cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Solah
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 234 Documents
LAGU TERBANGLAH GARUDAKU ARANSEMEN MUSAFIR ISFANHARI SYABILA AYU TRESNA, TIRA
Solah Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lagu anak-anak yang semakin jarang terdengar dan sangat kurang dipublikasikan sudah menjadi hal umum. Terlebih lagi kemajuan teknologi seperti media sosial membuat anak-anak bebas mengakses lagu dewasa yang menceritakan kisah percintaan sehingga anak tidak mendengarkan lagu sesuai dengan usianya. Hal ini memberikan dampak negatif bagi anak diantaranya, bisa mempengaruhi cara berpikir dan perilaku anak. Selain itu penghayatan isi lagu bisa menghambat perkembangan karakter positif pada anak serta bisa berdampak pada timbulnya gejolak psikis. Salah satu faktor yang mendasari fenomena hilangnya lagu anak-anak saat ini diantaranya ialah media sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan mengamati teknik mengaransemen lagu Terbanglah Garudaku oleh Musafir Isfanhari. Teknik pengumpulan data ini berdasarkan wawancara semi terstruktur untuk memecahkan permasalahan atau peristiwa yang diketahui hingga dukungan data dokumentasi serta catatan lapangan dari hasil wawancara. Bentuk lagu Terbanglah Garudaku merupakan bentuk 3 bagian, diantarnya bagian 1 dimulai dari birama Bagian I ( Bar 1-8 )Terdiri dari kalimat A dan BBagian II ( Bar 9-14) Terdiri dari kalimat C dan D Bagian III (Bar 15-32) Terdiri dari kalimat A?, B?, dan coda. Dalam proses aransemen lagu Terbanglah Garudaku sangatlah sederhana komposer sangat memperhatikan tentang elemen-elemen, yang terdapat pada aransemen, seperti Filler, yang digunakan merupakan Dead Spot Filler dan Tail in Filler pada birama 17 hingga 18, Counter Melody birama 1 sampai dengan birama 8, suara 1 dan suara , Rhytmic variations and fake dari lagu Terbanglah Garudaku, terjadi pada birama 16-18 dan pada birama 20-21, obligato dari lagu Terbanglah Garudaku, terjadi pada birama 24 hingga 32, Rhytmic variations and fake dari lagu Terbanglah Garudaku, terjadi pada birama 16-18 dan pada birama 20-21, Melodic Variation and Fake dari lagu Terbanglah Garudaku, terjadi pada birama 16 ? 18 serta 20 dan 21.
“PIONEER”: SEBUAH KOREOGRAFI ANALOGI PION DALAM PERMAINAN CATUR INDHON MARDHIKA, AYOGA
Solah Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Catur merupakan permainan yang dimainkan oleh dua orang yang saling beradu strategi dengan mengkolaborasikan berbagai macam jenis bidak untuk mengalahkan raja lawan sekaligus bertahan melindungi raja dari serangan lawan. Pada koreografi ini berpusat pada bidak pion yang memiliki ciri keterbatasan gerak. Dari aturan gerak pion dalam permainan catur, dapat menjadi sebuah motivasi gerak simbolis yangdivisualisasikan kedalam seni pertunjukan. Fokus karya sangatlah penting bagi koreografer dalam struktur perencanaan penggarapan pengkaryaan. Fokus karya juga membantu koreografer menjadi lebih tertata dalam mewujudkan bentuk karya sesuai dengan tema yang diangkat. Proses penciptaannya menggunakan metode konstruksi kemudian divisualisasikan kedalam sajian bentuk tari dramatik. Karya tari ?Pioneer? berfokus pada perwujudan dua bidak pion dalam permaian catur, keduanya saling menyerang dan bertahan dengan menggunakan aturan permainan catur. Karya tersebut ditampilkan oleh dua penari di panggung prosenium dengan memberikan konsep suasana papan catur dengan dekorasi yang unik. Karya tari Pioneer merupakan karya tari yang berangkat dari gagasan ide koreografer. Dengan menganalisa setiap geraknya, koreografer tertarik dengan tiga aturan langkah pion. Kemudian dengan cara mengamati, membaca, dan berdiskusi, metode tersebut digabung untuk mendapatkan fokus serta tema yang tepat. Kemudian proses konsep yang akhirnya digunakan sebagai acuan pembuatan karya tari. Kata Kunci: Analogi, Pion, Pioneer
