cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Swara Bhumi
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Arjuna Subject : -
Articles 509 Documents
PENGARUH FAKTOR – FAKTOR KONDISI SOSIAL EKONOMI DAN LINGKUNGAN FISIKWILAYAH TERHADAP KASUS DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DI KABUPATEN JOMBANG ROKIM, ABDUL
Swara Bhumi Vol 0, No 3 (2017): Volume 04 Nomor 3 2017
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakKabupaten Jombang merupakan salah satu wilayah yang mengalami kejadian kasus Demam Berdarah Dengue(DBD) yang cenderung meningkat dan diperkirakan dapat dikategorikan Kejadian Luar Biasa (KLB) sehingga awaltahun 2015 kasus Demam Berdarah Dengue mengalami peningkatan yang fluktuatif dibandingkan tahun sebelumnya.Faktor kondisi sosial dan ekonomi dan lingkungan fisik wilayah merupakan faktor yang berpengaruh tinggi terhadapkasus keterjangkitan DBD. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kondisi sosial ekonomi danlingkungan fisik wilayah terhadap keterjangkitan DBD di wilayah tersebut,untuk mengetahui faktor yang palingberpotensi besar terhadap kasus keterjangkitan DBD, serta untuk mengidentifikasi tiap wilayah yang berpotensi tinggirawan keterjangkitan DBD.Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif serta teknik pengambilan sampel menggunakanTeknik Total Sampling, yaitu dilakukan dengan cara tiap sampel mewakili jumlah populasi sesuai dengankarakteristik pada elemen tersebut. Analisis penelitian ini didasarkan pada data sekunder. Populasi penelitian berupasatuan – satuan wilayah fungsional kecamatan di Kabupaten Jombang, yakni berjumlah 21 Kecamatan. 9 variabelbebas yang diperhatikan dalam penelitian ini yaitu: tingkat pendidikan penduduk, PDRB, jumlah keluarga petani,kepadatan penduduk, jumlah kunjungan ke puskesmas, fasilitas kesehatan, curah hujan, ketinggian tempat, danbangunan bebas jentik nyamuk. Analisis dilakukan secara statistik berdasarkan persamaan regresi ganda.Hasil penelitian diperoleh nilai R2 (koefisien determinasi) = 0,922 menunjukkan bahwa 9 variabel bebas yangdiperhatikan dalam penelitian ini mampu menjelaskan tingkat kasus keterjangkitan DBD di Kabupaten Jombangsebesar 92,2% sehingga masih 7,8% yang dijelaskan oleh variabel lain.Variabel – variabel yang berpengaruh terhadapkasus keterjangkitan DBD di Kabupaten Jombang dalam penelitian ini adalah kepadatan penduduk (0,050), jumlahkeluarga petani (- 0,716), jumlah kunjungan ke puskesmas (- 0,145), fasilitas kesehatan (- 0,570), dan bangunan bebasjentik nyamuk (- 0,325). Keterjangkitan DBD tinggi terdapat pada tiap wilayah yang memiliki kepadatan penduduktinggi. Hasil ini menunjukkan bahwa wilayah tersebut mengalami pertumbuhan penduduk yang tinggi. KeterjangkitanDBD tinggi terdapat pada tiap wilayah yang memiliki jumlah keluarga petani rendah. Hasil ini menunjukkan bahwapada wilayah tersebut mengalami berkurangnya lahan pertanian yang mengalami alih fungsi lahan pertanian menjadipusat perdagangan dan industri. Keterjangkitan DBD tinggi terdapat pada tiap wilayah yang memiliki jumlahkunjungan ke puskesmas rendah. Hasil ini menunjukkan bahwa pada wilayah tersebut masyarakatnya memiliki sikapatau perilaku hidup sehat yang kurang baik. Keterjangkitan DBD tinggi terdapat pada tiap wilayah yang memilikifasilitas kesehatan rendah. Hasil ini menunjukkan bahwa pada wilayah tersebut pelayanan dan fasilitas kesehatankurang memadai. Keterjangkitan DBD tinggi terdapat pada tiap wilayah yang memiliki bangunan bebas jentiknyamuk rendah. Hasil ini menunjukkan bahwa pada wilayah tersebut terdapat bangunan – bangunan yang beralihfungsi lahan menjadi pemukiman. Hasil analisis kompleks kewilayahan menunjukkan bahwa tiap Kecamatan yangberpotensi memiliki tingkat keterjangkitan DBD tinggi yaitu Kecamatan Sumobito, Kecamatan Kesamben, danKecamatan Megaluh.Kata Kunci : Kondisi Sosial Ekonomi dan Lingkungan Fisik Wilayah, Kasus Keterjangitan DBD, Wilayah PotensialKeterjangkitan DBD AbstractJombang is one of regencies infected by Dengue Fever. It is predicted to increase in number and belongs toExtraordinary Condition. In 2005, Dengue Fever encountered fluctuating increase compared with the last year.Mostly, Socioeconomic and physical environment factors influenced the increase of Dengue Fever case. The purposesof this research were to figure out the influence of socioeconomic condition and physical environment toward theepidemic of Dengue Fever in a certain place, to find out the most potential factor toward the epidemic of DengueFever, and to identify the most potential place encountering Dengue Fever.This research was conducted quantitatively by using a complete sampling technique, where each samplerepresented the amount of population appropriate with the element in the population. The data analysis based onsecondary data. The populations in this research were 21 functional units of sub district in Jombang. There were 9independent control variables in this research consisting of the level of social education, PDRB, the number offarmers’ family, the population density, the number of hospital visits, the health facilities, the intensity of rainfall, thelocations’ altitude, and the free-wiggler buildings. Then analysis was conducted statistically based on multipleequations.From the result, it was found that R2 (determinant coefficient) = 0.922 showing that 9 independent controlvariables were able to describe the level of Dengue Fever in Jombang. 