cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknik Mesin
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 563 Documents
PENGARUH PREHEAT MATERIAL ST-41, VARIASI ARUS DAN REKONDISI ELEKTRODA E7018 TERHADAP STRUKTUR MIKRO DAN KEKERASAN HASIL LAS MILAWATI NINGRUM, RATIH; , YUNUS
Jurnal Teknik Mesin Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakTujuan penelitian ini untuk mengetahui nilai kekerasan dan struktur mikro material ST-41 yang dilas menggunakan las SMAW dengan preheat dan tanpa preheat menggunakan variasi arus 70A, 100A dan 130A serta rekondisi elektroda E7018. Metode penelitian adalah eksperimen dengan 18 spesimen uji. Uji kekerasan dilakukan dengan uji rockwell dan uji struktur mikro dilakukan dengan uji metalografi perbesaran 200x. Uji statistik menggunakan ANOVA dilanjutkan uji-T dengan SPSS IBM versi 25. Struktur mikro daerah base metal, HAZ dan las pada spesimen uji tanpa preheat dengan arus 70A, 100A dan 130A, arus 70A didominasi perlit yang menyebabkan material keras dan arus 100A didominasi ferit yang menyebabkan material lunak sedangkan dengan perlakuan preheat, arus 70A didominasi perlit yang menyebabkan material keras dan arus 130A didominasi butiran ferit yang menyebabkan material lunak. Pengujian kekerasan rockwell pada spesimen uji tanpa preheat, nilai kekerasan tertinggi base metal sebesar 93,33 HRC pada arus 100A dan nilai kekerasan terendah sebesar 89,05 HRC pada arus 130A. Nilai kekerasan tertinggi HAZ sebesar 97,61 HRC pada arus 130A dan nilai kekerasan terendah sebesar 93,88 HRC pada arus 100A. Nilai kekerasan tertinggi daerah las sebesar 102,23 HRC pada arus 130A dan nilai kekerasan terendah sebesar 96,78 HRC pada arus 100A. Pada spesimen uji dengan preheat, nilai kekerasan tertinggi base metal sebesar 90,58 HRC pada arus 70A dan nilai kekerasan terendah sebesar 89,07 HRC pada arus 100A. Nilai kekerasan tertinggi HAZ sebesar 97,17 HRC pada arus 100A dan nilai kekerasan terendah sebesar 94,41 HRC pada arus 70A. Nilai kekerasan tertinggi daerah las sebesar 104,61 HRC pada arus 70A dan nilai kekerasan terendah sebesar 96,28 HRC pada arus 130A. Kata Kunci : Variasi Arus, Preheat, Rekondisi Elektroda, Nilai Kekerasan dan Struktur Mikro. Abstract The purpose of this study was to determine the hardness value and microstructure of the ST-41 material welded using SMAW welding with preheat and without preheat using 70A, 100A and 130A current variations and reconditioning of the E7018 electrode. The research method was an experiment with 18 test specimens. Hardness test is done by rockwell test and microstructure test is done by 200x magnification metallographic test. Statistical test using ANOVA continued T-test with IBM SPSS version 25. Microstructure of base metal, HAZ and welding regions in test specimens without preheat with currents 70A, 100A and 130A, 70A current is dominated by pearlite which causes hard material and 100A current is dominated by ferrite. cause soft material whereas with preheat treatment, 70A current is dominated by pearlite which causes hard material and 130A current is dominated by ferrite granules which causes soft material. Rockwell hardness testing on test specimens without preheat, the highest base metal hardness value was 93.33 HRC at 100A current and the lowest hardness value was 89.05 HRC at 130A current. The highest HAZ hardness value was 97.61 HRC at 130A current and the lowest hardness value was 93.88 HRC at 100A current. The highest hardness value of welding area is 102.23 HRC at 130A current and the lowest hardness value is 96.78 HRC at 100A current. In the preheat test specimen, the highest base metal hardness value was 90.58 HRC at 70A current and the lowest hardness value was 89.07 HRC at 100A current. The highest HAZ hardness value was 97.17 HRC at 100A current and the lowest hardness value was 94.41 HRC at 70A current. The highest hardness value of welding area is 104.61 HRC at 70A current and the lowest hardness value is 96.28 HRC at 130A current. Keywords : Flow Variation, Preheat, Electrode Recondition, Hardness Value and Micro Structur
