cover
Contact Name
Mursyidul Haq Firmansyah
Contact Email
mursyidulhaqf@uindatokarama.ac.id
Phone
+6285204120009
Journal Mail Official
mahiyahjournal@uindatokarama.ac.id
Editorial Address
Jl. Diponegoro No. 23 Palu
Location
Kota palu,
Sulawesi tengah
INDONESIA
MAHIYAH: Journal of Islamic Thought and Philosphy
ISSN : 31635962     EISSN : 31635946     DOI : 10.24239/mahiya
Core Subject :
amined through critical, reflective, and methodological approaches. As a scholarly publication, Mahiyah is committed to encouraging the emergence of Islamic thought that is open, profound, and relevant to contemporary developments. The journal welcomes research articles, conceptual studies, studies of intellectual figures, textual analyses, and critical examinations of the dynamics of classical, modern, and contemporary Islamic thought. Particular attention is also given to studies that connect the Islamic intellectual tradition with issues related to humanity, culture, society, science, technology, and global civilization. The journal aims to provide an academic forum for lecturers, researchers, students, and scholars of Islamic studies, both nationally and internationally. By upholding academic integrity, originality, and scholarly quality, Mahiyah: Journal of Islamic Thought and Philosophy seeks to contribute to the enrichment of Islamic scholarship, particularly in the fields of theology, philosophy, and Islamic thought. Through the publication of high-quality articles, Mahiyah is expected to become an academic reference in the development of Islamic thought and philosophy studies, while also strengthening the role of the Department of Islamic Theology and Philosophy at UIN Datokarama Palu in fostering a critical, inclusive, and transformative Islamic intellectual tradition.
Arjuna Subject : -
Articles 28 Documents
OTORITAS HADIS DI ERA KECERDASAN BUATAN: TELAAH FILOSOFIS ATAS PERAN CHATGPT DALAM PRODUKSI PENGETAHUAN KEISLAMAN Mohammad Nawir; Muhammad Muammar; Fitriya N.Laiya
Mahiyah: Journal of Islamic Thought and Philosophy Vol. 3 No. 1 (2026): MAHIYAH: Journal of Islamic Thought and Philosophy
Publisher : Department of Islamic Theology and Philosophy, UIN Datokarama Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24239/ezfsbs06

Abstract

This article examines the transformation of epistemology in hadith studies in the era of artificial intelligence, with a particular focus on ChatGPT as an epistemic mediator. The study employs a qualitative approach through library research and philosophical analysis of sanad, scholarly authority, and digital technology. The findings indicate a shift from a sanad-based epistemology to a system-based epistemology, marked by the emergence of algorithmic authority. ChatGPT does not possess scholarly authority in the traditional sense but functions as a generative, non-sanad, and pseudo-neutral tool. The use of AI in hadith studies raises several philosophical problems, including the crisis of authority, the validity of knowledge, and the legitimacy of scholarship. Nevertheless, AI also offers opportunities to enhance accessibility and Islamic digital literacy. Therefore, this article proposes the concept of a hybrid epistemology as a constructive framework, integrating Islamic scholarly traditions with digital technology. In this model, AI serves as an assistive tool, while epistemic authority remains grounded in scholars, classical texts, and established scientific methodologies.
TRI PUSAT PENDIDIKAN DAN MODERASI BERAGAMA: TELAAH FILOSOFIS ATAS GAGASAN KI HADJAR DEWANTARA Jumahir Magfira; Hairuddin Cikka; Makmur
Mahiyah: Journal of Islamic Thought and Philosophy Vol. 3 No. 1 (2026): MAHIYAH: Journal of Islamic Thought and Philosophy
Publisher : Department of Islamic Theology and Philosophy, UIN Datokarama Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24239/rpntry97

