cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknik Mesin
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 563 Documents
PENGARUH CAMPURAN BIODIESEL MINYAK BIJI KAPUK RANDU NON-KATALIS DENGAN SOLAR TERHADAP UNJUK KERJA DAN OPASITAS MESIN DIESEL Jordan Firmansyah, Ridho
Jurnal Teknik Mesin Vol 4, No 01 (2015): JTM : Volume 04 Nomor 01 Tahun 2015
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pemakaian energi terbarukan masih rendah bila dibandingkan dengan energi yang tidak terbarukan. Hal itu dapat dilihat dari pola hidup masyarakat yang masih bergantung pada konsumsi energi yang berasal dari fosil atau energi yang tidak terbarukan, seperti minyak bumi, batubara dan gas alam. Proses pembakaran yang tidak sempurna pada mesin diesel dan gas buang yang dihasilkan mesin diesel banyak mengandung partikulat yang berbahaya bagi manusia. Hal tersebut mendorong peneliti untuk melakukan penelitian menganalisa unjuk kerja dan opasitas mesin diesel berbahan bakar campuran biodiesel minyak biji kapuk randu non-katalis dengan solar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh campuran solar dan biodiesel kapuk randu non-katalis terhadap unjuk kerja dan opasitas mesin diesel. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen. Obyek dalam penelitian ini adalah mesin diesel empat langkah. Variasi campuran solar dan biodiesel tersebut adalah B0; B5; B10; B15; B20. Penelitian ini menggunakan metode full open throttle dengan standar pengujian berdasarkan SAE J1349 untuk pengujian unjuk kerja mesin diesel. Sedangkan untuk standar pengujian opasitas yang dihasilkan menggunakan metode free running acceleration dengan standar pengujian berdasarkan SAE J1667. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan bahan bakar campuran biodiesel non-katalis (B15) mempunyai pengaruh terbaik terhadap unjuk kerja dan opasitas mesin diesel dibandingkan dengan B0 (solar murni). Pada campuran B15 torsi sebesar 5,32 kgf.m dengan peningkatan presentase sebesar 10,14% pada putaran 4500 rpm. Daya efektif diperoleh sebesar 37,59 PS dengan presentase peningkatan 9,56% pada 4250 rpm. Tekanan efektif rata-rata sebesar 3,18 kg/cm2 dengan peningkatan presentase 9,28% pada putaran 4250 rpm. Konsumsi bahan bakar terendah sebesar 4,27 kg/jam mengalami penurunan presentase 18,20% pada putaran 3000 rpm. Penurunan opasitas sebesar 1,8 %HSU dengan presentase penurunan 48,6% pada putaran 2000 rpm. Campuran bahan bakar biodiesel minyak biji kapuk randu non-katalis dengan solar yang optimal terhadap unjuk kerja terbaik dan penurunan opasitas pada campuran B15.   Kata Kunci: Biodiesel, Non-Katalis, Unjuk Kerja, Opasitas.
SIMULASI NUMERIK VARIASI LEADING EDGE DAN TRAILING EDGE BODI MOBIL TERHADAP KARAKTERISTIK AERODINAMIKA MODEL MOBIL CHEV JOVANDA PRABOWO, REZA
Jurnal Teknik Mesin Vol 4, No 01 (2015): JTM : Volume 04 Nomor 01 Tahun 2015
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Bentuk bodi kendaraan adalah salah satu faktor yang mempengaruhi laju kendaraan, efisiensi bahan bakar yang digunakan, hingga kestabilan dalam berkendara. Laju kendaraan dan efisiensi bahan bakar dipengaruhi oleh gaya drag yang melaju berlawanan dengan arah laju kendaraan. Semakin rendah gaya drag yang diterima, maka akan membuat kendaraan lebih berjalan kencang dan penggunaan bahan bakar lebih efisien. Salah satu cara untuk menurunkan nilai drag adalah dengan memvariasikan leading edge dan trailing edge pada bodi kendaraan. Dalam penelitian ini, variasi leading edge dan trailing edge dilakukan pada bodi model mobil Chev. Pada bagian leading edge, tinggi ujung depan divariasikan dengan perbandingan antara tinggi ujung depan dari sumbu x dengan tinggi leading edge. Tinggi leading edge yang dimiliki adalah 476,5mm. Penelitian dimulai dengan bentuk leading edge sebelum divariasi dengan rasio 0,2. Kemudian dilakukan variasi dengan rasio 0; -0,1; 0,4; dan 0,5. Selain itu, bagian trailing edge juga divariasikan dimulai dengan bentuk sebelum divariasi dengan sudut kemiringan 10o. Kemudian divariasikan dengan sudut kemiringan 15o. Metode penelitian yang digunakan adalah simulasi numerik dengan menggunakan software CFD (Computational Fluid Dynamics) ANSYS FLUENT 14.5. Dalam simulasi ini, digunakan