cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknik Mesin
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 563 Documents
PENGARUH GAS BUANG SEBAGAI PEMANAS INTAKE MANIFOLD DENGAN RADIUS PUTAR 180º TERHADAP EMISI GAS BUANG HONDA SUPRA X TAHUN 2002 Wicaksono, Punjung
Jurnal Teknik Mesin Vol 4, No 02 (2016): JTM : Volume 04 Nomor 02 Tahun 2016
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Semakin meningkatnya volume kendaraan, maka emisi gas buang yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor akan semakin tinggi sehingga polusi udara semakin tinggi. Salah satu untuk menurunkan emisi gas buang kendaraan  bermotor adalah dengan melakukan eksperimen pada proses sebelum pembakaran yaitu pada Intake manifold, dengan memodifikasi radius putar menjadi 180º dan menambahkan pemanas (heater), dimana pemanas tersebut memanfaatkan panas dari gas buang yang dihasilkan oleh kendaraan itu sendiri. Meningkatnya temperatur di intake manifold memungkinkan campuran udara dan bahan bakar yang akan masuk ke ruang bakar lebih siap dibakar dan dapat menghasilkan pembakaran yang sempurna. Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimen yang dilakukan dengan membandingkan kelompok standar (tanpa penambahan pemanas) dengan kelompok eksperimen (penambahan pemanas). Variabel bebas dalam penelitian ini yaitu intake manifold dengan radius putar 180° menggunakan pemanas dan tanpa pemanas. Variabel terikat dalam penelitian ini yaitu kadar emisi gas buang (CO, CO2 dan HC), sedangkan variabel kontrolnya adalah putaran idle 1500 rpm hingga 9000 rpm dengan kelipatan 500 rpm. Emisi gas buang diukur menggunakan  Brain  bee  exhaust  gas  analyzer. Pengukuran emisi gas buang mengacu pada SNI 19-7118.3-2005. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan didapatkan kesimpulan bahwa menggunakan intake manifold dengan pemanas dapat menurunkan emisi gas buang Honda Supra X Tahun 2002. Penurunan emisi CO dan HC secara signifikan terjadi pada variasi waktu 45 detik rata-rata temperatur out intake manifold sebesar 52,06°C menghasilkan kadar emisi CO rata-rata 1,85 % Vol dengan lambda 1,074 dan kadar emisi HC rata-rata 204 ppm Vol dengan lambda 1,074. Peningkatan emisi CO2 secara signifikan terjadi pada variasi waktu 45 detik dengan rata-rata temperatur out intake manifold sebesar 52,06°C menghasilkan kadar emisi CO2 rata-rata 13,21 % Vol dengan lambda 1,074. Dengan bertambahnya temperatur maka molekul-molekul bahan bakar akan bergerak cepat menimbulkan gaya turbulensi bertambah sehingga campuran bahan bakar dan udara lebih homogen dan dapat meningkatkan temperatur campuran bahan bakar dan udara sehingga kondisinya siap dibakar.   Kata kunci:  Gas buang, pemanas intake manifold, radius putar 180?, emisi.
