cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Swara Bhumi
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Arjuna Subject : -
Articles 509 Documents
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI EKSISTENSI NELAYAN TRADISIONAL DI KELURAHAN KEDUNG COWEK KECAMATAN BULAK KOTA SURABAYA DIAZ BAGA, VERONIKA
Swara Bhumi Vol 0, No 04 (2017): Volume IV nomor 4 tahun 2017
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak                     Sepanjang pantai Surabaya hidup orang-orang yang bekerja sebagian besar sebagai nelayan, mereka bergantung pada laut. Surabaya adalah kota besar yang memberikan harapan dan kesempatan untuk penduduk untuk meningkatkan standar kesejahteraan hidup dengan menyediakan berbagai bidang pekerjaan, seperti: pegawai kantor, pedagang, pejabat negara dan sebagainya, tetapi masyarakat di pesisir Surabaya memilih nelayan sebagai pekerjaan mereka. Penelitian ini dilakukan di Kedung Cowek Desa, Kecamatan Bulak, Surabaya, dimana sebagian besar orang adalah nelayan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan, 1) faktor-faktor apakah yang mempengaruhi eksistensi nelayan tradisional di Kelurahan Kedung Cowek, Kecamatan Bulak, Kota Surabaya. 2) faktor apa yang paling berpengaruh terhadap eksistensi nelayan di Kelurahan Kedung Cowek, Kecamatan Bulak, Kota Surabaya. Jenis penelitian ini adalah penjelasan dengan tujuan menafsirkan hubungan kasual antara variabel independen terhadap variabel dependen. Populasi dalam penelitian ini adalah 545 nelayan tradisional desa Kedung Cowek, dengan 146 dari mereka sebagai sampel. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, dokumentasi, dan kuesioner. Analisis data yang digunakan adalah desain pengukuran skala Guttaman, analisis bivariat, dan analisis multivariat. Hasil penelitian dengan menggunakan chi square diketahui bahwa pendidikan, tradisi/budaya, pendapatan, pekerjaan, keterampilan, bantuan pemerintah tidak memiliki hubungan yang signifikan antara keberadaan (p = 0,000) dengan keberadaan nelayan tradisional. Hasil penelitian dengan menggunakan uji regresi logistik berganda diketahui bahwa variabel yang signifikan mempengaruhi keberadaan nelayan tradisional adalah tradisi / budaya (0,000). Sedangkan variabel yang tidak berpengaruh secara signifikan terhadap keberadaan nelayan tradisional adalah variabel masa kerja (p = 0,096 ) dan variabel keterampilan (p = 0,088). Kata Kunci: : Tradisi/budaya, eksistensi,dan nelayan tradisional
ANALISIS KEMACETAN LALU LINTAS DI PERTIGAAN MENGKRENG PERSIMPANGAN BANGJURI (JOMBANG, NGANJUK, KEDIRI) Ahmad Mawardi, Gandung
Swara Bhumi Vol 4, No 5 (2017): Volume 4 Nomor 5 Yudisium 89
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kabupaten Jombang mengalami masalah kemacetan lalu lintas. Menurut Kasat Lantas Polres Jombang, ada beberapa titik kemacetan di Kabupaten Jombang. Titik kemacetan tersebut adalah simpang tiga Mojotrisno Mojoagung, jembatan Ploso, serta simpang tiga Mengkreng. Pertigaan Mengkreng merupakan pertemuan jalur tiga Kabupaten yaitu Kabupaten Kediri, Nganjuk, dan Jombang. Kawasan ini terdapat dua palang pintu Kereta Api yang jaraknya cukup dekat. Terdapat lapak pusat oleh-oleh di sepanjang jalan Raya Bandar Kedungmulyo, sehingga kendaraan parkir di bahu jalan yang menghambat laju kendaraan lainya. Tidak terdapat lampu lalu lintas yang mengatur kendaraan di Pertigaan Mengkreng. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) kapasitas jaringan jalan, 2) satuan mobil penumpang, 3) asal dan tujuan pengguna jalan dan 4) kajian geografis di Simpang Bangjuri (Jombang, Nganjuk, Kediri). Jenis penelitian ini adalah penelitian survey. Rancangan penelitian ini adalah cross sectional. Lokasi penelitian dilaksanakan di Jalan Raya Bandar Kedungmulyo Kabupaten Jombang. Penentuan sampel menggunakan teknik accidental sampling. Sumber data berupa data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data menggunakan pengukuran, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan analisis deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kapasitas jaringan jalan raya Bandar Kedungmulyo sebesar 2.185 smp/jam. Satuan mobil penumpang per jam tertinggi terjadi pada hari Minggu pukul 15.00-16.00 dengan jumlah 5019,44 smp/jam. Daerah asal kendaraan yang melintasi jalan raya Bandar Kedungmulyo terbanyak dari Kabupaten Jombang. Daerah tujuan terbanyak adalah Kabupaten Nganjuk. Aktifitas pengguna jalan sebagian besar adalah bekerja (69%). Analisis Geografis meliputi lokasi dan pola. Secara astronomis ruas jalan raya bandar Kedungmulyo terletak pada 7?36’2.2”LS dan 112?6’48.7”BT. Lokasi relatif ruas jalan raya Bandar Kedungmulyo terletak di sebelah barat Kabupaten Jombang, sebelah utara Kabupaten Kediri dan sebelah timur Kabupaten Jombang. Pola persebaran kemacetan yaitu memanjang mengikuti ruas jalan raya Bandar Kedungmulyo. Kata Kunci: Kemacetan Lalu Lintas, Kapasitas Jaringan Jalan, Satuan Mobil Penumpang.
EVALUASI RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) DI KOTA PASURUAN BERDASARKAN PERATURAN MENTERI NO.05/PRT/M/2008 YULIANSYAH, RIZKY
Swara Bhumi Vol 4, No 5 (2017): Volume 4 Nomor 5 Yudisium 89
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak                                                                                                              Pelaksanaan pembangunan yang kurang memperhatikan kelestarian, telah menghasilkan dampak yang merugikan bagi masyarakat. Dampak paling nyata yang dirasakan masyarakat Kota Pasuruan dalam tiga tahun terakhir adalah meningkatnya intensitas banjir di wilayah permukiman pada musim hujan, penyebabnya adalah semakin berkurangnya lahan serapan air, seiring dengan semakin banyaknya alih fungsi lahan menjadi kawasan permukiman. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana kesesuaian lahan peruntukkan RTH di Kota Pasuruan berdasarkan RTRW Kota Pasuruan dan Peraturan Menteri PU No.05/PRT/M/2008.                    Lokasi penelitian berada di wilayah Kota Pasuruan yang meliputi 4 kecamatan, yaitu Kecamatan Gadingrejo, Kecamatan Panggungrejo, Kecamatan Purworejo, dan Kecamatan Bugul Kidul. Jenis penelitian ini adalah survei. Teknik pengumpulan data menggunakan metode dokumentasi, observasi, dan literatur. Teknik analisis data pada penelitian ini menggunakan teknik deskriptif kuantitatif persentase.                    Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa RTH di Kota Pasuruan hanya mencapai 3,60 km² atau sekitar 10,21% dari luas wilayah Kota Pasuruan, hal ini menunjukkan bahwa RTH di Kota Pasuruan belum memenuhi standar minimal kecukupan RTH berdasarkan Peraturan Menteri PU No.05/PRT/M/2008 tentang Pedoman Penyediaan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan. Pertambahan RTH Kota Pasuruan dari tahun 2011-2015 mengalami penurunan peningkatan. Tahun 2011-2013 mengalami peningkatan sebesar 1,14 km² atau sekitar 36,77%, sedangkan pada tahun 2013-2015 mengalami peningkatan sebesar 0,50 km² atau sekitar 13,88%. Berdasarkan standar minimal penyediaan RTH, maka Kota Pasuruan diwajibkan minimal memiliki RTH seluas 10,587 km², sedangkan dalam RTRW Kota Pasuruan, luas RTH di Kota Pasuruan diproyeksikan hanya mencapai 2,34 km² dan luas RTH yang dimiliki Kota Pasuruan pada tahun 2015 sudah mencapai 3,60 km². Kata Kunci: Kesesuaian Lahan, Ruang Terbuka Hijau.