model mesh triangle atau segitiga, namun pada bagian bodi dan jalan diberi inflation layer. Digunakan model turbulen k-ε realizable dengan variasi Reynolds number 1,3 x 106; 2 x 106; dan 2,8 x 106. Data hasil yang dianalisa adalah velocity contour, pressure contour, velocity streamlines, stagnation point, separation point, Coefficient drag (CD), dan Coefficient lift (CL). Dari hasil simulasi yang didapatkan bahwa dengan memvariasikan tinggi leading edge nilai CD semakin meningkat. Penurunan nilai CD didapat setelah dilakukan variasi pada kemiringan trailing edge. Dengan mempertimbangkan efisiensi gaya aerodinamika kendaraan dimana nilai CD menurun sedangkan nilai CL meningkat namun tidak signifikan, maka variasi trailing edge dengan sudut kemiringan 15o  dipilih sebagai variasi terbaik dengan nilai CD 0,1715 dan dengan nilai CL 0,1511 atau mengalami peningkatan sebesar 5,7%. Kata Kunci: Simulasi Numerik, Leading Edge, Trailing Edge, Karakteristik Aerodinamika 
EKSPERIMEN PENGARUH VARIASI RASIO KETINGGIAN UJUNG LEADING EDGE DAN KEMIRINGAN SUDUT TRAILING EDGE BODI MOBIL TERHADAP KARAKTERISTIK AERODINAMIKA MODEL MOBIL CHEV HARI WIJAYA, FIQIH
Jurnal Teknik Mesin Vol 4, No 01 (2015): JTM : Volume 04 Nomor 01 Tahun 2015
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Shell Eco-marathon adalah kompetisi tingkat mahasiswa dari seluruh dunia untuk merancang, membangun dan menguji kendaraan hemat energi. Pemenang dalam kompetisi shell eco-marathon ini adalah mobil yang menempuh jarak terjauh dan menggunakan paling sedikit bahan bakar. Banyak faktor yang menjadi penentu dalam ajang kompetisi ini bukan hanya efisiensi mesin tetapi juga hambatan aerodinamika pada kendaran itu sendiri. Karena itu perlulah adanya penelitian tentang bodi mobil Chev dengan memvariasikan rasio ketinggian ujung leading edge dan kemiringan sudut trailing edge, sehingga diperoleh bentuk bodi yang aerodinamis agar menghemat bahan bakar. Penelitian ini dilakukan menggunakan alat Open Circuit Wind Tunnel Subsonic dengan dimensi test section (365 mm x 365 mm x 1250 mm). Gaya aerodinamis dihitung dari hasil distribusi tekanan yang diperoleh secara eksperimental pada model uji mobil Chev yang dibuat dari fiber dengan skala 1:10 dari dimensi aslinya. Model uji akan diamati distribusi tekanan (  dengan membandingkan kondisi awal leading edge rasio ketinggian ujung (0.2) dari sumbu x dan sudut trailing edge (10°) dengan setelah divariasi rasio ketinggian ujung leading edge (0.4 dan 0) dari sumbu x, serta variasi kemiringan sudut trailing edge 8°. Selanjutnya data distribusi tekanan (  dihitung untuk mendapatkan nilai koefisien drag pressure ( ) dan nilai koefisien lift pressure ( ), selain itu juga dilakukan pengukuran profil kecepatan ( ) di belakang model uji kendaraan pada rasio X/L 0,34; X/L 0,46; X/L 0,58 dari leading edge pelat datar.Hasil penelitian menunjukan bahwa dengan memvariasikan leading edge rasio ketinggian ujung (0.4 dan 0) dari sumbu x serta kemiringan sudut trailing edge 8° cenderung meningkatkan nilai distribusi tekanan ( , sehingga mengakibatkan nilai koefisien drag pressure ( ) naik. Nilai  terbesar pada variasi leading edge rasio ketinggian ujung 0 serta trailing edge 8° di Re = 2.29x  yakni 0.2146. Dari hasil tersebut dapat dikatakan bahwa variasi leading edge rasio ketinggian ujung (0.2) dari sumbu x dan sudut trailing edge (10°) / standar adalah variasi yang terbaik untuk di terapkan pada kendaraan hemat bahan bakar. Selain itu dengan memvariasikan leading edge rasio ketinggian ujung (0.4 dan 0) dari sumbu x serta kemiringan sudut trailing edge 8° juga menaikan nilai koefisien lift pressure ( ), nilai  tertinggi ada pada variasi leading edge rasio ketinggian ujung 0.4 serta kemiringan sudut trailing edge 10° di Re = 2.29x  yakni 0.1251. Pada saat pengukuran profil kecepatan ( ) di belakang model semua variasi leading edge dan trailing edge cenderung meningkatkan nilai defisit momentum aliran pada setiap Re dan semua rasio X/L. dengan meningkatnya nilai defisit momentum aliran menyebabkan daerah wake juga semakin besar yang berpengaruh pada meningkatnya nilai koefisien drag pressure ( ). Kata Kunci: Mobil Chev,Gaya Aerodinamis, leading edge, trailing edge.