92.2% , meaning that the percentage of those 9variables and the rest 7.8% came from other variables. The variables taking role in this research were the populationdensity (0,050), the number of farmers’ family (-0,716), the number of hospital visits (-0,145), the health facilities (-0,570) and the free-wiggler buildings (-0,325). First, Dengue Fever tended to be found in high population density. Itshowed that the over growth of population. Second, Dengue Fever tended to be found in the area of low farmers’family. It showed the function of rice fields that had been transformed into industrial area. Dengue Fever, then,tended to be found in the area that has low number of hospital visits. It showed that the society there had less healthylife style. Next, Dengue Fever tended to be found in area that had poor health facilities. It showed that health facilitiesand services had to be optimized. Last, Dengue Fever tended to be found in area with low free-wiggler buildings. Itshowed that the buildings’ functions from the fields turned to public housings. In addition, the result of spatialanalysis showed that the most potential sub districts encountering Dengue Fever were Sumobito, Kesamben, andMegaluh.Keywords: Socioeconomic and Physical Environment Condition, Case of Dengue Fever Epidemic, Potential AreaEncountering Dengue Fever
PENGARUH TINGKAT SOSIAL EKONOMI, KARAKTERISTK IBU HAMIL DAN PERILAKU IBU HAMIL TERHADAP KEJADIAN BBLR (BERAT BADAN LAHIR RENDAH) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS LAMONGAN TAHUN 2015 ARIF YUWONO, RAMADHAN
Swara Bhumi Vol 0, No 04 (2017): Volume IV nomor 4 tahun 2017
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2.500 gram tanpa memandang masa kehamilan. BBLR masih merupakan masalah di bidang kesehatan terutama kesehatan kelahiran bayi. Pada tahun 2015 kejadian BBLR di Kabupaten Lamongan meningkat hampir dua kali lipat dari tahun 2014 yaitu 727 kasus BBLR dari 17.512 bayi lahir hidup. Kecamatan Lamongan memiliki kasus BBLR yang paling tertinggi dari kecamatan lainnya yaitu sebanyak 46 kasus (6,33%) dari 942 bayi lahir hidup. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh tingkat sosial ekonomi, karakteristik ibu hamil dan perilaku ibu hamil serta faktor yang paling berpengaruh terhadap kejadian BBLR di wilayah kerja Puskesmas Lamongan tahun 2015. Metode penelitian ini adalah survei analitik dengan menggunakan rancangan case control dengan teknik matching yaitu memilih subjek control yang sama dengan kondisi subjek kasus. Pengambilan sampel area dilakukan secara purposive sampling yang didasarkan pada seluruh kasus BBLR sebanyak 46 kasus di daerah penelitian dan ditambah 46 kasus control. Teknik analisis data yang digunakan adalah uji chi-square dan regresi logistik ganda dengan menggunakan SPSS.  Hasil analisis dengan menggunakan uji chi-square menunjukkan bahwa variabel dari sosial ekonomi ibu yang mempengaruhi kejadian bayi dengan BBLR adalah penghasilan keluarga ibu (p=0,01) sedangkan tingkat pendidikan ibu (p=0,549) dan status keluarga ibu (p=0,403)  tidak mempengaruhi kejadian BBLR. Variabel karakteristik ibu hamil yang mempengaruhi kejadian bayi dengan BBLR adalah lama kehamilan ibu (p=0,01) dan penambahan berat badan ibu (p=0,033) sedangkan usia ibu (p=0,520), paritas ( p=0,664),  dan jarak persalinan (p=1,000)  tidak mempengaruhi kejadian BBLR. Variabel perilaku ibu hamil yang mempengaruhi kejadian bayi dengan BBLR adalah olahraga (p=0,023) sedangkan jam istirahat (p=1,000), frekuensi berdekatan dengan perokok (p=1,000), banyak Fe yang dikonsumsi ( p=0,714) dan keadaan gizi (p=0,235)  tidak mempengaruhi kejadian BBLR. Faktor yang paling berpengaruh terhadap kejadian bayi dengan BBLR dengan menggunakan uji regresi logistic ganda adalah faktor penghasilan keluarga ibu (p=0,01) dan lama kehamilan ibu ( p=0,01). Kata Kunci : BBLR, Tingkat Sosial Ekonomi, Karakteristik Ibu Hamil, Perilaku Ibu Hamil. Low Birth Weight Infant is baby that birth with weight under 2,500 grams with not consider length of pregnancy. Low Birth Weight Infant is still the problem in health domain especially in baby birth healthy. In 2015 cases of Low Birth Weight Infant at Lamongan increased almost two times than cases in 2014 that were 727 cases of 17,512 life birth. District of Lamongan had highest cases of Low Birth Weight Infant than other district that were 46 cases (6.33%) of 942 life birth. The aims of this research were to know the effect of socioeconomic level, characteristic and behavior of pregnant mother also the most affecting factor toward cases of Low Birth Weight Infant at working area of Puskesmas Lamongan in 2015. Method of this research is analytical survey by using case control design with matching technique which is subject control that equal with case subject condition. Sampling area conducted by purposive sampling based on total 46 cases of Low