cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Swara Bhumi
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Arjuna Subject : -
Articles 509 Documents
KAJIAN GEOGRAFIS OBYEK WISATA WADUK GONDANG DI KECAMATAN SUGIO KABUPATEN LAMONGAN DEWI KURNIASARI, ALIFIA
Swara Bhumi Vol 3, No 3 (2016): Vol.3 Nomor 3 2016
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Waduk Gondang adalah salah satu obyek wisata di Kabupaten Lamongan yang memiliki keunggulan kepariwisataan dari segi daya tarik yaitu dengan mengandalkan pemandangan waduk serta beberapa atraksi menarik didalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan daya tarik, karakteristik wisatawan, aksesibilitas yang meliputi jarak, waktu tempuh dan biaya menuju obyek wisata Waduk Gondang dari tempat tinggal wisatawan maupun dari Wisata Bahari Lamongan dan mengenai nilai kegunaan, perbedaan antara lokasi obyek wisata Waduk Gondang dan Wisata Bahari Lamongan dengan lokasi penting di sekitarnya, interaksi/interdependensi antara Waduk Gondang dengan Wisata Bahari Lamongan serta promosi obyek wisata. Jenis penelitian ini merupakan penelitian survey. Teknik pengumpulan data dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik pengambilan sampel menggunakan Accidental Random Sampling yaitu mengumpulkan dan mengolah data sampel secara acak dengan jumlah responden 80 orang. Sampel pihak pengelola adalah pengelola bidang pariwisata dari pemerintah Lamongan yang berjumlah 1 orang. Teknik analisis data menggunakan teknik analisis deskriptif kuantitatif.  Hasil penelitian menunjukkan karakteristik wisatawan sebagian besar  adalah perempuan, pengunjung paling banyak berusia 14-20 tahun, mayoritas tingkat pendidikan pengunjung SMA, pekerjaan wisatawan paling banyak mahasiswa dan pelajar, sebagian besar pengunjung adalah warga lokal Lamongan. Daya tarik termasuk kategori sedang dengan jumlah skor 1350, aksesibilitas mudah untuk dijangkau dengan skor 610. Nilai kegunaan obyek wisata Waduk Gondang terhadap harapan refreshing wisatawan 54% responden menyatakan berguna. Nilai kegunaan obyek wisata Waduk Gondang terhadap harapan istirahat wisatawan 64% responden menyatakan sangat berguna. Nilai kegunaan obyek wisata terhadap harapan rekreasi wisatawan 71% menyatakan berguna. Lokasi Waduk Gondang yang berdekatan dengan beberapa lokasi penting disekitarnya maka lokasi obyek wisata Waduk Gondang termasuk strategis. Interaksi yang terjadi antara Waduk Gondang dengan Wisata Bahari Lamongan maksimal atau besar. Promosi obyek wisata Waduk Gondang termasuk sedang dengan skor 14. Berkurangnya jumlah wisatawan dari tahun 2012 hingga sekarang disebabkan oleh beberapa faktor yaitu, daya tarik Waduk Gondang yang hingga kini tidak ada  penambahan atraksi, interaksi antara waduk Gondang dengan obyek wisata lain yang berjauhan sehingga mempengaruhi wisatawan dari luar kota untuk tidak sekalian mengunjungi obyek wisata Waduk Gondang dalam satu kali perjalanan wisatanya, serta promosi yang dilakukan obyek wisata Waduk Gondang kurang efektif karena hanya tinggi di intensitas akan tetapi kurang di media, jangkauan dan kerjasama promosi.   Kata kunci: Daya Tarik, Kajian Geografis, Promosi.      Abstrack   Reservoir Gondang is one of tourisms in Lamongan having tourism excellence in terms of attractiveness such as by relying on reservoir scenery and some interensting attraction over there. This research aims to describe attractiveness, characteristics of tourists, accessibility which covers the distance, travel time and costs to Reservoir Gondang  from the dwelling place of tourists and Wisata Bahari Lamongan  and the value of usefulness, the difference between Reservoir Gondang and Wisata Bahari Lamongan with important locations around them, the interaction/ interdependensi between Reservoir Gondang and Wisata Bahari Lamongan as well as the promotion of tourist attractions. Type of this research is research survey. Techniques of data Collection of this research are observation, interviews and documentation. The sample collection technique is accidental random sampling such as collecting and processing the data random samples with  80 respondents. While the sample of the management is the field of tourism managers from Lamongan governmen, 1 person. Data analysis techniques are descriptive and quantitative analysis techniques. The result  shows characteristic of tourist are mostly women. The most visitors are 14-20 years old. The majority of the level of education of visitors is high school. The job of  the most tourists is students. Most of the visitors are Lamongan local society. Attraction is the middle category, 1350. Accessibility is easy to reach with the score 610. The value of the usefulness of the tourism’s pleasantness of the object is  54%. The tourism’s restfulness is 64%. The tourism’s recreation hope is 71%. Reservoir location is near to other locations so that the location of Reservoir Gondang is strategic. Interaction that occurs between the reservoir and Wisata Bahari  Lamongan is  large. Promotion  tourism of the reservoir is middle with score 14.  The decreasing number of tourist from year 2012 until now is caused by some reasons. They are the attraction of Reservoir Gondang which is never added.  The distance between  Reservoir Gondang and the other tourism objects is far.  That influences tourist from out of town for not coming at once in their trip, and the promotion of Reservoir Gondang is not effective enough due to the lacking in the media promotion, promotion scope and cooperation.   Keywords: Attraction, Geographical Study, Promotion.