PENGARUH PWHT (POST WELD HEAT TREATMENT) HASIL LAS MIG (METAL INERT GAS) TERHADAP KEKUATAN TARIK PADA BAHAN STAINLESS STEEL 304 KHASIB MUZAKKI, ABD
Jurnal Teknik Mesin Vol 4, No 02 (2016): JTM : Volume 04 Nomor 02 Tahun 2016
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proses perlakuan panas post weld heat treatment (PWHT) adalah bagian dari proses heat treatment yang bertujuan untuk menghilangkan tegangan sisa yang terbentuk setelah proses welding selesai. Tujuan penelitian ini adalah (1) Untuk mengetahui kekuatan tarik pada baja tahan karat stainless steel 304 hasil perlakuan PWHT (550oC, 650oC, 750oC) sesudah dilakukannya proses pengelasan. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dan metode literature. objek dalam penelitian ini adalah baja tahan karat stainless steel 304, dengan mengandung 16% krom dan 6% nikel. Teknik analisa data dalam penelitian ini menggunakan analisis data deskriptif yaitu menggambarkan hasil penelitian secara grafis dalam tabel, grafik. Jumlah spesimen yang diujikan dalam penelitian ini adalah 12 spesimen, yang akan mendapatkan perlakuan berbeda dalam proses pengerjan yaitu berbeda  variasi PWHT. Data yang akurat diperoleh pada setiap benda kerja yang harus dilakukan pengujian sebanyak tiga kali pengulangan dan diambil nilai rata-ratanya. Spesifikasi spesimen dalam pengujian ini menggunakan baja tahan karat stainless steel 304 dengan plat uji tarik 90 mm dan panjang 300 mm. Standart yang digunakan pada pengujian tarik adalah ASTM E 8 M Sebagai parameter input pada penganalisan data meliputi: variasi temperatur PWHT 550?C, 650?C, dan 750?C dengan waktu 1 jam terhadap nilai uji tarik. Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan PWHT mempunyai perbedaan yang signifikan terhadap nilai uji tarik. Hasil PWHT yang optimal adalah pada temperatur 650?C nilai rata-rata uji tarik sebesar 584,67Mpa. Kata kunci: temperature PWHT, uji tarik.
PENGARUH KUAT ARUS LAS MIG (METAL INERT GAS) TERHADAP KEKUATAN TARIK SAMBUNGAN V BAJA TAHAN KARAT AISI 304 AFWANDIA, ABDI
Jurnal Teknik Mesin Vol 4, No 02 (2016): JTM : Volume 04 Nomor 02 Tahun 2016
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proses pengelasan MIG (Metal Inert Gas) pada baja tahan karat aisi 304 dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui sifat mekanik hasil pengelasan. Ada terdapat banyak metode pengujian salah satunya yaitu pengujian dengan merusak atau Destructive Testing (DT). Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui nilai kekuatan dari logam dan dapat juga untuk mengetahui kekuatan dari sambungan las sperti pada pengujian tarik.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kekuatan tarik pada baja tahan karat aisi 304 hasil pengelasan dengan variasi arus 90 A, 110 A dan 120 A dengan menggunakan las MIG. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan dimensi spesimen uji tarik tebal 10 mm dan panjang 300 mm. Spesimen tarik mengacu pada standart ASTM E 8 M. Hasil penelitian menunjukan bahwa kuat arus mempunyai perbedaan yang signifikan terhadap nilai kekuatan tarik. Hasil pengujian tarik yang paling optimal adalah pada arus 110 A dengan nilai rata-rata 589,71 Mpa. Dari variasi arus 90 A , 110 A dan 120 A dapat disimpulkan bahwa arus yang optimum adalah pada 110 A dengan semakin bertambahnya kuat arus maka kekuatan sambungan las semakin tinggi namun pada arus 120 A kekuatan sambungan lasan akan semakin menurun. Hal ini dapat di sebabkan karna masukan panas 120 A yang berlebih  sehingga pencairan logam las yang besar dan menjadi getas. Kata kunci : Variasi Kuat Arus, Uji Tarik.
