cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknik Mesin
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 563 Documents
PENGARUH VARIASI WAKTU CELUP DAN TEGANGAN TERHADAP BEBAN PUNTIR DAN STRUKTUR MIKRO BAJA ST41 PADA PROSES PELAPISAN NIKEL FAHMY SATRIADI WASKITO, YOGA; MAHENDRA SAKTI, ARYA
Jurnal Teknik Mesin Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pelapisan logam merupakan proses pelapisan yang menggunakan prinsip pengendapan logam dengan cara elektrokimia. Pemilihan jenis material yang digunakan pada penelitian ini adalah baja ST41 yang merupakan baja karbon rendah. Aplikasi baja ST41 ini digunakan untuk peralatan otomotif. Bahan yang digunakan untuk melapisi baja ST41 pada penelitian ini menggunakan nikel yang merupakan logam keras, ulet, bias ditempa, dan berwarna putih keperakan. Nikel merupakan konduktor panas dan listrik yang cukup baik. Pelapisan logam dilakukan menggunakan dua variasi, yaitu variasi tegangan diantaranya 6 volt, 9 volt, dan 12 volt. Variasi yang kedua adalah variasi lama pencelupan diantaranya 15 menit, 20 menit, dan 25 menit. Pelapisan logam yang dilakukan melalui variasi-variasi tersebut akan menghasilkan tingkat kepadatan yang berbeda pada setiap material, sehingga peneliti melakukan analisa kepadatan pada setiap material setelah mendapatkan perlakuan pelapisan logam. Pada penelitian ini, baja ST41 melalui proses uji Scanning Electron Microscope (SEM) yang dilakukan setelah proses pelapisan nikel serta menganalisa lama pencelupan dan tegangan. Hasil yang diharapkan dari penelitian ini adalah mengetahui tingkat kepadatan lapisan dari setiap material setelah perlakuan pelapisan logam yang kemudian dilakukan analisa kerapatan menggunakan alat uji scanning electron microscopy (SEM). Adalah kerapatan 89,5% saat dicelup dengan waktu 15 menit pada tegangan 12 volt, dan kerapatan 95,5% dengan waktu 25 menit pada tegangan 12 volt. Kata Kunci: Baja ST 41, Electroplating nickel, kerapatan.
PENGARUH VARIASI AIR FUEL RATIO (AFR) PADA GASIFIER TERHADAP KUANTITAS NYALA API SYN GAS PADA GASIFIKASI BIOMASSA CANGKANG SAWIT RIANSYAH, DIKY; HERU SUTJAHJO, DWI
Jurnal Teknik Mesin Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakKebutuhan energi listrik baik dengan mencari energi baru maupun dengan Hampir semua bagian dari pohon kelapa sawit secara komersial bisa dimanfaatkan, terutama di sektor energi dan manufaktur. Namun demikian, cangkang sawit memiliki penggunaan yang sangat terbatas, hanyalah dibiarkan kering kemudian dibakar dan ada pula yang dibiarkan membusuk, padahal cangkang sawit memiliki potensi yang tinggi dan layak digunakan sebagai bahan baku biomassa gasifikasi. Gasifikasi merupakan proses konversi energi dari bahan padat (biomassa) menjadi syn gas (gas hasil sintesa) yang nantinya dapat digunakan sebagai bahan bakar. Banyaknya udara yang masuk ke dalam gasifier akan berpengaruh terhadap laju alir massa syn gas dan kualitas dari syn gas. Penelitian ini dilakukan dengan metode ekperimental diskriptif kuantitatif dan kualitatif bertujuan untuk mengetahui pengaruh Air Fuel Ratio yang masuk ke dalam gasifier terhadap kuantitas nyala api syn gas yang ditinjau dari visualisasi nyala api, lama nyala api, dan