cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Swara Bhumi
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Arjuna Subject : -
Articles 509 Documents
PENGARUH KONDISI SANITASI LINGKUNGAN RUMAH DAN PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PEMBERANTASAN SARANG NYAMUK (PSN) TERHADAP KASUS DEMAM BERDARAH DENGUE DI KECAMATAN SUMOBITO KABUPATEN JOMBANG JUNI LESTARI, LELI
Swara Bhumi Vol 4, No 5 (2017): Volume 4 Nomor 5 Yudisium 89
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berdasarkan Pusat Data Surveilans Epidemiologi Kemenkes RI sampai akhir tahun 2008, belum ditemukan obat yang secara efektif dapat mengobati penyakit Demam Dengue. Pengendalian DBD tergantung pada pemberantasan sumber larva yaitu dengan program PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk). PSN merupakan cara ampuh membasmi jentik-jentik nyamuk Aedes Aegypti dengan pembersihan lingkungan rumah dan sekitarnya, melalui Gerakan 3M Plus. Kabupaten Jombang merupakan daerah endemis DBD. DBD sering muncul sebagai KLB dengan angka kesakitan dan angka kematian yang relatif tinggi. Kecamatan Sumobito tahun 2015 terdapat kasus DBD dengan pravelensi tertinggi di antara kecamatan lain sebesar 0,098 atau 1 % dengan jumlah 78 kasus. Penelitian bertujuan mengetahui : 1) pengaruh kondisi sanitasi lingkungan rumah, 2) pengaruh partisipasi masyarakat dalam PSN, 3) variabel yang paling berpengaruh, 4) pola persebaran kasus DBD di Kecamatan Sumobito. Metode penelitian Survey Analitik. Rancangan case control. Pengambilan sampel berdasarkan rekam medik di Puskesmas Sumobito dan Puskesmas Jogoloyo (Januari–Maret) 2016 yaitu, 46 kasus dan 46 kontrol. Teknik analisis data Uji Chi Square, Uji Regresi Logistik Berganda dan Analisis Tetangga Terdekat (Nearest Neighbor Analysis). Hasil uji Chi Square indikator variabel yang berpengaruh terhadap DBD di Kecamatan Sumobito adalah ventilasi (p = 0,000), pencahayaan (p = 0,000), menguras dan menggosok tempat penampungan air (p = 0,002), mengubur dan menyingkirkan barang-barang bekas (p = 0,000) dan variabel yang tidak berpengaruh terhadap DBD di Kecamatan Sumobito adalah sanitasi lingkungan rumah (p = 0,131), partisipasi masyarakat dalam PSN (p = 0,089). Hasil uji Regresi Logistik Berganda variabel yang paling berpengaruh terhadap DBD di Kecamatan Sumobito adalah partisipasi masyarakat dalam PSN (p = 0,001, sedangkan indikator yang paling berpengaruh terhadap DBD di Kecamatan Sumobito adalah mengubur dan menyingkirkan barang-barang bekas (p = 0,003). Hasil Analisis Tetangga Terdekat (Nearest Neighbor Analysis) pola persebaran kasus Demam Berdarah Dengue di Kecamatan Sumobito termasuk dalam kategori acak atau random dengan nilai NNA = 0,7606689. Kata kunci : demam berdarah dengue, sanitasi lingkungan, partisipasi masyarakat, pemberantasan sarang nyamuk
EFEKTIFITAS PENGEMBANGAN  LEMBAR KERJA SISWA (LKS) GEOGRAFI DENGA METODE STAD  (STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION)  PADA MATERI DINAMIKA HIDROSFER KELAS X TERHADAP HASIL BELAJAR SMA IBNU HUSAIN SURABAYA FIRZAH AL HOTIB MAHASISWA S1 PENDIDIKAN GEOGRAFI, FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN HUKUM, UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA FIRZAHALHOTIB@GMAIL.COM   DR. SUKMA PERDANA PRASETYA, S.PD., MT DOSEN PEMBIMBING MAHASISWA AL HOTIB, FIRZAH
Swara Bhumi Vol 4, No 5 (2017): Volume 4 Nomor 5 Yudisium 89
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Proses pembelajaran seharusnya menekankan perubahan paradigma pembelajaran verbalisme menjadi keterampilan, dan guru sebagai satu-satunya menjadi sumber belajar menjadi belajar berbasis beraneka sumber belajar ( Ditjen Pendidikan Menengah, 2004:4 ). Salah satunya kurang menariknya Lembar Kerja Siswa (LKS) yang  pada pelajaran geografi di kelas X-2 SMA Ibnu Husain Surabaya mempengaruhi hasil belajar siswa 89.6% ( belum tuntas), sehingga peneliti ingin mengembangkan Lembar Kerja Siswa (LKS) berbasis STAD. Pengembangan Lembar Kerja Siswa (LKS) berbasis STAD diharapkana meningkakan hasil belajar siswa. