cover
Contact Name
Wulandari Dianningtyas
Contact Email
jurnal.lemigas@esdm.go.id
Phone
+6282121181003
Journal Mail Official
jurna.lemigas@esdm.go.id
Editorial Address
BBPMGB LEMIGAS Jl. Ciledug Raya Kav. 109. Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan 12230
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
LEMBARAN PUBLIKASI MINYAK DAN GAS BUMI (LPMGB)
Published by LEMIGAS
Core Subject :
LPMGB aims the dissemination of information on research activities, technology engineering development and laboratory testing in the oil and gas field. Manuscripts in English are accepted from all in any institutions, college and industry oil and gas throughout the country and overseas.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "vol 49 no 1 (2015)" : 9 Documents clear
Karakterisasi Springless Geophone dan Perancangan Sistem Selektor Sinyal Geophone Array untuk Meningkatkan Signal to Noise Ratio Data Seismik Yudi Kuntoro
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 49 No 1 (2015)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.49.1.231

Abstract

Geophone adalah gerbang pertama informasi citra bawah permukaan bumi pada survei seismik. Akurasi geophone memainkan peranan yang sangat penting pada survei tersebut. Hampir semua geophone yang berada di industri berbasis pegas. Masalah utama yang muncul pada geophone jenis pegas adalah perubahan nilai k (konstanta pegas) akibat pembebanan terus menerus. Perubahan nilai tersebut akan berpengaruh pada akurasi sinyal seismik yang dihasilkan. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, sebuah geophone berbasis magnet yang menggunakan gaya tolak menolak magnet sekutub sebagai pengganti pegas telah dikembangkan dan dinamakan springless geophone. Secara kualitatif, springless geophone dapat mempunyai frekuensi alami yang lebih baik dibandingkan geophone konvensional namun nilai sensitivitasnya lebih rendah. Permasalahan lain juga muncul pada sistem perekaman. Geophone array yang hanya dikongurasi dengan kombinasi seri-paralel menyebabkan error atau noise dari masing- masing geophone tidak dapat terdeteksi. Sebuah sistem selektor sinyal seismik telah dirancang untuk menghilangkan permasalahan error tersebut. Sistem tersebut bekerja dengan mengevaluasi sinyal dari masing-masing geophone, kemudian menyeleksi sinyal-sinyal yang identik dan mengeliminasi sinyal- sinyal yang tidak identik sehingga sinyal yang direkam hanya sinyal-sinyal yang identik. Jika nilai sinyal geophone terletak di antara batas atas dan batas bawah lter, maka sinyal dinilai identik. Jika tidak maka sinyal harus dieliminasi. Batas atas lter adalah penjumlahan dari nilai rata-rata dan deviasi standar sinyal geophone dalam satu grup. Sedangkan batas bawah adalah nilai rata-rata dikurangi deviasi standar. Geophone is the rst gateforsubsurface informationonseismic survey. Geophone accurationplays very im- portant role in this survey. Most of industrial geophoneis spring-based. The main problem of spring-based geophone is the change of k value (spring constant) because of load continuously. The change of k value will reduce the accuration ofthe observedseismic data. To solve this problem, a magnet-based geophone whichusesrepulsion force of magnetstosubstitutethe use of springhas been developedand named springless geophone. Qualitatively, the springless geophone has betternatural frequency than conventional one but the sensitivity is lower. Another problem also takes place in recording system.Array geophone which is congured by series and parallel combination causeserror or noise from each geophone can not be detected. A geophone array signal selector systemhas been designedto solve this problem. This system evaluates signal fromeach geophone simultaneously, then selectssome identical signals, and eliminatesunidentical signals so that only identical signal that will be recorded. If geophone signal is between top level and bottom level of lter, then the signal is considered as identic. If not, then the signal must be eliminated. Top level of the lter is addition of average and standard deviation of group geophones signals. Bottom level of lter is the difference between average and standard deviation.
Konversi Plastik Menjadi Senyawa Alkana Rantai C6 - C12 Menggunakan Katalis Ni/Zeolit dan Zn/Zeolit Donatus Setyawan Purwo Handoko; Wahid Hasyim
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 49 No 1 (2015)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.49.1.232