PERSEBARAN KECELAKAAN BUS DI KABUPATEN MADIUN (STUDY KASUS DI KABUPATEN MADIUN) TAHUN 2012-2014 NUROZI ARIF, MUKHLAS
Swara Bhumi Vol 3, No 3 (2016): Vol.3 Nomor 3 2016
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak  Kabupaten Madiun menjadi tempat persimpangan tiga jalur utama atau titik temu dari tiga Kabupaten yaitu : Kabupaten Ngawi, Ponorogo dan Nganjuk. Persimpangan tersebut menghubungkan Kabupaten Madiun dengan kabupaten sekitarnya, yang dilalui oleh 3 golongan bus yaitu : bus dalam kota, bus antar kota dalam propinsi (Restu, Jaya, Mandala dan Cendana) serta bus antar kota antar propinsi (Sumber Kencono, Mira, Eka) dan masih memungkinkan dilewati bus pariwisata, memungkinkan terjadinya lonjakan terhadap tingkat kecelakaan. Tujuan penelitian yaitu untuk menggambarkan persebaran kejadian kecelakaan bus dan mendeskripsikan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kecelakaan bus di Kabupaten Madiun tahun 2012-2014. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan rancangan penelitian studi kasus. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, dokumentasi, dan triangulasi. Teknik analisis data menggunakan tiga tahapan yaitu, reduksi, penyajian data, dan kesimpulan atau verifikasi. Penelitian ini hanya dilakukan uji kredibilitas (Credibility) dan uji dependabilitas (Dependability) atau reabilitas (Reability) sebagai uji keabsahan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lokasi kejadian kecelakaan bus di jalan kolektor Kabupaten Madiun yang paling sering terjadi yaitu di wilayah kolektor Balerejo. Data kepolisian Polres Madiun menyatakan black spot (titik rawan kecelakaan) berada di Desa Garon Kecamatan Balerejo. Persebaran lokasi kejadian kecelakaan bus di jalan kolektor Kabupaten Madiun tergolong kedalam pola persebaran secara bergerombol (cluster pattern). Faktor-faktor yang mempengaruhi kecelakaan bus antara lain: faktor manusia, faktor fisik jalan, dan faktor cuaca. Faktor yang paling berpengaruh terhadap kecelakaan bus di jalan kolektor Kabupaten Madiun yaitu faktor manusia, ditimbulkan akibat emosi, kelalaian, ugal-ugalan, mengantuk, dan kurang kewaspadaan sopir bus dalam menjalankan kendaraannya. Kata Kunci: Persebaran, Kecelakaan Bus, Jalan Kolektor, Kabupaten Madiun Abstract Madiun regency is the place of three major line intersections or meet point by three regencies i.e : Ngawi Regency, Ponorogo Regency, and Nganjuk Regency. Major line intersections which connecting between Madiun Regency with nearest regency surround it, have crossed by 3 criteria bus that is : regency trajectory, inter regency of regions trajectory (Restu, Jaya, Mandala, and Cendana), inter regency inter region trajectory (Sumber Kencono, Mira, Eka) and still have a probability for crossed by tourism bus, possible to increasing of level accident. The purposive of this study is to explain a distribution of bus accident and describe some factors that cause for bus accidents in Madiun Regency on 2012-2014 periods. This study using qualitative method by study case. The method of data collecting is by interview, observation, documentation, and triangulation. The method of data analyzing has three phase that is, reduction, data presenting, and conclusion or verification. As data validation, this study is only by credibility test, dependability test or reability. The result of this study is showing that place which the most happening of bus accidents in collector road Madiun Regency, exactly on collector area of Balerejo. Madiun Regency Police Administrative Unit data have been explained the blackspot area is on Garon village District Of Balerejo The place of bus accident distribution on collector road in Madiun Regency are including into cluster pattern The factors which have influence of bus accident there are : human factor, road condition faktor, and weather factor. The most influencing factor of bus accident on collector road in Madiun Regency is human factor, that cause by  emotion, negligent, mischievous, feel sleepy, and less of wary by bus driver on driving its vehicle. KeyWords : Distribution, Bus Accident, Collector Road, Madiun Regency.