Birth Weight Infant in research area added with 46 cases control. Data analysis techniques were using chi-square and multiple logistic regressions by using SPSS. The analysis result by using chi-square shows that variable of mothers socioeconomic affecting cases of Low Birth Weight Infant is mothers family income (p=0.01), while mothers education level (p=0.549) and mother family status (p=0.403) were not affecting cases of Low Birth Weight Infant. Variable of pregnant mother characteristic which affecting cases of Low Birth Weight Infant are the length of pregnancy (p=0.01) and mothers weight gain (p=0.033), while mothers age (p=0.520), parity (p=0.664), and birth interval (p=1.000) were not affecting cases of Low Birth Weight Infant. The most affecting factor toward cases Low Birth Weight Infant by using multiple logistic regressions are factors of mother family income (p=0.01) and length of pregnancy (p=0.01). Keywords: Low Birth Weight Infant, socioeconomic level, pregnant mothers characteristic, pregnant mother behavior
POLA KEMITRAAN PETANI COKLAT DALAM MENDUKUNG EKSISTENSI KAMPUNG COKLAT DI DESA PLOSOREJO KECAMATAN KADEMANGAN KABUPATEN BLITAR ALMUKAROMAH, SITI
Swara Bhumi Vol 0, No 04 (2017): Volume IV nomor 4 tahun 2017
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Perindustrian Indonesia banyak berkembang di daerah pedesaan, salah satunya adalah di wilayah Kecamatan Kademangan Kabupaten Blitar.  Bergerak di bidang edukasi wisata yaitu Kampung Coklat. Keberadan Kampung Coklat ini dianggap memberikan banyak terjadinya perubahan, khususnya dalam aspek perekonomian masyarakat. Keberadaan Kampung Coklat di Desa Plosorejo dianggap dapat memberikan peluang untuk terciptanya lapangan pekerjaan baru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola kemitraan   kampung coklat dengan Petani coklat, pola Kordinasi dan kerjasama Petani Coklat dengan kampung coklat di Desa Plosorejo Kecamatan Kademangan Kabupaten Blitar. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, sedangkan jenis penelitian yang digunakan adalah studi kasus. Lokasi penelitian ini berada di Desa Plosorejo, dengan subyek Petani Coklat di sekitar Kampung Coklat. Sasaran dalam penelitian ini adalah pengelola, petani dan pengunjung Kampung Coklat. Hasil penelitian mengenai Kampung Coklat di Desa Plosorejo maka terjalin Pola kemitraan Petani Coklat dengan kampung coklat bersifat kemitraan inti plasma dengan Gapotan Guyub Santosa sebagai cikal bakalnya dan Petani Coklat sebagai suplaiyer utama coklat, koordinasi dari pola kemitraan petani coklat dengan kampung coklat di Desa Plosorejo Kecamatan Kademangan Kabupaten Blitar menggunakan model bottom up, pemberdayaan coklat dimulai dari Gapoktan Guyub Santoso yang memberikan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat Desa Plosorejo Kecamatan Kademangan Kabupaten Blitar untuk membudidayakan tanaman coklat dengan menerapkan joint venture atau bentuk kerjsama yang bersifat lisan dan saling menguntungkan. Kata kunci: kampung coklat, petani coklat, industri   Abstract Industries in Indonesia are growing in rural areas, one of them is in Kademangan, Blitar district in educational tours at Kampung Coklat (Chocolate Village). The existence of Kampung Coklat was considered contribute the changes, especially in the aspect of economy society. The existence of Kampung Coklat in Plosorejo are able to provide opportunities for the creation of new jobs. This research aimed to know the partnership model of Kampung coklat on chocolate Farmers, Coordination and cooperation model of chocolate Farmers in Plosorejo, Kademangan, Blitar dostrict. The research is qualitative approach using case studies. The setting of the research is in Plosorejo, the subject of chocolate Farmers around Kampung Coklat (chocolate village). The target in this current research is the manager, farmers and visitors in Kampung coklat. The results of research in Kampong Coklat  Plosorejo, partnership model chocolate Farmers with kampung coklat was partnership the core of the plasma with Gapotan Guyub Santosa as the beginning and Cocoa Farmers as the primary cocoa supplier. The pattern of partnership model of chocolate Farmers and Kampong coklat in  Plosorejo, Kademangan, Blitar dstrict was using the model bottom-up, reviewing starts from Gapotan Guyub Santosa that provide education and socialization to society in Plosorejo, Kademangan, Blitar district for cultivating cocoa by applying joint ventures or kinds of longer and mutual benefit cooperation. Keywords: kampung coklat, cocoa farmers,industry  
KAJIAN TENTANG PILIHAN MODA TRANSPORTASI PEKERJA MIGRAN SIRKULER DARI KECAMATAN KERTOSONO KE KABUPATEN NGANJUK ANGGRAENI, CHOLIFAH
Swara Bhumi Vol 0, No 04 (2017): Volume IV nomor 4 tahun 2017
