cover
Contact Name
Wulandari Dianningtyas
Contact Email
jurnal.lemigas@esdm.go.id
Phone
+6282121181003
Journal Mail Official
jurna.lemigas@esdm.go.id
Editorial Address
BBPMGB LEMIGAS Jl. Ciledug Raya Kav. 109. Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan 12230
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
LEMBARAN PUBLIKASI MINYAK DAN GAS BUMI (LPMGB)
Published by LEMIGAS
Core Subject :
LPMGB aims the dissemination of information on research activities, technology engineering development and laboratory testing in the oil and gas field. Manuscripts in English are accepted from all in any institutions, college and industry oil and gas throughout the country and overseas.
Arjuna Subject : -
Articles 584 Documents
MANFAAT EKONOMI DAN LINGKUNGAN DARI KEGIATAN MIGAS TELUK BINTUNI, PROPINSI PAPUA BARAT (The Benefit of Economic and Environment Oil and Gas Activity in Bintuni Gulf, West Papua) Djoko Sunarjanto; Luky A Yusgiantoro; Danang Sismartono; Rismoyo Bayu Haryo Utomo; Wanda Ali Akbar
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 51 No 3 (2017)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.51.3.24

Abstract

Karya Tulis Ilmiah ini meneliti dampak positip ekonomi sebagai upaya melestarikan manfaat ekonomi dan lingkungan di Teluk Bintuni, Provinsi Papua Barat. Menggunakan pendekatan analisis tekno-ekonomi sektor hulu dan hilir migas, serta dengan analisis dampak ekonomi   periode 2017-2035. Hasil inventarisasi data menunjukkan bahwa kebutuhan gas bumi untuk industri petrokimia dari Blok Tangguh dan Blok Kasuri di Teluk Bintuni sebesar 180 MMSCFD, total investasi yang dibutuhkan adalah sebesar Rp 20,5 triliun. Data rencana pengembangan (POD) Lapangan Tangguh dan Kasuri menunjukkan investasi akan berakhir pada tahun 2027. Analisis dampak positip ekonomi berdasarkan pada data pendapatan bruto, pendapatan masyarakat, dan penyerapan tenaga kerja di Provinsi Papua Barat yang rata-rata mencapai puncaknya tahun 2027 dan mulai menurun pada tahun 2028. Hal tersebut menunjukkan bahwa penurunan produksi gas menjadi faktor yang mempengaruhi pola dampak perekonomian Teluk Bintuni. Dampak positip lingkungan adalah termanfaatkannya cadangan gas bumi ramah lingkungan sebagai subtitusi minyak bumi. Sumberdaya gas bumi termasuk dalam sumberdaya tidak terbarukan, maka sebagai upaya menghindari kutukan sumberdaya (resource curse) sekaligus menjaga stabilitas ekonomi dan lingkungan, direkomendasikan agar dikembangkan sektor lainnya bersama industri migas dengan memperhatikan kearifan local Teluk Bintuni. Sektor prioritas terpilih meliputi sektor ESDM (pertambangan, kelistrikan, energi baru terbarukan), sektor pertanian, kelautan dan perikanan, pariwisata, kehutanan dan sektor perindustrian. Pengembangan sector prioritas dilakukan bertahap sejak produksi energi gas Tahun 2019. Implementasi kajian manfaat ekonomi dan lingkungan di setiap wilayah kerja migas menunjukkan salah satu solusi pengembangan berkelanjutan (sustainable development). This paper research the positive impact of economic and environment as an effort to preservation economic and environment benefit in Bintuni Gulf, West Papua. By using the theory of techno-economy upstream and downstream oil and gas sector, and from the analysis of the effects of economic in the period 2017-2035. The inventory result of the data shows the natural gas need in chemical industry from the Blok Tangguh and Blok Kasuri in Bintuni Gulf is worth it 180 MMSCFD. Total investment required is IDR 20,5 trillion. The Plan Of Development (POD) of Tangguh and Kasuri Field show the investment will be ended in 2027. An analysis of the economic positive impact based on the income data gross, the people income, and employment in West Papua averagely reach its peak in 2027 and will be decreased in the 2028. This shows that the decrease of gas production becomes the factor that bring the economic impact in Bintuni Gulf. The positive impact of environment is the used of earth gas reserve that environmentally friendly as the petroleum substitution. Natural gas resources that is not renewable, so that to avoid the resource curse as well as to mantain the economic stability and environment, it is recommended to be developed in other sectors with oil and gas industry by keeping Bintuni Gulf local wisdom. The priority sectors elected covering the energy and mineral resources (mining sector, electricity, renewable energy), the agricultural sector, maritime affairs and fisheries, tourism, forestry and industry sector. The development of priority sectors is conducted gradually since the gas energy production in 2019 .The implementation of economic and environment benefit research in every oil and gas working area shows one solution of the sustainable development.
PEMISAHAN LITOLOGI DAN FLUIDA DENGAN MENGGUNAKAN POISSON IMPEDANCE (Distinguishing Lithology and Fluid Using Poisson Impedance) Humbang Purba; Bagus D Prasetyo; Ricky Andrian Tampubolon; Pradityo Riyadi; Shidqi Anugrah Diria; Argya H Basundara
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 51 No 3 (2017)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.51.3.25

