cover
Contact Name
Sarifudin Andi Latif
Contact Email
nasyahmedikacare@gmail.com
Phone
+6282266072615
Journal Mail Official
nasyahmedikacare@gmail.com
Editorial Address
Bumi Findaria Mas 2 No 58. Moncongloe. Kabupaten Maros
Location
Kab. maros,
Sulawesi selatan
INDONESIA
JIKEN
Published by PT. Nasyah Medika Care
ISSN : 30476348     EISSN : 30476356     DOI : https://doi.org/10.1234/jiken.v1i1
Core Subject :
JIKEN: Jurnal Ilmu Kesehatan Nusantara is a peer-reviewed scientific journal that publishes original research articles, review articles, and case studies in the fields of nursing, midwifery, pharmacy, public health, medicine, health sociology, and other related health sciences. The journal is published by PT. Nasyah Medika Care, Indonesia. JIKEN is published three times a year, in April, August, and November, and welcomes manuscript submissions from academics, researchers, healthcare professionals, government institutions, and organizations engaged in research, science, and technology. All submitted manuscripts undergo a rigorous double-blind peer-review process conducted by independent reviewers and are evaluated by the Editorial Board before acceptance. Only original manuscripts that have not been previously published or submitted simultaneously to another scientific journal are considered for publication.
Arjuna Subject : -
Articles 15 Documents
HUBUNGAN PEKERJAAN DAN PENGETAHUAN IBU DENGAN PEMBERIAN IMUNISASI CAMPAK PADA BALITA USIA 9-24 BULAN Sri Wahyuni; Nasir Muna; Hikmawati
Jurnal Ilmu Kesehatan Nusantara Vol. 1 No. 1 (2024): Jurnal Ilmu Kesehatan Nusantara
Publisher : PT. Nasyah Medika Care

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.1234/jiken.v1i1.4

Abstract

Latar belakang : Indonesia merupakan salah satu dari 47 negara penyumbang kasus campak terbesar didunia. Penyakit campak di Indonesia menjadi masalah kesehatan yang harus ditangani karena kasusnya masih tinggi dan masih terdapat kejadian luar biasa (KLB).Kejadian luar biasa (KLB) pada campak terjadi apabila terdapat 5 atau lebih kasus klinis dalam waktu 4 minggu berturut-turut yang terjadi mengelompok dan adanya hubungan epidemiologis. Penyebaran kasus suspek campak hampir terdapat di seluruh provinsi. Pada tahun 2018 terdapat 8.429 kasus dengan 85 kasus KLB suspek campak, jauh lebih rendah dibandingkan tahun 2017 yaitu 15.104 kasus dengan 349 KLB. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan faktor Pekerjaan dan Pengetahuan Ibu dengan pemberian imunisasi campak pada balita usia 9-24 bulan. Metode : Jenis penelitian ini menggunakan metode Observasional Analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini yaitu semua ibu yang mempunyai balita usia 9-24 bulan sebanyak 120 Ibu dan Sampel 95 responden dengan teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah Sampling Insidental/Accidental Sampling. Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat dan bivariat menggunakan SPSS dengan taraf nilai Sig. <0.005. Hasil : Hasil uji Statistik Chi-square bahwa pekerjaan ibu (0,014<0,05) dan pengetahuan ibu (0,024<0,05) dengan pemberian imunisasi campak pada balita 9-24 bulan nilai. Kesimpulan : bahwa ada hubungan pekerjaan dan pengetahuan ibu dengan pemberian imunisasi campak pada balita 9-24 bulan. Hal ini diharapkan dapat berdampak kepada kesadaran responden apabila pengetahuannya meningkat, sehingga dapat memberikan imunisasi campak pada balita.
PENGARUH PENYULUHAN KESEHATAN PADA PELAYANAN KESEHATAN PEDULI REMAJA (PKPR) TERHADAP PENGETAHUAN REMAJA TENTANG SEKS PRA NIKAH Rika Riyandani; Asridawati Akib; Sri wahyuni
Jurnal Ilmu Kesehatan Nusantara Vol. 1 No. 1 (2024): Jurnal Ilmu Kesehatan Nusantara
Publisher : PT. Nasyah Medika Care