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Moda transportasi banyak mengalami perubahan, pemerintah di kota besar mulai mengurangi angkutan pribadi dengan memperbaiki fasilitas pada moda angkutan umum sehingga akan menjadi pertimbangan bagi pengguna moda. Pemilihan moda dikatakan sebagai tahap penting dalam perencanaan transportasi. Kecamatan Nganjuk merupakan pusat pertumbuhan dari Kabupaten Nganjuk, dimana pusat pertumbuhan akan dijadikan sebagai tujuan para pekerja untuk menghasilkan barang maupun jasa termasuk pekerja dari Kecamatan Kertosono. Jarak Kecamatan Kertosono ke Kecamatan Nganjuk sekitar 30 km atau 30 menit sehingga membuat para pekerja yang tidak menetap akan melakukan perjalanan setiap hari. Para migran sirkuler tersebut akan dihadapkan pada pilihan jenis moda trasnportasi, yaitu angkutan umum dan angkutan pribadi. Migran sirkuler dalam menentukan pilihan jenis angkutan mempertimbangkan berbagai faktor, seperti tempat tinggal, jarak tempuh, biaya dan lama perjalanan.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui:1) berapa model transportasi yang dilakukan oleh migran sirkuler pekerja dari Kecamatan Kertosono ke Kebupaten Nganjuk 2) faktor sosial dan ekonomi yang mempengaruhi pemilihan moda transportasi migrasi sirkuler pekerja dari Kecamatan Kertosono ke Kabupaten Nganjuk.                 Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenalogi. Sasaran dalam penelitian ini adalah seluruh pekerja migran sirkuler dari Kecamatan Kertosono ke Kabupaten Nganjuk dengan menggunakan metode snowball sampling. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa model penggunaan moda transportasi migran sirkuler dari Kecamatan Kertosono menuju Kabupaten Nganjuk  ada 4 model yaitu 1) dari rumah ke tempat kerja menggunakan moda angkutan umum rata – rata digunakan oleh migran sirkuler yang sudah menikah 2) dari rumah menggunakan moda angkutan pribadi kemudian ganti menggunakan moda angkutan umum digunakan oleh migran sirkuler yang tempat tinggalnya jauh dari jalan utama kabupaten 3) dari rumah menggunakan moda angkutan umum lalu berpindah menggunakan moda angkutan pribadi digunakan oleh migran sirkuler yang tempat kerjanya jauh dari terminal 4) dari rumah langsung ke tempat kerja menggunakan moda angkutan pribadi digunakan oleh migran sirkuler wanita yang menginginkan kemudahan dalam transportasi. Kata kunci: Migran Sirkuler, Moda Transportasi  Abstract Transportation modes have many changes, the goverment of major city began to reduce private transport by improving the facilities of public transport so that will be taken into consideration for transportation mode user. Selection mode can be said to be an important step in the planning of transportation. Nganjuk Subdistrict is the central of the growth of NganjukDistrict, which will serve as a growth center of interest of the workers to produce goods and services, including workers from the Kertosono Subdistrict. Distance of Kertosono Subdistrict to the Nganjuk District is about 30 km or 30 minutes so it will make the workers who do not settle will be traveling every day. The circular migrants will be faced with the choicesoftrasnportasi modes, they are public transportation and private transportation. The circular migrants to determine the choice of transportation mode,circular migrants consider various factors, such as housing, mileage, cost and time of travel. The purpose of this study were for1) how many models of transport carried out by circular migran of workers from the KertosonoSubdistrict to Nganjuk District 2) the social and economic factors that influence the selection of transportation modes circular migration of workers from the Kertosono Subdistrict to Nganjuk District. This research includes qualitative research with phenomenological approach. The target in this research are all circular migrant workers from Kertosono Subdistrict to Nganjuk District by using snowball sampling method. Results of this research showed that the usage model of transportation mode for circular migrants from the KertosonoSubdistrictto Nganjuk Districthave four models, they are 1) from home to work place using public transport is mostly used by married informants 2) from home they use private transportation mode and then switchto using public transportation is used by informants who lived far away from the main street districts 3) from home they use public transportation mode and then switchto using privatetransportaion used by informants that their workplace is far from bus station 4) from home directly to the work place using private transportation mode used by lady informants who want the ease of transportation. Keywords: Circular Migrants, Transportation Mode
PENGEMBANGAN MEDIA KARTU MITIGASI BENCANA UNTUK MATA PELAJARAN GEOGRAFI PADA MATERI POKOK MITIGASI DAN ADAPTASI BENCANA ALAM KELAS X MAN 1 GRESIK KHOMAENI, ARAFAT
Swara Bhumi Vol 0, No 04 (2017): Volume IV nomor 4 tahun 2017
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

