahun-tahun demi mendapatkan keuntungan. Memahami ini secara kritis dapat membantu konsumen melepaskan diri dari rantai kapitalisme dan menghentikan perilaku konsumtif yang berkontribusi besar terhadap kerusakan alam selama beberapa tahun terakhir.
EASTERN AND WESTERN PHILOSOPHIES OF DIVINITY IN THE ANALYSIS OF LANGUAGE AND GENDER COSMOLOGY fadlan
Mahiyah: Journal of Islamic Thought and Philosophy Vol. 2 No. 2 (2025): MAHIYAH: Journal of Islamic Thought and Philosophy
Publisher : Department of Islamic Theology and Philosophy, UIN Datokarama Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24239/wn6wh252

Abstract

This article examines the issue of divinity from a philosophical perspective by comparing Eastern and Western thought, with a primary focus on analyzing how humans perceive God from these two viewpoints, rather than examining the nature of His transcendent and complex absoluteness. This study specifically limits its scope to two key objects: God in the context of language and God in the context of gender cosmology, with the aim of defining and distinguishing these two concepts, identifying the causes of their differences, and analyzing their influence or implications on life. Through the use of descriptive-analytical and heuristic methods, supported by structuralist approaches, historical analysis, and ideological critique, I found that Eastern conceptions of God tend to be anthropocentric and masculinist, strongly cohesive with patriarchal culture. Conversely, Western conceptions of God, particularly post-Enlightenment, have moved toward more objective and impersonal ideas, even reverting to the feminine attributes of nature—referred to by eco-feminists as “The Mother God”—as a form of resistance against authoritarian religious dogma. Overall, this study affirms that the conception of God is fundamental because human perspectives—whether of God as a cruel or loving entity—are directly reflected in and impact social reality and behavior.
DARI KONSENSUS RASIONAL MENUJU KEMASLAHATAN: REKONSTRUKSI ETIKA DISKURSUS JÜRGEN HABERMAS DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT ISLAM fahiza Awalia Lahambu; Rio Ardiansyah; Rafli
Mahiyah: Journal of Islamic Thought and Philosophy Vol. 2 No. 1 (2025): MAHIYAH: Journal of Islamic Thought and Philosophy
Publisher : Department of Islamic Theology and Philosophy, UIN Datokarama Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24239/jrptdv77

Abstract

Penelitian ini membahas rekonstruksi etika diskursus Jürgen Habermas dalam perspektif filsafat Islam dengan mengarahkan konsensus rasional menuju kemaslahatan. Etika diskursus Habermas menawarkan prosedur pembentukan norma melalui komunikasi yang rasional, setara, inklusif, terbuka, dan bebas dari dominasi. Namun, orientasi formal-prosedural tersebut menyisakan persoalan karena konsensus rasional tidak selalu menjamin terciptanya keputusan yang adil dan bermoral. Ketimpangan akses informasi, kemampuan argumentasi, dominasi politik dan ekonomi, serta tidak terwakilinya kelompok rentan dapat menghasilkan konsensus semu. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif berbasis kepustakaan dengan menggunakan pendekatan filosofis, komparatif, hermeneutis, dan kritis-rekonstruktif. Data diperoleh dari karya-karya mengenai etika diskursus Habermas serta literatur filsafat Islam yang membahas kemaslahatan dan maqāṣid al-syarī‘ah. Analisis dilakukan melalui tahap deskripsi, interpretasi, komparasi, kritik, dan rekonstruksi konseptual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa etika diskursus dan konsep kemaslahatan dapat dipertemukan dalam hubungan yang saling melengkapi. Konsensus rasional memberikan legitimasi prosedural, sedangkan kemaslahatan memberikan orientasi moral-substantif berupa perlindungan jiwa, akal, agama, keturunan, harta, martabat manusia, keadilan sosial, serta pencegahan kerusakan. Pertemuan keduanya menghasilkan konsep deliberasi maslahat, yaitu proses pembentukan norma melalui komunikasi rasional dan partisipatif yang diarahkan kepada kebaikan bersama. Deliberasi maslahat mencegah konsensus berubah menjadi legitimasi prosedural atas ketidakadilan sekaligus mencegah klaim kemaslahatan dimonopoli secara paternalistik dan otoriter. Dengan demikian, legitimasi moral yang utuh memerlukan perpaduan antara prosedur diskursif yang adil dan tujuan substantif yang maslahat.
FENOMENA KONTEMPORER TERKAIT  AQIDAH DAN AKHLAQ DALAM PENGGUNAAN INTERNET DAN MEDIA  SOSIAL Ismyana; Isti Nur Asiah; Dina Mufahiro
Mahiyah: Journal of Islamic Thought and Philosophy Vol. 2 No. 1 (2025): MAHIYAH: Journal of Islamic Thought and Philosophy
Publisher : Department of Islamic Theology and Philosophy, UIN Datokarama Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24239/78h63527