Abstract

This study aims to philosophically analyze the concept of the Tri-Center of Education in the thought of Ki Hadjar Dewantara and its relevance in strengthening religious moderation in Indonesia. The research employs a qualitative method with a library research approach and philosophical analysis. Data sources include the original works of Ki Hadjar Dewantara, educational literature, and studies related to religious moderation. The findings reveal that the Tri-Center of Education—comprising family, school, and society—plays a strategic role in shaping individuals with moderate religious attitudes. The family serves as the foundation for value internalization, the school functions as a space for intellectual and moral development, and society acts as a practical arena for implementing these values. Philosophically, this concept is rooted in humanistic principles that emphasize balance, freedom, and respect for human dignity. These values align with the principles of religious moderation, such as tolerance, justice, and equilibrium. Therefore, the integration of the Tri-Center of Education can serve as an effective model for strengthening religious moderation and fostering harmonious social life in Indonesia’s multicultural society.
FROM NORMATIVE THEOLOGY TO CRITICAL THEOLOGY: RECONSTRUCTING ISLAMIC THEOLOGICAL THOUGHT IN RESPONSE TO MODERNITY Surni Kadir; Al Husna
Mahiyah: Journal of Islamic Thought and Philosophy Vol. 3 No. 1 (2026): MAHIYAH: Journal of Islamic Thought and Philosophy
Publisher : Department of Islamic Theology and Philosophy, UIN Datokarama Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24239/ky698p32

Abstract

Artikel ini mengkaji transformasi teologi Islam dari paradigma normatif menuju paradigma kritis dalam merespons tantangan modernitas. Masalah utama yang dibahas dalam penelitian ini adalah keterbatasan metodologis teologi normatif ketika direduksi menjadi model teologi defensif dan tekstualis yang kurang responsif terhadap isu-isu kontemporer seperti pluralisme agama, hak asasi manusia, keadilan gender, krisis ekologi, modernitas digital, dan fragmentasi otoritas keagamaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara teologi normatif dan teologi kritis serta merumuskan model integratif rekonstruksi teologi Islam. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif berbasis studi pustaka dengan pendekatan deskriptif-analitis, historis-filosofis, dan rekonstruktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teologi normatif tetap penting sebagai fondasi doktrinal keimanan Islam, sedangkan teologi kritis berfungsi sebagai perluasan metodologis yang memungkinkan pemikiran Islam berdialog dengan realitas modern melalui hermeneutika, penalaran berbasis maqāṣid, dan dialog interdisipliner. Artikel ini menegaskan bahwa teologi normatif dan teologi kritis tidak perlu diposisikan sebagai dua paradigma yang saling bertentangan, melainkan sebagai dua dimensi yang saling melengkapi. Model integratif yang ditawarkan menggabungkan fondasi normatif, metode kritis, dan orientasi transformatif, sehingga teologi Islam tetap berakar pada wahyu sekaligus responsif secara etis dan relevan secara sosial di era modern.
DIALECTICS OF SYMBOL AND HERMENEUTICS: A COMPARATIVE STUDY OF PAUL RICOEUR AND FAZLURRAHMAN’S THOUGHT ON RELIGIOUS LANGUAGE Krisna S Yogiswari
Mahiyah: Journal of Islamic Thought and Philosophy Vol. 3 No. 1 (2026): MAHIYAH: Journal of Islamic Thought and Philosophy
Publisher : Department of Islamic Theology and Philosophy, UIN Datokarama Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24239/r06sxh83