DAMPAK PEMBANGUNAN JALAN BENTENG PANCASILA DI MOJOKERTO TERHADAP KEADAAN SOSIAL DAN EKONOMI PENDUDUK DI SEKITARNYA SACHRUL W I A, YAHYA
Swara Bhumi Vol 4, No 5 (2017): Volume 4 Nomor 5 Yudisium 89
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

DAMPAK PEMBANGUNAN JALAN BENTENG PANCASILA DI MOJOKERTO TERHADAP KEADAAN SOSIAL DAN EKONOMI PENDUDUK DI SEKITARNYA  YAHYA SACHRUL WAHYU IMAN ASYIDIQ Abstrak Jalan Benteng Pancasila adalah jalan kecil yang digunakan oleh penduduk setempat untuk menuju persawahan atau Alun-alun Kota Mojokerto. Pembangunan Jalan Benteng Pancasila dilakukan pada tahun 2008-2009. Pembangunan Jalan Benteng Pancasila ini untuk menghubungkan wilayah di Kelurahan Balongsari dan Kelurahan Meri mejadi satu tujuan yaitu menuju pusat Kota Mojokerto. Pembangunan Jalan Benteng Pancasila yang lebih baik dan lebih besar maka jalan tersebut di arahkan untuk membangun tempat berkumpulnya pedagang yang dulu ada di dalam Kota Mojokerto yaitu di Alun-alun dan Jalan Joko Sambang menjadi satu tempat tujuan perdagangan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak pembangunan Jalan Benteng Pancasila terhadap keadaan sosial dan ekonomi yang terjadi di masyarakat Kelurahan Balongsari dan Kelurahan Meri. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian survei. Lokasi penelitian yaitu Kelurahan Balongsari dan Kelurahan Meri. Sampel yang digunakan berjumlah 83 responden. Cara penentuan responden adalah dengan cara proporsional rundom sampling yaitu 62 responden dari Kelurahan Balongsari dan 21 responden dari Kelurahan Meri. Teknik pengumpulan data penelitian dengan menggunakan pedoman wawancara dan teknik analisis data penelitian menggunakan analisis deskriptif kuantitatif dengan persentase. Penelitian ini dilakukan dengan cara pemberian pedoman wawancara kepada penduduk yang berada di wilayah sekitar Jalan Benteng Pancasila. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dampak beroperasinya Jalan Benteng Pancasila menyebabkan terjadi perubahan pada kondisi sosial yakni jenis lapangan pekerjaan di Kelurahan Balongsari, terdapat penurunan pada  pekerjaan terutama pada profesi buruh tani dan terjadi peningkatan pekerjaan pada profesi pedagang. Terjadi perubahan pada kondisi ekonomi yakni terdapat peningkatan pendapatan penduduk yang berubah pekerjaan setelah Jalan Benteng Pancasila di bangun. Terjadi perubahan pada kondisi lingkungan yakni terdapat penambahan pada kualitas lingkungan seperti kios pedagang, toilet, tempat parkir, penerangan jalan, taman Benteng Pancasila. Kata Kunci :  Jalan Benteng Pancasila, Kondisi Sosial, Kondisi Ekonomi.   Abstract  Benteng Pancasila street was used by local inhabitants to get around the paddy fields or  town square of Mojokerto. The construction was done in 2008-2009. The construction was to connect Balongsari and Meri villages as one destination toward the center of Mojokerto. After the construction , the road was better and bigger. Thus, the next project was to establish a specific place for assembling sellers who previously used to be at Mojokerto’s town square and Jalan Joko Sambang was as the destination of trading. This research was conducting by giving interview guideline to residents who lived in the surrounding Benteng Pancasila street The design of research was a survey. The setting of research was Balongsari and Meri villages. Eighty three respondents were included. the respondents were selected using proportional random sampling. the 62 respondent were residents of Balongsari village and 21 respondents were resident of Meri village. The data were collected using interview guideline. Data were analyzed using descriptive quantitative analysis with percentage. The result showed after operation of Benteng Pancasila street  that there was a change in the social conditions, for instance; job vacancy at Balongsari village which decreased especially for farming labor while opening new jobs for traders  increased. There was any change in economy conditions, in which the income of residents increased after changing their occupation as  trader. There was also change in social environment: that was environmental quality improvement such as stall, toilet, parking area, street lighting, and Taman Benteng park. Keywords: Benteng Pancasila Street, Social Conditions and Economic Conditions
