cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Rekayasa Teknik Sipil
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 380 Documents
PENGARUH W/C RATIO TERHADAP NILAI KUAT TEKAN PADA PEMBUATAN DRY GEOPOLYMER MORTAR BERBAHAN DASAR ABU TERBANG, KAPUR, DAN NAOH 14 M HIDAYAT RAHMAN, KRISNA; WARDHONO, ARIE
Rekayasa Teknik Sipil Vol 3, No 3 (2018)
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakFly ash adalah salah satu bahan yang mengandung silikat dan alumina yang dapat dimanfaatkan sebagai teknologi geopolimer untuk mengurangi volume limbah berbahaya yang dapat mencemari lingkungan yang kemudian direaksikan dengan bahan pengikat (aktivator) yaitu NaOH dengan konsentrasi 14 Molar.Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mengetahui pengaruh penambahan water cement ratio (w/c) sehingga mendapatkan standart water cement ratio (w/c) yang optimum dan kuat tekan yang maksimum dari pembuatan mortar dry geopolymer. Penelitian ini menggunakan metode pencampuran kering (dry mixing), dimana aktivator yang terdiri dari larutan NaOH 14 molar dan kapur dicampur menjadi satu kemudian dibuat serbuk dengan cara dimix, lalu dioven, lalu ditumbuk halus, kemudian fly ash dan aktivator dimix sehingga menghasilkan semen geopolimer yang kemudian dilakukan penambahan pasir dan air untuk menjadi pembuatan mortar dry geopolymer.Rasio fly ash yang digunakan sebesar 0,84 dari volume benda uji. Rasio aktivator kering yaitu sodium hidroksida (NaOH) dan kapur sebesar 0,16 dari volume benda uji yang terdiri dari NaOH sebesar 0,06 dan kapur sebesar 0,10. Rasio pasir yang digunakan sebesar 0,84 dari volume benda uji dan water cement ratio (w/c) yang digunakan adalah sebesar 0,25; 0,30; 0,35; 0,40; 0,45; 0,50; 0,55.Hasil kuat tekan mortar dry geopolymer dengan pengaruh penambahan water cement ratio sebesar 0,25; 0,30; 0,35 sampai 0,40 terus meningkat kuat tekannya mencapai 9,03 MPa. Setelah water cement ratio (w/c) lebih dari 0,40, maka kuat tekannya menurun mulai dari 0,45; 0,50 sampai 0,55. Maka diperoleh bahwa kadar water cement ratio (w/c) yang optimum pada penambahan water cement ratio pada mortar dry geopolymer adalah sebesar 0,40. Kata Kunci: Dry geopolymer mortar, abu terbang, w/c ratio, NaOH 14 Molar, kuat tekan, aktivator kering. AbstractFly ash is one of the ingredients containing silicate and alumina which can be used as geopolymer technology to reduce the volume of hazardous waste that can pollute the environment which is then reacted with a binder (activator) namely NaOH with a concentration of 14 Molar.This research was conducted with the aim of knowing the effect of adding water cement ratio (w / c) so as to obtain the optimum standard water cement ratio (w / c) and maximum compressive strength from dry geopolymer mortar manufacture. This research uses dry mixing method, where the activator consisting of 14 molar NaOH solution and lime is mixed into one then made powder by mixing, then in the oven, then finely ground, and then the fly ash and activator are mixed to produce geopolymer cement which is then carried out by adding sand and water to become dry geopolymer mortar manufacture.The fly ash ratio used is 0.84 of the volume of the test object. The ratio of dry activator namely sodium hydroxide (NaOH) and lime amounted to 0.16 from the volume of the test object consisting of NaOH of 0.06 and lime of 0.10. The ratio of sand used is 0.84 of the volume of the test object and the water cement ratio (w / c) used is 0.25; 0.30; 0.35; 0.40; 0.45; 0.50; 0.55.The results of dry geopolymer mortar compressive strength with the effect of adding a water cement ratio of 0.25; 0.30; 0.35 to 0.40 continues to increase the compressive strength reaching 9.03 MPa. After the water cement ratio (w / c) more than 0.40, the compressive strength decreases starting from 0.45; 0.50 to 0.55. Then it was obtained that the optimum water cement ratio (w / c) at the addition of the water cement ratio on dry geopolymer mortar was 0.40. Keywords: Dry geopolymer mortar, fly ash, w/c ratio, NaOH 14 Molar, Compressive Strength, dry activator.