Abstract

Parameter Acoustic Impedance (AI) dan Shear Impedance (SI) umumnya digunakan untuk sensitivitas pemisahan litologi dan fluida, distribusi properti petrofisika, pemodelan fasies, dan estimasi reserve potensi migas. Namun parameter tersebut tidak sensitif untuk pemisahan litologi dan fluida pada Formasi Plover di lapangan-X cekungan Bonaparte. Analisis lanjut parameter AI dan SI dilakukan dengan merotasikan kedua sumbu parameter tersebut ke dalam sumbu parameter yang baru sehingga menghasilkan parameter Poisson Impedance (PI) yang memenuhi persamaan PI = AI - c*SI. Pemisahan litologi dan fl uida dapat ditentukan dengan pemilihan nilai c yang berbeda melalui analisis TCCA (Target Correlation Coefficient Analysis). Nilai c untuk indeks litologi (LI) diperoleh dengan melakukan korelasi antara PI dan rekaman Gamma Ray (GR) dan untuk indeks fluida (FI) melalui korelasi antara PI dan Saturasi Air (Sw). Pada penelitian ini, terdapat dua zona target, yaitu zona A (3760 - 3920 meter) dan zona B (3920 - 4010 meter). Batas pemisahan litologi antara batupasir dan batu serpih menggunakan koefisien c = 1.245 untuk zona-A dan c = 2.3433 untuk zona-B sedangkan indikasi fluida menggunakan koefisien c = 2.740 untuk zona-A dan c = 3.2607 untuk zona-B. Acoustic Impedance (AI) dan Shear Impedance (SI) parameters are frequently used for petrophysical properties distribution, facies modeling, and reserve calculation. However, these are less sensitive to distinguish lithology and fluid at the Plover formation of X-field, Bonaparte basin. More advanced approximation was conducted by rotating AI and SI axis paremeter to obtain Poisson Impedance (PI) satisfying an equation: PI = AI - c*SI. Different c constant was simulated by using Target Correlation Coefficient Analysis (TCCA) then each PI correlates to Gamma Ray and the best correlation indexed by Lithology Index while for PI versus Water Saturation indexed by Fluid Index. The upper target (zone A) leveled at interval 3760 - 3920 metre while the lower (zone B) at interval 3920 - 4010 metre. In the zone A, sandstone and shale lithology are separated on coefficient c = 1.245 and c = 2.3422 in the zone B meanwhile fluid is separated on c = 2.7400 and c = 3.2607 in the zona A and B, respectively.
ANALISIS SIKUENSTRATIGRAFI UNTUK IDENTIFIKASI KOMPARTEMENTALISASI RESERVOIR KARBONAT FORMASI NGIMBANG BLOK SUCI, CEKUNGAN JAWA TIMUR UTARA (Sequence Stratigraphic Analysis for Identification of Carbonate Reservoir Compatementalization of Ngimbang Formation in Suci Block, North East Java Basin) Panuju Panuju; Ginanjar Rahmat; Agus Priyantoro; Egie Wijaksono; Bambang Wicaksono
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 51 No 3 (2017)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.51.3.26