  Abstrak Penelitian yang dilakukan peneliti didasarkan pada permasalahan bahwa siswa di MAN 1 Gresik kelas X IIS 1 pasif dan tidak bersemangat dalam belajar, siswa kelas tersebut memiliki karakteristik hiperaktif yaitu apabila siswa sedang dalam keadaan bersemangat siswa akan ramai sendiri dan tidak kondusif namun ketika siswa tidak bersemangat siswa akan mengantuk, oleh karena itu peneliti mengembangkan media yang dapat menjelaskan materi pembelajaran dengan simpel dengan permainan yang menyenangkan sehingga memberikan motivasi siswa dalam belajar, memberikan semangat, membuat materi yang disampaikan dapat ditangkap dengan baik oleh siswa sehingga meningkatkan hasil belajar siswa. Peniliti memilih kelas X IIS 1 sebagai kelas eksperimen dan kelas X IIS 2 sebagai kelas kontrol karena kedua kelas tersebut memiliki karakteristik yang sama. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui 1. kelayakan media kartu mitigasi bencana pada pelajaran Geografi 2. respon siswa terhadap media kartu mitigasi bencana pada pelajaran Geografi 3. aktivitas guru pada pembelajaran menggunakan kartu mitigasi bencana 4. aktivitas siswa pada pembelajaran menggunakan kartu mitigasi bencana 5. hasil belajar siswa setelah pembelajaran dengan media kartu mitigasi bencana. Metode penelitian ini menggunakan R & D (Research and Development) dengan menggunakan model pengembangan ASSURE yang terdiri dari enam tahap : Analyze learner (menganalisis karakteristik siswa) , State Objective (menetapkan tujuan pembelajaran), Select Media and Material (memilih, metode, media dan bahan ajar), Utilize Media and Material (menggunakan metode, media dan bahan ajar), Require Learner Participant (mengikutsertakan partisipasi siswa), Evaluated and Resive (evaluasi dan revisi).  Penelitian ini diperoleh bahwa hasil penelilitan berdasarkan rumusan masalah terdiri dari kelayakan media pembelajaran, respon siswa, aktivitas guru, aktivitas siswa dan hasil belajar. Kelayakan media kartu mitigasi bencana sebesar 80,00% (layak), kelayakan perangkat pembelajaran sebesar 70,58% (layak) yang dinilai oleh validator ahli, respon siswa mendapatkan nilai sebesar 82,75% (sangat layak), aktivitas guru kelas eksperimen sebesar 84,00% (sangat layak), aktivitas guru kelas kontrol sebesar 58,00% (cukup baik), aktivitas siswa kelas eksperimen sebesar 91,67% (sangat layak), aktivitas siswa kelas kontrol sebesar 61,07% (cukup baik), rata-rata nilai pretest kelas eksperimen sebesar 57, nilai rata-rata posttest sebesar 79, rata-rata nilai pretest kelas kontrol sebesar 58 dan rata-rata nilai posttest sebesar 69. Berdasarkan hasil pengolahan data dengan menggunakan uji Independent sample test di kelas eksperimen maupun kelas kontrol menunjukan bahwa nilai p sebesar 0,000 sehingga nilai p < α 0,05 yang artinya terdapat perbedaan rata-rata nilai posttest dikelas eksperimen dan kelas kontrol dari uji paired sample t-test pretest dan posttest yang dilakukan di kelas eksperimen menunjukan bahwa nilai p sebesar 0,000 yang artinya terdapat perbedaan nilai pretest dan posttest di kelas eksperimen. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pembelajaran dengan menggunakan media belajar kartu mitigasi bencana layak dan memenuhi kriteria untuk dijadikan media belajar pada pokok bahasan mitigasi dan adaptasi bencana alam kelas X. Kata Kunci : ASSURE, Media Kartu Mitigasi Bencana, Hasil Belajar.
FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI EKSISTENSI NELAYAN TRADISIONAL DI KELURAHAN KEDUNG COWEK KECAMATAN BULAK KOTA SURABAYA DIAZ BAGA, VERONIKA
Swara Bhumi Vol 0, No 04 (2017): Volume IV nomor 4 tahun 2017
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Sepanjang pesisir pantai Surabaya yang sebagian besar penduduknya bekerja sebagai nelayan, mereka menggantungkan hidupnya pada hasil laut. Surabaya adalah sebuah kota besar yang memberikan harapan dan peluang pada penduduknya untuk berkembang meningkatkan kesejahteraan taraf hidup dengan menyediakan berbagai bidang lapangan pekerjaan, seperti: pegawai kantoran, berdagang, aparat negara dan lain sebagainya, tetapi masyarakat pesisir pantai surabaya memilih tetap eksis berprofesi sebagai nelayan. Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Kedung Cowek, Kecamatan Bulak, Kota Surabaya, yang sebagian besar penduduknya bermatapencaharian sebagai nelayan tradisional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui, 1) faktor-faktor apakah yang mempengaruhi eksistensi nelayan tradisional di Kelurahan Kedung Cowek, Kecamatan Bulak, Kota Surabaya. 2) faktor apa yang paling berpengaruh terhadap eksistensi nelayan di Kelurahan Kedung Cowek, Kecamatan Bulak, Kota Surabaya. . Jenis penelitian ini adalah penelitian eksplorasi yang bersifat penjelasan dengan tujuan menjelaskan hubungan kasual antara variabel bebas terhadap variabel terikat. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh nelayan tradisional di kelurahan Kedung Cowek sebayak 545 dengan jumlah sampel sebanyak 146. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, dokumentasi, dan kuesioner. Analisis data yang digunakan adalah desain pengukuran skala Guttaman, analisa bivariat, dan analisis multivariat. Hasil penelitian melalui chi square diketahui bahwa pendidikan, tradisi/budaya, pendapatan, masa kerja, keterampilan, bantuan pemerintah  ada pengaruh yang signifikan antara eksistensi (p = 0,000) terhadap eksistensi nelayan tradisional. Hasil penelitian melalui uji regresi logistik berganda secara bersama-sama diketahui bahwa variabel yang berpengaruh signifikan terhadap eksistensi nelayan tradisional adalah tradisi/budaya (0,000). Sedangkan variabel yang tidak berpengarug signifikan terhadap eksistensi nelayan tradisional adalah (p = 0,203). Kata Kunci: : Tradisi/budaya, eksistensi,dan nelayan tradisional Abstract Along the coast of Surabaya predominantly fishermen, they are dependent on the sea. Surabaya is a big city that gives hope and opportunity to the population to grow to improve the welfare standards of living by providing various fields of employment, such as: office employees, trade, state officials and so forth, but coastal communities Surabaya choose exist fishermen. This research was conducted in the Village Kedung Cowek, District of Bulak, Surabaya, the largely traditional livelihood as fishermen. This study aims to determine, 1) what factors affecting the existence of traditional fishing in the Village Kedung Cowek, District of Bulak, Surabaya,. 