cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Rekayasa Teknik Sipil
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 380 Documents
PENGARUH VARIASI NAOH TERHADAP NA2SIO3 TERHADAP NILAI KUAT TEKAN DRY GEOPOLYMER MORTAR METODE DRY MIXING PADA KONDISI RASIO ABU TERBANG TERHADAP AKTIVATOR 5:1 RACHMAWAN SAPUTRA, OKY; WARDHONO, ARIE
Rekayasa Teknik Sipil Vol 2, No 1 (2019)
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Umumnya, dalam membangun suatu infrastruktur diperlukan material struktural yang kokoh yaitu beton. Di dalam beton terdapat bahan pengikat utama yang mampu membentuk kekuatan yaitu semen portland. Oleh karena itu permintaan semen portland lambat laun diprediksi akan semakin meningkat seiring gencarnya para negara-negara membangun infrastruktur untuk memperlancar roda perekonomian negara mereka. Beton geopolymer bisa menjadi solusi dalam permasalahan ini karena merupakan suatu jenis beton yang 100% tidak menggunakan semen sebagai bahan pengikatnya. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh variasi NaOH terhadap Na2SiO3 terhadap nilai kuat tekan dry geopolymer mortar metode dry mixing pada kondisi rasio abu terbang terhadap aktivator 5:1 dan didapatkan kuat tekan tertinggi dengan variasi NaOH terhadap Na2SiO3 pada kondisi rasio abu terbang terhadap aktivator 5:1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kuat tekan tertinggi didapat pada kondisi abu terbang terhadap aktivator 5:1 adalah 26,98 MPa, yaitu pada variasi campuran NaOH terhadap Na2SiO3 sebesar 1:3. Kuat tekan dry geopolymer mortar dipengaruhi banyaknya komposisi Na2O. Semakin tinggi kandungan Na2O maka reaksi yang terjadi akan semakin cepat yang menyebabkan semakin tingginya kuat tekan. Namun jika komposisi Na2O didalamnya terlalu tinggi juga dapat menyebabkan menurunnya kuat tekan mortar. Kata Kunci : mortar geopolymer, metode dry mixing, binder geopolymer. Abstract Generally, to build an infrastructure, strong structural materials are needed, that is a concrete. Inside the concrete there is the main binder material which is able to form the strength, it is a portland cement. Therefore, portland cement demand is predicted to be increased as countries intensely build infrastructure to facilitate the economy of their country. Geopolymer concrete can be the solution to this problem because it is a type of concrete that is 100% not using cement as a binder material. The purpose of this study was to determine the effect of variation NaOH on Na2SiO3 on the value of compressive strength of dry geopolymere mortar with dry mix method in the condition of the ratio of fly ash on activator 5:1 and the highest compressive strength with NaOH variation on Na2SiO3 in the condition of the fly ash ratio to activator 5:1. The results showed that the highest compressive strength obtained in the fly ash condition against a 5:1 activator was 26.98 MPa, which is in the variation of NaOH mixture to Na2SiO3 by 1: 3. The compressive strength of dry geopolymer mortar is influenced by the amount of Na2O composition. The higher the Na2O content, the faster the reaction will cause the higher the compressive strength. But if the composition of Na2O in it is too high it can also cause a decrease in mortar compressive strength. Keywords : geopolymer mortar, dry mixing method, geopolymer binder.