PENGARUH JENIS PAHAT, KECEPATAN SPINDEL DAN KEDALAMAN PEMAKANAN TERHADAP TINGKAT KEKASARAN PERMUKAAN DAN BENTUK GERAM ALUMUNIUM DAN BAJA ST. 37 PADA PROSES MESIN FRAIS VERTICAL CHRISTIANTO, DWI
Jurnal Teknik Mesin Vol 4, No 02 (2016): JTM : Volume 04 Nomor 02 Tahun 2016
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mesin-mesin produksi sangat membantu meningkatkan kualitas produk manufaktur terutama pada komponen-komponen mesin. Permintaan yang semakin meningkat dan menuntut kualitas hasil mesin produksi yang tinggi menuntut enginer agar selalu berinovasi. Untuk mendapatkan hasil yang berkualitas maka perlu adanya penelitian yang bervariasi pemilihan jenis pahat, kecepatan spindel, dan kedalaman pemakanan yang tepat. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen. Benda kerja yang digunakan sebanyak 54 buah yang  mendapatkan perlakuan berbeda dalam proses pengerjaannya, yaitu dengan variasi jenis benda kerja Alumunium dan Baja ST. 37, Jenis pahat japan, JCK dan Sutton, kecepatan spindel 540 rpm, 910 rpm dan 1500 rpm dengan kedalaman pemakanan 0,2 mm, 0,4 mm, dan 0,6 mm. Kemudian dari hasil pengujian benda kerja sebanyak 54 tersebut masing-masing akan ditentukan tingkat kekasaran permukaan dan dilakukan pengambilan contoh sayatan dalam bentuk geram pada masing-masing  benda kerja. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jenis pahat, kecepatan spindel dan kedalaman pemakanan sangat berpengaruh terhadap tingkat kekasaran permukaan. Nilai kekasaran pada benda kerja Baja ST. 37 yang terendah adalah 2,216 µm yang diperoleh dari jenis pahat japan dengan kecepatan 1500 rpm dan kedalaman 0,2 mm dan untuk nilai kekasaran pada benda kerja Alumunium  yang terendah adalah 0,105 µm yang diperoleh dari jenis pahat japan dengan kecepatan 1500 rpm dan kedalaman 0,2 mm . Hal ini menunjukkan pada kecepatan yang tinggi, kedalaman yang terendah dan jenis pahat yang keras menimbulkan nilai kekasaran yang rendah. Bentuk geram juga dipengaruhi oleh jenis pahat, kecepatan spindel dan kedalaman pemakanan. Jenis geram yang kontinu adalah geram yang di perlakukan oleh pahat yang keras, kecepatan yang tinggi dan kedalaman yang rendah. Geram kontinu dihasilkan oleh benda kerja Alumunium dan Baja ST. 37, jenis pahat japan, kecepatan spindel 1500 rpm dan kedalaman pemakanan 0,2 mm. Kata kunci : Kekasaran permukaan Alumunium dan Baja ST.37.