Abstract

Artikel ini mengkaji problem bahasa agama melalui studi komparatif pemikiran Paul Ricoeur dan Fazlur Rahman. Masalah utama yang dibahas adalah kecenderungan memahami bahasa agama secara literal sehingga kedalaman simbol dan makna etis wahyu sering tereduksi. Bahasa agama tidak dapat dipahami hanya sebagai ungkapan doktrinal atau verbal, tetapi sebagai wacana simbolik dan hermeneutik yang menuntut penafsiran. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan pendekatan deskriptif-analitis dan komparatif. Sumber primer diambil dari karya-karya Paul Ricoeur dan Fazlur Rahman, sedangkan sumber sekunder berasal dari buku serta artikel jurnal Indonesia terbaru yang relevan dengan kajian hermeneutika, simbol, dan penafsiran Al-Qur’an. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Ricoeur memahami bahasa agama sebagai wacana simbolik yang memiliki surplus makna dan membuka pemahaman eksistensial manusia. Sementara itu, Fazlur Rahman memandang bahasa Al-Qur’an sebagai wacana historis-moral yang perlu ditafsirkan melalui metode double movement. Perbandingan keduanya menunjukkan bahwa Ricoeur menekankan makna simbolik-eksistensial, sedangkan Rahman menekankan transformasi historis-etis. Keduanya menawarkan kerangka kritis untuk mengatasi literalisme dan membangun pemahaman agama yang reflektif, kontekstual, serta transformatif.
ALGORITHMIC AUTHORITY AND THE DECONSTRUCTION OF KNOWLEDGE IN THE DIGITAL AGE: AN ISLAMIC PHILOSOPHICAL PERSPECTIVE: Otoritas Algoritmik dan Dekonstruksi Pengetahuan di Era Digital: Perspektif Filsafat Islam Mursyidul Haq Firmansyah
Mahiyah: Journal of Islamic Thought and Philosophy Vol. 3 No. 1 (2026): MAHIYAH: Journal of Islamic Thought and Philosophy
Publisher : Department of Islamic Theology and Philosophy, UIN Datokarama Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24239/332m9x53

Abstract

Artikel ini mengkaji dekonstruksi otoritas pengetahuan di era digital dalam perspektif filsafat Islam. Masalah utama yang dibahas adalah krisis epistemologis akibat pergeseran otoritas pengetahuan dari institusi keilmuan, legitimasi moral, dan transmisi intelektual menuju sistem digital yang dibentuk oleh algoritma, popularitas, kecepatan, dan visibilitas platform. Dalam masyarakat Muslim, pergeseran ini melemahkan fondasi pengetahuan Islam, terutama sanad, adab, verifikasi, serta integrasi wahyu dan akal. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan pendekatan filosofis-analitis dan hermeneutik-kritis. Analisis dilakukan dengan menelaah konsep-konsep epistemologi Islam, khususnya tabayyun, sanad, adab, serta hubungan akal dan wahyu dalam kaitannya dengan media digital, kecerdasan buatan, dan otoritas algoritmik. Temuan penelitian menunjukkan bahwa era digital melahirkan desentralisasi epistemik, legitimasi algoritmik, dan otoritas performatif yang mengaburkan batas antara pengetahuan otentik, opini, dan otoritas semu. Artikel ini menegaskan bahwa filsafat Islam menawarkan kerangka rekonstruktif bagi epistemologi Islam digital melalui pemulihan verifikasi, etika pengetahuan, akuntabilitas intelektual, dan hierarki otoritas yang sahih.
EKSISTENSI MANUSIA DI ERA ARTIFICIAL INTELLIGENCE“PRESPEKTIF MUHAMMAD IQBAL” Arrasikhu Fil'Ilmi
Mahiyah: Journal of Islamic Thought and Philosophy Vol. 3 No. 1 (2026): MAHIYAH: Journal of Islamic Thought and Philosophy
Publisher : Department of Islamic Theology and Philosophy, UIN Datokarama Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24239/g5tn0q74

Abstract

This article examines the problem of human existence in the era of Artificial Intelligence through the perspective of Muhammad Iqbal’s philosophy of khudi. The rapid development of AI has not only transformed human activities in education, communication, knowledge production, and decision-making, but has also raised fundamental philosophical questions concerning autonomy, creativity, moral responsibility, and the meaning of being human. This study employs a qualitative library research method with a hermeneutical-philosophical approach. Primary data are derived from Muhammad Iqbal’s concept of khudi, while secondary data are obtained from scholarly works on Artificial Intelligence, human autonomy, moral agency, Islamic philosophy, and contemporary technological ethics. The findings show that Iqbal’s khudi provides a critical framework for affirming human beings as active, creative, free, and morally responsible subjects. AI should not be positioned as an authority that replaces human consciousness, but as an instrument that supports human development. Therefore, strengthening khudi becomes essential to prevent humans from becoming passive objects of algorithmic systems and to preserve their dignity, spirituality, and existential responsibility.
Perempuan dan Partisipasi Publik dalam Islam: Dari Khadijah hingga Aktivis Muslimah Kontemporer Indah Ahyuni; Surni Kadir
Mahiyah: Journal of Islamic Thought and Philosophy Vol. 2 No. 1 (2025): MAHIYAH: Journal of Islamic Thought and Philosophy
Publisher : Department of Islamic Theology and Philosophy, UIN Datokarama Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24239/gwmh1927