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang menggunakan satu kelas perlakuan yaitu kelas X instrument yang digunakan adalah validasi RPP, Lembar validasi LKS, Tes hasil belajar (pretest, posttest), serta lembar untuk kerja siswa. Hasil pengembangan LKS sebesar 76,46% ( layak ) dengan kelayakan hasil belajar sebesar 99 %  sebanyak  31  siswa  tuntas dan sebesar 1% siswa tidak tuntas Dari hasil penelitian,disimpulkan efektifitas pengembangan lembar kerja siswa metode stad  layak dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam proses pembelajaran. Kata kunci  :Lembar kerja siswa ( LKS ), stad  (student teams achievement division)  dinamika hidrosfer, dan hasil belajar siswa Abstract The learning process should emphasize the paradigm shift of verbalism learning into skills, and the teacher as the only source of learning becomes learning based on various learning resources (DG Higher Education, 2004: 4). One of them is less interesting Student Worksheet (LKS) which in the lesson of geography in class X-2 SMA Ibnu Husain Surabaya affect student learning outcomes 89.6% (unresolved), so that researchers want to develop Student Worksheet (LKS) based on STAD. Effectiveness Development of Student Worksheet (LKS) based on STAD expected to increase student learning outcomes. This research is an experimental research using one class of treatment that is class X instrument used is validation of RPP, LKS validation sheet, test result of learning (pretest, posttest), and sheet for student work. The result of LKS development is 76,46% (feasible) with 99% achievement result of 31% complete student and 1% student unfinished Keywords: Student worksheet (LKS), stad (student teams achievement division) hydrosphere dynamics, and student learning outcomes
KONDISI  SOSIAL  EKONOMI  MASYARAKATPADA AREA TERDAMPAK BENCANA BANJIR (STUDI KASUS DI KECAMATAN JOMBANG KABUPATEN JOMBANG) PURNIAWAN, DARMA
Swara Bhumi Vol 5, No 01 (2017): Volume 05 Nomor 01 Yudisium 90
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Bencana banjir merupakan jenis bencana yang paling sering melanda Indonesia dibandingkan jenis bencana lain. Salah satu daerah di Indonesia yang rawan terhadap bencana banjir adalah Kecamatan Jombang, Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur. Kecamatan Jombang memiliki topografi wilayah yang relatif landai dengan kemiringan 0-2% serta memiliki elevasi 44 mdpl yang relatif lebih rendah dibandingkan daerah sekitarnya. Bencana banjir  melanda Kecamatan Jombang pada Januari 2016, peristiwa banjir tersebut merendam 9.320 rumah penduduk, 32 hektare sawah, serta merusak 3 titik tanggul di Kecamatan Jombang. Berdasarkan permasalahan yang ditimbulkan banjir, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi sosial ekonomi masyarakat pada area terdampak banjir Kecamatan Jombang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan jenis penelitian studi kasus. Penelitian dilakukan di Kecamatan Jombang, dengan subjek penelitian masyarakat terdampak banjir di Desa Jombang dan Desa Pulo Lor. Berdasarkan subjek penelitian yang ada kemudian ditentukan informan kunci sebagai sumber data utama dalam penelitian. Pemilihan informan kunci didasarkan atas tiga elemen, yaitu tempat (place), pelaku (actor), dan aktivitas (activity). Informan kunci kemudian akan berkembang dengan menggunakan teknik bola salju (snowball). Pengumpulan data dalam penelitian menggunakan teknik dokumentasi, observasi, serta wawancara. Metode analisis data dalam penelitian ini meliputi, reduksi data, penyajian data, hingga pada penarikan kesimpulan. Hasil  penelitian  menunjukkan bahwa masyarakat terdampak banjir di daerah penelitian memberikan sikap merespon banjir dengan adanya gagasan untuk bertindak (trend to behave) terhadap bencana banjir yang melanda. Hubungan sosial masyarakat menunjukkan semakin eratnya hubungan sosial masyarakat akibat timbulnya rasa senasib. Masyarakat terdampak banjir di daerah penelitian mampu beradaptasi dalam menghadapi bencana banjir dengan upaya adaptasi struktur dan non-struktur. Bencana banjir mengakibatkan hambatan pada mata pencaharian masyarakat di daerah penelitian yang berakibat pada tidak beroperasinya unit usaha masyarakat terdampak serta terbatasnya akses menuju lokasi pekerjaan, kondisi demikian tentunya