Abstract

Telah dilakukan penelitian konversi plastik menjadi senyawa alkana dengan panjang rantai C6-C12 menggunakan katalis Ni/zeolit dan Zn/zeolit serta reaktor sistem fixed bed. Katalis Ni/zeolit dan Zn/zeolit dipreparasi melalui teknik perendaman dalam air, kalsinasi, oksidasi, impregnasi basah logam Ni dan Zn dan reduksi. Kalsinasi, oksidasi dan reduksi dilakukan pada suhu 500oC dengan laju alir gas (nitrogen, oksigen atau hidrogen) 20 mL/menit. Hasil yang diperoleh dari perengkahan plastik menjadi senyawa alkana dengan panjang rantai C6-C12 adalah 77,02 % untuk jenis katalis Zn/zeolit dan 76,87% untuk jenis katalis Ni/zeolit. Has done research into the conversion of plastic compounds with long- chain alkanes C6 - C12 using the catalyst Ni zeolite and Zn/zeolite and the fixed bed reactor system . Catalyst Ni/zeolite and Zn/zeolite prepared through immersion technique, calcination, oxidation, wet impregnation of Ni and Zn metal and reduction. Calcination, oxidation and reduction is carried out at a temperature of 500°C with a flow rate of gases (nitrogen, oxygen or hydrogen) 20 mL/min. The results obtained from the cracking of plastic into a compound alkanes with chain lengths C6 - C12 is 77.02% for the type of catalyst Zn/zeolite and 76.87% for the type of catalyst Ni/zeolite.
Karakteristik Fisika Kimia Formulasi Minyak Lumas Trafo Inhibited Shinta Sari Hastuningtyas; Catur Yuliani Respatiningsih
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 49 No 1 (2015)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.49.1.233

Abstract

Transformator pada pembangkit listrik membutuhkan bahan dielektrik sebagai bahan isolasi untuk memisahkan dua atau lebih penghantar listrik yang bertegangan. Sehingga antar penghantar tersebut tidak terjadi hubung singkat yang dapat menyebabkan lompatan api atau percikan. Salah satu bahan dielektrik yang digunakan adalah minyak lumas transformator. Minyak di Indonesia masih impor, untuk itu perlu dilakukan formulasi minyak lumas trafo dengan berbagai komposisi. Kapasitas terpasang dan jumlah trafo di Indonesia cukup besar dan pemenuhan minyak trafo masih dengan cara impor. Dilakukan formulasi minyak trafo dengan berbagai komposisi untuk menghasilkan enam belas formula, kemudian diambil tiga formula yang mendekati sifat fisika kimia minyak trafo di pasaran. Dari tiga formula itu menunjukkan bahwa Formula 6 memiliki hasil uji terbaik dengan hasil uji viskositas kinematik pada temperatur 40oC 11,6 cSt, titik nyala 180oC, angka asam total 0,04 mgKOH/gr, dielectric breakdown voltage (DBV) 39 kV, dan interfacial tension (IFT) 41 mN/m. Sehingga formula ini memenuhi spesifikasi SNI 7069.18 : 2008 dan IEC 60296-2003. Transformer of a power plant requires dielectric materials as insulation to separate two or more electrically conductive voltage substances. So that substance conductivity will not occur a short circuit that could cause fire or spark jumps. One of the dielectric material used is a lubricating oil transformer (transformer oil). Installed capacity and number of transformers in Indonesia is quite large and the fulfillment of transformer oil in Indonesia is still imported. Therefore it is necessary to formulate lubricating oil transformer with various compositions to produce at least sixteen formulas, and then it will be chosen three samples with the closest physicochemical properties of transformer oil in the market. Of the three formulas show that Formula 6 has the best test results according test results at temperatures of 40°C kinematic viscosity is 11.6 cSt, flash point is 180oC, the total acid number (TAN) is 0.04 mgKOH/g, the dielectric breakdown voltage (DBV) is 39 kV, and the interfacial tension (IFT) is 41 mN/m. And this formula meets the specifications of ISO 7069.18: 2008 and IEC 60296-2003.
Kebutuhan Angka Oktana Kendaraan Bermotor Mesin Bensin di Indonesia Cahyo Setyo Wibowo; Lies Aisyah; Hery Widhiarto; Sugeng Riyono
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 49 No 1 (2015)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.49.1.234