PENGARUH SUSUNAN KOMPOSIT MATRIKS SERAT ALAM (KELAPA DAN TEBU) TERHADAP KEKUATAN TARIK DAN IMPACT ZAINUR RAMADHANI, MUHAMMAD; ENDAH PALUPI, AISYAH
Jurnal Teknik Mesin Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia merupakan negara penghasil kelapa yang utama di dunia dan berada di daerah tropis pada kondisi wilayah yang mendukung. Jenis serat alam merupakan bahan alternatif komposit, karena keberadaannya berlimpah dan murah serta tergolong sebagai limbah. Salah satu serat alam yang saat ini banyak dikembangkan yaitu serat kelapa dan tebu. Berdasarkan latar belakang tersebut penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh susunan serat komposit matrik. Metode awal pembuatan komposit berpenguat serat alam (kelapa dan tebu) ini menggunakan cetakan kaca. Serat yang akan dibuat komposit dilakukan perlakuan alkali dengan menggunakan NaOH 5%. Dengan menggunakan resin merk polyester yukalac BQTN157 dan katalis metyl ethyl keton peroxide atau disebut MEKPO. Pembuatan komposit dilakukan dengan metode hand lay-up, dengan menyusun serat kelapa dan tebu dengan sudut kemiringan (30°,45°,60°) sebagai variabelnya. Adapun proses pengujian tarik menggunakan standart ASTM D3039-07 dan pengujian impact menggunakan ASTM D5942-96 dilakukan di Universitas Brawijaya. Berdasarkan hasil penelitian, pengaruh susunan pada komposit berpenguat serat kelapa dan tebu, Dapat disimpulkan bahwa hasil dari uji tarik dan impact ini bisa diambil sebagai spesimen terbaik dengan susunan serat tebu 90° dan kelapa 60° yang memiliki kekuatan impact nilai rata-rata sebesar 0,4693 J/mm2 dan pada variasi susunan serat kelapa 90° dan tebu 45° yang memiliki kekuatan tarik yaitu sebesar 10,43kg/mm2 dengan nilai modulus elastisitas yaitu sebesar 819,3 kg/mm2. Nilai tersebut menunjukkan bahwa komposit berpenguat serat kulit batang kelapa-serat tebu dengan matrik poliester dapat digunakan sebagai konstruksi kapal non-metal.Kata kunci : komposit, serat kelapa, serat tebu, uji tarik, uji impact.
PENGARUH TEMPERATUR TUANG TERHADAP KEKERASAN PADA PEMBUATAN PIPA ALUMINIUM DENGAN MENGGUNAKAN MESIN CENTRIFUGAL CASTING SAMSODIN, MOH; ARIF IRFAI, MOCHAMAD
Jurnal Teknik Mesin Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakAluminium merupakan logam yang banyak digunakan dalam bidang industri dan teknik. Akibat banyaknya pengunaan aluminium juga menimbulkan masalah terhadap banyaknya limbah aluminium yang dampaknya berbahaya untuk lingkungan. Sehingga perlu dilakukan daur ulang dari limbah aluminium. Salah satu cara untuk mendaur ulang limbah aluminium adalah dengan pengecoran sentrifugal atau centrifugal casting. Centrifugal casting cocok digunakan untuk pengecoran pipa. Pembuatan pipa berbahan aluminium komersial dengan memvariasikan temperatur tuang menggunakan mesin centrifugal casting. Tujuan dari variasi temperatur tuang untuk mengetahui pengaruh temperatur tuang terhadap kekerasan pada proses centrifugal casting. Variasi yang digunakan 680?C, 700?C, 720?C. Proses centrifugal casting yaitu dengan memanaskan aluminium dalam tungku hingga mencair pada temperatur yang diinginkan, kemudian cairan aluminium dimasukkan ke dalam cetakan centrifugal casting, dan tunggu hingga aluminium membeu selama 2 menit. Setelah mendapatkan hasil coran dilakukan pengujian kekerasan untuk mengetahui berpengaruh atau tidaknya variasi temperatur tuang. Hasil uji kekerasan yang didapat seiring naiknya temperatur tuang nilai kekerasan semakin menurun, pada temperatur tuang 680?C, 700?C, 720?C dengan nilai kekerasan 77,4 HRB, 75,3 HRB, 71,23 HRB. Kesimpulan yang didapat dari penelitian ini semakin tinggi temperatur tuang semakin rendah nilai kekerasan.Kata kunci : centrifugal casting, temperatur tuang, aluminium paduan, uji kekerasan.