DAMPAK KEBERADAAN TPA BANJARDOWO TERHADAP KONDISI LINGKUNGAN DI DUSUN GEDANGKERET DESA BANJARDOWO KABUPATEN JOMBANG MUJIYATI,
Swara Bhumi Vol 4, No 5 (2017): Volume 4 Nomor 5 Yudisium 89
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Banjardowo adalah TPA satu-satunya yang ada di Kabupaten Jombang. TPA tersebut terletak di Dusun Gedangkeret Desa Banjardowo. Memiliki luas lahan 8,70 Ha dengan jumlah sampah yang masuk mencapai 62 Ton/hari dari 9 kecamatan yang ada di Kabupaten Jombang. Hal ini tentunya akan memiliki dampak tersendiri terhadap kondisi lingkungan dusun tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) dampak keberadaan TPA Banjardowo terhadap kondisi lingkungan sosial ekonomi dan 2) dampak keberadaan TPA Banjardowo terhadap kondisi lingkungan fisik. Jenis Penelitian ini adalah survei. Populasi penelitian ini adalah seluruh masyarakat yang berusia angkatan kerja (usia 15-65) di Dusun Gedangkeret sebanyak 756 orang, dengan jumlah sampel yang bekerja di TPA sebanyak 88 orang. Untuk Mengetahui Dampak TPA Banjardowo terhadap kondisi lingkungan sosial ekonomi Dusun Gedangkeret Desa Banjardowo menggunakan rumus deskriptif persentase dan untuk mengetahui pencemaran udara berupa bau sampelnya penduduk yang tinggal disekitar TPA, sedangkan untuk mengetahui pencemaran air berupa kualitas air sampelnya sumur penduduk yang ada di Dusun Gedangkeret dengan melalukan uji laboratorium. Hasil Penelitian dapat dideskripsikan sebagai berikut: 1) Dampak TPA terhadap kondisi lingkungan sosial ekonomi: (a) TPA Banjardowo menyerap tenaga kerja sebesar 11,64% dari angkatan kerja di Dusun Gedangkeret yang bekerja baik pada sektor formal dan informal (b) Rata-rata pendapatan tenaga kerja sektor formal sebesar Rp.762.200,00 per bulan dan sektor informal Rp. 515.200,00 per bulan, 2) Dampak TPA terhadap kondisi lingkungan fisik; (a) Pencemaran udara pada musim kemarau tercium sampai radius 755 m dan pada musim penghujan sampai radius 2000 m (b) Pengukuran kualitas air dari 3 titik air sumur warga pada parameter fisik (TDS, Kekeruhan) dan parameter kimiawi (Besi, Kesadahan, Klorida, Mangan, Sisa Clor, KMnO4), menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan keberadaan TPA Banjardowo terhadap pencemaran air tanah. Hal ini terbukti pada parameter fisik dan kimiawi air sumur yang dekat dengan TPA tidak memiliki kualitas yang lebih buruk dibandinkan dengan air sumur yang lebih jauh dati TPA Banjardowo. Kata Kunci : Dampak, Tempat Pembuangan Akhir, Penyerapan Tenaga Kerja, Pendapatan, Pencemaran Udara, Pencemaran Air
KAJIAN LOKASI INDUSTRI TAS DI DESA KLUDAN, KECAMATAN TANGGUALANGIN, KABUPATEN SIDOARJO (STUDI KASUS DI DESA KLUDAN, KECAMATAN TANGGULANGIN, KABUPATEN SIDOARJO) WINARDI,
Swara Bhumi Vol 4, No 5 (2017): Volume 4 Nomor 5 Yudisium 89
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Industri tas yang merupakan industri rumah tangga yang bergerak dibidang kerajinan. Industri tas terbesar di Sidoarjo yang tersebar di beberapa Wilayah di kecamatan Tanggulangin. dan salah satu industri tersebut tepatnya berada diwilayah desa Kludan. Bertambahnya jumlah industri ini di pengaruhi oleh beberapa faktor antara lain dari dari segi lokasi industri mengalami perpindahan lokasi. Dampak perpindahan ke wilayah yang dekat dari jalan raya membuat industri ini mengalami perubahan dari segi omset  maupun segi pemasaran. Tujuan penelitian ini adalah Untuk mengetahui dampak ekonomi terhadap penentuan lokasi industri di Desa Kludan, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. sedangkan jenis penelitian yang digunakan adalah studi kasus. subyek penelitian adalah warga di desa Kludan yang memiliki usaha tas. Hasil penelitian menunjukan Penentuan lokasi di industri tas di desa Kludan berorientasi