temperatur nyala api. Pada gasifikasi cangkang sawit menggunakan gasifier tipe up draft. Variasi Air Fuel Ratio (AFR) dilakukan dengan cara mengatur kecepatan putaran udara dari blower yang masuk ke dalam reaktor dengan mengatur bukaan katup pada blower. Dari hasil penelitian didapatkan rata-rata tinggi nyala api syn gas pada AFR 0,2 0,3, 0,5, 0,8 dan 1,1 masing-masing adalah 13.5 cm, 18 cm, 23 cm, 45 cm, dan 53 cm. Sedangkan lama nyala api pada AFR 0,2 0,3, 0,5, 0,8 dan 1,1 masing-masing adalah 20 menit, 100 menit, 80 menit, 50 menit, dan 30 menit. Temperatur rata-rata nyala api pada AFR 0,2, 0,3, 0,5, 0,8 dan 1,1 masing-masing adalah 137 0C ,269 0C, 186 0C, 174 0C, dan 153 0C. Visualisasi nyla api terbaik yakni pada AFR 0,3 didapatkan profil api biru dengan temperatur tertinggi.Kata Kunci : Air Fuel Ratio, Gasifikasi, Syn Gas.AbstractAlmost all parts of oil palm trees can be used commercially, especially in the energy and manufacturing sectors. However, palm shells have very limited use, are used to be left dry and then burned and some are left to rot, even though palm shells have high potential and are suitable to be used as raw material for biomass gasification. Gasification is the process of converting energy from solid materials (biomass) to syn gas (synthesis gas) that can be used as fuel. Much of the air entering the gasifier will be directed towards the syn gas mass flow rate and the quality of syn gas. This research was carried out by descriptive quantitative and qualitative experimental method aimed to determine the effect of Air Fuel Ratio that goes into the gasifier to the syn gas flame quantity which is viewed from the visualization of the flame, the duration of the flame, and the flame temperature. In the palm shell gasification using a gasifier type up draft. Air Fuel Ratio (AFR) variation is done by adjusting the speed of air rotation from the blower that enters the reactor by adjusting the valve openings on the blower. The results of the research obtained are as follows average flame height syn gas nm at AFR 0.2, 0.3, 0.5, 0.8 and 1.1 is 13.5 cm, 18 cm, 23 cm, 45 cm, and 53 cm respectively. Whereas the flame duration at AFR 0.2 0.3, 0.5, 0.8 and 1.1 is 20 minutes, 100 minutes, 80 minutes, 50 minutes and 30 minutes, respectively. The average flame temperature at AFR 0.2, 0.3, 0.5, 0.8 and 1.1 are 1370C, 2690C, 186 0C, 1740C and 1530C, respectively. The visualization of the best flame is that the AFR 0.3 has a blue flame profile with the highest temperature.Keywords : Air Fuel Ratio, Gasification, Syn Gas.
UJI KUALITAS SYNGAS GASIFIKASI BIOMASSA CANGKANG SAWIT TERHADAP AFR DAN KADAR AIR PADA GASIFIER TIPE UPDRAFT MYZHAR, RAMLY; HERU SUTJAHJO, DWI
Jurnal Teknik Mesin Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Peningkatan produksi kelapa sawit dari tahun ke tahun, berbanding lurus dengan peningkatan volume limbah kelapa sawit. Limbah industri kelapa sawit mengandung bahan organik yang tinggi, penanganan yang tidak tepat dipastikan berakibat mencemari lingkungan sekitar. Limbah kelapa sawit adalah sisa hasil tanaman kelapa sawit yang tidak termasuk dalam produk utama proses pengolahan kelapa sawit, baik berupa limbah padat dan