Abstract

Analisis sikuenstratigrafi telah dilakukan pada penampang sedimen Formasi Ngimbang di Blok Suci, Cekungan Jawa Timur Utara. Analisis ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui suksesi vertikal dan perubahan fasies secara lateral dari unit sikuen reservoir karbonat pada Formasi tersebut sehingga kompartementalisasi fasies dari reservoir karbonat dapat dipahami secara rinci. Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi tiga well logs, biostratigrafi, lingkungan pengendapan dan petrografi dari sumur SUCI-1, SUCI-2 dan KMI-1 yang didukung penampang seismik. Penelitian ini dilakukan dengan mengintegrasikan semua data G & G dalam kerangka kronostratigrafi dan model pengendapan karbonat sehingga kompartementalisasi yang mengontrol konektifitas dan sifat fisik unit-unit reservoir karbonat dapat dipahami dengan baik. Hasil analisis menunjukkan bahwa reservoir karbonat Formasi Ngimbang di Blok Suci diendapkan selama Eosen Akhir sampai Oligosen Awal pada lingkungan neritik pinggir sampai batial atas. Secara kronostratigrafi, penampang karbonat Formasi Ngimbang dapat dibagi ke dalam tiga unit sikuen yang dipisahkan oleh bidang keidakselarasan, yaitu unit facies karbonat platform berumur Eosen Akhir di sekitar lokasi sumur SUCI-2, unit fasies karbonat platform berumur Oligosen Awal bagian bawah di sekitar lokasi sumur KMI-1 dan SUCI-2 dan unit fasies core reef berumur Oligosen Awal bagian atas di lokasi sekitar sumur SUCI-1. Hasil analisis tersebut dapat digunakan untuk menjelaskan fenomena akumulasi gas yang hanya dijumpai pada lokasi sumur SUCI-1, dan hanya gas show dan oil trace yang terobservasi di sumur SUCI-2, serta indikasi hidrokarbon yang sama sekali tidak ditemukan pada sumur KMI-1. Hal tersebut terjadi karena reservoir karbonat fasies core reef berumur Oligosen Awal hanya dijumpai pada lokasi sumur SUCI-1 dan tidak menerus ke lokasi Sumur SUCI-2 dan KMI-1. Analisis kompartementalisasi ini akan dapat meningkatkan rasio keberhasilan perusahaan-perusahaan migas yang melakukan pemboran dengan target batuan reservoir berupa batuan karbonat. Sequence stratigraphic analysis has been conducted on the sedimentary succession of Ngimbang Formation in Suci Block, North East Java Basin. This analysis is performed to know the genetic relationship and lateral facies change of carbonate reservoir of the formation thus facies compartmentalization of this carbonate reservoir can be understood. The data used in this study include 3 well logs, biostratigraphy, depositional environment and petrography reports of the SUCI-1, SUCI-2 and KMI-1, supported by seismik sections. This study was conducted by integrating all G & G data within Chronostratigraphy framework and carbonate deposition model thus compartmentalization controlling connectivities and physical properties among carbonate reservoir units can be well understood. Result of the analysis indicates that Ngimbang carbonate reservoirs in the SUCI Block were deposited during Late Eocene to Early Oligocene in the inner neritic to upper bathyal environments. The depositional setting of the sequences varies from shallow in the west (KMI-1) to become deeper in the east (SUCI- 2). Chronostratigraphy of the Ngimbang carbonate sequences shows three separated sequence units which include Late Eocene carbonate platform facies unit placing around the SUCI-2 well, the lower part of Early Oligocene to Eocene Carbonate platform facies unit at around both KMI-1 and SUCI-2 wells and the upper part of Early Oligocene core reef facies unit at around SUCI-1 well. All would be explaining how the gas accumulation does only occur in the SUCI-1 well, gas show and oil trace observed in SUCI-2 well, but no hydrocarbon indication found in the KMI-1 well. It is caused by a limited development of Early Oligocene core reef facies at SUCI-1 well location and not continuous to the location of SUCI-2 and KMI-1 wells. This compartmentalization analysis will increase the success ratio of oil and gas companies that drill with the target of carbonate reservoir rock.
REMEDIASI TANAH TERKONTAMINASI MINYAK DAN PROSES PENGOLAHAN LIMBAH BERMINYAK DI LINGKUNGAN INDUSTRI MINYAK (Remediation of Oil Contaminant Soil and Treatment Process of Oily Sludge in the Oil Industry) Zulkifliani Zulkifliani
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 51 No 3 (2017)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.51.3.27