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.1234/jiken.v1i1.5

Abstract

Latar belakang : Menurut data BKKBN diktehui bahwa separuh dari 63 juta jiwa remaja berusia 10 sampai 24 tahun di Indonesia rentan berperilaku tidak sehat. Salah satu yang paling menonjol di kalangan remaja saat ini, adalah masalah seksualitas (hamil di luar nikah, aborsi, terinfeksi penyakit menular seksual) serta penyalahgunaan narkoba. Oleh karena adanya perilaku tersebut, maka masalah kesehatan yang dihadapi remaja di Indonesia antara lain meningkatnya jumlah remaja dengan HIV/AIDS, Infeksi Menular Seksual (IMS), kehamilan tidak diinginkan (KTD) dan penyalahgunaan NAPZ. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kegiatan penyuluhan dalam pelayanan kesehatan peduli remaja (PKPR) terhadap pengetahuan remaja tentang seks pranikah. Metode : Jenis penelitian ini menggunakan Penelitian Kuantitatif, Desain penelitian ini adalah quasi experiment (eksperimen semu), dengan pendekatan one group pretest- posttest. Total Populasi dalam penelitian kelompok intervensi 16 orang dan kelompok control 16 orang dengan total sampel 32 remaja dan Sampel sebanyak 32 remaja usia 10-18 tahun dengan teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah Total Sampling. Analisis data yang digunakan untuk Uji Hipotesis yaitu uji Mann-Whitney dengan nilai Sig. < 0.05. Hasil : Hasil uji Mann-Whitney saat dilakukan post-test untuk kelompok intervensi dan kelompok kontrol diperoleh nilai p sebesar 0,001 (p<0.05).. Kesimpulan : ada pengaruh pelayanan kesehatan peduli remaja (PKPR) terhadap pengetahuan remaja tentang seks pranikah. diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui pengaruh penyuluhan dengan jumlah sampel yang lebih banyak.
ANALISIS FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN TERJADINYA KEJADIAN DISPEPSIA PADA MAHASISWA TINGKAT AKHIR Sarifudin Andi Latif; Sahdan Mustari; Muhammad Syafri; Adi Hermawan
Jurnal Ilmu Kesehatan Nusantara Vol. 1 No. 1 (2024): Jurnal Ilmu Kesehatan Nusantara
Publisher : PT. Nasyah Medika Care

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.1234/jiken.v1i1.6

Abstract

Latar belakang : Pada mahasiswa khususnya penderita dispepsia fungsional dapat menimbulkan gejala-gejala yang sangat mengganggu aktivitas sehari-hari. Dalam survey mengatakan bahwa terdapat lebih dari 50% penderita dispepsia yang bergantung pada obat dan sekitar 30% penderita dispepsi lebih memilih libur atau tidak masuk dari pekerjaan ataupun sekolah karena keluhan yang diderita dari gejala dispepsia tersebut. Terjadinya gejala-gejala dispepsia disebabkan oleh beberapa proses patofisilogi yaitu sekresi asam lambung dismotilitas gastrointestinal, infeksi helicobacter plori, hipersensitivitas visceral, disfungsi otonom, psikologis, pola makan, dan faktor lingkungan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan terjadinya kejadian dispepsia pada mahasiswa tingkat akhir. Metode : Penelitian yang dilakukan ini menggunakan rancangan penelitian cross sectional pendekatan retrospektif. Studi cross sectional merupakan suatu observasional (non-eksperimental). Penelitian ini telah dilakukan di STIKES Amanah Makassar. Total sampel dalam penelitian yaitu 87 responden dengan teknik Total Sampling. Data yang diperoleh selanjutnya akan di rekapitulasi dengan menggunakan SPSS dan jika didapatkan data normal maka analisis data menggunakan Chi-Square jika P> 0,05. Hasil : hasil analisis data dengan menggunakan uji chi-square (x²) pada kemaknaan 95% (α 0,05) dengan bantuan SPSS, maka diperoleh nilai Pearson Chi-Square adalah Pola Makan sebesar (0,012) dan Stres sebesar (0.004). Berdasarkan hasil Pengujian dapat dilihat bahwa nilai p yang diperoleh lebih kecil dari α (0,05). Kesimpulan : terdapat hubungan Pola Makan dengan Kejadian Dispepsia pada mahasiswa akhir dan terdapat hubungan stress dengan Kejadian Dispepsia pada mahasiswa akhir.
ANALISIS HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN KECEMASAN DENGAN MEKANISME KOPING PADA PASIEN JANTUNG Samila; La Ode Asrianto; Yenny Sima
Jurnal Ilmu Kesehatan Nusantara Vol. 1 No. 1 (2024): Jurnal Ilmu Kesehatan Nusantara
Publisher : PT. Nasyah Medika Care