BENTUK LAGU PARIS BARANTAI ARANSEMEN KEN STEVEN NUR SAKINAH, FIRDA
Solah Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lagu Paris Barantai ini merupakan lagu berasal dari Kalimantan yang isinya menggunakan bahasa Banjar, Kalimantan. Lagu ini ciptaan Alm. H. Anang Ardiansyah yang merupakan golongan ( lagu daerah / lagu wajib daerah). Lagu yang dibahas pada jurnal ini merupakan lagu Paris Barantai yang diaransemen oleh Ken Steven. Pada lagu yang di tulis dengan bahasa banjar ini merupakan lagu yang menceritakan tentang kerinduan pada seseorang yang lama terpendam dan tidak ingin terpisahkan. Sementara lagu ini juga bercerita tentang Kotabaru, sebuah tempat yang menjadi pertemuan sepasang kekasih yang saling jatuh cinta tersebut. Lagu ini merupakan musik programatik yang dimainkan dalam bentuk paduan suara choir. Dapat disimpulkan lagu ini memiliki bentuk lagu tiga bagian yaitu A B A?. Pada partitur lagu Paris Barantai terdapat beberapa section suara, masing-masing memiliki range yang berbeda-beda. Berikut adalah range suara pada partitur lagu Paris Barantai di setiap sectionnya. Sopran ( E1-A2 ), Alto ( D1-A1 ), Tenor (E1-E2), dan Bass ( D1- F2 ). Kata Kunci : Paris Barantai, Paduan suara, Bentuk Musik
KARYA MUSIK “KONVERSI #” DALAM TINJAUAN VARIASI MELODY DEFRY AGUS MAULANA, ACHMAD
Solah Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebuah nada menempati wilayah yang lebih luas dalam otak kita dibandingkan bahasa.Adapun nada yang mengikat pada pikiran kita sampai kedalam imajinasi sehingga munculah suatu ide untuk menciptakan karya musik. Karya musik ini merupakan hasil dari proses penciptaan musik dengan metode mengkonversi nada Slendro yang ada pada alat musik Saronenmenjadi sebuah bangunan komposisi. Dari fenomena tersebut maka terciptalah karya musik yang berjudul ?Konversi #?. Karya ini menggunakan bentuk penyajian Big Band dengan instrumen alto saxophone, tenor saxophone, trombone, trumpet, drum set, electric guitar, bass guitar, tong, patrol, tamborine, ceng-ceng dan ketuk. Dari beragam bentuk musik saat ini, setiap penikmat musik memiliki substansi untuk memahami musik yang didengarnya.Keragaman intelektual, emosi dan lingkungan menciptakan perbedaan substansi dalam memahami musik itu sendiri.Penulisan karya musik ?Konversi #? difokuskan pada tinjauan variasi melodi. Karya musik ?Konversi #? merupakan hasil dari proses penciptaan musik dengan metode mengkonversi nada Slendro yang ada pada alat musik Saronenmenjadi sebuah bangunan komposisi dengan menggunakan bentuk sajian Big Band. Karya musik ini merupakan jenis karya musik absolut yang mengkonversi laras slendro dalam tangganada pentatonik dengan durasi 6 menit dan total birama 128. Karya ini menggunakan fokus variasi melodi sebagai pengembangan variasi meoldi dalam setiap bagian.Variation atau variasi merupakan pengulangan sebuah lagu induk yang biasanya disebut tema dengan perubahan-perubahan (variasi) yang tetap mempertahankan unsur tertentu dan menambah atau mengganti unsur lain. Karya musik ?Konversi #? menggunakan beberapa teknik variasi melodi, yaitu; variasi Melodic Variation and Fake, variasi Rhytmic Variation and Fake, variasi Counter Melody dan variasi Dead Spot Filler. Dalam karya musik ini pula terdapat 128 birama dengan disertai beberapa macam tempo, yaitu; Rubato, allegro, Maestoso, 110bpm, dan 100bpm. Karya musik ?Konversi #? disajikan dalam format Big Band dengan jumlah pemusik 16 orang. Karya musik ini total memiliki 130 birama dengan tangga nada D mayor dengan modulasi ke Bb mayor lalu terakhir modulasi pada tangga nada C mayor. Sukat yang digunakan antara lain 4/4 dengan tempo Allegreto, Maestoso, dan Moderato. Kata kunci: Konversi #, Variasi Melody