berpengaruh pada penurunan pendapatan masyarakat yang bekerja di sektor usaha maupun swasta. Kata kunci : Banjir, Kondisi Sosial, Kondisi Ekonomi Abstract Flood happens more frequently than other disasters in Indonesia. One of the areas suffered from flood in Indonesia was Jombang District, East Java. Specifically, Jombang had a relative slope down topography of 0-2% and a relative elevation of 44 meters above sea level, which was  lower than the surrounding areas. Flood disaster was suffered Jombang District in January 2016, that incident soaked 9,320 houses, 32 hectares of fields, and damage 3 point of dams in Jombang District. Based on that phenomenon happened, the aim of this study was to know the socio-economic state of communities in the flooded area  in Jombang District. This study used  qualitative approach, with a case study. The study was conducted in Jombang, the subject of this research was the society who lived in Jombang and Pulo Lor Village. Based from available subjects of this research then determined by key informants as the main source of data. The selection of key informants was based on three elements,  they were place, actor, and activity. The key informants of the research would  develop it by using snowball technique. The data collection of this research used documentation technique, observation, and interview. The method of this research started from data reduction, data presentation, to the withdrawal of  final conclusions. The results of this research showed that flooded communities who gave a response about the phenomenon with the idea of acting (trend to behave) against the flood disaster. In terms of social relationship, it showed that the closer the social relations of society could be caused by the emergence of a sense of destiny. The communities who lived in flooded area were  able to adapt in facing the disaster with the structural and non-structural adaptation efforts. The presence of floods in this research resulted the obstacles on the communities livelihoods which caused the non-operation of the communities business units and the limited access to the location of work, it certainly affected the community’s decline income which work in the business and private sectors. Keywords: Floods, Social Conditions, Economic Conditions.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MENURUNNYA PEDAGAN SEPATU DI PUSAT PERKULAKAN SEPATU TROWULAN (PPST) DI KABUPATEN MOJOKERTO Hasanudin, Nashrulloh
Swara Bhumi Vol 5, No 01 (2017): Volume 05 Nomor 01 Yudisium 90
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kabupaten Mojokerto merupakan salah satu wilayah GERBANGKERTOSUSILA (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, Lamongan)  yang cukup menarik bagi pengembangan perekonomian daerah salah satunya adalah pengembangan industri alas kaki bagi usaha kecil menengah khususnya produk sepatu, melihat besarnya peluang dalam memenuhi kebutuhan sandang masyarakat akan sepatu sehingga banyak masyarakat Mojokerto yang bermata pencaharian sebagai pengrajin alas kaki dengan berkembangnya produk alas kaki ini salah satu wujud perhatian pemerintah adalah dibangunnya PPST (Pusat Perkulakan Sepatu Trowulan). PPST merupakan satu-satunya pasar perkulakan sepatu di Kabupaten Mojokerto tetapi dengan berjalannya waktu terdapat beberapa permasalahan pada PPST, hal ini dapat terlihat dari sepinya penghuni stand di mana terdapat penurunan pedagang alas kaki di PPST dari tahun ketahun. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan menurunnya pedagang alas kaki dan peran pemerintah daerah Kabupaten Mojokerto dalam menyikapi permasalahan menurunnya pedagang alas kaki di PPST. Jenis penelitian ini adalah survey. Penelitian ini berada di PPST. Populasi penelitian ini sebanyak 27 pedagang alas kaki yang masih menempati stand di PPST dan 5 pedagang alas kaki yang sudah tidak menempati stand di PPST. Variabel dalam penelitian ini terdiri dari sarana dan prasarana, aksesibilitas, harga sewa stand, ukuran stand, variasi produk yang dijual, lokasi dijangkau pembeli, promosi. Sumber data berupa data primer dan sekunder. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data deskriptif kuantitatif dengan prosentase. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi menurunnya pedagang alas kaki di PPST adalah 1) buruknya kondisi sarana, meliputi: stand PPST, WC, musholla, kantor PPST. 2) lokasi dijangkau pembeli kurang strategis, 3) produk sudah bervariasi tetapi monoton karena tidak mengikuti trend, 4) promosi produk PPST yang minim. Peran pemerintah dengan melakukan penyuluhan promosi secara online. Kata Kunci : Faktor-Faktor Penyebab, Pedagang Alas Kaki, Peran Pemerintah  Abstract Mojokerto one of region in GERBANGKERTOSUSILA (the districts of Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, Lamongan), is an interesting regional economic development. One of regional economic development is the growth of small and medium footwear industry, especially shoe product. The big opportunities of footwear industry in Mojokerto make the society choose to become a footwear businessman. The growth of footwear industries in Mojokerto makes the government build PPST (kind of shoe marketing center). PPST is the only footwear market in Mojokerto. Unfortunately, there are some problems during the growth of PPST. The aim of this research was to find out the factors that influence the decreasing of footwear businessman and the role of the Mojokerto government to the decreasing of footwear businessman in PPST. The researcher conducted  research using survey. This research was conducted in PPST mojokerto with 32 participants, consisting of 27 footwear businessmen staying at PPST; and 5 footwear businessman moving from PPST. The variable of this research consists of infrastructure, accessibility, the prize of the stand, the size of the stand, variation of the products, accessibility location for the customer, and promotion. The data were collected using observation and documentation with percentage. The finding  showed that there were some factors which influenced the decreasing of footwear businessman in PPST. Those were bad condition of the infrastructure; inaccessible location for the customers; and some variations of product but not following the new trend; the minimum promotion of PPST; and the role of government to promote it via online. Keywords: Causative Factor, The Decreasing Of Footwear Businessman, Government Policy
STRATEGI PENGHIDUPAN PENGRAJIN DALAM MEMPERTAHANKAN EKSISTENSI BATIK TULIS JETIS KECAMATAN SIDOARJO KABUPATEN SIDOARJO (STUDI KASUS DI KAMPOENG BATIK JETIS KECAMATAN SIDOARJO KABUPATEN SIDOARJO) Nurlaela Sari, Fitri
Swara Bhumi Vol 5, No 01 (2017): Volume 05 Nomor 01 Yudisium 90
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu produk unggulan di Kabupaten Sidoarjo yang memiliki potensi besar adalah kerajinan batik. Sejak jaman pra-penjajahan, di Kabupaten Sidoarjo tercatat sebanyak 3 kampung batik tulis, yaitu Kedung Cangkring, Sekardangan dan Jetis, namun Kampung Batik Jetis saja yang bertahan sementara kampung batik lainnya telah punah karena tidak ada generasi penerusnya. Pengrajin melakukan berbagai upaya strategi penghidupan agar dapat mempertahankan usaha Batik Tulis Jetis. Tujuan penelitian untuk mengetahui strategi penghidupan yang dilakukan pengrajin dalam mempertahankan eksistensi batik tulis Jetis dengan sub fokus modal manusia, modal sosial, modal alamiah, modal finansial dan modal fisik, kemudian upaya apa saja yang dilakukan oleh pengrajin untuk mempertahankan eksistensi Batik Tulis Jetis. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan studi kasus. Teknik yang dilakukan adalah melalui observasi serta wawancara mendalam kepada informan. Hasil penelitian ini menujukkan strategi penghidupan pengrajin batik yang tidak mempunyai pekerjaan sampingan termasuk kedalam strategi konsolidasi (consolidation strategy). Strategi yang dilakukan yaitu mengandalkan pinjaman bank saat tidak mempunyai modal untuk memproduksi batik, karena mereka tidak memiliki pekerjaan lain. Pengrajin yang masuk dalam strategi akumulasi (accumulation strategy) yaitu pengrajin yang mempunyai pekerjaan lain diluar menjadi pengrajin batik. Pengrajin yang memiliki pekerjaan lain tidak perlu mengandalkan dana dari pinjaman bank maupun sumber dana lainnya karena mereka dapat memenuhi kebutuhan pokok dengan baik. Upaya yang dilakukan oleh para pengrajin untuk mempertahankan eksistensi Batik Tulis Jetis dengan cara gencar melakukan promosi lewat online maupun mengikuti event yang ada. Pengrajin mengikuti event mulai dari yang umum, mandiri maupun dinas. Kata kunci: strategi penghidupan, eksistensi batik