PENGARUH PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN SNOWBALL THROWING PADA MATERI CUACA DAN IKLIM TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA KELAS X SMA NEGERI 1 BABAT ISMIATININGSIH,
Swara Bhumi Vol 3, No 3 (2016): Vol.3 Nomor 3 2016
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kurang optimalnya pembelajaran dikarenakan beberapa hal, salah satunya adalah pemilihan strategi pembelajaran yang kurang tepat dalam meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa . Penerapan strategi pembelajaran Snowball Throwing merupakan salah satu upaya yang bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas X yang dapat dilakukan oleh guru di SMA Negeri 1 Babat.                 Jenis penelitian ini adalah quasi experiment dengan menggunakan rancangan pre-test dan post-test. Penelitian ini menunjukkan bahwa kelas eksperimen mengalami peningkatan hasil belajar pada post-test. Hasil penelitian dengan paired t-test menunjukkan bahwa kelas eksperimen X-3 memperoleh rata-rata sebesar 45,33 pada pre-test dan 78,89 pada post-test. Kelas eksperimen X-5 memperoleh rata-rata sebesar 38,75 pada pre-test dan 82,64 pada post-test yang artinya bahwa hasil belajar siswa sebelum dan sesudah diterapkannya strategi Snowball Throwing  adalah berbeda dan signifikan.   Kata Kunci : Snowball Throwing, Strategi Pembelajaran, Hasil belajar Abstrack There were several causes of a less than optimal learning, one of that was the selection of learning strategies which not in accordance to improve the activity and students learning outcomes. Teacher can practices Snowball Throwing as learning strategies to improve learning outcomes of students grade X in Senior High School 1 Babat, Lamongan.   This research was a quasi-experiment with using pre-test and post-test designed. This research has indicated that learning outcomes of the experimental class had increased in post-test. The results of the study with paired t-test indicated that the experimental class X-3 obtained an average of 45,33 in pre-test and 78,89 in post-test. While the experimental class X5 obtained an average of 38,75 in pre-test and 82,64 in post-test. Those results meant the students learning outcomes before and after practices of Snowball Throwing strategies were different and significant.   Keywords: Snowball Throwing, learning strategies, learning outcomes
ANALISIS KETIMPANGAN PEMBANGUNAN TIAP KECAMATAN DI KABUPATEN TUBAN AFIDATINA, THARRA
Swara Bhumi Vol 3, No 3 (2016): Vol.3 Nomor 3 2016
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak   Pembangunan menjadi proses kegiatan yang dianggap penting dan wajib dilaksanakan oleh semua wilayah. Pembangunan pada intinya bertujuan untuk menjadikan kehidupan masyarakat yang lebih makmur dan sejahtera. Pengerjaan pembangunan tidak selalu bisa mencapai pemerataan, terdapat beberapa daerah yang mencapai pertumbuhan cepat sementara beberapa daerah lain mengalami pertumbuhan yang lambat. Ketidakmerataan yang terjadi antar satu daerah dengan daerah lainnya inilah yang menyebabkan terjadinya ketimpangan pembangunan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1)sektor basis tiap kecamatan di Kabupaten Tuban, 2)karakteristik pertumbuhan ekonomi tiap kecamatan di Kabupaten Tuban, 3)tingkat ketimpangan pembangunan tiap kecamatan di Kabupaten Tuban. Data yang digunakan adalah data sekunder yang di dapatkan dari hasil publikasi BPS dan BAPPEDA Kabupaten Tuban. Data yang diperoleh mencakup Kabupaten Tuban dalam angka 2015, Kecamatan dalam angka 2015, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku tahun 2014, statistik kecamatan tahun 2015. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan analisis Location Quotient (LQ), dan Tipologi Klassen dan Indeks Williamson. Hasil analisis dengan Location Quotient (LQ) menunjukkan bahwa dari 20 kecamatan yang ada di Kabupaten Tuban terdapat 17 kecamatan yang menjadi basis dalam sektor pertanian. Sektor pertambangan dan penggalian terdapat 5 kecamatan yang menjadi basis. Sektor industri pengolahan terdapat 2 kecamatan yang menjadi basis. Sektor Listrik, gas dan air bersih sebanyak 13 kecamatan yang menjadi basis. Sektor Kontruksi sebanyak 5 kecamatan yang menjadi basis. Sektor Perdagangan, hotel dan restoran terdapat 15 kecamatan yang menjadi basis. Sektor pengangkutan dan komunikasi terdapat 14 kecamatan yang menjadi basis. Sektor Keuangan, real estat