PENGARUH PENERAPAN ASPEK KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA PADA PEKERJAAN PENGELASAN DI DIVISI REPARASI KAPAL DI PT. DOK DAN PERKAPALAN SURABAYA (PERSERO) AMINOTO, ALIEF
Jurnal Teknik Mesin Vol 4, No 02 (2016): JTM : Volume 04 Nomor 02 Tahun 2016
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Faktor yang sangat menunjang kualitas produksi dan kinerja karyawan adalah dengan memperhatikan keselamatan dan kesehatan kerja (k3) dalam dunia industri.Sesuai undang-undang no 23 tahun 1992 tentang kesehatan kerja yang mengharuskan semua industri baik swasta maupun negeri yang harus menerapkan dalam k3 tersebut.Salah satu industri yang menerapkan k3 yaitu PT. DOK dan Perkapalan Surabaya (Persero) yang berada di Jl. Tanjung Perak Barat 433-435 Surabaya, khususnya pada pekerjaan pengelasan. Tujuan dilaksanakannya aspek keselamatan dan kesehatan kerja (k3) dalam semua proses produksi, termasuk dalam pekerjaan pengelasan adalah untuk mencapai target yang diinginkan. Target yang dimaksud adalah dengan bisa meningkatkan kualitas produksi (khususnya dalam bidang pengelasan).Populasi peneitian ini adalah karyawan pada bagian pengelasan yang diambil sampel sejumlah 25 orang.Jenis penelitian ini adalan penelitian deskriptif kuantitatif dengan menggunakan metode wawancara, observasi dan kuesioner dalam pengumpulan data.Kuesioner tersebut menggunakan skala likert dengan 4 pilihan jawaban. Metode deskriptif kuantitatif digunakan untuk menggambarkan data tentang keselamatan dan kesehatan kerja serta teori prduct moment digunakan untuk pembuktian r tabel dan mengukur valid / tidak valid dan reliabel/tidak reliabel instrument tersebut. Dari hasil analisis data, ditemukan adanya pengaruh yang positif dengan indeks angka 0,99 dan interpretasinya sangat kuat.Kemudian harga t hitung (32,77) ≥ t tabel (2,069), sehingga Ho ditolak dan Ha diterima. Oleh karena itu bisa disimpulkan bahwa terdapat pengaruh antara  penerapan aspek keselamatan dan kesehatan kerja terhadap pekerjaan pengelasan di divisi reparasi kapal di PT. DOK dan Perkapalan Surabaya (Persero), pengaruh tersebut bersifat positif dan dapat diartikan bahwasannya pengaruh tersebut memiliki relevansi sangat kuat. Kata kunci :Keselamatan Kerja, Kesehatan Kerja, Pekerjaan Pengelasan, Reparasi Kapal.
PENGARUH TEKNIK PENGELASAN ALUR SPIRAL, ALUR ZIG – ZAG, DAN LURUS PADA ARUS 85 A TERHADAP KEKUATAN TARIK BAJA ST 41 FAUZI BEGA PRANAWAN, DITO
Jurnal Teknik Mesin Vol 4, No 02 (2016): JTM : Volume 04 Nomor 02 Tahun 2016
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Banyak faktor yang mempengaruhi hasil pengelasan antara lain gerakan elektroda, arus pengelasan dan tipe elektroda. Timbul permasalahan yaitu bagaimana pengaruh teknik pengelasan alur spiral, alur zig-zag, dan alur lurus pada arus 85 A terhadap kekuatan tarik las SMAW dengan baja ST 41 elektroda tipe E6013. Tujuan dari penelitian ini mengetahui pengaruh teknik pengelasan alur spiral, zig-zag, dan lurus arus 85 A terhadap kekuatan tarik baja ST 41 pada las listrik SMAW. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode aksperimen dengan 9 benda uji. Bahan diberi perlakuan dengan variasi teknik pengelasan/gerakan elektroda alur spiral, alur zig-zag, dan alur lurus pada arus yang sama 85 A dengan menggunakan las listrik SMAW DC polaritas terbalik dengan elektroda E6013. Jenis kampuh V yang digunakan adalah kampuh V dengan sudut 70o. Spesimen pengukuran kekuatan dilakukan menggunakan mesin uji tarik. Berdasarkan hasil penelitian untuk kekuatan tarik baja ST 41 berpengaruh tetapi pengaruhnya tidak signifikan oleh jenis gerakan elektroda (Lurus, Spiral, Zig-zag) ditunjukkan nilai F hitung sebesar 0.775, yang lebih kecil dari F tabel sebesar 5.14 dan masih diperkuat dengan nilai sig gerakan elektroda sebesar 0.502 lebih besar dari pada nilai  sebasar 0.05. Kombinasi variabel uji kekuatan tarik paling tinggi adalah gerakan elekttroda spiral sebesar 33.40 kgf/mm2 Sedangkan hasil yang paling rendah gerakan elektroda lurus sebesar 30.28 kgf/mm2. Kata kunci: Arus, Gerakan Elektroda, Kekuatan Tarik , SMAW.