ANALISA TEKNIS MODIFIKASI ACCESSORY GEARBOX (AGB)MODUL TERHADAP SISTEM PELUMASAN PERMATASARI, DIAH
Jurnal Teknik Mesin Vol 4, No 02 (2016): JTM : Volume 04 Nomor 02 Tahun 2016
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Salah satu sarana transportasi yang saat ini banyak disukai oleh masyarakat adalah pesawat terbang, perkembangan pesawat terbang komersial mempunyai banyak variasi baik dari besarnya daya angkut maupundari  tipe mesin, diantara type mesin yang sesuai dengan judul penulisan skripsi yaitu mesin pesawat terbang CFM 56-3 yang menggunakan Turbo Fan. Salah satu faktor pesawat terbang dinyatakan layak terbang manakala mesin pesawat tersebut tidak mengalami kerusakan atau terdapat gangguan, makauntuk itu perlu dilakukan perawatan rutin secara berkala sesuai dengan kurun waktu yang telahditetapkan.Berdasarkan hasil penelitian ditemukan beberapa kesalahan selama prosespengecekan, perbaikan dan penggantian komponen.Berdasarkan catatan dari Departement of Aviation 42 events engine failures (telah terjadi 42 peristiwa kesalahan dalam mesin Pesawat Terbang), diantaranya pada Accessory Gearbox(AGB) Modul. Untuk menanggulangi kesalahan pada Accessory Gearbox(AGB) Modul, maka pihak WorldWide melakukan perundingan dan mengeluarkan kesepakatan bahwa perlu dilakukan modifikasi pada part tersebut guna meningkatkan kualitas standard dan kenyamanan pengguna pesawat terbang.Penyebab dari kesalahan diantaranya terjadi kebocoran oli(oil loss), sehingga mengakibatkan kefatalan yaitu menyebabkan matinya mesin secara mendadak. SystemPelumasan pada mesin pesawat terbang menggunakan tipe bak kering (Dry Sump), Pada tipe bak kering ini, system pelumasan pada AGB Modul mengunakan pipa penyedot (scavenge pump) serta dilengkapi dengan MCD (Magnetic ChipDetector), yang berfungsi memberikan sinyal yang diteruskan ke ruangan cockpit (ruang pilot dan co-pilot).Metodologi penelitian yang digunakan adalah Deskriptif Kualitatif yaitu dengan cara menjelaskan dan menganalisa modifikasi dari AGBModul terhadap Sistem Pelumasan pada mesin dan dampak terhadap kinerja mesin pesawat.Instrument yang digunakan adalah Kuesioner Wawancara yang ditujukan kepada para mekanik (manpower).Hasil penelitian ini menunjukan bahwa, adanya perbedaan dari sebelum dan sesudah modifikasi dari part AGBModul. Pada proses modifikasi dilakukan pergantianpada komponen utama yaitu HandcrackingCover Oil Pad dan Starter Drive, dimanapada  masing-masing part ditambahkan satu komponen didalamnya yaitu New Oil Seal Assy, yangtidak terdapat pada AGB Modulyang belum dimodifikasi..  (Kata Kunci: Modifikasi, AGB(Accessory GearBox)Modul)
ANALISIS FREKUENSI GOUGING TERHADAP STRUKTUR MIKRO, STUKTUR MAKRO, TENSILE STRENGTH, DAN HARDNESS VICKERS SAMBUNGAN PENGELASAN BAJA SM490. ISNAINI RAHMAWATI, RIFKI
Jurnal Teknik Mesin Vol 4, No 02 (2016): JTM : Volume 04 Nomor 02 Tahun 2016
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kemungkinan terjadi kesalahan dalam proses pengelasan tidak dapat dihindari dan berakibat fatal bagi komponen. Untuk mengatasinya diperlukan perlakuan repair, salah satunya dengan metode gouging repair. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui stuktur mikro, struktur makro, nilai kekuatan tarik dan nilai hardness pada sambungan pengelasan yang mendapatkan perlakuan tanpa gouging repair, 2X gouging repair dan 3X gouging repair. Objek dalam penelitian ini adalah Baja Karbon Rendah SM490 dengan dimensi 300 x 300 x 10 mm,  proses pengelasan dilakukan dengan metode GMAW pada posisi 1G (datar) dengan filler metal AWS ER-70 S  6. Teknik  analisa data dalam penelitian ini adalah teknik analisa deskriptif yang disajikan dalam bentuk tabel, grafik,  dan gambar. Dalam pelaksanaan uji tarik, nilai kekuatan tarik tanpa repair dan dilakukan repair memenuhi persyaratan karena nilai maximum stress antara 490-610 MPa. Dari pengamatan struktur makro, diperoleh luasan HAZ akan semakin besar dengan banyaknya Heat Input akibat proses repair. Sedangkan pengamatan dari struktur mikro diperoleh bahwa semakin banyak proses pengelasan yang dilakukan akan menyebabkan kandungan perlit akan semakin banyak dibanding kandungan ferrite, mengakibatkan terjadinya peningkatan nilai kekerasan dan kekuatan  pada daerah HAZ. Hal ini bisa dilihat pada daerah HAZ dan Weld metal yang terkena proses las berulang-ulang. Kata kunci: Frekuensi Gouging, Hardness Vicker, Struktur Makro,  Struktur Mikro, dan Tensile Strength. 