dan jasa perusahaan terdapat 10 kecamatan yang menjadi basis. Sektor jasa-jasa terdapat 11 kecamatan yang menjadi basis. Hasil analisis menggunakan Tipologi Klassen menunjukkan bahwa terdapat 2 kecamatan yang terletak pada kuadran I, 3 kecamatan pada kuadran II, 3 kecamatan pada kuadran III, dan 12 kecamatan pada kuadran IV. Kecamatan yang termasuk dalam ketimpangan tinggi terdapat di Kecamatan Kerek, Plumpang, Semanding, dan Tambakboyo. Ketimpangan sedang terdapat di Kecamatan Bangilan, Senori, Parengan, Rengel, dan Palang, sedangkan untuk kecamatan yang termasuk dalam ketimpangan rendah  terdapat di Kecamatan Kenduruan, Singgahan, Montong, Soko, Grabagan, Widang, Tuban, Jenu, Merakurak, Jatirogo, dan Bancar. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terjadi ketimpangan pembangunan tiap kecamatan di Kabupaten Tuban mulai dari ketimpangan tinggi, sedang dan rendah. Ketimpangan yang banyak terjadi di Kabupaten Tuban termasuk ketimpangan rendah yaitu sebanyak 11 kecamatan. Kata Kunci: ketimpangan pembangunan, indeks williamson, location quotient (LQ), tipologi klassen   Abstract   Development becomes an activity which considered as an important and obligatory matters for all region. The purposes of development, at the heart of the matter, is to create better living for society. However, the execution of development cannot always have fair distribution. Some regions are growing faster while the other regions are growing slower. The misdistribution which happened between one region and other regions causes imbalance development. The purposes of this research were to find out (1) the basic sector for every sub-district in Tuban Regency, (2) the characteristics of economic growth for every sub-district in Tuban Regency, (3) the imbalance development level for every sub-district in Tuban Regency. The study using secondary data published by BPS and BAPPEDA of Tuban Regency. The obtained data including 2015 Tuban Regency in numeral, 2015 Sub-district in numeral, Regional Gross Domestic Product (RGDP) based on the valid value in 2014, and sub-districts’ statistics in 2015. The analysis data using Location Quotient (LQ), Klassen Typology and Williamson analysis index. The analysisof Location Quotient showed that 20 sub-districts in Tuban Regency, 17 sub-districts becamethe base of agriculture sector; 5 sub-districts became the base of mining sector; 2 sub-districts became the base of manufacturing industry sector; 13 sub-districts became the base of electricity, gas, and water sector; 5 sub-districts became the base of construction sector; 15 sub-districts became the base of commerce, hotel, and restaurant sector; 14 sub-districts became the base oftransportation and communication sector; 10 sub-districts became the base of financial, real estate, and service enterprise sector; 11 sub-districts became the base of services industry sector. The analysis results from Klassen Typology showed that there were 2 sub-districts placed in quadrant I, 3 sub-districts placed in quadrant II, 3 sub-districts placed in quadrant III, and 12 sub-districts placed in quadrant IV. The sub-districts which had high imbalance development were Kerek, Plumpang, Semanding, and Tambakboyo sub-district. Then, the sub-districts which had moderate imbalance development were Bangilan, Senori, Parengan, Rengel, and Palang sub-district, whereas the sub-districts which had low imbalance development were Kenduruan, Singgahan, Montong, Soko, Grabagan, Widang, Tuban, Jenu, Merakurak, Jatirogo, and Bancar sub-district. The conclusion of this research showed that sub-district in Tuban Regency had imbalance development ranging from high, moderate, and low. The most of imbalance development in Tuban Regency dominated by low imbalance which 11 sub-district. Key Words : Imbalance Development, Williamson index, location quotient (LQ), Klassen Typology
KAJIAN INDUSTRI LOGAM DI KELURAHAN PAJU KECAMATAN PONOROGO KABUPATEN PONOROGO DAMAYANTI, NOANSA
Swara Bhumi Vol 3, No 3 (2016): Vol.3 Nomor 3 2016