KARYA MUSIK “FELICE ” DALAM TINJAUAN ORKESTRASI ABEDNEGO KURNIAWAN, ALVANDI
Solah Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Matius 27:27?56 yang menceritakan Tuhan Yesus sebagai sikap heroik karya penebusan dosa buat umatnya yang harus menderita dibawa siksaan Pontius Pilatus dan mati disalibkan. Dari fenomena tersebut komposer mengungkapkan suasana hati yang dirasakan melalui karya musik ?Felice?. Karya ini menggambarkan betapa besar kasih Yesus terhadap umatnya dan rasa bangga umatnya karena telah memiliki Tuhan seperti Yesus. Kata ?Felice?merupakan ungkapan rasa syukur terhadap Tuhan. Konsep karya musik yang dipilih komposer merupakan penemuan sebuah kebahagiaan di dunia maupun diakhirat karena pengorbanan karya penebusan Yesus Kristus atas dosa-dosa umatnya nasrani.Tidak hanya penemuan dalam cerita yang terkandung, namun juga menemuan melodi?melodi baru yang belum pernah didengar oleh komposer sebelumnya. Sehingga komposer memilih kata ?Felice? untuk mewakili baik ide gagasan dan konsep kekaryaan musik. Secara keseluruhan, komposisi pada karya ?Felice? terdiri dari tiga bagian yaitu bagain pertama, bagian kedua, dan bagian ketiga dengan total durasi 7 menit. Tempo yang digunakan pada karya musik ini yaitu adagio, tempo 110. Tangga nada yang digunakan pada karya musik ini yaitu Dm dengan sukat 4/4, 6/4. Instrumen yang digunakan yaitu violin 1, violin2, viola, cello, contrabass, bass electric, snare, bass drume, cymbal, flute, alto saxophone, tenor saxophone, trumpet, trombone, triangle, tubular bells, kemplang, paduan suara. Karya musik tersebut ditinjau dari ambitus, timbre, pemilihan instrumentasi,teknik, dinamika, dan penerapan aransemen karya. Berdasarkan hasil penciptaan dan deskripsi simpulan yang dibahas mengenai karya musik ?Felice?dalam format orkestra dengan peletakan instrument sesuai kemampuan masing-masing. Semoga yang telah tersampaikan dari karya music ?Felice?bisa menjadi referensi yang menarik, menambah wawasan dan pengetahuan serta dapat membawa perubahan yang positif. Kata kunci: Kata Kunci :Orkestrasi, Orkestra, Felice
VISUALISASI GENERASI MENUNDUK DALAM BENTUK PERTUNJUKAN DANCE THEATER PADA KARYA “PARADOKS” SETIAWAN, AGUS
Solah Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada karya dengan judul Paradoks, penulis yang sekaligus menjadi koreografer mengangkat fenomena paradoks yang terjadi di tengah masyarakat yaitu masyarakat yang merubah kebiasaannya menjadi menunduk karena ketergantungan dengan gadget. Kebiasaan itu disebut dengan generasi menunduk. Paradoks merupakan penyataan yang seolah-olah bertentangan dengan pendapat umum atau kebenaran atau bersifat kontradiksi tetapi kenyataannya mengandung kebenaran. Fokus pada karya ini adalah paradoks tentang generasi menunduk yang nantinya akan divisualisasikan menjadi sesuatu yang baru dari bentuk penyajiannya dan dikemas dalam bentuk pertunjukan dance theater. Hasil penciptaan relevan, terinspirasi dari karya ?Paradox? koreografer Rizza Ahmad dan Mirna Arfianti. Pendekatan pada karya tari Paradoks menggunakan metode kontruksi. Penafsiran koreografer terhadap paradoks yang terjadi di masyarakat tentang generasi menunduk, dianjutkan pada tahap proses kreatif, diantaranya ekplorasi, improvisasi, analisis, evaluasi dan finishing. Karya Paradoks menggunakan mode penyajian representatif dan simbolis menurut Ben Suharto yaitu pengungkapan mempresentasikan bentuk asli objek yang dijadikan ide. Dari hasil karya ini dapat disimpulkan bahwa dari fokus yang terpilih, koreografer berharap untuk semua penikmat agar dapat belajar dari sebuah objek sederhana, dari hal kecil menjadi besar, dari yang susah menjadi mudah dan mengembangkan pemikiran serta penafsiran sesuatu yang berdasar pada ide gagasan yang menimbulkan sebuah kreatifitas dalam memaknai hal-hal dalam kehidupan.