cair. Limbah padat kelapa sawit antara lain tandan kosong, cangkang dan sabut (fiber). Pada penelitian ini menggunakan metode analisa deskriptif kualitatif dan kuantitatif, digunakan biomassa cangkang sawit sebagai bahan bakar yang berasal dari Medan. Penulis memvariasikan empat AFR yaitu 0,3; 0,5; 0,8; 1,1 dan mengkondisikan kadar air biomassa cangkang sawit sesuai kandungan air di lapangan yaitu setelah melalui proses produksi. Kadar air dan AFR mempengaruhi durasi pembentukan syngas hasil gasifikasi biomassa, durasi pembentukan syngas pada AFR 0,3; 0,5; 0,8; 1,1 secara berurutan adalah 26 menit, 22 menit, 19 menit dan 14 menit. Kualitas syngas bisa dilihat secara visual melalui hasil pemabakaran syngas, pada AFR 0,3 didapatkan api biru, AFR 1,1 didapatkan nyala api jingga. Semakin kaya kandungan flammable gas dalam syngas, maka nyala api syngas berwarna biru dan semakin sedikit kandungan flammable gas dalam syngas, maka nyala api akan berwarna kuning kemerah-merahan/jingga. Terjadi kecenderungan penurunan presentase H2, CH4 dan CO pada syngas di AFR 0,3; 0,5; 0,8; dan 1,1 presentase H2 dan CH4 mengalami tren penurunan untuk senyawa CO sendiri pada syngas mengalami penurunan ke 4%. Penurunan CO pada masing-masing AFR terjadi karena terbentuknya CO2 sebagai dampak dari reaksi pembakaran yang tinggi dengan meningkatnya AFR. Kata Kunci : AFR, Gasifier, Cangkang sawit, Syngas, Kadar air. Abstract The increase in palm oil production from year to year is directly proportional to the increase in the volume of oil palm waste. The oil palm industry waste contains high organic matter, improper handling is sure to result in polluting the surrounding environment. Oil palm waste is the residual yield of oil palm plants which are not included in the main products of palm oil processing, both in the form of solid and liquid waste. Solid palm oil waste includes empty bunches, shells and fiber. In this study using qualitative and quantitative descriptive analysis methods, palm kernel shell biomass was used as fuel originating from Medan. The author varies four AFRs which are 0.3; 0.5; 0.8; 1,1 and condition the water content of palm kernel shell biomass according to the water content in the field after going through the production process. Water content and AFR affect the duration of syngas formation of biomass gasification results, duration of syngas formation at AFR 0.3; 0.5; 0.8; 1,1 in a row are 26 minutes, 22 minutes, 19 minutes and 14 minutes. The quality of syngas can be seen visually through the combustion of syngas, in the AFR 0.3 a blue flame is obtained, the AFR 1.1 is found in an orange flame. The more rich the content of flammable gas in syngas, the syngas flame is blue and the less content of flammable gas is in syngas, the flame will be reddish / orange. There is a tendency to decrease the percentage of H2, CH4 and CO in syngas at AFR 0.3; 0.5; 0.8; and 1.1 percent H2 and CH4 experienced a downward trend for the CO compound itself on syngas which decreased to 4%. The decrease in CO in each AFR occurs because of the formation of CO2 as a result of high combustion reactions with increasing AFR. Keywords: AFR, Gasifier, Palm shell, Syngas, Moisture content.