PENGARUH VARIASI CHIMNEY PADA UNJUK KERJA RUANG PENGERING SERBAGUNA Setiyawan, Nandha
Jurnal Teknik Mesin Vol 4, No 02 (2016): JTM : Volume 04 Nomor 02 Tahun 2016
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Beberapa tipe pengering surya, salah satunya adalah tipe pasif yang memanfaatkan chimney untuk mengoptimalkan laju aliran udara melalui ruang pengering. Selain itu chimney mempunyai fungsi untuk menjaga aliran panas dari lingkungan ke ruang pengering agar temperatur dan kelembaban yang optimal serta lebih efisien dalam proses pengeringan bahan. Salah satu cara untuk meningkatkan unjuk kerja pengering surya dilakukan modifikasi pada chimney. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui unjuk kerja pengering surya tipe pasif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan analisa deskriptif kuantitatif. Modifikasi yang akan dilakukan meliputi pengaruh ketinggian (1 m dan 1,5 m), transparasi dinding dan sudut kemiringan chimney (450 dan 900). Berdasarkan hasil pengeringan bahan (0,32 kg pasir dan 0,8 kg air) dari jam 11.00 – 14.00 dengan kompisisi variasi chimney yang telah ditetapkan pada bab 3, didapatkan nilai rata – rata temperatur sebesar 50,2 °C – 51,1 °C, kelembaban sebesar 19,1 % - 2,4 % dan laju aliran udara keluar sebesar 0,32 m/s - 0,55 m/s. Dari data secara keseluruhan, pengering dengan variasi chimney 1 m miring 45° (dinding barat timur transparan) adalah yang paling optimal dengan nilai efisiensi 3,93%, nilai mass flow rate sebesar 1,66 x 10-3  kg/s. Hal tersebut dapat dijelaskan bahwa chimney 1 m miring 45° (dinding barat timur transparan) ke utara, menyebabkan dinding gelap selatan (atas) menyerap radiasi lebih banyak, sementara dinding barat timur transparan merima dan meneruskan radiasi kemudian diserap oleh dinding gelap utara (bawah). Adanya perbedaan temperatur antara chimney dan lingkungan sebesar 15,44 °C, sementara itu tinggi chimney 1 m miring 450 mengoptimalkan laju aliran udara keluar sebesar sebesar 0,51 m/s. Perbedaan temperatur dapat meningkatkan tekanan stack effect dan optimalnya laju aliran udara keluar mengoptimalkan mass flow rate pada pengering sebaguna. Dapat disimpulkan variasi chimney 1 m miring 45° (dinding barat timur transparan) memberikan efek positif untuk meningkatkan efisiensi dan mass flow rate pada pengering serbaguna. Kata Kunci: chimney, efisiensi, modifikasi, pengering surya
PENGARUH PRE HEAT PADA SAMBUNGAN BUTT JOINT MATERIAL SS400 TERHADAP NILAI TENSILE STRENGTH, UJI METALLOGRAPHY DAN HARDNESS TEST DENGAN PENGELASAN GMAW DI PT.INKA MADIUN Tri Haniv, Rica; Tri Haniv, Rica
Jurnal Teknik Mesin Vol 4, No 02 (2016): JTM : Volume 04 Nomor 02 Tahun 2016
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pada pengelasan terdapat beberapa macam jenis perlakuan panas seperti pre heat. Pre heat adalah bagian dari proses heat treatment yang bertujuan untuk menghilangkan tegangan sisa yang dilakukan sebelum proses welding dimulai dan untuk mengurangi laju pendingin sehingga mengurangi pembentukan baja martensit. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen, objek dalam penelitian menggunakan baja karbon sedang SS400 dengan ukuran 300x150x16, dengan kandungan kimia 0,20% C, 0,53% Mn, 0,09% Si, 0,04% S, 0,01% P, 0,03% Ni, 0,03% Cr dan Fe (balance). Teknik analisa data dalam penelitian ini menggunakan analisis deskriptif dan statistik uji t. Data penelitian diperoleh dari hasil eksperimen/penelitian dengan jumlah spesimen yang diujikan dalam penelitian adalah 6 spesimen untuk uji tarik, 2 spesimen uji metallography dan 6 spesimen uji kekerasan yang mendapatkan perlakuan tanpa pre heat dan pre heat. Standart yang digunakan pada pengujian kekerasan dan metallography adalah ASME IX-2013. Hasil penelitian uji tarik untuk uji t dapat diketahui bahwa perlakuan tanpa pre heat dan pre heat nilai t hitung 37,998 lebih besar dari t tabel 2,91 dengan nilai signifikansi 0,000 probability 0,05. Hal ini berarti perlakuan tanpa pre heat dan pre heat tersebut berpengaruh terhadap kekuatan tarik baja SS400. Berdasarkan hasil penelitian uji kekerasan untuk uji t dapat diketahui bahwa perlakuan tanpa pre heat dan pre heat daerah base metal dihasilkan nilai t hitung 166,931 > t tabel 2,91 dengan nilai signifikansi 0,000 probability 0.05. Hal ini berarti perlakuan tanpa pre heat dan pre heat daerah base metal berpengaruh terhadap kekerasan baja SS400. Berdasarkan hasil uji t dapat diketahui bahwa tanpa pre heat dan pre heat daerah weld metal dihasilkan nilai t hitung 336,204 > t tabel 2,91 dengan nilai signifikansi 0,000 probability 0.05. Hal ini berarti daerah weld metal berpengaruh terhadap kekerasan baja SS400. Berdasarkan hasil uji t dapat diketahui bahwa perlakuan tanpa pre heat daerah HAZ dihasilkan nilai t hitung 133,879 > t tabel 2,91 dengan nilai signifikansi 0,000 probability 0.05. Hal ini berarti daerah HAZ berpengaruh terhadap kekerasan baja SS400. Kata kunci: pre heat, nilai tensile strength ,uji metallography dan hardness test.
ANALISIS PENGARUH KEBISINGAN TERHADAP PRODUKTIVITAS PADA PROSES PRODUKSI DI PG. KREMBOONG PT. PERKEBUNAN NUSANTARA X (PERSERO) AKBAR, FIKRI
Jurnal Teknik Mesin Vol 4, No 02 (2016): JTM : Volume 04 Nomor 02 Tahun 2016
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak PT. Perkebunan Nusantara PG. Kremboong, sebagai salah satu industri atau perusahaan yang bergerak dalam bidang produksi gula, Dalam proses yang terdapat pada stasiun gilingan memerlukan alat-alat yang mampu bekerja dalam kapasitas pengolahan tebu yang besar sehingga mesin-mesin tersebut mengeluarkan suara sangat bising yang dapat mempengaruhi produktivitas tenaga kerja. Berdasarkan survei awal  intensitas rata-rata kebisingan di stasiun gilingan pada PG. Kremboong PT. Perkebunan Nusantara X (Persero) yaitu 89,6 dB. Hal ini menunjukan bahwah kondisi tersebut melebihi nilai ambang batas aman dimana nilai ambang batas aman kebisingan pada tempat kerja adalah 85 dB (Kepmenaker). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kebisingan terhadap produktivitas kerja pada proses produksi di PG. Kremboong PT. Perkebunan Nusantara X (Persero). Jenis penelitian ini adalah penelitian deskripsi kuantitatif menggunakan metode observasi. Teknik pengumpulan data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah data primer yaitu data yang diperoleh dari lapangan (observasi) dan data sekunder yaitu data yang diperoleh dari perusahaan. Instrumen  dalam penelitian  ini adalah alat ukur untuk mengetahui tingkat kebisingan yaitu Sound Level Meter (SLM). Teknik analisis data yang digunakan adalah Uji korelasi. Dalam analisis data dilakukan perhitungan dengan bantuan Statistical Product and Service Solution (SPSS). Hasil penelitian ini menggunakan uji korelasi product moment pearson dimana mendapatkan hasil rxy dari kebisingan shift pagi dan produktifitas shift