PENGARUH JENIS ELEKTRODA, PENGUTUPAN LANGSUNG DAN PENGUTUPAN TERBALIK TERHADAP KEKUATAN TARIK PADA BAJA ST 41. WIBOWO, ADI
Jurnal Teknik Mesin Vol 4, No 02 (2016): JTM : Volume 04 Nomor 02 Tahun 2016
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan zaman yang disertai oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang sangat pesat dan keterbukaan, sehingga sumber daya manusia harus mampu menguasai IPTEK serta mampu mengaplikasikannya dalam setiap kehidupan. Pembangunan konstruksi dengan logam pada masa sekarang ini banyak melibatkan unsur pengelasan khususnya bidang rancang bangun karena sambungan las merupakan salah satu pembuatan sambungan yang secara teknis memerlukan ketrampilan yang tinggi bagi pengelasnya agar diperoleh sambungan dengan kualitas baik. Teknik pengelasan dalam konstruksi sangat luas meliputi perkapalan, jembatan, rangka baja, bejana tekan, sarana transportasi, rel, pipa saluran dan lain sebagainya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh jenis elektroda, polaritas langsung dan polaritas terbalik terhadap kekuatan tarik pada baja st 41. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen dengan jumlah 12 benda uji. 6 benda uji dilas menggunakan polaritas langsung dan polaritas terbalik dengan jenis elektroda E7016 dan 6 benda uji yang lainnya menggunakan elektroda E7018 masing–masing  diberi arus 85 A. Berdasarkan hasil uji statistik elektroda E7016 dan eletroda E7018 pengutupan langsung diketahui bahwa ada pengaruh terhadap kekuatan tarik pada baja ST.41 akan tetapi hasilnya tidak signifikan karena nilai F hitung 3,149 signifikasi 0,151 lebih kecil dari pada F tabel ( 1,4 ) sebesar 7,71. Berdasarkan hasil statistik elektroda E7016 dan eletroda E7018 pengutupan terbalik diketahui bahwa ada pengaruh  terhadap kekuatan tarik pada baja ST.41 akan tetapi hasilnya tidak signifikan karena nilai F hitung 0,125 signifikasi 0.742 lebih kecil pada dari F tabel ( 1,4 ) sebesar 7,71.   Kata Kunci: Jenis Elektroda, Pengutupan Langsung, Pengutupan Terbalik, Kekuatan Tarik.
KAJIAN HASIL PROSES PENGELASAN MIG DAN SMAW PADA MATERIAL ST41 DENGAN VARIASI MEDIA PENDINGIN (AIR, COLLENT, DAN ES) TERHADAP KEKUATAN TARIK JANUAR, ARIS
Jurnal Teknik Mesin Vol 4, No 02 (2016): JTM : Volume 04 Nomor 02 Tahun 2016
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pembangunan konstruksi dengan logam pada masa sekarang ini banyak melibatkan unsur pengelasan khususnya bidang rancang bangun, karenan sambungan las merupakan salah satu pembuatan sambungan yang secara teknis memerlukan ketrampilan yang tinggi bagi pengelasan agar diperoleh sambungan dengan kualitas baik. Tujuan penelitiaan ini adalah untuk mengetahui kekuatan tarik pada hasil pengelasan MIG dan SMAW pada material baja ST41 dengan menggunakan variasi media pendingin ( air, es, dan collent ) serta untuk mengetahui media pendingin apa yang sesuai agar mendapatkan nilai kekuatan tarik yang maksimal. Metode yang digunakan dalam  penelitian ini adalah metode eksperimen dengan jumlah  36 benda uji. 18 benda uji dilas menggunakan las MIG dengan variasi media pendingin dengan menggunakan elektroda E 70S-6 dan 18 benda uji lainnya dilas menggunakan las SMAW dengan variasi media pendingin dengan menggunakan elektroda E6013. Hasil penelitian untuk uji anova las MIG arus 85A menunjukkan tidak ada pengaruh signifikan diantara variabel yang diuji yang dipengaruhi oleh pendingin air, collent, dan es yang ditunjukkan dengan nilai F hitung 0,492 lebih kecil dari nilai F tabel 5.14. Untuk uji anova las MIG arus 90A menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan diantara variabel yang diuji dengan nilai F hitung 0,363. Kemudian dilanjut untuk uji anova las SMAW 80A menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan diantara variabel yang diuji dengan nilai F hitung 2.754. Untuk uji anova las SMAW arus 90A menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan diantara variabel yang diuji dengan nilai F hitung 2.385. Kata kunci : Arus Pengelasan, Kajian, Kekuatan Tarik, MIG, SMAW, Variasi Media Pendingin