ANALISA CAMPURAN AC – WC DENGAN AGREGAT RECLAIMED ASPHALT PAVEMENT (RAP) DAN FILLER FLY ASH SEBAGAI CAMPURAN INDUK UNTUK PENAMBAHAN HIGH DENSITY POLYETHYLENE (HDPE) , KARISMANAN; MAHARDI, PURWO
Rekayasa Teknik Sipil Vol 2, No 1 (2019)
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Potensi Reclaimed Asphalt Pavement (RAP) hasil Cold Milling Machine sebagai agregat baru dalam perkerasan jalan dan bahu jalan masih belum optimal penggunaannya. Dengan adanya potensi pemanfaatan RAP dalam campuran aspal panas maka dilaksanakan penelitian ini. Penggunaan RAP dalam campuran beraspal diharapkan dapat menghemat anggaran pemeliharaan atau pembangunan jalan serta mengetahui kemungkinan penggunaan RAP dalam perkerasan. Campuran aspal panas Laston AC-WC bergradasi kasar dengan bahan pengikat aspal pen 60/70, sehingga material RAP dapat dimanfaatkan lebih optimal. Penelitian ini diawali dengan analisa saringan terhadap RAP dan material baru ditinjau dari Spesifikasi Umum Bina Marga 2010. Persentase penambahan agregat baru dalam campuran yang akan diuji bergantung pada gradasi RAP. Komposisi campuran harus memenuhi amplop gradasi agregat dan penambahan aspal pen 60/70 ke dalam campuran sesuai dengan perhitungan perkiraan kadar aspal (Pb). Didapatkan komposisi gradasi yang memenuhi amplop gradasi yaitu komposisi 21% RAP pada MA (Medium Agregat) dengan ukuran 5 - 10 mm dan CA (Course Agregat) dengan ukuran 10 - 15 mm. Campuran kemudian diuji dengan pengujian Marshall sehingga dapat menentukan komposisi campuran optimal yang memenuhi ketentuan Spesifikasi Umum Bina Marga 2010. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa komposisi campuran dengan 21% RAP pada CA (Course Agregat). Merupakan komposisi yang paling optimal dengan kadar aspal optimum (KAO) yang dihasilkan sebesar 5,25% pada campuran Variasi 2. Dengan analisa parameter Marshall, nilai stabilitas yaitu 1256,64 kg , kelelehan atau flow 3,25 mm, V.I.M 4,51%, V.M.A 15,12%, V.F.A 70,20%, dan marshall quotient 387,67 kg/mm.Kata Kunci: Parameter Marshall, Reclaimed Asphalt Pavement (RAP), Laston AC-WCThe potency of Reclaimed Asphalt Pavement from Cold Milling Machine as a subtitution of new asphalt and aggregate in the pavement and road?s shoulder is still not optimal use yet. By the potential of the use of RAP in Hot Mix Asphalt then this study The use of RAP in paved mixtures is expected to save maintenance or road construction budgets as well as knowing the possibility of using RAP in pavement. Coarse graded Hot Mix Asphalt Laston AC-WC with 60/70 pen asphalt binder, so that the materials can be optimally used. This study was initiated by examining analysis of RAP and new materials to be reviewed of The Highways General Specification 2010. The percentage of addition new aggregate in the mixture that will be tested depends on the RAP?s gradation. The composition of the mixtures must full fill aggregate grading envelope and the addition of 60/70 pen asphalt into the mixture according to calculation of estimated bitumen content (Pb). Obtained the compositions that meets the envelopegradation are the composition of 21% RAP on MA (Medium Aggregate) with a size of 5-10 mm and CA (Aggregate Course) with a size of 10-15 mm. A mixture of later in the test with testing marshall so it can determine the composition mix optimally filled the terms of The Highways General Specification 2010. The result of this study shows that the mixture composition with 21% RAP on CA (Aggregate Course). The most optimal composition with optimum asphalt content (KAO) is 5.25% in the mixture of Variation 2. By the Marshall parameter analysis, the stability value is 1256.64 kg, melt or flow 3.25 mm, V.I.M 4.51%, V.M.A 15.12%, V.F.A 70.20%, and Marshall quotient 387.67 kg / mm. Keywords: Marshall Parameter, Reclaimed Asphalt Pavement (RAP), Laston AC-WC