TINGKAT KERENTANAN PERMUKIMAN TERHADAP BANJIR DI SUB DAS BLAWI BENGAWAN JERO DI KABUPATEN LAMONGAN PROVINSI JAWA TIMUR SAFAAH, SAADATUS
Swara Bhumi Vol 5, No 01 (2017): Volume 05 Nomor 01 Yudisium 90
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Banjir merupakan kejadian bencana tahunan yang terjadi di Kabupaten Lamongan. Kawasan di Kabupaten Lamongan yang menjadi daerah langganan banjir setiap tahun pada musim penghujan adalah kawasan Bengawan Jero yang memiliki ketinggian lebih rendah dibandingkan daerah sekitarnya termasuk lebih rendah dari ketinggian Sungai Bengawan Solo. Kawasan ini dilalui oleh banyak sungai yaitu Kali Mengkuli, Kali Plalangan dan Kali Dapur yang kemudian mengalir ke Kali Blawi dan bermuara di Sungai Bengawan Solo. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat bahaya banjir dan tingkat kerentanan permukiman terhadap banjir di Sub-DAS (daerah aliran sungai) Blawi Bengawan Jero. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Jenis data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder, data primer diperoleh dengan menyebar kuesioner kepada subjek penelitian yaitu masyarakat yang terdampak genangan banjir serta data sekunder dari BPS Kabupaten Lamongan dan Dinas PU (pekerjaan umum) Pengairan Kabupaten Lamongan. Teknik analisis data menggunakan metode skoring kemudian diklasifikasikan dalam tiga kelas, yaitu tingkat kerentanan rendah, kerentanan sedang dan kerentanan tinggi. Hasil penelitian menunjukkan dari lokasi permukiman 50 subjek penelitian di Sub-DAS (daerah aliran sungai) Blawi Bengawan Jero yang tersebar di 3 tingkat elevasi (elevasi 0-(-24) cm, elevasi -25 cm-(-48) cm dan elevasi -49 cm-(-72) cm) menyatakan tingkat bahaya banjir dari parameter lama genangan banjir masuk kategori tinggi dengan lama genangan >48 jam. Berdasarkan pada parameter tinggi dan frekuensi genangan banjir masuk kategori sedang dengan tinggi genangan banjir 20-50 cm dan frekuensi genangan banjir 2-5 kali kejadian dalam satu tahun. Tingkat kerentanan permukiman disemua elevasi (0-(-24) cm, -25 cm-(-48) cm dan -49 cm-(-72) cm) di kawasan Sub-DAS (daerah aliran sungai) Blawi Bengawan Jero masuk kategori kerentanan sedang dari perhitungan skor indikator variabel kondisi rumah, kondisi keluarga, intensitas genangan dan persepsi kenyamanan tempat tinggal. Kata kunci: Kerentanan, Permukiman, Bahaya Banjir, Sub-DAS (daerah aliran sungai) Blawi Bengawan Jero   Abstract Flood is an annual disaster occurring in Lamongan District. Especially the area of Bengawan Jero which has a lower altitude than the surrounding area as well as lower than the height of the Bengawan Solo River. This area was traversed by many rivers namely Kali Mengkuli, Kali Plalangan and Kali Dapur which flowing into Kali Blawi and empties into the River Solo. The purpose of this research was to know the level of flood hazard and the level of vulnerability of settlements to flood in Blawi Bengawan Jero Sub-Basin. The method used in this research was survey method. The types of data collected were primary and secondary data, Primary data was collectedby spreading questionnaires to the research subjects of the community affected by flooding as well as secondary data from BPS (Regional Disaster Management Agency), Lamongan public work department in water treatment in Lamongan district. Technique of data analysis used scoring method then classified in three classes, such as low level of vulnerability, medium vulnerability and high vulnerability. The results showed from the location of the settlement of 50 subjects in Blawi Bengawan Jero Sub-Basin spread in 3 levels of elevation (elevation 0-(-24) cm, elevation -25 cm-(-48) cm and elevation -49 cm-(-72) cm States the level of flood hazard from the parameter of long flood puddles in the high category with long puddle >48 hours. based on the parameters of high and the frequency of flooding in the medium category with high flood puddle 20-50 cm and the frequency of flooding 2-5 times incidents in one year. The level of vulnerability of settlements in all elevations was (0-(-24) cm, elevation -25cm-(-48) cm and elevation -49 cm-(-72) cm In Blawi Bengawan Jero Sub-Basin area was categorized as medium vulnerability from calculation of the indicator variable scores of house condition variable, Family condition, inundation intensity and perception of residence comfort. Keywords: Vulnerability, Settlement, Flood Hazard, Blawi Bengawan Jero Sub-Basin