PEMANFAATAN SERAT RAMI PADA PEMBUATAN BETON NORMAL TERHADAP KEMAMPUAN UJI SIFAT MEKANIS YUDHA KUSUMA, GUZMANSYAH; RISDIANTO, YOGIE
Rekayasa Teknik Sipil Vol 3, No 3 (2018)
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Beton merupakan bahan komposit yang pada umumnya terdiri dari campuran seperti semen, agregat kasar (kerikil), agregat halus (pasir), dan air. Salah satu kelebihan beton diantaranya adalah memiliki kuat tekan yang tinggi dan kemudahannya untuk dibentuk, sehingga menjadikannya sebagai bahan konstruksi yang banyak digunakan dalam struktur bangunan. Beton yang lemah terhadap tarik dapat ditingkatkan kekuatannya yaitu dengan menambahkan serat sebagai tambahan bahan campuran untuk beton, oleh karena itu,dalam perkembangan beton berserat ,sering dilakukan penelitian penggunaan serat alami untuk beton,yang dinilai lebih ekonomis dan ramah lingkungan. Salah satu serat yang bisa digunakan sebagai tambahan bahan campuran beton yang bersifat ekonomis dan ramah lingkungan adalah serat rami. Pada hasil pengujian, dimana digunakan benda uji berupa beton silinder 10 x 20 cm dan balok tanpa tulangan 53 x 15 x 15 cm dengan komposisi serat rami 0%, 0,5%, 1,0%, dan 1,5% dapat ditarik hasil bahwa penambahan serat rami pada beton normal mampu memperbaiki sifat mekanis beton yaitu untuk kuat tarik belah dan kuat lentur. Prosentase optimum penambahan serat rami pada campuran beton normal ialah 0,5% dari berat semen dimana didapat hasil uji pada umur 28 hari, dengan kuat tekan sebesar 29,961 MPa, kuat tarik belah sebesar 4,052 MPa, dan kuat lentur sebesar 3,410 MPa. Peningkatan kekuatan terjadi pada kuat tarik belah dan kuat lentur, sedangkan pada kuat tekan mengalami penurunan, dimana kuat tekan beton normal tanpa serat rami memiliki kuat tekan sebesar 31,801 MPa. Penambahan serat rami yang terlalu banyak dalam campuran beton dapat mengakibatkan penurunan terhadap sifat mekanis beton, hal ini disebabkan karena sifat serat yang menyerap air, sehingga air yang dibutuhkan dalam proses hidrasi pada beton berkurang yang mengakibatkan proses pengikatan terganggu. Kata kunci: Beton normal, Kuat tekan, Kuat tarik belah, Kuat lentur, Serat rami. Abstract Concrete is a composite material which generally consists of mixtures such as cement, coarse aggregate (gravel), fine aggregate (sand), and water. The advantages of concrete, that it has high compressive strength and ease to form, it makes concrete is a construction material that is widely used in building structures. The concrete has weakness in splitting tensile strength can be increased by adding fiber as an additional mixture for concrete, therefore, in the development of fibrous concrete, research is often carried out on the use of natural fibers for concrete, which are considered more economical and environmental friendly. One of the fibers that can be used as an addition to concrete mixtures that are economical and environmentally friendly is jute fiber. Test results, where the specimens were used in the form of cylindrical concrete 10 x 20 cm and beam without reinforcement 53 x 15 x 15 cm with the composition of jute fiber 0%, 0.5%, 1.0%, and 1.5% it results that the addition of jute fiber to normal concrete can improve the mechanical properties of concrete, for splitting tensile strength and flexural strength. The optimum percentage of the addition of jute fiber to normal concrete mixture was 0.5% from the weight of cement which obtained the test results at 28 days, with compressive strength is 29.961 MPa, splitting tensile strength is 4.052 MPa, and flexural strength is 3.410 MPa. Strength increase occurs in splitting tensile strength and flexural strength, while in compressive strength decreases, where the compressive strength of normal concrete without jute fiber has a compressive strength 31.801 MPa. The addition of too much jute fiber in the concrete mixture can decrease the mechanical properties of concrete, this is due to the nature of the fiber that absorbs water, so that the water on the hydration process in the concrete decreases which makes the binding process being disrupted. Keywords:Normal concrete, Compressive strength, Splitting tensile strength, Flexural strength, Jute fiber.
ANALISIS KELAYAKAN EKONOMI PADA SALURAN IRIGASI DAM INDUK (DI) POLAGAN KECAMATAN GALIS KABUPATEN PAMEKASAN AINI FEBRIANTIKA, NUR; KUSTINI, INDIAH
Rekayasa Teknik Sipil Vol 3, No 3 (2018)
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan ekonomi usaha tani dengan pola tanam padi-padi-palawija, hasil usaha tani dengan adanya pembangunan saluran tersier DI Polagan, hasil usaha tani dengan tanaman palawija jenis kacang tanah diganti dengan tomat, hasil besaran subsidi petani yang diberikan pemerintah. Metode penelitian ini menggunakan NPV sebagai bahan perhitungan, dinyatakan layak apabila bernilai positif. Jenis penelitian ini adalah analisis deskriptif. subjek penelitian adalah Dam Induk (DI) Polagan yang mengaliri dua desa yaitu desa Polagan dan Desa Artodung. Instrumen penelitian ini adalah lembar observasi, wawancara serta dokumentasi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai NPVdalam jangka waktu perhitungan 45 tahun pada pola tanam padi-padi-palawija bernilai positif dengan masa pengembalian investasi (PP) pada tahun 20 tahun 3 bulan 23 hari untuk desa Polagan dan 25 tahun 3 bulan 6 hari desa Artodung, Kelayakan ekonomi pembangunan saluran tersier DI Polagan menunjukkan nilai NPV negatif dengan masa pengembalian investasi (PP) terjadi pada tahun 28 tahun 6 hari desa Polagan dan desa Artodung pada tahun ke 25 tahun 9 bulan 9 hari, Hasil usaha tani palawija jenis kacang tanah diganti tomat menunjukkan nilai NPV positif dengan jangka waktu perhitungan 45 tahun dengan masa pengembalian investasi (PP) pada tahun 18 tahun 5 bulan 16 hari desa Polagan dan desa Artodung tahun ke 21 tahun 4 bulan 8 hari, Hasil subsidi pemerintah untuk pola tanam dapat diketahui pada tahun 2015 sebesar Rp. 449.129,51 untuk desa Polagan Rp. 391.903,41 untuk Artodung, pada tahun 2016 sebesar Rp. 365.664,85 untuk desa polagan, Rp. 358.466,57 untuk desa Artodung dan pada tahun 2017 sebesar Rp. 