ANALISA CAMPURAN AC-WC PEN 60/70 DENGAN AGREGAT RECLAIMED ASPHALT PAVEMENT (RAP) DAN FILLER ABU BATU SEBAGAI CAMPURAN UNTUK PENAMBAHAN LOW DENSITY POLYETHYLENE (LDPE) BRIAN PERMANA, ARSANDY; MAHARDI, PURWO
Rekayasa Teknik Sipil Vol 2, No 1 (2019)
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada akhir ini, banyak pekerjaan pengaspalan jalan baru maupun penambalan. Dari pekerjaan tersebut, menimbulkan limbah aspal yang tidak dimanfaatkan kembali. Sehingga dapat menimbulkan masalah baru yaitu timbulnya limbah aspal atau yang disebut RAP (Reclaimed Asphalt Pavement). Pada penelitian ini yang ditinjau adalah pengaruh RAP (Reclaimed Asphalt Pavement) sebagai pengganti agregat dengan menggunakan filler abu batu pada campuran aspal pertamina pen 60/70 sebagai dasar campuran penambahan limbah plastik LDPE (Low Density Polyethylene). Oleh sebab itu penggunaan RAP menjadi salah satu alternatif yang digunakan untuk mendapatkan kualitas lapis perkerasan yang baik dan memanfaatkan kembali limbah perkerasan lentur. Benda uji yang disiapkan untuk campuran AC-WC+RAP dengan persentase aspal 4,5%; 5%; 5,5%; 6%; 6,5%; dari total berat material. Pencampuran agregat AC-WC+RAP dilakukan dengan metode kering, dicampur diatas penggorengan. Dari hasil uji Marshall menunjukkan seluruh kadar aspal telah memenuhi spesifikasi umum Bina Marga 2018 divisi 6. Nilai stabilitas dan flow optimum ada pada variasi 3 dengan kadar aspal 6% yaitu 1287,18 Kg untuk stabilitas dan 3,5 mm untuk flow. Dimana variasi 3 mensubstitusi material asli agregat halus ke penggunaan material RAP yang sangat maksimal yaitu sebesar 46%. Kata Kunci : Karakteristik Marshall, Laston AC-WC, Reclaimed Asphalt Pavement (RAP), Low Density Polyethylene (LDPE)
ANALISA KERUSAKAN JALAN DAN TEKNIK PERBAIKAN BERDASARKAN METODE PAVEMENT CONDITION INDEX (PCI) BESERTA RENCANA ANGGARAN BIAYA PADA RUAS JALAN GEMPOL – PANDAAN (STUDI KASUS: RUAS JALAN GEMPOL – PANDAAN KM 39+000 – 42+000) OKI PRATAMA, TONI; SURYANTO HS, MAS
Rekayasa Teknik Sipil Vol 2, No 1 (2019)
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mencari jenis kerusakan, tingkat kerusakan, jenis perbaikan jalan dan rencana anggaran biaya pada jalan Gempol ? Pandaan di Kabupaten Pasuruan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Sasaran penelitian ini adalah ruas Jalan Gempol ? Pandaan tepatnya pada Km 39+000 sampai 42+000. Metode pengumpulan data dengan observasi dan dokumentasi. Metode analisa PCI merupakan metode yang digunakan untuk mengetahui suatu nilai kondisi pada lapisan permukaan jalan yang besar nilainya ditentukan oleh keadaan lapis permukaan yang diakibatkan oleh kerusakan jalan yang terjadi. Metode analisa PCI ini merupakan metode untuk mengevaluasi kerusakan perkerasan secara visual dengan 3 hal penting yaitu: (1) Penentuan jenis kerusakan dan tingkat keparahan. (2) Penilaian kerusakan. (3) Penentuan kondisi perkerasan. Metode PCI ini dapat digunakan sebagai acuan untuk menentukan perbaikan perkerasan jalan. Hasil penelitian dari penelitian ini adalah: (1) Jenis kerusakan perkerasan jalan yang terjadi adalah retak buaya dengan total 3667,31 m2, retak blok dengan total 83,46 m2, keriting dengan total 648,77 m2, penurunan bekas tambalan dengan total 88,01 m2, lubang dengan total 2,32 m2 dan sungkur dengan total 156,84 m2. (2) Nilai tingkat kerusakan rata-rata yang terjadi berdasarkan niliai PCI adalah 86-100 (baik) sebesar 12,5%, 51-70 (sedang) sebesar 17,5%, 26-50 (buruk) sebesar 60% dan 0-25 (sangat buruk) sebesar 10%. (3) jenis perbaikan yang didapat berdasarkan hasil analisis adalah metode pemeliharaan rutin untuk 7 segmen jalan, metode lapis tambah untuk 24 segmen jalan dan metode perencanaan jalan kembali untuk 4 segmen jalan. (4) Nilai biaya yang diperlukan untuk perbaikan jalan berdasarkan hasil perhitungan rencana anggaran biaya adalah sebesar Rp. 4.611.871.000,00. Kata kunci: kerusakan, PCI (Pavement Conditon Index), perbaikan, anggaran biaya.Abstract This research aims to