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.1234/jiken.v1i1.7

Abstract

Latar belakang : Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki risiko kematian prematur yang tinggi, penyakit tidak menular diperkirakan 75% sebagai penyebab kematian dari semua kematian, sebanyak 35% proporsi kematian disebabkan oleh penyakit kardiovaskular. Selanjutnya WHO memperkirakan setiap tahun angka kematian akibat penyakit kardiovaskular akan terus mengalami peningkatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk untuk mengidentifikasi hubungan pengetahuan dan tingkat kecemasan terhadap mekanisme coping pada pasien jantung. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain penelitian korelasional dengan sampel 38 pasien jantung, instrument yang digunakan adalah kuesioner. Data tersebut di analisis menggunakan uji korelasi Kendall’s tau_b dengan nilai taraf signifikansi 0.05. Hasil : Hasil uji korelasi Kendall’s tau_b dalam penelitian ini menunjukan hasil pengetahuan X1 (0.000 < 0.05), dan kecamasan X2 (0.002 < 0.05). Kesimpulan : ada hubungan pengetahuan dan kecemasan dengan mekanisme koping pada pasien jantung. Diharapkan bagi instansi rumah sakit untuk melaksanakan program edukasi yang lebih menambah pengetahuan keluarga klien tentang penyakit jantung sehingga keluarga mampu mengelolah kecemasan, sehingga tidak terjadi kesalahan dalam memberikan informasi kepada pasien.
STATUS EKONOMI, POLA MAKAN DAN SIKAP ORANG TUA DENGAN STATUS GIZI PADA BALITA UMUR 1-5 TAHUN La Ode Swardin; La Ode Asrianto; Amrun
Jurnal Ilmu Kesehatan Nusantara Vol. 1 No. 1 (2024): Jurnal Ilmu Kesehatan Nusantara
Publisher : PT. Nasyah Medika Care

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.1234/jiken.v1i1.8

Abstract

Latar belakang : Organisasi Kesehatan Dunia melaporkan bahwa tingkat stunting anak di seluruh dunia turun dari 32,5% menjadi 21,9% pada tahun 2018. Namun, 49 juta anak di bawah usia lima tahun kekurangan vitamin dan hampir 17 juta kekurangan gizi pada tahun 2018. Malnutrisi tertinggi di sebagian benua Afrika dan sebagian benua Asia Selatan. Di Asia Tenggara, banyak anak balita stunting dan kekurangan gizi. Pada tahun 2017, angka stunting dan malnutrisi pada anak di daratan Asia Tenggara adalah 16-44% untuk stunting, 9-26% untuk malnutrisi, dan 6-13% untuk malnutrisi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan status ekonomi, pola makan dan sikap orang tua dengan status gizi balita umur 1-5 tahun. Metode : Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif analitik. Populasi sebanyak Semua 96 orang tua di wilayah Puskesmas Katobengke Kota Baubau yang memiliki balita berusia 1 hingga 5 tahun. Pengambilan sampel menggunakan teknik Total sampling dan sampel sebanyak 96 responden. Pengumpulan data melalui data primer yaitu kuisioner dan data sekunder. Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat dan bivariat dengan uji chi square. Hasil : Hasil penelitian dengan uji chi square menunjukkan bahwa ada hubungan antara status ekonomi orang tua (p-value=0.045<0,05), pola makan (p-value=0,045<0,05) dan sikap p-value=0,002<0,05) dengan status balita yang berusia 1-5 tahun. Kesimpulan : ada hubungan Status ekonomi, Pola Makan dan Sikap dengan status balita yang berusia 1-5 tahun. Diharapkan bagi orang tua Hendaknya memenuhi kebutuhan nutrisi anaknya dan mengikuti kegiatan Posyandu setiap bulan untuk melihat perkembangan status gizi.
The Relationship Between Husband's Support and Pregnant Women's Adherence to Antenatal Care Visits Sri Wahyuni; Ria Wahyuni
Jurnal Ilmu Kesehatan Nusantara Vol. 1 No. 2 (2024): Jurnal Ilmu Kesehatan Nusantara
Publisher : PT. Nasyah Medika Care