PENGARUH VARIASI UKURAN CANGKANG SAWIT PADA PROSES GASIFIKASI TERHADAP PERFORMA GASIFIER TIPE UPDRAFT SATRIYA NUGROHO, ADITYA; HERU SUTJAHJO, DWI
Jurnal Teknik Mesin Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cangkang kelapa sawit adalah salah satu bahan baku biomassa yang jumlahnya cukup melimpah di Indonesia. Salah satu alternatif yang menarik karena sifatnya yang renewable yang proses terbentuknya membutuhkan waktu yang lebih singkat. Penggunaan biomassa umumnya digunakan pada sektor rumah tangga kususnya di pedesaan dengan cara dibakar secara langsung. Tetapi apabila biomassa tersebut hanya dibakar secara langsung maka akan timbul permasalahan yaitu nilai bakar yang rendah dan kadar emisi polutan yang tinggi (Fisafarani,2010). Gasifikasi merupakan suatu bentuk peningkatan penggunaan energi yang terkandung di dalam bahan biomassa melalui suatu konversi dari bahan padat menjadi syn gas dengan menggunakan proses degradasi termal material-material organik pada temperatur tinggi. Penelitian ini dilakukan dengan metode diskriptif kuantitatif dan kualitatif yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi ukuran cangkang sawit yang dibakar di dalam gasifier terhadap performa gasifier menggunakan gasifier tipe updraft. Variasi dilakukan dengan cara memisahkan ukuran cangkang kelapa sawit menggunakan wire mesh dengan ukuran mesh 2 dan mesh 3. Pada proses gasifikasi Air Fuel Ratio (AFR) diatur sebesar 0,3 atau kecepatan udara 1,3 m/s. Kemudian akan diamati bagaimana temperatur nyala api, tinggi nyala api, lama nyala api, serta warna api syn gas. Hasil penelitian ini di dapatkan rata-rata temperatur nyala api dengan AFR 0,3 biomassa mesh 2 dan mesh 3 adalah 255?C dan 230?C. Tinggi nyala api dengan AFR 0,3 biomassa mesh 2 dan mesh 3 didapatkan rata-rata 17,4 cm dan 16,6 cm. Lama nyala api dengan AFR 0,3 biomassa mesh 2 dan mesh 3 masing-masing adalah 100 menit dan 80 menit. Sedangkan visualisasi api yang di dapatkan mesh 2 dengan profil api berwarna biru dan mesh 3 didapatkan profil api biru kemerahan. Hasil terbaik dari penelitian ini adalah biomassa dengan ukuran mesh 2. Kata kunci : Cangkang kelapa sawit, gasifikasi, biomassa, gasifier, syn gas.
PENGARUH VARIASI MEDIA ARANG TEMPURUNG KELAPA, TONGKOL JAGUNG, DAN KAYU JATI PADA METODE PACK CARBURIZING TERHADAP KEKERASAN DAN STRUKTUR MIKRO BAJA SS400 KURNIAWAN, OKTA; SUKMA DRASTIAWATI, NOVI
Jurnal Teknik Mesin Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kapasitas produksi cangkul yang semakin besar meningkatkan persaingan industri cangkul dalam negeri dan luar negeri. Oleh karena itu menimbulkan permasalahan banyaknya cangkul luar negeri dari Cina yang mempunyai kualitas lebih baik terutama kekerasan permukaan mata cangkul, hal tersebut mengancam industri cangkul di Indonesia. Untuk mengatasi permasalahan diatas dilakukan penelitian dengan tujuan meningkatkan kualitas kekerasan permukaan material baja SS400 dengan metode pack carburizing. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh variasi media tempurung kelapa, tongkol jagung, dan kayu jati pada metode pack carburizing terhadap kekerasan dan struktur mikro baja SS400. Metode yang digunakan pada penelitian ini yakni eksperimen pack carburizing dengan variasi media arang tempurung kelapa, tongkol jagung, dan kayu jati. Baja SS400 dengan dimensi 100 mm x 50 mm x 2 mm dimasukkan ke dalam kontainer (wadah) yang sudah terisi campuran kalsium karbonat (CaCo3) dan media arang kemudian kontainer ditutup dipanaskan menggunakan muffle furnace sampai temperatur 950ÂșC, holding time 2 jam dan quenching dengan media air. Pengujian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan uji kekerasan berskala vickers dan uji struktur mikro. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa proses pack carburizing dengan variasi media arang tempurung kelapa, tongkol jagung, dan kayu jati berpengaruh terhadap kekerasan dan struktur mikro baja SS400, Nilai kekerasan yang tertinggi dari hasil penelitian ini adalah variasi media arang tempurung kelapa sebesar 861 HV dan yang terendah adalah media arang tongkol jagung sebesar 669,6 HV sedangkan media arang kayu jati sebesar 838,1 HV. Hasil pengujian struktur mikro terbentuk fasa martensit pada permukaan material baja SS400 setelah perlakuan proses pack carburizing dengan variasi media arang tempurung kelapa, tongkol jagung, dan kayu jati yang dilanjutkan proses holding time dan quenching, fase martensit yang terbentuk lebih dominan pada variasi media arang tempurung daripada variasi media arang kayu jati, dan tongkol jagung. Kata kunci : pack carburizing, baja SS400, variasi media carburizing, holding time, quenching.