kepada bahan baku. Bahan baku yang digunakan ini di beli dari desa Kedensari yang bersebelahan langsung dengan desa Kludan yang mempunyai jarak sekitar 1 Km. Lokasi pembelian bahan baku yang begitu dekat ini, membuat pemilik usaha tidak banyak mengeluarkan biaya untuk transportasi. Tenaga kerja di industri ini berasal dari beberapa wilayah di kecamatan Tanggulangin dan beberapa wilayah di Sidoarjo. Jarak lokasi tenaga kerja yang dekat dengan daerah industri menjadi pertimbangan bagi pemilik usaha untuk memilih tenaga kerja. Pemasaran hasil produk tas yang ada di desa Kludan menggunakan sales yang biasanya datang setiap minggu untuk mengambil dan mengantar  tas untuk dipasarkan ke beberapa wilayah di Sidoarjo, Surabaya, dan kota kota besar indonesia. Kata Kunci : Kajian, Lokasi Industri, Industi Tas, Kludan  
ANALISIS DAYA TARIK, PROMOSI DAN KONEKTIVITAS OBJEK-OBJEK WISATA HERITAGE DI KOTA SURABAYA SYAIFUDIN, MOH.
Swara Bhumi Vol 4, No 5 (2017): Volume 4 Nomor 5 Yudisium 89
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK   ANALISIS DAYA TARIK, PROMOSI DAN KONEKTIVITAS OBJEK-OBJEK WISATA HERITAGE DI KOTA SURABAYA   Nama                          :  Moh. Syaifudin Nim                             :  13040274035 Program studi          :  S-1 Jurusan                       :  Pendidikan Geografi Fakultas                     :  Ilmu Sosial dan Hukum Nama lembaga        :  Universitas Negeri Surabaya Pembimbing             :  Dra. Sri Murtini, M.Si.   Kota Surabaya merupakan kota yang memiliki potensi besar di sektor pariwisata, khususnya cagar budaya (heritage). Tercatat Kota Surabaya memiliki 268 situs dan bangunan cagar budaya. Heritage di Kota Surabaya ada yang dikelola sebagai objek wisata namun ada yang tidak. Kota Surabaya memiliki 21 obyek wisata heritage  dan terdapat perbedaan rata-rata jumlah wisatawan  dalam 3 tahun terakhir terutama Kawasan Wisata Religi Ampel dan Kebun Binatang Surabaya memiliki rata-rata jumlah wisatawan lebih banyak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui daya tarik, promosi dan konektivitas objek wisata heritage di Kota Surabaya. Jenis penelitian ini adalah survei. Lokasi penelitian berada di 10 objek wisata heritage yaitu Monumen dan Tugu Pahlawan, Museum TNI AL Loka Jala Crana, Rumah Wafat WR.Soepratman, Masjid Al-Akbar, Masjid Cheng-Hoo, Klenteng Boen Bio, Kawasan Wisata Religi Ampel, Makam Sunan Bungkul, Makam Dr. Soetomo dan Kebun Binatang Surabaya. Sampel penelitian ini sebanyak 180 wisatawan yang berasal dari 10 objek wisata heritage beserta pengelolanya. Variabel dalam penelitian ini adalah daya tarik, promosi dan konektivitas. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, kuesioner dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan skoring dan rumus indeks konektivitas K.J Kansky. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) daya tarik objek-objek wisata heritage di Kota Surabaya tergolong menarik, 2) promosi objek-objek wisata heritage di Kota Surabaya tergolong baik dan sumber informasi tentang promosi paling banyak berasal dari keluarga atau teman. Sedangkan paling sedikit berasal dari  koran/majalah/brosur, 3) Konektivitas objek-objek wisata heritage di Kota Surabaya tergolong sangat tinggi. Kata Kunci :  Daya Tarik, Promosi, Konektivitas, Objek Wisata Heritage
POTENSI DAYA DUKUNG AIR METEORIK UNTUK PEMENUHAN KEBUTUHAN AIR DOMESTIK MASYARAKAT DI KABUPATEN TULUNGAGUNG Bagus Setiawan, Erwan
Swara Bhumi Vol 4, No 5 (2017): Volume 4 Nomor 5 Yudisium 89