2) what factors most influence on the existence of a fisherman in the village of Kedung Cowek, District of Bulak, Surabaya. , This type of research is exploratory research that is the explanation with the purpose of interpreting a casual relationship between the independent variable on the dependent variable. The population in this study are all traditional fishing villages Kedung Cowek sebayak 545 with a sample size of 146. Data collection techniques are observation, documentation, and questionnaire. Analysis of the data used is the design Guttaman scale measurement, analysis, bivariate, and multivariate analysis. The results of research through the chi square is known that education, tradition / culture, income, employment, skills, government aid is no significant relationship between the existence (p = 0.000) to the existence of traditional fishing. Research results through multiple logistic regression test together known that the variables that significantly influence the existence of traditional fishing is a tradition / culture (0,000). While the variables that are not significant berpengarug to the existence of traditional fishing is (p = 0.203). Keywords : Tradition / culture, existence and traditional fishing
PERILAKU PETERNAK SAPI PERAH MENJAGA KUALITAS SUSU SAPI DI DESA SINGOSARI KECAMATAN MOJOSONGO KABUPATEN BOYOLALI DANANG SETIAWAN, SUDIBYO
Swara Bhumi Vol 4, No 5 (2017): Volume 4 Nomor 5 Yudisium 89
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kabupaten Boyolali merupakan wilayah penting dalam perekonomian di Provinsi Jawa Tengah. Kabupaten Boyolali terkenal sebagai sentra penghasil susu sapi perah khususnya di Desa Singosari Kecamatan Mojosongo. Peternakan susu sapi perah di Desa Singosari ini membuat perekonomian di Kabupaten Boyolali menyumbang pendapatan yang cukup besar baik bagi Kabupaten Boyolali maupun Provinsi Jawa Tengah pada umumnya. Desa Singosari berperan penting dalam produktifitas susu di Kecamatan Mojosongo. Hal tersebut di karenakan penduduk Desa Singosari mayoritas merupakan peternak sapi perah dengan jumlah kepemilikan sapi yang banyak mempengaruhi tingginya produktifitas susu di Kecamatan Mojosongo. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendiskribsikan perilaku dalam menjaga kualitas susu sapi dan cara pengelolaan yang dilakukan peternak. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan metode analisis deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah 849 KK dengan jumlah sampel sebesar 90 responden. Metode pengumpulan data menggunakan metode wawancara dengan kuesioner, dan dokumentasi. Data primer penelitian berupa kebersihan kandang, kualitas dan kuantitas pakan, proses pewadahan dan pemasaran susu. Berdasarkan hasil analisis Desa Singosari merupakan desa dengan jumlah peternak dan hasil susu terbanyak di Kecamatan Mojosongo. Perilaku peternak berpengaruh terhadap kualitas susu sapi perah, perilaku itu terbagi atas kebersihan kandang, kualitas dan kuantitas pakan tambahan. Kurangnya konsentrasi dalam pengelolaan peternakan mengakibatkan peternak dengan kepemilikan kurang dari 4 ekor tidak memenuhi standar dalam kebersihan kandang, kualitas dan kuantitas pakan, proses pembersihan wadah dan pemasaran susu. Proses pemasaran susu yang dilakukan olek peternak juga kurang baik karena tergantung terhadap tengkulak. Kata kunci : Perilaku peternak, Kualitas susu Abstract Boyolali is the important economy’s area in Central Java province. Boyolali is a famous areas as the center of the cow’s milk-producing, especially in the of Singosari village, Mojosongo subdistrict. Cow’s farm in Singosari village contributes a great enough incomes of the economy in Boyolali dan Central Java. Singosari village have the important role of milk productivity in Mojosongo Subdistrict. That is caused the majority of Singosari villagers are cow’s farmers with the high number of cow’s holdings which many affect the high productivity of milk in the Mojosongo Subdistrict. The purpose of the research is to discribe the behavior of farmer to keep the quality of cow’s milk and menagement methode. This research is quantitative research with descriptive analys method. The population of this research is 849 family with 90 respondence. The research methode is using interview method with quetioner dan documentation. The primary data is cage sanitation, quantity and quality of food, collected methode and milk marketing . Based on analysis result, Singosari village is the village with the greatest number of farmer and milk product in Mojosongo subdistrict. The farmer behavior is effected in quality of cow’s milk, these behavior are divided into cage sanitation, quality and quantity of additional food. Because of the minimum concentration in farm management, the farmer which have the cow less than four is not complying the standard in cage sanitation, quality and quantity of food, collected methode and milk marketing. The milk marketing is not enough good because its depend on the broker. Keywords : farmer behavior, quality of milk