Abstract

Pemulihan tanah terkontaminasi minyak dan pengolahanlimbahberminyak di industri minyak diperlukan oil separation technology yang tepat dan tidak menimbulkan masalah lain. Dalam beberapa kasus, tanah yang terkontaminasi banyak mengandung minyak dan dalam pengelolaannya hanya dikirimkan ke unit pengolahan limbah B-3. Salah satu teknik yang dikembangkan oleh LEMIGAS adalah menggunakan teknik yang terintegritas yaitu menggabungkan pengolahan secara fisika, kimia, dan biologi. Minyak yang masih terdapat dalam tanah dipisahkan dari impuritisnya, seperti tanah, pasir, dan padatan lainnya. Melalui proses pemulihan ini diharapkan minyak yang masih terdapat dalam tanah dapat direduksi sampai batas yang diizinkan oleh peraturan. Di samping itu untuk pengolahan limbah berminyak masih dapat diambil kembali minyaknya sebanyak mungkin (oil recovery). Dari hasil ujicoba skala demo plantunit pada lokasi yang mengandung tanah terkontaminasi, TPH 24,71% dapat direduksi menjadi 0,91%. Selain itu unit tersebut mampu memulihkan limbah berminyak lebih dari 95%. Remediation of oil contaminated soil and oily wastewater treatment in the oil industry requires proper oil separation technology and does not cause any other problems. In some cases, contaminated soil still contains much oil and in the management is only delivered to the B-3 waste treatment unit. One of the techniques developed by LEMIGAS is to use an integrated technique that combines physical, chemical, and biological processing. Oil still in the soil is separated from the impurities, such as soil, sand, and other solids. Through this recovery process it is expected that the oil still present in the soil can be reduced to the extent permitted by the regulation. In addition to the treatment of oily waste can still be recovered as much oil (oil recovery). From the results of a demonstration scale of demo plant unit on a site containing contaminated soil, TPH 24.71% can be reduced to 0.91%. In addition the unit is able to recover oily waste more than 95%.
IDENTIFIKASI RESERVOIR DAN HIDROKARBON DENGAN MENGGUNAKAN METODE SYNCHROSQUEEZING TRANSFORM (Reservoir and Hydrocarbon Identification Using Synchrosqueezing Transform) Shidqi Anugrah Diria; Humbang Purba; Ricky Andrian Tampubolon
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 51 No 3 (2017)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.51.3.29

Abstract

Karakterisasi reservoir yang menggunakan metode berbasis frekuensi (metode dekomposisi spektral) memberikan informasi tentang kemenerusan reservoir dan hidrokarbon lebih akurat apabila kemampuan resolusi frekuensinya juga baik. Metode dekomposisi spektral Continuous Wavelet Transform (CWT) yang berbasis Transformasi Fourier menggunakan skala dan translasi window wavelet untuk mengkuantifi kasi resolusi frekuensinya. Metode tersebut seringkali digunakan dalam indikator zona reservoir dan hidrokarbon namun masih memiliki resolusi frekuensi yang kurang akurat sehingga frekuensi zona reservoirnya pun overlapping dengan zona non-reservoir. Penelitian ini ilakukan untuk meningkatkan resolusi frekuensinya sehingga informasi tentang reservoir dan indikasi hidrokarbon lebih valid. Synchrosqueezing Transform (SST) merupakan metode dekomposisi spektral yang lebih kompleks karena mengkolaborasi metode Empirical Mode Decomposition (EMD) dan Transformasi Hilbert dengan metode CWT. Sinyal didekomposisi dengan metode EMD, lalu diproses dengan penskalaan dan tranlasi window wavelet menggunakan metode CWT, kemudian dilakukan ekstrak frekuensi sesaatnya menggunakan Transfromasi Hilbert sehingga sensitivitasnya meningkat. Metode SST dan CWT diaplikasikan pada data sintetik untuk mengetahui akurasi pemisahan frekuensi. Selanjutnya, metode-metode ini diaplikasikan pada data seismik dan data sumur SNR-1 dan SRI-1 sebagai kalibrator. Hasilnya menunjukkan bahwa metode SST mampu mengidentifikasi frekuensi reservoar dan hidrokarbon dengan baik dibandingkan dengan metode CWT. Respon kemenerusan reservoir dan potensi hidrokarbon ditunjukkan dengan amplitudo tinggi pada frekuensi 20 Hz. A frequency-based method (sepctral decomposition) can provide accurate information dealing with reservoir and hydrocarbon indication if its frequency resolution is accurate. Spectral decomposition method such as Continuous Wavelet Transform (CWT) built on Fourier Transform which uses scale and translation of wavelet to quantify its frequency resolution. However, it occur ambiguous frequency resolution so that tunning frequency of reservoir and non-reservoir are overlapping. This study was conducted to increase the frequency resolution in order to avoid invalid information of reservoir and hydrocarbon indication. Synchrosqueezing Transform (SST) is a more complex algorithm than CWT because it collaborates the Empirical Mode Decomposition (EMD) and Hilbert Transform with CWT method. Initiated by signal decomposition process then continued to scaling and translation of wavelet window in CWT phase. The final stage is to extract the instantaneous frequency using Hilbert Transform in order to obtain more sensitive frequency resolution. SST and CWT method were implemented to synthetic data to know each of frequency separation accuracy. Furthermore, these methods were also applied to seismic data and well data SNR-1 and SRI-1 as calibrator. The result showed that the SST method was robust to identify the reservoir and hydrocarbon indication better than CWT method. Reservoir and hydrocarbon response are detected on high amplitude which is tunned at the frequency 20 Hz.
PEMANFAATAN LIMBAH TEMBAKAU (NICOTIANA TABACUM) PASCA PANEN SEBAGAI BIODIESEL ALTERNATIF (Utilization of Waste Tobaca (Nicotiana Tabacum) Post-Harvest as an Alternative Biodiesel) Donatus Setyawan Purwo Handoko; Nehemia Fernandes Kristianto; Wuryati Handayani
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 51 No 3 (2017)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.51.3.30