PERANCANGAN MESIN PENAKAR TEPUNG OTOMATIS BERBASIS REVERSE ENGINEERING DAN KEBUTUHAN CUSTOMER SYAHRUL SYAH, SYEIHAN; PRIJO BUDIJONO, AGUNG
Jurnal Teknik Mesin Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

UD Alam Raya Serasi adalah usaha dagang yang bergerak dibidang makanan yang memproduksi Roti Lapis Kukus Suroboyo. Dalam proses produksi roti, diperlukan bahan-bahan dalam takaran tertentu untuk menghasilkan roti yang nikmat sesuai dengan resep. Salah satu bahan utama yang digunakan adalah tepung, tepung harus ditakar dengan berat tertentu agar sesuai dengan resep. Selama ini di pabrik tersebut menggunakan alat penakar dengan merk Fillmach S01P kapasitas 25 Kg dengan sistem Auger Filler. Namun masih ada kekurangan dari alat tersebut diantaranya, dari segi kemudahan perbaikan dan pembersihan pada hooper karena masih menggunakan flens dan baut. Adanya tepung yang jatuh dari output dan ketelitian sistem penakaran. Sistem agitator yang masih menyisakan tepung yang menempel di dinding hooper. Penelitian ini bermaksud untuk merancang ulang mesin penakar tepung otomatis yang sesuai dengan kebutuhan customer menggunakan metode reverse engineering. Pengambilan data dilakukan dengan observasi langsung pada mesin tersebut dengan maksud untuk memperoleh informasi yang sesuai dengan tujuan penelitian. Setelah memperoleh data kekurangan mesin penakar tepung, porses redesign untuk memperbaiki kekurangan pada mesin tersebut. Kemudian di lakukan perhitungan perancangan elemen mesin hingga didapatkan dimensi komponen terpasang, untuk menvalidasi dilakukan Interference Check dan motion analysis untuk mengetahui efek dari perbaikan desain menggunakan software solidwork. Hasil penelitian menunjukkan desain agitator dengan modifikasi tambahan teflon tebal 3 mm yang dapat diatur jarak himpitannya sejau 10 mm dengan permukaan corong input dapat menyapu tepung dengan baik hingga tepung dapat bergeser dan tidak menempel di permukaan corong input. Desain dengan modifikasi dimensi pitch berbeda menghasilkan kepadatan tepung didalam tabung output, sehingga debit aliran lebih konsisten yang akan meningkatkan kepresisian proses pengisian. Desain komponen corong output setelah modifikasi adalah dengan merubah sistem penguncian yang dirubah menjadi menggunakan sistem penguncian alur dengan 3 baut model T. Perubahan ini menghasilkan percepatan proses pelepasan corong saat melakukan repair atau perawatan mesin menjadi 4 kali lebih cepat yaitu hanya membutuhkan waktu 15 detik untuk pelepasan, membutuhkan 4 langkah pada proses pelepasan. didapatkan kapasitas mesin sebesar 231.5 kg/jam dan menggunakan daya listrik sebesar 0.229 kw (229 W) sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak perlu ada perubahan motor penggerak dan transmisi pada mesin ini. Kata kunci: mesin penakar tepung otomatis, reverse engineering, auger.