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Industri logam berlokasi di Kelurahan Paju Kecamatan Ponorogo Kabupaten Ponorogo, terdiri dari industri gamelan dan industri peralatan dapur. Industri ini dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu bahan baku, tenaga kerja, dan pemasaran. Kurangnya tenaga kerja ahli di daerah yang memiliki kepadatan penduduk tinggi menjadi permasalahan bagi industri logam ini. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui ketersediaan bahan baku, ketersediaan tenaga kerja, pemasaran, dan keterlibatan Pemerintah Daerah. Jenis penelitian ini merupakan penelitian survey. Sampel yang digunakan adalah seluruh populasi yaitu 114 orang (24 pengrajin dan 90 pekerja) di industri logam Kelurahan Paju. Teknik pengambilan data menggunakan wawancara dengan kuesioner dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan baku industri gamelan sebagian besar berasal dari luar daerah Ponorogo seperti Tulungagung sebesar 90%, bahan baku industri peralatan dapur berasal dari daerah Ponorogo sebesar 100%. Ketersediaan bahan baku dari daerah asal sangat mencukupi. Industri gamelan merupakan industri kecil dengan jumlah tenaga kerja 1-15 orang, berasal dari dalam kelurahan sebesar 83,64% dengan status keluarga dan tetangga. Industri peralatan dapur merupakan industri rumah tangga dengan jumlah tenaga kerja < 5 orang, berasal dari dalam kelurahan sebesar 77,14%, dengan status keluarga. Industri ini tidak membutuhkan biaya transportasi karena jarak lokasi tenaga kerja menuju lokasi industri < 2 km. Ketersediaan tenaga kerja melimpah karena Kelurahan Paju memiliki konsentrasi penduduk yang padat. Tujuan pemasaran yang paling dominan pada industri gamelan yaitu lokal (dalam Provinsi Jawa Timur) sebesar 35,13%, pada industri peralatan dapur yang paling dominan yaitu lokal sebesar 69,57%. Kekurangan tenaga kerja ahli berpengaruh pada pemasaran, jumlah tenaga kerja yang sedikit menjadikan proses produksi terbatas dan produk yang dihasilkan juga sedikit. Hasil perhitungan indeks material dan gambar segitiga lokasional Weber menunjukkan bahwa industri gamelan dan industri peralatan dapur lebih berorientasi pada tenaga kerja. Keterlibatan Pemerintah Daerah sangat kurang dalam mendukung keberlangsungan industri logam di Kelurahan Paju. Kesimpulannya adalah ketersediaan tenaga kerja yang melimpah mengakibatkan teraglomerasinya industri logam di Kelurahan Paju Kecamatan Ponorogo Kabupaten Ponorogo. Kata Kunci : Industri logam, Indeks Material, Tenaga kerja, Pasar    Abstract Metal industrials were located at Paju village Ponorogo Sub District Ponorogo District. Consist of gamelan industry and kitchen equipment industry. This industry is influenced by three factors such as raw materials, labors, and marketing. The lack of skilled labors in the area that have a high population density becomes a problem for this metal industry. The purposes of this research were to find out the availability of raw materials, labors, marketing, and Local Government cooperation. Research type was a survey research. The sample used was the whole population is 114 people (24 craftsmen and 90 labors) in metal industry at Paju Village. Data collection techniques using interview with questionnaire and documentation. Data analyze techniques using quantitative descriptive analysis. The research result showed that the raw materials of gamelan industrial mostly from outside the area Ponorogo District, such as Tulungagung at 90%, and 100% precentage of the raw materials of kitchen equipment industrial from inside area Ponorogo District. The availability of raw materials from local region was sufficient. Gamelan industrial are the small industry with the labors 1-15 people, from local village at 83,64% with family and neighbors status. Kitchen equipment industrial are the home industry with few of < 5 people, from local village at 77,14% with family status. This industry does not need transportation costs because only < 2 km distance industry local and labors location. The availability of labors was dominant because Paju village has a high population density. The marketing purpose which dominant at gamelan industry is local (East Java Province) by 35,13%, the most dominant at kitchen equipment industry is local by 69,57%. The lack of skilled labors will give affect to marketing, few labors number that make limited production and product. The results of material index and Weber locational triangle showed gamelan industry and kitchen equipment industry based on number of labors. The Local Government involvement was really less to support metal industry at Paju Village. So in conclusion is availability of abundant labors has impact the aglomeration of metal industrials at Paju village Ponorogo Sub District Ponorogo District. Keywords : Metal Industrials, Materials Index, Labors, Market