FAKTOR-FAKTOR PENGAMBILAN KEPUTUSAN PETANI UNTUK BUDIDAYA MELON DI KECAMATAN TANJUNGANOM KABUPATEN NGANJUK FEBY ARYANA PUTRI, CHINTYA
Swara Bhumi Vol 4, No 5 (2017): Volume 4 Nomor 5 Yudisium 89
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kecamatan Tanjunganom merupakan daerah sentra produksi padi di Kabupaten Nganjuk. Produktivitas padi di Kecamatan Tanjunganom mengalami penurunan pada tahun 2013 sampai dengan 2015. Penurunan produktivitas padi berbanding terbalik dengan peningkatan produktivitas melon setiap tahun. Melon mulai dibudidayakan di Kecamatan Tanjunganom pada tahun 2000. Penelitian ini bertujuan untuk megetahui 1) Karakteristik petani yang mengambil keputusan untuk budidaya padi ke melon di Kecamatan Tanjunganom Kabupaten Nganjuk 2) Faktor-faktor pengambilan keputusan untuk budidaya melon di kecamatan Tanjunganom Kabupaten Nganjuk. Jenis penelitian ini adalah penelitian Survey. Lokasi penelitian dilaksanakan di Desa Sumberkepuh, Wates, Malangsari, dan Getas Kecamatan Tanjunganom Kabupaten Nganjuk. Populasi dalam penelitian ini adalah petani yang mengambil keputusan untuk budidaya melon yaitu 36 orang. Sumber data berupa data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data menggunakan angket dan dokumentasi. Analisis data menggunakan deskriptif komparatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik petani yang mengambil keputusan untuk budidaya melon adalah berusia produktif antara 41-55 tahun (66,1%). Pendidikan petani adalah tamat SD (41,6%). Luas lahan yang diusahakan untuk budidaya melon antara 0,1 – 0,5 hektare sebesar 66,6%. Status kepemilikan lahan untuk budidaya melon adalah lahan sewa (80,6%). Lama budidaya melon antara 6 - 10 tahun (44,4%). Faktor-faktor pengambilan keputusan untuk budidaya melon yaitu sumber informasi terkait budidaya melon diperoleh dari teman ( 63,9%). Modal untuk budidaya melon adalah pinjaman (58,3%) dan pinjaman modal mudah didapatkan. Pendapatan yang diperoleh dari budidaya melon dalam sekali tanam Rp.70.000.000 per hektare dengan keuntungan 100%, sedangkan pendapatan yang diperoleh dari budidaya padi dalam sekali tanam Rp. 7.500.000 per hektare dengan keuntungan 45,5%. Hal ini menunjukkan bahwa keuntungan dari budidaya melon lebih tinggi daripada budidaya padi. Kata Kunci: Keputusan, Petani, Budidaya
SIKAP MASYARAKAT TENTANG ALIH FUNGSI PERTAMBANGAN BATU KAPUR MENJADI DESTINASI WISATA DI DUSUN MAKAM DESA BUDURAN KECAMATAN AROSBAYA KABUPATEN BANGKALAN YASIN, NOR
Swara Bhumi Vol 4, No 5 (2017): Volume 4 Nomor 5 Yudisium 89
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pertambangan di Indonesia tersebar di beberapa Provinsi termasuk salah satunya Provinsi Jawa Timur yang terletak di Kabupaten Bagkalan tepat berada di Desa Buduran Kecamatan Arosbaya pertambangan batu kapur bukit pelalangan sebenarnya bekas tambang batu kapur bata putih, Beberapa bekas Tambang Batu kapur tersebut meninggalkan corak seni pahatan yang cukup indah dan ini menciptakan obyek wisata alam yang cukup bagus. sebagai salah satu obyek wisata yang patut di perhitungkan sebagai objek destinasi wisata alam karena ramainya pengunjung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) sikap masyarakat terkait alih fungsi pertambangan menjadi destinasi. 2) mengetahui keterampilan masyarakat sekitar pertambangan yang mendukung untuk objek wisata. Jenis penelitian ini menggunakan penelitian Survey. menggunakan analisis deskriptif kuantitatif penelitian ini teknik sampling yang digunakan termasuk ke dalam kelompok Random Sampling dengan menggunakan Teknik Sampel. Subjek penelitian ini adalah sebagian masyarakat Dusun Makam. Pengumpulan data dilakukan dengan kuisoner. Analisis data dengan berpedoman pada data primer yang diperoleh dari hasil kuisoner di Dusun Makam Desa Buduran digunakan analisis deskriptif. Hasil penelitiaan ini adalah Sikap masyarakat terkait alih fungsi pertambangan menjadi tempat wisata adalah48,9% responden setuju berartimasyarakat memberikan respon yang cukup positif, hal ini di tunjukkan dari hasil penelitian bahwa kriteria yang paling dominan adalah tinggi. Hasil kesimpulan menunjukan bahwa sikap masyarakat di daerah pertambangan batu kapur lebih banyak menginginkan sebagai tempat wisata dan setuju jika tempat pertambangan ini di alih fungsikan menjadi tempat wisata. Keterampilan yang yang paling banyak dimiliki masyarakat di Dusun Makam untuk mempersiapkan diri terkait akan adanya tempat wisata paling banyak sebagai memliki keterampilan kuliner. Kata kunci :Sikap masyarakat, Alih fungsi, Pertambangan batu kapur, Destinasi wisata.