KARAKTERISTIK POMPA SENTRIFUGAL DENGAN BILAH BERALUR DALAM TIPE SEMI TERTUTUP CAHYA VERGIANSYAH, RIZKY; HERLAMBA SIREGAR, INDRA
Jurnal Teknik Mesin Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Impeller merupakan salah satu bagian terpenting dari pompa sentrifugal yang dapat mempengaruhi performa pompa. Hal yang perlu dilihat dari performa pompa adalah nilai efisiensi, NPSH, Head dan kebisingan dari pompa. Penambahan riblet dengan memberikan alur dalam pada sudu impeller dapat meningkatkan performa dari pompa tetapi untuk lebih mengetahui performa pompa sentrifuggal dengan cara memvariasi kecepatan motor dan temperatur air. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah variasi bentuk alur dalam pada impeller, variasi kecepatan dan variasi temperatur air. Dalam variasi alur dalam menggunakan impeller jumlah sudu 8 tanpa alur, sudu 8 dengan riblet beralur dalam lurus dan riblet beralur dalam sinusoidal riblet width (w) = 2 mm, Spacing (s) = 3,4 mm, Height (h) = 1,7 mm. Variasi kecepatan putar motor yaitu 1500, 2000 dan 2500 rpm sedangkan variasi temperatur air 30°C. Dalam penelitian ini penambahan alur dalam pada impeller memberi dampak positif pada kapasitas, head, npsh dan juga efisiesi pompa. Untuk impeller dengan alur dalam sinusoidal mendapatkan nilai kapasitas, head, npsh dan juga efisiesi pompa tertinggi yaitu 54 LPM, 13,04 m dan efisiensi pompa 49,38 % berada pada suhu 30°C dan kecepatan 2500 RPM sedangkan nilai npsh 9,99 m pada suhu 30°C dan kecepatan 1500 RPM. Pada impeller alur dalam lurus menghasilkan efisiensi pompa 47,04%, nilai head 12,42 m pada suhu 30°C kecepatan 2500 RPM dan sedangkan nilai npsh 9,73 m pada suhu 30°C dan kecepatan 1500 RPM. Dan nilai kebisingan yang paling rendah adalah 65,7 dB berada pada kecepatan 1500 RPM di semua impeller Kata Kunci : pompa sentrifugal, riblet, npsh, efisiensi
PENGARUH VARIASI BENTUK EXHAUST MANIFOLD PADA DIESEL PARTICULATE TRAP BERBAHAN DASAR KUNINGAN DAN WIRE MESH STAINLESS STEEL TERHADAP PERFORMA MESIN DIESEL 4 LANGKAH FAIQOTIN NISA, IHDAA; , WARJU
Jurnal Teknik Mesin Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mesin diesel merupakan salah satu pilihan yang dapat digunakan sebagai mesin penggerak utama di beberapa alat transportasi. Kelebihan mesin penggerak diesel seperti efisiensi pembakaran yang lebih tinggi. Sedangkan kelemahannya yaitu tingkat kepekatan asap dari mesin diesel lebih tinggi daripada mesin bensin. Salah satu teknologi untuk mengurangi emisi gas buang pada mesin diesel adalah diesel particulate trap (DPT). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi exhaust manifold pada DPT berbahan dasar kuningan dan wire mesh stainless steel terhadap performa mesin diesel 4 langkah. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen. Objek penelitian yang digunakan adalah mesin Isuzu Panther tahun 2005. Variabel bebas yaitu knalpot standar dan knalpot eksperimen (1 exhaust manifold dan 4 exhaust manifold). Variabel terikat yaitu performa mesin (torsi, daya, dan konsumsi bahan bakar). Standar pengukuran performa mesin adalah SAE J1349. Standar pengukuran konsumsi bahan bakar adalah SNI 7554:2010. Teknik analisis data menggunakan metode deskriptif. Hasil pengujian menunjukkan bahwa penggunaan DPT kuningan dan wire mesh stainless steel dapat meningkatkan performa mesin (torsi, daya, dan konsumsi bahan bakar) pada mesin Isuzu Panther tahun 2005. Dibandingkan dengan knalpot standar, DPT dengan variasi 1 exhaust manifold dapat meningkatkan torsi sebesar 7,65%, dan untuk variasi 4 exhaust manifold sebesar 11,01%. DPT dengan variasi 1 exhaust manifold dapat meningkatkan daya sebesar 11,15%, dan untuk variasi 4 exhaust manifold sebesar 14,47%. DPT kuningan dapat menurunkan konsumsi bahan bakar dengan presentase reduksi rata-rata sebesar 13,09% untuk variasi 1 exhaust manifold dan 18,14% untuk variasi 4 exhaust manifold. Kata Kunci: Diesel particulate trap, kuningan, wire mesh, performa mesin