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatka biji limbah tembakau pasca panen menjadi biodiesel. Biodiesel akan diproduksi dengan menggunakan reaksi transesterifi kasi dengan variasi suhu. Biji tembakau diesktrak untuk mendapatkan minyak nabatinya sebagai biodiesel. Kandungan asam lemak bebas (FFA) pada minyak nabati harus diminimalisir sekecil mungkin untuk mendapatkan rendemen transesterifi kasi yang tinggi. Katalis yang dipakai dalam mengkonversi minyak nabati menjadi biodiesel adalah katalis basa homogen. Biodiesel dengan rendemen tertinggi dihasilkan dari reaksi transesterifi kasi dengan suhu 70oC. Biodiesel hasil sintesis akan dikarakterisasi gugus fungsi dan sifat fi ksiknya berupa massa jenis dan viskositasnya. The aims of this research is process into biodiesel. Biodiesel is produced using transesterification reactions with variations of tempetature. Tobacco seed oil is extracted to obtain edible oils as biodiesel. The content of free fatty acid (FFA)in edible oils should be minimized to obtain a high yield of transesterification. The catalyst used in converting edible oils into biodiesel is homogeneous alkaline catalyst. Biodiesel with the higest yield from transesterification reactions with a temperature of 70oC. Biodiesel was characterized the functional group and phsycal properties including density and viscosity.
Zonasi Polen Tersier Indonesia Timur Eko Budi Lelono
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 41 No 1 (2007)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.41.1.45