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kabupaten Tulungagung merupakan wilayah yang banyak mendapatkan hujan. Pernyataan ini diperkuat dengan adanya data curah hujan tahun 2016 yang menunjukkan curah hujan rata-rata sebesar 256,87 mm/bulan. Namun demikan di wilayah Kabupaten Tulungagung terdapat beberapa wilayah yang berpotensi kekeringan. Hal ini sejalan dengan pernyataan Badan Nasional Penanggulangan Bencana menyatakan Wilayah Kabupaten Tulungangung memiliki tingkat resiko kekeringan yang tinggi, dengan adanya permasalahan tersebut penelitian ini dilakukan untuk mengetahui besar daya dukung air meteorik untuk pemenuhan kebutuhan air domestik pada masing- masing region morfologi di Kabupaten Tulungagung. Analisis daya dukung air didasarkan pada kemampuan wilayah tersebut dalam mendukung kebutuhan manusia. Daya dukung suatu wilayah dalam menyediakan air ditentukan dari asupan curah hujan, yang menentukan jumlah air permukaan maupun air bawah permukaan. Jumlah air yang tersedia ditentukan berdasarkan kebutuhan air domestik dan jumlah penduduk. Penelitian ini menggunakan metode penelitian survei. Teknik wawancara terstruktur digunakan untuk menggali data penggunaan air domestik masyarakat di daerah penelitian. Unit penelitian didasarkan pada region morfologi yaitu wilayah vulkan wilis, dataran aluvial, dan lipatan selatan. Hasil penelitian menunjukkan perhitungan neraca air dan diperoleh nilai ketersediaan air wilayah: Vulkan 446383,12 juta liter/tahun; Dataran aluvial 255675,82 juta liter/tahun; Lipatan 218914,51 juta liter. Potensi air meteorik Kabupaten Tulungagung jika dilihat dari hasil perhitungan daya dukung air masih mampu mencukupi kebutuhan air domestik penduduknyaa sampai 7x lipat dari jumlah penduduk yang ada sekarang. Terdapat wilayah yang masih mampu menyokong kebutuhan air domestik penduduknya sampai lebih dari 50x lipat dari jumlah penduduknya yang ada sekarang. Secara kuantitas ketersediaan air di daerah penelitian sangat melimpah, namun distribusi waktu hujan dipengaruhi oleh musim sedangkan kebutuhan air domestik yang cenderung tetap bahkan meningkat sehingga perbandingan keduanya tidak tepat. Perlu diwaspai pada bulan-bulan kering (Juli, Agustus, dan September) dapat terjadi kekurangan pasokan air meteorik. Kata kunci: air meteorik, ketersediaan air, kebutuhan air domestik, daya dukung air, Kabupaten Tulungagung   Abstract Tulungagung district is an area with a high rainfall. This statement was  supported by rainfall data in 2016 which showed the average rainfall data was about 256,87 mm/month. However, some areas in Tulungagung district  had a  potential drought. It was  in line with the statement of National Disaster Management Agency (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) that Tulungagung district had the high level of drought risk. Thus, from that problem, this research was conducted to know the carrying capacity of meteoric water to fulfill  the domestic water requirements in each morphology region in Tulungagung district. The analysis of water carrying capacity was based on the ability of the region in supporting human needs. The carrying capacity of a region in providing water was determined by the rainfall intake, which determined the amount of surface water and subsurface water. The amount of water availability was determined based on the domestic water requirements and the total populations. This research used survey research method. The Structured interview technique was used to identify the data of domestic water used by the residents in the research area. The research unit was based on the morphology region such as  volcano wilis area, alluvial area, and southern fold area. The result showed that the calculation of the water balance and was obtained the value of water availability area: volcano was 446383,12 million litre/year; alluvial was 255675,82 million litre/year; southern fold was 218914,51 million litre. From the calculation of water carrying capacity, it could be seen that Meteoric water potential of Tulungagung district was still able to fulfil domestic water requirements of its populations up to seven times from the total current population. Moreover, there were areas which still supported up to more than 50 times from the total current populations. Based on the quantity, the water availability in this research area was quite abundant, but because of the spreading of rain was  influenced by the season, while the domestic water requirement which tended to be constant even increased made the comparison both of them is not exact.In the dry months (such as July, August and September), The decrease of meteoric water supply should be worried about. Key words: meteoric water, water availability, domestic water demand, water carrying capacity, Tulungagung Regency