PERBEDAAN KARAKTERISTIK OBJEK WISATA PANTAI KELAPA, PANTAI BOOM, PANTAI PASIR PUTIH REMEN, DAN PANTAI SOWAN DI KABUPATEN TUBAN FATHONI, ABIDU
Swara Bhumi Vol 4, No 5 (2017): Volume 4 Nomor 5 Yudisium 89
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak   Indonesia merupakan negara berkembang yang terus aktif dalam pengembangan sektor pariwisata. Jawa Timur merupakan salah satu Provinsi yang memiliki kekayaan alam dan potensi pariwisata yang melimpah dan menjadi salah satu destinasi favorit bagi para wisatawan. Di Kabupaten Tuban terdapat barbagai tempat wisata yang mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai Daerah Tujuan Wisata (DTW) antara lain Pantai Kelapa, Pantai Boom, Pantai Pasir Putih Remen, dan Pantai Sowan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) Perbedaan karakteristik objek di Pantai Kelapa, Pantai Boom, Pantai Pasir Putih Remen, dan Pantai Sowan.  2) Faktor dominan yang menyebabkan terjadinya perbedaan jumlah pengunjung.  Jenis penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah Accidental Random Sampling. Teknik penumpulan data yaitu dengan wawancara baik dengan responden pengunjung objek wisata maupun dengan pengelola. Berdasarkan hasil penelitian perbedaan karakteristik objek wisata dapat di deskripsikan sebagai berikut : 1) Untuk variabel aksesibilitas yang termasuk kriteria sangat baik adalah Pantai Boom, kriteria baik adalah Pantai Kelapa, kriteria kurang baik Pantai Pasir Putih Remen dan Pantai Sowan. Variabel atraksi yang termasuk kriteria sangat baik adalah Pantai Boom, kriteria baik adalah Pantai Kelapa, kriteria kurang baik Pantai Pasir Putih Remen dan Pantai Sowan. Variabel fasilitas penunjang yang termasuk kriteria sangat baik adalah Pantai Boom, kriteria baik adalah Pantai Sowan, kriteria kurang baik Pantai Pasir Putih Remen dan Pantai Kelapa. Variabel promosi yang termasuk kriteria sangat baik adalah Pantai Boom dan Pantai Pasir Putih Remen, kriteria baik adalah Pantai Sowan, kriteria kurang baik Pantai Kelapa. Variabel keindahan alam yang termasuk kriteria sangat baik adalah Pantai Pasir Putih Remen, kriteria baik adalah Pantai Boom dan Pantai Sowan, dan kriteria kurang baik Pantai Kelapa. 2) Berdasarkan analisis dari variabel aksesibilitas, atraksi, fasilitas penunjang, promosi dan keindahan alam maka hasil penelitian dapat diketahui bahwa keindahan alam adalah faktor dominan yang mempengarui jumlah pengunjung. Hal ini dibuktikan dengan keadaan Pantai Pasir Putih Remen yang mempunyai aksesibilitas, atraksi, dan fasilitas penunjang yang kurang baik dibandingkan objek wisata yang lain tetapi mempunyai jumlah pengunjung pertahun paling banyak.   Kata Kunci : Karakteristik, Pengunjung, Wisata pantai. Abstract   Indonesia is a developing country that continues to be active in the development of the tourism sector. East Java province is one of the natural wealth and abundant tourism potential and become one of the favorite destinations for tourists. In Tuban there are sites that have the potential to be developed as a tourist destination areas (DTW), among others “Kelapa” Beach, “Boom” Beach, “Pasir Putih Remen” Beach, and “Sowan” Beach. The purpose this study is to explain 1) The different characteristics of the object in “Kelapa” Beach, “Boom” Beach, “Pasir Putih Remen” Beach, and “Sowan” Beach. 2) The dominant factor causing differences in the number of visitors.  This type of research is descriptive quantitative. The sampling technique used is Accidental Random Sampling. Mechanical blunting the data that is with good interviews with respondents visitor attractions as well as the manager. Based on the results of different characteristics of attraction can be described as follows: 1) For the accessibility variables that qualify as excellent is “Boom” Beach, both criteria are “Kelapa” Beach, both less criteria “Pantai Pasir Putih Remen” Beach and “Sowan” Beach. Variable attractions that qualify as excellent is “Boom” Beach, both criteria are “Kelapa” Beach, both less criteria “Pantai Pasir Putih Remen” Beach and “Sowan” Beach. Support variable facilities including excellent criteria is “Boom” Beach, both criteria are “Sowan” Beach, unfavorable criteria “Pantai Pasir Putih Remen” Beach and “Kelapa” Beach. Promotion variables that qualify as excellent is “Boom” Beach and “Pasir Putih Remen” Beach, both criteria are “Sowan” Beach, “Kelapa” Beach unfavorable criterion. Variable natural beauty that qualify as excellent is the “Pasir Putih Remen” Beach, both criteria are Coastal “Boom” and “Sowan” Beach, “Kelapa” Beach unfavorable criterion. 2) Based on an analysis of the variables of accessibility, attractions, facilities support, promotion and the natural beauty of the results of this research is that natural beauty is the dominant factor that affects the number of visitors. This is evidenced by the state of the “Pasir Putih Remen” Beach who have accessibility, attractions, and the supporting facilities are less well than other attractions but has a number of visitors every year at most.   Keywords: Characteristics, Visitor, Beach tourism.