Abstract

Menganalisis fenomena kontemporer terkait aqidah dan akhlaq dalam  menggunakan internet dan media sosial. Mencakup tantangan  terhadap pemahaman agama yang muncul akibat penyebaran  pemikiran sesat, relativisme dan ajaran yang bertentangan dengan  nilai-nilai islam. Pemikiran seperti atheisme, sekularisme dan  pluralisme agama semakin tersebar luas, memengaruhi keyakinan  generasi muda. Bahkan, pada masa sekarang banyak pengaruh-pengaruh budaya dan kejadian-kejadian yang membuat aqidah  menjadi sesat, salah satunya mempercayai ramalan. Di zaman yang  semakin canggih, internet memungkinkan informasi untuk tersebar  dengan cepat, penggunaan media sosial sudah tidak menjadi batasan.  Terkait akhlaq dalam penggunaan internet dan media sosial  mencakup dampak negatif dari penyebaran pemikiran sesat,  informasi salah, serta perilaku tidak etis yang merusak moralitas.  Konten seperti pornografi, kebencian, dan pergaulan bebas dapat  mempengaruhi pemahaman agama dan akhlaq pengguna, terutama  di kalangan remaja. Fenomena kontemporer terkait aqidah dan  akhlaq dalam penggunaan internet dan media sosial telah menjadi  isu penting yang memengaruhi kehidupan sosial dan spiritual umat  Islam. Kemajuan teknologi, terutama dalam hal akses informasi  melalui internet dan media sosial, memberikan dampak yang  signifikan terhadap pandangan hidup dan perilaku individu. Di satu  sisi, kemudahan dalam memperoleh pengetahuan agama dapat  memperkuat pemahaman aqidah dan akhlaq yang benar, namun di  sisi lain, penyebaran informasi yang keliru atau bertentangan  dengan ajaran agama juga semakin masif. Beberapa fenomena yang  terkait dengan aqidah, seperti penyebaran ajaran sesat, pluralisme  agama, dan radikalisasi ideologi, semakin meluas melalui platform  digital. Pemahaman yang menganggap semua agama setara dalam  kebenaran atau penolakan terhadap prinsip-prinsip dasar Islam,  seperti tauhid, sering ditemukan di ruang-ruang diskusi daring.  Selain itu, media sosial juga berperan dalam membentuk akhlaq  individu. Seringkali, perilaku buruk seperti ujaran kebencian, hoaks,  dan fitnah tersebar luas, yang dapat merusak moral dan etika dalam  masyarakat. Pengaruh globalisasi yang semakin kuat juga membawa  tantangan dalam menjaga nilai-nilai agama dan akhlaq, terutama di  kalangan generasi muda yang lebih aktif dalam dunia maya. Oleh  karena itu, penting untuk memahami dampak-dampak yang ditimbulkan oleh penggunaan media sosial terhadap aqidah dan  akhlaq, serta mencari solusi untuk mengatasi tantangan tersebut.  Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi fenomena-fenomena  kontemporer yang berkaitan dengan aqidah dan akhlaq dalam  penggunaan internet dan media sosial, serta memberikan  rekomendasi dalam rangka memperkuat pemahaman agama yang  benar dan mengarahkan perilaku moral yang sesuai dengan ajaran  Islam.
THE DIVERSITY OF UNDERSTANDING OF  THE CONCEPT OF RELIGIOUS  MODERATION AMONG MILLENNIAL DA’IS  IN THE CITY OF PALU: KEBERAGAMAN PEMAHAMAN TENTANG KONSEP MODERASI AGAMA DI KALANGAN GENERASI MILENIAL DA’I DI KOTA PALU Anifa Hakim; Faiz Rahmansyah; Zainal
Mahiyah: Journal of Islamic Thought and Philosophy Vol. 2 No. 1 (2025): MAHIYAH: Journal of Islamic Thought and Philosophy
Publisher : Department of Islamic Theology and Philosophy, UIN Datokarama Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24239/jn2xbm39

Abstract

Artikel ini mengeksplorasi keragaman pemahaman konsep moderasi  beragama di kalangan da’i milenial di Kota Palu. Penelitian ini  bertujuan untuk mengidentifikasi bagaimana faktor-faktor sosial,  budaya, dan pendidikan mempengaruhi perspektif da’i terhadap  moderasi beragama. Dengan pendekatan kualitatif, data  dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan diskusi kelompok  fokus dengan 20 da’i milenial yang aktif di berbagai komunitas.  Hasil analisis menunjukkan bahwa ada variasi yang signifikan  dalam pemahaman moderasi beragama, mulai dari pandangan yang  lebih tradisional hingga pendekatan yang lebih progresif. Beberapa  da’i menekankan pentingnya toleransi dan dialog antaragama,  sementara yang lain lebih fokus pada interpretasi ajaran agama yang kontekstual. Faktor-faktor seperti latar belakang pendidikan,  pengalaman pribadi, dan dinamika sosial di Palu turut berperan  dalam membentuk pemikiran mereka. Temuan ini menunjukkan  bahwa meskipun ada kesamaan dalam nilai-nilai dasar moderasi,  cara penerapannya sangat dipengaruhi oleh konteks individu dan  lingkungan. Artikel ini diharapkan memberikan kontribusi dalam  pengembangan strategi dakwah yang lebih inklusif dan moderat di  kalangan generasi muda, serta menyoroti pentingnya pemahaman  yang beragam dalam memperkuat moderasi beragama di Indonesia

Page 3 of 3 | Total Record : 28