STUDI EKSPERIMEN PENGARUH JARAK CELAH BLADE PENGGANGGU DENGAN BLADE UTAMA TERHADAP KINERJA SAVONIUS RAHMANTO, ARIS; HERLAMBA SIREGAR, INDRA
Jurnal Teknik Mesin Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kebutuhan energi akan terus meningkat seiring dengan laju pertumbuhan jumlah penduduk, pertumbuhan ekonomi dan pola konsumsi energi itu sendiri. Sampai saat ini peran sumber daya energi fosil seperti minyak bumi dan batubara yang merupakan sumber energi yang tidak dapat diperbaharui masih sangat dominan. Perlu adanya pemanfaatan sumber daya energi lain yang baru dan terbarukan.Angin merupakan salah satu sumber daya energi terbarukan yang secara cepat dapat diproduksi kembali oleh alam. Turbin angin merupakan alat yang dapat mengkonversi energi angin menjadi energi gerak dan menghasilkan listrik. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen, pembuatan model turbin angin sumbu vertikal jenis savonius tipe-S satu tingkat dengan menambahkan variasi jarak celah blade pengganggu. Variasi jarak celah blade pengganggu yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pada variasi jarak celah 0cm, 2cm, 4cm, dan 6cm. Pengujian ini dilakukan pada terowongan angin yang telah dikondisikan. Uji eksperimen ini untuk mengetahui besarnya daya dan efisiensi setelah dilakukan variasi penambahan blade pengganggu terhadap prestasi kerja turbin angin savonius tipe-S satu tingkat. Hasil penelitian ini diketahui bahwa model turbin angin savonius satu tingkat dengan penambahan variasi jarak celah blade pengganggu sebesar 6cm menghasilkan daya dan efisiensi tertinggi dibandingkan jarak celah pengganggu 0cm, 2cm, 4cm dengan beban 4000 gram mampu menghasilkan daya sebesar 3,03 Watt dan nilai efisiensi sebesar 20,4% pada kecepatan angin 6 m/s. Kata kunci : Savonius,vertical,blade pengganggu
PENGARUH RASIO LUAS BLADE UTAMA DENGAN BLADE PENGGANGGU TERHADAP KINERJA TURBIN ANGIN SAVONIUS ANGGON PRIBADI, MUTI; HERLAMBA SIREGAR, INDRA
Jurnal Teknik Mesin Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kebutuhan energi akan terus meningkat seiring dengan laju pertumbuhan jumlah penduduk, pertumbuhan ekonomi dan pola konsumsi energi itu sendiri. Sampai saat ini peran sumber daya energi fosil seperti minyak bumi dan batubara yang merupakan sumber energi yang tidak dapat diperbaharui. Perlu adanya pemanfaatan sumber daya energi lain yang baru dan terbarukan. Angin merupakan salah satu sumber daya energi terbarukan yang secara cepat dapat di produksi kembali oleh alam. Turbin angin merupakan alat yang dapat mengkonversi energi angin menjadi energi gerak dan menghasilkan listrik.Penelitian ini menggunakan metode eksperimen. Teknik analisa data dalam penelitian ini menggunakan analisis data deskriptif yaitu menggambarkan hasil penelitian secara grafis dalam tabel, histogram, dan grafik. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh variasi rasio luas blade utama dengan blade pengganggu. Turbin angin yang digunakan dalam penelitian ini memiliki diameter 30 cm dan ketinggian 30 cm, Sedangkan variasi rasio luas blade utama dengan blade pengganggu adalah 1 : 6, 2 : 6, 3 : 6, 4 : 6.Hasil penelitian tentang variasi rasio luas antara blade utama dengan blade pengganggu pada turbin angin savonius menunjukkan daya maksimal yang diperoleh pada kecepatan 6 m/s dengan beban 4750 gram sebesar 2,88 watt dan efisiensi maksimal turbin angin sebesar 26,4 % dengan menggunakan variasi rasio luas blade pengganggu dengan blade utama 2 : 6 Kata kunci : Savonius,vertical,blade pengganggu