ANALISIS TEKNIK DALAM LAGU ROMANCE DE AMOUR PADA INSTRUMEN GITAR KLASIK Aji, Ighbal Wulung Distya
Solah Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Romance de Amour termasuk karya yang populer di kalangan gitaris klasik. Lagu ini telah dimainkan gitaris ternama, antara lain David Russel dan Julian Bream. Tidak semua gitaris klasik mampu memainkan lagu tersebut dengan baik, hal ini disebabkan banyak teknik yang harus dikuasai untuk memainkan lagu ini, diantaranya teknik melodi yang seharusnya terdengar lebih dominan, teknik perpindaham akord yang membutuhkan kecepatan, dan  power yang kuat dalam menghasilkan nada yang baik. Seorang gitaris yang kurang dalam skill dan pengetahuan teknik memainkan Romance de Amour, akan mengalami kesulitan dalam memainkan lagu tersebut di bagian-bagian tertentu. Berdasarkan kajian karya Romance de Amour tersebut, sangat diperlukan pemahaman mengenai teknik permainan gitar untuk para gitaris klasik. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Untuk mengetahui penerapan analisis teknik pada lagu Romace de Amour agar melodi utama terdengar lebih dominan. (2) Untuk mengetahui penanggulangan perpindahan akord agar tidak mengurangi notasi yang ada. . Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian deskriptif kualitatif. Lokasi penelitian di kota Surabaya, Jawa Timur, dengan objek penelitian lagu Romance de Amour. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi partisipatif, teknik analisis data yang digunakan antara lain reduksi data, penyajian data teks yang naratif, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi.Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat diketahui bahwa bahwa lagu Romance de Amour memliki tiga bagian yaitu A-B-C, dengan dengan 4 tema pokok, yaitu tema I, tema II, tema III dan ,tema IV, serta beberapa pengulangan untuk memasuki tangga nada baru. Tema yang terdapat dalam lagu ini merupakan bagian-bagian dari pengembangan motif. Motif-motif tersebut dapat digunakan untuk menunjang teknik permainan yang dianggap sulit untuk dapat meminkan lagu Romance de Amour. Selain posisi penjarian yang sulit, terdapat teknik lain yang sulit dalam lagu Romance de Amour, seperti: (1) speed/kecepatan, merupakan salah bagian yang penting, terutama pada bagian A dalam karya tersebut dimainkan dengan tempo allegro moderato dan banyaknya nada triol muncul diawal lagu hingga akhir lagu. (2) power/kekuatan, untuk dapat memainkannya seseorang harus memperhatikan ketepatan tangan kiri agar sentuhan  ringan yang dilakukan tangan kanan dapat menghasilkan suara yang baik dan jelas dengan power yang maksimal dan perlu diperhatikan karena gitar klasik tidak menggunakan pengeras suara.  (3) tone colour/warna suara, juga perlu diperhatikan agar pembagian suara lebih jelas, sehingga karya tersebut dapat disampaikan dengan baik sesuai notasi/petunjuknya.Kata Kunci: Analisis, Teknik Permainan Gitar Klasik
VISUALISASI POST-TRAUMATIC STRESS DISORDER PADA TIPE TARI DRAMATIK DALAM KARYA “TRAFFICK” PUTRI NOVIANTI, ARISTA