400.129,51 untuk desa Polagan dan Rp. 378.892,77 untuk desa Artodung.Kata Kunci : Pola Tanam, Kelayakan Ekonomi, Saluran Irigasi Tersier AbstractThe research aims to determine the economic feasibility of farming with rice-rice-secondary crops, the results of farming with the construction of tertiary canals Polagan, the result of farming with secondary crops of peanuts be replaced with tomatoes, the result of the amount of farmers subsidies provided by the goverment. The method are using NPV as the main component of formula, declared feasible if it is positive. This research is descriptive analysis. The subject of the study is main dam which drained two villages, that is Polagan Village and Artodung Village. The instruments of this study are observation sheets, interviews and documentation.The results showed that the NPV in the 45 years calculation period on the rice-rice-secondary crops was positive with an investment return period (PP) in 20 years 3 months 23 days for Polagan village and 25 years 3 months 6 days in Artodung village, the economic feasibility of tertiary canal Polagan show a negative NPV value with an investment return period (PP) in 28 years 6 days of Polagan village and Artodung village in the 25 years 9 months 9 days, the results of the secondary crops using peanuts be replace with tomatoes show a positive NPV value with a calculation period of 45 years with an investment return period (PP) in 18 years 5 months 16 days for Polagan village and 21 years 4 months 8 days in Artodung village, for the results of government subsidies for cropping patterns can be known in 2015 of Rp. 449.12,,51 for Polagan village Rp. 391.903,41 for Artodung, in 2016 amounting to Rp. 365.664,85 for Polagan villages, Rp. 358.466,57 for Artodung village and in 2017 Rp. 400.129,51 for Polagan village and Rp. 378.89,77 for Artodung village. Keyword : Cropping Pattern, Economic Feasibility, Tertiary Irrigation Canals
ANALISIS NILAI KONDISI PERKERASAN JALAN SECARA VISUAL DENGAN METODE BINA MARGA DAN PAVEMENT CONDITION INDEX STUDI KASUS: JALAN MASTRIP (SBY 10+100 - 10+700) FIRMAN BAGUS WICAKSONO, MOCH; MAHARDI, PURWO
Rekayasa Teknik Sipil Vol 3, No 3 (2018)
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Prasarana transportasi jalan yang setiap waktu terbebani oleh volume lalu lintas yang tinggi dan berulang-ulang akan menyebabkan terjadinya penurunan kualitas perkerasan jalan. Evaluasi kondisi perkerasan jalan sangat perlu dilakukan untuk monitoring seberapa tingkat kerusakan yang terjadi pada suatu ruas jalan. Metode yang digunakan dalam rangka menentukan tingkat nilai kondisi kerusakan perkerasan jalan yaitu metode Bina Marga dan Pavement Condition Index.Penelitian bertujuan untuk mengetahui tingkat nilai kondisi perkerasan jalan dari kerusakan yang terjadi pada Jalan Mastrip (SBY 10+100 - 10+700) yang merupakan jalan kolektor di kawasan industri wilayah Surabaya Selatan dan akses utama menuju Kabupaten Gresik. Penilaian kondisi perkerasan disertai dengan usulan perbaikan yang direkomendasikan berdasarkan kerusakan kemudian dilakukan perhitungan estimasi biaya untuk menentukan alternatif yang paling murah ditinjau dari segi efisiensi biaya perbaikan kerusakan perkerasan jalan. Perhitungan nilai kondisi berdasarkan pengamatan survei dengan metode Bina Marga termasuk program pemeliharaan berkala dengan usulan perbaikan antara lain penebaran pasir, pengaspalan, penutupan retak, penambalan lubang, dan perataan.Sedangkan metode Pavement Condition Index termasuk kategori baik dengan usulan perbaikan antara lain penambahan pasir, penutupan retak, penambalan parsial, penutup permukaan, dan overlay. Kerusakan paling parah terjadi pada Segmen 8 (10+600 - 10+500) dengan kategori sangat buruk. Estimasi biaya berdasarkan usulan perbaikan metode Bina Marga sebesar Rp. 28.912.845,- sedangkan metode Pavement Condition Index sebesar Rp. 78.050.372,-. Perhitungan estimasi biaya metode Bina Marga dinilai lebih murah dibandingkan metode Pavement Condition Index dengan selisih Rp. 49.137.527,- atau sekitar 63%. Kata Kunci: Nilai Kondisi, Usulan Perbaikan, Estimasi Biaya
PENGARUH PENAMBAHAN SUPERPLASTICIZER PADA BETON GEOPOLIMER BERBAHAN DASAR NAOH 14M MOLAR TERHADAP KUAT TEKAN DAN POROSITAS ARIEF WIJAYA, OKTIAN; WARDHONO, ARIE
Rekayasa Teknik Sipil Vol 3, No 3 (2018)
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Beton geopolimer adalah beton yang menggunakan abu terbang sebagai bahan utama, beton geopolimer dapat dijadikan alternatif untuk pengganti beton konvensional karena sifatnya yang ramah lingkungan dan tidak menghasilkan gas CO2. Untuk meningkatkan kuat tekan beton geopolimer dilakukan berbagai upaya salah satunya adalah penambahan bahan aditif superplasticizer (SP). Penelitian ini mempelajari pengaruh variasi kadar SP terhadap nilai kuat tekan dan porositas beton geopolimer. Material yang digunakan adalah abu terbang kelas C, aktivator sodium hidroksida (NaOH) 14M dan Sodium Silikat (Na2SiO3) dengan perbandiangan NaOH/ Na2SiO3 sebesar 1,5. SP yang digunakan adalah merek Sika Viscocrete 1003 yang dikategorikan aditif tipe F. Penelitian yang dilakukan meliputi uji XRF pada abu terbang, uji vikat untuk binder beton geopolimer, uji slump untuk beton geopolimer segar, pemeriksaan berat volume, uji tekan dan uji porositas pada beton usia 3, 7, dan 28 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk varian campuran beton geopolimer dengan penggunaan SP dapat memperlambat setting time awal binder geopolimer dari 39 menit untuk penambahan SP 0.5% hingga 45 menit untuk penambahan SP 2.0%. Uji porositas didapatkan SP dapat menurunkan nilai porositas. Dari uji tekan didapatkan bahwa SP dapat meningkatkan kuat tekan beton geopolimer hingga rata-rata maksimum 12.49 MPa pada usia 28 Hari, semakin banyak penggunaan SP semakin tinggi kuat tekan yang dihasilkan. Kata kunci: Beton geopolimer, Abu terbang, Superplasticizer (SP), Porositas, Kuat tekan Abstract Geopolymer concrete is a concrete that uses fly ash as the main material, geopolymer concrete can be used as an alternative to conventional concrete replacement because it is environmentally friendly