Abstract

Wilayah Indonesia yang tersusun dari berbagai lempeng kerak bumi ternyata berpengaruh terhadap jenis flora yang hidup di kepulauannya sepanjang waktu geologi. Kawasan yang berasal dari Lempeng Asia, dihuni tumbuhan khas Asia, sedangkan kawasan yang terbentuk dari Lempeng Australia, ditumbuhi tanaman yang punya kekerabatan dengan tumbuhan Australia. Sebagai konsekuensinya palinomorf yang dihasilkannya pun beragam sesuai asal lempeng-lempeng tersebut. Oleh karenanya zonasi polen satu daerah dapat berbeda dengan daerah lain. Di kawasan timur Indonesia, hal ini terbukti dengan adanya perbedaan zonasi polen Tersier antara Sulawesi dan Papua. Zonasi polen Sulawesi mirip dengan zonasi polen Jawa yang dipublikasikan oleh Rahardjo, dkk (1994). Hal ini disebabkan karena Sulawesi, terutama bagian baratnya merupakan bagian dari Daratan Sunda (Sundaland), sehingga tumbuhannya adalah khas Asia. Sebaliknya Papua yang merupakan bagian dari Lempeng Australia didominasi oleh tumbuhan yang berasal dari Australia. Zonasi polen Tersier Indonesia Timur yang pernah dipublikasikan adalah untuk Sulawesi dan Papua (Lelono, dkk., 1996). Meskipun demikian zonasi tersebut masih harus disempurnakan karena perconto batuan yang digunakan dalam penelitian belum mewakili batuan sedimen yang terbentuk di kedua pulau tersebut, akibat keterbatasan waktu penelitian. Selain zonasi polen Tersier, dibutuhkan pula zonasi polen umur pra-Tersier, bahkan jika mungkin disusun biostratigrafi pra-Tersier untuk kawasan timur Indonesia karena belum ada yang melakukannya, disamping umumnya sedimen pra-Tersier menjadi target utama eksplorasi migas di kawasan timur Indonesia.
Pengembangan Simulator Pengendalian Sumur pada Pemboran Vertikal, Berarah, maupun Horizontal hadi purnomo; Edward ML Tobing
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 41 No 1 (2007)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.41.1.48

Abstract

Simulator pengendalian sumur (well control) berupa perangkat lunak untuk sumur vertikal, berarah (directional) dan horizontal telah dikembangkan berdasarkan persamaan atau korelasi yang telah dipublikasikan. Perangkat lunak ini dirancang agar mudah dioperasikan dengan tampilan pada layar serta mudah dimengerti oleh pemakai (user-friendly), dan ditulis dengan bahasa pemrograman Borland Delphi. Tujuan dari pengembangan simulator tersebut adalah untuk meningkatkan kemampuan personel pelaksana pemboran, membantu perencanaan dan untuk mengevaluasi pelaksanaan pemboran yang sedang maupun yang telah dilaksanakan. Perangkat lunak simulator pengendalian tekanan sumur tersebut telah diverifikasi dengan membandingkan hasil perhitungan perangkat lunak dengan data lapangan dan data dari literatur. Perbandingan hasil tersebut menunjukkan adanya keselarasan antara hasil perhitungan dan data acuan dengan prosentasi penyimpangan berkisar antara 1% sampai 2 %.Kata kunci: simulator pengendalian sumur, pemboran vertikal, pemboran berarah, pemboran horizontal.
Pengaruh Viskositas dan Kandungan Sulfur dalam Minyak Solar terhadap Sifat Lubrisitas Minyak Solar Indonesia Djainuddin Semar
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 41 No 1 (2007)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.41.1.55

Abstract

Kandungan sulfur dalam minyak solar memberikan pengaruh negatif pada emisi gas buang dan memberikan pengaruh positif pada pelumasan injeksi mesin diesel. Studi ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh kandungan sulfur dan viskositas terhadap sifat lubrisitas minyak solar. Hasil-hasil analisis kandungan sulfur, viskositas menunjukkan bahwa perubahan kandungan sulfur dan viskositas mempunyai korelasi terhadap sifat lubrisitas minyak solar. Sifat lubrisitas tidak berhubungan langsung terhadap kandungan sulfur tetapi beberapa komponen organik sulfur dalam minyak solar dapat mencegah keausan pada permukaan logamyang bergesakan. Komponen sulfur yang memberikan perlindungan terhadap permukaan logam tersebut adalah polycyclic aromatic yang mengikat oksigen, sulfur dan nitrogen. Studi ini memakai 17 sampel yang diambil dari Depot dan SPBU Pertamina di 17 propinsi di Indonesia. Hasil-hasil dari studi ini diuraikan secara lengkap pada tulisan ini
Kajian Minyak Lumas Mesin Bensin 4T untuk Sepeda Motor subiyanto subiyanto
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 41 No 1 (2007)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.41.1.56