PERSEPSI PENGGUNA ANGKUTAN KOTA TERHADAP KEBERADAANNYA DI KOTA MOJOKERTO DWI ASTUTI, IKLINA
Swara Bhumi Vol 3, No 3 (2016): Vol.3 Nomor 3 2016
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Transportasi di kota Mojokerto, terutama angkutan kota yangada pada lima tahun terakhir ini mengalami penurunan yang sangat signifikan. Kondisi ini terjadi kibat beberapa hal yang seharusnya diperhatikan oleh beberapa pihak agar banyak masyarakat yang menggunakan angkutan kota di kota Mojokerto. Tujuan dari ini adalah untk menganalisis kondisi angkutan kota dan persepsi masyarakat terhadap angkutan kota di kota Mojokerto.                                 Jenis penelitian yang dilakukan adalah deskriptif kuantitatif. Subyek penelitiannya adalah angkutan kota di kota Mojoketo dan penumpangnya. Sumber data yang dikumpulkan adalah gambaran umum beroperasinya angkutan kota di kota mojokerto, dan wawancara kepada para penumpang angkutan kota. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara terstruktur dan metode dokumentasi. Teknik analisis data yang dilakukan yaitu menggunakan penurunan angkutan kota di kota Mojokerto lima tahun terakhir dengan cara wawancara ke Dinas Perhubungan kota Mojokerto, wawancara kepada para penumpang angkutan kota tentang kondisi dan persepsi masyarakat terhadap angkutan kota di kota Mojokerto.                                 Hasil penelitian menunjukkan bahwa, angkutan kota di kota Mojokerto yang masih beroprasional sebesar 142 dengan melibatkan sopir sebanyak 142 yang beroperasi setiap hari.Banyak sopir yang sebagian besar bergantung pada  penghasilanangkutan kota. walaupun dari keadaan fisik dilihat dari tahun pembuatan semuanya usia dibawah tahun 2005 (berusia lebih dari 10 tahun). Operasional angkutan kota para sopir yang beropari setiap harinya daripada yang tidak beroperasi. Tingkat kenyamanan di dalam angkutan kota masih sangat kurang memadai. tingkat kebersihan dalam angkutan kota masih sangat buruk, karena para sopir angkutan kota membiarkan bagian dalam angkutan kota kotor dan tidak dibersihkan. ketepatan waktu juga kurang memadai karena sekali jalan waktu yang diperlukan dapat lebih dari 1 jam, karena angkutan kota banyak berhenti untuk mencari penumpang. Sedangkan masalah keamanan dan tarif,para penumpang mengatakan bahwa angkutan kota selalu  aman dan tarifnya terjangkau.
HUBUNGAN FAKTOR SOSIAL EKONOMI DAN FISIK WILAYAH DENGAN PENDAPATAN PETANI TANAMAN PANGAN DI KABUPATEN JOMBANG RACHMA WATI, ELA
Swara Bhumi Vol 3, No 3 (2016): Vol.3 Nomor 3 2016
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kabupaten Jombang merupakan daerah pertanian khususnya subsektor tanaman pangan, namun pendapatan perkapita petani subsektor  tanaman pangannya rendah. Pendapatan petani dipengaruhi oleh faktor-faktor yang mencakup kondisi sosial, ekonomi dan fisik lingkungan. Peneliti mengangkat permasalahan ini untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pendapatan petani tanaman pangan di Kabupaten Jombang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan  faktorsosial ekonomi dan fisik wilayah dengan pendapatan petani tanaman pangan di Kabupaten Jombang. Analisis penelitian ini didasarkan pada data sekunder. Populasi penelitian berupa satuan-satuan wilayah fungsional kecamatan di Kabupaten Jombang yang berjumlah 21 Kecamatan. Terdapat 7 indikator variabel bebas yang diperhatikan dalam penelitian ini yaitu kepadatan penduduk, tingkat pendidikan penduduk, jumlah petani, nilai tukar petani, indeks daya beli masyarakat, luas sawah irigasi teknis dan hasil produksi tanaman pangan. Analisis ini menggunakan secara statistik berdasarkan persamaan regresi ganda. Hasil analisis diperoleh nilai R2 (koefisien determinasi) = 0,770 menunjukkan bahwa 3 indikator variabel bebas yang diperhatikan dalam penelitian ini mampu menjelaskan hubungan dengan pendapatan petani tanaman pangan di Kabupaten Jombang sebesar 77% sehingga masih 23% yang dijelaskan oleh variabel lain. Variabel-variabel yang memiliki hubungan yang kuat dengan pendapatan petani tanaman pangan di Kabupaten Jombang dalam penelitian ini adalah nilai tukar petani (β =  0.485), indeks daya beli masyarakat (β = -.373) dan hasil produksi tanaman pangan (β = 0.494). Kata Kunci :kondisi sosial ekonomi dan fisik wilayah, pendapatan petani tanaman pangan.