Abstract

Pesatnya perkembangan teknologi mesin pada kendaraan bermotor jenis mesin bensin saat ini, menyebabkan meningkatnya kebutuhan angka oktana bahan bakar jenis bensin sesuai dengan kinerja mesinnya. Studi mengenai penentuan nilai angka oktana bahan bakar jenis bensin sangat penting dilakukan karena setiap negara perlu menetapkan tingkat angka oktana bensin yang disuplai ke pasar. Studi ini sangat bermanfaat untuk pemerintah sebagai penentu kebijakan (terutama dalam menentukan kebijakan pengaturan bahan bakar minyak bersubsidi), produsen pabrikan kendaraan dan konsumen. Metodologi yang digunakan pada studi ini antara lain dengan melakukan survey mengenai populasi jenis kendaraan bermotor jenis mesin bensin di Indonesia, kemampuan produksi kilang Pertamina yang berkaitan dengan angka oktana pada bensin dan perkembangan teknologi mesin kendaraan bermotor. Kemudian, diformulasikan dalam bentuk matriks rencana penentuan kebutuhan angka oktana kendaraan bermotor di Indonesia. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa persentase populasi kendaraan tipe sedan dan kendaraan roda empat dengan penggerak dua roda (tipe 4X2) sebanyak 70%, yang memiliki tingkat rasio kompresi tinggi (di atas 9:1) sehingga membutuhkan bahan bakar dengan angka oktana di atas RON 90. Sedangkan saat ini, kapasitas produksi kilang Pertamina per tahun untuk Bensin RON 92 sekitar 10,91% sehingga diperlukan peningkatan kapasitas produksi kilang. Selain itu, berdasarkan hasil survey terdapat kurang lebih 12 merek mobil dengan 113 tipe kendaraan yang saat ini beredar di Indonesia. Dari 113 tipe kendaraan yang ada, sebanyak 59 tipe kendaraan (52,21%) direkomendasikan menggunakan bahan bakar bensin RON 92, sebanyak 32 tipe kendaraan (28,32%) direkomendasikan menggunakan bahan bakar bensin RON 95, dan sebanyak 22 tipe kendaraan (19,47%) direkomendasikan menggunakan bahan bakar bensin RON 88.
Pengolahan Data Citra Satelit untuk Mengidentifikasi Potensi Jebakan dalam Kegiatan Eksplorasi Migas Indah Crystiana; Tri Muji Susantoro; Nurus Firdaus
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 49 No 1 (2015)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.49.1.235

Abstract

Penggunaan teknologi penginderaan jauh saat ini mulai dimanfaatkan dalam berbagai aplikasi pemetaan. Proses ekstraksi informasi pada data penginderaan jauh dapat didasarkan pada pengamatan visual, nilai spektral, serta berdasar obyek. Evaluasi terhadap pemrosesan citra dilakukan untuk mendapatkan citra yang mudah untuk diinterpretasi secara visual. Interpretasi dilakukan untuk mengidentifikasi potensi area jebakan migas. Hal ini dilakukan dengan pemetaan perbedaan tinggian topografi di daerah landai. Metode pengolahan citra yang digunakan dalam penelitian ini adalah penajaman kontras, fusi, dan analisis komponen utama (PCA). Identifikasi potensi jebakan migas melalui pemetaan tinggian dilakukan dengan kombinasi dari perbedaan topografi, pola pengaliran, pola kelurusan, pemetaan penggunaan lahan dan pola perlapisan. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan topografi, pola pengaliran, pola kelurusan dan pola perlapisan dapat dikenali dengan baik dengan pengolahan data citra satelit dengan metode penajaman kontras. Pemetaan penggunaan lahan tampak dengan sangat jelas dengan metode fusi dengan melalui pansharpening obyek. Sedangkan obyek-obyek yang berupa lahan terbuka atau lahan kering tampak terlihat sangat jelas pada proses pengolahan PCA. Hal ini ditunjukkan dengan warna cyan keputihan dan rona sangat cerah. Pada kombinasi dengan Shuttle Radar Topographic Mission (SRTM) di daerah landai kurang memberikan efek yang berarti dalam menonjolkan obyek ataupun topografinya. Validasi dilakukan menggunakan data permukaan (Differential GPS) dan menggunakan data bawah permukaan (seismik, sumur, dan lapangan migas). Hasilnya menunjukkan bahwa potensi jebakan migas dapat dikenali melalui perbedaan tinggian topografi. Hasil validasi dengan data lapangan menunjukkan sekitar 44% berada pada struktur yang sudah terbukti menghasilkan hidrokarbon.
Pembuatan Biodiesel Dari Minyak Kemiri Sunan Via Hidrogenasi Katalitik Bahan Baku Dengan Katalis Ni γ Al2O3 Herizal Herizal; Chairil Anwar
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 49 No 1 (2015)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.49.1.236