pagi sebesar 0,961, Sedangkan kebisingan shift siang dan produktifitas shift siang sebesar 0,877 harga ini lebih besar dari rtab 5% = 0,632 (n = 10, α = 5%). Nilai txy dari kebisingan shift pagi dan produktifitas shift pagi 9,763, sedangkan pada kebisingan shift siang dan produktifitas shift siang 5,045 harga ini lebih besar dari ttab 1,860 (n = 10, α = 5%, dk = n - 2) sehingga dapat disimpulkan rxy > rtab dan txy > ttab sehingga terdapat pengaruh yang signifikan antara shift siang dengan produktivitas shift siang. Dan koefisien rxy terdapat pada range 0,80 - 1,000 hal ini menunjukkan kebisingan dengan produktivitas memiliki pengaruh yang sangat kuat. Sedangkan pada analisis uji beda (uji F) kebisingan shift pagi dan shift siang mendapatkan hasil nilai Fhitung sebesar 4,787 sedangkan nilai Ftab sebesar 4,41 (N = 20, dk pembilang = m - 1, dk penyebut = N - m, α = 5%). Dari perhitungan tersebut maka dapat disimpulan bahwa Fhitung > Ftab hal ini menunjukkan “Terdapat Perbedaan Antara Kebisingan Shift Pagi Dengan Kebisingan Shift Siang di PG.Kremboong PT. Perkebunan Nusantara X (Persero)” diterima.dan produktivitas shift pagi dan shift siang mendapatkan hasil nilai Fhitung sebesar 2,785 sedangkan nilai Ftab sebesar 4,41 dan (N = 20, dk pembilang = m - 1, dk penyebut = N - m, α = 5%). Dari perhitungan tersebut maka dapat disimpulan bahwa Fhitung < Ftab, hal ini menunjukkan “Terdapat Perbedaan Antara Produktivitas Shift Pagi Dengan Produktivitas Shift Siang di PG.Kremboong PT. Perkebunan Nusantara X (Persero)” ditolak. Kata Kunci : Kebisingan, Produktivitas, Shift Kerja 
LIMBAH LUMPUR SUSU SEBAGAI POLIMER PEMBENTUK BAHAN BAKAR BIOETANOL PADAT DENGAN ADITIF CARBOPOL SHEPTINA PUTRI, ADIEK
Jurnal Teknik Mesin Vol 4, No 02 (2016): JTM : Volume 04 Nomor 02 Tahun 2016
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu bahan pembuat bioetanol adalah limbah lumpur susu, agar bahan bakar lebih aman dapat diinovasikan sebagai bioetanol padat berbahan limbah lumpur susu. Penelitian ini menggunakan metode diskripsi eksperimen, yakni mengadakan perlakuan atau tindakan pengamatan suatu variabel dengan sengaja dan secara sistematis terhadap perubahan obyek penelitian. Obyek penelitian ini adalah karakteristik bioetanol padat dari limbah lumpur susu yang dicampurkan dengan carbopol 940 dan penambahan asam stearat sebagai tablet binder. Penelitian dilakukan dalam beberapa tahap yakni tahap persiapan, tahap fermentasi, tahap distilasi, tahap pemadatan bioetanol. Kemudian dilakukan tahap analisa yang meliputi nilai kalor, titik nyala, kadar abu, kuat tekan dan lama nyala. Uji karakteristik bioetanol padat dari limbah lumpur susu dilakukan pada sampel A (100 ml bioetanol limbah lumpur susu kadar 75%, 6gr carbopol 940, 100gr asam stearat), sampel B (100 ml bioetanol limbah lumpur susu kadar 75%, 8 gr carbopol 940, 100gr asam stearat), sampel C (100 ml bioetanol limbah lumpur susu kadar 75%, 10gr carbopol 940, 100gr asam stearat dan sampel D (100 ml bioetanol limbah lumpur susu kadar 75%, 12gr carbopol 940, 100 gr asam stearat). Dari sampel tersebut, perbandingan campuran bioetanol yang terbaik adalah sampel C dengan nilai kalor sebesar 7505,684 kal/gar, kadar abu sebesar 0,0026%, titik nyala sebesar 62ºC, kuat tekan sebesar 1,58 kg/cm2 , densitas 0,96 gr/cm3 dan menghasilkan lama nyala sebesar 1980 sec. Kata Kunci : bioethanol padat, limbah lumpur susu, carbopol 940, asam stearate.