KAJIAN TEORI LOKASI WEBER TERHADAP KEBERADAAN INDUSTRI TENUN IKAT DI KECAMATAN MADURAN KABUPATEN LAMONGAN Gufron Riski Fauzi, Agung
Swara Bhumi Vol 5, No 01 (2017): Volume 05 Nomor 01 Yudisium 90
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Lokasi Industri tenun ikat berada di Kecamatan Maduran Kabupaten Lamongan, terdapat di empat desa yaitu Maduran, Jangkungsumo, Parengan, dan Pringgoboyo. Industri tersebut setiap tahunnya mengalami peningkatan jumlah pengrajin, tetapi pada 5 tahun terakhir tidak mengalami peningkatan. Penyebab utamanya adalah faktor lokasi bahan baku jauh dari lokasi industri sehingga tidak sesuai dengan teori lokasi Weber. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) Faktor-faktor yang mendukung industri tenun ikat tetap bertahan 2) Orientasi teori lokasi Weber terhadap keberadaan industri 3) Pola persebaran industri tenun ikat di Kecamatan Maduran Kabupaten Lamongan. Jenis penelitian ini merupakan penelitian survei. Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh populasi yaitu 45 pengrajin. Sumber data diperoleh dari data primer dan sekunder dengan cara observasi dan dokumentasi. Analisis data mengunakan analisis deskriptif kuantitatif dengan presentase, analisis segitiga lokasional Weber, dan analisis tetangga terdekat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor pendukung industri adalah bahan baku sebesar 67%,tenaga kerja sebesar 63%, dan aksesibilitas sebesar 81%. Pengrajin mengalami hambatan dalam pemenuhan modal sebesar 58% dan pemasaran sebesar 60%. Hasil penghitungan indeks material dan segitiga lokasional Weber menunjukkan bahwa industri tenun ikat berorientasi pada tenaga kerja, sehingga industri tersebut tidak sesuai dengan teori lokasi Weber, maka lebih sesuai dengan teori lokasi memaksimumkan laba oleh Smith. Hasil penghitungan analisis tetangga terdekat yaitu T=0, maka industri tenun ikat termasuk dalam pola persebaran mengelompok. Kata Kunci : Industri tenun ikat, indeks material, pola persebaran
ANALISIS KEHIDUPAN PEDAGANG DI WADUK SIMAN PASCA ERUPSI GUNUNG KELUD TAHUN 2014 (STUDI KASUS PEDAGANG DI WADUK SIMAN KECAMATAN KEPUNG KABUPATEN KEDIRI) NUZULIA FARIKHA, APRILIA
Swara Bhumi Vol 5, No 01 (2017): Volume 05 Nomor 01 Yudisium 90
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Waduk Siman merupakan waduk yang terkena dampak erupsi Gunung Kelud yang  menyebabkan banjir dahar dingin sehingga adanya sedimentasi di area Waduk, material sedimentasi digunakan pemerintah Kabupaten Kediri untuk pembangunan infrastruktur Waduk Siman sehingga banyaknya pengunjung yang mengakibatkan memunculnya pedagang. Fokus penelitian ini adalah kondisi sosial ekonomi pedagang yang meliputi : interaksi, lingkungan sosial, pola komunikasi asosiasi, motivasi,  modal keuangan, modal fisik modal sosial dan penghasilan. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan kondisi sosial ekonomi pedagang di waduk Siman Kecamatan Kepung Kabupaten Kediri. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Lokasi penelitian dilakukan di Waduk Siman Kecamatan Kepung Kabupaten Kediri. Pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam Teknik analisis data dilakukan dengan tiga tahapan yaitu  reduksi data, penyajian data dan kesimpulan. Kemudian untuk teknik keabsahan data menggunakan empat tahapan yaitu : kredibilitas, transferabilitas, dependabilitas dan konfirmabilitas. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kehidupan pedagang di Waduk Siman di Waduk Siman adalah interaksi yang dilakukan oleh pedagang dengan cara terjadi sesama pedagang saling menyapa dan membantu pedagang lain yang membutuhkan, lingkungan sosial yang terjadi di Waduk Siman, asosiasi yang terjadi pada pedagang dilakukan dengan cara adanya arisan setiap bulan, dan juga penertipan pada hari raya nyepi, motivasi para pedagang yang berjualan juga berbeda beda ada pedagang yang bermotivasi untuk kehidupan keluarga, ada juga untuk membantu pedagang lain. Modal keuangan yang dikeluarkan Rp 200.000,00 sampai dengan Rp 1.500.000,00, modal sosial pedagang ini hanya dengan membantu pedagang lain, dan belum ada peraturan untuk pedagang. Modal fisik yang dibutuhkan pedagang berupa mendirikan warung sendiri dan transportasi yang digunakan oleh pedagang berupa sepeda motor, penghasilan pedagang yang berjualan di Waduk Siman ini antara  Rp 100.000,00 – Rp 200.000,00 perhari sampai dengan Rp 200.000,00 – Rp 300.000,00 perhari jika hari libur dan Rp 50.000,00 di hari biasa. Kata Kunci : Kehidupan, Pedagang, Waduk Siman, Erupsi
PERSEBARAN LINDI TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR (TPA) SAMPAH BENOWO TERHADAP KUALITAS AIR TAMBAK KOTA SURABAYA Mei Lia Saputri, Eki
Swara Bhumi Vol 5, No 01 (2017): Volume 05 Nomor 01 Yudisium 90
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Benowo sedang mengalami masalah yang tidak diharapkan yaitu telah ditemukan saluran pipa lindi yang mengalami kebocoran akibat terkena aktivitas Bego yang melakukan proses penyelesaian proyek tempat pembakaran sampah. Pipa lindi mengalami kebocoran pada tanggal 5 Januari 2017 sampai dengan tanggal 15 Maret 2017 yang belum juga terselesaikan dikarenakan musim hujan dan banjir sehingga penanganannya sangat lambat. Kebocoran tersebut tidak dapat mengalirkan lindi dengan sepenuhnya sehingga menyebabkan lindi meresap sebagian ke dalam tanah dan sebagian lagi meluap ke area sekitar titik kebocoran pipa lindi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui persebaran pencemaran lindi dan dampak lindi terhadap tambak  disekitar titik lokasi kebocoran pipa lindi TPA Sampah Benowo. Jenis penelitian ini menggunakan jenis penelitian Deskriptif kuantitatif yang mendeskripsikan gambaran kondisi yang ada yaitu berupa dampak dari kebocoran pipa lindi TPA Sampah Benowo terhadap pencemaran air tambak disekitarnya dengan menggunakan bantuan tes laboratorium kemudian dianalisis. Sampel dalam penelitian ini adalah air tambak pada jarak 0 m–150 m dari titik kebocoran pipa lindi. Variabel penelitian ini yaitu kualitas air tambak berdasarkan kandungan ph yang menunjukkan kadar asam dalam suatu larutan  dan Chemical Oxygen Demand (COD) untuk melihat ukuran tingkat pencemaran oleh bahan organik. Penelitian ini menghasilkan jarak air tambak yang tercemar lindi dari titik kebocoran pipa lindi setelah dianalisa pH dan COD secara deskriptif berdasarkan data yang diperoleh pada jarak 25 m dan 75 m ke arah utara, jarak 25 m ke arah timur dari titik kebocoran pipa lindi TPA Benowo telah terjadi pencemaran oleh lindi dan berdampak pada tambak yang mengalami pencemaran oleh lindi yaitu semua ikan mati, air berwarna kehitaman dan bau. Semakin jauh jarak air tambak dengan titik kebocoran pipa lindi TPA Sampah Benowo maka semakin kecil pencemaran lindi atau pencemaran lindi semakin berkurang. Kata Kunci : Pencemaran Lindi, Kualitas Air Tambak
KAJIAN PERILAKU PETANI DALAM BUDIDAYA BAWANG MERAH PADA MUSIM KEMARAU DAN MUSIM HUJAN DI KECAMATAN SUKOMORO KABUPATEN NGANJUK KHAFID .F, RISKA
Swara Bhumi Vol 5, No 01 (2017): Volume 05 Nomor 01 Yudisium 90
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kabupaten Nganjuk merupakan daerah produsen bawang merah terbesar di  Jawa Timur dengan kontribusi sebesar 47.83%. Data BPS tahun 2012-2014, menunjukkan bahwa di Kabupaten Nganjuk terdapat lima kecamatan sebagai pusat produksi bawang merah yaitu Kecamatan Rejoso, Wilangan, Bagor, Gondang dan Sukomoro. Masterplane Kawasan Agropolitan Kabupaten Nganjuk Tahun 2013, Kecamatan Sukomoro direkomendasikan sebagai pusat agropolitan komoditas bawang merah (Allium Cepa). Bawang merah diperlukan dalam kehidupan sehari-hari sehingga para petani berupaya untuk tetap bercocok tanam dalam berbagai kondisi dan menyesuaikan dengan kondisi alam yang terjadi di sekitarnya. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui perilaku petani dalam budidaya bawang merah pada musim kemarau dan mengetahui perilaku petani dalam budidaya bawang merah pada musim hujan di Kecamatan Sukomoro Kabupaten Nganjuk. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian survey. Lokasi penelitian ditentukan secara purposive yaitu desa di Kecamatan Sukomoro kecuali Desa Sumengko dan Ngrengket. Populasinya sebanyak  9709 orang.  Teknik penentuan sampel dengan  menggunakan accidental sampling (sampel kebetulan) yaitu  sebesar  100  responden.  Pengambilan  data  dilakukan  dengan  cara  wawancara  menggunakan kuesioner, observasi dan dokumentasi. Teknik analisisnya menggunakan presentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada musim kemarau petani mendapatkan sumber air untuk mengairi sawahnya berasal dari mesin diesel yaitu 94% (94 responden) dan 6% (6 responden) sumber airnya berasal dari irigasi. Pada musim hujan, 93% (100 responden) petani memperoleh air untuk mengairi sawahnya berasal dari air hujan dan 7% (7 responden) juga mendapatkan air dari irigasi. Perilaku petani bawang merah untuk penanaman bawang merah yaitu sejumlah 92% (92 responden) memilih varietas Bauji pada musim kemarau dan varietas Thailand pada musim hujan. Petani bawang merah pada musim kemarau memberikan pupuk lebih banyak dengan rata-rata 80,5 kg sekali pemberian dan pada musim hujan dengan rata-rata 63.75 kg. Petani memanen bawang merahnya saat musim kemarau sekitar umur 66 hari setelah tanam dan pada musim hujan berumur sekitar 56 hari setelah tanam. Luas lahan sekitar 2400 m2 modal yang diperlukan untuk membeli bibit, pupuk, pestisida dan tenaga kerja pada musim kemarau rata-rata Rp. 7.500.000, dan pada musim hujan modal yang dibutuhkan rata-rata Rp. 6.700.000. Kata kunci: bawang merah, perilaku petani, musim kemarau, musim hujan.   Abstrack Nganjuk district is a region with the highest red onion producers in East Java who contributes 47.38% of their production. Data of Central Bureau of  Statistics in 2012-2014 revealed that there were five sub-districts as the center of red onion production in Nganjuk Regency, i.e. subdistrict of Rejoso, Wilangan, Bagor Gondang, and Sukomoro. The master plan of the Agropolitan Regency of Nganjuk Year 2013, Subdistrict of Sukomoto, was recommended as the agropolitan center of red onion commodity (Allium Cepa). Red onion was needed in daily life so that farmers attempted to keep farming regardless of any circumstances and adjust to natural condition of the surrounding. The purpose of this research was to know farmer’s behavior in cultivating red onions during dry and wet season in Sukomoro Subdistrict, Nganjuk Regency. Design of this researchwas a survey research. The location was decided purposively, in Sukomoro Subdistrict, except Sumengko and Ngrengket Village. The population were 9709 people. This research used accidental sampling technique with 100 respondents. The data collection was conducted by interviewing with questionnaire, observation, and documentation. The data were analyzed through a percentage. The research result showed that in dry season, the farmers acquired water source to irrigate the field 94% (94 respondents) from diesel engine and 6% (respondents) of the other water source was from irrigation. During wet season, 93% (100 respondents) of the farmers obtained water from rain to irrigate their field and 7% (7 respondents) also acquired water from irrigation. The behavior of farmers of red onions to plant the onions showed that 92% (92 respondents) chose a variety of Bauji during dry season and Thailand variety for wet season. During dry season the onion farmers have gave more fertilizer with average of 80.5 kg once and with average 63.75 kg. The farmers have harvested the red onions during dry season when reaching 66 days old after planting and 56 days old after planting in wet season. With 2400 m2 land area, the capital used to purchased seeds, fertilizer, pesticide and labors during dry season was of average IDR. 7.500.000 and IDR 6.700.000 during wet season. Key words: red onion,,farmer’s behavior, dry season, wet season.