Abstract

Biodiesel merupakan bahan bakar alternatif pengganti bahan bakar diesel yang bersumber dari fosil, solusi berkelanjutan untuk sumber energi dan ramah lingkungan. Pengembangan biodiesel ke masa depan agar tidak bersentuhan dengan kebutuhan pangan, sebaiknya diarahkan ke bahan baku nonpangan. Salah satu alternatif bahan baku nonpangan yang berpotensi sebagai bahan baku baku biodiesel adalah minyak kemiri sunan. Minyak kemiri sunan memiliki angka iodium yang tinggi, sehingga jika langsung digunakan sebagai bahan baku biodiesel akan menghasilkan produk dengan kandungan angka iodium yang tinggi, melebihi dari yang ditetapkan dalam SNI 7182:2012. Tujuan dari penelitian ini adalah menurunkan angka iodium dari minyak kemiri sunan melalui proses hidrogenasi, sehingga dapat digunakan sebagai bahan baku untuk produksi biodiesel. Hidrogenasi dilakukan dengan reaktor autoclave menggunakan katalis 30% Ni γ Al O sebanyak 0,6% berat, dengan kondisi operasi suhu 200oC, tekanan 3 bar, waktu 3 jam dan 23 pengadukan 300 rpm. Angka iodium minyak kemiri sunan hasil hidrogenasi dapat diturunkan dari 129,34 menjadi 112,02 (g-I2/100 g). Proses pembuatan biodiesel dilakukan dengan dua tahap yaitu esterifikasi dan transesterifikasi. Esterifikasi dilakukan pada kondisi operasi, metanol sebesar 1,5 kali jumlah FFA dalam rpm. Transesterifikasi dilakukan pada kondisi operasi, rasio molar Metanol/CPO sebesarnya 10, konsentrasi katalis KOH antara 1 %-berat, waktu reaksi 60 menit, suhu reaksi 60oC dan pengadukan sekitar 1000 rpm. Perolehan biodiesel yang diproses menggunakan minyak kemiri sunan yang sudah dihidrogenasi adalah sebesar 86,65% berat. Secara umum spesifikasi biodesel dari minyak kemiri sunan yang dihasilkan telah memenuhi spesifikasi SNI 7182 tahun 2012.
Pembangunan Kilang Baru Holisoh Holisoh; Fiqih Ghifhari; Dessy Yudiartini; Mubaher Sidik
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 49 No 1 (2015)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.49.1.237