Abstract

Partisipasi Publik dalam Islam: Dari Khadijah hingga Aktivis Muslimah Kontemporer”. Kajian ini berangkat dari latar belakang historis bahwa sejak awal perkembangan Islam, perempuan telah memainkan peran penting dalam ranah publik, baik dalam bidang ekonomi, dakwah, maupun transmisi keilmuan. Meski demikian, wacana mengenai ruang publik perempuan terus mengalami perdebatan hingga era kontemporer, terutama dalam konteks kesetaraan gender, tafsir agama, dan dinamika sosial-politik global. Tujuan penelitian ini adalah menelusuri kesinambungan kiprah perempuan Muslim dari periode klasik hingga masa kini serta mengidentifikasi strategi yang digunakan dalam menegosiasikan ruang dan legitimasi sosial mereka. Metode penelitian yang digunakan adalah studi pustaka dengan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan dari sumber primer, seperti kitab sejarah, hadis, dan biografi, serta sumber sekunder berupa buku, artikel jurnal, dan laporan penelitian terkini. Analisis dilakukan melalui dua tahap, yaitu analisis historis untuk memetakan kontribusi tokoh lintas periode, serta analisis komparatif untuk membandingkan konteks sosial yang melingkupinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sejak Khadijah binti Khuwailid hingga tokoh modern seperti Amina Wadud, perempuan Muslim telah membuktikan perannya dalam dakwah, pendidikan, kepemimpinan, dan advokasi sosial. Kontribusi mereka tidak hanya memberi pengaruh pada lingkup domestik, tetapi juga pada ranah publik dan peradaban Islam secara keseluruhan. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa partisipasi publik perempuan merupakan bagian integral dari sejarah Islam, sekaligus menjadi landasan bagi perjuangan kesetaraan dan keadilan gender di era kontemporer.
Femenisme Islam Vs Feminisme Barat:“Analisis Perbedaan Paradigma Dan Tujuan” Surni Kadir; Saiful Munir
Mahiyah: Journal of Islamic Thought and Philosophy Vol. 2 No. 1 (2025): MAHIYAH: Journal of Islamic Thought and Philosophy
Publisher : Department of Islamic Theology and Philosophy, UIN Datokarama Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24239/b9wxqw53

Abstract

Artikel ini mengkaji perbedaan paradigma dan tujuan antara feminisme Islam dan feminisme Barat dalam memahami isu kesetaraan gender. Tujuan penelitian ini adalah untuk menelaah basis filosofis, metode perjuangan, serta implikasi sosial dari kedua aliran feminisme tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kepustakaan, yang melibatkan analisis terhadap literatur akademik, artikel jurnal, serta karya-karya pemikir feminis dari tradisi Islam maupun Barat. Data yang diperoleh dianalisis dengan metode deskriptif-komparatif guna menemukan titik temu sekaligus perbedaan mendasar di antara keduanya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa feminisme Barat berakar pada sekularisme dengan orientasi pada kesetaraan absolut berbasis kebebasan individu, sementara feminisme Islam bertumpu pada prinsip syariat yang menekankan keadilan, kesetaraan spiritual, dan perbedaan kodrat antara laki-laki dan perempuan. Dari segi tujuan, feminisme Barat lebih cenderung menuntut perubahan radikal terhadap struktur patriarki, sedangkan feminisme Islam menekankan reinterpretasi teks keagamaan untuk memperjuangkan hak perempuan tanpa menanggalkan nilai-nilai religius. Novelty penelitian ini terletak pada penyajian analisis kritis yang tidak hanya membandingkan kerangka teoritik keduanya, tetapi juga menyoroti implikasi praktisnya bagi masyarakat Muslim kontemporer. Dengan demikian, artikel ini berkontribusi pada pengembangan wacana gender yang lebih kontekstual dan relevan dengan dinamika sosial-keagamaan masa kini.
DAKWAH KULTURAL SUNAN KALIJAGA: INTEGRASI TASAWUF DAN BUDAYA JAWA DAN RELEVANSINYA DENGAN DAKWAH MODERN nurjana; Sakhira A Lasawali; Siti Maryam; Wahdania
Mahiyah: Journal of Islamic Thought and Philosophy Vol. 1 No. 1 (2024): MAHIYAH: Journal of Islamic Thought and Philosophy
Publisher : Department of Islamic Theology and Philosophy, UIN Datokarama Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24239/bpx6f765