find for this type of damage, level of damage, type of road repair and cost budget plan on Gempol ? Pandaan Road in Pasuruan Regency. This research is a quantitative research. The target of this research is Gempol - Pandaan Road section precisely on Km 39+000 until 42+000. Data collection methods with observation and documentation. PCI analysis is a method used to determine the value of conditions in the road surface layer whose value is determined by the state of the surface layer caused by damage to the road that occurs. This PCI analysis method is a method for evaluating pavement damage visually with 3 important things, specifically: (1) Determination of type of damage and severity. (2) Damage assessment. (3) Determination of pavement conditions. This PCI method can be used as a reference to determine road pavement repairs. The results of this research are: (1) The type of road pavement damage is alligator crack has amount 3667,1 m2,, block crack has amount 83,46 m2, corrugation has amount 648,77 m2, patch & utility cut patching has amount 88,01 m2, potholes has amount 2,32 m2 and shoving has amount 156,84 m2. (2) The value of the average damage level that occurs based on PCI values ??is 86-100 (good) has amount 12,5%, 51-70 (fair) has amount 17,5%, 26-50 (poor) has amount 60% and 0-25 (very poor) has amount 10%. (3) the type of improvement obtained based on the results of the analysis is patching method for 7 road segment, overlays method for 24 road segment and reconstruction for 4 road segment. (4) The cost value required for road improvement based on the calculation of the budget plan is as big as Rp. 4.611.871.000,00. Keywords: damage, PCI (Pavement Condition Index), repair, budget plan.
PENGARUH VARIASI JUMLAH TUMBUKAN MENGGUNAKAN ASBUTON BUTON GRANULAR ASPHALT (BGA) DAN LAWELE GRANULAR ASPHALT (LGA) SEBAGAI CAMPURAN ASPHALT CONCRETE WEARING – COURSE (AC – WC) PENETRASI 60/70 HASAN BASRI, MOHAMMAD; RISDIANTO, YOGIE
Rekayasa Teknik Sipil Vol 2, No 1 (2019)
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Kadar Aspal Optimum dari variasi jumlah tumbukan dan untuk mengetahui pengaruh variasi jumlah tumbukan terhadap asbuton BGA dan LGA pada campuran Asphalt Concrete ? Wearing Course (AC ? WC) melalui pengujian Marshall. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan melakukan pengujian di laboratorium. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengarush asbuton BGA dan LGA dengan analisa data yang sudah ditentukan. Kadar Aspal Optimum yang dihasilkan oleh campuran AC ? WC dengan 75 dan 112 tumbukan adalah 5,5%. Kadar Aspal Optimum yang dihasilkan oleh campuran AC-WC dan BGA didapatkan 5,0% untuk 75 tumbukan dan 5,5% untuk 112 tumbukan. Kadar Aspal Optimum yang dihasilkan oleh campuran AC-WC dan LGA dengan 75 dan 112 tumbukan adalah 5,0%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan jumlah tumbukan 75 menghasilkan nilai stabilitas yang lebih tinggi dari tumbukan 112. Rata ? rata nilai flow yang dihasilkan oleh tumbukan 75 telah memenuhi spesifikasi jika dibandingkan dengan tumbukan 112. Hal ini menunjukkan bahwa dengan jumlah tumbukan lebih dari 75 semua benda uji campuran AC-WC dengan BGA maupun LGA tidak memenuhi spesifikasi Bina Marga 2010. Kata Kunci: AC ? WC, Asbuton, Tumbukan Abstract The purpose of this study was to determine the Optimum Asphalt Level from variations in the number of collisions and to determine the effect of variations in the number of collisions on BGA and LGA asbuton in a mixture of Asphalt Concrete - Wearing Course (AC - WC) through Marshall testing. This research was quantitative research by testing in the laboratory and conducted to determine the effect of BGA and LGA asbuton by analyzing the data that has been determined. Optimum Asphalt Levels produced by AC-WC mixtures with 75 and 112 collisions are 5.5%. Optimum Asphalt Levels produced by a mixture of AC-WC and BGA obtained 5.0% for 75 collisions and 5.5% for 112 collisions. Optimum Asphalt Levels produced by a mixture of AC-WC and LGA with 75 and 112 collisions are 5.0%. The results showed that with the number of collisions 75 produced a higher stability value of collision 112. The average flow value produced by the collision 75 has met the specifications when compared with collision 112. This shows that with the collision number of more than 75 all test specimens the mix of AC-WC with BGA and LGA did not meet the 2010 Bina Marga specifications. Keywords: AC - WC, Asbuton, Collision