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.1234/jiken.v1i2.43

Abstract

Background: Husband's support plays a crucial role in promoting maternal health behaviors, particularly adherence to antenatal care (ANC) visits, which are essential for preventing pregnancy-related complications and improving maternal and neonatal outcomes. However, inadequate family support remains a barrier to regular ANC utilization among pregnant women in Indonesia. Identifying the relationship between husband's support and adherence to ANC visits is important for developing family-centered maternal health interventions. Research Objective: This study aimed to determine the relationship between husband's support and pregnant women's adherence to antenatal care visits in Makassar City, Indonesia. Methods: This analytical observational study employed a cross-sectional design. A total of 31 pregnant women were recruited using a total sampling technique. Data on respondents' characteristics, husband's support (emotional, informational, instrumental, and appraisal support), and adherence to antenatal care visits were collected using a structured questionnaire. Data were analyzed using descriptive statistics and the Chi-square test with a significance level of p < 0.05. Results: Most respondents were aged 20–35 years (74.2%), had a high educational level (67.7%), and received good husband's support (64.5%). Furthermore, 67.7% of pregnant women adhered to the recommended antenatal care schedule. Bivariate analysis revealed a statistically significant relationship between husband's support and adherence to antenatal care visits (p = 0.001). Pregnant women who received good husband's support demonstrated a higher level of adherence to ANC visits than those who received poor support. Conclusion: Husband's support was significantly associated with pregnant women's adherence to antenatal care visits. Strengthening family-centered antenatal care through active husband involvement in maternal health education and counseling is essential to improve adherence to recommended ANC services and contribute to better maternal and neonatal health outcomes.
Association Between Quality Management Implementation and Inpatient Satisfaction: A Cross-Sectional Study Irwan; Mahar Muharram Hamzah Assabrum Malik
Jurnal Ilmu Kesehatan Nusantara Vol. 1 No. 2 (2024): Jurnal Ilmu Kesehatan Nusantara
Publisher : PT. Nasyah Medika Care

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.1234/jiken.v1i2.44

Abstract

Background: Quality management is an essential component of healthcare delivery that aims to improve service quality, patient safety, and organizational performance. Effective implementation of quality management is expected to enhance patient satisfaction, particularly in inpatient services at primary healthcare facilities. Identifying the relationship between quality management implementation and inpatient satisfaction is important for developing strategies to improve healthcare quality and patient-centered services. Research Objective: This study aimed to determine the relationship between quality management implementation and inpatient satisfaction at Antang Public Health Center, Makassar, Indonesia. Methods: This analytical observational study employed a cross-sectional design. A total of 22 inpatients were recruited using a purposive sampling technique. Data on quality management implementation and inpatient satisfaction were collected using structured questionnaires. Data were analyzed using descriptive statistics and the Chi-square test with a significance level of p < 0.05. Results: Most respondents perceived the implementation of quality management as good (68.2%), while 72.7% reported being satisfied with inpatient services. Bivariate analysis revealed a statistically significant relationship between quality management implementation and inpatient satisfaction (p = 0.003). Respondents who perceived good quality management implementation demonstrated a higher level of satisfaction than those who perceived poor implementation. Conclusion: Quality management implementation was significantly associated with inpatient satisfaction at Antang Public Health Center, Makassar. Strengthening leadership commitment, continuous quality improvement, adherence to standard operating procedures, and patient-centered care is essential to improve healthcare quality and enhance patient satisfaction in primary healthcare settings.
Association Between Parental Knowledge and Compliance with Complete Basic Immunization Among Children Under Five Samila; Kurniawati
Jurnal Ilmu Kesehatan Nusantara Vol. 1 No. 2 (2024): Jurnal Ilmu Kesehatan Nusantara
Publisher : PT. Nasyah Medika Care

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.1234/jiken.v1i2.45

Abstract

Background: Complete basic immunization is one of the most effective public health interventions for preventing vaccine-preventable diseases among children under five. However, parental compliance with the recommended immunization schedule remains a challenge, particularly due to differences in parents' knowledge regarding childhood immunization. Identifying the association between parental knowledge and immunization compliance is essential for developing effective health education and immunization promotion strategies. Research Objective: This study aimed to determine the association between parental knowledge and compliance with complete basic immunization among children under five in the working area of Antang Primary Health Center, Makassar, Indonesia. Methods: This analytical observational study employed a cross-sectional design. A total of 31 parents of children under five were recruited using a total sampling technique. Parental knowledge was assessed using a structured questionnaire, while compliance with complete basic immunization was verified through the Maternal and Child Health Handbook and immunization records. Data were analyzed using descriptive statistics and the Chi-square test with a significance level of p < 0.05. Results: Most respondents had good knowledge regarding complete basic immunization (58.1%), while 74.2% complied with the recommended immunization schedule. Bivariate analysis revealed a statistically significant association between parental knowledge and compliance with complete basic immunization (p = 0.006). Parents with good knowledge demonstrated a higher level of compliance with the national immunization schedule than those with moderate or poor knowledge. Conclusion: Parental knowledge was significantly associated with compliance with complete basic immunization among children under five. Strengthening health education and family-centered health promotion programs at primary healthcare facilities is essential to improve parental knowledge, increase immunization coverage, and reduce the incidence of vaccine-preventable diseases among children
Association Between Nutritional Status and Anemia Among Adolescent Girls Nur Ekawati; Nelly Nugrawati
Jurnal Ilmu Kesehatan Nusantara Vol. 1 No. 2 (2024): Jurnal Ilmu Kesehatan Nusantara
Publisher : PT. Nasyah Medika Care