Abstract

Minyak lumas mesin bensin 4T untuk sepeda motor berbeda dengan minyak lumas motor bensin untuk kendaraan. Perbedaan tersebut terjadi oleh karena sistem rangkaian penggerak dari mesin sampai roda berbeda. Namun yang paling jelas perbedaan tersebut terletak pada susunan kopling yang berbeda. Kopling untuk kendaraan atau mobil adalah kopling kering, sedangkan kopling sepeda motor adalah jenis kopling basah. Selain menggunakan kopling basah ada juga sepeda motor yang menggunakan sistem kopling kering, dan minyak lumas yang digunakan, sama dengan untuk minyak lumas mesin 4T untuk mobil. JASO pada tahun 2006 telah mengeluarkam Metode uji, dan telah mengeluarkan spesifikasi atau batasan karakteristik friksi untuk minyak lumas mesin 4T yang menggunakan sistem kopling basah. Karakteristik tersebut adalah Dynamic Friction Index (DFI), Static Friction Index (SFI) dan Stop Time Index (STI). Spesifikasi tersebut berbeda-beda untuk untuk masing-masing tingkat mutu JASO seperti JASO MA, MA1, MA2 atau MB. Jadi selain lulus uji mutu unjuk kerja API minyak lumas motor bensin 4T untuk speda motor buatan Jepang, juga harus lulus uji mutu JASO. Kelima percontoh minyak lumas motor bensin 4T untuk sepeda motor yang diambil dari pasaran semua memenuhi spesifikasi masing-masing.

Page 3 of 59 | Total Record : 584


Filter by Year

1980 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 60 No 2 (2026) Vol 60 No 1 (2026) Vol 59 No 3 (2025) Vol 59 No 2 (2025) Vol 59 No 1 (2025) Vol 58 No 3 (2024) Vol 58 No 2 (2024) Vol 58 No 1 (2024) Vol 57 No 3 (2023) Vol 57 No 2 (2023) Vol 57 No 1 (2023) Vol 56 No 3 (2022) Vol 56 No 2 (2022) Vol 56 No 1 (2022) Vol 55 No 3 (2021) Vol 55 No 2 (2021) Vol 55 No 1 (2021) Vol 54 No 3 (2020) Vol 54 No 2 (2020) Vol 54 No 1 (2020) Vol 53 No 3 (2019) Vol 53 No 2 (2019) Vol 53 No 1 (2019) Vol 52 No 3 (2018) Vol 52 No 2 (2018) Vol 52 No 1 (2018) Vol 51 No 3 (2017) Vol 51 No 2 (2017) Vol 51 No 1 (2017) Vol 50 No 3 (2016) Vol 50 No 2 (2016) Vol 50 No 1 (2016) Vol 49 No 3 (2015) Vol 49 No 2 (2015) Vol 49 No 1 (2015) Vol 48 No 3 (2014) Vol 48 No 2 (2014) Vol 48 No 1 (2014) Vol 47 No 3 (2013) Vol 47 No 2 (2013) Vol 47 No 1 (2013) Vol 45 No 3 (2011) Vol 45 No 2 (2011) Vol 45 No 1 (2011) Vol 44 No 3 (2010) Vol 44 No 2 (2010) Vol 44 No 1 (2010) Vol 43 No 3 (2009) Vol 43 No 2 (2009) Vol 43 No 1 (2009) Vol 42 No 3 (2008) Vol 42 No 2 (2008) Vol 42 No 1 (2008) Vol 41 No 3 (2007) Vol 41 No 2 (2007) Vol 41 No 1 (2007) Vol 40 No 3 (2006) Vol 40 No 2 (2006) Vol 40 No 1 (2006) Vol 39 No 3 (2005) Vol 39 No 2 (2005) Vol 39 No 1 (2005) Vol 38 No 3 (2004) Vol 38 No 2 (2004) Vol 38 No 1 (2004) Vol 37 No 1 (2003) Vol 36 No 3 (2002) Vol 36 No 2 (2002) Vol 36 No 1 (2002) Vol 24 No 2 (1990) Vol 24 No 1 (1990) Vol 23 No 3 (1989) Vol 23 No 1 (1989) Vol 21 No 3 (1987) Vol 21 No 2 (1987) Vol 21 No 1 (1987) Vol 20 No 3 (1986) Vol 20 No 2 (1986) Vol 20 No 1 (1986) Vol 19 No 3 (1985) Vol 19 No 2 (1985) Vol 19 No 1 (1985) Vol 18 No 3 (1984) Vol 18 No 2 (1984) Vol 18 No 1 (1984) Vol 17 No 2 (1983) Vol 15 No 1 (1981) Vol 14 No 3 (1980) Vol 14 No 2 (1980) Vol 14 No 1 (1980) More Issue