Solah Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karya tari Traffick berawal dari latar belakang obyekPost Traumatic Stress Disorder (PTSD) yang disebabkanHuman Trafficking. Hal inimembuatkoreograferinginmengangkatnyasebagaisebuah ide gagasanuntukmenciptakansuatukarya. Koreografer mengungkap keadaan psikologis korban PTSD menjadi sesuatu yang baru dari bentuk penyajiannya dan dikemas dalam bentuk pertunjukan tari dramatik. Karya tari Traffick ini mempunyai 2 variabel isi dan bentuk. Variabel isi berupa dampak psikologis korban PTSD dan variabel bentuk berupa tipe dramatik. Penciptaan karya tari Traffick yaitu sebagai wujud realisasi dari ide koregrafer dan Untuk bentuk pendeskripsian, mengkaji dan menganlisa dari karya tari ?Traffick?. Sehingga karya tari ini tidak hanya dipahami oleh visual namun juga tersaji jelas secara teori. Metode yang digunakan adalah metode kontruksi oleh Jacqluline Smith sebagai acuan dan pijakan untuk membuat karya tari Traffick ini.Tari dengan judul Traffick menggunakan tipe tari dramatik. Struktur pada karya tari ini terdapat pada penguatan suasana dalam per adegan, selain itu juga mendapat riasan busana, dengan rias natural dan busana yang sesuai dengan tema karya. Melalui media seperti halnya tata rias dan busana, pola lantai, tata pentas cahaya, karya tari Traffick menjadi karya yang dinamis dengan menunjukan alur cerita dan suasana yang ingin disampaikan koreografer kepada penonton. Koreografer berharap karya tari Traffick dapat menjadi dorongan para seniman lain untuk menciptakan karya yang lebih baik dan punya nilai sosial maupun edukasi yang bermanfaat untuk penonton. Kemudian berproses dengan cara ekplorasi tubuh secara matang sehingga bentuk- bentuk yang belum pernah dijumpai atau bahkan yang dirasa sulit untuk diterapkan akan mudah dan biasa dilakukan, serta meningkatkan kepekaan terhadap masalah atau fenomena sekitar untuk dapat dijadikan karya yang lebih kreatif tanpa menghilangkan identitas mereka masing-masing. Koreografer juga berharap masyarakat bisa lebih peka terhadap masalah sosial apalagi tentang psikologis yang sangat rentan.
KARYA MUSIK ALAINN DALAM TINJAUAN ARANSEMEN AHSIN MAULANA, MUHAMMAD
Solah Vol 6, No 1 (2016):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Musik irish adalah musik tradisi dari Irlandia yang khas dengan tarian mereka yang rancak, sehingga musiknya pun terdengar penuh semangat. Karena musik irish mempunyai berbagai keunikan seperti suara yang khas, interval melodinya sendiri, maka sangatlah menarik untuk menciptakan karya tentang musik irish yang hanya sedikit orang yang mengetahuinya di Indonesia ini. Berpijak dari fenomena itulah yang akhirnya melahirkan karya musik dengan judul “Alainn”. Karya ini berformat ansambel campuran dengan gitar, tin whistle, dan violin sebagai melodi utama dan akordion, viola, violincello dan perkusi sebagai pengiring. Karya musik Alainn difokuskan pada penggarapan aransemennya.Karya musik “Alainn” ditinjau dari segi aransemen musik berdasarkan ilmu aransemen pada bagian yang sudah disusun oleh komposer, antara lain(1) melodic variation, (2) filler, (3) obbligato, dan (4) counter melody yang disusun dari segikomposisi, yaitu (1) introduction, (2) transition, (3) retransition, (4) codeta, (5) interlude, (6) episode, (7) disolution, (8) coda dan (9) postlude.Proses penciptaan karya musik “Alainn” dilakukan melalui pengamatan dan visual (lihat) untuk mengetahui karya-karya komponis terdahulu yang kemudian dijadikan acuan untuk pembuatan kekaryaan ini. Pemilihan instrumen dan pemain sangat diperhatikan untuk menunjang dan mencapai keinginan komposer yakni mengacu pada musik bernuansa irish.Karya musik “Alainn” mempunyai unsur-unsur