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.1234/jiken.v1i2.46

Abstract

Background: Anemia remains one of the most common nutritional problems among adolescent girls, particularly in developing countries. Poor nutritional status during adolescence increases the risk of iron deficiency and anemia due to rapid growth, increased nutritional demands, and menstrual blood loss. Identifying the association between nutritional status and anemia is essential for developing effective prevention strategies. Research Objective: This study aims to determine the association between nutritional status and the incidence of anemia among adolescent girls in Makassar, Indonesia. Methods: This analytical observational study employed a cross-sectional design. A total of 41 adolescent girls aged 15–19 years were recruited using purposive sampling. Nutritional status was assessed using Body Mass Index-for-Age (BMI/A) based on the World Health Organization growth standards, while anemia status was determined by measuring hemoglobin concentration using a portable digital hemoglobin analyzer. Data were analyzed using descriptive statistics and the Chi-square test with a significance level of p < 0.05. Results: Most respondents had normal nutritional status (56.1%), while 22.0% were underweight and 22.0% were overweight or obese. The prevalence of anemia was 41.5%. Bivariate analysis revealed a statistically significant association between nutritional status and anemia (p = 0.021). Adolescent girls with underweight nutritional status had a higher prevalence of anemia than those with normal nutritional status. Conclusion: Nutritional status was significantly associated with anemia among adolescent girls. Maintaining optimal nutritional status through balanced dietary intake, routine nutritional assessment, and regular anemia screening is essential to reduce anemia prevalence and improve adolescent health. These findings provide evidence for strengthening school-based nutrition education and anemia prevention programs.
Association Between Toothbrushing Frequency and Oral Hygiene Status Among University Students Febi Magfirah; St.Nur Eni; Astri Annur Qalbi
Jurnal Ilmu Kesehatan Nusantara Vol. 1 No. 2 (2024): Jurnal Ilmu Kesehatan Nusantara
Publisher : PT. Nasyah Medika Care

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.1234/jiken.v1i2.47

Abstract

Background: Oral hygiene is an essential component of overall health, and regular toothbrushing is the primary preventive measure for maintaining oral cleanliness and preventing dental diseases. However, inadequate toothbrushing practices remain common among university students, potentially resulting in poor oral hygiene. Understanding the relationship between toothbrushing frequency and oral hygiene status is important for developing effective oral health promotion programs among future healthcare professionals. Research Objective: This study aimed to determine the association between toothbrushing frequency and oral hygiene status among students of STIKES Amanah Makassar. Methods: This analytical observational study employed a cross-sectional design involving 42 students selected through purposive sampling. Toothbrushing frequency was assessed using a structured questionnaire and categorized as less than twice daily or at least twice daily. Oral hygiene status was evaluated through clinical examination using the Oral Hygiene Index-Simplified (OHI-S). Descriptive statistics were used to summarize respondent characteristics, while the Chi-square test was applied to examine the association between toothbrushing frequency and oral hygiene status with a significance level of p < 0.05. Results: Most respondents brushed their teeth at least twice daily (66.7%) and had a fair oral hygiene status (47.6%). Students who brushed their teeth at least twice daily showed a higher proportion of good oral hygiene (46.4%) than those who brushed less frequently. The Chi-square test revealed a statistically significant association between toothbrushing frequency and oral hygiene status (p = 0.008). Conclusion: Toothbrushing frequency was significantly associated with oral hygiene status among students of STIKES Amanah Makassar. Promoting regular toothbrushing accompanied by proper brushing techniques and routine oral health education may improve oral hygiene and reduce the risk of oral diseases among university students.

Page 1 of 2 | Total Record : 15