Abstract

Artikel ini membahas dakwah kultural Sunan Kalijaga sebagai model integrasi antara tasawuf dan budaya Jawa dalam proses Islamisasi di Pulau Jawa. Masalah utama yang dikaji adalah bagaimana nilai-nilai Islam disampaikan melalui media budaya lokal tanpa menghilangkan identitas masyarakat Jawa. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka melalui penelusuran literatur tentang Sunan Kalijaga, Walisongo, Islam Jawa, dakwah kultural, tasawuf, wayang, tembang, dan tradisi lokal. Analisis dilakukan secara deskriptif-analitis untuk melihat hubungan antara ajaran Islam, simbol budaya, dan transformasi spiritual masyarakat. Hasil kajian menunjukkan bahwa dakwah Sunan Kalijaga tidak hanya bersifat kultural, tetapi juga sufistik karena menekankan pembinaan akhlak, penyucian batin, toleransi, kebijaksanaan, dan harmoni sosial. Media budaya seperti wayang, tembang Lir-ilir, gamelan, Sekaten, serta prinsip momong, momor, dan momot menjadi sarana efektif dalam menginternalisasikan nilai-nilai Islam. Artikel ini menegaskan bahwa dakwah sufistik-kultural Sunan Kalijaga tetap relevan sebagai model dakwah Islam yang moderat, humanis, dan kontekstual pada masa kini.
UCAPAN SELAMAT HARI RAYA AGAMA LAIN DALAM PERSPEKTIF TEOLOGI MULTIKULTURALISME: TELAAH ATAS PERBEDAAN PANDANGAN ULAMA Nasruddin; Saifullah; Rozan Rizqullah; Faruq jasiran
Mahiyah: Journal of Islamic Thought and Philosophy Vol. 2 No. 2 (2025): MAHIYAH: Journal of Islamic Thought and Philosophy
Publisher : Department of Islamic Theology and Philosophy, UIN Datokarama Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24239/1gwrdm12

Abstract

Artikel ini membahas persoalan ucapan selamat hari raya agama lain dalam perspektif teologi multikulturalisme. Dalam masyarakat Muslim, khususnya di Indonesia, ucapan seperti “Selamat Natal” atau ucapan terhadap hari raya agama lain sering menimbulkan perdebatan karena berada di antara komitmen teologis dan tuntutan toleransi sosial. Sebagian ulama melarang ucapan tersebut karena dipandang dapat mengandung pengakuan terhadap ajaran teologis agama lain serta penghormatan terhadap syiar keagamaan di luar Islam. Sebaliknya, sebagian ulama membolehkannya apabila ucapan tersebut dimaknai sebagai kesantunan sosial, penghormatan kemanusiaan, dan upaya menjaga hubungan damai tanpa membenarkan akidah agama lain. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan pendekatan normatif-teologis dan analisis komparatif. Temuan artikel ini menunjukkan bahwa perbedaan pandangan ulama berakar pada perbedaan dalam menempatkan persoalan tersebut, apakah sebagai wilayah akidah dan syiar keagamaan atau sebagai wilayah muamalah sosial. Artikel ini menegaskan bahwa teologi multikulturalisme dapat menjadi kerangka untuk menjaga akidah Islam sekaligus membangun etika hidup bersama dalam masyarakat plural.

Page 1 of 3 | Total Record : 28