PENGARUH BUKAAN KATUP AIR DAN VARIASI DIAMETER NOZZLE PADA REACTOR TRAPPING GASIFIKASI BIOMASSA CANGKANG SAWIT TERHADAP KUALITAS NYALA API FARRASIANDI HUDA W, MUHAMMAD; HERU SUTJAHJO, DWI
Jurnal Teknik Mesin Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Di era sekarang bahan bakar minyak merupakan salah satu energi yang dekat dengan masyarakat. Namun makin hari minyak bumi semakin menipis seiring banyaknya permintaan dan tak menutup kemungkinan akan habis. Untuk menanggulangi hal tersebut diperlukan bahan bakar alternatif yang lebih efisien dan dapat diperbarui sehingga dapat digunakan terus menerus. Potensi dalam mengaplikasikan biomassa di Indonesia juga cukup besar. Cangkang kelapa sawit adalah salah satu bahan baku biomassa yang jumlahnya cukup melimpah di Indonesia. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental deskriptif kuantitatif dan kualitatif bertujuan untuk mengetahui pengaruh bukaan katup air dan variasi diameter nozzle terhadap kualitas nyala api yag ditinjau dari tinggi nyala api, temperatur nyala api, lama nyala api, dan warna nyala api. Obyek yang digunakan adalah gasifier tipe updraft. Variasi dilakukan dengan cara mengatur bukaan katup sebesar 70, 80, 90 pada tiap - tiap ukuran diamter nozzle sebesar 0,3 mm, 0,4 mm, 0,5 mm. Kemudian diamati bagaimana hasil kuantitatif dari tinggi nyala api, temperatur nyala api, lama nyala api, dan kualitatif warna nyala api. Hasil dari penelitian gasifikasi biomassa cangkang sawit didapatkan bahwa diameter nozzle 0,3 mm dan bukaan sudut katup 90 merupakan diameter lubang dan bukaan katup terbaik dengan temperatur api 383, lama nyala 12 menit, hasil kualitatif warna api didominasi dengan biru, sedangkan nyala api tertinggi dihasilkan dengan diameter nozzle 0,5mm dengan bukaan katup 70 yaitu sebesar 36cm. Kata kunci : nozzle, katup, cangkang sawit, biomassa
PENGARUH TEMPERATUR DAN WAKTU PENCELUPAN PADA PROSES HOT DIP GALVANIZING BAJA ST 41 BENTUK PLAT DAN SILINDER TERHADAP KETEBALAN PERMUKAAN HAIKAL AMIN, FIKRI; MAHENDRA SAKTI, ARYA
Jurnal Teknik Mesin Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Baja St 41 merupakan baja karbon rendah yang seringkali tidak ditunjang dengan sifat mekaniknya yaitu mudah aus dan korosif. Hal ini diperlukan perlindungan dengan cara melapisi menggunakan metode pelapisan hot dip galvanizing. Tujuan dari variasi temperatur dan waktu pencelupan pada proses hot dip galvanizing adalah untuk membandingkan hasil ketebalan lapisan dengan standar ISO 1461 : 1999, variasi temperatur yang digunakan adalah 420 °C dan 450 °C dan variasi waktu pencelupan sebesar 15, 30, dan 45 detik. Proses pencelupan ini dilakukan dengan melapisi baja St 41 dengan seng sebagai perlindungannya. Proses hot dip galvanizing adalah memanaskan seng hingga mencair kemudian celupkan baja St 41 sesuai temperatur dan waktu pencelupan yang diinginkan. Sebagai pendukung maka dilakukan uji ketebalan. Pada hasil pengujian ketebalan spesimen bentuk plat dengan temperatur 420 °C dan waktu pencelupan sebesar 15, 30, dan 45 detik sebesar 50,41 µm, 57,48 µm, dan 63,5 µm. Hasil nilai ketebalan spesimen bentuk silinder dengan temperatur 420 °C dan waktu pencelupan 15, 30, dan 45 detik sebesar 47,03 µm, 56,13 µm, dan 59,26 µm. Hasil ketebalan pada spesimen bentuk plat dengan temperatur 450 °C dan waktu pencelupan 15, 30, dan 45 detik sebesar 48 µm, 55,1 µm, dan 59,73 µm. Untuk nilai ketebalan spesimen silinder dengan temperatur 450 °C dan waktu pencelupan 15, 30, dan 45 detik sebesar 43,56 µm, 52,81 µm, dan 56,74 µm. Kesimpulan dari penelitian ini adalah semakin lama waktu pencelupan semakin tinggi nilai ketebalannya. Hasil ini sudah ada yang memenuhi batas rata-rata minimum standar ISO 1461 : 1999 yaitu sebesar 55 µm untuk bentuk plat dan 50 µm untuk bentuk silinder. Kata kunci : hot dip galvanizing, Baja St 41, temperatur pencelupan, waktu pencelupan, uji ketebalan.