and does not produce CO2 gas. To increase the compressive strength of geopolymer concrete made various efforts one of them is the addition of superplasticizer (SP) additive. This study studied the effect of SP variation on the value of compressive strength and porosity of geopolymer concrete. The materials used are C class fly ash, 14M sodium hydroxide (NaOH) and Sodium Silicate (Na2SiO3) activator with NaOH / Na2SiO3 ratio equal 1,5. SP used is the Sika Viscocrete 1003 brand categorized type F additive. The research includes XRF test on fly ash, vikat test for geopolymer concrete binder, slump test for fresh geopolymer concrete, volume weight check, compression test and porosity test on concrete ages 3, 7, and 28 days. The results showed that for the mixed variant of geopolymer concrete with the use of SP can slow the initial time setting of the geopolymer binder from 39 minutes for the addition of SP 0.5% to 45 minutes for the addition of SP 2.0%. The porosity test obtained by SP can decrease the porosity value of geopolymer concrete. From the compression test it was found that SP can increase the compressive strength of geopolymer concrete up to a maximum average of 12.49 MPa at 28 days, more uses SP more high a result of compressive strength. Keywords: Geopolymer concrete, fly ash, superplasticizer, porosity, compressive strength
PENGARUH KEPEKATAN LARUTAN AKTIVATOR TERHADAP KUAT TEKAN GEOPOLYMER MORTAR BERBAHAN DASAR ABU TERBANG DAN NAOH 12 MOLAR PADA KONDISI SS/SH 2.0 DAN 4.0 FITRIANDA INTAN PERMATA, ESTIKA; WARDHONO, ARIE
Rekayasa Teknik Sipil Vol 1, No 1 (2019)
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Ketergantungan penggunaan semen pada bidang konstruksi menyebabkan peningkatan produksi semen portland yang berdampak pada kondisi lingkungan. Hal ini dikarenakan selama proses pembakaran bahan baku untuk menghasilkan 1 ton semen melepaskan 1 ton gas CO2 secara langsung ke udara. Gas tersebut merupakan salah satu gas terbesar yang ikut menyumbang dalam pemanasan global. Karbondioksida (CO2) memberikan konstribusi 65% terhadap pemanasan global. Dengan demikian salah satu cara mengurangi pemanasan global dimuka bumi ini dan memanfaatkan beton tanpa semen untuk pembangunan infra struktur dengan material beton tanpa semen dan sejalan dengan perkembangan teknologi mutakhir. Pembuatan mortar tanpa semen (geopolymer) secara umum dilakukan dengan menggunakan fly ash sebagai bahan dasar utamanya. Fly ash dikategorikan sebagai limbah yang mengandung Bahan Berbahaya dan Beracun (B3), karena mengandung logam berat seperti Fe, Mn, Zn, dan Cr, sehingga tidak diperkenankan dibuang tanpa pengolahan dahulu. Sebagai bahan pengganti semen, penggunaan geopolymer berbahan dasar fly ash dapat menurunkan produksi gas CO2 yang dihasilkan selama proses produksi semen. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan hasil kuat tekan mortar geopolymer berbahan dasar abu terbang dan NaOH 12 molar pada kondisi SS/SH 2.0 dan 4.0 dan untuk mendapatkan standar optimum penambahan fly ash pada pembuatan mortar tanpa semen menggunakan NaOH 12 molar pada kondisi SS/SH 2.0 dan 4.0 dengan menggunakan nilai w/s sebesar 0,2; 0,25; 0,30; 0,35; 0,40; 0,45. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kadar solid larutan aktivator (W/S) dapat mempengaruhi kuat tekan mortar geopolymer. Hasil kuat tekan mortar kondisi SS/SH =2 meningkat dari nilai variasi w/s = 0,20 hingga mencapai puncaknya pada nilai variasi W/S = 0,30 mampu mencapai nilai 59,12 MPa, sedangkan mortar kondisi SS/SH = 4 menunjukan kenaikan yang sama hingga mencapai puncaknya pada nilai variasi W/S = 0,30 dengan nilai kuat tekan 35,63 MPa . Setelah nilai W/S telah lebih dari 0,30, maka kuat tekannya menurun. Maka diperoleh bahwa kadar solid larutan aktivator (W/S) yang optimum pada kondisi SS/SH = 2 dan 4 adalah 0,30. Kata kunci : Mortar Geopolymer, Fly Ash, Rasio W/S, Molaritas, SS/SH, Kuat Tekan, Suhu Ruangan Abstract The dependency on the use of cement in the construction sector had led to an increase in portland cement production which affecting on environmental conditions. This happened because during the burning process of raw materials producing 1 ton of cement, it released 1 ton of CO2 directly into the air. Carbon dioxide (CO2) is one of the biggest gases that contributes, namely 65%, to global warming. Thus, one way to reduce global warming on this earth in line with the development of the latest technology, is to use concrete without cement for infrastructure development. Mortar making without cement (geopolymer) is generally done using fly ash as the main ingredient. Fly ash is categorized as waste containing Hazardous and Toxic Materials (B3), because it contains heavy metals such as Fe, Mn, Zn, and Cr, so it is forbidden to dispose without prior treatment. As a substitute for cement, the use of geopolymer made from fly ash can reduce the gas production of CO2 during the cement production process. The purpose of this study was to obtain the compressive strength results of geopolymer mortar made from fly ash and 12 M NaOH SS/SH = 2.0 and 4.0 and to obtain the optimum standard of fly ash addition in making mortar without cement using 12 M NaOH, SS/SH = 2.0 and 4.0 with the value of 0.2; 0.25; 0.30; 0.35; 0.40; 0.45 W/S. The results of this study showed that the solid levels of the activator solution (W/S) can affect the compressive strength of geopolymer mortar. The results of the mortar compressive strength in SS/SH = 2 increased from the variation value of W/S = 0.20 until it reached its peak in the variation value of W/S = 0.30 achieving the value of 59.12 MPa, while the mortar in SS/SH = 4 showed the same raise until it reached its peak in the variation value of W/S = 0.30 with the compressive strength of 35.63 MPa. After W/S value reached more than 0.30, the compressive strength decreased. As a conclusion, the optimum level of activator solution (W/S) in SS/SH = 2 and 4 was 0.30. Keywords : Geopolymer Mortar, Fly Ash, Water Solid Ratio (w/s ratio), Molarity, Sodium Silicate to Sodium Hidroxide Ratio (SS/SH ratio), Compressive Strength, Room Temperature.