PENGARUH SUBSTITUSI LIMBAH MARMER TERHADAP NILAI KUAT TEKAN DRY GEOPOLYMER MORTAR METODE WET MIXING DENGAN BERBAHAN DASAR ABU TERBANG DAN NAOH 8M ERWAN TRIANTONO, RIYAN; WARDHONO, ARIE
Rekayasa Teknik Sipil Vol 2, No 1 (2019)
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPerkembangan yang terjadi pada dunia konstruksi di Indonesia telah meningkat sangat pesat. Hal ini juga berdampak pada bertambahnya jumlah penggunaan mortar sebagai salah satu material konstruksi. Mortar sebagai bahan konstruksi yang mengandung semen memiliki peranan yang sangat penting untuk perekat antara material-material penyusunnya. Pabrik semen pada saat proses produksi semen terjadi pelepasan gas karbondioksida (CO2) ke udara yang besarnya sebanding dengan jumlah semen yang diproduksi yang dapat merusak lingkungan hidup kita diantaranya pemanasan global. Salah satu inovasi yang dapat menggantikan atau mengurangi komposisi semen adalah beton geopolimer. Hasil dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa beton geopolymer memiliki potensi untuk menghasilkan sifat mekanik yang lebih baik dengan adanya kandungan CaO pada fly ash. Limbah marmer merupakan material hasil sisa produksi yang memiliki kandungan CaO cukup tinggi, yaitu sebesar 97,74%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh substitusi limbah marmer terhadap nilai kuat tekan pada pembuatan dry geopolymer mortar metode wet mixing berbahan dasar abu terbang dan NaOH 8M. Pengujian dilakukan pada mortar diameter 5cmx5cmx5cm dengan variasi persentase substitusi sebesar 0%, 5%, 10%, 15%, 20%. Larutan alkali aktifator menggunakan molaritas 8M. Hasil penelitian menunjukkan substitusi limbah marmer sebesar 10% memiliki nilai kuat tekan paling tinggi yaitu sebesar 8,57 MPa dengan nilai porositas sebesar 1,90%. Kata Kunci : Geopolymer mortar, Limbah marmer, NaOH 8M, fly ash, kuat tekan. AbstractThe development in the construction world in Indonesia has increased very rapidly. This also has an impact on increasing the number of mortar use as one of the construction materials. Mortar as a construction material containing cement has a very important part for adhesives between its constituent materials. Cement factories during the cement production process, occur the release of carbon dioxide (CO2) gas into the air which is proportional to the amount of cement produced which can damage our environment including global warming. One of innovation that can replace or reduce the composition of cement is geopolymer concrete. The results of several studies show that geopolymer concrete has the potential to produce better mechanical properties in the presence of CaO content in fly ash. Marble waste is a residual production material that has a high CaO content of 97.74%. This study aims to determine the effect of marble waste substitution on the value of compressive strength in the manufacture of wet mixing dry geopolymer mortar based on fly ash and NaOH 8M. Tests were carried out on 5cmx5cmx5cm diameter mortars with variations in the percentage substitution of 0%, 5%, 10%, 15%, 20%. The alkali activator solution uses 8M molarity. The results showed that substitution of 10% marble waste had the highest compressive strength of 8.57 MPa with porosity value of 1.90%. Keywords : Geopolymer mortar, Marble waste, 8M NaOH, fly ash, compressive strength.