STRATEGI PEMENUHAN KONSUMSI RUMAH TANGGA MASYARAKAT MISKIN DI DESA TRITIK KECAMATAN REJOSO KABUPATEN NGANJUK Krisdianti, Wiwin
Swara Bhumi Vol 5, No 02 (2017):
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

  Abstrak Kondisi dan aksesibilitas yang sulit merupakan faktor kemiskinan pedesaan yang terletak di tepian hutan Pegunugan Kendeng yang membuat masyarakat miskin melakukan berbagai strategi dengan memanfaatan modal atau aset penghidupan yang meliputi modal manusia, modal alam, modal sosial, modal fisik dan modal keuangan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kondisi karakteristik sosial ekonomi masyarakat miskin di Desa Tritik dan menganalisis strategi pemenuhan konsumsi rumah tangga masyarakat miskin di Desa Tritik. Jenis penelitian menggunakan paradigma kuantitatif dengan analisis deskriptif, 46 Kepala Keluarga (KK) dipilih sebagai sampel dari 228 KK menggunakan insidental sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik wawancara dan kuesioner. Teknik analisis data menggunakan teknik analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata jumlah anggota rumah tangga miskin sebanyak 3 anggota. Hubungan sosial masyarakat miskin tidak pernah begadang di warung/pos ronda/persimpangan namun selalu menghadiri kegiatan hajatan, kematian, khitanan, pertemuan warga, gotong royong, tetapi ada sebagian yang tidak pernah hadir dalam kegiatan keagamaan. Status sosial masyarakat miskin masih menghormati terhadap priyayi atau pejabat desa, kiai atau ustad, orang yang lebih tua, orang kaya dan kerabat. Sebagian masyarakat miskin tidak mampu membayar biaya sekolah dan selalu membawa anggota keluarga yang sakit ke puskesmas atau layanan kesehatan desa. Rata-rata berpenghasilan pokok 868.500 rupiah per-bulan. Rata-rata pengeluaran untuk pangan 496.300 rupiah per-bulan. Pengeluaran non pangan rata-rata 460.900 rupiah per-bulan. Konsumsi beras per-hari rata-rata 0,8 kg dan mayoritas tidak meiliki lahan pertanian serta hanya membeli 1 stel pakaian dalam satu tahun. Strategi pemenuhan konsumsi lebih dominan  memanfaatkan modal alam dengan cara menggarap lahan perhutani. Strategi pemenuhan konsumsi rumah tangga masyarakat miskin dengan memanfaatkan modal sosial yaitu meminjam uang kepada saudara/tetangga/teman lebih dari 2 kali dalam satu bulan. Pemanfaatan modal fisik yaitu status kepemilikan rumah masyarakat miskin adalah rumah sendiri. Modal manusia kurang dimanfaatkan karena secara usia yang cukup tua, berpendidikan rendah, keterampilan yang terbatas. Masyarakat miskin kurang memanfaatkan modal keuangan karena tidak memiliki pendapatan tambahan dan tabungan. Kata Kunci : Strategi, Konsumsi Rumah Tangga, Kemiskinan, Modal Penghidupan   Abstract The difficult conditions and accessibility ware factor of rural poverty in forest edge of Kendeng Mountain that made people prepare various strategies to survive through utilizing capital or livelihood assets such as ;human capital, natural capital, social capital, physical capital and financial capital. The purpose of this study were to 1) know the condition of socio-economic characteristics of the poor communities in Tritik village and 2) analyze the strategy to fulfill the household consumption of poor communities in Tritik village. This type of study  used a quantitative method with descriptive analysis, 46 households were selected as sample from 228 househods using incidental sampling. Data collection techniques used interview techniques and questionnaires. Data were analyzed using descriptive analysis technique. The results showed that an average number of poor family were three members. Refering to social relations, most of the poor have never stayed up at a stall or a patrol post or intersection, but always attended  celebration, death, circumcision, community meetings, mutual