PENGARUH VARIASI END MILL CUTTER TERHADAP TINGKAT KERATAAN PERMUKAAN DAN BENTUK GERAM KUNINGAN DAN ALUMUNIUM 6061 PADA MESIN CNC TU-3A DENGAN KODE PROGRAM G 01 SALMAN FARISI, ACHMAD
Jurnal Teknik Mesin Vol 4, No 02 (2016): JTM : Volume 04 Nomor 02 Tahun 2016
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Dalam proses produksi bisa dikatan baik apabila memiliki  salah satu syarat yaitu kerataan permukaan yang sesuai. Banyak faktor yang mempengaruhi proses antara lain jenis end mill dan  jenis bahan. Sehingga timbul penelitian yang dilakukan untuk mengetahui variasi penggunaan pahat endmiil cutter. Dengan kedalaman 0,6 mm dan 3 merk pahat terhadap benda kerja berbahan alumunium 6061 dan kuningan. Dilihat dari tingkat kerataan permukaan benda terdapa pengaruh atau tidak. Dalam penelitian ini benda kerja sebanyak 18 buah, dengan asumsi 9 benda kerja aluminium dan 9 benda kerja kuningan. Semua benda mendapatkan perlakuan yang sama dalam proses pengerjaanya. Sehingga dapat disimpulkan ada pebedaan yang signifikan tingkat kerataan hasil milling benda kerja alumunium 6061 dan kuningan, dengan kedalaman 0,6 mm antara pahat nachi, asahi dan dormer. Selanjutnya untuk mengetahui pengaruh atau tidaknya peniliti melakukan UJI T masing-masing pahat dan benda kerja. Untuk benda alumunium :Terdapat pengaruh antara pahat nachi dan asahi terhadap hasi tingkat kerataan alumunium  (2,000 < 2,776), Terdapat pengaruh antara pahat nachi dan dormer terhadap hasi tingkat kerataan alumunium  (-3,571 < 2,776), Terdapat pengaruh antara pahat dormer dan asahi terhadap hasi tingkat kerataan alumunium  (-3,818 < 2,776). Sedangkan untuk benda kuningan : Terdapat pengaruh antara pahat nachi dan asahi terhadap hasi tingkat kerataan kuningan  (1,508 < 2,776), Terdapat pengaruh antara pahat nachi dan dormer terhadap hasi tingkat kerataan kuningan  (2,433 < 2,776), Terdapat pengaruh antara pahat dormer dan asahi terhadap hasi tingkat kerataan kuningan  (2,008 < 2,776). Untuk analisis grafik bentuk geram benda kerja alumunium dan kuningan dengan kedalaman 0,6 mm, menunjukkan bahwa ada perbedaan bentuk geram (tebal, panjang dan lebar). Kata Kunci : bentuk geram, jenis bahan, kerataan permukaan, variasi end mill
PENGARUH PEMANFAATAN GAS BUANG SEBAGAI PEMANAS INTAKE MANIFOLD DENGAN VARIASI SELUBUNG PEMANAS TERHADAP PERFORMA MESIN SUPRA X TAHUN 2002 Arif Eko Lesmono, Jhon
Jurnal Teknik Mesin Vol 4, No 02 (2016): JTM : Volume 04 Nomor 02 Tahun 2016
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan teknologi otomotif sebagai alat transportasi, sangat memudahkan manusia dalam melaksanakan suatu pekerjaan. Pemakaian kendaraan dalam kehidupan sehari-hari akan menurunkan performa mesin dari standart pabrikan. Penambahan pemanas pada intake manifold berfungsi untuk memanaskan intake manifold sehingga campuran bahan bakar dan udara siap untuk dimasukkan ke ruang bakar. Dengan demikian dilakukannya penelitian ini  bermaksudkan untuk mengetahui pengaruh pemanfaatan gas buang sebagai pemanas Intake Manifold standart terhadap performa mesin Honda Supra X Tahun 2002. Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimen. Kelompok eksperimen (penambahan pemanas tanpa alur dan beralur tipe parallel flow) dengan bukaan katup kran pengatur volume gas buang sebesar 60?, 75?, dan 90? .Standar pengujian performa mesin adalah SAE J1349.  