ANALISIS KINERJA SIMPANG JALAN PEMUDA - HASANUDIN KM 40+000 - KM 44+000 KABUPATEN MOJOKERTO JAWA TIMUR DITINJAU DARI PERGERAKAN LALU LINTAS AGUNG PRATAMA, RIZKY; MAHARDI, PURWO
Rekayasa Teknik Sipil Vol 1, No 1 (2019)
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kabupaten Mojokerto saat ini mengalami pertumbuhan jumlah lalu-lintas akibat pertambahan kendaraan bermotor yang cukup tinggi. Dari tahun ke tahun angka kepemilikan kendaraan mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Dari sisi pemerintah selaku penyedia infrastruktur mengalami kendala dalam meningkatkan penyediaan infrastruktur jalan apabila menangani dengan cara pelebaran jalan karena faktor keterbatasan anggaran. Maka salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh pemerintah adalah dengan melakukan manajemen lalu lintas sehingga jalan tersebut tetap menjalankan fungsinya dengan baik. Penelitian ini membahas analisis kinerja jalan yang difokuskan pada simpang 3 (simpang tak bersinyal) dan simpang 4 (simpang bersinyal) jalan Pemuda-Hasanudin KM 40+000?KM 44+000 dan memprediksi kinerja jalan tersebut untuk kondisi saat ini (2018), 3 tahun (2021), dan 5 tahun (2023) mendatang. Hasilnya adalah adanya penurunan kualitas layanan akibat menurunnya kapasitas jalan dan tidak seimbang dengan meningkatnya volume lalu lintas disetiap tahunnya. Dari hasil analisis menggunakan MKJI 1997 diperoleh derajat kejenuhan (DS) pada kondisi saat ini (2018) simpang 3 (simpang tak bersinyal) adalah 1,03, sedangkan untuk simpang 4 (simpang bersinyal) rata-rata sudah tidak memenuhi disetiap pendekatnya, dan untuk tundaan simpangnya 45,50 detik/smp yang dimana masuk kategori tingkat pelayanan buruk. Untuk mengatasi hal itu maka dilakukan beberapa solusi alternatif manajemen lalu lintas. Dari beberapa alternatif dipilih yang paling menguntungkan. Alternatif 1 ditujukan untuk simpang 3 (simpang tak bersinyal) dengan cara merubah menjadi simpang bersinyal, yang dimana hasil dari derajat kejenuhan (DS) rata-rata menjadi 0,68, tahun ke 3 (2021) meningkat ditiap pendekat tetapi nilai rata-rata masih sama 0,68, dan meningkat di tahun ke 5 (2023) sebesar 0,72, dimana menurut MKJI 1997 masih memenuhi. Simpang 4 (simpang bersinyal) dengan alternatif 2 (penambahan waktu hijau) masih belum bisa sepenuhnya mengatasi derajat kejenuhan (DS) disetiap pendekat, alternatif 3 (perubahan fase) memenuhi disetiap pendekat dengan hasil derajat kejenuhan (DS) paling tinggi pada pendekat Utara dikondisi saat ini (2018) sebesar 0,41 dengan tingkat pelayanan B dan Tundaan rata-ratanya 28,53, dan alternatif 4 (penggabungan alternatif 2 dan 3) memenuhi serta membuat tundaan rata-rata menjadi semakin kecil untuk kondisi saat ini, 3 tahun, bahkan untuk 5 tahun yang akan datang. Kata Kunci: Kinerja Simpang, MKJI 1997, Manajemen Lalu Lintas. Abstract Mojokerto regency is currently experiencing a growth in the number of traffic due to the increase of motor vehicles is quite high. From year to year the number of vehicle ownership has increased significantly. In terms of government as infrastructure providers have problems in improving the provision of road infrastructure due to budget constraints. Because of these limitations then one of the efforts that can be done by the government is to conduct urban traffic management so that a road segment still perform its function well. This study discusses road performance analysis focused on intersection 3 (unsignalized intersection) and intersection 4 (signalized intersection) Pemuda-Hasanudin KM 40+000?KM 44+000 street and predicts the performance of the road for current conditions (2018), 3 year (2021), and 5 years (2023) future. The result is a decrease in service quality due to a decrease in road capacity and an imbalance with increasing traffic volumes each year. From the results of the analysis using MKJI 1997 obtained degree of saturation (DS) in the current condition (2018) intersection 3 (unsignalized intersection) is 1,03, while for intersection 4 (signal intersection) the average is not fulfilled in every approach, and for the intersection delay of 45,50 seconds/smp which is in the category of poor service level, to overcome this problem, a number of alternative traffic management solutions are carried out. Of the several alternatives chosen the most profitable. Alternative 1 is intended for intersection 3 (unsignalized intersection) by changing into a signal intersection, which results from the degree of saturation (DS) averaging 0,68, year 3 (2021) increases in each approach but the average value is still equal to 0,68, and increased in the 5th year (2023) by 0,72, which according to MKJI 1997 still fulfills. Simpang 4 (signal intersection) with alternative 2 (addition of green time) still cannot fully overcome the degree of saturation (DS) in each approach, Alternative 3 (phase change) fulfills each approach with the highest degree of saturation (DS) in the Northern approach at the current condition (2018) of 0,41 with service level B and the average delay of 28,53, and alternative 4 (combining alternatives 2 and 3) fulfills and makes the average delay becomes smaller for the current condition, 3 years, even for the next 5 years. Keywords: Performance Intersection, MKJI 1997, Traffic Management.