PENGARUH VARIASI UKURAN WIREMESH STAINLESS STEEL PADA DIESEL PARTICULATE TRAP TERHADAP OPASITAS GAS BUANG MESIN ISUZU PANTHER TAHUN 2005 ROJIL GHUFRON, MOCHAMMAD; , WARJU
Jurnal Teknik Mesin Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada mesin diesel, besarnya emisi gas buang ditentukan dalam bentuk opasitas yang tergantung pada jumlah bahan bakar yang disemprotkan ke dalam silinder. Emisi partikel debu halus (partikulat) yang biasanya dihasilkan dari mesin diesel dengan kontribusi 50% memiliki dua dampak. Mengendap dalam sel paru-paru sehingga fungsinya terganggu dan menimbulkan flek hitam pada paru-paru. Oleh karena itu, diperlukan solusi untuk mengendalikan emisi gas buang mesin diesel konvensional. Salah satu teknologi yang bisa diterapkan adalah diesel particulate trap (DPT) yang dipasang pada saluran gas buang kendaraan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan pengaruh variasi ukuran wiremesh pada DPT terhadap opasitas gas buang mesin Isuzu Panther 2005. Jenis penelitian adalah penelitian eksperimen. Objek penelitian adalah mesin Isuzu Panther tahun 2005. Variabel bebas penelitian adalah ukuran wiremesh, yaitu ukuran 18, 20, dan 24. Variabel terikat adalah kadar opasitas gas buang. Standar pengujian opasitas gas buang mesin diesel berdasarkan SNI 19-7118.2-2005 yang berpedoman pada SAE-J1667. Hasil pengujian menunjukkan bahwa penggunaan DPT tipe wiremesh berbahan dasar stainless steel dengan variasi ukuran wiremesh stainless steel mampu mereduksi opasitas gas buang mesin Isuzu Panther tahun 2005. Penggunaan DPT dengan ukuran wiremesh 18 dapat mereduksi opasitas gas buang sebesar 78 %. DPT dengan ukuran wiremesh 20 dapat mereduksi opasitas gas buang sebesar 80 %. DPT dengan ukuran wiremesh 24 dapat mereduksi opasitas gas buang sebesar 82,2 %. Kata Kunci: Emisi gas buang, mesin diesel, opasitas, diesel particulate trap (DPT), wiremesh.