help. However, there were some who never attended religious activities. The poor social status still respected gentry or village officials, kiai or cleric, older people, the rich and relatives. Some poor people can not afford the school fees and the family members who are sick  were brought to  health centers or rural health services. On average income of poor people in  Tritik Village is 868,500 rupiah each month. Average expenditures for food was  496,300 rupiah per month. The average non-food expenditure of the poor was 460,900 rupiah per month. Rice consumption per day averagely was 0.8 kg and  most of them did not own farmland and were able to only buy 1 set of clothing in one year. The poor people more dominantly prefered to utilize  natural capital by working on the land of Perhutani to fulfill their daily consumption. Borrow money from relatives/neighbors/friends more than twice in one month for their household capital. Besides both natural capital and social capital, the other strategy is to utilize physical capital, namely the status of home ownership. However, human capital was not able to mazimize because of their old age, low education, limited skills. In addition, they caould not afford for financial capital because it has no additional income and savings. Keywords : Strategy, Household Consumption, Poverty, Capital Livelihoods
STUDI HIDROKIMIA AIR TANAH DANGKAL DI KECAMATAN WIDANG KABUPATEN TUBAN Ratna Juwita, Intan
Swara Bhumi Vol 5, No 02 (2017):
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Air merupakan salah satu komponen yang sangat penting bagi kehidupan di bumi. Air dan kesehatan merupakan dua hal yang saling berhubungan. Air tanah yang digunakan masyarakat untuk keperluan rumah tangga harus memenuhi syarat yang ditentukan agar tidak mengganggu kesehatan masyarakat. Penduduk di Kecamatan Widang banyak menggunakan air tanah dangkal untuk memenuhi kebutuhan air untuk rumah tangga. Penduduk banyak mengeluhkan bahwa air tanah yang ada di Kecamatan Widang warnanya keruh dan rasanya asin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) Karakteristik hidrokimia berdasarkan TDS (Total Dissolved Solids), kekeruhan, suhu, pH, COD (Chemical Oksigen Demand) air tanah dangkal di Kecamatan Widang Kabupaten Tuban; 2) Penyebab kondisi air tanah yang ada di Kecamatan Widang Kabupaten Tuban berasa asin; 3) Persebaran air tanah yang berasa asin dilihat dari kondisi geologi dan geomorfologi Kecamatan Widang Kabupaten Tuban.                 Penelitian ini merupakan jenis penelitian survey. Populasi penelitian ini adalah seluruh air tanah dangkal di Kecamatan Widang Kabupaten Tuban sedangkan sampel penelitiannya sebanyak 5 sampel yang di uji di laboratorium. Sampel tersebut diambil dengan menggunakan teknik Stratified Sampling dibagi berdasarkan segmen nilai daya hantar listrik pada lokasi penelitian tersebut. Data diambil melalui teknik observasi, dokumentasi, pengukuran dan uji laboratorium. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan metode analisis deskriptif komparatif dan deskriptif kuantitatif.                 Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas air tanah dangkal di Kecamatan Widang Kabupaten Tuban, tidak sesuai dengan standar kualitas air bersih menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 416/MENKES/PER/IX/1990. Penyebab kondisi air tanah berasa asin, berdasarkan perhitungan menggunakan rumus Chlorida bicarbonat ratio menurut teori Revelle menunjukkan bahwa penyebab keasinan air tanah disebabkan oleh adanya pelarutan mineral – mineral garam yang terdapat pada batuan akuifer dan adanya penyusupan air laut. Persebaran air tanah yang berasa asin tidak berkumpul atau mengelompok pada suatu wilayah melainkan tersebar pada wilayah-wilayah di Kecamatan Widang.. Kondisi Geologi dan  Geomorfologi yang ada di Kecamatan Widang Kabupaten Tuban secara keseluruhan sama yaitu untuk Geologinya yaitu Alluvium (Holosene) dan Kondisi Geomorfologinya yaitu Dataran Aluvial. Kata Kunci :  Studi, Hidrokimia, Air Tanah Dangkal