DAMPAK HOME INDUSTRI GENTENG TERHADAP TINGKAT EKONOMI DAN LINGKUNGAN DI DESA MENANGGAL  KECAMATAN MOJOSARI KABUPATEN MOJOKERTO KHOIRIYAH, SUYUT
Swara Bhumi Vol 3, No 3 (2016): Vol.3 Nomor 3 2016
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Desa Menanggal kecamatan Mojosari Kabupaten Mojokerto yang masyarakatnya secara umum merupakan petani dan pengrajin genteng, namun masyarakat yang awalnya merupakan petani beralih menjadi perajin genteng. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak yang timbul akibat adanya industri genteng, adapun dampak yang ingin diketahui antara lain kondisi ekonomi dan kondisi lingkungan.                 Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif, lokasi penelitian di Desa Menanggal Kecamatan Mojosari Kabupaten Mojokerto. Subyek penelitian adalah masyarakat yang beralih pekerjaan dari sektor pertanian ke sektor industri. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan tiga tahapan, yaitu: reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan. Rencana pengujian keabsahan data menggunakan teknik triangulasi.                 Hasil penelitian, faktor pendapatan yang rendah (tadinya mengerjakan lahan sawah dengan luas 720 m2-1200 m2 sekarang mengerjakan 240 m2-480 m2) dan pendapatan yang tidak tetap di sektor pertanian tidak mampu mencukupi kebutuhan hidupnya serta tingkat pendidikan yang rendah mengakibatkan masyarakat di Desa Menanggal bekerja kasar (kuli, tukang, dll) karena tingkat pendidikan di Desa Menanggal tergolong rendah yaitu dari penduduk yang berjumlah 4.153 jiwa pendidikan rata-rata mereka dengan prosentase sebesar 0,32% lulusan Sekolah Dasar dengan jumlah penduduk 1.353 jiwa. Dampak yang ditimbulkan dengan adanya industri genteng di Desa Menanggal mempengaruhi kondisi lingkungan diantaranya polusi udara yang ditimbulkan saat proses pembakaran genteng yang ditandai dengan asap yang hitam, pekat yang tersebar di atmosfer menimbulkan efek sesak , tidak ada vegetasi penutup di sawah (rerumputan yang di daerahnya ditinggalkan), permukaan air tanah di dalam sumur mengalami penurunan sebesar 10-15 m , terjadi penurunan kualitas tanah (tandus dan kering).   Kata Kunci: industri genteng, kondisi ekonomi, lingkungan  Abstract The residence of Menanggal village, Mojosari which part of Mojokerto district are commonly farmer and tile craftsmen, but recently many farmer of this village transform to tile craftmen, having know of this transformation, this works is madeto discover how tile industry affects economic and environment aspect of Menanggal village. Kualitatif research method is conducted in this work which taking place in Menanggal village, Mojosari in which the subjects are the residence who transform their work from agriculture to industry. The data collecting process has been done by interviewing, observing, and documentating analized by three major step these are: data reduction, data presentation and conclution. While the validity have been examined using triangulation. As the result, this work descovended that low income (was working on wetland with an area of 720 m2-1200 m2) is one of the reason they transform to tile industry. This condition followed by unpredictable income in agricultural sector which impacted their education andeconomic level. The data shows that there are 0,32% of 4.153 residence quit this education after elementary school, it is 1.353 in number. Meanwhile the environment effect are air pollution affected by tile baking process, ash covering vegetation on agricultural land(grass in the area abandoned), decreasing of ground water level about 10-15 m and declining soil quality (become barren and dry) Keywords:  tile industry, economi condition, environtment
FAKTOR-FAKTOR YANG MENYEBABKAN ALIH FUNGSI LAHAN DARI TAMBAK MENJADI PERUMAHAN DI KELURAHAN WONOREJO KECAMATAN RUNGKUT KOTA SURABAYA JUNAIDI, MUHAMMAD
Swara Bhumi Vol 3, No 3 (2016): Vol.3 Nomor 3 2016