PENGARUH BENTUK BAJA PELAPISAN HOT DIP GALVANIZING TERHADAP LAJU KOROSI PADA BAJA ST 41 KHABIBULLAH, MUHAMMAD; MAHENDRA SAKTI, ARYA
Jurnal Teknik Mesin Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Baja St 41 termasuk baja karbon rendah karena memiliki kandungan karbon kurang dari 0,3%. Baja St 41 memilki keuletan dan ketangguhan yang baik, namun memilki ketahanan korosi yang kurang baik. Oleh karena itu perlu dilakukan treatment untuk memperbaiki ketahanan korosinya, salah satunya dengan cara hot dip galvanizing. Hot dip galvanizing merupakan proses pelapisan logam menggunakan logam zinc (seng) sebagai bahan pelapis untuk melindungi baja dari serangan korosi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa laju korosi pada baja St 41 yang telah dilapisi dengan cara hot dip galvanizing. Variasi yang digunakan dalam penelitian ini meliputi, waktu galvanizing 15 detik, 30 detik, dan 45 detik, waktu perendaman korosi 7 hari, 14 hari, dan 21 hari, media pengkorosif menggunakan air laut Sidoarjo dan air laut Gresik. Pengambilan data pada penelitian ini menggunakan metode kehilangan berat berdasarkan ASTM G31-72, media pengkorosif akan diuji salinitas, TDS, dan pHnya sebelum dan sesudah proses pengujian korosi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa waktu galvanizing, variasi waktu perendaman dan media pengkorosif mempengaruhi laju korosi pada baja St 41 yang telah digalvanizing. Laju korosi terbesar pada media pengkorosif air laut Gresik terjadi pada spesimen bentuk plat yang digalvanizing 15 detik dengan waktu perendaman 7 hari sebesar 0,4781 mmpy. Laju korosi terkecil pada media pengkorosif air laut Gresik terjadi pada pada spesimen bentuk selindris yang digalvanizing 45 detik dengan waktu perendaman 21 hari sebesar 0,2839 mmpy. Laju korosi terbesar pada media pengkorosif air laut Sidoarjo terjadi pada spesimen bentuk plat yang digalvanizing 15 detik dengan waktu perendaman 7 hari sebesar 0,4013 mmpy. Laju korosi terkecil pada media pengkorosif air laut Gresik terjadi pada pada spesimen bentuk selindris yang digalvanizing 45 detik dengan waktu perendaman 21 hari sebesar 0,2776 mmpy.Semakin lama waktu perendaman maka laju korosi semakin menurun. Semakin besar nilai salinitas, TDS, dan pH semakin asam pada media pengkorosif maka laju korosi semakin besar. Kata kunci: baja St 41, bentuk baja, media pengkorosif, waktu perendaman, laju korosi.
KARAKTERISTIK POMPA SENTRIFUGAL DENGAN BILAH BERALUR DALAM TIPE CLOSE IMPELLER PRAYOGI, DICKY; HERLAMBA SIREGAR, INDRA
Jurnal Teknik Mesin Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Jurnal Teknik Mesin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Performa dari pompa sentrifugal dapat dilihat dari efisiensi, head, NPSH dan kebisingan pompa. Performa pompa dipengaruhi oleh kecepatan motor, impeller dan temperature. Impeller merupakan salah satu komponen yang dapat meningkatkan performa dari pompa sentrifugal. Riblets merupakan sebuah alur dalam dari sebuah plat dimana riblets ini mampu mengurangi gaya drag dan meningkatkan gaya angkat sehingga pompa tersebut mampu mengangkat fluida yang lebih banyak dibandingkan menggunakan plat datar. Variabel bebas yang digunakan oleh penelitian ini adalah variasi alur dalam impeller, temperature dan putaran. Variasi alur dalam impeller adalah 8 sudu tanpa alur, sudu 8 alur datar dan sudu 8 alur sinusoidal. Variasi temperatur yang digunakan ialah 30 0C, 45 0C, dan 60 0C. Variasi putaran motor menggunakan 1500 rpm, 2000 rpm, dan 2500 rpm. Tipe impeller yang digunakan pada penelitian ini ialah tipe close impeller karena fluida yang digunakan adalah air bersih. Dalam penelitian yang dilakukan penambahan variasi alur dalam pada impeller mendapatkan hasil yang lebih baik pada kapasitas, head, NPSH dan efisiensi pompa. Untuk impeller sinusoidal didapatkan nilai tertinggi pada kapasitas, head, NPSH dan efisiensi yaitu 59 lpm, 14,75 m, 9,75 m dan 51,10 % yang didapatkan pada temperatur 30 oC, dan pada impeller alur lurus didapatkan kapasitas, head, NPSH dan efisiensi sebesar 58 lpm, 14,42 m, 9,75 m dan 51,16 %, sedangkan pada impeller polos memiliki kapasitas, head, NPSH dan efisiensi terendah yaitu 55 lpm, 14,39 m, 9,73 m dan 49,98 %. Kata Kunci: pompa sentifugal, impeller, riblets, NPSH dan efisiensi