ANALISIS KINERJA SIMPANG JALAN PEMUDA - HASANUDIN KM 40+000 - KM 44+000 KABUPATEN MOJOKERTO JAWA TIMUR DITINJAU DARI PERGERAKAN LALU LINTAS MAHARDI, PURWO; AGUNG PRATAMA, RIZKY
Rekayasa Teknik Sipil Vol 1, No 1 (2019)
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kabupaten Mojokerto saat ini mengalami pertumbuhan jumlah lalu-lintas akibat pertambahan kendaraan bermotor yang cukup tinggi. Dari tahun ke tahun angka kepemilikan kendaraan mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Dari sisi pemerintah selaku penyedia infrastruktur mengalami kendala dalam meningkatkan penyediaan infrastruktur jalan apabila menangani dengan cara pelebaran jalan karena faktor keterbatasan anggaran. Maka salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh pemerintah adalah dengan melakukan manajemen lalu lintas sehingga jalan tersebut tetap menjalankan fungsinya dengan baik. Penelitian ini membahas analisis kinerja jalan yang difokuskan pada simpang 3 (simpang tak bersinyal) dan simpang 4 (simpang bersinyal) jalan Pemuda-Hasanudin KM 40+000?KM 44+000 dan memprediksi kinerja jalan tersebut untuk kondisi saat ini (2018), 3 tahun (2021), dan 5 tahun (2023) mendatang. Hasilnya adalah adanya penurunan kualitas layanan akibat menurunnya kapasitas jalan dan tidak seimbang dengan meningkatnya volume lalu lintas disetiap tahunnya. Dari hasil analisis menggunakan MKJI 1997 diperoleh derajat kejenuhan (DS) pada kondisi saat ini (2018) simpang 3 (simpang tak bersinyal) adalah 1,03, sedangkan untuk simpang 4 (simpang bersinyal) rata-rata sudah tidak memenuhi disetiap pendekatnya, dan untuk tundaan simpangnya 45,50 detik/smp yang dimana masuk kategori tingkat pelayanan buruk. Untuk mengatasi hal itu maka dilakukan beberapa solusi alternatif manajemen lalu lintas. Dari beberapa alternatif dipilih yang paling menguntungkan. Alternatif 1 ditujukan untuk simpang 3 (simpang tak bersinyal) dengan cara merubah menjadi simpang bersinyal, yang dimana hasil dari derajat kejenuhan (DS) rata-rata menjadi 0,68, tahun ke 3 (2021) meningkat ditiap pendekat tetapi nilai rata-rata masih sama 0,68, dan meningkat di tahun ke 5 (2023) sebesar 0,72, dimana menurut MKJI 1997 masih memenuhi. Simpang 4 (simpang bersinyal) dengan alternatif 2 (penambahan waktu hijau) masih belum bisa sepenuhnya mengatasi derajat kejenuhan (DS) disetiap pendekat, alternatif 3 (perubahan fase) memenuhi disetiap pendekat dengan hasil derajat kejenuhan (DS) paling tinggi pada pendekat Utara dikondisi saat ini (2018) sebesar 0,41 dengan tingkat pelayanan B dan Tundaan rata-ratanya 28,53, dan alternatif 4 (penggabungan alternatif 2 dan 3) memenuhi serta membuat tundaan rata-rata menjadi semakin kecil untuk kondisi saat ini, 3 tahun, bahkan untuk 5 tahun yang akan datang. Kata Kunci: Kinerja Simpang, MKJI 1997, Manajemen Lalu Lintas. Abstract Mojokerto regency is currently experiencing a growth in the number of traffic due to the increase of motor vehicles is quite high. From year to year the number of vehicle ownership has increased significantly. In terms of government as infrastructure providers have problems in improving the provision of road infrastructure due to budget constraints. Because of these limitations then one of the efforts that can be done by the government is to conduct urban traffic management so that a road segment still perform its function well. This study discusses road performance analysis focused on intersection 3 (unsignalized intersection) and intersection 4 (signalized intersection) Pemuda-Hasanudin KM 40+000?KM 44+000 street and predicts the performance of the road for current conditions (2018), 3 year (2021), and 5 years (2023) future. The result is a decrease in service quality due to a decrease in road capacity and an imbalance with increasing traffic volumes each year. From the results of the analysis using MKJI 1997 obtained degree of saturation (DS) in the current condition (2018) intersection 3 (unsignalized intersection) is 1,03, while for intersection 4 (signal intersection) the average is not fulfilled in every approach, and for the intersection delay of 45,50 seconds/smp which is in the category of poor service level, to overcome this problem, a number of alternative traffic management solutions are carried out. Of the several alternatives chosen the most profitable. Alternative 1 is intended for intersection 3 (unsignalized intersection) by changing into a signal intersection, which results from the degree of saturation (DS) averaging 0,68, year 3 (2021) increases in each approach but the average value is still equal to 0,68, and increased in the 5th year (2023) by 0,72, which according to MKJI 1997 still fulfills. Simpang 4 (signal intersection) with alternative 2 (addition of green time) still cannot fully overcome the degree of saturation (DS) in each approach, Alternative 3 (phase change) fulfills each approach with the highest degree of saturation (DS) in the Northern approach at the current condition (2018) of 0,41 with service level B and the average delay of 28,53, and alternative 4 (combining alternatives 2 and 3) fulfills and makes the average delay becomes smaller for the current condition, 3 years, even for the next 5 years. Keywords: Performance Intersection, MKJI 1997, Traffic Management.