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kelurahan Wonorejo Kecamatan Rungkut Kota Surabaya dahulu masih banyak lahan yang dipergunakan untuk tambak. Kelurahan ini menarik diteliti karena semakin tahun semakin banyak tambak yang sudah beralih fungsi menjadi perumahan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana proses alih fungsi lahan dari tambak menjadi perumahan serta strategi penghidupan berkelanjutan dari petani tambak yang telah menjual tambaknya ke developer. Penelitian kualitatif fenomenalogi ini perolehan informasinya ditentukan secara triangulasi, data monografi Kelurahan Wonorejo, serta informan kunci dan ahli. Pendekatan analisis yang digunakan adalah proses keruangan, tetapi analisis dalam bahasan skripsi ini terbatas pada motif petani tambak dan developer. Analisis  data diperoleh melalui reduksi, penyajian dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menjukan bahwa perubahan alih fungsi lahan dari tambak menjadi perumahan berawal pada tahun 2002 yaitu perumahan Bumi Wonorejo Asri kemudian semakin berkembang pesat dengan semakin berdirinya perumahan-perumahan baru yang dulunya berupa tambak di Kelurahan Wonorejo. Faktor yang menyebabkan alih fungsi lahan dari tambak menjadi perumahan yaitu semakin berkurangnya hasil tambak dan motif dari para developer adalah Kelurahan Wonorejo Kecamatan Rungkut Kota Surabaya ini merupakan wilayah pinggiran kota (peri urban) merupakan peralihan dari wilayah kota dan wilayah desa yang memiliki karakteristik dan atribut yang berbeda. Daerah ini secara alami terbentuk karena perkembangan dan rembetan yang terjadi dari Kota Surabaya. Salah satu faktor pengembangan adalah interaksi antar kota inti dengan wilayah peri urban. Semakin besar interaksi yang terjadi maka semakin besar pula perkembangan yang terjadi di wilayah peri urban. Kehidupan dari mantan petani tambak masih menggantungkan hidupnya dengan mengelola tambak yang lain guna mendapatkan penghasilan. Kata Kunci: Alih Fungsi, pertumbuhan, perkembangan  
ANALISIS LOKASI PUSAT PERTUMBUHAN SATUAN WILAYAH PENGEMBANGAN (SWP) JAWA TIMUR BAGIAN BARAT (KARESIDENAN MADIUN) TIAR RETNO AYU, SANTI
Swara Bhumi Vol 3, No 3 (2016): Vol.3 Nomor 3 2016
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak   Tahun 2014 daerah di Satuan Wilayah Pengembangan (SWP) Jawa Timur bagian barat  merupakan daerah dengan laju pertumbuhan yang rendah, terbukti dari 6 kota dan kabupaten yang ada di SWP Jawa Timur bagian barat ini terdapat 5 Kabupaten yang memiliki laju pertumbuhan di bawah rata-rata laju pertumbuhan ekonomi Jawa Timur . Rata-rata laju pertumbuhan ekonomi menurut tinjauan Regional berdasarkan Pendapatan Regional Domestik Bruto (PDRB) Kabupaten / Kota  tahun 2014 sebesar 5,86 persen. Hanya satu Kabupaten / Kota mengalami laju pertumbuhan melebihi rata-rata laju pertumbuhan provinsi yaitu Kota Madiun dengan laju pertumbuhan ekonomi pada tahun 2014 sebesar 6,62 persen. Sedangkan terdapat lima Kabupaten yang laju pertumbuhan ekonominya berada dibawah rata-rata laju pertumbuhan ekonomi Provinsi Jawa Timur. Hal tersebut harus segera ditangani, salah satu cara untuk meningkatkan laju pertumbuhan wilayah adalah dengan menentukan skala prioritas pembangunan, wilayah mana  yang terlebih dahulu untuk dibangun dan sektor apa yang patut dikembangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi fasilitas pelyanan, interaksi antar wilayah, sektor basis apa yang patut dikembangkan dan daerah mana yang sesuai menjadi pusat pertumbuhan di SWP Jawa Timur bagian barat. Lokasi penelitian ini adalah Satuan Wilayah Pengembangan  (SWP) Jawa Timur Bagian Barat yang dibagi kembali menjadi unit yang lebih kecil yaitu Sub Satuan Wilayah pengembangan (SSWP). Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan metode dokumentasi dan wawancara, teknik analisis datanya menggunakan tiga analisis yaitu, analisis skalogram dan analisis indeks sentralitas, analisis gravitasi dan analisis Location Quotient (LQ). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa fasilitas di setiap daerah memiliki kuantitas tidak sama, fasilitas pelayanan masih terkonsentrasi pada daerah perkotaan. Interaksi wilayah antar daerah memiliki kekuatan yang berbeda dipengaruhi jarak,jumlah penduduk dan adanya tarik daerah. Untuk sektor basis setiap daerah dipengaruhi oleh besarnya nilai sektor berpengaruh terpusat pemasukan daerah. Berdasarkan analisis lokasi pusat pertumbuhan di Kota Madiun adalah SSWP Kartoharjo, pusat pertumbuhan di Kabupaten Madiun adalah SSWP Mejayan, pusat pertumbuhan di Kabupaten Ngawi adalah SSWP Ngawi, pusat pertumbuhan di SSWP Magetan adalah SSWP Maospati, pusat pertumbuhan di Kabupaten Ponorogo adalah  SSWP Ponorogo dan pusat pertumbuhan di Kabupaten Pacitan adalah SSWP Pacitan. Kata Kunci          : Pusat pertumbuhan, analisis lokasi