Pengujian menggunakan chassis dynamometer, fuel meter, rpm couter, data acquisition, dan thermocouple. Analisis data dilakukan dengan metode deskriptif kuantitatif pada putaran idle 3500 rpm hingga 9000 rpm dengan kelipatan 500 rpm. Penelitian yang telah dilakukan diperoleh kesimpulan bahwa pengaruh pemanfaatan gas buang sebagai pemanas intake manifold dengan variasi selubung pemanas terhadap performa mesin Supra X tahun 2002 : Torsi maksimum terjadi pada bukaan katup gas buang 900 pemanas selubung beralur sebesar 7,08 N.m dengan suhu out intake manifold sebesar 50 0C, persentase peningkatan sebesar 9,23%. Daya maksimum terjadi pada bukaan katup gas buang 900 pemanas selubung beralur sebesar 4,77 kW dengan suhu out intake manifold sebesar 52 0C, persentase peningkatan daya maksimum sebesar 9,90%. Tekanan efektif rata-rata maksimum terjadi pada bukaan katup gas buang 900 pemanas selubung beralur sebesar 916,24 kPa dengan suhu out intake manifold sebesar 50 0C, persentase peningkatan sebesar 9,23%. Hal ini disebabkan katup gas terbuka penuh mengakibatkan pemanasan bahan bakar lebih maksimal, sehingga mempercepat penguapan bahan bakar bensin mencapai temperatur mendekati titik nyala (flash point). Semakin  tinggi temperatur bahan bakar, molekul bahan bakar akan bergerak cepat mengakibatkan proses pencampuran bahan  bakar  dengan udara  lebih  homogen sehingga terjadi pembakaran sempurna, tekanan semakin meningkat dan torsi semakin besar sehingga mengakibatkan daya meningkat. Konsumsi bahan bakar spesifik paling rendah terjadi pada bukaan katup gas buang 750 pemanas selubung tanpa alur sebesar 105,91 g/kW.jam, persentase penurunan sebesar 17,00 %. Hal ini disebabkan konsumsi bahan bakar spesifik (sfc)  dipengaruhi putaran mesin dan daya. Semakin tinggi putaran mesin, daya yang dihasilkan semakin tinggi, sehingga  konsumsi bahan bakar spesifik yang dibutuhkan semakin meningkat dan sebaliknya. Daya yang dihasilkan oleh bukaan katup gas buang 750 pemanas selubung tanpa alur lebih rendah sehingga bahan bakar spesifik yang dibutuhkan semakin menurun. Kata kunci :  Gas buang, intake manifold, selubung, performance mesin
RANCANG BANGUN MESIN LAS BERBAHAN BAKAR HIDROGEN KHARIS WASISTA, R
Jurnal Teknik Mesin Vol 4, No 02 (2016): JTM : Volume 04 Nomor 02 Tahun 2016
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan mengembangkan mesin las dengan bahan bakar hidrogen yang di ambil dari air. Mesin menggunakan proses elektrolisis air dengan katalisator tertentu (KOH). Hasil pembakaran gas HHO atau gas hidroksi menghasilkan air murni sehingga proses pengelasan ini ramah lingkungan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode rancang bangun dengan pengujian performa mesin las hydrogen. Hasil yang didapatkan dalam penelitian ini adalah temperatur dan panjang lidah api dari mesin las berbahan bakar hidrogen ini. Peneliti menguji sebanyak lima kali dalam pengujian pengukuran panjang lidah api maupun temperatur pada arus 20, 30 dan 40 ampere. Pengukuran rata-rata temperatur tertinggi yang terukur dalam waktu satu menit pada arus 40 ampere yaitu 310º C. Sedangkan temperatur terendah rata-rata terukur pada arus 20 ampere yaitu 281,6ºC. Sedangkan penelitian terhadap panjang lidah api menghasilkanpengukuran terpanjang didapat pada 40 ampere dengan rata-rata 1,14cm. Pengukuran terpendek api didapat pada arus 20 ampere dengan rata-rata sebesar 0,82cm. Kata kunci : Las gas, oxyhydrogen welding, elekrolisa air