PEMANFAATAN AMPAS TEBU (BAGASSE) SEBAGAI BAHAN BAKAR ALTERNATIF BIOETANOL DENGAN METODE DISTILASI MENGGUNAKAN BATU KAPUR MESH 80 DENGAN VARIASI BERAT DAN SUHU PEMANASAN BATU KAPUR FARHAN, HALIM; WAYAN SUSILA, I
Jurnal Teknik Mesin Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proses distilasi bioetanol dengan menggunakan silika gel sebagai adsorben umumnya hanya menghasilkan kadar etanol maksimal 96%. Agar dapat dicampur dengan premium sebagai bahan bakar alat transportasi darat (E-premium), maka kadar etanol minimal 99,5% jika menggunakan denatorium benzoat atau 94% jika menggunakan hidrokarbon sesuai dengan standar Dirjen EBTKE No.722K/10/DJE/2013. Ampas tebu merupakan salah satu bahan yang dapat dijadikan bioetanol. Penelitian ini merupakan perbaikan proses distilasi single state dengan menggunakan batu kapur (CaCO3) sebagai adsorben. Batu kapur dipanaskan terlebih dahulu sebelum digunakan pada suhu 130?C dan 140?C dalam jumlah 8, 9, dan 10 gram. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hasil distilasi terbaik diperoleh pada berat batu kapur 9 gram dengan suhu pemanasan 140?C. Bioetanol dari ampas tebu (bagasse) ini didapatkan kadar etanol sebesar 98,005% dengan denaturasi menggunakan hidrokarbon (CH4) sehingga siap dicampurkan dengan premium atau dipasarkan melalui SPBU.
PENGARUH PENGGUNAAN BEBAN TERHADAP PERFORMA PEMBANGKIT LISTRIK HYBRID BERBASIS SOLAR CELL DAN FUEL CELL. ADI ARIYANTO, AFRIZAL; ANSORI, ARIS
Jurnal Teknik Mesin Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kebutuhan energi masyarakat Indonesia terus meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk. Hal ini berbanding terbalik dengan pola konsumsi energi dan energi fosil yang terus berkurang. Salah satu solusi untuk mengatasi masalah energi tersebut adalah dengan menggunakan fuel cell dan solar cell. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui desain pembangkit listrik tenaga hybrid, mengetahui karakteristik daya fuel cell dan solar cell, dan mengetahui performa beban yang digunakan untuk kebutuhan rumah tangga dari pembangkit listrik tenaga hybrid. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode eksperimental (experimental research) dimana fuel cell dan solar cell akan digabung menjadi sistem hybrid on-grid untuk mengatasi masing-masing kekurangan dari fuel cell dan solar cell dengan variasi beban 25 W, 50 W, 75 W, dan 100 W. Solar cell akan dipasang dengan light dependent resistor (LDR) agar bisa mendapatkan intensitas energi surya yang tinggi. Teknik Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis data deskriptif yaitu menggambarkan hasil penelitian dalam bentuk tabel dan grafik. Hasil dari penelitian ini adalah performa pengaruh penggunaan beban terhadap pembangkit listrik hybrid solar cell dan fuell cell mengalami kenaikan dari beban 25, 50, 75, 100, 125, dan 150. Efesiensi tertinggi dihasilkan pada beban 150 W dengan nilai performa 55,28%, sedangkan terendah pada beban 25 W dengan nilai performa 42,34%. rata rata daya yang dihasilkan oleh sistem pembangkit listrik Hybrid Solar Cell 100 Wp dan Fuel Cell FCSU-012 sebesar 603,10 Watt sedangkan yang dibutuhkan untuk beban dalam skala rumah tangga sehari- hari sebesar 10.372 Watt. Maka sistem pembangkit listrik hybrid dalam sehari mampu mensuplai sebesar 5,81 %, untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga maka dibutuhkan solar cell sejumlah 17 solar cell dengan kapasitas 100 Wp agar mampu menyuplai kebutuhan beban dalam rumah tangga dalam sehari. Kata Kunci: Fuel cell, solar cell, hybrid, light dependent resistor