Abstract

Indonesia membutuhkan 2(dua) kilang baru dengan kapasitas 300 ribu bph untuk mengatasi impor BBM. Pemerintah telah menerima beberapa pengajuan rencana pembangunan kilang baru dari beberapa investor seperti Saudi Aramco dan Kuwait Petroleum melalui kerja sama dengan Pertamina.Namun belum ada keputusan yang konkrit untuk kerjasama terkait, sehingga Pemerintah perlu mencari strategi untuk terwujudnya pembangunan kilang tersebut, termasuk cara pengadaan minyak mentah untuk bahan baku, penentuan konfigurasi kilang serta pola pendanaannya. Untuk menyatukan pendapat terkait pengembangan kilang, LEMIGAS telah melakukan FGD (Focus Group Discussion) pada 26 Juni 2014 di Bogor dengan peserta lintas kementrian. Hasil presentasi & diskusi dari berbagai sudut pandang diperoleh gambaran bahwa pemerintah harus segera membangunan kilang baru, memilih pola pendanaan yang layak, dan mampu laksana. Pemilihan konfigurasi kilang BBM & petrokimia mampu memberikan marjin lebih baik, karena menghasilkan produk petrokimia yang lebih ekonomis dan memaksimalkan pemanfaatan hidrokarbon, serta mengoptimalkan penggunaan utilitas. Kilang pembiayaan swasta memberikan IRR sebesar 6% tanpa insentif dari pemerintah. Dengan insentif (tax allowance atau tax holiday dan pembebasan PPN barang kena pajak strategis) IRR akan meningkat menjadi 7%. Namun inipun belum cukup menarik untuk investor swasta, yang memerlukan IRR minimum sebesar 12%. Skema Kerja sama Pemerintah dan Swasta (KPS) yang disertai insentif dapat meningkatkan IRR menjadi sekitar 10-12%. Kenaikan IRR ini diakibatkan oleh 70% equity merupakan dana pemerintah. Meskipun demikian, kemungkinan pelaksanaan pendanaan secara KPS akan memerlukan proses dan waktu cukup panjang. Pembiayaan oleh Pemerintah seluruhnya dapat memberikan IRR 8,4%. Ini akan menarik apabila Pemerintah dapat menjual obligasi valas atau Suku valas/obligasi syariah yang dimasa lalu dengan kupon/imbal jasa lebih rendah dari 6% dan menurun.
Pengaruh Rasio Pelarutan LiOH Dalam Air Terhadap Karakteristik Gemuk Lumas Milda F Fibria; Setyo Widodo; Endah Juwita. M
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 49 No 1 (2015)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.49.1.238

Abstract

Gemuk sabun litium merupakan gemuk sabun sederhana yang banyak digunakan. Penggunaan litium hidroksida (LiOH) sebagai bahan thickener, dalam prosesnya dibutuhkan sejumlah air untuk melarutkannya. Penggunaan air untuk melarutkan LiOH diharapkan seefisien mungkin, karena banyaknya air yang digunakan dalam pencampuran LiOH dapat berpengaruh terhadap karakteristik gemuk lumas yang dihasilkan. Oleh sebab itu perlu dilakukan penelitian mengenai rasio pelarutan LiOH dalam air serta pengaruhnya terhadap karakteristik gemuk lumas yang dihasilkan. Percobaan pelarutan LiOH dalam air selama 90 menit dan pemanasan di suhu 750C dengan rasio berat LiOH : Air = 1:2 ; 1:3; 1:3,5; 1:4; 1:5 dilakukan untuk melihat hasil kelarutannya secara visual, kemudian dilanjutkan dengan pembuatan gemuk lumas untuk melihat pengaruhnya terhadap karakteristik gemuk lumas yang dihasilkan. Maksud dan tujuan penelitian ini adalah mendapatkan data rasio LiOH/air yang optimal, sehingga dapat diperoleh karakteristik gemuk lumas yang terbaik. Hasil yang didapat menunjukkan bahwa semakin banyak air yang digunakan, scar diameter semakin kecil akan tetapi kestabilan gemuk menurun. Dengan melihat keseluruhan data hasil uji, dapat disimpulkan bahwa penggunaan air paling efisien adalah pada rasio berat LiOH: air sebesar 1:3,5. Dengan komposisi ini akan mendapathan hasil uji karateristik yang paling optimal, yaitu dropping point 185 ̊C, NLGI 2 dan Scar diameter 0,597 mm.
Modifikasi Minyak Sawit Sebagai Pensubstitusi Minyak Solar Chairil Anwar
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 49 No 1 (2015)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.49.1.239