PENGGUNAAN ASBUTON LAWELE GRANULAR ASPHALT (LGA) DAN BUTON GRANULAR ASPHALT (BGA) PADA CAMPURAN ASPAL PORUS ADNANY, IFTITAH; RISDIANTO, YOGIE
Rekayasa Teknik Sipil Vol 2, No 1 (2019)
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Aspal porus merupakan generasi baru dalam perkerasan lentur. Aspal porus memiliki campuran dengan agregat tertentu, yang didesain mempunyai pori-pori udara dan membolehkan air meresap secara vertical maupun horizontal. Aspal porus memiliki nilai stabilitas marshall yang lebih rendah dari aspal beton yang menggunakan gradasi rapat. Penggunaan aspal porus dinilai bisa menjadi solusi dari permasalahan kondisi jalan di Indonesia. Asbuton ditemukan oleh geolog asal Belanda WH Hetzel Asbuton pada tahun 1924, dan digunakan pertama kali dalam pengaspalan jalan dua tahun kemudian. Aspal alam di Pulau Buton totalnya tidak kurang dari 750 juta ton, ini berarti 80% cadangan aspal alam di dunia terdapat di Pulau Buton. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penambahan Buton Granular Asphalt (BGA) dan Lawele Granular Asphalt (LGA) dalam campuran Aspal Porus yang menggunakan agregat bergradasi seragam ditinjau dari karakteristik Marshall. Agregat bergradasi seragam adalah agregat yang hanya terdiri dari butir ? butir agregat berukuran sama atau hampir sama. Metode penelitian ini menggunakan standart SNI 06-2489-1991 dengan gradasi campuran menggunakan standart Australian Asphalt Pavement Association (2004). Variasi kadar aspal dengan campuran LGA BGA adalah 2%, 2,5%, 3%, 3,5%, 4%, dan 4,5% dengan menggunakan aspal pen 60/70. Serta penambahan BGA pada agregat halus (0 mm-5 mm) dengan perbandingan 50:50 dan penambahan LGA pada agregat medium (5 mm ? 10 mm) dengan perbandingan 50:50. Hasil penelitian menunjukan dengan adanya penambahan asbuton LGA dan BGA berpengaruh cukup baik dilihat dari nilai stabilitas menigkat mencapai 724,3 kg, mengalami kenaikan hingga 15,66% dari campuran aspal porus tanpa penambahan LGA dan BGA. Untuk nilai VIM pada kadar aspal 2,75% telah memenuhi spesifikasi dari Australian Asphalt Pavement Association (2004) sehingga dapat memenuhi parameter untuk struktur perkerasan lentur. Nilai permeabilitas mengalami penurunan dari kondisi kontrol tetapi tetap berada di atas standart yang ditentukan. Kata Kunci : Aspal porus, Buton Granular Asphalt (BGA), Lawele Granular Asphalt (LGA), Marshall, Permeabilitas.
DESAIN DIMENSI MODEL SISTEM JARINGAN PIPA DISTRIBUSI AIR BAKU DUSUN GLINDAH KIDUL DESA GLINDAH KEDAMEAN GRESIK MENGGUNAKAN PROGRAM APLIKASI EPANET V.2.0. DWIJAYA, ARIF; IRIANTO, DJONI
Rekayasa Teknik Sipil Vol 2, No 1 (2019)
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK DESAIN DIMENSI MODEL SISTEM JARINGAN PIPA DISTRIBUSI AIR BAKU DUSUN GLINDAH KIDUL DESA GLINDAH KEDAMEAN GRESIK MENGGUNAKAN PROGRAM APLIKASI EPANET v.2.0 Nama : Arif DwijayaNIM : 15050724014Program Studi : S-1 Teknik SipilJurusan : Teknik SipilFakultas : TeknikNama Lembaga : Universitas Negeri SurabayaPembimbing : Drs. Djoni Irianto, M.T Air adalah salah satu kebutuhan penting untuk menjaga keberlangsungan hidup manusia. Air yang dibutuhkan manusia selain harus memiliki kualitas yang baik, juga harus memiliki kuantitas yang cukup dan sistem distribusi yang baik pula. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menganalisa suatu sitem jaringan pipa agar terjadi pendistribusian air dengan baik.Tujuan dari penelitian ini yaitu (1) mengetahui kebutuhan air baku (2) menganalisa model jaringan pipa air baku sampai tahun ke-T (3) menganalisa debit aliran, dan besar kehilangan energi yang terjadi pada model jaringan pipa sesuai standar kebutuhan air di Dusun Glindah Kidul, Desa Glindah Kedamean Gresik menggunakan program aplikasi EPANET v.2.0.Metode penelitian ini adalah kuantitatif simulasi. Data dikumpulkan dengan mencari informasi data sekunder melalui Panitia Pengelola Air Dusun Glindah Kidul, instansi pemerintahan Desa Glindah, dan melalui penelusuran dengan bantuan instrumen penelitian. Data demografi penduduk kami dapatkan dari instansi pemerintahan desa Glindah. Data air dan pemetaan situasi kami dapatkan dari Panitia Pengelola Air Dusun Glindah dan aplikasi globe virtual Google Earth Pro.Hasil penelitian menunjukkan pipa eksisting di Dusun Glindah Kidul diperlukan modifikasi dimensi pipa agar memenuhi standarisasi pemakaian air oleh SNI 03-7065-2005. Modifikasi dilakukan dengan trial error hingga mendapatkan dimensi yang efektif untuk mendistribusikan air baku, menyesuaikan velocity, pressure dan unit headloss yang terjadi pada pipa. Jaringan pipa yang telah dimodifikasi dimensinya, mampu menerima debit sampai dengan 1.1607 l/d yang terjadi pada tahun 2028 atau tahun ke-10 perencanaan. Kata kunci: air, pipa, velocity, headloss, EPANET.ABSTRACT DIMENSIONAL DESIGN OF RAW WATER DISTRIBUTION NETWORK MODEL SYSTEM GLINDAH KIDUL HAMLET GLINDAH VILLAGE KEDAMEAN GRESIK USING EPANET v.2.0 APPLICATION PROGRAM Name : Arif DwijayaSRN : 1505072014Courses of Study : Bachelor of Civil EngineeringDepartment : Civil EngineeringFaculty : Faculty of EngineeringInstitution : State University of SurabayaLecture Supervisor : Drs. Djoni Irianto, M.T Water is one of the important needs to maintain human survival. Water that is needed by humans in addition to having good quality, must also have sufficient quantity and a good distribution system. Therefore, it is important for us to analyze a pipeline network system so that there is a good distribution of water.The objectives of this study are (1) to know the raw water requirements (2) to analyze the model of the raw water pipeline until the T-year (3) to analyze the flow rate, and the amount of energy loss that occurs in the pipeline model according to the water requirements in Glindah Kidul Hamlet, Glindah Village Kedamean Gresik using the EPANET v.2.0 application program.This research method is quantitative simulation. Data was collected by looking for secondary data information through the Water Management Committee of Glindah Kidul Hamlet, Glindah Village government agency, and through search with the help of research instruments. We get population demographic data from Glindah village government agencies. Water data and mapping of the situation we got from the Glindah Kidul Water Management Committee and the Google Earth Pro virtual globe application.The results of the research show that the existing pipes in Glindah Kidul Hamlet are required to modify the dimensions of the pipe to meet the standardization of water use by SNI 03-7065-2005. Modifications are made by trial error to get effective dimensions to distribute raw water, adjust the velocity, pressure and headloss units that occur in the pipe. Dimensioned pipelines are capable of receiving debits up to 1,1607 l / d which occur in 2028 or the 10th year of planning. Keywords: water, pipe, velocity, headloss, EPANET.