ANALISIS KINERJA SIMPANG JALAN PEMUDA - HASANUDIN KM 40+000 - KM 44+000 KABUPATEN MOJOKERTO JAWA TIMUR DITINJAU DARI PERGERAKAN LALU LINTAS AGUNG PRATAMA, RIZKY; MAHARDI, PURWO
Rekayasa Teknik Sipil Vol 1, No 1 (2019)
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kabupaten Mojokerto saat ini mengalami pertumbuhan jumlah lalu-lintas akibat pertambahan kendaraan bermotor yang cukup tinggi. Dari tahun ke tahun angka kepemilikan kendaraan mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Dari sisi pemerintah selaku penyedia infrastruktur mengalami kendala dalam meningkatkan penyediaan infrastruktur jalan apabila menangani dengan cara pelebaran jalan karena faktor keterbatasan anggaran. Maka salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh pemerintah adalah dengan melakukan manajemen lalu lintas sehingga jalan tersebut tetap menjalankan fungsinya dengan baik. Penelitian ini membahas analisis kinerja jalan yang difokuskan pada simpang 3 (simpang tak bersinyal) dan simpang 4 (simpang bersinyal) jalan Pemuda-Hasanudin KM 40+000?KM 44+000 dan memprediksi kinerja jalan tersebut untuk kondisi saat ini (2018), 3 tahun (2021), dan 5 tahun (2023) mendatang. Hasilnya adalah adanya penurunan kualitas layanan akibat menurunnya kapasitas jalan dan tidak seimbang dengan meningkatnya volume lalu lintas disetiap tahunnya. Dari hasil analisis menggunakan MKJI 1997 diperoleh derajat kejenuhan (DS) pada kondisi saat ini (2018) simpang 3 (simpang tak bersinyal) adalah 1,03, sedangkan untuk simpang 4 (simpang bersinyal) rata-rata sudah tidak memenuhi disetiap pendekatnya, dan untuk tundaan simpangnya 45,50 detik/smp yang dimana masuk kategori tingkat pelayanan buruk. Untuk mengatasi hal itu maka dilakukan beberapa solusi alternatif manajemen lalu lintas. Dari beberapa alternatif dipilih yang paling menguntungkan. Alternatif 1 ditujukan untuk simpang 3 (simpang tak bersinyal) dengan cara merubah menjadi simpang bersinyal, yang dimana hasil dari derajat kejenuhan (DS) rata-rata menjadi 0,68, tahun ke 3 (2021) meningkat ditiap pendekat tetapi nilai rata-rata masih sama 0,68, dan meningkat di tahun ke 5 (2023) sebesar 0,72, dimana menurut MKJI 1997 masih memenuhi. Simpang 4 (simpang bersinyal) dengan alternatif 2 (penambahan waktu hijau) masih belum bisa sepenuhnya mengatasi derajat kejenuhan (DS) disetiap pendekat, alternatif 3 (perubahan fase) memenuhi disetiap pendekat dengan hasil derajat kejenuhan (DS) paling tinggi pada pendekat Utara dikondisi saat ini (2018) sebesar 0,41 dengan tingkat pelayanan B dan Tundaan rata-ratanya 28,53, dan alternatif 4 (penggabungan alternatif 2 dan 3) memenuhi serta membuat tundaan rata-rata menjadi semakin kecil untuk kondisi saat ini, 3 tahun, bahkan untuk 5 tahun yang akan datang. Kata Kunci: Kinerja Simpang, MKJI 1997, Manajemen Lalu Lintas. Abstract Mojokerto regency is currently experiencing a growth in the number of traffic due to the increase of motor vehicles is quite high. From year to year the number of vehicle ownership has increased significantly. In terms of government as infrastructure providers have problems in improving the provision of road infrastructure due to budget constraints. Because of these limitations then one of the efforts that can be done by the government is to conduct urban traffic management so that a road segment still perform its function well. This study discusses road performance analysis focused on intersection 3 (unsignalized intersection) and intersection 4 (signalized intersection) Pemuda-Hasanudin KM 40+000?KM 44+000 street and predicts the performance of the road for current conditions (2018), 3 year (2021), and 5 years (2023) future. The result is a decrease in service quality due to a decrease in road capacity and an imbalance with increasing traffic volumes each year. From the results of the analysis using MKJI 1997 obtained degree of saturation (DS) in the current condition (2018) intersection 3 (unsignalized intersection) is 1,03, while for intersection 4 (signal intersection) the average is not fulfilled in every approach, and for the intersection delay of 45,50 seconds/smp which is in the category of poor service level, to overcome this problem, a number of alternative traffic management solutions are carried out. Of the several alternatives chosen the most profitable. Alternative 1 is intended for intersection 3 (unsignalized intersection) by changing into a signal intersection, which results from the degree of saturation (DS) averaging 0,68, year 3 (2021) increases in each approach but the average value is still equal to 0,68, and increased in the 5th year (2023) by 0,72, which according to MKJI 1997 still fulfills. Simpang 4 (signal intersection) with alternative 2 (addition of green time) still cannot fully overcome the degree of saturation (DS) in each approach, Alternative 3 (phase change) fulfills each approach with the highest degree of saturation (DS) in the Northern approach at the current condition (2018) of 0,41 with service level B and the average delay of 28,53, and alternative 4 (combining alternatives 2 and 3) fulfills and makes the average delay becomes smaller for the current condition, 3 years, even for the next 5 years. Keywords: Performance Intersection, MKJI 1997, Traffic Management.