Abstract

Minyak sawit dapat digunakan sebagai bahan bakar diesel alternatif dengan perbaikan kualitasnya. Pada penelitian ini dimodifikasi dengan cara pencampuran menggunakan minyak solar. Hasil uji sifat fisika kimia terhadap minyak sawit dan setelah dicampur dengan minyak solar beberapa karakter yang semula tidak, menjadi memenuhi spesifikasi minyak solar 48. Pada variasi pencampuran minyak sawit 20% volume menunjukkan sifat fisika kimia masih dalam rentang spesifikasi minyak solar. Viskositas dan berat jenis tinggi dapat diatasi dengan modifikasi. Minyak sawit dengan viskositas semula 5,572 cSt menjadi 4,382 cSt, berat jenis yang semula 871 kg/m3 menjadi 851 kg/m3 dan indeks setana lebih tinggi dari 47,9 menjadi 54,9. Bahan bakar diesel hasil penelitian ini mempunyai nilai lebih dari biodiesel yang dicampur dengan minyak solar. Minyak sawit dan minyak solar langsung dicampur, tanpa harus diproses terlebih dahulu menjadi biodiesel. Minyak sawit sebagai sumber energi terbarukan dengan masing-masing karakter yang telah dibahas kiranya menjadi pilihan yang layak untuk mempertahankan ketahanan energi jangka panjang.

Page 1 of 1 | Total Record : 9


Filter by Year

2015 2015


Filter By Issues
All Issue Vol 60 No 2 (2026) Vol 60 No 1 (2026) Vol 59 No 3 (2025) Vol 59 No 2 (2025) Vol 59 No 1 (2025) Vol 58 No 3 (2024) Vol 58 No 2 (2024) Vol 58 No 1 (2024) Vol 57 No 3 (2023) Vol 57 No 2 (2023) Vol 57 No 1 (2023) Vol 56 No 3 (2022) Vol 56 No 2 (2022) Vol 56 No 1 (2022) Vol 55 No 3 (2021) Vol 55 No 2 (2021) Vol 55 No 1 (2021) Vol 54 No 3 (2020) Vol 54 No 2 (2020) Vol 54 No 1 (2020) Vol 53 No 3 (2019) Vol 53 No 2 (2019) Vol 53 No 1 (2019) Vol 52 No 3 (2018) Vol 52 No 2 (2018) Vol 52 No 1 (2018) Vol 51 No 3 (2017) Vol 51 No 2 (2017) Vol 51 No 1 (2017) Vol 50 No 3 (2016) Vol 50 No 2 (2016) Vol 50 No 1 (2016) Vol 49 No 3 (2015) Vol 49 No 2 (2015) Vol 49 No 1 (2015) Vol 48 No 3 (2014) Vol 48 No 2 (2014) Vol 48 No 1 (2014) Vol 47 No 3 (2013) Vol 47 No 2 (2013) Vol 47 No 1 (2013) Vol 45 No 3 (2011) Vol 45 No 2 (2011) Vol 45 No 1 (2011) Vol 44 No 3 (2010) Vol 44 No 2 (2010) Vol 44 No 1 (2010) Vol 43 No 3 (2009) Vol 43 No 2 (2009) Vol 43 No 1 (2009) Vol 42 No 3 (2008) Vol 42 No 2 (2008) Vol 42 No 1 (2008) Vol 41 No 3 (2007) Vol 41 No 2 (2007) Vol 41 No 1 (2007) Vol 40 No 3 (2006) Vol 40 No 2 (2006) Vol 40 No 1 (2006) Vol 39 No 3 (2005) Vol 39 No 2 (2005) Vol 39 No 1 (2005) Vol 38 No 3 (2004) Vol 38 No 2 (2004) Vol 38 No 1 (2004) Vol 37 No 1 (2003) Vol 36 No 3 (2002) Vol 36 No 2 (2002) Vol 36 No 1 (2002) Vol 24 No 2 (1990) Vol 24 No 1 (1990) Vol 23 No 3 (1989) Vol 23 No 1 (1989) Vol 21 No 3 (1987) Vol 21 No 2 (1987) Vol 21 No 1 (1987) Vol 20 No 3 (1986) Vol 20 No 2 (1986) Vol 20 No 1 (1986) Vol 19 No 3 (1985) Vol 19 No 2 (1985) Vol 19 No 1 (1985) Vol 18 No 3 (1984) Vol 18 No 2 (1984) Vol 18 No 1 (1984) Vol 17 No 2 (1983) Vol 15 No 1 (1981) Vol 14 No 3 (1980) Vol 14 No 2 (1980) Vol 14 No 1 (1980) More Issue