PEMANFAATAN LIMBAH BETON SEBAGAI BAHAN CAMPURAN ASPAL PORUS KURNIA WILUJENG, BERLIAN; RISDIANTO, YOGIE
Rekayasa Teknik Sipil Vol 2, No 1 (2019)
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di Indonesia, limbah beton yang digunakan sebagai subtitusi material pada konstruksi perkerasan jalan masih belum dikembangkan. Aspal porus merupakan campuran perkerasan yang memiliki porositas tinggi dibanding dengan jenis perkerasan lain. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik marshall dan permeabilitas dari campuran limbah beton untuk perkerasan jalan aspal porus. Pada penelitian ini, metode yang digunakan yaitu dengan menggunakan standar gradasi Australian Asphalt Pavement Association (2004). Digunakan variasi kadar aspal campuran limbah beton adalah 4%, 4,5%, 5%, 5,5%, 6%, 6,5% dengan menggunakan aspal pen 60/70. Masing-masing dibuat 3 benda uji untuk dilakukan pengujian Marshall dan 2 benda uji untuk dilakukan pengujian Permeabilitas. Hasil analisis dari penelitian menunjukkan kadar aspal optimum sebesar 5,75%. Dengan menggunakan limbah beton sebagai campuran aspal porus, memberikan pengaruh yang signifikan pada nilai Void In Mix, stabilitas, flow, dan juga permeabilitas.Kata Kunci: Aspal Porus. Limbah Beton, Marshall, Permeabilitas
PENGARUH PENAMBAHAN BOTTOM ASH DAN SERBUK CANGKANG BEKICOT (ACHATINA FULICA) SEBAGAI PENGGANTI SEBAGIAN SEMEN PADA BATA RINGAN AMIRUL A R, AMATULLAH; FIRMANSYAH SOFIANTO, MOCHAMAD
Rekayasa Teknik Sipil Vol 2, No 1 (2019)
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Cellular Lightweight Concrete (CLC) adalah beton ringan seluler (berpori) yang mengalami proses curing secara alamiah. Dalam prosesnya menggunakan busa organik yang sangat stabil, dan tidak ada reaksi kimia ketika proses pencampuran adonan (E, Hunggurami, 2014). Di dalam SNI 03-2847-2002 tertulis beton ringan adalah beton yang mengandung agregat ringan dan mempunyai berat satuan tidak lebih dari 1900 kg/m3. Pada penelitian ini, bahan-bahan untuk pembuatan bata beton ringan seluler yang digunakan adalah pasir,semen,air dan foam agent. Pada pembuatan bata beton ringan seluler ini menggunakan bottom ash dan serbuk cangkang bekicot dengan perbandingan campuran 1:0,6 untuk bahan pengganti semen. Mix design yang digunakan dalam penelitian ini berdasarkan penelitian Hazim (2016) adalah semen:pasir 1:2 dengan FAS 0,5. Kadar penggunaan campuran bottom ash dan serbuk cangkang bekicot adalah sebanyak 5%, 10%, 15% dan 20% dari berat semen. Pengujian yang dilakukan adalah uji berat volume, uji kuat tekan dan uji penyerapan air. Hasil kuat tekan optimum dihasilkan pada benda uji dengan kadar subtitusi 20% dari jumlah semen, yaitu 3,7 MPa, dengan berat volume sebesar 1,02 g/cm3 dan 26,2% penyerapan air. Berdasarkan SNI 03-0349-1989 bata beton ringan seluler tersebut termasuk kedalam kelas mutu III. Kata Kunci: Bata Beton Ringan Seluler Bata Ringan, Berat Volume, Bottom Ash, CLC, Kuat Tekan, Penyerapan, Serbuk Cangkang Bekicot. Abstract Cellular Lightweight Concrete (CLC) is lightweight concrete cellular (porous) which undergoes a natural curing process. In the process of making CLC is using very stable organic foam, and there is no chemical reaction when mixing the dough (E, Hunggurami, 2014). In SNI 03- 2847-2002 written that light weight concrete containing light aggregates and has a unit weight of not more than 1900 kg/m3. The used materials for making cellular lightweight concrete in this study were sand, cement, water and foam agent. In making this cellular light weight concrete used bottom ash and snail shell powder with comparison of mixture of 1: 0.6 as replacement material for cement. The mix design used in this study is based on Hazim (2016) research with ratio cement:sand 1:2 and water ratio 0.5. The percentage of bottom ash and snail shell powder mixture are 5%, 10%, 15% and 20% for replacement material of cement. Tests carried out were volume weight test, test compressive strength and density. The optimum compressive strength results were produced from the test object substitution rate of 20% from the amount of cement, which was 3.7 MPa, volume weight of 1.02 g/cm3 and 26.2% density. Based on SNI 03-0349-1989 the lightweight concrete cellular included in the 3rd quality class. Keywords: Absorption, Bottom Ash, Lightweight Brick, Cellular Lightweight Concrete Brick, CLC, Compressive Strength, Snail Shell Powder, Volume Weight.