ANALISIS KINERJA SIMPANG JALAN PEMUDA - HASANUDIN KM 40+000 - KM 44+000 KABUPATEN MOJOKERTO JAWA TIMUR DITINJAU DARI PERGERAKAN LALU LINTAS AGUNG PRATAMA, RIZKY; MAHARDI, PURWO
Rekayasa Teknik Sipil Vol 1, No 1 (2019)
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kabupaten Mojokerto saat ini mengalami pertumbuhan jumlah lalu-lintas akibat pertambahan kendaraan bermotor yang cukup tinggi. Dari tahun ke tahun angka kepemilikan kendaraan mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Dari sisi pemerintah selaku penyedia infrastruktur mengalami kendala dalam meningkatkan penyediaan infrastruktur jalan apabila menangani dengan cara pelebaran jalan karena faktor keterbatasan anggaran. Maka salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh pemerintah adalah dengan melakukan manajemen lalu lintas sehingga jalan tersebut tetap menjalankan fungsinya dengan baik. Penelitian ini membahas analisis kinerja jalan yang difokuskan pada simpang 3 (simpang tak bersinyal) dan simpang 4 (simpang bersinyal) jalan Pemuda-Hasanudin KM 40+000?KM 44+000 dan memprediksi kinerja jalan tersebut untuk kondisi saat ini (2018), 3 tahun (2021), dan 5 tahun (2023) mendatang. Hasilnya adalah adanya penurunan kualitas layanan akibat menurunnya kapasitas jalan dan tidak seimbang dengan meningkatnya volume lalu lintas disetiap tahunnya. Dari hasil analisis menggunakan MKJI 1997 diperoleh derajat kejenuhan (DS) pada kondisi saat ini (2018) simpang 3 (simpang tak bersinyal) adalah 1,03, sedangkan untuk simpang 4 (simpang bersinyal) rata-rata sudah tidak memenuhi disetiap pendekatnya, dan untuk tundaan simpangnya 45,50 detik/smp yang dimana masuk kategori tingkat pelayanan buruk. Untuk mengatasi hal itu maka dilakukan beberapa solusi alternatif manajemen lalu lintas. Dari beberapa alternatif dipilih yang paling menguntungkan. Alternatif 1 ditujukan untuk simpang 3 (simpang tak bersinyal) dengan cara merubah menjadi simpang bersinyal, yang dimana hasil dari derajat kejenuhan (DS) rata-rata menjadi 0,68, tahun ke 3 (2021) meningkat ditiap pendekat tetapi nilai rata-rata masih sama 0,68, dan meningkat di tahun ke 5 (2023) sebesar 0,72, dimana menurut MKJI 1997 masih memenuhi. Simpang 4 (simpang bersinyal) dengan alternatif 2 (penambahan waktu hijau) masih belum bisa sepenuhnya mengatasi derajat kejenuhan (DS) disetiap pendekat, alternatif 3 (perubahan fase) memenuhi disetiap pendekat dengan hasil derajat kejenuhan (DS) paling tinggi pada pendekat Utara dikondisi saat ini (2018) sebesar 0,41 dengan tingkat pelayanan B dan Tundaan rata-ratanya 28,53, dan alternatif 4 (penggabungan alternatif 2 dan 3) memenuhi serta membuat tundaan rata-rata menjadi semakin kecil untuk kondisi saat ini, 3 tahun, bahkan untuk 5 tahun yang akan datang. Kata Kunci: Kinerja Simpang, MKJI 1997, Manajemen Lalu Lintas. Abstract Mojokerto regency is currently experiencing a growth in the number of traffic due to the increase of motor vehicles is quite high. From year to year the number of vehicle ownership has increased significantly. In terms of government as infrastructure providers have problems in improving the provision of road infrastructure due to budget constraints. Because of these limitations then one of the efforts that can be done by the government is to conduct urban traffic management so that a road segment still perform its function well. This study discusses road performance analysis focused on intersection 3 (unsignalized intersection) and intersection 4 (signalized intersection) Pemuda-Hasanudin KM 40+000?KM 44+000 street and predicts the performance of the road for current conditions (2018), 3 year (2021), and 5 years (2023) future. The result is a decrease in service quality due to a decrease in road capacity and an imbalance with increasing traffic volumes each year. From the results of the analysis using MKJI 1997 obtained degree of saturation (DS) in the current condition (2018) intersection 3 (unsignalized intersection) is 1,03, while for intersection 4 (signal intersection) the average is not fulfilled in every approach, and for the intersection delay of 45,50 seconds/smp which is in the category of poor service level, to overcome this problem, a number of alternative traffic management solutions are carried out. Of the several alternatives chosen the most profitable. Alternative 1 is intended for intersection 3 (unsignalized intersection) by changing into a signal intersection, which results from the degree of saturation (DS) averaging 0,68, year 3 (2021) increases in each approach but the average value is still equal to 0,68, and increased in the 5th year (2023) by 0,72, which according to MKJI 1997 still fulfills. Simpang 4 (signal intersection) with alternative 2 (addition of green time) still cannot fully overcome the degree of saturation (DS) in each approach, Alternative 3 (phase change) fulfills each approach with the highest degree of saturation (DS) in the Northern approach at the current condition (2018) of 0,41 with service level B and the average delay of 28,53, and alternative 4 (combining alternatives 2 and 3) fulfills and makes the average delay becomes smaller for the current condition, 3 years, even for the next 5 years. Keywords: Performance Intersection, MKJI 1997, Traffic Management.