aransemen dalam keilmuan aransemen yang disusun melalui bentuk komposisinya. Dalam introduksi terdapat motif sekuens dengan pergerakan akord yang bermain dalam tangga nada Am. Terdapat juga modulasi yang dikupas pada bagian transisi. Variasi melodi yang digunakan juga ada tiga macam, yaitu melodic variation and fake, rhytmic variation and fake, dan composite melodic variation and fake. Pada interlude, dan coda juga terdapat obbligato, counter melody dan filler seperti dead spot filler, tail filler, dan lead in filler. Kodeta dalam karya ini berfungsi untuk mengkonfirmasi kadens. Karya ini mempunyai interlude yang terdapat pada kalimat f dan sebuah episode yang berdiri sendiri dan bersifat meninggalkan tema terdapat pada birama 68-76. Terdapat dua disolusi untuk mengantarkan transisi/retransisi untuk menuju bagian baru. Sebagai penutup, terdapat postlude yang berfungsi memberikan kesimpulan.Melalui karya musik “Alainn” diharapkan masyarakat Indonesia khususnya warga Surabaya dapat mengetahui dan mengenal tentang musik irish serta mengetahui tentang keunikan musik irish.Kata kunci: alainn, irish, aransemen
KARYA MUSIK “ROLLS CON MAESTOSO” DALAM TINJAUAN BENTUK LAGU DAN VARIASI RITME PERKUSI SANTOSO, DENI
Solah Vol 6, No 1 (2016):
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

“Rolls Con Maestoso” diambil dari bahasa Itali yang diartiakan kedalam bahasa Indonesia adalah musik Pemimpin yang Agung. Agung yang dimaksud di sini adalah suasana dari karya “Rolls Con Maestoso”. Karya musik “Rolls Con Maestoso” menggambarkan tentang sifat seorang pemimpin yang agung. Pemimpin yang berpedoman pada Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mbangun Karso, Tut Wuri Handayani. Tema tersebut cukup memberikan referensi bagi komposer dalam pengembangan imajinasi karya musik.Karya musik “Rolls Con Maestoso” berpedoman pada teori prier bentuk lagu dan variasi ritme dimana bentuk lagu memiliki kalimat/periode yang artinya sejumlah ruang birama (biasanya 8 atau 16 birama) yang merupakan satu kesatuan, sedangkan variasi ritme adalah panjang pendeknya nada, birama atau tempo yang dirubah.Karya musik “Rolls Con Maestoso” terdapat empat periode lagu yang memiliki 8 birama dan kelompok tersebut periode A, B, C, D. Masing-masing kelompok terdiri dari 4 birama, pertama sebagai frase tanya dan frase jawab. 4 birama pertama disebut pertanyaan (antecedent) dan 4 birama berikutnya disebut kalimat jawaban (consequent). Pada bagian A (a-a¹), B (b-b¹), C (c-c¹), D (d-d¹).Karya musik “Rolls Con Maestoso” instrumen perkusi merupakan bagian dari konsep karya musik tersebut, yang dapat mempertegas suasana sesuai yang diinginkan oleh komposer. Karya musik “Rolls Con Maestoso” mengutip teori yang dikemukakan oleh Prier, yang menjelaskan bahwa dalam variasi ritme terdapat variasi yaitu durasi, tempo dan sukat. Karya musik“Rolls Con Maestoso”terdapat variasi ritme yang ditandai dengan ritme A (a-a¹), pola ritme B (b-b¹), pola ritme C (c-c¹), D (d-d¹), E (e-e¹), F (f-f¹), G (g-g¹).Semoga apa yang telah komposer sampaikan secara sederhana ini bisa menjadi referensi yang menarik, menambah wawasan dan pengetahuan, serta dapat membawa perubahan yang positif bagi diri komposer, bagi mahasiswa sendratasik dan bagi pembaca sekalian.Kata kunci : Bentuk Lagu Dan VariasiRitmePerkusi, Rolls Con Maestoso.

Page 2 of 24 | Total Record : 234